Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

PENGENDALIAN PUSAT PERTANGGUNG JAWABAN:


PUSAT LABA DAN PUSAT INVESTASI
Disusun untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester (UAS)
Mata Kuliah Sistem Pengendalian Manajemen
yang dibina oleh Ibu Dr. Wuryan Andayani, M.Si., Ak.

Disusun oleh:

Arwilla Faurillie Ayu Oktari

(135020300111008)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
Juni 2016
Pengendalian Pusat Pertanggungjawaban : Pusat Laba dan Pusat Investasi
Sistem

pengendalian

manajemen

harus

didukung

dengan

struktur

organisasi yang baik. Struktur organisasi termanifestasi dalam bentuk struktur


pusat pertanggungjawaban (Responsibility centers). Pusat pertanggungjawaban
adalah unit organisasi yang dipimpin oleh manajer yang bertanggungjawab
terhadap

aktivitas

pusat

pertanggungjawaban

yang

dipimpinnya.

Suatu

organisasi merupakan kumpulan dari berbagai pusat pertanggungjawaban.


Adapun tujuan dibuatnya pusat pertanggungjawaban tersebut adalah:
1. Sebagai basis perencanaan, pengendalian, dan penilai kinerja manajer
dan unit organisasi yang dipimpinnya.
2. Untuk memudahkan mencapai tujuan organisasi.
3. Memfasilitasi terbentuknya goal congruence.
4. Mendelegasikan tugas dan wewenang ke unit-unit

yang

memiliki

kompetensi sehingga mengurangi beban tugas manajer pusat.


5. Mendorong kreativitas dan daya inovasi bawahan.
6. Sebagai alat untuk melaksanakan strategi organisasi secara efektif dan
efisien.
7. Sebagai alat pengendalian anggaran.
Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu unit organisasi yang dipimpin oleh
seorang manajer yang bertanggungjawab. Penilaian kinerja manajer sangat
penting karena dengan adanya penilaian kinerja dapat diketahui apakah manajer
pusat

pertanggungjawaban

tersebut

melaksanakan

wewenang

dan

tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Contoh :


a.

Direktur Utama perusahaan holding atau anak perusahaannya atau

Direktur Utama anak perusahaan dari suatu holding.


b. Direktur/Kepala Divisi perusahaan holding, atau Kepala Bagian/Kepala
c.

Distrik pada anak perusahaan.


Kepala unit-unit di dalam suatu perusahaan.
Tanggungjawab manajer pusat pertanggungjawaban

adalah

untuk

menciptakan hubungan yang optimal antara sumber daya input yang digunakan
dengan output yang dihasilkan dikaitkan dengan target kinerja. Input diukur

dengan jumlah sumber daya yang digunakan sedangkan output diukur dengan
jumlah produk/output yang dihasilkan
Manfaat adanya pusat pertanggungjawaban adalah sebagai berikut:
1) Mutu berbagai keputusan semakin baik, sebab dipersiapkan atau dibuat
oleh pimpinan yang berada di tempat terjadinya isu-isu relevan.
2) Berkurangnya
beban
manajemen
puncak
sehingga
bisa

lebih

memfokuskan pada konsep pengendalian manajemen yang lebih strategis.


3) Bagi pimpinan suatu pusat pertanggungjawaban, pendelegasian
wewenang ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang pengembangan inovasi
dan kreatifitasnya guna menunjang promosi yang ada.
Jenis-jenis pusat pertanggungjawaban dibagi berdasarkan:

Sifat

pekerjaan

yang

dilakukan

(apakah

terkait

pendapatan atau laba)


Wewenang yang diberikan oleh pimpinan puncak.
Pengukuran prestasi.

dengan

perolehan

Ada empat jenis pusat pertanggung jawaban yaitu pusat biaya,

pusat

pendapatan, pusat laba, dan pusat investasi. Dalam makalah ini akan dibahas
mengenai pusat laba dan pusat investasi
PUSAT LABA

Karakteristik Pusat Laba


Pusat

laba

merupakan

pusat

pertanggungjawaban

dimana

kinerja

finansialnya diukur dalam ruang lingkup laba, yaitu selisih antara pendapatan
dan pengeluaran. Laba merupakan ukuran kinerja yang berguna karena laba
memungkinkan pihak manajemen senior dapat menggunakan satu indikator
yang komprehensif dibandingkan harus menggunakan beberapa indikator.
Keberadaan suatu pusat laba akan relevan ketika perencanaan dan
pengendalian laba mengaku kepada pengukuran unit masukan dan keluaran dari
pusat laba yang bersangkutan. Berikut merupakan beberapa karakteristik pusat
laba, yaitu:
1) Keputusan

operasional

dapat

dilakukan

lebih

cepat

karena

tidak

memerlukan pertimbangan dari kantor pusat.


2) Kualitas keputusan cenderung lebih baik, karena dilakukan oleh orang
yang benar-benar mengerti tentang keputusan tersebut.
3) Manajemen kantor pusat bebas dari urusan operasional rutin dan bias
lebih focus pada keputusan yang lebih luas.
4) Kesadaran laba (Profit Consciousness) lebih meningkat pada manajer
pusat laba, karena ukuran prestasinya adalah laba.
3

