Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

INVESTIGASI PENGADAAN BARANG DAN JASA


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Forensic Accounting and Fraud
Examination
yang Dibina oleh Ibu Nurlita Novianti, MSA., Ak.

Disusun oleh:
Vega Silvia Nur Rahmah
Arwilla Faurillie A.O
Muhammad Naufal

(135020300111001)
(135020300111008)
(135020300111015)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
Mei 2016
INVESTIGASI PENGADAAN
PENGADAAN PUBLIK SUMBER UTAMA KEBOCORAN NEGARA
Pengadaan merupakan salah satu sumber korupsi terbesar dalam sektor
keuangan publik. Setiap tahun BPK dan BPKP melaporkan kasus pengadaan yang
mengandung unsur tindak pidana korupsi. Tidak banyak yang masuk ke
persidangan pengadilan.
Secara luas, sistem pengadaan publik Indonesia diyakini merupakan sumber
utama bagi kebocoran anggaran yang memungkinkan korupsi dan kolusi yang

memberikan sumbangan besar terhadap kemerosotan pelayanan jasa bagi rakyat


miskin di Indonesia. Besarnya pengadaan pengadaan mengesankan skala potensial
masalah tersebut. Berdasarkan tingkat-tingkat pengeluaran publik pada masa
prakrisis, suatu kajian Bank Dunia memperkirakan bahwa Pemerintah dan BUMNBUMN mengadakan sekitar USD 10 miliar setahun secara bersama-sama. Sekarang,
dengan pengeluaran pembangunan berjumlah sekitar USD 7 miliar, tingkat-tingkat
pengadaan barangkali lebih rendah.
Namun, suatu sistem pengadaan efektif harus dipusatkan pada upaya untuk
memastikan bahwa dana publik dibelanjakan dengan baik guna meningkatkan
efektivitas pembangunan. Apabila suatu sistem pengadaan bergungsi dengan baik,
dipastikan pembelian barang akan bersaing dan efektif. Supaya berfungsi efektif,
suatu rezim pengadaan perlu mencakup ciri-ciri berikut:
1. Kerangka hukum yang jelas, komprehensif, dan transparan yang antara lain
mewajibkan pemasangan iklan yang luas tentang kesempatan-kesempatan
penawaran, pengungkapan sebelumnya tentang kriteria untuk mendapatkan
kontrak, pemberian kontrak yang didasarkan atas kriteria yang objektif bagi
penawar yang dinilai paling rendah, pemaparan publik bagi penawaranpenawaran itu, ases terhadap mekanisme peninjauan untuk keluhan
penawar, pengngkapan publik dari hasil-hasil proses pengadaan dan
pemeliharaan catatan lengkap tentang seluruh proses tersebut.
2. Kejelasan tentang tanggung jawab-tanggung jawab dan akuntabilitas
fungsional termasuk penunjukan tanggung jawab yang jelas atas pengelolaan
proses pengadaan, memastikan bahwa aturan-aturan ditaati dan
mengenakan sanksi-sanksi jika aturan-aturan itu dilanggar.
3. Suatu organisasi yang bertanggung jawab untuk kebijakan pengadaan dan
pengawasan penerapan tepat dari kebijakan tersebut.
4. Suatu mekanisme penegakan. Tanpa penegakan, kejelasan aturan, dan fungsi
tidak ada artinya.
5. Staff pengadaan yang terlatih baik, kunci untuk memastikan sistem
pengadaan yang sehat.
SISTEM PENGADAAN INDONESIA TIDAK BERFUNGSI
Kajian pengadaan nasional bank dunia untuk Indonesia menyimpulkan bahwa
sistem pengadaan tidak berfungsi dengan baik, Ia tidak dipacu oleh pasar, rentat
terhadap penyalahgunaan dan penyelewengan, dan menurunkan nilai yang dibayar
dari dana-dana publik. Selain itu majalah mingguan Tempo juga mengungkapkan
pengaturan-pengaturan kolusif, dalam bentuk lingkaran penawar yang terorganisasi
rapi, yang menimbulkan kerugian-kerugian substansial bagi bendahara Pemerintah.
Aturan-aturan kolusif ini terjadi dengan keterlibatan aktif pejabat-pejabat
pemerintah. Kolusi tersebut merupakan bagian dari proses pengadaan,
menggunakan teknik-teknik seperti spesifikasi-spesifikasi yang membatasi,
pemilahan paket kontrak, prosedur penawaran tidak bersaing, pemasangan iklan
secara terbatas, masa pengajuan penawaran yang dipersingkat, dan pelanggaran
kerahasiaan selama proses pengadaan.

MENGAPA KERANGKA AKUNTABILITAS UNTUK PENGADAAN GAGAL


Kerangka akuntabilitas untuk pengadaan publik di Indonesia cacat dalam
beberapa hal disebabkan antaralain:
1. Kerangka Hukum Cacat
Para eksekutif dari legislatif pemerintah telah gagal menyediakan
kerangka hukum efektif untuk pengadaan publik. Tidak ada undang-undang
pengadaan nasional selain undang-undang konstruksi (UU No.18/1999).
Keputusan Presiden yang mengatur pengadaan diluar konstruksi Keppres No
18/2000)-walaupun merupakan perbaikan besar dibanding kebijakankebijakan sebelumnya-tetap membatasi persaingan dengan menuntut
persaingan adil antara perusahaan-perusahaan yang setara. Hal ini
memungkinkan peluang dalam interpretasi tentang perusahaan-perusahaan
yang setara. Peraturan pelaksanaannya juga mencoba mementingkan usaha
kecil dan menengah lokal untuk kontrak-kontrak dibawah nilai tertentu, yang
melanggar prinsip satu negeri, satu pasar dan menghilangkan manfaatmanfaat bagi pemerintah dari persaingan nasional.
2. Pemerintah tidak terorganisasi untuk menangani pengadaan
Pemerintah tidak mengorganisasikan dirinya untuk pengadaan publik.
pemerintah tidak mempunyai badan yang jelas harus bertanggung jawab
untuk kebijakan dan pematuhan pengadaan publik. Karena badan tersebut
tidak ada, Bappenas dan Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah
berbagi tanggung jawab tersebut, tetapi mereka tidak memilik mandat untuk
menyandang tanggung jawab formal atas kebijakan pengadaan dan
pengawasannya.
3. Insentif-insentif terdistorsi
Akibat pamong praja yang dikelola dengan buruk dan peradilan yang
lemah, kerangka insentif melenceng jauh sehingga tidak ada imbalan untuk
efisiensi dan kejujuran dan tidak ada hukuman untuk korupsi. Baik pimpro
maupun anggota panitia lelang menghadapi insentif-insentif kuat untuk
berpartisipasi dalam korupsi dan kolusi.
a. Bagian mereka dari hasil lingkaran kolusif yang mendominiasi pengadaan
publik mungkin sekali relatif sangat tinggi terhadap gaji dan tunjangan
mereka.
b. Tidak adanya mekanisme keluhan yang tepat serta tidak adanya sanksi
administratif atau hukum apapun karena terlibat dalam kolusi membantu
mengabadikan sistem tersebut.
c. Anggota-anggota panitia lelang tidak mempunyai pelatihan untuk
melakukan tugas mereka dengan baik. Akibatnya, tinjauan penawaran
berfokus pada persyaratan administratif ketimbang pada persyaratan
teknis.
d. Tidak ada jenjang karier jelas pimpro dan spesialis pengadaan.
e. Pemerintah gagal memberikan sumber daya-sumber daya kepada panitia
lelang untuk melakukan tugasnya dengan baik. Anggaran-anggaran untuk
iklan, mengetik dan mencetak dokumen-dokumen penawaran nyaris tidak

