Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

KARSINOMA NASOFARING

Disusun oleh:
M. Khairul Afif, S.Ked
201210401011066

Dokter Pembimbing:
dr. Purnaning W.P. Sp. THT-KL

SMF IMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK


RSUD KAB. JOMBANG FK UMM
JOMBANG
2014

PENDAHULUAN
Karsinoma nasofaring (KNF) adalah keganasan jenis karsinoma yang berasal dari
epitel atau mukosa dan kripta yang melapisi permukaan nasofaring. Keganasan ini
seringkali disebut sebagai kanker tenggorok. KNF seringkali menimbulkan penderitaan
yang hebat (morbiditas tinggi) karena rusaknya struktur jaringan sekitar akibat
pertumbuhan tumor lokal dan metastasis. Sampai sekarang KNF masih tetap merupakan
masalah di bidang kedokteran.

Penyakit ini jarang ditemukan di Amerika Serikat, hanya 2% dari semua kasus
skuamos sel karsinoma pada kepala dan leher, dengan angka kejadian 0,5 sampai 2 per
100.000 orang. Namun, KNF merupakan endemik di beberapa bagian belahan dunia,
termasuk di China bagian selatan, Asia Tenggara, berdasarkan penelitian didapatkan 15-50
per 100.000 orang. KNF lebih sering terjadi pada laki-laki, dengan perbandingan antara
laki-laki dan perempuan 2:1. 2,3
Sudah hampir dipastikan bahwa penyebab KNF adalah virus Epstein-Barr, karena
pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus Epstein-Barr yang tinggi dari titer
orang sehat, pasien tumor ganas leher dan kepala lainnya, tumor organ tubuh lainnya,
bahkan pada kelainan nasofaring yang lain sekalipun. 3
WHO membagi KNF berdasarkan histopatologinya dalam 3 tipe, tipe 1 atau
Karsinoma sel skuamosa, terjadi dalam 25% kasus KNF. Tumor jenis ini menghasilkan
keratin dan menunjukkan gambaran intracellular bridges saat diamati di bawah mikroskop
electron. 20% kasus KNF adalah KNF tipe 2 atau non-keratinisasi karsinoma. Sel tumor

pada fenotip non-keratinisasi karsinoma menunjukkan barisan morfologi sel, mulai dari sel
dewasa sampai sel-sel anaplastik. Yang terakhir adalah KNF tipe 3 atau karsinoma tidak
berdiferensiasi, merupakan tipe KNF terbesar yang terlihat pada penderita KNF.
Dikarenakan tidak adanya bentuk karekteristik khusus, diagnosis KNF tipe tidak
berdiferensiasi ini seringkali berdasarkan letak tumor pada nasofarring dan ditemukannya
EBV pada hasil pemeriksaan sel tumor. 8
Gejala KNF antara lain adalah benjolan di leher, hidung buntu, epistaxis,
pendengran menurun pada satu sisi, telinga terasa penuh, nyeri wajah dan paraestesia. KNF
dapat dideteksi melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, Pemeriksaan penunjang untuk
membantu penegakan diagnosis KNF dapat menggunakan CT-Scan atau MRI daerah kepala
dan leher, Imun serulogi, dan biopsi nasofaring. 1,2,4,9
Untuk menentukan menetukan stadium KNF dipakai system Tumor, Node,
Metastasis (TNM) menurut American Joint Committee on Cancer (AJCC). Ada beberapa
penatalaksanaan pada KNF yaitu radioterapi, kombinasi kemoradioterapi, neoadjuvant
kemoterapi. Pilihan terapi disesuaikan dengan stadium KNF yang diderita oleh pasien
tersebut. 4,9
Pada makalah ini dilaporkan satu kasus KNF pada seorang wanita berusia 25 tahun
yang sudah diderita selama 6 bulan, dan akan dibahas mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi dan penatalaksanaan yang akan dilaksanakan pada pasien ini.