5) Pengukuran prestasi pusat laba lebih luas daripada hanya pengukuran


pada pusat pendapatan dan pusat biaya yang terpisah.
6) Manajer pusat laba lebih bebas berkreasi.
7) Dapat difungsikan sebagai pusat atau sarana pelatihan yang handal,
karena

pusat

laba

hampir

sama

dengan

satu

perusahaan

yang

independen.
8) Memudahkan kantor pusat untuk memperoleh informasi profitabilitas dari
komponen produk-produk perusahaan.
9) Untuk meningkatkan kinerja bersaing karena outputnya siap pakai atau
jelas, dan sangat responsif terhadap tekanan.
Sedangkan kelemahan pusat laba yaitu:
1) Manajemen kantor pusat kehilangan kendali menegenai keputusan yang
telah didelegasikan.
2) Manajer pusat laba cenderung hanya memperhatikan laba jangka pendek.
3) Organisasi yang pada awalnya bekerja sama antara fungsi satu dengan
lainnya menjadi saling bersaing.
4) Terdapat kemungkinan peningkatan

perbedaan

pendapat

dalam

pengambilan keputusan yang dapat menimbulkan pertentangan antar


pusat pertanggungjawaban.
5) Tidak ada yang menjamin bahwa divisionalisasi pada masing-masing pusat
laba akan menjamin peningkatan laba perusahaan menjadi lebih optimal.
6) Kualitas pengambilan keputusan oleh manajer divisi mungkin bisa lebih
jelek daripada manajer puncak.
7) Menimbulkan terjadinya tambahan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan
manajerial divisi.
8) Kompetensi general manajer seringkali menjadi tidak diperlukan.

Pentingnya Pembentukan Pusat Laba dan Pendelegasian Wewenang dalam Rangka


Membentuk Independent Profit Center
Unit Bisnis sebagai Pusat Laba

Batasan atas Wewenang Unit Bisnis


Dari konsep pusat laba, manajer unit bisnis akan memiliki otonomi seperti presiden dari
suatu perusahan independen. Meskipun demikian, dalam praktek sehari-hari, otonomi
semacam ini tidak pernah ada. Wewenang yang diberikan oleh dewan direksi kepada
CEO didelegasikan ke manajer unit bisnis, maka berarti bahwa manajemen senior
melepaskan tanggung jawab sendiri. Akibatnya, struktur unit bisnis

mencerminkan

trade-off antara otonomi unit bisnis dan batasan perusahaan. Hal utama yang harus
dipertimbangkan adalah adanya batasan atas wewenang manajer unit bisnis. Batasan

dapat muncul dari unit bisnis lain maupun dari manajemen korporat.
Batasan dari Unit Bisnis lain
4

Pengelolaan suatu pusat laba dalam hal pengendalian atas 3 jenis keputusan :
(1) Keputusan produk (barang atau jasa apa saja yang harus dibuat dan di jual)
(2) Keputusan pemasaran (bagaimana, dimana, dan berapa jumlah barang atau jasa
yang akan di jual)
(3) Keputusan perolehan (procurement) atau sourcing (bagaimana mendapatkan atau
memproduksi barang atau jasa)
Jika seorang manajer unit bisnis mengendalikan ketiga aktivitas tersebut,
biasanya tidak akan ada kesulitan dalam melaksanakan tanggung jawab laba dan
mengukur kinerja. Pada umumnya semakin terintegrasi suatu perusahaan maka
akan semakin sulit melakukan tanggung jawab pusat laba tunggal untuk ketiga
aktivitas tersebut dalam lini produk yang ada, yaitu akan lebih sulit jika keputusan
produksi, sourcing, dan pemasaran untuk lini produk tunggal dipecah ke dalam dua
unit bisnis atau lebih, sehingga memisahkan konstribusi tiap-tiap unit bisnis demi

kesuksesan lini produk secara keseluruhan.


Batasan dari Manajemen Korporat
Batasan-batasan yang dikenakan oleh manajemen korporat dikelompokkan menjadi 3
bagian:
(1) Batasan yang timbul dari pertimbangan-pertimbangan strategi. Misal : keuangan,
aktivitas produksi dan pemasaran, kualitas produk.
(2) Batasan yang timbul karena adanya keseragaman yang diperlukan. Misal :
kebijakan, etika, pemilihan pemasok, dan komputer.
(3) Batasan yang timbul dari nilai ekonomis sentralisasi. Misal : masalah yang timbul
akibat struktur desentralisasi.
Hampir semua perusahaan mempertahankan beberapa keputusan terutama
keputusan financial, pada tingkat korporat, setidaknya untuk aktivitas domestic.
Akibatnya, salah satu batasan utama atas unit bisnis berasal dari pengendalian korporat
terhadap investasi baru. Unit bisnis yang ada harus bersaing satu sama lain untuk
mendapatkan bagian dari dana yang tersedia.
Contoh : Pada pertengahan tahun 1990-an, Kinkos Inc., perusahaan fotokopi 24
jam terbesar di Amerika Serikat, melakukan entralisasi atas operasinya. Perusahaan
tersebut tadinya dibangun atas dasar persekutuan, dengan persyaratan bahwa setiap
rekanan ikut memiliki dan mengoperasikan toko-toko Kinkos di wilayah yang berbeda,
dan etiap unit dalam perusahaan tersebut bertanggung jawab atas pembelian dan
pendanaan masing-masing. Ketika pendanaan Kinkos desentralisasi pada tahun 1996,
perusahaan mengalami penurunan beban bunga sebesar $ 20 juta. Hal tersebut ternyata
menghasilkan penghematan dari pelaksanaan sistem pembelian yang lebih efisien.