memadai atau tidak ada dan tidak dipungut biaya untuk membayar biaya
penyusunan dan pencetakan dokumen penawaran.
f. Tidak ada aturan dan undang-undang jelas yang memperkecil
kebijaksanaan memudahkan kolusi
4. Pengadaan dilakukan di Balik pintu Tertutup
Pengungkapan
publik
terbatas
terhadap
proses
pengadaan
memperkuat insentif-insentif buruk tersebut. Sebagian besar proses tersebut
berlangsung di balik pintu tertutup. Hasil-hasil penawaran berikut
pembenaran yang sesuai dengan pemenangan penawaran tidak diumumkan.
Mengikuti usul Bank Dunia, pemerintah telah menyetujui informasi ini
diumumkan bagi semua proyek Bank Dunia yang baru akan dicermintkan
dalam perjanjian-perjanjian sah dengan Bank Dunia.
5. Pengauditan Lemah
Sebagian besar proses audit-satu-satunya instrumen yang tersedia
untuk menegakkan aturan main dan ketentuan-ketentuan seperti telah
dicatat-tidak efektif. Efektivitas untuk menegakkan praktik-praktik pengadaan
yang baik lebih lanjut disesuaikan oleh auditor Pemerintah yang kurang
mengenal aturan dan prinsip pengadaan. Walaupun sekiranya pengauditan
itu efektif sektor peradilan tidak berfungsi memastikan bahwa mereka yang
menyalahgunakan proses pengadaan tidak akan memikul akibat-akibatnya.
Keengganan untuk menerapkan sanksi-sanksi administratif terhadap pegawai
negeri yang ketahuan berkolusi dengan lingkaran-lingkaran penawar berarti
bahwa secara efektif tidak ada mekanisme penegak.
KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN
Para auditor keuangan negara dan investigator yang mendalami kasus-kasus
pengadaan barang dan jasa perlu mengetahu dan menguasai ketentuan perundangundangan yang berlaku mengenai pengadaan barang dan jasa. Tujuan
dikeluarkannya ketentuan perundangan tentunya sangat jelas. Namun karena
banyaknya penyimpangan yang terjadi, tidak ada salahnya mengutip kembali
konsideransi dalam keppres 80/2003: Agar pengadaan barang/jasa pemerintah
yang dibiayai dengan Anggara Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah sehat, transparan, terbuka dan perlakuan yang adil
bagi semua pihak, sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi
fisik, keuangan maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas Pemerintah dan
Pelayanan Masyarakat.
Dalam proses pelaksanaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya yang
memerlukan penyedia barang/jasa dibedakan menjadi empat cara berikut.
1. Pelelangan umum
2. Pelelangan terbatas
3. Pemilihan langsung
4. Penunjukan langsung
Dua istilah yang muncul berulang-ulang dalam proses pelelangan umum:
prakualifikasi dan pascakualifikasi. Prakualifikasi adalah proses penilaian

kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya


dari penyedia barang/jasa sebelum memasukkan penawaran.
Pascakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta
pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia barang/jasa setelah
memasukkan penawaran.
Secara umum proses prakualifikasi meliputi pengumuman prakualifikasi,
pengambilan dokumen prakualifikasi, pemasukan dokumen prakualifikasi, evaluasi
dokumen prakualifikasi, penetapan calon peserta pengadaan yang lulus
prakualifikasi, dan pengumuman hasil prakualifikasi.
Secara umum proses pasca-prakualifikasi meluputi pemasukan dokumen
kualifikasi bersamaan dengan dokumen penararan dan terhadap peserta yang
diusulkan untuk menjadi pemenang serta cadangan pemenang dievaluasi dokumen
kualifikasinya.
Salah satu kewajiban dalam pengadaan barang dan jasa adalah penyusunan
Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Pengguna barang/jasa wajib memiliki HPS yang
dihitung dengan pengetahuan dan keahlian mengenai barang/jasa yang
ditenderkan dan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Berikut
data yang digunakan sebagai dasar penyusunan HPS.
a. Harga pasar setempat menjelang dilaksanakannya pengadaan
b. Informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh badan pusat
statistik,
asosiasi
terkait,
dan
sumber
data
lain
yang
dapat
dipertanggungjawabkan.
c. Daftar biaya/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh agen tunggal/pabrikan
d. Biaya kontrak sebelumnya yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan
faktor perubahan biaya apabila terjadi perubahan biaya.
e. Daftar biaya standar yang dikeluarkan oleh instansi yang berwaenang.
Pelanggaran terhadap ketentuan pengadaan barang dan jasa ini bisa berupa
sanksi admnistratif, tuntutan ganti rugi atau gugatan perdata dan pemrosesan
secara pidana. Berikut ini perbuatan atau tindakan penyedia barang/jasa yang
dapat dikenakan sanksi:
1. Berusaha mempengaruhi panitia pengadaan/pejabat yang berwenang dalam
bentuk dan cara apapun, baik langsung maupun tidak langsung guna
memenuhi keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur
yang ditetapkan dalam dokumen pengadaan/kontrak, dan/atau ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Melakukan persekongkolan dengan penyedia barang/jasa lain untuk
emngatur harga penawaran diluar prosedur pelaksana pengadaan
barang/jasa sehingga mengurangi/menghambat/memperkecil dan/atau
meniadakan persaingan yang sehat dan/atau merugikan pihak lain.
3. Membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang
tidak benar untuk memenuhi persyaratan pengadaan barang/jasa yang
ditentukan dalam dokumen pengadaan.

