LAPORAN KETUA UMUM

PENGURUS PUSAT GP FARMASI INDONESIA
PERIODE KEPENGURUSAN : OKTOBER 2011 – OKTOBER 2016
DI BANDUNG – JAWA BARAT

I.
II.
III.
IV.
V.
VI.

VII.

Butir – butir Utama Pembahasan :
Issue Strategis Utama yang Dihadapi GPFI ;
Nawa Cita, terutama Cita ke 5, 6, 7 dan Aspek Keterkaitan terhadap Usaha
Farmasi ;
Road Map : Short Version sebagai usulan Kebijakan ;
INPRES Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri
Farmasi dan Alat Kesehatan
Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UU-JPH) ;
Hal-hal Lain yang Disampaikan dalam Penjelasan Berikutnya menyangkut :
a. yang sifatnya strategis teknis dan unsur kompleksitas yang dihadapi ;
b. termasuk Hasil-hasil Rakernas Bidang Industri dan Bidang Distribusi,
serta Uraian Bidang Apotek dan Toko obat.
Penutup

1

I

Issue Strategis Utama yang Dihadapi GPFI :
- JKN
- Inovasi
- MEA
GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

Issue Strategis yang Dihadapi GP Farmasi Indonesia

JKN
Jaminan Kesehatan
Nasional
 Faskes
 Obat / Alkes
 Harga / Biaya

II

Yankes

MEA
inovasi
Daya Saing
jangka panjang
- BBO
- SD M
- Roadmap

Masyarakat
Ekonomi ASEAN
 Dominasi pasar domestik
 Kemampuan penetrasi
pasar regional

Nawa Cita, terutama Cita ke 5, 6, 7 dan Aspek Keterkaitan terhadap Usaha
Farmasi
GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

2

Road Map

III
III. 1. Proses
GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

III. 2. Short Version sebagai Usulan Kebijakan
GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

3

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

Potensi Industri Farmasi Indonesia
Total Health Expenditure as % of GDP
(2013)
Australia

9,2%

China

5,6%

Japan

9,3%

India

4,0%

Indonesia

2,7%

Thailand

4,1%

South Korea

7,7%

Singapore

4,9%

Malaysia
0,0%

3,8%
2,0%

4,0%

6,0%

8,0%

10,0%

Sumber: Pharmaceutical & Healthcare Countries Report Q2 2014, Business Monitor International;
IMS Asia Pacific Insight, 2013

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

4

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

Transformasi Industri Farmasi Indonesia
KONDISI SAAT INI
Impor (API/ Active pharmaceutical
ingredients & Eksipien)

Formulasi

Manufaktur

Distribusi

Formulasi

Manufaktur

Distribusi dan
Ekspor

MASA DEPAN

R&D

UJI
KLINIS

Intermediate

API

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

PILAR MENUJU VISI INDUSTRI FARMASI 2025

INDUSTRI FARMASI INDONESIA SEBAGAI INDUSTRI STRATEGIS NASIONAL
VISI

1. MENJADI 15 BESAR KEKUATAN UTAMA INDUSTRI FARMASI DUNIA PADA 2025 DENGAN
NILAI PASAR Rp. 700 T

MISI

1. Memenuhi kebutuhan pasar obat dan pengobatan, termasuk kebutuhan JKN dan KIS
2. Meningkatkan devisa, dengan meningkatkan ekspor dan substiitusi impor.
3. Untuk menguasai teknologi farmasi, termasuk R&D memaksimalkan potensi
JKN & KIS:
Ketersediaan, Keterjangkauan, Akses

Bio-Pharma

Peningkatan ekspor & substitusi impor:
Meningkatkan devisa

Vaccines

Natural

Skala Ekonomi
Pasokan Bahan Baku

Chem-API

Regulasi dan Insentif

Dukungan Investasi
Kualitas dan Kuantitas SDM

Penguasaan Teknologi

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

5

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

TIMELINE ROADMAP INDUSTRI FARMASI INDONESIA

OUTPUT TARGET

• Mendukung kebijakan
JKN dan KIS
• Meningkatkan
kapasitas produksi
untuk memenuhi
permintaan farmasi.
• Menginisiasi produksi
bahan baku obat/ API
(Active pharmaceutical
ingredients)
• Membentuk forum ABGC
• Menginisiasi integrasi
ekspor.
• Menginisiasi peningkatan
kualitas SDM ABG
• Penelitian independen
pada produk biotech &
natural.

• Kolaborasi & konsorsium Industri
Farmasi (bisa dipimpin oleh BUMN)
dalam meneliti dan produksi
biotech, natural, & API product
• Mendirikan fasilitas produksi dan
riset.
• Menginisiasi riset bersama pada
biotech & natural product
• Membangun plant-tissue culture,
ekstraksi, standarisasi, dan uji coba
klinis untuk farmasi herbal.
• Implementasi integrasi ekspor
• Implementasi peningkatan kualitas
SDM ABG
• Penelitian independen pada produk
biotech & natural.

2015

• Penelitian independen
pada produk biotech &
natural.
• Integrasi hulu dan hilir
industri farmasi natural.
• Komersialisasi biotech &
natural API
• Penguatan ekspor untk
produk biotech & natural
• Inisasi ekspor API
• Scientist Pooling Program

2021 – 2025

2016 - 2020

Pemetaan Sumberdaya

Transfer teknologi *)

Penguasaan teknologi *)

* Jangka waktu time line 5 tahun karena terdapat berbagai macam API dan tergantung pada kesiapan SDM,
dana, serta infrastruktur industri masing-masing API.

