Anda di halaman 1dari 60

STUDI SISTEM KONTROL LEVEL PADA SISTEM

PENDINGIN AIR STAR ENERGY GEOTHERMAL WAYANG


WINDU LIMITED UNIT 2

LAPORAN KERJA PRAKTIK


DI STAR ENERGY GEOTHERMAL WAYANG WINDU
LIMITED
PANGALENGAN, JAWA BARAT
Tanggal 21 Juli s/d 21 Agustus 2014

Oleh
Esther Kezia
13311032

Program Studi Teknik Fiska


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Bandung
2014

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

LEMBAR PENGESAHAN

STUDI SISTEM KONTROL LEVEL PADA SISTEM PENDINGIN AIR STAR


ENERGY GEOTHERMAL WAYANG WINDU LIMITED UNIT 2
LAPORAN KERJA PRAKTIK
DI STAR ENERGY GEOTHERMAL WAYANG WINDU LIMITED,
PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG

Tanggal 21 Juli s/d 21 Agustus 2014


Oleh
Esther Kezia
13311032
Laporan ini telah diperiksa dan disetujui
Pangalengan, 10 November 2014

Menyetujui.
Pembimbing Kerja Praktik
Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Hariyanto
Mengetahui,
Head of Production Department
Star Energy Geothermal
Wayang Windu Ltd.

Ismail Hidayat

Head of HRD
Star Energy Geothermal
Wayang Windu Ltd.

M. Solihin

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas limpahan rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan Laporan Kerja
Praktik ini. Laporan Kerja Praktik ini disusun setelah penulis melakukan kegiatan
Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang dimulai pada tanggal 21 Juli 2014 sampai
dengan tanggal 21 Agustus 2014 di PT. Star Energy Geothermal Wayang Windu
Ltd., Pangalengan, Kabupaten Bandung. Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan ini
meliputi kegiatan orientasi umum lapangan serta studi literatur. Hal ini
dimaksudkan agar penulis mampu melakukan perbandingan antara kondisi kerja
di lapangan dengan teori yang berlaku di bangku perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam
penyusunan Laporan Kerja Praktik ini, oleh karena itu penulis terbuka bagi segala
kritik dan saran yang membangun dari pihak manapun agar laporan ini menjadi
lebih baik. Dalam penyusunan Laporan Kerja Praktik ini penulis mendapat
banyak bimbingan, dukungan baik moriil maupun materiil, serta bantuan dan
arahan yang berasal dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala rasa
hormat penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:

Bpk. Ir. F.X Nugroho M.Benv, Ph.D , selaku Ketua Jurusan Teknik Fisika di
Institut Teknologi Bandung.

Bpk. Ismail Hidayat, selaku Wayang Windu Production Superintendent

Bpk. Harianto, selaku supervisor departemen prodkusi yang telah


membimbing selama proses kerja praktik.

Seluruh staff Production Department yang telah memberikan ilmu serta


informasi selama proses kerja praktik.

Seluruh staff Engineering Department yang telah memberikan ilmu tentang


sistem kontrol pada sistem pendingin air.

Bpk. M. Solihin dan Ibu Nayla yang telah membantu pelaksanaan Kerja
Praktik.

Bpk. Burhan, yang telah memberikan penjelasan tentang detai proses


pembangkitan di area Power Station
ii

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Bpk. Juju dan Bpk. Sutarman, yang telah memberikan penjelasan tentang
detail proses yang berada di luar area Power Station dari mulai sumur
produksi hingga sumur injeksi.

Seluruh staff di Electrical, Control, and Instrumentation Department yang


telah membantu dalam memberikan data untuk proses penyusunan laporan
kerja praktik.

Seluruh elemen staff di Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd. yang
telah memberikan dukungan dan pengalaman kepada penulis selama
pelaksanaan Kerja Praktik.

Seluruh teman teman seperjuangan yang sama-sama melaksanakan Kerja


praktik di Star Energy : Agus Hamdani, M. Rizki Erlangga, A. Baharuddin,
M. Beta, Melyana Dwi, Khansa Ambar, Linda Arnisda, Novarida Hidayanti ,
Aceng K, Hafizh Dhiyaul , Nursanty.

Serta semua pihak yang telah terlibat serta membantu

yang tidak dapat

disebutkan satu persatu.


Akhir kata, penulis hanya manusia yang tidak luput dari kesalahan dalam
penulisan laporan ini, Oleh karena itu penulis memohon maaf yang sebesarbesarnya atas segala hal yang kurang berkenan.

Bandung, 25 Agustus 2014


Penulis

iii

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

ABSTRAK

Sistem pendingin air pada pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah
sistem yang melanjutkan siklus uap air setelah melewati turbin. Uap air
dikondensasikan dengan condenser dengan air dingin yang berasal dari cooling
tower. Kondensat tersebut kemudian sebagian dialirkan menuju cooling tower
untuk didinginkan dan menuju sumur injeksi. Pada sistem ini, condenser dan
cooling tower adalah komponen penyimpan air yang harus diperhatikan
ketinggiannya. Condenser adalah alat yang berfungsi untuk mengubah fasa air
dari uap air (vapor) menjadi cair (liquid). Pada proses pembangkit listrik tenaga
panas bumi, selain berfungsi sebagai penukar kalor, condenser juga berfungsi
memisahkan air dengan NCG (Non Condensable Gas). Level air pada condenser
harus dijaga untuk menjaga kehampaan dari condenser agar efisiensi proses
meningkat. Apabila level condenser melebihi 1100 mm, maka alarm akan
berbunyi kemudian akan berlanjut dengan beberapa interlock yang menjadikan
turbin trip. Cooling tower adalah komponen penukar kalor antara air panas
dengan udara di sekitar sehingga menampung air dingin. Air dingin tersebut juga
dijaga ketinggiannya agar tidak terlalu rendah. Apabila level basin cooling tower
mencapai -480 mm pada alat ukur, maka ACW (Auxilary Cooling Water) Pump
akan trip. Sistem kontrol diperlukan untuk mengatur ketinggian level dengan
bukaan control valve yang ada. Pada laporan ini akan dibahas mengenai sistem
kontrol level pada condenser beserta simulasi dengan perangkat lunak Matlab.
Kata kunci: Sistem Pendingin Air, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi,
Condenser, Cooling tower, PID Controller, Matlab

iv

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
ABSTRAK ..................................................................................................................... iv
DAFTAR ISI .................................................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. vii
DAFTAR TABEL ........................................................................................................ ix
BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ........................................................................................................... 1
1.2. Identifikasi Masalah .................................................................................................. 2
1.3. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 2
1.4. Tujuan dan Manfaat .................................................................................................. 2
1.4.1. Tujuan .................................................................................................................................... 2
1.4.2. Manfaat .................................................................................................................................. 3
1.3. Batasan Masalah ........................................................................................................ 3
1.4. Sistematika Penulisan Laporan .............................................................................. 3
BAB 2. SEJARAH DAN PROFIL PERUSAHAAN .............................................. 5
2.1. Sejarah Singkat Star Energy Geothermal Wayang Windu Limited .............. 5
2.2. Profil Perusahaan ....................................................................................................... 6
2.3. Ruang Lingkup Kegiatan Perusahaan .................................................................. 8
2.4. Visi dan Misi Perusahaan ......................................................................................... 9
2.4.1. Visi dari Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. ........................................ 9
2.4.2. Misi dari Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. ....................................... 9
2.4.3. Nilai dari Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. ...................................... 9
2.5. Struktur Organisasi Perusahaan .......................................................................... 10
2.6. Manajemen Perusahaan ......................................................................................... 11
2.7. Gambaran Umum Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. ............... 12
BAB 3. TEORI DASAR ............................................................................................ 21
3.1. Alat Penukar Kalor .................................................................................................. 21
3.2. Sistem Kontrol .......................................................................................................... 27
3.2.1. Sensor, Transmitter, Indicator ..................................................................................... 27
3.2.2. Alat Ukur Level ................................................................................................................ 28
3.2.3. Controller ........................................................................................................................... 29
3.2.4. Control Valve .................................................................................................................... 33

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

BAB 4. SISTEM PENDINGIN AIR STAR ENERGY GEOTHERMAL


WAYANG WINDU Ltd. UNIT 2 ............................................................................ 36
4.1. Diagram Heat Balance dan Human Machine Interface Sistem Pendingin
Air Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. Unit 2 Terlampir ..................... 36
4.2. Proses Sistem Pendingin Air .................................................................................. 36
4.3. Sistem Kontrol pada Condenser dan Cooling Tower ........................................ 38
4.3.1. Condenser .......................................................................................................................... 38
4.3.2. Cooling Tower .................................................................................................................. 39
BAB 5. PEMODELAN SISTEM KONTROL LEVEL HOTWELL
CONDENSER SISTEM PENDINGIN AIR STAR ENERGY
GEOTHERMAL Ltd. UNIT 2 ................................................................................ 40
5.1. Desain Sistem Kontrol ............................................................................................. 40
5.1.1. Diagram Blok .................................................................................................................... 40
5.1.2. Fungsi Transfer Sistem Kontrol ................................................................................. 40
5.1.3. Simulasi .............................................................................................................................. 44
5.2. Analisis ........................................................................................................................ 45
BAB 6. KESIMPULAN ............................................................................................. 48
6.1. Kesimpulan ................................................................................................................ 48
6.2. Saran ........................................................................................................................... 48
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 49
LAMPIRAN ................................................................................................................ 50

vi

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2 1. Logo Star Energy

Gambar 2.2. Logo PERTAMINA Geothermal Energy

Gambar 2.3 Skema Rangkaian Sejarah Star Energy Geothermal Wayang Windu
Ltd.