4. Mengundurkan
diri
dengan
berbagai
alasan
yang
tidak
dapat
dipertanggungjawabkan dan/atau tidak dapat diterima oleh panitia
pengadaan.
5. Tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan kontrak secara
bertanggung jawab.
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2012
Peraturan ini memuat tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Jika mengacu pada sistem pengadaan
yang baik, setidaknya dalam Peraturan Presiden (PP) ini telah mengatur tanggung
jawab yang jelas dalam setiap kegiatan pengadaan tanah. Dalam pengadaan tanah
terdapat 4 tahapan, yaitu perencanaan, persiapan, pelakasanaan, dan penyerahan
hasil.
a) Perencanaan
Dalam tahapan ini diperlukannya pembuatan rencana Pengadaan
Tanah yang dibuat oleh instansi yang memerlukan tanah bagi Pembangunan
untuk Kepentingan Umum. Pembuatan dokumen tersebut didasarkan pada,
Rencana tata ruang wilayah dan Prioritas pembangunan
Rencana Pengadaan Tanah disusun dalam bentuk dokumen
perencanaan Pengadaan Tanah yang memuat :
maksud dan tujuan rencana pembangunan
kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Prioritas
Pembangunan
letak tanah
luas tanah yang dibutuhkan
gambaran umum status tanah
perkiraan jangka waktu pelaksanaan Pengadaan Tanah
perkiraan jangka waktu pelaksanaan pembangunan
perkiraan nilai tanah
rencana penganggaran
Dalam dokumen ini juga dicantumkan hasil studi kelayakan yang dilakukan
pada tanah yang hendak dilakukan pembangunan.
b) Persiapan
Setelah dokumen perencanaan lengkap, gubernur menerima dokumen
tersebut yang kemudian membentuk tim persiapan yang beranggotakan
Bupati/Walikota wilayah terkait, satuan kerja perangkat daerah, dan instansi
terkait. Tugas dari tim persiapan ialah:
1. melaksanakan pemberitahuan rencana pembangunan
2. melakukan pendataan awal lokasi rencana pembangunan
3. melaksanakan Konsultasi Publik rencana pembangunan
4. menyiapkan Penetapan Lokasi pembangunan
5. mengumumkan Pen etapan Lokasi pembangunan untuk
kepentingan umum

6. melaksanakan tugas lain yang terkait persiapan Pengadaan


Tanah bagi pembangunan untuk Kepentingan Umum yang
ditugaskan oleh gubernur.
c) Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional dimana
Pelaksanaan Pengadaan Tanah dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah BPN
selaku Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah. Adapun agenda dari tim pelaksana
adalah:
Penyiapan pelaksanaan
Inventarisasi dan identifikasi
Penetapan nilai
Musyawarah penetapan bentuk ganti kerugian
Pemberian ganti kerugian
d) Penyerahan Hasil
Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah menyerahkan hasil Pengadaan
Tanah kepada lnstansi yang memerlukan tanah disertai data Pengadaan
Tanah. Penyerahan hasil Pengadaan Tanah berupa bidang tanah dan
dokumen Pengadaan Tanah. Penyerahan hasil Pengadaan Tanah dilakukan
dengan berita acara untuk selanjutnya dipergunakan oleh lnstansi yang
memerlukan tanah untuk pendaftaran. lnstansi yang memerlukan tanah
dapat mulai melaksanakan pembangunan setelah dilakukan penyerahan
hasil Pengadaan Tanah oleh Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah
BPN merupakan badan yang melakukan melakukan pemantauan dan
evaluasi terhadap penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan
hasil Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Adapun Pendanaan Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/ atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah. Alokasi dana untuk penyelenggaraan
Pengadaan Tanah terdiri dari biaya Ganti Kerugian, biaya operasional, dan
biaya pendukung untuk kegiatan perencanaan, persiapan, pelaksanaan,
penyerahan hasil, administrasi dan pengelolaan, dan sosialisasi.
PEDOMAN DAN PETUNJUK
Pemerintah menerbitkan banyak pedoman dan petunjuk mengenai
pengadaan barang dan jasa, baik berupa Keputusan Presiden dan Peraturan
Presiden maupun berupa petunjuk/pamflet dan pelatihan oleh Bappenas. Pedoman
dan petunjuk ini dimaksudkan untuk mengamankan proses pengadaan barnag dan
jasa di sektor publik. banyak praktik dalam pedoman dan petunjuk ini yang dapat
dimanfaatkan oleh sektor swasta.
INVESTIGASI PENGADAAN
Cara-cara investigasi yang dijelaskan di bawah, diterapkan dalam pengadaan
yang menggunakan sistem tender atau penawaran secara terbuka. Dalam sistem
ini, lazimnya ada tiga tahapan besar berikut:

A. Tahap Pratender
Dalam tahap pertama ini, umumnya terjadi kegiatan berikut:
a. Pemahaman mengenai kebutuhan perusahaan atau lembaga akan
barang atau jasa yang akan dibeli
b. Pengumuman mengenai niat perusahaan atau lembaga itu untuk
membuat kontrak pengadaan barang atua jasa
c. Penyusunan spesifikasi
d. Penentuan mengenai kriteria pemenang
Ada dua skema fraud dalam tahap ini, pertama dalam penentuan
kebutuhan, kedua dalam penentuan spek.
Dalam penentuan kebutuhan, sering terjadi persekongkolan antara
pejabat atau pegawai dari lembaga yang membeli dengan supplier. Supplier
memberikanuang suap kepada pejabat atau pegawai dari lembaga yang
membeli sebagai ucapan terima kasihnya karena pejabat atau pegawai itu
berhasil menentukan kebutuhan akan barang dan jasa yang akan dipasok.
Dalam rancangan fraud yang kedua, yang menjadi sasaran adalah
speknya. Gejala-gejala berikut patut diwaspadai.
1. Kontrak dibuat secara ceroboh, melemahkan kedudukan pembeli
dan/atau menguatkan kedudukan penyuplai. Berdasarkan kontrak yang
buruk ini, penyuplai terus membuat klaim yang tidak dapat ditolak oleh
pembeli. Penolakan klaim oleh pembeli mengakibatkan denda atau
hukuman lainnya. Pejabat atau pegawai bagian pembelian yang
menerima uang suap taid berada dalam posisi benturan kepentingan;
hal ini membuatnya tidak berdaya menghadapi tekanan penyuplai.
2. Speknya yang ngambang memudahkan penyuplai mengirimkan
barang atau jasa dengan harga yang lebih mahal. Karena itu, ketika
terjadi persekongkolan dan penyuapan, spek sengaja dibuat tidak jelas.
3. Spek dibuat dengan pengertian bahwa ia akan diubah. Spek
sementara membuat pesaing lain sulit memenuhi persyaratan.
Pemenang tender tahu bahwa spek diubah setelah ia ditunjuk sehingga
ia lebih leluasa memenuhinya.
Berikut ini tanda-tanda (red flags) yang perlu dikenali auditor:
a. Orang dalam memberikan informasi atau nasiha yang menguntungkan
satu kontraktor.
b. Pembeli menggunakan jasa konsultasi, masukan, atau spek yang
dibuat oleh kontraktor yang dinggulkan. Hal ini juga sering dijumpai
dalam pengadaan jasa-jasa konsultasi dimana konsultan yang
diunggulkan akan membuat Terms of Reference dan detail lainnya dari
dokumen tender.
c. Pembeli memperbolehkan konsultan yang ikut dalam penentuan dan
pengembangkan spek, menjadi subkontraktor atau konsultasi dalam
proyek itu.
d. Biaya dipecah-pecah dan disebar ke bermacam akun atau perincian
sehinng lolos dari pengamatan atau review.

