Anda di halaman 1dari 28

BAB I

SHAKING TABLE
I.1. PENGERTIAN
Tabling adalah suatu proses konsentrasi untuk memisahkan antara mineral
berharga dengan mineral tidak berharga, mendasarkan pada perbedaan berat jenis
mineral melalui aliran fluida yang tipis. Oleh karena itu proses ini termasuk dalam
Flowing Film Concentration. Alat yang digunakan adalah Shaking Table.
Prinsip pemisahan dalam tabling ialah ukuran mineral harus halus karena
proses konsentrasi ini mendasarkan pada aliran fluida tipis. Adanya gaya dorong air
terhadap partikel yang sama besarnya tapi berbeda berat jenisnya, maka partikel
yang ringan akan mengalami dorongan air yang lebih besar dari partikel berat.
Dengan adanya gerakan maju mundur dari head motion maka partikel yang berat
akan melaju lebih jauh dari partikel yang ringan sampai akhirnya partikel-partikel
tersebut masuk ke tempat penampungan.

GAMBAR 1.1.
SHAKING TABLE
Untuk mendapatkan aliran air yang turbulen maka dipasang alat yaitu riffle,
dengan demikian partikel yang ringan akan cenderung untuk meloncat dari riffle satu
ke riffle lainnya dibanding partikel yang berat yang hanya akan menggelinding
searah dengan riffle tersebut. Proses ini berjalan terus menerus sehingga antara
mineral yang mempunyai berat jenis besar dengan yang ringan dapat terpisahkan.

Shaking Tables adalah alat pemisahan gravitasi bijih yang karakteristik


bijihnya terlalu halus bila dilakukan oleh jigging. Partikel bijih (bola) yang besar
bergerak lebih jauh ke bawah, dan bila partikel memiliki ukuran yang sama tapi berat
jenis yang berbeda maka partikel yang ringan akan bergerak lebih jauh.
I.2 PRINSIP KERJA ALAT SHAKING TABLE
Prinsip Kerja Shaking Table adalah berdasarkan perbedaan berat dan ukuran
partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis. Partikel dengan diameter yang
sama akan memiliki gaya dorong yang sama besar. Sedangkan apabila specific
Gravitynya berbeda maka gaya gesek pada partikel berat akan lebih besar daripada
partikel ringan. Karena pengaruh gaya dari aliran, maka partikel ringan akan
terdorong / terbawa lebih cepat dari partikel berat searah aliran.

GAMBAR 1.2
MEKANISME KERJA SHAKING TABLE
KETERANGAN :
1.

Zona Feed Pulp

2.

Zona sentakan meja dengan arah horizontal berlawanan

3.

Zona Mineral Berat

4.

Zona Middling

5.

Zona Bebas Mineral

6.

Zona Slime dan Tailing

Karena gerakan relative Horizontal dari motor maka partikel berat akan
bergerak lebih cepat daripada material ringan dengan arah horizontal. Untuk itu perlu
dipasang riffle (penghalang) untuk membentuk turbulensi dalam aliran sehingga
partikel ringan diberi kesempatan berada diatas dan partikel berat relative dibawah.
Gaya-gaya yang bekerja dalam tabling adalah :
1. Gaya gesek antara partikel dengan dek (khusus partikel berat yang dominan)
Gaya gesek ini terjadi antara partikel dengan dasar deck (alas alat).
2. Gaya dorong air (khusus partikel ringan lebih dominan)
Gaya dorong alir merupakan fungsi kecepatan relative aliran air dan partikel.
Dalam prosesnya, partikel bergerak dengan kecepatan yang dipengaruhi oleh
kedalaman air.
3. Gaya gravitasi
Faktor yang mempengaruhi Shaking Table :
1.

Ukuran dari feed

2.

Operasi (roughing/cleaning)

3.

Perbedaan SG mineral-mineralnya

4.

SG rata-rata mineralnya

I.3. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


Faktor-faktor yang mempengaruhi produk, antara lain :
a. Kemiringan dek
Dek yang terlalu miring akan mempengaruhi kecepatan aliran air dan bila
kecepatan aliran air tersebut terlalu cepat maka partikel ringan akan terbawa air
semuanya sehingga yang tertinggal hanya mineral berat. Dengan begitu hasil yang
didapatkan adalah produkta yang berkadar tinggi tetapi kapasitasnya sedikit.
Untuk kemiringan yang kecil sehingga kecepatan aliran air lambat maka produkta
yang didapat berkadar rendah dengan kapasitas besar.
b. kecepatan feeding dan kemiringan
Bila terlalu cepat pengumpananya dan kemiringan dek kecil, maka proses
pemisahan akan berjalan kurang baik karena umpan tertumpuk dan akan masuk
ke konsentrat.
c. persen solid
Bila terlalu encer pemisahan akan baik dan sebaliknya bila kental maka semua
partikel akan masuk ke konsentrat.
d. jumlah dan panjang stroke
Pengaruh terhadap proses pemisahan adalah stroke yang panjang untuk material
kasar dan stroke kecil untuk material halus.