Gambar 2.4 Lokasi Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 2.5 Struktur Organisasi di Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. 11
Gambar 2.6 Siklus PLTP di SEGWWL

12

Gambar 2.7 Peta Sumur SEGWWL

14

Gambar 2.8 Sumur Produksi

14

Gambar 2.9 Jalur two phase

15

Gambar 2.10 Separator

16

Gambar 2.11 Rock Muffler

16

Gambar 2.12 Scrubber

17

Gambar 2.13 Turbin Uap

17

Gambar 2.14 Generator

18

Gambar 2.15 Transformator

18

Gambar 2.16 Condenser

19

Gambar 2.17 Hotwell pump

19

Gambar 2.18 Cooling tower

20

Gambar 2.19 Gas removal system

20

Gambar 3.1 Condenser

22

Gambar 3.2 Diagram Skematik Cooling Water System

22

Gambar 3.3 Cross Flow Natural Draft Cooling tower (kiri), Counter Flow
Natural Draft Cooling(kanan)

24

Gambar 3.4. Forced Draft Cooling tower

26

Gambar 3.5. Induced Draft Counter Flow Cooling Tower

26

Gambar 3.6. Induced Draft Cross Flow Cooling Tower

26

Gambar 3.7. Loop Sistem Kontrol

27

vii

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 3.8. Diagram Blok Kontroler PID

31

Gambar 3.9 Flow Characteristic Control Valve

32

Gambar 5.1 Diagram Blok Sistem Kontrol Level Hotwell Condenser Negative
Feedback

40

Gambar 5.2 Kondisi Proses pada Condenser

41

Gambar 5.3 Ilustrasi Proses Kontrol Level

41

Gambar 5.4 Flow Characteristic Control Valve Equal Percentage

43

Gambar 5.5 Diagram Blok Simulink dengan PI Controller

44

Gambar 5.6 Diagram Blok Simulink dengan PID Controller

44

Gambar 5.7 Respon Sistem Hasil Simulasi (kiri: PI Controller, kanan: PID
Controller)

45

viii

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tipe Mechanical Draft Tower

25

Tabel 3.2 Perbandingan Parameter PID

32

Tabel 5.1 Perbandingan Respon Sistem Hasil Simulasi

45

ix

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia adalah negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia.
Dengan potensi ini, diharapkan Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya
tersebut serta mampu mengoptimalkannya sehingga dapat membantu dalam
menambah jumlah produksi listrik di negeri. Salah satu pembangkit listrik panas
bumi (PLTP) ya ng terbesar di Indonesia adalah Star Energy Geothermal Wayang
Windu Ltd. Bahan utama dalam PLTP adalah uap air atau steam. Walaupun
Indonesia memiliki potensi yang besar, tetap harus mengoptimalkan produksi
dengan peralatan yang ada. Peralatan utama yang terlibat dalam suatu pembangkit
listrik panas bumi adalah Turbin, generator, condenser, cooling tower, dan pipapipa.
Cooling tower dan condenser adalah alat yang terhubung dalam sebuah
sistem yakni sistem sirkulasi air pendingin. Pada sistem ini steam keluaran turbin
akan dihisap dengan condenser di mana di dalam condenser steam tersebut akan
didinginkan dengan siraman air yang berasal dari cooling tower. Air panas
keluaran condenser kemudian dibagi, ada yang dialrkan untuk diinjeksi kembali
ke dalam tanah, ada yang dialirkan menuju cooling tower untuk didinginkan. Air
yang diibawa ke cooling tower didinginkan dengan gesekan langsung dengan
udara.
Pada sistem air pendingin ini (water cooling unit), terdapat beberapa kontrol
yang berperan untuk mengoptimalkan proses produksi serta untuk alasan
keamanan alat. Kontrol yang sangat penting adalah kontrol level (ketinggian) pada
condenser serta kontrol level pada basin cooling tower. Kontrol level pada
condenser sangat penting mengingat bahwasannya untuk menghasilkan produksi
yang optimal, air pada condenser harus mendekati nol. Maka level pada
condenser diset dengan besar nol. Dengan tidak adanya air yang tertampu ng
dalam condenser maka ke-vacuum-an dari condenser terjaga. Kondisi vacuum
pada condenser berguna untuk menarik steam dari turbin langsung ke dalam
1

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

condenser dan pertukaran kalor yang terjadidi dalamnya lebih besar. Kontrol level
pada basin cooling tower juga dipertahankan nilainya agar tidak meluap. Untuk
mengatasi permasalah-permasalah tersebut, maka diperlukan mekanisme kontrol
secara otomatis dalam mengatur level baik pada condenser maupun cooling tower
agar jumlah listrik yang dihasilkan akan lebih optimal.

1.2.

Identifikasi Masalah

Sistem Pendingin Air pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi


berperan penting

Adanya pengendalian level pada condenser dan basin cooling tower

Kendali pada level condenser termasuk penting


1.3.

Rumusan Masalah

Mengapa sistem pendingin pada PLTP berperan penting?

Bagaimana proses pengendalian level pada condenser dan basin


cooling tower?

Bagaiman sistem kendali pada level condenser?


1.4.

Tujuan dan Manfaat


1.4.1.

Tujuan
Memahami proses pada sistem pendingin air Star Energy
Geothermal Wayang Windu

Memahami sistem kontrol level pada condenser dan cooling


tower

Mendesain pemodelan kendali level pada condenser dengan PID


Controller

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

1.4.2.

Manfaat

Mengetahui pentingnya peran sistem pendingin air pada Star


Energy Geothermal Wayang Windu

Mengtahui sistem kendali level pada condenser dan cooling tower.

Mengetahui perangkat penyusun sistem kendali level pada


condenser.

1.3.

Batasan Masalah
Metode pengambilan data yang digunakan untuk menyelesaikan laporan

ini terdiri dari observasi lapangan dan studi literatur. Observasi lapangan yakni
berupa kunjungan langsung ke lapangan, melakukan pengamatan terhadap objek,
dan melakukan wawancara kepada karyawan maupun staf yang sedang bertugas.
Sementara studi literatur berupa peninjauan dokumen-dokumen kilang (misal:
P&ID,

PFD,

Logic

Diagram,

dll),

pembacaan

datasheetatau

manual

instructionperangkat, juga literature-literatur lain yang didapatkan dari berbagai


sumber

1.4.

Sistematika Penulisan Laporan


Agar laporan ini berurutan dan lebih mudah dipahami, maka penulis

menyusun sistematika Laporan Kerja Praktek ini sebagai berikut:


1.

Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah,
tujuan dan manfaat, dan batasan masalah.
masalah, dan metode pengambilan data dari laporan.

2.

Bab II Profil Perusahaan


Bab ini berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan informasi mengenai
perusahaan secara umum.

3.

Bab III Landasan Teori


Bab ini berisi teori-teori yang mendasari pembahasan permasalahan pada
laporan ini.
3

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

4.

Bab IV Sistem Pendingin Air Star Energy Geothermal Wayang Windu


Unit 2
Bab ini membahas tentang Sistem Pendingin Air Star Energy Geothermal
Wayang Windu Unit 2. Termasuk di dalamnya pembahasan yang lebih
rinci tentang sistem kontrol level pada condenser dan cooling tower itu
sendiri.

5. Bab V Pemodelan sistem kontrol level hotwell condenser sistem pendingin


air star energy geothermal ltd. unit 2
Pada bab ini dibahas pemodelan sistem kontrol level pada condenser serta
analisis respon pada simulasi dengan PID Controller.
6.

Bab VI Kesimpulan
Bab ini berisi kesimpulan dari pembahasan beserta saran.

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

BAB 2. SEJARAH DAN PROFIL PERUSAHAAN

2.1.

Sejarah Singkat Star Energy Geothermal Wayang Windu Limited


Pada tahun 1985, para ahli geologi dan geofisika melakukan penelitian

mengenai sumber energi panas bumi di daerah Pangalengan, lebih tepatnya di


Gunung Wayang dan Windu. Setelah diketahui keberadaan potensi panas bumi
yang sangat besar, pada tahun 1991 Pertamina melakukan pengeboran sumur
untuk pertama kalinya dan diberi nama WWA-1. Selanjutnya diputuskan,
penemuan sumber panas bumi untuk tujuan komersil. Melihat dari prospek bisnis
yang cukup menguntungkan, pemerintah Indonesia yang diwaliki Pertamina
melakukan penandatanganan Kontrak Operasi Bersama (JOC) dengan Mandala
Nusantara Limited, dan penandatanganan kontrak penjualan (ESC) dengan pihak
Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk daya sebesar 220 MW atau 2 x 110 MW .
Hasil dari penandatanganan tersebut adalah dibuatnya power station untuk dua
unit yang akan dilakukan pada bulan Desember 1994. Pada tahun 1997 dilakukan
pengembangan kembali dan ditemukan sumber panas untuk 440 MW dan pada
bulan Juni 1997 dilakukan penandatanganan kontrak EPC (Engineering
Proquierement Contraction) yang dilakukan oleh Sumitomo Corporation.
Pembangunan Wayang Windu Unit 1 telah selesai pada tahun 1999,
selanjutnya dilakukan uji coba pada unit 1 tersebut pada tahun 2000, dan pada
bulan Juni 2000 pengoperasian unit 1 secara komersil dilakukan. Pada bulan
Februari 2001, saham sebesar 50% dimiliki oleh UNOCAL yang kemudian pada
tahun 2004 Magma Nusantara Limited dibeli oleh Star Energy. Pada tahun 2006
dilakukan kembali pengeboran sumur unit 2. Pada tanggal 2 Maret 2009, Menteri
Sumber Daya Mineral membuka Wayang Windu Unit 2 dengan kapasitas
pembangkit sebesar 117 MW. Sekarang Wayang Windu mengalirkan listrik
dengan total 227 MW ke PLN sebagai pembelinya untuk dialirkan ke seluruh
jaringan listrik Jawa Bali dan Madura

5

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.