Pada umumnya perusahaan memberlakukan batasan pada unit-unit bisnis karena


kebutuhan akan keseragaman. Satu batasan adalah bahwa unit bisnis harus menyesuaikan
diri terhadap system pengendalian manajemen dan akuntansi perusahaan. Untuk
penyeragaman dan untuk kebijakan personalia lainnya, kantor pusat juga harus
mengeluarkan biaya. Ini sama seperti penyeragaman etika, pemilihan pemasok, computer
dan peralatan komunikasi, dan bahkan desain kop surat dari unit bisnis.
Contoh : Schering-Plough Corporation pada tahun 1989 akhirnya menyelesaikan
usahanya selama 7 tahun untuk melakukan instalasi sistem pengendalian dan akuntansi
perusahaan secara menyeluruh. Salah satu penyebab utama dari lamanya proses tersebut
adalah adanya kesulitan yang dialami oleh unit-unit bisnis dalam mengimplementasikan
sistem perusahaan yang dirancang khusus. Sebaliknya, General Electric Co. hanya
membutuhkan sedikit informasi yang harus diserahkan ke kantor pusat dengan format
tertentu, dan nestle company memperbolehkan unit-unit bisnis menyerahkan laporannya
ke kantor pusat dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, atau Spanyol, karena para
manajer seniornya dapat berbicara banyak bahasa.
Pusat Laba Lainnya
Perusahaan multibisnis biasanya terbagi ke dalam unit-unit bisnis dimana setiap unit
diperlakukan sebagai unit penghasil laba yang independen. Tetapi sub unit yang ada dalam
unit bisnis tersebut dapat saja terorganisisr secara fungsional misal aktivitas operasi
pemasaran, manufaktur, dan jasa yang dijadikan sebagai pusat laba. Tidak ada prinsip-prinsip
tertentu yang menyatakan bahwa unit tertentu yang merupakan pusat laba sementara dan
yang lainnya bukan.
1. Unit-unit fungsional
Subunit yang ada dalam unit bisnis dapat saja terorganisasi secara fungsional.
Terkadang lebih mudah untuk membuat satu atau lebih unit fungsional, misalnya
aktivitas operasi pemasaran, manufaktur, dan jasa. Tidak ada prinsip-prisip tertentu
yang menyatakan bahwa jenis unit tertentu yang merupakan pusat laba sementara yang
lainnya bukan. Keputusan pihak manajemen untuk pusat labanya haruslah berdasarkan
besar pengaruhya (bahkan jika bukan pengendalian total) yang dilaksanaka oleh
manajer unit terhadap aktivitas yang mempengaruhi laba bersih.
a. Pemasaran
Pemasaran dapat dijadikan sebagai pusat laba dengan membebankan biaya dari
produk yang terjual. Harga transfer ini memberikan informasi yang relevan bagi
manajer pemasaran dalam membuat trade-off pendapatan/pengeluaran yang optimal,

dan praktik standar untuk mengukur manajer pusat laba berdasarkan probabilitasnya
akan memberikan evaluasi terhadap trade-off yang dibuat.
b. Manufaktur
Aktivitas manufaktur biasanya merupakan pusat beban, di mana manajemen dinilai
berdasarkan kinerja versus biaya standar dan anggaran overhead. Tetapi, ukuran ini
dapat menimbulkan masalah karena ukuran tersebut tidak mengindikasikan sejauh
mana kinerja manajemen atas seluruh aspek pekerjaannya. Oleh karena itu, di mana
kinerja proses manufaktur diukur terhadap biaya standar, dianjurkan untuk membuat
evaluasi yang terpisah atas aktivitas-aktivitas seperti pengendalian mutu,
penjadwalan produk, dan keputusan buat atau beli. Salah satu cara untuk mengukur
aktivitas organisasi manufaktur secara keseluruhan adalah dengan menjadikannya
pusat laba dan memberikan nilai berdasarkankan untuk harga jual produk dikurangi
dengan estimasi biaya pemasaran.
c. Unit pendukung dan pelayanan.
Unit-unit pemeliharaan, teknologi informasi, tranportasi, teknik, konsultan,
layananan konsumen, dan aktivitas pendukung sejenis dapat dioperasikan kantor
pusat dan divisi pelayanan perusahaan, atau dapat dipenuhi oleh unit bisnis itu
sendiri. Unit bisnis tersebut membebankan biaya pelayanan yang diberikan, dengan
tujuan finansial untuk menghasilkan bisnis yang mencukupi sehingga pendapatan
setara dengan pengeluaran. Perusahaan yang melakukan pembebanan berdasarkan
penggunaan mungkin memperlakukan unit tersebut sebagai pusat laba.
2. Organisasi lainnya
Suatu perusahaan dengan operasi cabang yang bertanggung jawab atas
pemasaran produk perusahaan di wilayah geografis tertentu sering kali menjadi pusat
laba secara alamiah. Meskipun para manajer cabang tidak memiliki tanggung jawab
manufaktur atau pembelian, profitabilitasnya kadangkala merupakan satu ukuran unit
kinerja yang paling baik. Lebih lanjut lagi, pengukuran laba merupakan satu alat
motivasi yang sempurna.
Pengukuran Profitabilitas
Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk mendapatkan laba
(keuntungan) dalam suatu periode tertentu. Pengertian yang sama disampaikan oleh Husnan
(2001) bahwa Profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan (profit) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu. Sedangkan
Menurut Michelle & Megawati (2005) Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba (profit) yang akan menjadi dasar pembagian dividen perusahaan.
7