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

SKENARIO PENYEDIAAN, R&D, DAN PRODUKSI API
(Active Pharmaceutical Ingredients)
PERIODE
API
2015-2018

BIOPHARMA
-CEUTICALS

VACCINE

NATURAL



EPO (Erythropoetin)
GCSF (Granulocyte Colony Stimulating
Factor)
Probiotic
Insulin (utk diabetes)
Stem cell protein (Wound care and
cosmetics)
Somatropin
EGF (Epidermal Growth Factor)
Enoxaparin (pengencer darah)




Dengue (Demam Berdarah)
MR (Measles Rubella)
HB (Hepatitis-B)
Hexavalent (dimulai)




Sabin IPV (Inactivated Polio Vaccine)
Rotavirus (dimulai)
Typhoid Vi-Conj
Rabies (dimulai)


Dehidro-di-Isoeugenol (Ekstrak Biji Pala)
Curcumin (terkadung dlm temulawak utk
liver)
Gingerol (komponen kimia dalam jahe)
Phylantin (ekstrak daun meniran)
Piperin (ekstraksi lada hitam)
Steviosid (pemanis non kalori)
Xanthorhizol (komponen minyak atsiri khas
temulawak)
Zederone








2019-2022




















2023-2025

Blood Fractionation (Albumin,
imunoglobulin, Faktor VIII, Faktor IX)
Growth Hormone (hormon
pertumbuhan)
Interferon (pelindung tubuh dari
berbagai virus)
Trastuzumab (antibodi monoklonal
yang dirancang untuk bekerja pada
target HER2 positive breast cancer)
Insulin
MAB (oncology): Rituximab,
Bevacizumab


MAB (Monoclonal Anti Body)
Insulin analogue

DTaP (Diphteri, Tetanus, acellular
Pertussis)
Hexavalent
MenACWY
New OPV type 2 (for stockpile)
Pneumococcal (vaksin pneumoni)
Rotavirus
Rabies


HPV (Human Papiloma Virus)
New TB Recombinant

Glucosamin (utk persendian dproduksi
dlm tubuh atau diekstrak melalui kulit
kepiting atau udang)
Omega-3
Resveratrol (anti oksidan alami)
Vinca alkaloid derivates
Isolat gandarusa (kontrasepsi pria dan
wanita)
Isolat alga coklat (wound care)
Isolat mikroba simbion karang laut
(antibiotik)
Isolat Guazuma longifolia


Andrographolide (anti malaria)
Etil-p-metoksi Sinamat (hasil isolasi
rimpang kencur utk pelindung kulit)
Ekstrak cacing tanah (thrombolisis)

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

6

SKENARIO PENYEDIAAN, R&D, DAN PRODUKSI API
(Active Pharmaceutical Ingredients)
PERIODE

API

NATURAL

CHEMICALS

2015-2018











2019-2022

2023-2025

Ekstrak sambung nyawa (antihiperkolesterolemia)
Ekstrak temulawak (antihiperkolesterolemia)
Ekstrak seledri (antihipertensi)
Ekstrak kumis kucing (antihipertensi)
Palm sugar
Ekstrak Cinnamomum burmanii
Fitoestrogen (Trigonella foenum-graceum)
Dermifix Wound Healing (Centella asiatica)
Ekstrak phaleria macrocarpa,
Ekstrak lumbricus rubellus,
Ekstrak zinginer officinale,
Ekstrak lagoerstroia speciosa.

• Statin derivates (menurunkan kadar kolesterol:
Simvastatin, Atorvastatin, rosuvastatin)
• Pantoprazole
• Clopidogrel
• ARV (Entecavir, Tenofovir)
• Beta-Lactam
(Amoxycillin)
• Pharma Salt (garam farmasi)
(NaCl pharma-grade)
• Dextrose pharma-grade
• Lyophilisation substances
• Pen-V
• Pen-G
• Magnesium stearate
• Paracetamol

• Ascorbic Acid (vit. C)
• Cephalosporin (7 –
ACA)
• 7-AVCA
• 7-ACCA
• 7-ADCA
• ARV (Entecavir,
Tenofovir)

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI FARMASI
DI BEBERAPA NEGARA
NEGARA
Tiongkok

KEBIJAKAN


India




Korea Selatan



Salah satu dukungan yang diberikan pemerintah adalah pemberian subsidi dalam bentuk
pajak, suplai energi, dan penyediaan lahan industri/infrastruktur.
Jika sudah kompetitif, pelan-pelan subsidi akan dicabut oleh pemerintah. Hal ini untuk
mengurangi ketergantungan dan menjadikan industri lebih kuat dan bisa menjalankan
usahanya sendiri.
Prinsipnya, Dipermudah ditahap awalnya, kemudian dilepas perlahan hingga bisa berdiri
sendiri di bawah naungan unit usahanya.

Dikeluarkannya UU Paten di tahun 1970 (Paten Act).
Undang undang tersebut dimaksudkan untuk melepaskan ketergantungan India terhadap
barang impor. Menurut Paten Act, hak paten dilarang untuk obat-obatan, produksi pertanian,
dan energi atom.
Dukungan negara ini memungkin perusahaan farmasi lokal mengembangkan ketrampilan
rekayasa dan riset di bidang medis.
Perkembangan pabrik bahan baku obat meningkat luar biasa sehingga India dikenal sebagai
eksportir bahan baku obat berharga murah.

Didukung anggaran khusus baik dari pemerintah, swasta, dan industri, serta komitmen
deregulasi.
Korea Selatan juga menyiapkan beberapa cluster industri yang dikhususkan untuk industri
biopharmaceuticals.
Hasilnya, industri farmasi Korsel mencapai output US$ 19,3 milyar.

7

Rekomendasi Roadmap Industri Farmasi (1)
Memperkuat Struktur Industri Farmasi
• Kolaborasi industri farmasi (untuk R&D)
• Kolaborasi industri-akademisi-pemerintahkomunitas (Forum ABGC)
• Ketersediaan & kontinyuitas bahan awal dan bahan
penunjang lainnya
• Penyiapan kluster industri dan infrastruktur
• Peran Kemenkes, Kemenperin, Kemendag untuk
membina-mendukung industri farmasi
PIC: Kemenkes, Kemenperin, Kemendag, Kementan

Pengembangan Investasi
• Promosi investasi untuk industri farmasi
• Penyiapan infrastruktur dan peraturan untuk menarik dan
mempermudah investasi
• Evaluasi peraturan yang berpotensi menghambat investasi
(misalnya terkait fraksinasi darah, JPH)
• Penyediaan lahan/kluster industri dan infrastuktur
• Pengembangan industri penunjang (bahan kimia dasar,
budi daya tanaman / plant-tissue culture, dll)
PIC: Kemenkes, Kemenperin, Kementan, Kemenkeu, BPOM, BPKM

Rekomendasi Roadmap Industri Farmasi (2)
Insentif Fiskal, Pembiayaan



Harmonisasi tarif impor
Pembatasan kuota impor
Insentif pajak dan bea-masuk
Kemudahan akses pembiayaan, baik dalam & luar negeri)