Gambar 2 1. Logo Star Energy

(Sumber :www.oilandcareers.com
)

Gambar 2.2. Logo PERTAMINA


Geothermal Energy
(Sumber :www.pertamina.com )

Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. melakukan kontrak kerjasama


dengan Pertamina dan PLN memberikan kewenangan bagi Star Energy untuk
membangun pembangkit tenaga listrik dengan kapasita hingga 400 MW selama 42
tahun dan setiap unitnya diperkirakan dapat beroperasi selama 30 tahun.
Kerjasama ini merupakan solusi krisis energi di daerah Jawa-Bali.

2.2.

Profil Perusahaan
Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. Berlokasi di daerah

Pangalengan, Kab. Bandung, Jawa Barat yang berjarak 40 km ke arah selatan


kota Bandung. Perusahaan ini dimiliki oleh Star energy dan bagian dari Star
Energy Group. Tujuan dari didirikannya Star Energy Geothermal Wayang Windu
Ltd. Adalah menjadi salah satu perusahaan yang bergerak di bidang energi untuk
memenuhi kebutuhan listrik dengan memanfaatkan panas bumi yang ada dengan
mengolahnya menjadi energi listrik secara ramah lingkungan dan berkomitmen
untuk meningkatkan green energy for the world.
PLTP Wayang Windu dikelilingi kebun teh dan hutan lindung yang diapit
oleh pegunungan berapi yaitu Gunung Wayang, Windu, Bedil, dan Malabar.
Perusahaan ini berada 1700 meter di atas permukaan air laut dengan luas area
operasi yaitu sekitar 14400 ha area KOB, 96 ha kebun teh dan 11,2 ha hutan.
6

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

(Sumber : Data Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. )

Gambar 2.3 Skema Rangkaian Sejarah Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.










Gambar 2.4 Lokasi Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.
(Sumber : Data Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. )

2.3.

Ruang Lingkup Kegiatan Perusahaan


Star Energy bergerak pada bidang Oil and Gas Business yang berlokasi di

Kakap, Sekayu, Sebatik,dan Banyumas serta pada bidang Geothermal Business di


Wayang Windu dan Jailolo. Namun, Star Energy Geothermal Wayang Windu
merupakan perusahaan geothermal yang mengembangkan sumber daya panas
bumi. Energi panas dari bumi diekstrak dalam bentuk cairan panas bumi.
Kemudian cairan akan disampaikan melalui dua jalur tahap ke tahap pemisah
siklon di mana uap dan air sisa (air asin) dipisahkan. Uap disalurkan ke
pembangkit listrik dan air garam dikembalikan ke reservoir melalui sumur injeksi
ulang untuk membantu mempertahankan tekanan. Uap dari separator dimurnikan
dan dikeringkan dalam garis menggosok dan stasiun scrubber sebelum memasuki
header uap di pembangkit listrik.

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

2.4.

Visi dan Misi Perusahaan


2.4.1. Visi dari Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.
Menjadi perusahaan produsen energi yang disegani, memiliki
pertumbuhan tercepat di Indonesia melalui penciptaan nilai yang seimbang
dengan pemenuhan harapan dari para investor, pegawai, negara dan
komunitas sekitar
To become the most respected,fastest growing energy producer in
Indonesia by creating competitive and balance value for our investors, our
employees, the country and community

2.4.2. Misi dari Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Menjadikan perusahaan internasional dengan jiwa Asia dan


Indonesia di dalamnya.

Meraih berbagai kesuksesan bersama dengan para pemangku


kepentingan.

Peduli pada standar tinggi tinggi keselamatan dan kesehatan kerja.

Tidak menyakiti siapapun dan peduli pada Lingkungan.

2.4.3. Nilai dari Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.


Dengan keyakinan visi misi tersebut, Star Energy memperkenalkan
suatu Share Values yaitu BRIGHT STAR yang berisi budaya kerja yang
harus dihayati dan diramalkan oleh seluruh karyawan. Nilai-nilai dalam
BRIGHT STAR diharapkan dapat menjadi motivator bagi setiap individu,
serta etika hubungan kerja antara individu dan departemen, sehingga dapat
tumbuh menjadi satu Team yang solid dan individu yang Motivated serta
senantiasa bersikap sebagai bagian dari team Star Energy. Berikut adalah
corporate value Star Energy.

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Balance Value for Stake Holder


Respect People
Innovative and Enterpreneurial
Go the Extra Mile
Honesty and Integrity
Teach Yourself Daily
Safety, Health, and Environment
Team Work
Awareness of Cost
Relationship are Important
Nilai-nilai BRIGHT STAR diharapkan tidak hanya menjadi slogan yang
diucapkan, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam melakukan
pekerjaan sehari-hari.

2.5.

Struktur Organisasi Perusahaan


Struktur organisasi merupakan salah satu bagian yang penting dalam suatu

perusahaan, karena dengan adanya struktur organisasi ini akan diketahui secara
jelas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan manajemen perusahaan yang baik
dalam pengambilan kebijakan suatu keputusan maupun membina hubungan baik
dengan pihak eksternal perusahaan. Untuk melaksanakan aktivitas perusahaan
Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. Dipimpin oleh seorang Field
Manager yang juga dibantu oleh beberapa kepala departemen. Berikut

ini

adalah gambar struktur organisasi dari Star Energy Geothermal Wayang Windu
Ltd.

10

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 2.5 Struktur Organisasi di Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.
(Sumber : Data Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. )

2.6.

Manajemen Perusahaan
Aktivitas dari setiap divisi yang ada di Star Energy Geothermal Wayang

Windu Ltd. Adalah sebagai berikut:

Departemen Subsurface
Mengelola dan mengatur pekerjaan, memantau dan memberikan laporan
kegiatan penelitian di dalam tanah (reservoir).

Departemen Field Administration


Mengelola dan mengatur administrasi perusahaan baik pembangkit listrik
termasuk mengelola pengaturan yang ada, logistik, pengadaan,
administrasi (catering dan penginapan), sumber daya manusia, finance,
dan payment bisnis.

Departemen Hubungan Eksternal dan Keamanan


Mengelola departemen pelayanan umum di Power Station, termasuk
mengelola dan membangun hubungan lingkungan di sekitar perusahaan,
serta mengelola transportasi keamanan
11

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Departemen Produksi
Mengelola distribusi listrik ke PLN dan proses operasional PLTP
Wayang Windu.

Departemen Pemeliharaan (Maintenance Department)


Mengelola pelayanan dan perbaikan di PLTP Wayang Windu yang
mencakup perbaikan mekanik, listrik, instrumen, dan sipil.

Departemen SHE (Safety, Health, and Environment)


Mengelola kesehatan dan keselematan kerja (K3) dan lingkungan di
PLTP Wayang Windu.

Departemen Teknik (Engineering Department)


Mengelola jasa konstruksi di PLTP Wayang Windu yang meliputi
mekanik, listrik, sipil, C&I, rekayasa, dan sertifikasi plant.

Departemen Procurement
Mengelola pembelian dan pengeluaran bahan baku untuk operasi
perusahaan, dan mengatur kontrak kerja dan jasa.

2.7.

Gambaran Umum Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 2.6 Siklus PLTP di SEGWWL


(Sumber : Data Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. )

12

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Proses pembangkitan panas bumi yang ada di Star Energy Geothermal


Wayang Windu Ltd. berawal dari uap yang dihasilkan oleh sumur-sumur
produksi. Uap tersebut akan dialirkan melalui pipa dua fasa. Setelah itu uap akan
menuju separator yang berfungsi sebagai pemisah antara steam dan brine. Brine
akan diinjeksikan ke sumur injeksi dan steam dari separator akan masuk ke
scrubber. Scrubber tersebut berfungsi untuk menyaring kotoran yang terkandung
dalam uap. Steam yang sudah bersih akan masuk ke turbin yang telah
dirangkaikan dengan generator. Steam yang masuk ke turbin tersebut digunakan
untuk menggerakkan turbin yang kemudian akan menggerakkan generator.
Generator menghasilkan energi listrik yang akan di salurkan ke main
transformator. Setelah itu energi listrik dari main transformator akan disalurkan
ke gardu induk yang ada di PLN.Sedangkan untuk steam yang keluar dari turbin
akan masuk ke condenser untuk dikondensasikan, Uap yang terkondensasi
tersebut akan disalurkan ke Cooling tower untuk didinginkan lebih lanjut sehingga
dapat disirkulasikan kembali ke dalam condenser. Namun tidak semua Gas yang
tidak dapat dikondensasikan akan masuk ke Gas removal system (GRS).