Terdapat dua jenis pengukuran profitabilitas yang digunakan dalam mengevaluasi suatu
pusat laba, sama halnya seperti mengevaluasi perusahaan secara keseluruhan. Pertama adalah
pengukuran kinerja manajemen,

yang memiliki fokus pada bagaimana hasil kerja para

manajer. Pengukuran ini digunakan untuk (planning) koordinasi (coordinating), dan


pengendalian (controlling), kegiatan sehari hari dari pusat laba dan sebagai alat untuk
memberikan motivasi yang tepat bagi para manajer. Yang kedua adalah ukuran kinerja
ekonomis, yang memiliki fokus pada bagaimana kinerja pusat laba sebagai suatu entitas
ekonomi.
Jenis-Jenis Ukuran Kinerja
Kinerja pusat laba dapat dievaluasi berdasarkan lima ukuran profitabilitas, yaitu:
(1) Margin Kontribusi
Margin kontribusi menunjukkan rentang (spread) antara pendapatan dengan
beban variabel. Alasan utama mengapa ini digunakan sebagai alat pengukur kinerja
manajer pusat laba adalah bahwa karena beban tetap (fixed expense) berada diluar
kendali manajer tersebut, sehingga para manajer harus memusatkan perhatian untuk
memaksimalkan margin kontribusi
(2) Laba Langsung
Laba langsung (direct profit) merncerminkan kontribusi pusat laba terhadap
overhead umum dan laba perusahaan. Ukuran ini menggabungkan seluruh pengeluaran
pusat laba, baik yang dikeluarkan oleh atau dapat ditelusuri langsung ke pusat laba
tersebut tanpa memperdulikan apakah pos-pos ini ada dalam kendali manajer pusat laba
atau tidak. Meskipun demikian, pengeluaran yang terjadi di dalam kantor pusat tidak
termasuk perhitungan ini
Kelemahan dari pengukuran laba langsung adalah bahwa ia tidak memasukkan
unsur manfaat motivasi dari biaya-biaya kantor pusat
(3) Laba yang Dapat Dikendalikan
Pengeluaran-pengeluaran kantor pusat dapat dikelompokkan menjadi dua
kategori yaitu dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Yang termasuk dalam
kategori pertama adalah pengeluaran-pengeluaran yang dapat dikendalikan, paling tidak
pada tingkat tertentu, oleh manajer unit bisnis-layanan teknologi informasi misalnya.
Jika biaya-biaya ini termasuk dalam sistem pengukuran, maka laba yang dihasilkan
setelah dikurangi dengan seluruh biaya yang dipengaruhi oleh manajer pusat laba
tersebut.
Kekurangan utama dari ukuran ini adalah karena ukuran tersebut tidak
memasukkan beban kantor pusat yang tidak dapat dikendalikan, maka ukuran ini tidak
dapat langsung dibandingkan baik dengan data yang diterbitkan atau data asosiasi
dagang yang melaporkan laba dari perusahaan-perusahaan lain di industri yang sama.
8

(4) Laba Sebelum Pajak


Dalam uukruan ini, seluruh overhead korporat dialokasikan ke pusat laba
berdasarkan jumlah relatif dari beban yang dikeluarkan oleh pusat laba. Ada dua
argumen yang menentang alokasi ini. Pertama, karena biaya-biaya yang dikeluarkan
oleh staf di departemen korporat seperti bagian keuangan, akuntansi, dan bagian
sumber daya manusia tidak dapat dikendalikan oleh manajer pusat laba, maka manajer
tersebut sebaiknya tidak dianggap bertanggung jawab untuk biaya tersebut. Kedua, sulit
untuk mengalokasikan jasa staf korporat dengan cara yang sewajar wajar
mencerminkan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh setiap pusat laba.
Meskipun demikian, ada tiga argumen yang mendukung dimasukkannya
overhead korporat ke dalam laporan kinerja dari pusat laba. Pertama, unit jasa korporasi
memiliki kecenderungan untuk meningkatkan dasar kekuatan untuk memperluas
keunggulannya tanpa memperhatikan dampaknya terhadap perusahaan secara
keseluruhan. Mengalokasikan biaya-biaya overhead perusahaan kepada pusat laba akan
meningkatkan kecenderungan bahwa para manjer pusat laba akan mempertanyakan
biaya-biaya ini, untuk memeriksa pengeluaran kantor pusat. Kedua, kinerja setiap pusat
laba akan lebih realistis dan dapat lebih diperbandingkan dengan kinerja para pesaing
yang memberikan jasa yang sama. Ketiga, ketika para manajer mengetahui bahwa pusat
laba mereka tidak akan menunjukkan laba kecuali semua biaya-termasuk bagian
overhead perusahaan yang dialokasikan-tertutupi, maka mereka akan termotivasi untuk
membuat keputusan pemasaran jangka panjang yang optimal, penetapan harha, bauran
produk, dan lain-lain yang akan memberikan manfaat bagi perusahaan secara
keseluruhan.
Jika pusat laba dibebankan dengan sebagian overhead korporat, maka hal ini
harus dihitug berdasarkan biaya yang telah dianggarkan, dan bukan biaya aktual,
dimana kolom anggaran dan aktual dalam laporan kinerja pusat laba menunjukkan
jumlah yang hampir sama untuk pos khusus ini. Hal ini akan memberikan kepastian
bahwa para manajer pust laba tidak akan mengeluh-baik karena kebijakan ini maupun
karena kurangnya pengendalian atas biaya tersebut-karena laporan kinerja mereka tidak
akan menunjukkan varians dalam alokasi overhead. Sebaliknya, varians semacam ini
akan muncul dalam laporan pusat tanggung jawab yang benar-benar mengeluarkan
semua biaya tersebut.
(5) Laba Bersih
Disini, perusahaan mengukur kinerja pusat

laba domestik berdasarkan laba

bersih (net income), yaitu jumlah laba bersih setelah pajak. Ada dua argumen utama
9