e. Pejabat sengaja membuat spek yang tidak konsisten dengan spek


sebelumnya untuk pengadaan serupa. Alasannya bisa bermacammacam, misalnya kita terdesak waktu atau ini sellers market.
B. Tahap Penawaran dan Negosiasi
Skema fraud dalam tahap ini umumnya berupa persekongkolan antar
apembeli dan kontraktor yang diunggulkan dan kontraktor pendamping
atau pemantas yang meramaikan proses penawaran. Di permukaan, proses
tender kelihatannya sah karena peserta tender cukup banyak atau bahkan
melimpah.
Beberapa skema fraud pada saat tahap penawaran dan negosiasi:
a. Permainan yang berkenaan dengan pemasukan dokumen penawaran. Ada
banyak bentuk dari permainan atau skema fraud ini, misalnya membuka
dokumen penawaran lebih awal, menerima dokumen penawaran
meskipun sudah melewati batas waktu, mengubah dokumen penawaran
secara tidak sah (setelah berhasil mengintip dokumen saingan),
mengatur harga penawran, memalsukan berita acara dan dokumen proses
tender lainnya.
b. Permainan yang berkenaan dengan manipulasi dalam proses persaingan
terbuka. Permainan ini dalam bahasa Inggris disebut bid-rigging schemes
atau contract-rigging fraud. Ini dilakukan dengan persekongkolan di antar
apembeli dan sebagian peserta tender. Beberapa contoh permainan di
atas jug amasuk kategori ini.
c. Tender arisan (bid rotation). Persekongkolan ini dilakukan untuk
menentukan pemenang kontraktor sebelum dokumen penawaran dibuka.
d. Menghalang-halangi
penyamapain
dokumen
penawaran.
Bentuk
permainan ini pun beraneka ragam. Seorang atau beberapa peserta
tender tiba-tiba (dengan atau tanpa alasan) mengundurkan diri. Peserta
tender ditolak karena menggunakan formulir yang salah atau lupa
merekatkan materai. Beberapa peserta mengatur persyaratan tambahan,
seperti izin dari asosiasi pengusaha sejenis atau putra daerah, dan lainlain. Yang tidak jarang terjadi, pengusaha daftar hitam justru
mengendalikan asosiasi pengusaha sejenis. Asosiasi semacam ini tidak
lain dari penikmat rantai ekonomi.
e. Menyampaikan dokumen penawaran pura-pura (complementary bids)
yang berisi harga yang relatif lebih tinggi atau persyaratan yang sudah
pasti akan mengalahkannya. Penyampaian complementary bids memang
dimaksudkan untuk meramaikan bursa agar tender tersebut kelihatan
sahih.
f. Memasukkan dokumen penawaran hantu (phantom bids). Perusahaan
menciptakan
banyak
perusahaan
lain
yang
bohong-bohongan.
Perusahaan-perusahaan bodong ini bergentayangan dalam arena tender.
Yang terjadi adalah mereka terkait kepada seorang pemilik yang sama.
Tanda-tanda yang cepat dikenali adalah: alamat dan nomor telepon sama,

akta notaris (akta pendirian) dibuat pada hari yang sama di notaris yang
sama dengan nomor urut yang terautr. Pada hari pembukaan dokumen
penawaran, ke-10 perusahaan bodong ini diwajili satu orang; ia juga
menandatangani berita acara dan atas nama ke-10 perusahaan bodong.
g. Permainan harga. Kontraktor sengaja memainkan harga. Sesudah terpilih
dalam proses negosiasi, ia menafsirkan kembali data harganya. Ini
berakhir dengan harga yang leibh mahal dari kontraktor yang
dikalahkannya. Bentuk lain adalah penggantian subkontraktor atau
konsultan yang lebih rendah mutu atau kualifikasinya, atau tidak
mengungkapkan nilai dari barang-barang proyek (laptop, mesin fotokopi,
dan lain-lain) sesudah proyek berakhir.
C. Tahap Pelaksanaan dan Penyelesaian Administratif
Tahap ini meliputi kegiatan-kegiatan berikut.
a. Perubahan dalam order pembelian
b. Review yang tepat waktu atas bagian pekerjaan yang sudah selesai
dikerjakan dan untuk bagian mana kontraktor berhak menerima
pembayaran.
Ada dua rancangan fraud atau bentuk permainan dalam tahap ini, yaitu
substitusi atau penggantian produk dan kekeliruan dalam perhitungan
pembebanan.
Untuk menaikkan keuntungan, kontraktor mengganti barang atau
produk atau bahan baku/pembungkus yang dipasoknya. Substitusi produk ini
bermacam-macam bentuknya:
1. Pengiriman barang yang mutunya lebih rendah
2. Pengiriman bahan yang belum diuji
3. Pemalsuan hasil pengujian
4. Pengiriman barang palsu
5. Pemalsuan sertifikasi, misalnya sertifikasi mengenai keaslian barang,
mutu atau persyaratan lain
6. Pembuatan sample yang khusus untuk pengujian dan memang lulus
pengujian tetapi sebagian besar produk yang dikirimkan tidak sebaik
sampel ini.
7. Pemindahan tags yang bertanda sudah diperiksa dari barang yang
sudah diperiksa ke barang-barang yang belum diperiksa.
8. Penggantian dengan barang-barang yang kelihatannya (rupanya)
sama.
Untuk mendeteksi permainan di atas, auditor harus melakukan:
1. Pengecekan secara rutin dan kunjungan mendadak
2. Me-review laporan inspeksi atau laporan laboratorium pengujian secara
cermat
3. Uji produk di laboratorium independen
4. Review dokumen dan bandingkan dengan produk atau jasa yang
diterima untuk memastikan adanya kepatuhan

5. Penilaian atas barang dan jasa yang diserahkan untuk memastikan


bahwa ketentuan yang disepakati telah dipenuhi, termasuk didalamnya
pengendalian mutu.
Bentuk permainan kedua, kekeliruan dalam pembebanan bisa berupa
kekeliruan perhitungan (misalnya ada biaya yang boleh dan tidak boleh
dibebankan ke proyek), kekeliruan dalam pembebanan biaya material atau
tenaga kerja. Contoh yang paling sederhana adalah dalam kontrak
penggunaan tenaga konsultan yang pembebanannya meliputi jumlah waktu
(man-hours, man-days, man-month, dan seterusnya) dikalikan tarif per
satuan waktu. Yang bisa dimainkan adalah jumlahw aktunya, tarif yang
seharusnya dan hasil perkalian.

DIAGRAM
Uraian mengenai skema fraud diatas disarikan dalam Diagram dibawah ini.
Dari diagram ini,terlihat pembayaran uang suap dilakukan sesudah kontraktor
menerima pembayaran kontrak. Ini dikenal sebagai kickback

Komputer sebagai alat Bantu


Teknologi komputasi membantu auditor dalam mendeteksi fraud dalam
pengadaan barang. Program komputer dapat khusus dibuat (atau sudah tersedia,
seperti ACL) untuk mengidentifikasi:
1. Penyuplai dengan alamat P.O. BOX.
2. Penyuplai dengan alamat yang sama dengan alamat pegawai
3. Kontrak yang gagal dalam proses tender, tetapi sekarang menjadi
subkontraktor
4. Pembayaran-pembayaran kepada penyuplai tertentu selama suatu jangka
waktu (untuk mendeteksi kemungkinan pembayaran yang berulang-ulang atau
pembayaran ganda).
5. Pembayaran kepada penyuplai yang tidak melalui sistem yang ada.