LAPORAN KASUS
Seorang wanita, F, usia 25 tahun alamat Pulorejo Ngoro Jombang, pendidikan
terakhir SMP, sudah menikah selama 5 tahun, sehari-hari bekerja sebagai Ibu Rumah
Tangga. Datang ke unit rawat jalan RSUD Kab. Jombang pada tanggal 5 Februari 2014.
Pada anamnesis didapatkan muncul benjolan di leher lebelah kanan sejak 1 bulan
yang lalu. Benjolan ini dirasakan makin lama makin besar dalam sebulan ini dan tidak
nyeri. Sebelum datang ke Poli THT RSUD Jombang pasien belum pernah berobat
kemanapun dan belum meminum obat apapun untuk menghilangkan benjolan tersebut.

Gambar 1. Tampak benjolan di bawah prosesus mastoid, di belakang angulus mandibula dan di bagian medial
m. Sternokleidomastoid

Keluhan lain yang dirasakan oleh pasien ini adalah suara bindeng sejak 1 bulan
yang lalu, nyeri kepala terutama di bagian wajah. Selain itu sejak 6 bulan yang lalu pasien
sering pilek-pilek dan mengeluarkan ingus warna bening, terkadang ingus bercampur darah,
hidung sering terasa buntu. Pada pasien ini tidak ditemukan suara parau, pandangan dobel,
batuk lama, panas malam hari, dan gangguan menelan.

Pasien sejak kecil sering menderita pilek dan hidung buntu, yang walaupun diobati
hanya sembuh sebentar lalu akan kambuh lagi tidak lama kemudian. Dari hasil anamnesis
diketahui tidak ada keluarga pasien yang sedang atau penah menderita sakit yang dialami
oleh pasien. Pasien sendiri setiap sore sering membakar sampah di rumahnya.aktivitas ini
dilakukan hamper setiap hari dan sudah menjadi kebiasaan pasien sejak kecil.
Dari hasil pemeriksaan pasien ini, keadaan umum pasien ini adalah compos mentis,
tampak pembesaran kelenjar getah bening di daerah retro servical, tepatnya di bawah
prosesus

mastoid,

belakang

angulus

mandibula

dan

di

bagian

medial

m.

Sternocleidomastoideus dengan ukuran 6x4x2 cm. Benjolan ini tidak mobile, lekat dasar,
tidak berdungkul-dungkul, dan tidak hiperemi. Pada pemeriksaan saraf nervus kranialis,
tidak ditemukan kelainan ataupun paresis nervus cranialis. Reflek muntah dan menelan
pasien positif.
Hasil pemeriksaan telinga pada pasien ini adalah, edem meatus akustikus (MAE)
-/-, serumen -/-, sekret -/-, massa di MAE -/-, perforasi membran timpani -/-. Pada
pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan Sekret bercampur darah, dan fenomena palatum
Molle negatif. Sedangkan pada pemeriksaan rinoskopi posterior tidak dilakukan.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis sementara yang diambil
adalah kanker nasofaring. Untuk menegakkan diagnosis KNF sendiri memerlukan beberapa
pemeriksaan penunjang. Lebih lanjut tentang pemeriksaan penunjang dan penatalaksaan
pada pasien ini akan dibahas lebih lanjut di bagian pembahasan.

PEMBAHASAN
Nasofaring adalah ruangan berbentuk kubus yang berada di atas tenggorokan dan di
belakang rongga hidung.