yang menentang penggunaan metode ini: (1) laba setelah pajak sering kali merupakan
presentase yang konstan atas laba sebelum pajak, dalam kasus mana tidak terdapat
manfaat dengan memasukkan unsur pajak penghasilan; dan (2) karena banyak
keputusan yang mempengaruhi pajak penghasilan dibuat di kantor pusat, maka tidaklah
tepat jika para manajer pusat laba harus menanggung konsekuensi dari keputusankeputusan tersebut. Meskipun demikian, ada situasi dimana tarif pajak bervariasi antar
pusat laba.
Pendapatan
Pemilihan metode pengakuan pendapatan sangatlah penting, dalam beberapa kasus dua
atau lebih pusat laba dapat berpartisipasi dalam suatu usaha penjualan yang sukses. Idealnya
setiap pusat laba harus diberikan nilai yang sesuai atas bagiannya dalam transaksi tersebut.
Pertimbangan Manajemen
Sebagian besar kebingungan yang timbul dalam mengukur kinerja manajemen pusat
laba biasanya terjadi sebagai akibat dari kegagalan untuk memisahkan antara pengukuran
kinerja manajer dan pengukuran ekonomis suatu pusat laba. Para manajer harus diukur
berdasarkan pos-pos yang dapat mereka kendalikan, bahkan jika mereka tidak memiliki
pengendalian penuh terhadap pos tersebut.
Dengan mengikuti pedoman-pedoman tersebut tidak berarti bahwa semua masalah
terpecahkan. Salah satu cara untuk membuat penilaian ini dapat diandalkan adalah dengan
mengeleminasi semua pos agar manajer tidak memiiki pengaruh.
PUSAT INVESTASI
Karakteristik Pusat Investasi
Pusat investasi merupakan pusat pertanggung jawaban berdasarkan tingkat laba yang
dihasilkan dikaitkan dengan besarnya investasi yang ditanamkan. Penilaian pusat investasi
sama dengan penilaian pusat laba namun perbedaannya adalah ditambah dengan analisis
terhadap penempatan investasi dan hasil yang dicapai. Investasi diukur berdasarkan
penciptaan laba yang dicapai oleh unit bisnis/divisi sebagai berikut:
1. Investasi diukur berdasarkan jumlah aktiva
2. Investasi diukur berdasarkan jumlah utang dan modal
3. Investasi diukur berdasarkan jumlah modal sendiri.
Pusat investasi merupakan pusat pertanggungjawaban yang bertugas untuk
mengatur investasi guna mencapai laba yang seoptimal mungkin. Kewenangan
pusat investasi adalah menyangkut pengelolaan laba (yang terdiri atas
pendapatan dan biaya) serta mengelola aset yang dipergunakan untuk
memperoleh

laba.

Dengan

demikian,

Pusat

Investasi

diukur

prestasinya
10

berdasarkan perbandingan antara laba yang diperoleh dengan aset (investasi)


yang dipergunakan. Karakteristik dari Pusat Investasi antaralain:
Kantor pusat perusahaan atau unit bisnis strategis maupun divisi yang
diberi wewenang atau kebijakan maksimum dalam menentukan keputusan
operasi yang tidak hanya berjangka pendek , tetapi juga tingkat (besarnya)

dan tipe (jenis) investasi


Menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan
mengenai investasi yang digunakan oleh manajer divisi dan memotivasi

mereka untuk melakukan keputusan yang tepat.


Mengukur prestasi divisi sebagai kesatuan usaha yang berdiri sendiri.
Menyediakan alat perbandingan prestasi antar divisi untuk penentuan

alokasi sumber ekonomi.


Informasi dari Pusat Investasi dapat digunakan memotivasi Manajer Divisi
dalam :
1. Menghasilkan laba yang memadai dengan wewenang mengambil keputusan
tentang sumber ekonomi dan fasilitas fisik yang digunakan.
2. Mengambil keputusan untuk menambah investasi bila investasi tersebut
memberikan kembalian (return) yang memadai.
3. Mengambil keputusan untuk melepas/mengurangi investasi yang tidak
memberikan kembalian (return) yang memadai.
Masalah yang timbul pada Pusat Investasi adalah berkaitan dengan
pengukuran dan tolok ukur prestasi pusat investasi, antaralain:
1. Pada umumnya tujuan manajer unit usaha adalah memperoleh laba yang
memuaskan dari investasi yang ditanamkan.
2. Laba yang yang diperoleh, berasal dari modal yang ditanam untuk
memperoleh laba tersebut.
3. Makin besar modal yang ditanam belum tentu makin besar pula labanya.

Pengukuran Kinerja Pusat Investasi


Ada beberapa tujuan pengukuran prestasi suatu pusat investasi, antaralain:
1. Menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai
investasi yang digunakan oleh manajer divisi dan memotivasi mereka untuk melakukan
keputusan yang tepat.
2. Mengukur prestasi divisi sebagai kesatuan usaha yang berdiri sendiri.
3. Menyediakan alat perbandingan prestasi antar divisi untuk penentuan alokasi sumber
ekonomi.
Terdapat dua metode dalam mengukur prestasi Pusat Investasi. Pertama, pusat
investasi diukur prestasinya dengan menghitung laba yang diperoleh dengan investasinya
(investment base). Perhitungan ini disebut dengan Return on Investmen atau ROI. Kedua,

11

pengukuran prestasi dilakukan dengan menghitung Economic Value Added (EVA) yang
sering disebut juga sebagairesidual income.
a. Return On Investment (ROI)

ROI (return on investment) atau laba atas investasi adalah rasio uang

yang diperoleh atau hilang pada suatu investasi, relatif terhadap jumlah
uang yang diinvestasikan. Jumlah uang yang diperoleh atau hilang tersebut
dapat disebut bunga atau laba/rugi. Investasi uang dapat dirujuk sebagai
aset, modal, pokok, basis biaya investasi. ROI biasanya dinyatakan dalam
bentuk persentase dan bukan dalam nilai desimal. ROI tidak memberikan
indikasi berapa lamanya suatu investasi. Namun demikian, ROI sering
dinyatakan dalam satuan tahunan atau disetahunkan dan sering juga
dinyatakan untuk suatu tahun kalendar atau fiskal. Bahasa sederhananya
ROI merupakan pengembalian keuntungan atas investasi.
Return On Investment itu sendiri adalah salah satu bentuk dari rasio
profitabilitas

yang

dimaksudkan

untuk

dapat

mengukur

kemampuan

perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang


digunakan untuk operasinya perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.
Dengan demikian ratio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari
operasinya perusahaan (net operating income) dengan jumlah investasi atau
aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut (net
operating assets).