6. Pegawai atau konsultan yang dalam hari yang sama menangani beberapa
proyek atau proyek yang bukan untuk pembeli.
Komputer hanyalah alat bantu. Beberapa penyelewengan di bidang pengadaan
yang dibiayai Bank Dunia terungkap dengan bantuan spread sheet yang
sederhana.

Contoh Kasus
Dugaan Mark-Up Pengadaan Mesin Jahit JITU pada proyek SAPORDI tahun
2004 di Kementrian Sosial
Pada tahun 2004, pemerintah mengeluarkan program pengentasan
kemiskinan senilai Rp 51 miliar yaitu Program Penanganan Fakir Miskin melalui
Motorisasi Sarana Penunjang Produksi (SAPORDI) Industri Rumah Tangga Bidang
Konveksi. Dalam program tersebut Departemen Sosial bekerja sama dengan PT
Ladang Sutera Indonesia (Lasindo) melakukan pengadaan mesin jahit.
Lokasi pabrik perakitan tersebut akan dibangun di Jawa Barat dengan
kapasitas produksi tahunan sekitar 10.000 unit. Pabrik tersebut merupakan pabrik
mesin jahit pertama di Indonesia. Pabrik mesin jahit pertama Lasindo Group ada di
Shanghai, China, berkapasitas 30.000. Tujuan pabrik Lasindo didirikan di Indonesia
bersama Kementrian Koperasi dan UKM serta Departemen Perindustrian adalah
untuk meremajakan mesin-mesin jahit sebanyak 42.000 unit di sektor garmen

dalam negeri, di antaranya untuk industri celana jeans di Comal dan batik di
Pekalongan.
2000 2004. Penanggulangan kemiskinan merupakan salah satu prioritas program
kerja Departemen Sosial dalam kurun waktu 2000-2004 (Kabinet Megawati). Dan
salah satunya adalah proyek pengadaan mesin jahit dalam Program Penanganan
Fakir Miskin melalui Motorisasi Sarana Penunjang Produksi (SAPORDI) Industri
Rumah Tangga Bidang Konveksi.
Anggaran Belanja Tambahan (ABT) Tahun Anggaran 2004 yang telah disiapkan
untuk program ini adalah :

Biaya yang termasuk dalam anggaran tersebut adalah biaya royalti pada pemegang
merek, pajak, biaya transportasi, bongkar-muat, pembuatan boks dan dinamo, serta
biaya pelatihan.
Dalam perjanjian adapun ruang lingkup kerjasama mencakup 5 hal, yakni:
a. pengadaan mesin jahit;
b. pelatihan;
c. pendampingan;
d. kepastian order;
e. pemasaran.
Maret 2004 Program Penanganan Fakir Miskin melalui Motorisasi Sarana
Penunjang Produksi (SAPORDI) Industri Rumah Tangga Bidang Konveksi dimulai. Hal
ini ditandai dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman Departemen Sosial RI
dengan PT Ladang Sutera Indonesia (PT Lasindo) yang bertindak selaku pemberi
order dan pemasaran secara kontinyu pada 29 Maret 2004.
Nota Kesepahaman itu dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama antara Depsos
RI dengan PT Lasindo dengan Nomor: 21/HUK/2004 dan Nomor: 03/LSD/III/2004
yang ditandatangani langsung oleh Bachtiar Chamsyah selaku Menteri Sosial
dengan Musfar Aziz selaku Direktur Utama PT Lasindo (Ladang Sutra Indonesia).
Menurut Keppres No. 80 tahun 2003, pengadaan barang dan jasa diatas Rp
50 juta harus ditenderkan kecuali ada keadaan tertentu atau keadaan khusus
sehingga bisa dilakukan penunjukan langsung. Atas petunjuk dari Amrun Daulay
karena pekerjaan atau barang yang dibeli adalah spesifik dan yang hanya
dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa, pabrikan, pemegang hak paten atau
pekerjaan yang komplek yang hanya dapat dilaksanakan dengan menggunakan
teknologi khusus dan atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu
mengaplikasikannya maka ditunjuknya lah PT Lasindo secara langsung sebagai
distributor utama.

Khusus untuk pengadaan mesin jahit, dipilih mesin jahit merk JITU BRAND
LSD 9990 dan JITU BRAND LSD 9990H beserta motornya sebanyak 6.000 buah yang
diimport langsung dari Shanggong IMP.& EXP.CO, Ltd, Shanghai, China selaku
produsen mesin jahit dengan harga Rp Rp 3.248.500 per buah dengan anggaran
seperti yang telah dijelaskan di atas.
31 Mei 2004 Harga kontrak antara PT LASINDO dengan Shanggong hanya Rp
6.795.000.000. Jumlah ini merupakan hasil perkalian antara total pembelian dalam
US$ 755,000 dengan nilai kurs rupiah (asumsi USD 1 = Rp 9.000) yang berlaku
pada saat kontrak berlangsung.
24 November 2004 Mengingat program ini adalah program sosial, maka Sekretaris
Jendral Departemen Sosial RI mengirimkan surat No. 504/SJ/JS/XI/2004 kepada
Departemen
Keuangan
untuk
mendapatkan
kemudahan
dalam
proses
mendatangkan (impor) mesin jahit tersebut. Kemudahan itu dalam bentuk
pemberian pembebasan bea masuk dan pajak pertambahan nilai atas import 6.000
mesin jahit dan dinamo motor oleh Depsos sebagaimana dituangkan dalam
Keputusan Menteri Keuangan RI No. 41/KMK.010/2005. Dimana seharusnya sesuai
dengan peraturan, bea masuk untuk jenis mesin jahit rumah tangga adalah 10%
dan PPN adalah 10%.

Proses Ditemukannya kejanggalan


2006 Bermulai dari Audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Departemen Sosial
hingga semester II Tahun Anggaran 2005 menemukan 70 kasus pengelolaan
anggaran tidak efisien senilai Rp 287,89 miliar. BPK telah menindaklanjuti 63 kasus
senilai Rp 189,28 miliar, dari situ ditindaklanjuti beberapa kasus penyelewengan
harga, termasuk program pengadaan mesin jahit.
21 Januari 2010 Mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengaku siap diperiksa
KPK.
08 Februari 2010 Bachtiar Chamsyah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi.
Selama kepemimpinan KPK di bawah Antasari Azhar, dua kasus ini sempat
dikesampingkan. Ketika itu di Departemen Sosial ada Sigid Haryo Wibisono, mantan
anggota staf ahli Menteri Sosial. Sigid memang kenal dekat dengan Antasari.
Kasus Departemen Sosial ini sebenarnya tak hanya ditangani KPK, tapi juga
sempat ditangani Kejaksaan Agung. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus

Marwan Effendy membenarkan kasus itu pernah diusut di Jaksa Agung Muda
Intelijen. Tapi kasusnya tak pernah naik ke pidana khusus. Kasusnya dihentikan
begitu KPK menangani.
Indikasi Permasalahan
Atas berbagai kajian dan analisa terhadap proses pengadaan mesin jahit
merk JITU yang dilakukan oleh PT Lasindo, telah ditemukan beberapa kejanggalan
yang mengarah pada tindak pidana korupsi (TPK), yaitu:
1. Indikasi Penggelembungan Harga
Departemen Sosial RI telah menyepakati harga per buah dari mesin jahit
merk JITU adalah Rp 3.248.500, yang berarti jika Depsos mengadakan mesin jahit
sejumlah 5.500 unit, dana ABT TA. 2004 yang telah dialokasikan adalah sejumlah
Rp 17.866.750.000.
Namun kemudian diketahui bahwa harga pabrik yang dibeli oleh PT Lasindo
sebagai importir (sekaligus rekanan proyek SAPORDI) Depsos RI kepada produsen
JITU, yakni Shanggong IMP.&EXP.CO,Ltd, di Shanghai, China adalah sebagai berikut
(per unit):
Harga asli mesin jahit merek 6.000.000
JUKI
Dirakit di Indonesia harga
menjadi
Diimpor dalam bentuk pecahan
Kerugian per unit mesin jahit

3.248.500
1.235.455
2.031.045

Jumlah pengadaan mesin jahit 5.500


(unit)
Nilai dugaan kerugian negara
11.071.750.000
Dari perhitungan secara makro diatas, dapat disimpulkan bahwa diduga
telah terjadi penggelembungan harga atas pengadaan mesin jahit sejumlah 5.500
unit dalam proyek SAPORDI Depsos RI senilai Rp 11.071.750.000.
Seharusnya harga aktual yang digunakan PT Lasindo pun bisa lebih murah
mengingat Departemen Keuangan RI telah mengeluarkan Keputusan Menteri
Keuangan No. 41/KMK.010/2005 tentang Pemberian Pembebasan Bea Masuk dan
PPN atas Import 5.500 buah mesin jahit dan dynamo motor. Sesuai dengan
peraturan, bea masuk untuk jenis mesin jahit rumah tangga adalah 10% dan PPN
adalah 10%. Dengan demikian, harga mesin jahit setelah dibebaskan dari bea
masuk dan PPN adalah sebagai berikut:

Jumlah Bea Masuk dan PPN


Diimpor dalam bentuk pecahan

1.235.455

Bea masuk 10%


PPN 10%
Harga per unit bebas pajak

123.545
123.545
988.364

Jika dikurangi dengan bea masuk dan PPN yang tidak dibayarkan karena
fasilitas khusus dari negara, harga mesin jahit secara keseluruhan yang diimport
dari Shanghai, China seharusnya hanya Rp 5.436.000.000.
Oleh karena itu, jika nilai penggelembungan dihitung dengan dasar harga
aktual pembelian setelah dikurangi kewajiban bea masuk dan PPN, maka nilai
kerugian negara yang dapat dihitung adalah sebagai berikut:
Mark Up Setelah Dikurangi Bea Masuk dan PPN
Harga asli mesin jahit merek 6.000.000
JUKI
Dirakit di Indonesia harga
menjadi
Harga per unit bebas pajak
Kerugian per unit mesin jahit

3.248.500
988.364
2.260.136

Jumlah pengadaan mesin jahit 5.500


(unit
Nilai dugaan kerugian negara
12,430,750,000
Nilai penggelembungan yang mencapai angka Rp 12.430.750.000 dari
harga aktual yang hanya sekitar Rp 5.436.000.000 merupakan nilai yang cukup
signifikan, yaitu mencapai 228,6% dari harga wajar.
2. Tanpa Tender atau Penunjukan Langsung
Sesuai dengan Perjanjian Kerjasama antara Depsos RI dengan PT Lasindo
Nomor 21/HUK/2004 dan Nomor 03/LSD/III/2004, pada Bab IV tentang Tugas dan
Tanggung Jawab kedua belah pihak, disebutkan dalam pasal 5 ayat f bahwa
tugas dan tanggung jawab pihak pertama (Depsos RI) adalah menunjuk pihak
kedua (PT Lasindo) sebagai pelaksana dalam pengadaan mesin jahit
berkecepatan tinggi dan sekaligus sebagai mitra kerja pelaksanaan program
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam surat klarifikasi yang dilayangkan oleh Indonesian Corruption
Watch (ICW) atas penunjukan langsung tersebut, Depsos RI, Bachtiar Chamsyah
selaku Menteri, mengatakan bahwa penunjukan langsung dilakukan karena
pekerjaan atau barang yang dibeli adalah spesifik, yang hanya dilaksanakan
oleh penyedia barang/jasa, pabrikan, pemegang hak paten atau pekerjaan yang
komplek yang hanya dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknologi
khusus dan atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu
mengaplikasikannya. Hal itu menurut Menteri sudah sesuai dengan Keppres No.
80 Tahun 2003.
Dari alasan yang diberikan oleh pihak Depsos RI, terdapat beberapa hal
yang memiliki dasar argumentasi yg lemah, yaitu:

1. Menurut Depsos penunjukan langsung dibenarkan karena PT Lasindo


adalah pemegang hak merk sesuai dengan sertifikat merek no
D00.2001.18693.18827 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Hak
Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM RI tahun 2002.
Hasil kajian ICW terhadap UU No 15 tahun 2001 tentang merek,
menunjukan tidak adanya hubungan antara proses pengadaan dengan
kepemilikan paten merek JITU oleh PT Lasindo. UU tersebut hanya membatasi
diri pada perlindungan terhadap merek tertentu yang sudah didaftarkan dari
jiplakan/pemalsuan dan tindakan lain yang melanggar hak kekayaan intelektual.
Sehingga argumentasi bahwa PT Lasindo memiliki hak paten merek JITU tidak
menggugurkan kewajiban bagi adanya mekanisme pelelangan umum
sebagaimana diperintahkan oleh Keppres No 80 Tahun 2003.
Bahkan dalam Kepres No 80 Tahun 2003 dinyatakan bahwa jika alasan
Depsos RI melakukan penunjukan langsung adalah dikarenakan PT LASINDO
memiliki hak paten merek ataupun agen tunggal pemegang merek produksi
luar negeri, maka hal tersebut telah melanggar ketentuan dalam Kepres No
80/2003 yang mengatur soal penyusunan dokumen pengadaan/barang/jasa
ayat 7 yang menyebutkan Spesifikasi teknis dan gambar: tidak mengarah
kepada merk/produk tertentu kecuali suku cadang/komponen produk
tertentu.dst. Hal ini berarti Panitia Pengadaan Barang/Jasa proyek SAPORDI
secara sengaja telah mengarahkan proyek pengadaan mesin jahit tersebut pada
merek/produk tertentu.
2. Alasan penunjukan langsung adalah dikarenakan pekerjaan pengadaan
mesin jahit tersebut bersifat kompleks, yang hanya dapat dilaksanakan
dengan menggunakan teknologi khusus. Alasan ini juga memiliki
argumentasi yang cukup lemah mengingat barang yang dibeli adalah
mesin jahit dimana mesin jahit bukan merupakan produk yang dibuat
dengan teknologi khusus, sehingga tidak terdapat pihak lain yang bisa
menyediakannya.
Dalam catatan ICW, paling sedikit terdapat 13 (tiga belas) produsen mesin
jahit berskala internasional yang barangnya dipasarkan di Indonesia. Bahkan,
merek JITU yang menjadi produksi dari PT LASINDO justru tidak terlalu dikenal di
pasar dalam negeri. Berikut merupakan daftar merek mesin jahit internasional
yang beredar di Indonesia: JUKI, SINGER, BROTHER, JANOME, BUTTERFLY, YAMATO,
YAMATA, SUN STAR, ASAHI, PEGASUS, MARIMOTO, KANSAI-SP, dan HASHIMA.
Bila dianalisa dari sisi harga, beragamnya merek mesin jahit yang ada akan
sangat mempengaruhi harga penawaran yang disampaikan. Jika proses
pengadaan mesin jahit oleh Depsos RI dilakukan dengan pelelangan umum, maka
Depsos RI akan memperoleh harga yang lebih murah dan kompetitif, tanpa
mengurangi kualitas barang yang diminta.
Dengan demikian, keputusan untuk melakukan penunjukan langsung atas
pengadaan mesin jahit pada proyek SAPORDI 2004 tidak memiliki dasar yang
kuat. Namun sebaliknya, keputusan untuk melakukan penunjukan langsung