Batas anterior dari nasofaring adalah koana, dan superior

nasofaring adalah dasar tengkorak. Bagian posterior berbatasan dengan klivus dan vertebra
servikalis I dan II, sedangkan bagian inferior berbatasan dengan palatum molle. Pada kedua
sisi lateral dari nasofaring terdapat ostium tuba eustasius. Fossa Rosenmuller adalah tempat
terseing timbulnya KNF. 2

Gambar 2. Gambaran letak posisi nasofaring


Diambil dari Zhou, X, et al. The Progress on Genetik Analysis of Nasopharyngeal Carcinoma. 2007

Karsinoma nasofaring (KNF) adalah keganasan jenis karsinoma yang berasal dari
epitel atau mukosa dan kripta yang melapisi permukaan nasofaring. KNF seringkali
menimbulkan penderitaan yang hebat (morbiditas tinggi) karena rusaknya struktur jaringan
sekitar akibat pertumbuhan tumor lokal dan metastasis. KNF lebih sering terjadi pada lakilaki, dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan 2:1. Di Indonesia sendiri, angka
kejadian KNF adalah 6,2 kasus per 100.000 orang per tahun, sehingga menempatkan KNF
diposisi 4 dari kanker yang sering terjadi di Indonesia. Berdasarkan jumlah penduduk

Indonesia, diperkirakan terdapat 13.000 kasus baru setiap tahunnya. Meskipun dapat
dijumpai pada semua umur, namun KNF jarang ditemukan pada pasien dibawah umur 20
tahun. Insiden KNF meningkat pada umur 20-25 tahun, mendatar pada umur diantara 45-54
tahun, kemudian menurun. KNF kebanyakan ditemui pada usia 30-59 tahun dengan puncak
antara 40-49 tahun. 1,2,3
Pasien adalah wanita usia 25 tahun, berdasar usia sesuai dengan teori yang ada,
bahwa angka kejadian KNF meningkat pada usia 20-25 tahun. KNF sendiri jarang
ditemukan pada wanita dengan perbandingan angka kejadian pada laki-laki dan wanita
adalah 2:1.
Pasien mengeluh muncul benjolan di leher sebelah kanan sejak sebulan yang lalu.
Benjolan makin lama makin besar, namun tidak nyeri. Pasien juga sering mengeluh pilek
yang tidak sembuh-sembuh, kadang keluar darah dari hidung, hidung sering buntu.
Gejala klinis dari KNF terbagi dalam 4 kelompok, yaitu gejala hidung, gejala
telinga, gejala mata dan saraf, serta metastasis atau gejala di leher. Gejala di hidung
memang sangat membingungkan dokter maupun petugas kesehatan lain, terutama bila
tumornya masih kecil pada KNF stadium dini (tumor di nasofaring masih kecil) gejalanya
mirip dengan beberapa penyakit hidung lainnya seperti flu/rhinitis akut atau
kronik,nasofaringitis akut/kronik, sinusitis dan sebagainya. Gejalanya berupa pilek yang
lama keluar sekret atu ingus yang banyak, dapat nanah encer, kental atau berbau. Ingus
yang keluar kadang-kadang bercampur darah waktu disisikan atau darah (sedikit) itu keluar
spontan. Tumor yang makin besar akan menimbulkan gejala yang lebih nyata berupa pilek

yang lama (kronis), ingus kental dan berbau busuk, keluarnya darah dari rongga hidung
(epistaksis) yang makin sering dan profus disertai buntu hidung dan suara bindeng.1
Gejala pada telinga merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor
dekat muara tuba Eustachius (fosa Rosenmuller). Gangguan dapat berupa tinnitus, rasa
tidak nyaman di telinga sampai rasa yeri di telinga (otalgia). Kadang dijumpai pendengaran
menurun terutama pada salah satu sisi telinga. 4,9
Karena nasofaring berhubungan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa
lobang, maka gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut karsinoma
ini. Penjalaran melalui foramen laserum akan mengenai saraf kranialis III, IV, VI dan dapat
pula mengenai N. V, sehingga tidak jarang gejala diplopia atau pandangan dobel yang
membawa pasien datang ke dokter mata. Neuralgia trigeminal merupakan gejala yang
sering ditemukan oleh ahli saraf jika belum terdapat keluhan yang berarti. Jika seluruh saraf
di foramen laserum terkena, maka disebut sindroma Petrosfenoid. Poses karsinoma yang
lanjut akan mengenai N IX, X, XI, dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare.
Gangguan ini sering disebut dengan sindroma Jackson atau sindroma Retroparotidean . Bila
sudah mengenai seluruh saraf otak disebut sindroma unilateral. Dapat pula disertai dengan
destruksi tulang tengkorak dan bila sudah terjadi demikian, biasanya prognosisnya buruk.1,9
Metastasis ke kelenjar leher dalam bentuk benjolan di leher yang mendorong pasien
untuk berobat, karena sebelumnya tidak terdapat keluhan lain. Metastasis ke KGB leher
sering terjadi yaitu 60%-97,5%. Benjolan di leher dapat tunggal, multiple/berdungkul, kecil
sasmpai sangat besar. Lokalisasi tumor leher yang agak khas sebagai metastasis KNF yaitu