ROI juga dapat dilihat dengan mengkombinasikan dua faktor, yaitu:


Turnover dari operating assets (Tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk
operasi, yaitu kecepatan berputarnya operating assets dalam suatu periode
tertentu.)
Profit Margin, yaitu keuntungan operasi yang dinyatakan dalam prosentase dan
jumlah penjualan bersih, profit margin ini mengukur tingkat keuntungan yang
dapat dicapai oleh perusahaan dihubungkan dengan penjualan.
Besarnya ROI akan berubah kalau ada perubahan profit margin

atau assets

turnover, baik masing-masing atau kedua-duanya. Dengan demikian maka pimpinan


perusahaan dapat menggunakan salah satu atau kedua-duanya dalam rangka usaha untuk
memperbesar ROI. Usaha mempertinggi ROI dengan memperbesar profit margin adalah
bersangkutan dengan usaha untuk mempertinggi efisiensi disektor produksi, penjualan
dan administrasi. Usaha mempertinggi ROI dengan memperbesar assets turn over adalah
kebijaksanaan investasi dana dalam berbagai aktiva, baik aktiva lancar maupun aktiva
tetap.
Adapun rumus Return On Investment adalah sebagai berikut:
12

Ada juga cara lain yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Keuntungan ROI antaralain:

1. Mudah menghitungnya karena angka diambil dari laporan laba rugi dan
laporan neraca
2. Mudah dipahami. Semakin besar angka ROI, semakin baik kinerja unit
bisnis/divisidan semakin disukai oleh penanam modal atau calon
penanam modal
3. Mendorong manager

untuk

memfokuskan

penjualan, beban daninvestasi


4. Mendorong
manager
untuk

pada

meningkatkan

hubungan
penjualan

antara
dengan

meningkatkan keahlian penjual dan fasilitas penjual


5. Mendorong manager untuk meningkatkan efisiensi biaya perusahaan
6. Mendorong manager untuk meningkatkan efektifitas pengunaan aktiva
operasi
Keterbatasaan Pendekatan ROI
1. Ada beberapa cara menghitung tingkat pengembalian investasi/return on
investment

sehingga sulit untuk menentukan angka ROI yang akan

digunakan sebagai standar untuk mengukur kinerja perusahaan.


2. ROI tidak mengitung laba menurut nilai waktu dari uang, sehingga hal
inimenyebabkan keputusan yang diambil kurang tepat.
3. Manajer atau controller pusat investasi cenderung untuk menolak
investasi yang dapat menurunkan angka ROI pusat pertanggung
jawabannya
pada jangka pendek, walaupun investasi tersebut akan meningkatkan
kemampulabaan perusahaan secara keseluruhan.
4. Manajer pusat investasi hanya berfokus pada laba dan ROI pada
jangka pendek tanpa memperhatikan kepentingan jangka panjang.

b. Economic Value Added (EVA)


Economic Value Added merupakan salah satu konsep ukuran kinerja keuangan
yang dikemukakan pertama kali pada awal tahun 1989, akan tetapi pada saat itu kurang
13

ditanggapi oleh analisis keuangan lainnya hingga sampai dengan September 1993 sebuah
artikel pada majalah Fortune menjelaskan secara rinci tentang konsep EVA dan
implementasi sukses yang dilakukan oleh Joel Stern dan Bennett Stewart pada
perusahaan besar di Amerika Serikat.
Metode EVA bertujuan untuk mengukur kinerja investasi suatu perusahaan dan
sekaligus memperhatikan kepentingan dan harapan penyandangan dana yaitu kreditur
dan pemegang saham. EVA adalah jumlah uang, bukan rasio. EVA dapat diperoleh dari
selisih laba bersih operasional dengan beban modal (capital charge). Sehingga rumus
EVA adalah sebagai berikut:
EVA = Laba bersih sebelum pajak Pajak Beban modal
EVA = Laba bersih operasional Net operating profit) Beban modal (capital
charge)
Beban Modal (Capital charge) = Biaya Modal (Cost of capital) x Modal yang
digunakan (Capital employed)
Hasil dari perhitungan EVA dapat diartikan sebagai berikut:

EVA > 0, berarti telah terjadi nilai tambah ekonomis (economic value added) dalam

perusahaan.
EVA < 0, perusahaan belum berhasil menciptakan nilai tambah ekonomis, karena
laba bersih operasional tidak dapat memenuhi harapan para penyandang dana, yaitu
para penanam modal tidak mendapatkan pengembalian yang sebanding dengan
investasi yang ditanamkan dan kreditur hanya mendapatkan bunga sedangkan

pokok pinjaman belum dikembalikan atau dikembalikan sebagian saja.


EVA = 0, menunjukkan posisi impas yang berarti perusahaan hanya mampu
menghasilkan laba yang cukup untuk memenuhi kewajibannya pada penyediaan

dana baik kreditur dan pemegang saham.


Keunggulan EVA Beberapa keunggulan yang dimiliki EVA adalah:
a. EVA mudah dihitung dan mudah dipahami.
b. EVA menggambarkan arus kas perusahaan yang sebenarnya yang memfokuskan
penilaiannya pada nilai tambah dengan mengikut sertakan beban biaya modal
sebagai konsekuensi investasi, yang tak dilakukan pada pendekatan akutansi
tradisional .
c. EVA mengurangi terjadinya kesalahan dalam pengambilan kesimpulan atas kondisi
perusahaan yang sesungguhnya, karena adanya pertimbangan penanam modal atas
faktor risiko dan hasil diperoleh berupa dividend an bunga.
d. EVA membantu para penyandang dana untuk mendapatkan penghasilan yang
maksimal.