tersebut telah melanggar Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman


Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Adanya pelanggaran terhadap Keppres No 80 Tahun 2003 dan indikasi
kerugian negara yang cukup signifikan dalam proyek SAPORDI 2004 di Depsos RI
telah menguatkan adanya dugaan Tindak Pidana Korupsi (TPK).
Dugaan Pelanggaran Hukum
Pengadaan 5.500 mesin jahit oleh Depsos RI dengan penunjukan langsung
terhadap PT Lasindo memiliki indikasi yang cukup kuat bahwa tindakan tersebut
merupakan tindak pidana korupsi. Sehingga para pelaku dapat dijerat dengan Pasal
2 (1) dan pasal 3 UU Tindak Pidana Korupsi, yaitu untuk orang non
pemerintahan/non PNS yang diduga terlibat korupsi dikenakan dengan pasal 2,
sedangkan, untuk pejabat pemerintah/PNS seperti Menteri Sosial, Dirjen Bantuan
dan Jaminan Sosial, atau panitia pengadaan dikenakan pasal 3 dan bisa berlapis
dengan dijerat pasal 2. Pasal 2 (1) dan pasal 3 UU Tindak Pidana Korupsi berbunyi:
Pasal 2
1. Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling
sedikit Rp 200.000.000 dan paling banyak Rp 1.000.000.000.
2. Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling
sedikit Rp 200.000.000 dan paling banyak Rp 1.000.000.000.
3. Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.
Pasal 3
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana
yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang merugikan keuangan
negara, atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup
atau atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dan atau
denda paling sedikit Rp 50.000.000 dan paling banyak Rp 1.000.000.000.
Berdasarkan kedua pasal tersebut di atas, maka pengadaan mesin jahit dinilai telah
memenuhi unsur-unsur dalam pasal tersebut, yaitu:
Unsur-unsur Pasal 2
1. Unsur setiap orang
Yang dimaksud dengan setiap orang menurut pasal ini adalah orang
perseorangan atau termasuk korporasi yang kepadanya dapat dimintai
pertanggungjawab pidana yang dilakukan. Berdasarkan hal ini, dalam kasus
pengadaan
mesin
jahit,
pihak-pihak
yang
dapat
dimintai
pertanggungjawaban adalah Menteri Bachtiar Chamsyah, Dirjen Bantuan

dan Jaminan Sosial, Direktur Utama PT Lasindo, dan panitia pengadaan


barang.
2. Unsur melawan hukum
Yang dimaksud unsur melawan hukum dalam penjelasan pasal ini
meliputi unsur formal dan materiil. Melawan hukum secara formil adalah
semua perbuatan yang bertentangan dengan unsur perundang-undangan.
Apabila UU telah mencantumkan tegas atau melarang, dan di langgar,
maka unsur formil telah terpenuhi.
Berdasarkan fakta, pengadaan mesin jahit tersebut telah mengabaikan
prinsip-prinsip efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak
diskriminatif, serta akuntabel dan sekaligus melanggar Keppres no 80 tahun 2003.
Pelanggaran ini dibuktikan dari dilakukannya penunjukan langsung. Menurut
Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah, alasan penunjukan langsung dikarenakan
terdapat keadaan khusus. Namun, alasan tersebut tidak sesuai dengan peraturan
yang berlaku.
Menurut Keppres no 80 tahun 2003, pengadaan barang dan jasa diatas Rp
50.000.000 harus dilakukan melalui tender, kecuali jika terdapat keadaan tertentu
atau keadaan khusus sehingga pengadaan dapat dilakukan dengan penunjukan
langsung. Selain itu, dalam pasal 17 ayat 5 disebutkan bahwa dalam keadaan
tertentu dan keadaan khusus, pemilihan penyediaan barang/jasa dapat dilakukan
dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa dengan
cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang
wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.
Keadaan khusus dan keadaan tertentu tersebut ditegaskan dalam lampiran
Keppres No 80 tahun 2003. Dalam Bab I disebutkan mengenai kriteria pengadaan
barang/jasa yang dapat dilakukan dengan penunjukan langsung. Untuk pengadaan
barang dan jasa khusus, kriteria penunjukan langsung antara lain pekerjaan/barang
tersebut merupakan pekerjaan/barang yang spesifik yang hanya dapat
dilaksanakan oleh satu penyedia barang/jasa, pabrikan, atau pemegang hak paten;
dan pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan kompleks yang hanya dapat
dilaksanakan dengan teknologi khusus dan atau hanya ada satu penyedia yang
mampu mengaplikasikannya.
3. Unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
Kata memperkaya berarti terdapat penambahan kekayaan dari yang
telah ada terhadap diri sendiri, orang lain atau korporasi. Dalam kasus
pengadaan mesin jahit tersebut, PT Lasindo merupakan pihak yang sangat
diuntungkan, yaitu dengan keuntungan yang tidak wajar yaitu sekitar
228.6%, yang diduga kuat terjadi praktik mark-up. Adanya keuntungan
yang tidak wajar tersebut telah memperkaya PT Lasindo, sehingga unsur ini
telah terpenuhi.
4. Unsur merugikan keuangan negara.
Pengadaan mesin jahit telah dilakukan dan uang telah dibayarkan
dari kas negara, sehingga unsur merugikan keuangan negara telah