Kelakuan partikel di dalam flowing film concentration dipengaruhi oleh


beberapa faktor:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

kemiringan dek
viscositas fluida
koefisien gesek antara partikel dengan dek
ketebalan dari fluid film atau kecepatan dari aliran fluida
bentuk partikel
berat jenis
kekerasan permukaan dek, Pada dek yang horisontal, tidak akan ada gerakan
dari partikel. Partikel akan mulai bergerak bila dek mempunyai kemiringan.

I.4. MACAM-MACAM ALAT SHAKING TABLE


Berdasarkan pada ukuran besar butir material yang dipisahkan maka dapat
dibedakan menjadi Sand Table dan Slime Table. Perbedaan pada kedua alat ini
terletak pada :
1. Jumlah dan Jarak antar Riffle
o Jumlah riffle pada Sand Table tinggi
o Jumlah riffle pada Slime Table sedang
2. Jarak antar riffle
o Sand Table : - 1 inch
o Slime Table : Lebih besar dari Sand Table, untuk
mengendapkan padatan
3. Riffle
o Pada Sand Table, bagian yang tidak diberi riffle digunakan untuk slime
o Pada Slime Table, ada bagian deck yang tidak dipasang riffle.
Sedangkan beberapa macam Shaking Table yang lain adalah :
1. Willey Table
Terdiri dari

deck

berbentuk

segiempat

dan

Headmotion

sebagai

penggeraknya. Penggunaan riffle yaitu dengan tinggi minimal feed dan lebar
feed. Kapasitas alat tergantung pada :
a. Panjang Strore
b. Jumlah air
c. Jumlah Strore
d. Sifat bijih
e. Slope dan Meja
f. Ukuran Feed

GAMBAR 1.3
WIFLEY TABLE
2. Butcher Table
Bentuknya hamper sama dengan Wifley, tapi memiliki watch plinger untuk
mencuci. Posisis dari riffle terbagi menjadi 3 zone :
a.

Zone Stratifikasi

b.

Clening Zone

c.

Dischange Zone
Mekanisme kerjanya yaitu material bergerak kekiri dan air bergerak kekanan,
sehingga material ringan akan terbawa arus air sedang material berat akan
berjalan terus.

GAMBAR 1.4
BUTCHER TABLE
3. Card Table
Riffle dibuat dengan mengerat deck bentuk segitiga dan headmotion.

GAMBAR
CARD

1.5
TABLE

4. Dister Diagonal Overslorm Table


Bentuk Deck Rombahedral. Pemisahan antara konsentrat, middling dan tailing
tidak jelas / berdekatan sekali akibatnya kecilnya middling.
5. Card Field Table
Bentuk Wafley Table yang ditutupi seluruhnya oleh riffle.
6. Plat of Table
Ciri utamanya yaitu diatas deck ada 3 macam riffle dan terdapat 3 zona dari
riffle yaitu:
a. Zone Stratifikasi
b.Zone Intermediate Plan
c. Zone Lipper piatau
Faktor yang mempengaruhi alat ini :
a. Jumlah air yang masuk
b.Kemiringan desk
c. Kecepatan feed
d.Jumlah dan panjang feed.
Penyesuaian dalam praktek :
a. Untuk roughing : banyak air, banyak bijih, kemiringan desk, panjang stroke
besar dan shaking lambat.
b.Untuk cleaning operation : jumlah air yang sedikit, bijih sedikit, jumlah
stroke banyak, kemiringan kecil.
c. Untuk slime operation : sedikit air, sedikit feed, jumlah stroke banyak, dan
panjang stroke kecil.

BAB II
JIGGING
II.1 PENGERTIAN JIGGING
Jig merupakan salah satu alat pemisahan yang berdasarkan perbedaan berat
jenis, bekerja secara mekanis yang menggunakan adanya perbedaan kemampuan
menerobos dari butiran yang akan dipisahkan terhadap suatu lapisan pemisah (bed).

Secara umum jig merupakan suatu tangki terbuka yang berisi air dengan saringan
horizontal terletak pada bagian atasnya dimana terdapat lapisan pemisah.
Tangki jig

dilengkapi dengan lubang pengeluaran konsentrat (spigot) pada

bagian bawahnya. Disamping itu jig

juga memiliki suatu mekanisme penyebab

terjadinya tekanan (pulsion) yang diimbangi dengan pemakaian air tambahan.


Persyaratan untuk jig adalah harus ada :
1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.
4.
1.