14

e. Penilaian kinerja dengan menggunakan pendekatan EVA menyebabkan perhatian


manajemen sesuai dengan keputusan pemegang saham sehingga para manajer akan
berpikir dan bertindak seperti yang dipikirkan oleh para penyandang dana yaitu:
pemegang saham dan kreditur untuk memilih investasi yang memaksimalkan
tingkat

pengmbalian dan meminimalkan tingkat biaya modal sehingga nilai

perusahaan dapat dimaksimalkan.


f. Metode EVA memiliki arti sekalipun dihitung secara mandiri tanpa memerlukan
data pembanding seperti data historis perusahaan, standar perusahaan, standar
perusahaan lain atau standar industri.
Keterbatasan EVA Beberapa keterbatasan EVA adalah sebagai berikut:
a. Metode EVA adalah sulit untuk menghitung biaya modal, membutuhkan sumber
daya (waktu, tenaga,) yang besar untuk mendasarkan perhitungan biaya modal dan
jika terjadi kesalahan perhitungan biaya modal akan mengurangi manfaat EVA.
b. Perhitungan EVA memerlukan estimasi atas biaya modal dan estimasi ini sulit
dilakukan untuk perusahaan yang belum go-public, dengan menggunakan estimasi
tersebut dapat menyebabkan kesalahan dalam perhitungan biaya modal.
c. EVA sulit diterapkan pada perusahaan yang beroperasi pada Negara yang kondisi
perekonomian tidak stabil dengan tingkat suku bunga yang berfluktuasi.
d. EVA hanya mengukur hasil akhir dan tidak mengukur aktivitas (seperti tingkat
loyalitas konsumen dan tingkat retensi konsumen) perusahaan sehingga nilai suatu
perusahaan merupakan akumulasi EVA selama umur perusahaan tersebut.
e. Masih banyak perusahaan yang mengukur kinerja investasi perusahaan yang
bersifat jangka pendek sehingga selalu metode EVA bukan menjadi pengukuran
kinerja investasi.
f. EVA adalah ukuran kinerja investasi berdasarkan pada peristiwa yang sudah
terjadi.
Berikut merupakan langkah-langkah perhitungan EVA adalah sebagai berikut:
1. Menghitung laba bersih setelah pajak penghasilan.
2. Menghitung biaya modal (cost of capital)
3. Menghitung biaya hutang (cost of debt)
4. Menghitung estimasi biaya modal saham (cost of equity). Capital Asset Pricing
Model merupakan model untuk menaksir keuntungan sekuritas, baik keuntungan
yang actual maupun keuntungan yang diharapkan. CAPM dikembangkan oleh
William Sharpe pada tahun 1965. Rumus CAPM :
Er = Risk free rate + Risk premium
Er = rf + (rm-rf)
Er = keuntungan yang diharapkan (expected return) atau disebut dengan cost of
capital

15

rf = tingkat bunga investasi yang bisa diperoleh tanpa risiko (risk free rate), contoh
uang tunai
= risiko sistematis (beta) rm = tingkat bunga investasi rata-rata dari keseluruhan
pasar (return rate from market benchmark), seperti dari S&P 500
5. Menghitung struktur modal
6. Menghitung WACC (Weighted Average Cost of Capital)
7. Menghitung EVA
Eva dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
EVA = Laba bersih sebelum pajak Pajak Beban modal
Terdapat beberapa cara untuk menaikkan EVA:
1. Meningkatkan laba bersih tanpa meningkatkan modal

yaitu

dengan

mengoptimalkan penggunaan aktiva yang ada


2. Mengurangi investasi yang tidak memberikan nilai tambah (value added), contoh:
meningkatkan investasi terhadap spekulasi mata uang asing yang berfluktasi.
Pengukuran Dana Operasi
Pusat laba dapat diukur berdasarkan selisih antara penjualan atau pendapatan dengan
pengeluaran. Hasil laba ini dibandingkan dengan dana operasi yang ditanamkan untuk
menghasilkannya.
Pengukuran dana operasi diperlukan untuk:
1. Menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan mengenai dana
operasi yang ditanam dan untuk memotivasi para manajer untuk membuat keputusan
yang benar.
2. Mengukur prestasi divisi sebagai suatu kesatuan ekonomis.
Kas (Cash)
Pada umumnya pengendalian uang kas pada perusahaan diatur secara sentral. Hal ini,
dimungkinkan agar penggunaan kas lebih kecil dibandingkan dikendalikan berdasarkan
divisi. Namun ada alasan-alasan tertentu dimana suatu perusahaan mencantumkan uang
kas dalam jumlah yang lebih tinggi daripada jumlah nominal yang secara formal yang
diperlukan oleh divisi, yaitu:
a. Jumlah yang lebih besar diperlukan untuk memungkinkan pembandingan antar
divisi atau perusahaan lain
b. Jika hanya uang kas actual saja yang diperlihatkan, laba yang terlihat pada suatu
divisi akan sangat tinggi dan mungkin akan dapat meyesatkan manajemen puncak
Piutang
Tingkat piutang dapat dipengaruhi oleh syarat-syarat kredit yang di gunakan. Untuk
kepentingan penyerdehanaan, piutang sering dihitung berdasarkan nilai pada akhir
periode. Namun jika divisi tidak dapat mengendalikan kredit dan penagihan, piutang dapat
dihitung atas dasar formula. Formula ini harus konsisten dengan periode pembayaran
normal, misalnya 30 hari setelah pengiriman barang.
Sediaan
16