1.

SAGS ( Steam Above Ground System )


a.

Sumur

Temperatur reservoir 260C to 325


Kedalaman 1300- 2500 meter
Tekanan kepala sumur sekitar 60- 70 bar
19 sumur produksi (2 WWA; 1 MBE; 5 WWQ; 5 MBD; 5 MBA;
1 MBB)
sumur injeksi (2 WWW; 2 WWF; 1WWP)
Dry holes/ Idle wells (WWS; WWT; 2 WWD)
Slim/core Holes (WWC, WWJ, WWL, WWR, MSH)
sumur abandon (2 WWA; WWE; WWF; 2 MBE)

13

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 2.7 Peta Sumur SEGWWL


(Sumber : Data Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. )

Jalur uap ( 36, 42 & 48 dia.)


Service pressure 10 to 14 barg.
Service temperature 190 to 280C
Jalur injeksi brine (30 dia.)
Service pressure 10 barg.
Service temperature 100 to 200C

Gambar 2.8 Sumur Produksi

14

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

2.

Jalur two phase Unit 1

Terdiri dari 3 pipa dengan diameter 36

Mengalirkan fluida dari sumur produksi ke SS1

Jalur kapasitas desain nominal of 40 MW tapi kapasitas maksimum


70-80 MW (meskipun ada penambahan pressure drop)

3.

Jalur two phase Unit 2

Terdiri dari 1 pipa dengan diameter 48

Mengalirkan fluida dari MBA dan MBB ke SS1

Line nominal design capacity 120 MW

Gambar 2.9 Jalur two phase

4.

Separator

Separator terdiri dari 6 unit, masing- masing memiliki kapasitas desain 40


MW ( 80 kg/s aliran uap ) tetapi dapat menampung kelebihan uap 20% yaitu 48
MW ( 96 kg/s aliran uap ), tanpa mengurangi performanya.

15

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.


Gambar 2.10 Separator
5.


Rock Muffler

Uap yang melintasi vent valveakan dialirkan melalui rock muffler.Rock


muffler didesain untuk memperkecil pancaran emisi / peredam suara.


Gambar 2.11 Rock Muffler

6.

Scrubber

Di dalam Scrubber ini akan terjadi proses pemurnian steam sehingga


hanya steam kering yang akan dialirkan ke turbin.

16

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.


Gambar 2.12 Scrubber

7.

Power Station
a.

Turbin Uap
Turbin uap yang digunakan berjenis turbin reaksi yang didesain

dengan dua arah aliran yang ada dalam satu casing. Setiap arah aliran
terdiri dari delapan tingkat. Tekanan rata- rata uap 10.2 bar dan temperatur
rata- rata uap 180.7 C.

Gambar 2.13 Turbin Uap

b.

Generator
Spesifikasi generator di Star Energy Geothermal Wayang

WinduLtd :

Type generator : Generator synkron

Rating Output 137,500 KVA

Tegangan generator 13.8 KV


17

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 2.14 Generator

c. Transformator
Spesifikasi main transformer di Star Energy Wayang Windu
Ltd.yaitu :
13.8 KV/150 KV
Kapasitas 92 / 134 MVA
( ONAN / ONAF )

Gambar 2.15 Transformator

18

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

d.

Condenser
Condenser berfungsi untuk mengkondensasikan steam yang keluar

dari turbin. Condenser yang digunakan berjenis condenser kontak


langsung (Direct Contact).Air pendingin disuplai dari menara pendingin
yang disemprotkan langsung ke uap buangan turbin melalui noselnoselnya. Uap yang terkondensasi akan disalurkan ke menara pendingin
untuk didinginkan lebih lanjut sehingga dapat disirkulasikan kembali ke
dalam condenser.

Gambar 2.16 Condenser


e.

Hotwell Pump

Fungsi dari hotwell pump yaitu untuk memompa condensate dari


condenser ke cooling tower.

Gambar 2.17 Hotwell pump


19

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Kapasitas Hotwell pump :


Kapasitas Unit 1 = 10,200 t/h, 2 x 50%
Kapasitas Unit 2 = 10,500 t/h, 2 x 50%
f.

Cooling tower
Uap yang terkondensasi disalurkan ke Cooling tower untuk

didinginkan lebih lanjut. Cooling tower yang digunakan berjenis counter


flow. Air yang masuk ke Cooling towerberlawanan arah dengan udara
pendingin. Air masuk dari bagian atas menara sedangkan udara pendingin
masuk dari bagian bawah menara sehingga terjadi perpindahan panas. Air
akan melepas panas sedangkan udara akan menyerap panas. Udara panas
ini dibuang ke udara bebas. Air dingin akan disirkulasikan ke condenser
dan selebihnya di injeksikan ke sumur injeksi untuk mengantisipasi
kelebihan air di kolam menara.

Gambar 2.18 Cooling tower

g.

Gambar 2.19 Gas removal system

Gas removal system( GRS )


Gas yang tidak dapat di kondensasikan akan masuk ke Gas removal

system (GRS). Selanjutnya gas ini akan dialirkan ke cooling tower dan di
buang ke udara bebas dengan bantuan kipas di atas menara.
20

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

BAB 3. TEORI DASAR


3.1.

Alat Penukar Kalor


3.1.1.

Condenser

Condenser adalah alat yang didesain untuk memisahkan satu atau


lebih komponen dari suatu campuran uap (vapor mixture) dengan
megurangi fasa gas uapnya menjadi fasa liquid. Apabila sejumlah kalor
dilepaskan dan tekanannya dinaikkan maka fasa gas nya menjadi liquid.
Perubahan dari fasa gas menjadi fasa liquid terjadi karena 1) peningkatkan
tekanan dan mempertahankan pada suhu konstan, 2) menurunkan
temperatur dan mempertahankan pada tekanan konstan, 3.) meningkatkan
tekanan dan menurunkan temperatur.Kondensasi terjadi ketika tekanan
parsial dari gas sejumlah dengan tekanan uapnya.
Tipe-tipe condenser:

Surface condenser adalah tipe condenser yang memanfaatkan konsep


up pertukaran kalor di mana refrigerant terpisah dari uap dengan
wadahya tersendiri. Beberapa dari tipe condenser yang digunakan
termasuk shell-and-tube, double-pipe, spiral-plate, flat-plate, aircooled, water-cooled,dan extended surface, proses kondensasi dapat
terjadi pada shell atau pada tube.

Direct-contact condenser adalah tipe condenser yang mendinginkan


campuran uap air (vapor mixture) dengan menyiram air dingin secara
langsung kepada aliran gas. Contact condenser cenderung lebih
sederhana, murah,akan tetapi memiliki ukuran yang lebih besar. Pada
beberapa kasus, tekanan pada condenser harus vacuum agar aliran uap
yang berasal dari bagian condenser akan terhisap sehingga semakin
banyak uap yang dapat dikondensasikan.


21

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 3.1 Condenser


Sumber:http://www.epa.state.oh.us/portals/27/engineer/eguides/condense.pdf

3.1.2. Cooling Tower


Air panas seringkali didinginkan untuk kebutuhan tertentu seperti
pendingin ruangan, proses manufaktur, pembangkitan listrik. Cooling
tower adalah sebuah alat yang digunakan untuk menurunkan temperatur
dari aliran air dengan mengekstrak kalor dari air dan melepaskannya ke
atmosfer. Cooling tower memanfaatkan prinsip evaporasi di mana
sebagian dari air akan dievaporasikan ke aliran udara yang bergerak dan
kemudian dilepaskan ke atmosfer. Akibatnya, sisa dari air tersebut
didinginkan secara signifikan. Cooling tower dapat menurunkan
temperatur lebih dari alat yang hanya menggunakan air untuk melepaskan
kalor seperti radiator pada mobil, maka nilai efisiensi energinya akan lebih
besar

Gambar 3.2 Diagram Skematik Cooling Water System


sumber: Electrical Energy Equipment: Cooling Towers

22

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Komponen-komponen dari cooling tower adalah:

Frame dan Casing

Fill. Fill memfasilitiasi transfer kalor dengan memaksimalkan kontak air


dengan udara.

Cold-water basin. Cold-water basin terletak didekat dasar dari tower, dan
menerima air dingin yang mengalir ke bawah melewati tower dan
fill.Basin tersebut biasanya memiliki titik rendah untuk koneksi pelepasan
air dingin. Pada beberapa desain tower, cold water basin berada di bawah
fill. Pada beberapa desain cold-water discharge, air pada dasar fill
terhubung dengan batasan yang berfungsi sebagai cold-water basin. Kipas
propeller dipasang di bawah fill untuk meniup udara ke atas melewati
tower.Dengan desain ini, tower dipasang pada legs, yang menghasilkan
akses mudah bagi kipas dan motornya.

Drift eliminators menangkap tetesan air yang terjebak pada aliran udara.