Pengatur stroke
Pengatur underwater
Pengatur umpan/konsentrat
Screen dan raging disesuaikan
Persyaratan untuk jig bed (ragging)
Mempunyai kecepatan mengendap antara mineral berat dan ringan
Tidak mudah hancur
Ukuran partikel jig bed harus lebih besar dari screen
Fluktuasi ukuran butir kecil
Fungsi dari under water adalah :
Untuk mengeliminir ruangan yang vakum pada saat suction sehingga hisapan

akibat suction agak berkurang


2. Menambah air
Untuk memperkirakan apakah suatu mineral akan dapat dipisahkan dengan baik
atau tidak dari mineral lainnya adalah dengan cara mengetahui criteria concentration.

CC=

dhdm
dldm

dimana:
dh = berat jenis mineral berat
dl = berat jenis mineral ringan
dm = berat jenis media pemisahan
Jika harga CC :
a.
b.
c.
d.
e.

CC > 2,50
CC = 1,75
CC = 1,5
CC = 1,25
CC < 1,25

= pemisahan dapat dilakukan untuk segala ukuran


= pemisahan hanya dapat dilakukan pada ukuran 65# - 100#
= pemisahan hanya dapat dilakukan pada ukuran 10#
= pemisahan hanya dapat dilakukan pada ukuran Gravel
= sulit dilakukan pemisahan dengan gravity concentration

Jig Screen
Bed
Jig tank

Diafragma
Membran

Spigot

Motor jig

GAMBAR 2.1
JIG TAMPAK SAMPING

diafragma

GAMBAR 2.2
JIG TAMPAK DEPAN
II.2 PRINSIP KERJA PROSES JIGGING
Apabila terjadi pulsion maka bed akan terdorong naik. Sehingga batuan pada
lapisan bed akan merenggang karena adanya tekanan. Kesempatan ini akan
dimanfaatkan oleh mineral berat untuk menerobos bed masuk ke tangki sebagai
konsentrat sedangkan mineral ringan akan terbawa oleh aliran horizontal diatas
permukaan bed dan akan terbuang sebagai tailing. Pada saat terjadi suction, bed
menutup kembali sehingga mineral berat berukuran besar dan mineral ringan
berukuran besar tidak berpeluang masuk ke tangki. Jadi mineral berat berukuran besar
akan mengendap diatas bed untuk menunggu kesempatan pulsion berikutnya,
sedangkan mineral ringan berukuran besar akan terbawa aliran arus horizontal.

GAMBAR 2.3
JIG TAMPAK SAMPING PADA SAAT PULSION

GAMBAR 2.4
JIG TAMPAK SAMPING PADA SAAT SUCTION

Kedaan Torak pada saat pulsion

Kedaan Torak pada saat suction


GAMBAR 2.5
JIG TAMPAK ATAS DIAFRAGMA PADA SAAT PULSION DAN SUCTION

Pada pemisahan partikel mineral dalam proses jigging dipengaruhi tiga faktor,
antara lain :
1. Differential acceleration
Differential acceleration merupakan faktor perbedaan kecepatan jatuh
partikel mineral ke bed, karena adanya gerakan yang terjadi pada alat jig. Hal ini
akan menyebabkan partikel mineral yang memiliki berat jenis besar akan memiliki
kecepatan jatuh yang lebih besar
2. Hinderet setting
Hinderet setting adalah faktor kerapatan batuan pada lapisan bed, faktor
dimana kecepatan jatuh setelah mineral mencapai kecepatan akhir atau setelah
mengendap pada bed, dimana partikel mineral terangkat dan turun pada saat terjadi
pulsion dan suction mengalami kesulitan untuk melalui media pemisah di dalam
jig. Jadi dapat dikatakan faktor pengaturan kerapatan bed.
3. Consolidation trickling
Consolidation trickling adalah faktor atau cara pengaliran campuran partikel
mineral pada waktu akhir jatuh, dimana berlaku setelah lapisan bed menutup pada
saat akhir dorongan (pulsion) . Partikel mineral ringan berukuran besar tidak
sanggup berpindah ke kompartemen berikutnya karena pengaruh kecepatan yang
terjadi pada partikel mineral tersebut. Sedangkan mineral berat dengan ukuran kecil
mempunyai kesempatan untuk menerobos celah-celah lapisan bed, karena partikel
tersebut cukup kecil bila dibandingkan dengan rongga bed. Kondisi seperti inilah
yang dikendalikan dalam Consolidation trickling.
Berdasarkan ketiga faktor pemisahan mineral dalam jig diatas, maka
terjadilah proses pemisahan mineral yang berbeda berat jenisnya, dalam hal ini
mineral berharga seperti kasiterit, xenotin, monasit, ilmenit, zircon, Pb dan biji besi
dengan mineral tailing yang berupa kuarsa dan clay. Mineral-mineral yang berat
jenisnya lebih besar baik yang berukuran kecil maupun besar berada di bawah
saringan, kemudian masuk kedalam tangki dan keluar melalui spigot sebagai
konsentrat. Sedangkan mineral pengotor atau mineral ringan baik yang berukuran
kecil ataupun besar akan terdorong oleh desakan dari feed berikutnya dan arus
horizontal diatas permukaan bed dan terbuang sebagai tailing . Apabila ketiga
faktor tersebut disatukan maka proses tersebut dinamakan ideal jigging process.
Berdasarkan jumlah kompartemennya jig dapat dibagi menjadi beberapa tipe,