Sediaan biasanya dihitung berdasarkan jumlah pada akhir periode walaupun nilai ratarata sepanjang periode secara konseptual lebih tepat. Beberapa perusahaan mengurangkan
hutang dagang dari sediaan atas dasar bahwa jumlah hutang menunjukkan pembiayaan
dari sediaan oleh supplier., dengan biaya nol divisi., modal perusahaan yang diperlukan
untuk sediaan hanyalah selisih antara jumlah sediaan kotor dengan utang. Adapaun
penilaian lain, jika perusahaan menggunakanmetode LIFO untuk kepentingan akuntansi
keuangan, metode penilaian yang berbeda biasanya digunakan untuk laporan divisi .
Modal Kerja Secara Umum
Perlakuannya sangat bervariasi, tetapi yang diperlukan bahwa modal kerja (aktiva
lancar) adalah untuk memenuhi kewajiban lancar, sehingga Manajer Unit Usaha
bertanggung jawab untuk mengawasi hutang tersebut.
Harta Tak Gerak, Pabrik dan Peralatan
Harta tetap dicatat berdasarkan biaya perolehan, dan biaya ini dihapuskan sepanjang
usia penggunaan harta dengan menggunakan mekanisme penyusutan.
Harta yang Di Lease
Manajer divisi lebih suka menyewa harta daripada memilikinya, dalam setiap situasi
dimana biaya bunga yang tercakup dalam biaya sewa lebih rendah daripada biaya modal
yang dikenakan kepada basis investasi divisi. 3
Harta Menganggur
Jika memiliki asset yang mengganggur yang dapat digunakan oleh unit lain, maka
unit usaha tersebut boleh mengeluarkan asset dimaksud dari investasinya sehingga tidak
diperhitungkan sebagai penilaian kinerjanya.
Hutang/Kewajiban Jangka Panjang
Dana-dana yang diperoleh Kantor Pusat diperoleh dari internal dan eksternal. Hal ini
perlu dipertimbangkan untuk dihitung secara terpisah, karena kadang-kadang pinjaman
lebih besar modal. Oleh sebab itu perhitungan EVA (Economic Value Added) harus
dihitung berdasarkan pinjaman yang berasal dari Kantor Pusat dan bukan dari total aktiva.
Beban Modal
Tarip beban modal ditentukan oleh Kantor Pusat yang lebih besar dari tarip pendanaan
dengan hutang. Sedangkan total dana yang digunakan adalah campuran (hutang ditambah
modal berbiaya tinggi). Dengan demikian, tarif tersebut lebih kecil dari pada estimasi
biaya modal perusahaan, sehingga EVA diatas rata-rata unit usaha lebih besar 0. Jika tarip
modal kerja lebih kecil dari pada untuk aktiva tetap, risiko modal kerja lebih kecil dari
pada aktiva tetap, karena dananya digunakan untuk keperluan jangka pendek.
Alternatif Terhadap Pusat-Pusat Investasi
Alternative yang digunakan adalah mengenakan bunga hanya untuk harta yang dapat
dikendalikan, dan mengendalikan harta tetap dengan alat yang terpisah.
17

Harta yang akan dikendalikan pada pokoknya adalah piutang dan persediaan.
Manajemen divisi dapat membuat keputusan harian yang dapat mempengaruhi tingkat harta
ini. Jika keputusan yang diambil salah, maka akibat yang serius dapat terjadi dengan segera.
Investasi pada harga tetap dikendalikan dengan proses penganggaran modal sebelum
direalisasikan dan dengan pemeriksaan setelah palaksanaan untuk menentukan apakah arus
kas yang diperkirakan menjadi kenyataan.
Keputusan investasi dikendalikan pada titik dimana keputusan ini dibuat. Akibatnya,
prosedur analisis investasi modal menjadi sangat penting dalam pengendalian investasi.
Sekali investasi dilakukan, maka ini sudah merupakan biaya tertanam dan seharusnya tidak
lagi mempengaruhi keputusan yang akan datang

Daftar Pustaka

18

Andheek. 2013. Cara Menghitung ROI (Return On Investment). Diambil dari


https://andheek.wordpress.com/2013/05/15/cara-menghitung-roi-return-on-investment/.
(4 April 2016)
Ermayanti,
Dwi.

2009.

Pusat

Investasi.

Diambil

https://dwiermayanti.wordpress.com/2009/10/23/pusat-investasi/. (4 April 2016)


Napitupulu, Maria Gabriella. 2016. Paper SPM Pusat Laba. Diambil

dari
dari

http://mariagabriella-napitupulu.blogspot.co.id/2016/02/paper-spm-pusat-laba.html. (5
Mei 2016)
Ningrum, Citra.

Bab

7.

Sistem

Pengendalian

Manajemen.

Diambil

dari

http://www.academia.edu/9615720/Bab_7._Sistem_Pengendalian_Manajemen. (5 Mei
2016)
Risma, Sukem. 2012. Analisis Return On Investment (ROI) dan Residual Income (RI) Guna
Menilai

Kinerja

Perusahaan.

Diambil

dari

http://www.academia.edu/8637116/ANALISIS_RETURN_ON_INVESTMENT_ROI_
DAN_RESIDUAL_INCOME_RI_GUNA_MENILAI_KINERJA_KEUANGAN_PER
USAHAAN. (4 April 2016)
Robert N. Anthony & Vijay Govindrajan, Management Control System, McGraw Hill,
Boston, 2001
Ruliarsa,
Arif.
Pengertian

Return

On

Investmen

(ROI).

Diambil

dari

http://www.academia.edu/8121694/Pengertian_Return_On_Investment_ROI_Return_O
n_Investment. (4 April 2016)

19