benjolan terletak dibawah prosesus mastoid, dibelakang angulus mandibula dan di sebelah
dalam (medial) dari m. Sternokleidomastoid (KGB leher level II,III) tumor metastasis di
KGB ini teraba padat dan tidak nyeri tekan. Awalnya tumor ini mobile semakin besar tumor
akan semakin terfiksir (fixed). 1,4
Untuk penegakkan diagnosis ada beberapa macam pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan adalah CT-Scan atau MRI daerah kepala dan leher, Imun serologi, dan
biopsi nasofaring. Untuk hasil yang lebih baik MRI cenderung dipilih karena mampu
menampilkan gambaran jaringan lunak yang lebih baik dan kemampuan MRI yang mampu
mendeteksi penyebaran tumor sampai ke wilayah perineural. Pada gambaran CT-scan tanda
patognomonik keganasan nasofaring apabila dijumpai gambaran asimetris resesus lateralis,
torus tubarius, dinding posterior dan adanya pembengkakan pada otot-otot tensor dan
levator veli palatini. 1, 10
Pada pemeriksaan imun serologi ada beberapa tumor marker yang paling
bermanfaat untuk diagnosis KNF antara lain adalah IgA anti EBV-VCA dan IgA anti EBVEA. IgA anti EBV-VCA adalah antibody yang paling spesifik untuk diagnosis KNF, hasil
penelitian menunjukkan 93% penderita KNF mengalami peningkatan titer Ig A ati EBVVCA. Sedangkan antibody ini dianggap positif bila titernya >5. Sedangkan untuk IgA Anti
EBV-EA, 73 % penderita KNF mengalami peningkatan titer IgA anti EBV-EA. Kedua titer
ini meningkat sesuai dengan stadium dan perkembangan tumor pasca terapi, sehingga dapat
digunakan sebagai prognosticator. 3,4,9

Diagnosis pasti KNF ditegakkan dengan melakukan biopsi nasofaring. Penderita


yang menunjukkan hasil pemeriksaan yang positif tetapi hasil biopsi nasofaring negatif
tetap tidak dianggap menderita KNF dan tidak dibenarkan melakukan radiasi terhadapnya.
Ada beberapa cara biopsi nasofaring yang digunakan antara lain biopsi buta (blind biopsy),
biopsi buta terpimpin, biopsi dengan nasofaringoskopi direkta, dan biopsi dengan
fibernasolaringoskop. Cara yang umum digunakan adalah biopsi buta karena cara ini masih
dianggap efisien dan efektif dengan angka keberhasilan cukup tinggi yaitu 65%-97 %.
Untuk pemeriksaan tambahan perlu dilakukan Foto rontgen Thorax PA, pemeriksaan ini
dilakukan untuk mengetahui apakah KNF telah bermetastasis sampai ke paru atau tidak.1,4,9
Pada pasien ini telah dilakukan pemeriksaan biopsi buta(blind biopsy), pada hasil
biopsi ditemukan massa rapuh dan mudah berdarah. Namun untuk hasil histopatologinya
belum diketahui. Untuk membantu penegakan diagnostik pada pasien ini sebaiknya
dilakukan beberapa pemeriksaan, lain yaitu pemeriksaan imun serologi, terutama IgA anti
EBV-VCA. Pasien dinyatakan positif KNF jika titer >5. Selain itu perlu dilakukan
pemeriksaan CT-scan sehingga pada tumor primer yang letaknya tersembunyi tidak sulit
ditemukan. Selain itu pemeriksaan tambahan yaitu foto thorax PA, USG Abdomen dan
Bone Scintigrafi juga sebaiknya dilakukan untuk mengetahui apakah KNF telah
bermetastasis sampai ke organ-organ lainnya atau tidak. 4
Pada pasien ini mempunyai kebiasaan membakar sampah setiap sore. Kebiasaan ini
dilakukan hampir setiap hari sejak kecil. Paparan asap yang mengandung zat karsinogen
merupakan salah satu faktor resiko KNF. Selain itu etiologi lain penyebab terjadinya KNF
adalah virus Epstein-Barr dan genetik.1,3,9