Air Inlet. Titik masuk udara memasuki tower. Inlet dapat berada pada
bagian samping tower (cross-flow design) atau berada pada sisi bawah atau
dasar dari tower (counter-flow design)

Louvers. Pada umumnya, cross-flow tower memiliki inlet louvers. Tujuan


adanya louvers adalah untuk menyamakan aliran udara menuju fill dan
menahan air yang berada pada tower. Beberapa counter flow tower tidak
memerlukan louvers.

Nozzles. Memancarkan air untuk membasahi fill. Distribusi air yang


uniform pada bagian atas fill penting untuk mendapatkan pembasahan
yang sesuai pada seluruh permukaan fill.

Fans(kipas). Baik axial (propeller type) dan centrifugal fans digunakan


pada tower. Pada umumnya, propeller fans digunakan dalam induced draft
tower dan baik proppeler dan centrifugal ditemukan pada forced draft
tower.

23

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Tipe-tipe cooling tower:

Natural draft cooling tower.


Natural draft atau hyperbolic cooling tower membuat perbedaan suhu
antara udara ambient dan udara yang panas yang berada di dalam
tower.Dengan bergeraknya udara panas ke arah atas melewati tower ,
udara yang lebih dingin dialirkan menuju tower melewati inlet air pada
bagian bawah. Karena layout dari tower, maka tidak diperlukan adanya fan
dan hampir tidak ada sirkulasi udara panas yang mempengaruhi performa.
Semen digunakan sebagai shell tower dengan ketinggian menuju 200 m.
Cooling tower sebagian besar digunakan pada kerja pertukaran kalor yang
besar karena struktur semen yang besar membutuhkan biaya tinggi.
Terdapat dua tipe natural draft tower, Cross flow tower, di mana udara
mengalir bersilangan dengan air dan fill berada di luar tower.Counter flow
tower, udara mengalir paralel dengan air dan fill berada di dalam tower.

Gambar 3.3. Cross Flow Natural Draft Cooling tower(kiri), Counter Flow
Natural Draft Cooling(kanan)
sumber: Electrical Energy Equipment: Cooling Towers

Mechanical draft cooling tower


Mechanical draft tower memiliki kipas yang besar untuk memberi tekanan
pada udara melewati sirkulasi air. Air mengalir ke bawah melewati
permukaan fill, yang membantu dalam meningkatkan waktu kontal antara
air dan udara, hal ini meningkatkan transfer kalor antara keduanya.
Mechanical draft tersedia pada kapasitas range yang besar. Tower dapat
24

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

dibangun oleh pabrik atau dibangun pada lapangan. Banyak tower yang
dibangun sehingga dapat dikelompokkan bersama untuk memperoleh
kapasitas yang diinginkan. Maka, banyal cooling tower yang dirangkai
dari dua atau lebih individual cooling tower atau cells.
Ketiga tipe dari mechanical draft tower dirangkum pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Tipe Mechanical Draft Tower
sumber: Electrical Energy Equipment: Cooling Towers

Tipe Cooling tower

Keuntungan

Forced draft cooling tower

(Gambar 3.3): udara dialirkan


melewati tower dengan fan
yang berada pada air inlet

Induced draft cross flow

cooling tower. (Gambar 3.4):


Air masuk dari bagian atas
dan melewati fill
Udara masuk pada satu sisi
(single-flow tower) atau sisi
berlawanannya(double-flow
tower)
Induced draft fan menarik
udara melewati fill menuju
keluaran pada bagian atas
tower.
Induced draft counter flow
cooling tower (Gambar 3.5):
Air panas masuk melalui
bagian atas
Udara masuk dari bawah dan
keluar pada bagian atas
Menggunakan forced dan
induced draft fans

Cocok pada kondisi


udara resistansi
tinggi karena
centrifugal blower
fans
Fan cenderung
tidak berisik
Lebih sedikit

jumlah
recirculation
dibandingkan
forced draft towers
karena kecepatan
udara keluar 3-4
kali lebih besar dari
masukan udara.

Kerugian
Recirculation karena
tingginya kecepatan udara
masuk dan rendahnya
kecepatan udara keluar, yang
dapat diperbaiki dengan
menempatkan tower pada
ruang plant dikombinasikan
dengan discharge duct.
Mekanisme fan dan motor
drive memerlukan weatherproofing terhadap kele
mbapan dan korosi karena
dilewati aliran keluar udara
yang lembab.

25

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 3.4. Forced Draft Cooling tower


sumber: Electrical Energy Equipment: Cooling Towers

Gambar 3.5. Induced Draft Counter Flow Cooling Tower


sumber: Electrical Energy Equipment: Cooling Towers

Gambar 3.6. Induced Draft Cross Flow Cooling Tower


sumber: Electrical Energy Equipment: Cooling Towers
26

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

3.2.

Sistem Kontrol
Untuk menjaga

kondisi

sistem

agar

tetap

pada

kondisi

yang

diinginkan,sebuah sistem kontrol perlu dipasang. Sistem kontrol berfungsi untuk


memantau jalannya proses, sekaligus melakukan tindakan koreksi agar kondisi
sistem kembali ke keadaan yang diinginkan sesegera mungkin. Berdasarkan
subyek pengendalinya, sistem kontrol dibagi ke dalam dua jenis, yakni sistem
kontrol manual dan otomatis. Keduanya secara umum memiliki alur kerja yang
direpresentasikan oleh diagram berikut:

Gambar 3.7. Loop Sistem Kontrol


(Sumber : Ilham, Rhinocho F (Teknik Fisika ITB), Laporan Kerja Praktik 2013)

Pada diagram sistem kontrol tersebut terdapat tiga komponen utama yang
mengendalikan kondisi plant, yakni Sensor & Transmitter, Controller, dan
Aktuator. Ketiga komponen utama tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
3.2.1. Sensor, Transmitter, Indicator
Secara garis besar, ketiga komponen ini berfungsi untuk
mendeteksi kondisi proses, mengubahnya ke sinyal yang lebih mudah
untuk ditransmisikan jarak jauh, kemudian juga menampilkan kondisi
terdeteksi ke besaran yang dapat dipahami oleh manusia. Lebih umum,
gabungan dari ketiga komponen ini dikenal sebagai alat ukur. Dalam skala
Industri, variable yang biasa dijadikan sebagai objek pengukuran adalah
Level (Ketinggian cairan), Pressure (Tekanan), Temperatur, dan Flow
(Laju aliran). Keempat variable ini memiliki alat ukur masing-masing.
Setiap alat ukur pun memiliki jenis yang bermacam-macam dengan
27

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam laporan ini, penjelasan


difokuskan pada alat ukur yang berkaitan langsung dengan pengontrolan
ketinggian cairan pada HPS saja yakni alat ukur level. Berikut dipaparkan
jenis alat ukur level:
3.2.2. Alat Ukur Level
Pemilihan metoda pengukuran level yang sesuai aplikasi, biasanya lebih
sulit dibanding dengan keempat proses variabel utama kecuali flow. Seperti pada
pengukuran flow, kondisi dari media yang diukur kadang-kadang mempunyai
banyak efek yang kurang baik pada alat ukur, sehingga data kondisi operasi harus
diketahui lebih banyak didalam pemilihan alat ukur level.
Kondisi operasi yang harus diketahui adalah :
Level range
Fluid characteristic
- Temperature
- Pressure
- Specific gravity
- Apakah fluida bersih atau kotor, mengandung vapors atau solids, dll.
Efek korosif.
- Apakah fluida mempunyai kecenderungan efek coat atau menempel
pada dinding vessel atau measuring device.
- Apakah fluida tersebut turbulen di sekitar area pengukuran.
Secara normal tidak ada kesulitan berarti didalam mengukur level fluida
bersih dan nonviscous, namun untuk material slurry atau material dengan
viscous yang berat dan solid, bagaimanapun banyak menimbulkan masalah.
Beberapa jenis metode pengukuran level atau tinggi permukaan untuk fluida yang
sering digunakan di industri proses, dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Displacement
2. Differential pressure
3. Capacitance
4. Ultrasonic
28

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

5. Radar
6. Radiation
3.2.3. Controller
Controller merupakan salah satu bagian yang sangat penting ketika
berbicara

tentang

sistem

kontrol.

Controller

adalah

otak

yang

mengendalikan respon terhadap setiap besaran output proses yang


terdeteksi. Pada sistem kontrol manual yang berlaku sebagai controller
adalah manusia, sedangkan pada sistem kontrol otomatis, controller yang
bekerja berupa alat. Dengan kata lain, controller otomatis mempermudah
dan (dalam situasi tertentu) menggantikan fungsi manusia sebagai
pengendali jalannya proses pada plant (sistem). Lebih jelasnya
berdasarkan Gambar 3.7, Fungsi utama controller adalah:
Menerima besaran input berdasarkan nilai yang terdeteksi oleh sensor,
dengan sebelumnya nilai tersebut oleh transmitter diubah ke besaran
sinyal yang dapat dimengerti oleh controller.
Mengolahnya

berdasarkan

mode

kontrol

tertentu

dengan

membandingkannya dengan nilai Set Point (nilai yang diinginkan),


Mentransmisikan sinyal balik ke aktuator berupa sinyal respon agar
aktuator segera melakukan tindakan koreksi yang diperlukan untuk
mengembalikan besaran proses ke kondisi Set Point. Seperti yang sudah
disebutkan sebelumnya,
Controller memiliki beberapa macam mode kontrol yang umum
digunakan,

diantaranya:

(Proportional-Integral),

control
PD

on/off,

(Proportional)

(Proportional-Derivative),

(Proportional-Integral-Derivative).