PIC: Kemenperin, Kemenkeu, OJK

Teknologi dan Sumber Daya Manusia
• Pendanaan untuk penelitian dan start-up industry bahan
baku obat
• Mendorong transfer teknologi kefarmasian
• Memperkuat joint-research, baik dengan universitas
ataupun lembaga riset lainnya
• Memperjelas proses, timeline, dan screening paten
• Dukungan pengembangan SDM sesuai kebutuhan industri
farmasi
• Program pemanggilan kembali ilmuwan asal Indonesia
• Pembangunan pusat uji klinik dan CRO
PIC: Kemenkes, Kemenperin, Kemenristek-dikti, Kemenkumham, Kementan,
Kemenkeu, BPOM, BPPT, LIPI,

8

Rekomendasi Roadmap Industri Farmasi (3)
Pengawasan



Peredaran bahan baku obat (API), bahan penunjang, dan obat illegal
Pengendalian impor obat, khususnya suplemen dan produk herbal
HAKI
Peredaran obat melalui jalur non-konvensional, misalnya MLM dan on-line
shopping
• Implementasi peraturan yang mewajibkan industri farmasi asing
mendirikan industri berbasis riset di Indonesia
PIC: Kemenkes, Kemenperin, Kemendag, Kemenkumham, Kemenkeu, BPOM

Jaminan Penggunaan Hasil Produksi Industri
• Penggunaan untuk JKN melalui skema long-purchase
agreement
• Persyaratan bahan baku lokal untuk program pengadaan
obat pemerintah
• Pengendalian (buka-tutup) impor bahan baku obat
• Promosi ekspor dan menghilangkan hambatan ekspor
• Edukasi, pendampingan, prioritisasi oleh regulator untuk
perijinan dan registrasi produk
PIC: Kemenkes, Kemenperin, Kemendag, BPOM

Rekomendasi Roadmap Industri Farmasi (4)
Penunjang Lainnya
• Pendirian Biofarma Life Science Industry (BLSI) :
• Animal Laboratory Center (BSL 3)
• Research Center
• Manufacturing
• Bio-conservation
• Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk lahan Jasinga
merupakan prerequisite pendirian BLSI
• Menyiapkan industri ADS (Auto Distract Syringe), cartridge,
prefilled syringe
• Menyiapkan infrastruktur cold chain
PIC: Kemenkes, Kemenperin, KBUMN, Kemenkeu

9

REKOMENDASI (1)
Instansi/Badan

PROGRAM

Kemenkes

• Menyusun road map industri Farmasi.
• Membentukan forum ABGC untuk industri farmasi.
• Merumuskan kebijakan yang mendorong transfer teknologi atau lisensi terutama
atas produk impor dengan kebutuhan tinggi atau penyakit menular maksimal 510 tahun setelah perolehan izin edar.
• Berkoordinasi dgn instansi terkait menyiapkan infrastruktur dan peraturan yang
diperlukan untuk mengembangkan industri API (guideline,prosedur perijinan,
toll-manufacture, penyederhanaan aturan, mereview peraturan yang tidak proindustri farmasi, dll)
• Penyusunan peraturan sebagai juknis PP No. 7 tahun 2011 tentang Pelayanan
Darah meliputi pendirian industri fraksionasi, bahan baku dan penunjang,
standar mutu dan kemanan, distribusi serta Material Transfer Agreement
• Merumuskan strategi mekanisme konsorsium dan pendanaan penelitian bahan
baku obat
• Menyiapkan cluster R&D dan industri untuk farmasi (kemenristekdikti dan
kemenkes)
• Membangun pusat uji preklinik dan klinik.
• Memfasilitasi pembentukan inkubator bisnis berbasis penelitian dan innovasi
termasuk bantuan pendanaan.
• Program memanggil kembali ilmuwan bio-farmasi Indonesia yang ada di luar
negeri (kemenkes)

Kemenperin

• Membangun industri pendukung API baik kimia dasar, intermediates, maupun
solvent, katalis dll.
• Menyiapkan lahan pabrik, fasilitas pendukung dan ketersediaan pasokan energi.

REKOMENDASI (2)
ISU KEBIJAKAN

PROGRAM

Kemendag

• Harmonisasi tarif dan kuota impor terutama untuk produk obat jadi yg sudah
diproduksi dalam negeri.
• Pengawasan impor khususnya produk supplement serta produk herbal
• Melindungi industri bahan baku obat dalam negeri dan produk obat jadi dari
lonjakan import, dumping atau subsidi dari luar negeri dan melakukan pembelaan
dalam rangka mengamankan akses pasar.
• Meningkatkan promosi produk farmasi nasional di dalam dan luar negeri.
• Berkoordinasi dgn instansi terkait untuk menghilangkan hambatan ekspor
khususnya yg terkait dgn hambatan non tarif.
 Berkoordinasi dgn instansi terkait menyediakan infrastruktur cold chain.
• Meningkatkan pengawasan API, bahan intermediate, eksipien dan produk jadi
tidak dilengkapi dokumen pendukung (COA, COO, atau shipping document) serta
diduga palsu.

Kemristekdikti


BPOM



Pengembangan kualitas SDM untuk R&D dan manufaktur, termasuk pemberian
beasiswa bagi para periset yang berpotensi memberikan karya invensi dengan
tingkat novelity tinggi dan bisa diterapkan skala industri.
Memperkuat joint research bersama instansi terkait dan pelaku industri
Merumuskan guideline dan standar pengembangan bahan baku obat yang
menjamin keamanan dan efektifitas tetapi juga memungkinkan industri farmasi
nasional berkembang khususnya untuk biofarmasi dan herbal.
Mempercepat proses evaluasi dan perijinan baik untuk fasilitas produksi maupun
ijin edar.
Pendampingan dan bimbingan dari regulator dalam upaya pemenuhan
kebutuhan dokumentasi dan kelengkapan pendaftaran hasil produk.
Pengawasan peredaran obat melalui channel non-konvensional.

10

REKOMENDASI (3)
ISU KEBIJAKAN
Kemenkeu

PROGRAM


Bappenas/LKPP


HAKI

Tax incentive terutama untuk start up industry API
Kemudahan akses fasilitas pembiayaan dari dalam dan luar negeri
(pemerintah negara lain atau NGO)
Kebijakan fiskal yang mendukung tumbuh dan berkembangnya industri
bahan baku obat (temporary tax relief) misalnya: tax free untuk bahan
awal, intermediate dan katalisator, pajak hanya PPN, pajak progresif untuk
bahan baku impor, tax deductible.
Kebijakan fiskal yang mendukung penyerapan dan penggunaan bahan
baku obat dalam negeri dan mendukung daya saingnya.
Implementasi PP 35/2007 untuk industri berbasis riset dalam bentuk
double tax deduction.
Persyaratan kandungan bahan baku lokal sebagai prioritas utama
pengadaan untuk program pemerintah.
Jaminan penggunaan bahan baku obat produksi dalam negeri dalam
tender JKN.