antara lain :
a. Tipe 1x2
b. Tipe 2x2
c. Tipe 1x3
d. Tipe 2x3

GAMBAR 2.6
JIG 1X2 CELL

GAMBAR 2.7
JIG 2X2 CELL

GAMBAR 2.8

JIG 1X3 CELL

GAMBAR 2.9
JIG 2X3 CELL
Tipe-tipe Jig yang lain adalah :
1. Plunger Jig
Mekanisme kerjanya adalah :
a. Bila ada partikel lebih tinggi/berat dan ringan akan terjadi stratifikasi
b. Partikel tinggi akan mengendap sebagai konsentrat sedangkan yang ringan
akan keluar melalui gate sebagai tailing
c. Untuk mineral pemisah bed digunakan mineral itu sendiri dengan ukuran yang
lebih besar
d. Untuk meninggikan Recovery sebelum masuk Jig diadakan Sieving
e. Ukuran pada Feed antara inch 3 msh
f. Ukuran pada Screen 5 -4 #, P stroke = 1 5,8 inch
2. Diafragma Jig
Terdiri dari tipe : Bendelary Jig, Pan American Jig, Denver Mineral Jig, dan
House Jig, kapasitas Jig dinyatakan dalam ton/luas saringan tiap hari. Faktor yang
menetukan antara lain :
a. Sifat-sifat bijih
b. Ukuran material
c. Kekayaan bijih
d. Mudah/sukarnya pemisahan
e. Feed rata yang konstan
f. Kesempurnaan bijih

Power Recoment dipengaruhi oleh berat material, ukuran dan berat plunger,
gesekan pada waktu stroke, jumlah stroke tiap menit dan panjang stroke dalam
Jigging terdapat clearn (keluarnya air lewat sisi plunger) dank arena adanya gesekan
maka sebagian tenaga akan hilang, jadi stroke akan berkurang, harus diperhirungkan
pula dengan luas screen dan luas Plunger.
I.3. JENIS-JENIS JIG
Pembagian jig berdasarkan sieve atau screen :
1. Fixed Sieve Jig
a. Fix Sieve Plunge Jig
Alat yang termasuk didalamnya adalah Harz jig. Penggerak alat ini
adalah plungger yang bergerak naik turun sehingga menimbulkan suction
dan pulsion. Tempat konsentrat terletak di bagian bawah sedangkan
dibagian atas tempat keluarnya tailing, ini semua terletak di bagian atas
screen. Alat ini terbuat dari kayu atau beton, yang terdiri dari beberapa
kompartemen yaitu konsentrat, middling dan tailing.

GAMBAR 2.10
HARZ JJIG

a. Fixed Sieve Air Pulsator Jig


Contoh alat ini adalah Baum jig. Alat ini mempunyai fixed sieve (a)
yang dilalui air yang terdorong karena tekanan udara. Secara mekanis
tekanan udara dikontrol oleh valve (b) menuju closed chamber (c) dan
selanjutnya ke ruang bawah kompartemen sieve. Perubahan kecepatan
tekanan udara pada closed chamber dikendalikan oleh perangkat
mekanisme valve. Screen pengeluaran dari depan yang digerakkan aleh
mekanisme float (d). Material ringan dikeluarkan melalui bagian atas. Alat
ini digunakan dalam pencucian batubara.

GAMBAR 2.11
BAUM JIG
b. Fixed Sieve Diaphragma Jig
Alat yang termasuk jenis ini adalah Bendelari jig. Gerakan pulsion
dan suction dihasilkan dari diaphragma yang terbuat dari karet. Diaphragma

mengembang dan mengempis sehingga menimbulkan gerakan ke atas.


Diaphragma terletak pada bagian dalam dari alat tersebut yang digerakkan
oleh torak yang naik turun karena dihubungkan dengan eksentrik. Under
water disalurkan pada bagian bawah saringan melalui sebuag klep pada saat
diaphragma bergerak turun

GAMBAR 2.12
BOUNDARY JIG
b. Fixed Sieve Pulsator Jig

GAMBAR 2.13
PULSATOR JIG
2. Movable Sieve Jig
Yang termasuk movable jig adalah hancock jig. Alat ini berupa tangki yang
berbentuk rectangular atau kotak persegi panjang dengan sieve yang bergerak
dan dijalankan secara mekanik. Gerakan dari sieve tidak hanya naik turun tapi
juga ke depan belakang dengan percepatan yang besar. Konsentrat
dikumpulkan pada hutch dari kompartemen terakhir. Kapasitas sangat besar,
dari 300 600 ton per hari dengan mesin ukuran panjang 25 ft dan lebar 4 ft.