Dalam

pengendalian,

dan

PI
PID

controller

merespon terhadap setiap besaran terukur setiap waktunya. Oleh karena


itu, waktu dan besarnya respon yang diberikan oleh controller menentukan
efektivitas sistem pengontrolan itu sendiri. Dalam hal ini dikenal beberapa
besaran lain yang disebut sebagai parameter. Misalnya Settling Time, Time
Delay, dll. Mode kontrol yang digunakan secara langsung berpengaruh ke
29

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

parameter-parameter ini.
Gambar 3.7 menunjukkan suatu sistem kontrol yang dikenal sebagai
salah satu jenis loop tertutup. Diagram ini umum digunakan untuk
menjelaskan kerja sistem kontrol secara general. Namun demikian,
sebetulnya terdapat berbagai macam variasi konfigurasi loop kontrol yang
di industry, diantaranya adalah feedback control, feedforward control,
cascade control, ratio control, split range control, dan override control.
Kontrol yang digunakan untuk kontrol level pada basin dan cooling tower
adalah feedback kontrol.:

Feedback Control
Seperti

yang

tercantum

dalam

Gambar

3.1, Feedback

controlmerupakan suatu sistem pengontrolan yang respon dari controllernya

tergantung

pada

output

proses.

Tipe

sistem

kontrol

ini

mengukur process variable pada output proses. Setiap terjadi perubahan


pengukuran pada output proses akibat adanya efek dari disturbances
(load) dari

input

proses , maka

sistem

kontrol feedback bereaksi

memberikan corrective action untuk menghilangkan kesalahan (error).


Jadi

sistem control

feedback akan

bereaksi

setelah

efek

dari disturbances dirasakan pada output proses (act post facto).

Controller PID
Controller PID atau Proportional-integrative-derivative controller
adalah sistem mekanisme kontrol feedback yang sering digunkan pada
sistem kontrol industri. Controller PID menghitung nilai error sebagai
perbedaan nilai antara nilai yang terukur dengan set point yang diinginkan.
Controller tersebut meminimalkan errpr dengan mengatur input process
control. Untuk performa yang terbaiknya, parameter PID yang digunakan
harus ditala (tuning) sesuai dengan sifat natural sistem tersebut.
Perhitungan controller PID meliputi tiga parameter yang terpisah dan
terkadang disebut three-term control: nilai proportional, integral, dan
derivative, dinotasikan P,I,D. Nilai proportional menentukan reaksi
30

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

terhadap eror yang ada, nilai integral mennetukan reaksi berdasarkan


jumlah dari keseluruhan eror,dan nilai derivative menentukan reaksi
berdasarkan laju perubahan eror.Penjumlahan berbobot dari ketiga aksi ini
digunakan untuk mengatur proses melalui control element seperti posisi
pada control valve atau power supply pada elemen pemanas. Nilai-nilai
tersebut dapat diinterpretasikan dalam istilah waktu.P bergantung pada
eror saat itu, I pada akumulasi eror yang telah terjadi sebelumnya, dan D
terhadap prediksi dari eror yang akan datang berdasarkan laju
perubahanna. Dengan melakukan tuning terhadap ketiga konstanta
tersebut, controller mampu menghasilkan aksi koontrol yang didesain
pada sistem tertentu. Respon dari controller dapat dijabarkan dalam istilah
responsiveness daripada controller terhadap eror, derajat di mana
controller overshoot setpoint dan derajat osilasi sistem. Penggunaan
algoritma PID pada kontrol tidak menjamin kontrol optimel daripada pada
sistem atau stabilitas sistem.

Gambar 3.8. Diagram Blok Controller PID


Sumber: Kumar,Analysis of Fuzzy PID and Immune PID Controller for Three Tank Liquid Level Control. Thesis

Apabila suatu sinyal kontrol u(t) dikirim ke sistem, y(t) adalah output yang
terukur dan r(t) adalah output yang diinginkan, dan error e(t)=r(t)-y(t), di mana
controller PID memiliki bentuk umum.

31

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Dinamika kalang tertutup (closed loop) yang diinginkan dapat diperoleh


dengan mengatur ketiga parameter Kp, Ki, dan Kd (penalaan) dan tanpa
pengetahuan yang spesifik dari model plant.Kestablian dapat dicapai
dengan hanya penggunaan proportional. Integral membuat adanya
penolakan daripada disturbance, derivative digunakan untuk menghasilkan
damping atau shaping dari respon. Controller PID adalah sistem kontrol
yang paling sering digunakan, akan tetapi tidak dapat digunakan pada
kasus yang rumit khususnya sistem MIMO (Multiple Input Multiple
Output)
Melakukan trnasformasi Laplace pada persamaan controller PID

Dengan fungsi transfer kontrol PID

Proportional
Proportional

(gaim)

membuat

perubahan

pada

output

yang

proportional terhadap nilai error saat itu. Respon proportional dapat


diatur

dengan

mengalikan

error

dengan

konstanta

Kp,

disebut

proportional gain.

Pout

: Output Proportional

Kp

: Gain proportional, parameter tuning

:Error = SP-PV

: Waktu
32

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Integral
Kontribusi daripada integral terkadang disebut reset, proportional
terhadap magnitude dari error dan durasi dari error. Penjumlahan dari eror
dalam kurun waktu menghasilkan offset ang terakumulasi yang seharusnya
dibenarkan sebelumnya.Akumulasi error tersebut kemudian dikalikan
dengan gain integral dan ditambahkan kepada output controller.Magnitude
dari kontribusi integral terhadap aksi kontrol keseluruhan ditentukan
dengan gain integral, Ki.

Iout

: Output Integral

Ki

: Gain Integral, parameter tuning

: Error = SP-PV

: Waktu

: variabel integrasi
Ketika integral ditambahkan dengan proportional,maka pergerakan

dari proses menuju setpoint akan semakin cepat dan residual steady-state
error yang terjadi pada controller yang hanya menggunakan proportional,
tereleminasi
3.2.4. Control Valve
Didalam sistem pengendalian suatu proses industri, salah satu
elemen

sistem

kontrol

yang

sangat

penting

adalah final control

element (control valve). Pentingnya menggunakan ukuran control valve


yang benar harus merupakan penekanan didalam desain suatu sistem kontrol
agar tujuan pengendalian suatu proses dapat terpenuhi. Ukuran control valve
yang terlalu kecil tidak akan bisa melaksanakan tugas, dan harus diganti
dengan yang lebih besar. Ukuran yang terlampau besar akan menyedot
33

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

biaya awal lebih besar serta biaya pemeliharaan yang cukup besar. Dilihat
dari segi operasinya valve yang over size akan memberikan fungsi control
yang tidak baik dan dapat menyebabkan ketidak stabilan sistem. Suatu
controller yang mahal, sensitif dan akurat akan menjadi tidak berarti jika
control valve tidak dapat mengoreksi aliran secara benar untuk menjaga titik
control
Tabel 3.2 Perbandingan Parameter PID

Gambar 3.9 Flow Characteristic Control Valve


Sumber : Operation Manual Star Energy Geothermal Wayang Windu Unit 2

Flow Characteristic dari control valve adalah relasi antara flow rate
yang melewati valve dengan pergerakan valve (0-100%).Tujuan dari
34

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

karakterisasi control valve adalah untuk menghasilkan kestabilan dari


uniform control loop. Untuk menentukan flow characteristic, diperlukan
adana kecocokan antara sistem ang ada dengan dinamika control loop.
Control Valve Linier dapat dituliskan dalam bentuk fungsi transfer orde
satu.
Gambar di atas mengilustrasikan kurva flow characteristic. Quick
opening flow characteristic menghasilkan perubahan maksimum pada flow
rate, di mana pada bukaan valve yang kecil tampak sedikit linier. Adana
tambahan bukaan pada valve memberikan perubahan flow rate menjadi kecil
secara signifikan dan ketika valve mendekati posisi wide open, perubahan
flow rate mencapai nol. Pada control valve , quick opening valve digunakan
pada on-off service.;namun juga cocok untuk beberapa aplikasi lainnya .
Kurva Linear flow characteristic menunjukkan bahwa flow rate
secara

langsung

proportional

proportional

tersebut

terhadap

menghasilkan

bukaan

karakteristik

valve.
dengan

Hubungan
gradien

(kemiringan) konstan sehingga dengan pressure drop yang konstan, valve


gain akan sama pada flow berapapun (Valve gain adalah rasio antara
perubahan flow rate terhadap perubahan posisi valve. Gain adalah fungsi
dari valve size and configuration, system operating condition dan valve plug
characteristic). Linear valve biasa digunakan pada liquid level control dan
pada beberapa aplikasi flow control yang memerlukan konstanta gain.
Pada equal percentge flow characteristic,semakin besar bukaan valve
menghasilkan perubahan equal percentage pada flow. Perubaha pada flow
tersebut selalu proportional terhadap flow rate sebelum adana perubahan
pada valve.Ketika plug, disc, atau ball dari valve dekat dengan posisi seat
na, maka flow akan kecil, dan perubahan pada flow rate akan sedikit juga.
Dengan flow yang besar, perubahan pada flow rate akan besar juga. Valve
dengan equal percentage flow characteristic biasanya digunakan pada
aplikasi kontrol tekanan.