Memperjelas proses, timeline paten dan screening paten, penelusuran atas
paten yang lebih mudah dan terpercaya, termasuk paten yang belum
didaftarkan di Indonesia (HAKI)

REKOMENDASI (4)
ISU KEBIJAKAN
Kementan

PROGRAM





BKPM


KBUMN


Melakukan pengembangan pemberdayaan petani untuk mengakses ke
berbagai kemudahan yg diperlukan (teknologi, pemodalan, pasar,
kemitraan, sumber benih dll)
Mendorong budi daya tanaman obat.
Memfasilitasi penyediaan benih/bibit tanaman obat
Melakukan penyuluhan secara efektif dan efisien dalam rangka
pengembangan tanaman obatyg baik dan menghasilkan tanaman obat yg
bermutu dan terstandar.
Membangun plant-tissue culture.

Menyusun kebijakan agar investasi asing di bidang farmasi berbasis riset
dan dikaitkan dgn transfer teknologi serta menjadi basis produksi untuk
kawasan Asia tenggara.
Promosi potensi bahan baku obat Indonesia untuk menarik investor
mendirikan industri API
Kolaborasi dan konsorsium industri farmasi (mendukung industri yang
kecil-kecil) pihak BUMN sebagai leader.
Pendirian Biofarma Life Science Industry (BLSI) :
Animal Laboratory Center (BSL 3)
Research Center
Manufacturing
Bio Conservation
Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk lahan Jasinga merupakan
prerequisite pendirian BLSI

11

SKENARIO PENYEDIAAN, R&D, DAN PRODUKSI API (Active
pharmaceutical ingredients)
PERIODE

API
2015-2018

BIOPHARMA
-CEUTICALS






VACCINE

EPO (Erythropoetin)  Kalbe Farma,
Daewoong Infion, Combiphar
GCSF (Granulocyte Colony Stimulating
Factor)  Kalbe Farma
Probiotic  Dexa Medica
Insulin (utk diabetes)
Stem cell protein (Wound care and
cosmetics)  Phapros
Somatropin  Daewoong Infion
EGF (Epidermal Growth Factor) 
Daewoong Infion
Enoxaparin (pengencer darah)  Metiska
Farma




Dengue (Demam Berdarah)  Bio Farma
MR (Measles Rubella)  Bio Farma
HB (Hepatitis-B)  Bio Farma
Hexavalent (dimulai)  Bio Farma

Sabin IPV (Inactivated Polio Vaccine) 
Bio Farma
Rotavirus (dimulai)  Bio Farma
Typhoid Vi-Conj  Bio Farma
Rabies (dimulai)  Bio Farma







NATURAL

2019-2022



Dehidro-di-Isoeugenol (Ekstrak Biji Pala)
 Kimia Farma
Curcumin (terkadung dlm temulawak utk
liver)
Gingerol (komponen kimia dalam jahe)
Phylantin (ekstrak daun meniran)  Dexa
Medica
Piperin (ekstraksi lada hitam)  Kimia
Farma
Steviosid (pemanis non kalori)  Kimia
Farma
Xanthorhizol (komponen minyak atsiri khas
temulawak)  Kimia Farma
Zederone



















2023-2025

Blood Fractionation (Albumin,
imunoglobulin, Faktor VIII, Faktor IX)
 Kimia Farma
Growth Hormone (hormon
pertumbuhan)
Interferon (pelindung tubuh dari
berbagai virus)
Trastuzumab (antibodi monoklonal
yang dirancang untuk bekerja pada
target HER2 positive breast cancer) 
Bio Farma
Insulin  Kalbe Farma
MAB (oncology)  Combiphar;
Rituximab, Bevacizumab  Kalbe
Farma


MAB (Monoclonal Anti Body)
Insulin analogue  Phapros

DTaP (Diphteri, Tetanus, acellular
Pertussis)  Bio Farma
Hexavalent  Bio Farma
MenACWY  Bio Farma
New OPV type 2 (for stockpile)  Bio
Farma
Pneumococcal (vaksin pneumoni) 
Bio Farma
Rotavirus
 Bio Farma
Rabies  Bio Farma

HPV (Human Papiloma Virus)  Bio
Farma
New TB Recombinant  Bio Farma

Glucosamin (utk persendian dproduksi
dlm tubuh atau diekstrak melalui kulit
kepiting atau udang)
Omega-3  Kalbe Farma
Resveratrol (anti oksidan alami)
Vinca alkaloid derivates
Isolat gandarusa (kontrasepsi pria dan
wanita)  Phapros
Isolat alga coklat (wound care) 
Phapros
Isolat mikroba simbion karang laut
(antibiotik)  Phapros
Isolat Guazuma longifolia  Phapros


Andrographolide (anti malaria)
Etil-p-metoksi Sinamat (hasil isolasi
rimpang kencur utk pelindung kulit)
Ekstrak cacing tanah (thrombolisis)
 Phapros

SKENARIO PENYEDIAAN, R&D, DAN PRODUKSI API
API

NATURAL

CHEMICALS

PERIODE
2015-2018

2019-2022

• Ekstrak sambung nyawa (antihiperkolesterolemia)
 Phapros
• Ekstrak temulawak (antihiperkolesterolemia) 
Phapros
• Ekstrak seledri (antihipertensi)  Phapros
• Ekstrak kumis kucing (antihipertensi)  Phapros
• Palm sugar  Phapros
• Ekstrak Cinnamomum burmanii  Phapros, Dexa
• Fitoestrogen (Trigonella foenum-graceum) 
Indofarma
• Dermifix Wound Healing (Centella asiatica) 
Indofarma
• Ekstrak phaleria macrocarpa  Dexa
• Ekstrak lumbricus rubellus  Dexa
• Ekstrak zinginer officinale  Dexa
• Ekstrak lagoerstroia speciosa  Dexa

• Statin derivates (menurunkan kadar kolesterol:
Simvastatin, Atorvastatin, rosuvastatin)
 Kimia Farma
• Pantoprazole  Kimia Farma
• Clopidogrel  Kimia Farma
• ARV (Entecavir, Tenofovir)  Kimia Farma
• Beta-Lactam
(Amoxycillin)  Mersi Farma
• Pharma Salt (garam farmasi)
(NaCl pharma-grade)  Kimia Farma
• Dextrose pharma-grade  Kimia Farma
• Lyophilisation substances  Phapros
• Pen-V  Indofarma
• Pen-G  Indofarma
• Magnesium stearate  Indofarma
• Paracetamol  Riasima Abadi Farma

12

• Ascorbic Acid (vit. C)
 Kimia Farma
• Cephalosporin (7 –
ACA)  Kimia Farma
dan Indofarma
• 7-AVCA  Indofarma
• 7-ACCA  Indofarma
• 7-ADCA  Indofarma
• ARV (Entecavir,
Tenofovir)  Kimia
Farma)

2023-2025

IV

INPRES Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri
Farmasi dan Alat Kesehatan
- Melibatkan 9 Kementerian dan 3 Lembaga
Ada di Buku Panduan Munas.