GAMBAR 2.14
HANCOCK JIG

II.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PADA PROSES JIGGING


Pada proses pemisahan dengan menggunakan alat jig, terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi yang mempengaruhi efektifitas kerja jig. Adapun parameter yang
mempengaruhi proses pemisahan tersebut antara lain :
1. Amplitudo membran atau frekuensi stroke
Amplitudo membran adalah jarak yang ditempuh oleh torak atau membran
dari awal dorongan (pulsion) hingga akhir hisapan (suction), sedangkan frekuensi
stroke merupakan banyaknya dorongan per menit. Bila jumlah (rpm) pukulan
besar, maka panjang langkahnya (amplitudo) lebih pendek demikian sebaliknya.
Amplitudo membrane dan frekuensi stroke ini akan berpengaruh kepada kecepatan
aliran vertical ke atas dimana kecepatannya tidak boleh lebih besar dari pada
kecepatan jatuh partikel. Apabila hal ini terjadi maka akan menyebabkan
kehilangan mineral berharga yang mempunyai ukuran butir lebih kecil. Oleh sebab
itu amplitude membrane dan frekuensi stroke yang digunakan harus disesuaikan
dengan ukuran butir partikel mineral berharga yang ada di lapangan.
2. Kecepatan aliran horizontal

Kecepatan aliran horizontal adalah kecepatan air yang mengalir di atas


lapisan bed. Fungsi kecepatan horizontal adalah untuk membawa material ringan,
baik yang berukuran besar ataupun kecil. Kecepatan aliran horizontal ini sangat
berpengaruh terhadap pengendapan mineral.
3. Ketebalan bed dan ukuran batu pada lapisan bed yang digunakan
Bed merupakan bahan padat yang terdiri dari lapisan batu hematite yang
digunakan sebagai media pemisah mineral berat pada jig. Ketebalan dan ukuran
bed sangat mempengaruhi hasil pemisahan dan tergantung kepada mineral yang
akan dipisahkan . Semakin tebal dan besar ukuran butir bed, maka akan semakin
sulit kecepatan aliran vertical ke atas untuk mendorong lapisan bed, sehingga
semakin sedikit partikel mineral berharga yang mengendap sebagai konsentrat.
Sebaliknya semakin tipis dan kecil ukuran butir bed, maka ada kemungkinan aliran
vertical ke atas akan melontarkan bed, sehingga ruangan antara bed menjadi terlalu
besar. Hal ini menyebabkan mineral ringan yang berukuran besar akan menerobos
lapisan bed dan mengendap sebagai konsentrat, sehingga kadar konsentrat menjadi
rendah.
4. Volume air tambahan (Under water)
Selama proses pemisahan berlangsung dengan baik sesuai rencana, air di
dalam tangki ada yang masuk ada pula yang keluar. Air yang masuk adalah air
yang bercampur bersama feed dan air yang berasal dari header tank (air tambahan).
Sedangkan air yang keluar adalah air yang keluar bersama-sama dengan tailing dan
air yang keluar melalui spigot bersama konsentrat. Volume air tambahan adalah
jumlah air yang dialirkan ke jig yang berguna sebagai air tambahan. Manfaat air
tambahan ini adalah untuk mengimbangi hisapan, mengimbangi jangan terlalu
banyaknya aliran air diatas jig yang menuju ke dasar dapat terjadi apa yang
dinamakan gerak pulsasi (gerakan ketas dan hisapan ke bawah) dan menggantikan
air yang keluar melalui lubang spigot.
5. Ukuran lubang spigot
Lubang

spigot adalah suatu

lubang yang berfungsi sebagai tempat

keluarnya konsentrat hasil pemisahan. Besarnya ukuran lubang spigot ini akan
mempengaruhi volume air yang terdapat dalam tangki jig. Apabila ukuran lubang
spigot terlalu besar, maka volume air yang keluar melalui lubang spigot akan
menjadi besar. Hal ini akan mengakibatkan tangki jig menjadi kosong, dan jig akan
mengalami kekurangan air. Untuk menjaga keseimbangan air didalam jig, maka