35

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

BAB 4. SISTEM PENDINGIN AIR STAR ENERGY


GEOTHERMAL WAYANG WINDU Ltd. UNIT 2

4.1.

Diagram Heat Balance dan Human Machine Interface Sistem


Pendingin Air Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd. Unit 2
Terlampir

4.2.

Proses Sistem Pendingin Air


Direct contact condenser bertipe spray jet. Circulating water mengalir

melewati distribusi nozzle di mana kontak langsung antara exhaust steam dengan
circulating water.. Ketika steam dikondensasikan, campuran antara kondensat dan
circulating water terkumpul di dasar condenser hotwell utama dan disirkulasikan
kembali ke cooling tower dengan hotwell pump P-205A/B. Non-condensable
gases yang tidak diabsorb ke dalam kondensat, diekstrak dari kondenser dengan
non-condensable gas removal system untuk mempertahankan tekanan 0.12 bara.
Vacuum pada kondisi desain.
Main condenser digunakan untuk mengondensasikan steam ketika
meninggalkan turbin. Selain mengondensasi steam dari turbin, main condenser
memiliki fungsi sekunder yakni sebagai titik terkumpulnya aliran kondensat:
1. Gland steam pressure steam trap drain
2. Turbine steam system drain
3. Gas removal system inter/after condenser drains.
Circulating water system melepaskan kalor dari main condenser ke
atmosphere dengan adanya delapana cell cooling tower ber tipe counterflow.
Circulating cooling water system berawal pada basin cooling tower. Basin cooling
tower juga menyuplai air ke auxilary water pumps untuk Gas removal system,
Cooling water System, dan Fire Protection System. Level basin dipertahankan
dengan disediakannya Water Supply System di mana blowdownnya akan dialirkan
langsung menuju reinjection system. Keluaran blowdown tersebut berubah-ubah
bergantung pada kondisi ambien dan output dari plant.
36

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Circulating water yang sudah ddiinginkan mengalir akibat adanya gaya


gravitasi dan perbedaan tekanan melalui spray jet pada kondenser. Pada bagian
dasar cooling tower terdapat dua buah layar tersusun seri yang bertujuan untuk
proteksi distrubusi spray jet nozzle condenser, hotwell pumps, dan fire pumps
dari zat pengotor. Layar tersebut dilengkapi dengan sistem pembersihan nirkabel
dengan cleaning pump dan kamera bawah air.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, 2 buah 50% hotwell pumps
digunakan untuk mengalirkan circulating cooling water melewati counter flow
cooling tower. Kedua pompa tersebut mengalirkan air hingga bertemu pada satu
jalur pipa dan didistribusikan menuju cooling tower delapan sel. jalur suplai
dilengkapi dengan ultrasonic flow meter pada bagian tersbuka dekat dengan
tower. Siphon breaker diinstal untuk dapat mematikan aliran air ke kondenser
secara cepat apabila kedua HWP mati atau level daripada kondenser sangat tinggi,
dan dua 48-inch buterfly valve juga disediakan pada jalur distribusi kondenser.
Aliran circulating water diukur dan direkam secara kontinu pada DCS dengan
elemen flowmeter A2-FE-1001, temperature element A2-TE1001 dan pH meter
A2-AT-1000.
Cooling water dialirkan dari kondenser utama menuju 316L stainless steel
distributin header dan terbagi dua arah menuju dua pompa penghisap dengan
motorized isolation valves. Setiap pompa dilengkapi dengan dua control valve, di
mana yang satunya digunakan untuk flow minimum dan dialirkan kembali menuju
main condenser melewati orifice. Jalur dari pompa menjadi fiberglass dan
mengalir ke header distribusi cooling tower.
Pada

bagian

downstream

dari

stainless/fiberglass

material

split.,

temperatur dari circulating water keluaran kondenser diukur dan direkam dengan
temperature element A2-TE-1050 dan secara kontinu dimonitor pada DCS.
Tekanan dan temperatur kondenser juga dimonitor dan direkam pada DCS dengan
pressure transmitter A2-PT-1010 dan temperature element A2-TE-1010.
Fan cooling tower (FN-209-FN216) mengangkat udara dari dasar tower
dan melepaskan udara melalui fan stacks. Setiap fan digerakkan dengan sebuah
37

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

enclosed speed reduction gear pada bagian tengah fan dan sebuah motor listrik.
Selain melakukan fungsi utamanya, cooling tower juga berfungsi sebagai
titik distribusi untuk 11500 kg/h dari NCG dari gas removal system. NCG secara
efektif terlarut dari konsentrasi awalnya dengan exhaust cooling tower. Gas
tersebut didistribusikan menuju tiap cell cooling tower dengan pipa FRP dan
kemudian terbagi menjadi 8 pipa.Apabila dilakukan online maintenance pada satu
atau lebih cell cooling tower,aliran NCG dialirkan kembali menuju stack lainnya
dengan menutup inlet valve riser pipe. .
Chemical dosing system digunakan untuk menetralkan pH dari circulating
water. Sistem tersebut terdiri dari tangki concentrated NaOH, tangki pengenceran
NaOH, dan transfer/injection pump.20% Sodium hydoxide (NaOH) diencerkan
dari 48% NaOH secara otomatis dan diinjeksi pada saat discharge Hotwell pump
dengan chemical dosing pump. Juga memungkinkan bila NaOH diinjeksi secara
langsung menuju cooling tower basin dan pada aliran condensate re-injection.
4.3.

Sistem Kontrol pada Condenser dan Cooling Tower


4.3.1. Condenser
Circulating water dikontrol dengan control valve 2-CCV 003A,B
dan mempertahankan nilai level dari hotwell condenser. Selain daripada
control valve tersebut, on/off recirculation valves (2-CCV-004A,B) dengan
orifice digunakan saat operasi.
Tidak ada penyalaan secara otomatis untuk hotwell circulating
water pumps. Pompa tersebut

secara individu dijalankan manual dari

DCS. Setiap hotwell pump interlock dengan motor operated control valve.
2-CCV-002A,B.Setiap valve akan tertutup secara otomatis ketika pompa
berhenti (trip), atau secara manual ditutup. Condenser low level alarm
dapat terindikasi pada DCS melalui level switches A1-LSLL-1020.
Apabila nilai level pada condenser mencapai L, maka alarm peringatan
akan berbunyi dan bila mencapai LL, maka kedua Hotwell Pump akan trip
yang kemudian turbin juga akan ikut trip. Sedangkan, jika ketinggian
condenser mencapai H, alarm peringatan akan berbunyi dan bila

38

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

mencapai HH, siphon breaker, vacuum breaker akan terbuka. Hal ini akan
membuat turbin trip.
Indikator level condenser:
L

: -150 mm

LL

: -950 mm

: 150 mm

HH

: 1100 mm

4.3.2. Cooling Tower


Level air pada cooling tower diatur dan dipertahankan nilainya
dengan blowdown system yang terhubung dengan SAGS reinjection
system. Blowdown tersebut mengambil keluaran dari hotwell pump dengan
flow yang dikontrol oleh control valve A2-CCV-007 dengan flowmeter dan
bypass. Fan cooling tower secara individu dinyalakan manual melalui
DCS. Fan akan secara otomatis trip (berhenti) ketika tingkat vibrasi
menjadi terlalu tinggi. Vibration high alarm dan very high alarm akan
ditampilkan pada DCS. pH circulating water dimonitori dengan pH meter
A2-AT-1000 dan jumlah NaOH yang dipompakan disesuasikan secara
manual Apabila nilai ketinggian air pada basin cooling tower turun
mencapai indicator LL (-480 mm), maka kedua Auxilary Cooling Water
Pump akan trip.





39

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

BAB 5. PEMODELAN SISTEM KONTROL LEVEL HOTWELL


CONDENSER SISTEM PENDINGIN AIR STAR ENERGY
GEOTHERMAL Ltd. UNIT 2

5.1.

Desain Sistem Kontrol


5.1.1. Diagram Blok
Gambar 5.1 ditunjukkan diagram blok suatu sistem kontrol
negative feedback secara umum. Pada sistem kontrol level condenser, alat
yang berperan sebagai actuator adalah control valve yang berfungsi untuk
mengalirkan flow kondensat. Set point adalah nilai referens yang
digunakan di mana pada sistem kontrol level condenser adalah 0.

Control
valve

Level
Condenser

Gambar 5.1 Diagram Blok Sistem Kontrol Level Hotwell Condenser Negative Feedback
Sumber : Ilham, Rhinocho F. Laporan Kerja Praktik

5.1.2. Fungsi Transfer Sistem Kontrol


Asumsi yang digunakan untuk memperoleh fungsi transfer adalah:
Proses pada saat berjalan normal.
Tidak ada Disturbance (gesekkan pada pipa atau tangki
condenser).
Kondensat mengalir melalui dua buah control valve identik.

40

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Fungsi transfer setiap komponen diperoleh dengan menggunakan


data-data proses sebagai berikut:










Gambar 5.2 Kondisi Proses pada Condenser
(sumber: As Built Drawing Star Energy Geothermal Wayang Windu Unit 2)

1.