V

Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UU-JPH)
Dalam uraian tersendiri.

VI

Hal-hal Lain yang Disampaikan dalam Penjelasan Berikutnya
Termasuk Hasil-hasil Rakernas Bidang Industri dan Bidang Distribusi,
serta Uraian Bidang Apotek dan Toko obat.

13

KOMPLEKSITAS YANG DIHADAPI




Etika Bisnis
Promosi
Sponsorship
APEC Ethics

Biopharmaceuticals APEC Ethics
 Rapat di Taipei
 Training of Trainer di Kuala Lumpur
 Nanjing Declaration
 Bpk Darodjatun Sanusi mewakili GP Farmasi sebagai
anggota Executive Committee APEC Ethics
 The Mexico City Principles (MCP) sebagai rujukan revisi
Kode Etik Usaha Kefarmasian Indonesia

Promosi, Gratifikasi, KPK
 Beberapa kali pertemuan dengan Kementerian Kesehatan, IDI, KPK
 Narasumber dalam meeting / Seminar IDI, Asosiasi Spesialis & Sub. Spesialis
 Penjelasan kepada Industri Farmasi mengenai Gratifikasi
 Menandatangani Kesepakatan dengan Kemenkes tentang Pengendalian
Gratifikasi di Lingkungan Kemenkes.
Etika Promosi , Sponsorship Issues
 Kode Etik Usaha Farmasi Indonesia disahkan Tahun 2003
 Menghadapi pemberitaan-pemberitaan, hampir di semua media
 Sesuai tuntutan kondisi dan situasi, dilakukan revisi kecil, dengan
memasukkan 3 Pasal mengenai :
- Uji Klinis ;
- Hubungan dengan Pasien ; dan
- Swamedikasi / Obat Bebas.




JKN
Kebijakan LKPP / e-Katalog
BPJS Kesehatan
Binfar

BPJS-Kesehatan , LKPP, DitJen Binfa-Alkes / Faralkes

JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) merupakan
Program Kesehatan yang berlandaskan UU Nomor 40
Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN) dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial ; yang dimulai awal
tahun 2014 dengan masa transisi 5 tahun (sampai tahun 2019).

Industri Farmasi anggota GP Farmasi Indonesia memegang peran utama dalam
penyediaan obat untuk program ini. Pengadaan obat dilakukan melalui mekanisme eKatalog oleh LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) bekerja sama
dengan DitJen Bina Kefarmasian – Alkes / Faralkes.

14

Pengalaman yang diketahui oleh hampir semua Industri dan Pedagang Besar Farmasi;
terutama yang mengikuti e-Katalog :
-

-

Harga terus menurun, diperkirakan sekitar 20-40 % dari sejak tahun 2013/2014 ke
tahun 2015/2016 ;
Pembatalan sepihak dan tanpa penjelasan salah satu tender, mengakibatkan
kerugian yang sangat besar bagi pemenang sebelumnya; ditender ulang dengan
harga yang terus turun ;
Keterlambatan periode tender mengakibatkan kesulitan delivery pada waktu yang
berjalan, menyebabkan kekosongan stok obat di berbagai Faskes ;
Rencana Kebutuhan obat (RKO) yang masih jauh dari ketelitian ;
Sulitnya komunikasi dengan Ketua LKPP ;
Yang terbaru, periode penagihan jauh lebih singkat dibandingkan dengan
kesepakatan kontrak.

MEA



MEA
Persaingan / Hambatan
Country Specific
ACCSQ

 ACCSQ, PIC/S
 ASEAN Country Specific
 APC (ASEAN Pharmaceutical Industry Club)
saat ini diketuai oleh Bpk. Ferry A. Soetikno
sebagai wakil GP Farmasi Indonesia.

BADAN POM
 Menghargai berbagai upaya BPOM dalam
melakukan pembinaan yang berhasil guna.
Permasalahan kegiatan usaha kefarmasian
sangat tergantung kepada kebijakan,
peraturan dan pelaksanaan operasional di
lapangan
 GP Farmasi Indonesia secara terus menerus mengajukan hal-hal prinsip yang
berkaitan dengan arah transformasi di Badan POM dalam arah deregulasi yang
terus menerus dijadikan kebijakan utama Pemerintah yang inti : percepatan,
kemudahan dan penyederhanaan berkaitan dengan perizinan-perizinan antara
lain :
 NIE, termasuk registrasi ulang
 Penilaian / audit terhadap CPOB
 Sanksi-snaksi / tindakan di lapangan
 Penerapan kebijakan yang “business friendly” antara lain membantu
solusi penyelesaian masalah yang sifatnya pembinaan
 Hubungan dengan
Pemerintah
dan Kelembagaan