ukuran lubang spigot diusahakan sekecil mungkin. Hali ini bertujuan agar pada
proses pemisahan berikutnya tidak terjadi kelebihan air dan pemakaian air
tambahan dapat terjaga.
6. Feeding dan proses padatan
Feeding adalah proses pemasukan bahan baku campuran mineral baik bijih
berharga atau mineral lainnya dengan mengalir kepermukaan jig, yang disesuaikan
dengan kapasitas alat pencucian. Distribusi feed dipermukaan jig harus diatur
dengan baik agar proses jigging dapat berjalan dengan sempurna. Penyebaran dan
kekentalan (proses padatan) feed yang masuk kepermukaan jig perlu diperhatikan.
Penyebaran feed yang tidak merata mengakibatkan terjadinya penumpukan dan
kelebihan beban yang terlalu besar yang diterima oleh permukaan jig. Feed yang
terlalu kental akan menyebabkan penumpukan dan kecepatan aliran kecil,
sebaliknya feed yang terlalu encer akan menyebabkan kecepatan aliran yang besar
sehingga banyak mineral berharga yang hilang sebagai tailing.
7. Motor jig
Motor jig merupakan motor penggerak stroke yang menyebabkan terjadinya
pulsion dan suction pada proses pemisahan. Penentuan daya atau HP motor yang
digunakan berdasarkan beban yang akan didorong pada saat pulsion, jumlah
putaran gear box dan panjang pukul motor yang digunakan.
8. Jig screen
Jig screen merupakan saringan yang terbuat dari kawat (ketebalan kawat
1,5 mm) yang dipasang diantara rooster bawah dan rooster atas. Posisi pemasangan
jig screen berpengaruh terhadap jumlah dan luas lubang bukaan jig screen tersebut.
9. Kecepatan aliran di dalam jig tank
Kecepatan aliran didalam tangki jig berpengaruh terhadap proses
pengendapan mineral berharga. Apabila kecepatan aliran vertikal keatas akibat
pulsion lebih besar dari kecepatan jatuh butir mineral berharga, maka mineral
berharga tidak memiliki kesempatan untuk turun mengendap sebagai konsentrat.
Sebaliknya jika kecepatan aliran vertikal

ke atas terlalu kecil maka kadar

konsentrat akan menjadi rendah. Hal ini disebabkan karena mineral pengotor yang
kecepatan jatuhnya juga kecil akan turun sebagai konsentrat.
10. Kemiringan jig
Kemiringan jig berpengaruh terhadap kecepatan aliran horizontal pada
kondisi yang stabil, dengan perbandingan kemiringan jig 1:12, dalam artian bila

kemiringan jig ditambah satu derajat maka kecepatan akan bertambah dua belas
kali dari kecepatan pada posisi jig yang datar.
II.5 SIKLUS JIGGING
Siklus jigging merupakan suatu bentuk gelombang yang sebangun dan bergerak
secara teratur serta berulang-ulang yang diakibatkan oleh pulsion maupun suction.
Pada gambar di bawah ini, titk A merupakan titk dimulainya siklus. Pada saat
kecepatan aliran ke atas terus meningkat, maka jig bed akan terangkat (mengembang).
Jika waktu antara A ke B sangat kecil, maka akan terjadi efek differential initial
acceleration.
Pada titik B, kecepatan aliran ke atas semakin besar, sampai mencapai
puncaknya pada titik C. Dalam keadaan ini, mineral yang mempunyai kecepatan
pengendapan lebih besar dari aliran ke atas, mineral tersebut akan terus mengendap.
Sedangkan mineral yang mempunyai kecepatan pengendapan yang lebih kecil dari
kecepatan aliran ke atas, mineral ini akan terangkat ke atas dan akan terbawa aliran
mendatar (cross flow) dan menjadi tailing. Pada keadaan B-C ini terjadi efek hindered
settling.
Pada titik D, gerakan pengendapan mineral dimulai oleh mineral yang berukuran
besar, kemudian mineral yang berukuran halus. Keadaan ini merupakan kombinasi
antara differential acceleration dan hindered settling, dimana sebagian besar mineral
berukuran besar akan terletak pada dasar lapisan jig bed.
Pada tititk E, yang merupakan transisi antara pultion dan sec tion, lapisan jig bed
mulai menutup. Dalam keadaan ini, mineral berat yang berukuran kecil masih
mempunyai kesempatan untuk terus bergerak turun menerobos sela-sela jig bed.
Sedangkan mineral berat yang berukuran besar atau mineral ringan yang berukuran
besar akan terjebak dalam jig bed dalam keadaan ini efek consodation trickling yang
bekerja.

GAMBAR 2.15

AB = DA
BC = HS
I.6. CONTOH PENGOLAHAN DENGAN JIG
C = Cross
Salah satu pengolahan dengan jig adalah pengolahan timah. Sebelum bijih
Flow
timah/kasiterit dilakukan peleburan, bijih timah terlebih dahulu harus diolah dengan
D = DA +
tujuan meningkatkan kadar Sn yang terkandung di dalamnya agar memenuhi syarat
HS
peleburan ( 74 % Sn). Bijih timah yang akan diolah berasal dari penambangan
lepas
SIKLUS JIGGING

pantai dan penambangan darat.