`Pathogenesis infeksi virus Epstein-Barr (EBV) diawali dengan masuknya EBV


pada epitel faring yang kemudian diikuti replikasi virus. Proliferasi limfoit B yang pasif
akibat provokasi dari virus EB diduga mendorong terjadinya translokasi gen c-myc dengan
menghasilkan suatu klon sel-sel limfosit B yang neoplastik. Gangguan ekspresi proto
onkogen karena terjadinya translokasi gen c-myc mengakibatkan turunnya ekspresi gen-gen
MHC (Major Histocompatibility complex) kelas I yang digunakan untuk mengenali antigen
asing oleh limosit T sitotoksik (CD 8).menurunnya kemampuan CD8 dalam mengenal dan
menghancukan sel kanker berakibat perkembangan sel kanker yang tanpa hambatan. Virus
Epstein-Barr dalam siklus litik menghasilkan protein yang disebut BZLF1 yang dapat
menurunkan fungsi protein p53. Inaktivasi dari oncoprotoin yang merupakan produk dari
tumor suppressor gene (p53) menyebabkan hilangnya hambatan proliferasi sel yang
berakibat proliferasi seluruh DNA virus EB pada kromosom sel inang (hospes). Infeksi
EBV secara sendiri tidak akan menimbulkan KNF. Virus ini baru akan menimbulkan
perubahan pada sel inang apabila diaktifkan oleh promotor. Beberapa bahan yang diduga
dapat mengaktifkan EBV antara lain yaitu nitrosamine, benzopyrene, bensoanthracene dan
beberapa hydrocarbon.

Faktor genetik telah banyak ditemukan kasus herediter atau familier dari pasien
KNF dengn keganasan pada organ tubuh lain. Secara umum didapatkan 10 % dari pasien
KNF menderita keganasan pada organ lain. Pengaruh genetik terhadap KNF masih dalam
pembuktian dengan mempelajari cell mediated immunity dari EBV dan tumor associated
antigens pada KNF. 9

10

WHO membagi KNF berdasarkan histopatologinya dalam 3 tipe, tipe 1 atau


Karsinoma sel skuamosa, terjadi dalam 25% kasus KNF. Tumor jenis ini menghasilkan
keratin dan menunjukkan gambaran intracellular bridges saat diamati di bawah mikroskop
electron. 20% kasus KNF adalah KNF tipe 2 atau non-keratinisasi karsinoma. Sel tumor
pada fenotip non-keratinisasi karsinoma menunjukkan barisan morfologi sel, mulai dari sel
dewasa sampai sel-sel anaplastik. Yang terakhir adalah KNF tipe 3 atau karsinoma tidak
berdiferensiasi, merupakan tipe KNF terbesar yang terlihat pada penderita KNF.
Dikarenakan tidak adanya bentuk karekteristik khusus, diagnosis KNF tipe tidak
berdiferensiasi ini seringkali berdasarkan letak tumor pada nasofarring dan ditemukannya
EBV pada hasil pemeriksaan sel tumor. 8

11

Untuk menetukan stadium KNF dipakai system TNM menurut AJCC, yaitu:

dalam : Brennan, B. Nasopharyngeal Carcinoma, in : Orphanet Journal of Rare Disease. England : 2006.