15

 Meninjau kembali terhadap peraturan yang ada, yang tidak sesuai dengan
semangat deregulasi, termasuk menghentikan dikeluarkannya peraturanperaturan baru.
 Unsur-unsur Industri Farmasi, PBF, Apotek dan Toko Obat dihargai dan
didorong sebagai unit ekonomi nasional, IPTEK yang serasi dengan fungsi
kesehatan dan Sosialnya.
 Mengikutsertakan GP Farmasi Indonesia sebagai komponen penting dan aktif
dalam rencana aksi dan realisasi INPRES Nomor 6 /2016 dan termasuk
kebijakan teknis sebelum dikeluarkan
 Semakin terbukanya komunikasi Unsur Pimpinan BPOM dan jajarannya
menjadi salah satu faktor dalam lebih mensukseskan terhadap kemajuan yang
dicapai selama ini.
Kementerian Kesehatan
Menghargai kebijakan dan sikap Ibu Menkes dalam menghadapi berbagai
persoalan berkaitan dengan obat.
Sikap Menteri Kesehatan yang berpihak kepada solusi yang elegant terhadap
masalah obat / kefarmasian menunjukkan pemahaman yang tepat terhadap
berbagai hal yang dihadapi GP Farmasi Indonesia.
Sikap Menteri Kesehatan yang secara konsisten berpihak kepada Kepentingan
Nasional, sejalan dengan Nawa Cita 5,6,7 dan mensukseskan pelaksanaan INPRES
Nomor 6 Tahun 2016.
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian & Alkes / Faralkes
 Menghargai berbagai kegiatan yang secara intensif mengikut sertakan GP
Farmasi Indonesia sebagai nara sumber strategis terutama terhadap Bahan
Usulan Kebijakan Pengembangan Industri Farmasi Nasional
 Agar terus melibatkan GP Farmasi Indonesia secara aktif dalam Rencana Aksi
pelaksanaan INPRES Nomor 6 Tahun 2016
 Meminta DitJen Faralkes mendorong dilahirkan kebijakan sesuai dengan
INPRES No. 6/2016 dan Nawa Cita 5,6,7 terutama kebijakan penggunaan
produk dalam negeri; baik terhadap industri produk jadi maupun BBO
 Melakukan
berbagai
upaya
peningkatan
pembinaan,
mempermudah/mempercepat perizinan dan membantu hal-hal yang dapat
menjadi hambatan bagi usaha farmasi, antara lain :
 Penyediaan obat untuk JKN melalui e-Katalog
 Rencana Kebutuhan Obat yang terus semakin akurat
 Pelaksanaan tender e-Katalog dan implementasi perjanjian antara supplier /
distributor obat dengan LKPP. Hal ini mengingat peran strategis DitJen
Faralkes sebagai pemegang APBN untuk pengadaan obat

16

 Meninjau kembali, jika perlu, mengubah peraturan yang tidak sesuai dengan
semangat deregulasi.

KADIN
 Berbagai kegiatan KADIN terutama di bawah koordinasi WKU (Wakil Ketua
Umum) Bidang Pendidikan dan Kesehatan
 Mengenai kemungkinan kerja sama Asosiasi-Asosiasi di bawah KADIN untuk
meninjau kembali Pasal-Pasal tertentu UU JPH.
APINDO
 Berbagai kegiatan dalam kaitan Pengupahan, Usulan terkait Outsourcing, RPP
UU JPH
LIPI , BPPT, Kementerian Ristek dan Dikti
 Berbagai kegiatan sebagai narasumber dalam kaitan Ristek, Kerjasama
Lembaga Penelitian dengan Industri.
 Saling bertukar informasi mengenai kegiatan dan hasil-hasil penelitian
 Beberapa diskusi mengenai pelaksanaan PP tentang Insentif Pajak terhadap
Penelitian di Bidang Farmasi
BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional)
 YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)
 YPKK (Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan)
BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal)
 Beberapa kali pertemuan dalam rangka investasi di sektor farmasi, terutama
dikaitkan dengan kemudahan investasi, DNI (Daftar Negatif Investasi) terhadap
Industri Farmasi, Industri BBO yang masuk dalam Deregulasi Paket Kebijakan
Ekonomi X dan XI.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker)
 Disetujuinya Usulan GPFI mengenai klasifikasi pengupahan dalam kaitan
kegiatan inti dan Outsourcing
 Berbagai kegiatan GPFI Daerah mengenai Pengupahan
Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DitJen HAKI – Kemenkumham)
 Berbagai kegiatan kerja sama, antara lain : Seminar, FGD dan Rapat mengenai
berbagai hal, terutama : Revisi UU Paten menjadi UU Paten dengan inti Bolar
Provision dapat dimulai kapan saja 2-5 tahun sebelum masa paten habis
 Tidak disetujui perpanjangan masa hak paten, karena akan menghambat
pengembangan Industri Nasional dan penurunan harga.

17

Hubungan dengan Organisasi Profesi (terutama IAI, IDI, PAFI) , PERSI
 Berbagai pertemuan dengan IDI terutama menyangkut Rancangan Permenkes
(RPMK) mengenai Promosi dan Sponsorship.
 Berbagai kegiatan dengan IAI untuk mendorong kerja sama dalam berbagai
aspek kefarmasian, antara lain : Apotek, Sertifikasi Profesi, LSP.
 Dengan PAFI, dalam kaitan ketersediaan AA/Tenaga Teknis Kefarmasian
 Dengan PERSI ; dalam wadah KADIN, beberapa kali sebagai nara sumber
dalam FGD / Seminar mengenai CoB (Coordination of Benefit)

LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi)
Inisiatif dari dorongan hasil RDPU dg DPR.

 Kompetensi, Daya Saing
Pembentukan LSP

 Melalui Program Kerja sama BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) berupa
Fasilitasi Percepatan Lisensi LSP dari Asosiasi-Asosiasi Usaha Anggota KADIN
 Mengikuti Program Pelatihan Asesor dan Ujian Kompetensi sebagai Pengurus
LSP yang bersertifikat BNSP : Bpk-Bpk: Agus Anwar, Andreas Halim Djamwari,
Ary Gunawan Murtomo, Abdul Muid.
 Dilanjutkan dengan Program Pelatihan yang diikuti peserta dari Calon LSP
Farmasi Indonesia dan telah meluluskan 21 Asesor bersertifikat BNSP
 Dukungan dari Badan POM, Kementerian Perindustrian, DitJen Binfar-Alkes/
Faralkes, Industri Farmasi dan KADIN dalam rangka persyaratan Lisensi LSP.

 Harga
Tekanan terhadap Industri Farmasi mengenai harga, terus berjalan terutama
keinginan masuk dari India dalam bentuk ekspor ke Indonesia. Ini menghambat
pertumbuhan industri farmasi saat ini, tidak sesuai dengan Nawa Cita 5,6,7 dan
INPRES Nomor 6 Tahun 2016.