Bijih timah dari penambangan lepas pantai (kapal keruk) diangkut
menggunakan tongkang menuju Pusat Pengolahan Bijih Timah (PPBT). Bijih timah
tersebut belum dilakukan proses pencucian, oleh karena itu kadarnya masih rendah
(20 - 30 % Sn). Untuk itu bijih timah tersebut harus ditingkatkan kadarnya sampai
memenuhi syarat peleburan. Bijih timah ditingkatkan kadarnya melalui proses
pencucian untuk memisahkan bijih timah dari mineral pengikutnya dengan
memanfaatkan perbedaan sifat-sifat dari butiran mineral seperti berat jenis dengan
menggunakan jig, konduktivitas listrik dengan menggunakan high tension separator,
dan kemagnetan dengan menggunakan magnetik separator.
1. Sampling
Sebelum dilakukan

proses pengolahan terhadap bijih timah dari kapal

keruk, terlebih dahulu diambil sampel. Untuk bijih timah kering sampel diambil
dengan menggunakan pit sampler. Sedangkan untuk bijih timah basah
menggunakan auger sampler. Sampel yang telah diambil tersebut dibawa ke
laboratorium untuk dianalisa secara mikroskopis. Analisa mineralogis dilakukan
dengan menggunakan mikroskop binokuler untuk menentukan komposisi
mineral-mineral yang ada pada bijih timah. Hasil analisa ini diharapkan dapat

mewakili komposisi mineral yang terkandung dalam bijih timah yang akan diolah,
sehingga dapat mengatur alat yang akan digunakan pada saat pengolahan.
2. Feeding
Setelah hasil analisa sampel dari laboratorium diperoleh, bijih timah siap
untuk dilakukan proses pemisahan. Bijih timah tersebut dimasukkan ke dalam ore
bin dengan menggunakan power shovel. Bijih timah yang terdapat dalam ore bin
disemprot dengan air bertekanan tinggi untuk diumpankan ke jig. Penyemprotan
dilakukan secara semi manual dengan menggunakan pompa semprot yang
tersambung selang dan dikendalikan oleh pekerja sehingga pengumpanan lebih
terkontrol.
3. Proses Pemisahan
Pemisahan bijih timah melalui dua proses pengolahan, yaitu :
a.
Proses Basah
Bijih timah yang telah disemprot di ore bin akan masuk ke dalam jig primer
yaitu sebagai feed.
berdasarkan

Jig merupakan salah satu alat pemisahan yang

perbedaan

berat

jenis,

bekerja

secara

mekanis

yang

menggunakan adanya perbedaan kemampuan menerobos dari butiran yang


akan dipisahkan terhadap suatu lapisan pemisah (bed).

GAMBAR 2.16
JIG
b.

Proses Kering
Hasil pengeringan tahap dua diumpankan ke alat High Tension
Separator (HTS) untuk ditingkatkan lagi kadarnya dengan dan kemudian
diumpankan lagi ke alat Magnetik Separator (MS) dan Air table. HTS
merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan mineral dengan

memanfaatkan perbedaan konduktivitas listriknya, dan MS merupakan alat


yang digunakan untuk memisahkan mineral dengan memanfaatkan perbedaan
kemagnetannya. Sedangkan Air Table memanfaatkan perbedaan berat jenis
mineral yang akan dipisahkan. Bijih timah yang diperoleh dari proses kering
ini dicampur dengan bijih timah dari proses basah dan kemudian dilakukan
proses peleburan. Sedangkan tailingnya diproses ulang untuk mengambil
mineral pengikutnya yang berharga.
Adapun bagan alir dari proses pengolahan timah, adalah sebagai berikut:

PROSES BASAH
(JIGGING)

PROSES BASAH
(JIGGING)

PROSES KERING (AIR TABLE, HTS

GAMBAR 2.17
BAGAN ALIR PENGOLAHAN TIMAH
BAB III
STUDI KASUS
III.1 Proses Pengolahan Bijih Timah
Proses pengolahan bijih timah PT. Koba Tin di Tinshed bertujuan untuk
memperoleh konsentrat cassiterite sebanyak mungkin dengan kadar minimal 72 % Sn
( masih berupa bijih ). Sedangkan timah yang berasal dari tambang memiliki kadar 20 30
% Sn. Oleh karena itu diperlukan proses untuk meningkatkan kadar Sn dengan cara

memisahkan cassiterite dari mineral-mineral ikutannya semaksimal mungkin. Produk yang