12

dalam : Brennan, B. Nasopharyngeal Carcinoma, in : Orphanet Journal of Rare Disease. England : 2006.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pasien, dengan gejala dan ukuran tumor 6x4x2 cm
dan pemeriksaan fisik yang ada, maka TNM pada pasien ini adalah T1, N3, dan Mx. T1
karena pada anamnesis didapatkan keluhan yang paling dirasakan adalah gejala hidung,
sedangkan untuk gejala nervus kranialis belum dirasakan. Sebaiknya untuk mendapatkan
hasil T yang pasti adalah dengan melakukan pemeriksaan CT-Scan, namun pada pasien ini
belum dilakukan. Sedangkan untuk Node, pasien ini berada pada N3 karena dimensi umor
ini sudah mencapai ukuran 6 cm. Karena pasien ini belum dilakukan pemeriksaan foto
Rontgen thorax PA, USG abdomen, dan bone scintigrafi maka metastasis pada pasien ini
belm diketahui sudah sampai sejauh mana, sehingga penilaiannya adalah Mx.
Stadium pasien ini sendiri belum bisa dipastikan, karena belum lengkapnya
pemeriksaan penunjang pada pasien ini. Namun jika dilihat dari ukuran tumor pada kelenjar
getah bening, pasien ini dapat dimasukkan ke dalam KNF stadium IV. Idealnya
pemeriksaan penunjang dilengkapi dahulu untuk mengetahui stadium pasti pada pasien ini,

13

Penatalaksanaan KNF sendiri disesuaikan dengan stadium KNF yang diderita oleh
pasien tersebut, yaitu :

Stadium I
Stadium II & III
Stadium IV dengan N <6cm
Stadium IV dengan N >6cm

: Radioterapi
: Kemoradiasi
: Kemoradiasi
: kemoterapi dosis penuh (kemoterapi

neoadjuvant) dilanjutkan dengan kemoradiasi.9


Respon KNF terhadap radioterapi dan kemoterapi lebih bak dibandingkan dengan
kanker kepala dan leher jenis lainnya. Radioterapi saja (tanpa bersamaan dengan
kemoterapi) adalah terapi lini pertama untuk KNF stadium I, tanpa adanya pembesaran
KGB, dengan angka bertahan hidup selama 10 tahun mencapai 98 %. Dosis radiasi yang
biasa digunakan adalah 64-78 Gy untuk tumor primer dan 50-74 Gy untuk kelenjar getah
bening regional yang terkena. 5,11
Sedangkan untuk KNF stadium II, III, dan IV dengan nodul <5 cm, standart terapi
yang dilakukan adalah kombinasi radioterapi dan kemoterapi (Kemoradiasi).

Sediaan

kemoterapi untuk KNF antara lain adalah Cisplatin (DDP) dan 5-fluoruracil (5-FU).
Sedangkn untuk neoadjuvant kemoterapi ditambahkan Taxanes. Sedangkan pasien dengan
pembesaran KGB > 6cm neoadjuvant kemoterapi adalah cara yang paling efektif untuk
mengontrol metastasis yang subklinis dan merupakan cara terbaik untuk mengurangi
kecepatan metastasis, sehingga meningkatkan angka harapan hidup. Selain itu pada pasien
dengan ukuraan tumor yang sangat besar atau tumor yang sangat dekat dengan jaringan
normal contohnya batang otak, biasanya sangat sulit dilakukan radioterapi langsung dan
dengan dosis radiasi penuh karena selalu akan mengenai jaringan yang normal. Oleh karena