18

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

Komposisi Penduduk dan Harga Obat
Harga Obat

Perbedaan Harga Obat

32,5%
Non BPJS

Apotik Swasta , Toko
Obat, RS Swasta,
Klinik Swasta

Jenis dan Harga Obat
1. Patent harga mahal karena
masih dilindungi patent
2. Bermerek generik : harga wajar
3. OGB generik : murah = BPJS

Harga Obat BPJS – JKN :
Tender : Harga Murah

67,5% penduduk
JKN –BPJS
(167 juta)
0

Fasiltas RSUD,
Puskesmas, , Apotik
BPJS, RS Swasta

Jumlah Pengguna Obat

1. Majoritas lebih murah
dari India

2. Semua lebih murah dari
Thailand, Malaysia dan
Australia
3. Turun 30 % vs 2014 (vs
pre Kabinet Kerja)

• Program JKN sudah mengcover majoritas (70%) penduduk Indonesia.
• Harga Obat BPJS JKN sudah sangat murah vs India dan negara tetangga
lainnya.
• Kemkes dan Industri Farmasi berhasil menurunkan harga obat.

Harga Obat dan Inpres 6 2016
Jenis dan Harga Obat
1. Patent harga mahal karena
masih dilindungi patent (5-

Harga Obat

10% Volume Unit)
2. Bermerek generik : harga
wajar (25-30% Volume
32,5%
Non BPJS

Unit)
3. OGB generik : murah = BPJS

(60-70% Volume Unit)
67,5% penduduk
JKN –BPJS
(167 juta)
0

*IPA Q3 2015

Jumlah Pengguna Obat

2

GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

Pelaksanaan INPRES No 6 2016
Merumuskan kebijakan yang
mendorong investasi pada sektor
industri farmasi dan alat
kesehatan;
Mempercepat kemandirian dan
pengembangan produksi obat, untuk
pemenuhan kebutuhan dalam
negeri dan ekspor serta
meningkatkan kegiatan
industri/utilisasi kapasitas industri.

Menjamin ketersediaan sediaan
farmasi sebagai upaya
peningkatan pelayanan
kesehatan dalam rangka Jaminan
Kesehatan Nasional;

Paralel strategi untuk mensukseskan NawaCita dan Inpres No 6
2016 : Market berbeda untuk kepentingan berbeda.
3
Mewujudkan iklim investasi dan demokrasi : peningkatan industri

19

Solusi Penurunan Harga Obat dengan Realistis- Non BPJS
Jenis Obat
Paten : Obat yang
secara hukum
masih dilindungi
oleh UU Paten

Potensi kendala
Beberapa produk biotech &
onkologi import yang masih
paten, termasuk yang dibiayai
BPJS

Branded Generik :
Obat Off Patent
diberikan merek

Alternatif Solusi
1. Mempercepat masa off
patent dengan tidak ikut TPP
tentang IPR.
2. Mempercepat izin GMP dan
NIE produk Biotech dan Onko
3. Negosiasi pemerintah
(Kemkes) ke patent holders
Belum semua obat off patent ada 1. Mempercepat dan
obat generiknya
memperbanyak izin produk
branded generik oleh BPOM

OGB : Obat
Generik Berlogo

Jumlah produk OGB masih
sedikit

1. Mempercepat dan
memperbanyak NIE produk
OGB generik oleh BPOM
2. Produksi OGB oleh BUMN
ditingkatkan.
3. Penghargaan untuk OGB`
4. Pengecekan kualitas produk
4
dipasar secara standard PICS
GP Farmasi Indonesia 2011 - 2016

 Hubungan Internasional
Hubungan dengan Jepang
 Cari peluang
 Partnership / network
 Presentasi : Market Farma Indonesia , UU-JPH.
 Tindak lanjut rangkaian Seminar GMP-PIC/S yang belum pernah dilakukan
sebelumnya.
Dengan WHO
 UU JPH
 Penghentian produksi dan peredaran produk tertentu
Dengan Negara-negara OKI
 UU JPH

20

 Undang-Undang Jaminan Produk Halal ( UU – JPH )
UU JPH akan dijelaskan terpisah, di salah satu ruangan yang disediakan oleh OC
dan SC Munas.
UU JPH akan menyebabkan terancamnya ketersediaan obat yang dapat
mengakibatkan berbagai masalah strategis terhadap pelaksanaan : JKN,
Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Imunisasi, KB (Keluarga Berencana) dan
Swamedikasi.
(UU- JPH ; dan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) JPH
- Proaktif sejak status RUU JPH
- Melakukan berbagai rapat, FGD, Seminar, sebagai narasumber, Audiensi dan
laporan dalam Rapat dengan ;
 Menteri Hukum dan HAM ( 2 periode)
 Menteri Kesehatan : Menkes mengirim surat kepada Menteri Agama
agar obat tidak masuk dalam ketentuan UU JPH.
 Menko Bidang Perekonomian (2 periode), Menteri Perindustrian,
Menteri Ristek , Menteri Perdagangan
 Kepala BKPM , Badan POM
 Kepala Staf Presiden
 Mengenai UU JPH, GP Farmasi bekerja sama dengan IPMG, antara lain Surat
Bersama GPFI – IPMG
 RPP saat ini dalam tahap penggodogan
 Sikap GP Farmasi Indonesia: Sertifikasi Halal terhadap Obat, sifatnya sukarela.

 Swamedikasi / Produk-produk OTC
Dalam rangka Jaminan Kesehatan Masyarakat, diperlukan pelayanan kesehatan
yang menjamin adanya obat bebas dengan prinsip harga terjangkau dan tersedia
secara merata. Pada upaya kesehatan mandiri/swamedikasi, industri mematuhi
etika dalam rangka memberikan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) kepada
masyarakat. Pelaksanaan KIE dapat dilakukan melalui kerja sama dengan tenaga
kesehatan maupun media massa yang tersedia, dengan tetap mengedepankan
orientasi penggunaan obat yang bertanggung jawab.
Juga telah disampaikan berbagai hal untuk penerapan kebijakan merelaksasi
peraturan Periklanan yang lebih longgar.
Mengingat produk-produk OTC merupakan prospek yang sangat besar bagi
pengembangan usaha farmasi, telah dilakukan berbagai upaya untuk mendorong
21

adanya kebijakan yang membuka peluang distribusi yang lebih luas, sehingga
membangkitkan ekonomi rakyat.
Mencegah pemberlakuan pengaturan formula untuk obat batuk, pilek, analgetik
dan formula-formula lain yang berkaitan dengan Swamedikasi / OTC.
Kita saat ini juga menjadi anggota WSMI (World Self Medication International)
maupun APSMI (Asia Pacific Self Medication Industry), organisasi internasional
yang bergerak di bidang self-medication/ swamedikasi, yang menjadi rujukan bagi
produk-produk OTC maupun produk-produk ethical yang beralih menjadi obat
bebas (diperoleh tanpa resep dokter). Dengan besarnya potensi ekonomi dari
produk OTC yang belum ditangani secara optimal, maka GP Farmasi Indonesia
akan membentuk Bidang Swamedikasi.