dihasilkan dari tinshed berupa konsentrat, middling, tailing. Konsentrat merupakan mineral
yang berharga dan bernilai ekonomis untuk ditambang, sedangkan middling merupakan
produk yang masih mengandung mineral berharga, dan tailing merupakan mineral yang
tidak berharga.
Proses pemisahan bijih timah dari mineral ikutan yang dilakukan oleh Tinshed PT.
Koba Tin disesuaikan dengan perbedaan sifat-sifat antara timah dengan mineral ikutannya.
Proses ini menggunakan tiga jenis pemisahan yaitu:
a. Gravity Concentration
Yaitu pemisahan berdasarkan berat jenis. Alat yang digunakan adalah jig, humprey
spiral, shaking table, dan air table.
b. Elektrostatic Concentration
Yaitu pemisahan berdasarkan sifat konduktifitas listriknya. Alat yang digunakan
adalah HTS ( High Tension Separator )
c. Magnetic Separator
Yaitu pemisahan berdasarkan sifat kemagnetiknya. Alat yang digunakan adalah
CBMS ( Cross Belt Magnetic Separator ), dan IRM ( Iducation Roll Magnetic ).
Proses ini bertujuan untuk memperoleh konsentrat casiterite sebanyak mungkin
dengan kadar timah yang memenuhi persyaratan peleburan 72 %, sehinggah setelah
dikeringkan dapat langsung dikirim ke pusat peleburan, sedangkan tailing akhir yang
sebagian besar terdiri dari mineral-mineral pengotor langsung distock. Produk middling
yang dihasilkan masih mengandung timah yang cukup tinggi, yaitu antara 10 30 %.
Untuk mendapatkan cassiterite yang terbawa dalam produk middling tersebut, maka
produk ini diproses ulang. Pada proses ini memakai kombinasi pemisahan secara
pemisahan gaya berat, elektrostatik, dan magnetic akan diperoleh konsentrat timah dengan
kadar 72 % Sn dan Tin Drum Sn 10-30%.
Bagan alir sederhana proses pencucian timah di Tinshed dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 3.1 Bagan Alir Proses Pencucian Bijih Timah


Proses pengolahan bijih timah di Tinshed ini dilakukan melalui 2 proses, yaitu
proses basah dan proses kering.
3.1.1. Proses Basah
Proses ini prinsipnya adalah pemisahan casiterite dari mineral pengotor
berdasarkan perbedaan berat jenis, peralatan yang digunakan antara lain :
1.

Ore Bin
Ore bin merupakan tempat penampungan bijih timah yang berasal dari tambang.

Langkah-langkah pada ore bin antara lain :


a) Membuka drum, drum yang berasal dari tambang dikirim dalam keadaan tersegel agar
material tidak tumpah dan tidak ada kecurangan.
b) Membuang air dalam drum, material yang berasal dari tambang biasanya masih
bercampur dengan air.
c) Sampling, pengambilan sampel dilakukan dengan pemboran pada drum sebanyak 7 titik.
, kemudian material hasil pengeboran tiap titik dicampur dan diaduk hingga rata, kemudian
dimasukan ke plastik sampel untuk dibawa ke ruang sampling. Setelah itu sampel basah
ditimbang lalu dikeringkan dengan menggunakan tungku, lalu ditimbang kembali sehingga
dari perbandingan berat kering dengan berat basah didapatkan kadar air pada setiap drum
atau fraksi keringnya (fraction dry). Kemudian sampel yang telah kering dibawa ke
laboratorium untuk diketahui kadar Sn. Saat ini kadar yang berasal dari tambang berkisar
20%-30%.

Cara pengambilan sample dapat dilakukan dengan cara :


a. Perhitungan berat bersih (TPH) melalui tahapan sebagai berikut:
- Pengambilan conto dari Jig plant dengan menggunakan stopwatch
- Air yang terdapat dalam contoh tersebut dibuang
- Contoh ditimbang untuk diketahui beratnya
TPH = Berat Sample Berat Plastik x 3600

( 4.1 )

b. Perhitungan kadar Sn dilaboratorium melalui tahapan sebagai berikut:


- Pengambilan conto dari Jig plant
- Conto dikeringkan
- Conto ditimbang untuk diketahui beratnya
- Setelah ditimbang, conto diayak dengan menggunakan Ro Top dengan ukuran 20#, 40#,
65#, 100#, dan 150#.
- Setelah diayak, tiap fraksi dihitung jumlah butiran masing-masing mineral
- Conto kemudian ditabur merata dan tipis di atas permukaan kaca ukuran 2 cm x 2
cm.
Kadar Mineral = jumlah butir x bj mineral yang bersangkutan x 100%

(4.2)

Jumlah butir x bj masing-masing mineral


c. Penimbangan, agar diketahui berapa berat material tiap-tiap drum.
d. Penuangan, setelah dilakukan penimbangan, material dituang ke DC (Dewatering Cone)
untuk diproses ke jig.
Setelah semua langkah-langkah diatas selesai, drum kosong dikirim ke tambang dalam
keadaan bersih, tertutup dan jumlah drum jelas
2. Jig Plant
Jig adalah suatu alat konsentrasi yang melakukan pemisahan mineral berdasarkan
perbedaan spesifik gravity. Pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan suatu lapisan
pemisahan yang disebut ragging yang berat jenisnya lebih rendah dari pada cassiterite
tetapi lebih tinggi dari pada mineral lain ( kwarsa misalnya ). Jadi berat jenisnya terletak
diantara cassiterite dan mineral pengotornya.