14

itu perlu diberikan neoadjuvant kemoterapi dulu sebelum dilakukan radioterapi dengan
harapan ukuran tumor dapat mengecil sehingga akan lebih memudahkan dalam melakukan
radioterapi. 5
Pilihan terapi yang tepat untuk pasien ini belum bisa diputuskan, karena hasil
pemeriksaan histopatologi biopsi belum ada. Selain itu pemeriksaan penunjang lainnya
untuk menentukan apakah ada metastasis ke organ lain juga belum dilakukan. Sehingga
sebaiknya direncanakan untuk dilakukan tindakan foto Rontgen Thorax PA dan USG
Abdomen untuk mengetahui adakah metastasis ke organ paru dan organ-organ abdomen.
Jika hasil pemeriksaan tersebut sudah lengkap, maka baru bisa direncanakan terapi apa
yang tepat untuk pasien tersebut.
Tidak seperti keganasan kepala leher yang lainnya, KNF mempunyai risiko
terjadiny rekurensi, dan follow up jangka panjang diperlukan. Kekambuhan sering terjadi
kurang dari 5 tahun, 5-15 % kekambuhan terjadi antara 5-10 tahun. Sehingga KNF perlu di
follow up setidaknya 10 tahun setelah terapi.9
KESIMPULAN
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis sementara pasien F adalah suspek
Karsinoma Nasofaring (KNF). Untuk menegakkan diagnosis diperlukan beberapa
pemeriksaan penunjang antara lain CT-scan/MRI, imun serologi, biopsi nasofaring dan foto
Thorax PA dan USG abdomen. Penatalaksanaan yang akan diberikan pada pasien ini juga
menanti hasil dari pemeriksaan penunjang. Karena pilihan terapi pada KNF disesuaikan

15

dengan stadium KNF yang diderita pasien tersebut. Prognosis KNF sendiri dipengaruhi
dari stadium dan metastasis dari penyakit tersebut.

16

Daftar Pustaka

1. Kentjono, WA. Karsinoma Nasofaring : Etiologi, Diagnosis, Deteksi Dini, Terapis dan
Pencegahan, Dalam: Kumpulan Makalah Seminar Penatalaksanaan Terkini Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher. Jombang: PERHATI-KL.
2013
2. Zhou, X, et al. The Progress on Genetik Analysis of Nasopharyngeal Carcinoma. 2007.
3. Hutajulu, SH et al. Epigenetik Marker for Early Detetion of Nasopharyngeal Carcinoma
in a High Risk Population. 2011.
4. Brennan, B. Nasopharyngeal Carcinoma, in : Orphanet Journal of Rare Disease.
England : 2006.
5. Guigay, J et al. Nasopharyngeal Carcinoma and Therapeutic Management: The Place of
Chemotherapy, in : Annals of Onchology 17(supplement 10): x304-x307, 2006.
6. Kong, L et al. Neoadjuvant Chemotherapy Followed by Concurrent Chemoradiation for
Lokally Advance Nasopharyngeal Carcinoma, in : Chinese Journal of Cancer. 2009.
7. Wang, J et al. Failure Patterns and Survival in Patient with Nasopharyngeal Carcinoma
Treated with Intensity Modulated Radiation in Northwest Cina: a Pilot Study. BioMed
Central : 2012.
8. Gullo, C; Low, WK; Teoh, G. Association of Epstein-Barr Virus with Nasopharyngeal
Carcinoma and Current Status o Development of Cancer-derived Cell Lines, in : Annals
Academy of Medicine Vol 37 No.9 P:769-775. 2008.
9. Roezin, A; Adham, M. Karsinoma Nasofaring, dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher FKUI Hal : 182-187. Jakarta: 2010.
10. Goh, J; Lim K. Imaging of Nasopharyngeal Carcinoma, in : Annals Academy of
Medicine vol. 38. 2008 p: 809-816.

17

11. Ma, J et al. The Results and Prognosis of Different Treatment Modalities for Solitary

Metastastatic Lung Tumor from Nasopharyngeal Carinoma : a Retrospective Study of


105 cases, in : Chinese Journal of Cancer vol. 29. 2009 p :787-795.

18

Anda mungkin juga menyukai