Sistem : Level Hotwell Condenser

Gambar 5.3 Ilustrasi Proses Kontrol Level


(Sumber : http://eleceng.dit.ie/gavin/Control/Modeling/Filling%20a%20Tank.html)

41

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Penurunan Persamaan Fungsi Transfer


Flow in Flow Out = Accumulation
!

!!

Qin-Qout = ! = !"
Qout =

!.!.!
!

; R adalah hambatan pada aliran pipa(Ns/m5)


Qin-

!.!.!
!

!!

= !"

!.! !!

!.! !!

+ = Qin.!.!

Qin.!.! = !.! . !"


.

!.! !"

Persamaan di atas dapat ditulis menjadi

!!!
!"

+ ! = . !

sehingga didapat fungsi transfer untuk level condenser:


!

=
! + 1
! =
!
! = ( )

.
=
.
=

Dengan menggunakan data kondisi proses pada Gambar 5.2, fungsi


transfer untuk Sistem Level Hotwell Condenser menjadi:
!
0.374
=
! 7.5 + 1

42

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

2. Aktuator : Control Valve (Equal Percentage, Butterfly)


Gambar 5.3 menunjukkan flow characteristic dari control valve yang
digunakan untuk mengalirkan kondensat, Dari gambar tersebut
maka dapat didapatkan fungsi transfer untuk control valve adalah
Fungsi waktu control valve tipe equal percentage, butterfly
f(t)cv= -1+e-Kvt
Fungsi transfer control valve tipe equal percentage, butterfly
!"#$#

F(s)= !! !!"#$# !
!

F(s)= !! !!!


Gambar 5.4 Flow Characteristic Control Valve Equal Percentage


(Sumber : Operation Manual Star Energy Geothermal Wayang windu Unit 2)

3. Controller : PID Controller


Dalam mengatur bukaan control valve digunakan PID Controller
yang ditentukan dengan melakukan simulasi pada Simulink
perangkat lunak Matlab.

43

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

4.

Transmitter, Sensor
Transmitter dan sensor dianggap memiliki fungsi transfer
dengan gain sama dengan satu dan tidak memiliki time delay.
Hal ini dilakukan agar nilai yang terbaca pada alat ukur sama
dengan nilai yang disampaikan menuju controller.

5.1.3. Simulasi
Simulasi dilakukan menggunakan fitur Simulink pada perangkat
lunak Matlab.Pada bagian controller menggunakan dua variasi, di mana
sistem dengan controller PI dan sistem dengan PID controller.

Gambar 5.5 Diagram Blok Simulink dengan PI Controller

Gambar 5.6 Diagram Blok Simulink dengan PID Controller

44

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

Gambar 5.7 Respon Sistem Hasil Simulasi (kiri: PI Controller, kanan: PID Controller)

Tabel 5.1 Perbandingan Respon Sistem Hasil Simulasi


PI

PID

Rise Time

7.26 seconds

5.43 seconds

Settling Time

61.5 seconds

19.5 seconds

Overshoot

33.8%

9.42%

Peak

1.34

1.09


5.2.

Analisis
Simulasi dilakukan dengan mencari tahu terlebih dahulu fungsi dari tiap

komponen penyusun sistem kontrol. Fungsi transfer sistem atau level hotwell
condenser dihitung dengan melihat nilai-nilai kondisi proses. Control valve
yang digunakan pada sistem level hotwell condenser, bertipe equal
percentage, butterfly. Tipe ini dipilih karena secara keseluruhan sistem
bersifat eksponensial (1-exp), karenanya untuk menjadikan sistem tersebut
45

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

linier agar dapat dilakukan estimasi nilai yang mudah, control valve yang
digunakn bersifat eksponensial juga, sehingga secara langsung dapat
melinierkan sistem. Hasil fungsi transfer pada control valve diperoleh dengan
menggunakan flow characteristic control valve tersebut. Fungsi transfer
untuk transmitter dan sensor dianggap memiliki nilai penguat sama dengan
satu dan tidak ada time delay. Hal ini dilakukan agar nilai yang terbaca pada
sensor akan sama nilainya walaupun telah ditransmisikan dengan
transmitter menuju controller.
Fungsi transfer untuk semua komponen telah diketahui, sehingga
dapat disimpulkan bahwa sistem secara keseluruhan adalah sistem berorde
tiga. Hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kendali sistem orde tiga
adalah mengatur nilai time constant, , overshoot, settling time, dan rise time.
Keempat parameter tersebut dapat berbeda nilainya untuk controller dengan
tipe yang berbeda juga. Pada Tabel 5.1 terlihat perbandingan nilai keempat
parameter tersebut antara sistem yang menggunakan PI dan PID Controller.
Dapat dilihat bahwa rise time dan settling time respon sistem dengan PID
Controller lebih cepat dibanding dengan PI Controller. Selain itu, nilai
overshoot dan peak respon sistem dengan PID Controller lebih kecil dibanding
sistem dengan PI Controller.
Sekilas dapat disimpulkan bahwa sistem dengan PID Controller
menunjjukan hasil yang lebih baik dibandingkan sistem dengan PI Controller.
Akan tetapi terdapat beberapa alasan mengapa industri-industri pada
umumnya,termasuk Star Energy Geothermal Wayang Windu, menggunakan
PI Controller. PID Controller memiliki kelebihan dalam memprediksi
kesalahan yang akan muncul di kemudian waktu berdasarkan error yang
telah terjadi sebelumnya, sehingga settiling time akan lebih cepat tercapai.
Nilai derivative juga menekan overshoot sehingga tidak terlalu besar. Untuk
sistem yang stabil, controller PID akan sangat baik untuk digunakan. Namun
untuk controller yang baik juga dibutuhkan waktu desain yang tidak
sebentar. Penalaan nilai parameter PID Controller akan membutuhkan
46

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

waktu yang lebih lama dibandingkan dengan menggunakan PI Controller.


Sistem pendingin air pada PLTP Star Energy Geothermal Wayang Windu
bukan sistem yang stabil. Masukkan dan keluaran condenser berubah-ubah
nilainya bergantung pada ke- vacuum an daripada condenser itu sendiri.
Kevacuuman condenser juga dipengaruhi oleh seberapa besar efisiensi
cooling tower di mana proses tersebut bergantung pada suhu udara sekitar.
SIstem yang selalu berubah ini menunjukkan bahwa sistem tersebut tidak
stabil, sehingga tidak cocok apabila menggunakan PID Controller.

47

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

BAB 6. KESIMPULAN

6.1.

Kesimpulan
Proses pendinginan air pada Star Energy Geothermal Wayang Windu
Ltd. berlangsung saat steam memasuki condensor yang dikondensasi
dengan air dingin yang berasal dari cooling tower.l Hasil condensasi
dialirakan menuju cooling tower dan SAGS dengan hotwell pump. Air
panas tersebut didinginkan dengan cooling tower 8 sel yang kemudian
dialirkan menuju condenser.

Level hotwell pada condenser harus dijaga agar tidak mencapai 1100
mm dan -950 mm. Apabila level kondensat mencapai 1100 mm siphon
dan vacuum breaker akan terbuka dan kemudian turbin akan
trip.Apabila level kondensat turun sampai -950 mm maka HWP akan
trip. Basin cooling tower juga dijaga agar tidak turun menccapai -480
mm , di mana bila terjadi ACWP akan trip.

Pengontrol yang digunakan untuk mengontrol level hotwell pada


condenser adalah PI

Controller yang bertujuan mencegah

pengontrolan tidak sesuai akibat sistem tidak stabil.



6.2.

Saran
Pentingnya pengendalian nilai level kondensat pada condenser

menunjukkan bahwa penalaan parameter PID sebaiknya dilakukan untuk


menghindari trip dan mencapi performa sistem yang optimal. Penalaan
dapat dilakukan baik dengan mengubah nilai parameter PID atau dengan
melakukan penalaan proses.





48

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Cooling Towers. Electrical Energy Equipment : Cooling Towers


Anonim.

http://www.epa.state.oh.us/portals/27/engineer/eguides/condense.pdf,

diakses pada tanggal 15 Juli 2014


As Built Drawing Star Energy Geothermal Wayang Windu Unit 2
Ilham, Rhinocho F. Troubleshooting and Calibration for Differential Pressure
Transmitter. Laporan Kerja Praktik di Citic Seram Energy Limited,Pulau
Seram
Operation Manual for Power Station Unit 2
Refino, Andam D. Studi Sistem Kontrol Level pada High Pressure Separator C-08-A. Laporan Kerja Praktik di PT PERTAMINA RU-V, Balikpapan
Tiwari, Sharad Kumar.Analysis of Fuzzy PID and Immune PID Controller for
Three Tank Liquid Level Control. Tesis Master di Thapar University, India

49

Laporan Kerja Praktik


Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd.

LAMPIRAN

A. WW2-MP-CC-0040-3 ( P & I Diagram Main Cooling Water System )


B. Heat Balance Diagram Mandala Nusantara Limited Wayang Windu
Geothermal Project (Unit 2, Base Design Condition)
C. Form Penilaian Kerja Praktik Mahasiswa
D. Form Kehadiran Kerja Praktik Mahasiswa

50