 Life Science
Berdasarkan evaluasi dan diskusi dengan DirJen Industri Kimia Dasar, Tekstil dan
Aneka Kementerian Perindustrian, dan informasi yang diterima dari luar,
pembuatan BBO yang berbasis sintesis kimia akan mengalami kesulitan dan
hampir tidak mungkin dilakukan, karena tergantung pada industri kimia dasar dan
petrokimia. Di Indonesia, industri kimia dasar dan petrokimia masih belum mampu
menghasilkan produk bahan baku awal dan pre-intermediate yang diperlukan
untuk proses produksi bahan baku obat.
Berdasarkan skenario, rencana produksi BBO lebih diarahkan pada 3 pilar utama,
yaitu ; Biologicals, Vaccine, Natural.
Biologicals diarahkan dalam tahap awal pada konsep produksi biosimilar dan
teknologi fermentasi enzimatis. Hal ini juga memberikan nilai tambah ekonomi
yang tinggi dan manfaat terhadap kelas terapi yang dibutuhkan.
Pembentukan Bidang Life-Science sesuai dengan arah pengembangan produk ini.

 Dewan Perwakilan Rakyat / DPR
 ProLegNas : Memperjuangkan pembatalan RUU Pengawasan Obat & Pangan
 Sangat penuh dengan sanksi denda dan pidana
 Membuka peluang untuk konsumen menuntut produsen obat tanpa
harus membuktikan kesalahan produsen
 Persyaratan lain.
22

 Komisi IX
 RDPU mengenai berbagai hal, antara lain : kasus bupivacain
 Kompetensi SDM : GP Farmasi Indonesia dalam kerjasama KADIN dan
BNSP membentuk LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi)
 UU JPH
 Komisi VI
 Posisi GPFI terhadap berbagai perjanjian antara :
 ASEAN + Australia, New-Zealand
 ASEAN + Tiongkok
 ASEAN + Korea
 ASEAN + India
 Menjelaskan mengenai UU JPH terhadap Obat

 Audit Keuangan
Audit laporan keuangan telah dilaksanakan oleh Kantor Akuntan Publik Drs.
Bayudi Watu, Ak., sebagaimana yang selama ini ditunjuk sebagai Auditor.

VII

 PENUTUP DAN KESIMPULAN

Yth. Para Utusan Pengurus Provinsi beserta Seluruh Peserta Munas XV,
Demikianlah laporan yang saya sampaikan sesuai dengan mandat yang diberikan
kepada saya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat GP Farmasi Indonesia Periode
2011 – 2016.
1. Dari Buku Panduan Munas yang ada sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari Laporan ini, saya menyampaikan bahwa pembahasan materi di Bidang
Industri, Bidang Distribusi, Bidang Apotek dan Bidang Toko Obat akan sangat
mewarnai pada Program Kerja Kepengurusan Pusat GP Farmasi Indonesia
yang akan datang.
2. Dalam Munas XV Tahun 2016 ini, dilakukan revisi kecil terhadap AD/ART,
terutama dikaitkan dengan tuntutan pengembangan bisnis kefarmasian dan
perlunya fleksibilitas Pimpinan dalam membentuk alat kelengkapan
Organisasi. Demikian juga revisi kecil perihal kedudukan Direktur Eksekutif
yang selain menjadi bagian dari motor penggerak Organisasi, juga memiliki
mekanisme kewenangan yang sesuai. Di samping itu, terhadap Kode Etik
Usaha Kefarmasian yang berlaku sejak tahun 2003, juga akan dilakukan revisi
kecil, terutama menyangkut : Uji Klinis, Hubungan dengan Pasien, dan
23

Swamedikasi / OTC, sesuai dengan arah kebijakan Pemerintah, yang
mengadopsi mekanisme APEC Ethics.
3. Dari program kerja yang disampaikan melalui Buku Panduan Munas sebagai
panduan pembahasan yang berkaitan dengan kegiatan usaha kefarmasian
maupun kegiatan Organisasi, telah dilakukan berbagai upaya oleh Pengurus
Pusat masa bakti 2011 -2016 untuk membawa GP Farmasi Indonesia sesuai
dengan tujuan dan sasaran-sasaran sebagaimana yang kita inginkan. Namun
demikian, saya mengakui hasil yang dicapai, masih jauh dari memuaskan. Hal
ini dikarenakan berbagai kendala berkaitan dengan aktivitas personel yang
duduk di kepengurusan. Dari periode ke periode kepengurusan, hal ini selalu
menjadi catatan terhadap perkembangan yang ada.
4. Dapat saya sampaikan, bahwa rangkaian kegiatan strategis GP Farmasi
Indonesia mempersiapkan Road Map Industri Farmasi yang finalisasinya
bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan / DitJen Binfar dan Kemenko
Bidang Perekonomian, telah mendorong keluarnya Bahan Usulan Kebijakan
Pengembangan Industri Kefarmasian Indonesia, yang selanjutnya dikeluarkan
INPRES Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri
Farmasi dan Alkes.
5. Perkenankan saya menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan terima
kasih kepada segenap Pengurus, baik di tingkat Pusat maupun Daerah, kerja
sama dengan Dewan Penasehat dan Majelis Pembina Kode Etik yang telah
membantu terlaksananya tugas dan tanggung jawab Pengurus Pusat GP
Farmasi Indonesia Periode 2011 – 2016.
Kami menyadari segala kepercayaan yang telah diberikan kepada kami
merupakan kehormatan untuk membawa GP Farmasi Indonesia mewujudkan
hasil-hasil karya nyata yang diharapkan menjadi bahan untuk penyempurnaan
bagi Pengurus periode yang akan datang.
Akhirnya sebagai penutup, dengan tulus saya mengucapkan terima kasih atas
pengertian, kerja sama dan dukungan dari seluruh komponen GP Farmasi
Indonesia dan usaha kefarmasian, baik di tingkat Pusat maupun di Daerah.

Bandung, 25 Oktober 2016
Pengurus Pusat GP Farmasi Indonesia,

Johannes Setijono
Ketua Umum

24

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.