terpenuhi karena negara kehilangan uang yang diperkirakan sekitar Rp


12.430.750.000.
Dengan terpenuhinya unsur-unsur dalam pasal 2 ayat 1 maka pelaku
yang terlibat dapat dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
Unsur-unsur Pasal 3 (terkait dengan pejabat pemerintah/PNS)
Dalam dugaan korupsi pengadaan mesin jahit tersebut, terdapat dugaan
penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena
jabatan atau kedudukan kewenangan, kesempatan, jabatan dan sarana dari pejabat
di Depsos RI, sehingga merugikan keuangan negara.
KPK telah menghitung perkiraan kerugian keuangan Negara, yaitu sebesar Rp
12,43 miliar akibat penggelembungan harga mesin jahit yang cukup signifikan,
yaitu sebesar 228.6%. Pada tahap ini, KPK telah meyakini bahwa akibat
penggelembungan harga pada kasus pengadaan mesin jahit oleh Depsos RI
tersebut telah mengakibatkan kerugian keuangan Negara, namun pembuktian
apakah terdapat unsur tindak pidana korupsi dalam kasus tersebut masih dalam
proses penyidikan oleh pihak KPK.
Analisis
Dalam analisa pohon kerugian keuangan Negara, kasus mark-up pengadaan
mesin jahit oleh Depsos RI termasuk dalam kategori aset, yaitu dalam hal
pengadaan barang, dimana Depsos RI melakukan pembayaran melebihi yang
seharusnya (harga wajar barang) akibat mark-up untuk barang yang spesifikasinya
sudah sesuai dengan dokumen tender dan kuantitasnya sesuai dengan pesanan,
tetapi harganya lebih mahal.
Dalam melakukan penghitungan kerugian keuangan Negara, KPK
menggunakan konsep atau metode yang kedua, yaitu selisih antara harga kontrak
dengan harga pokok pembelian atau harga pokok produksi. KPK membandingkan
antara harga kontrak mesin jahit Rp 3.248.500 per unit dengan harga pokok
pembelian Rp 1.235.455 per unit, yang menimbulkan perbedaan harga sebesar Rp
2.013.045. Perbedaan harga tersebut akan semakin tinggi akibat pembebasan pajak
bea cukai dan PPN yang diberikan oleh Menteri Keuangan saat itu, sehingga harga
pokok pembelian menjadi hanya Rp 988.364 dan menimbulkan perbedaan sebesar
Rp 2.260.136 atau 228.6%.
Berdasarkan pola penghitungan kerugian keuangan Negara, pihak KPK
menggunakan metode harga pokok dalam menentukan besarnya kerugian yang
terjadi, yaitu dinilai dari harga impor barang dalam bentuk pecahan. Namun
terdapat kelemahan dalam penghitungan menggunakan pola harga pokok dimana
harga pokok tidak sama dengan harga jual akibat perbedaan margin keuntungan.
Kontrak Bermasalah
Telepon berdering. Di ujung yang lain seseorang bertanya dengan gugup Apakah
ini Pak Djujur Santosa? Djujur yang menerima telepon, mengiakannya. Penelepon
gelap memberitahu dengan singkat bahwa Djujur perlu berhati-hati karena

kontrak pemasangan dan pengadaan APO (alat pemadam otomatis) oleh PT Marwan
Bersaudara (PTMB), mengandung fraud.
Djujur Santosa, seorang fraud auditor di suatu Lembaga Negara, menelaah
dokumen tender. Peserta tender diminta mengajukan penawaran untuk pengadaan
dan pemasangan APO harus berdayaguna 25 tahun dan untuk suhu 168 0
Fahrenheit. Artinya pada suhu 1650F APO akan menyemprotkan air.
Kontrak dengan PTMB ditandatangai tanggal 3 Januari 2005 senilai Rp 381
miliar. PTMB adalah pemenang tender yang diikuti delapan peserta. Ururan kedua
terendah diajukan oleh PT ONeng dengan nilai Rp 399 miliar.
Ketika membaca brosur-brosur, Djujur mengetahui bahwa pada suhu 165 0F,
APO akan dapat memadamkan api yang masih kecil. Ia juga mengetahui bahwa
gudang di mana APO akan dipasang akan dijadikan gudang arsip backup berkasberkas komputer.
Djujur kemudian mengetahui bahwa spesifikasi kontrak diubah pada tanggal
1 Februari 2005. Seluruh APO-1650F yang terlanjur dipasang, diganti dengan APO2860F. PTMB menaksir biaya pengadaan dan pemasangan APO-286 0F, sebesar Rp
400 miliar. PTMB menulis kepada Lembaga Negara ini bahwa APO-165 0F sudah
terlanjur dipasang. Karena itu seluruh APO-165 0F harus dilepas kembali dan
dibesituakan. Baru sesudah itu APO-2860F dipasang.
Djujur mencurigai perubahan spesifikasi APO dalam waktu yang begitu
singkat. Ia menelepon seorang gurubesar dari Institut Teknologi Bandung untuk
menanyakan spesifikasi tersebut.
Pakar itu membenarkan untuk gudang arsip, sebaiknya APO-286 0F yang
dipasang; ini juga sesuai dengan standar ASEAN. Dengan APO ini, gedung arsip
tidak akan kebanjiran air, ketimbang memakai APO-165 0F. Dengan demikian
kerusakan arsip karena air dari APO tidak terlalu parah.
PTMB merampungkan pemasangan APO tanggal 25 Februari 2005. Berita
acara ini ditandatangai oleh Widodo Sanusi, manajer pengadaan di Lembaga
Negara tersebut. Djujur memutuskan untuk melihat langsung dilapangan.
Secara acak (random) ia memilih 50 APO yang sudah di pasang. Ia
menemuka 30 APO dengan tulisan 286 0F/2004 (2004 menandakan tahun
pembuatan), sedangkan 20 APO lainnya tertulis 165 0F/1985.
Berdasarkan informasi di atas, menurut anda:
1. Apakah sebaiknya Djudjur melanjutkan auditnya, khusus untuk memastikan
apakah ada fraud?
Sebaiknya Djujur melanjutkan auditnya untuk memastikan terjadinya
fraud. Karena dengan melanjutkan mengaudit akan menemukan kecurangankecurangan yang ada.
2. Apakah Djudjur sudah menemukan petunjuk awal adanya fraud?
Djujur menemukan petunjuk awal dengan meneukan pemasangan APO1650F/1985 sebanyak 20, sedangkan PTMB mengatakan akan membongkar
APO-1650F yang terlanjur terpasang dan akan diganti sesuai dengan
spesifikasi permintaan APO yang baru (APO-2860F).
3. Apabila Djudjur sudah menemukan petunjuk awal adanya fraud, apa bentuk
fraudnya?

Djujur menemukan adanya pemasangan APO-165 0F sebanyak 20,


sedangankan spesifikasi yang diminta ialah APO-2860F
4. Sesudah menetapkan bentuk fraud apa saja yang mungkin terjadi, apa yang
anda sarankan harus dilakukan Djudjur untuk membuktikan atau menguatkan
dugaan anda?
a) Melakukan evaluasi kritis atas bukti
Melakukan penyelidikan masalah-masalah yang ada secara
mendalam, dan mendapatkan bukti-bukti tambahan.

DAFTAR PUSTAKA
Tuanakotta, T.M. (2007), Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif, Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (2007)

Anda mungkin juga menyukai