PELAKSANAAN JKN 2014 – 2016 DAN PERUBAHAN

KEBIJAKAN KESEHATAN UNTUK MENUNJANG INPRES
NO. 6 DAN NAWA CITA

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI
Bandung, 24 Oktober 2016

OUTLINE
• Tantangan Pembangunan Nasional
• Jaminan Kesehatan Nasional
• Kesiapan Industri Farmasi dalam
JKN dan Persaingan Global
• Instruksi Presiden No. 6/2016
• Rencana Aksi Pengembangan
Industri Farmasi
• Penutup

TANTANGAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

Pencapaian • ↙ angka kesakitan
MDGs &
• ↙ angka kematian
Post 2015 • ↙ angka kemiskinan

Implementasi • ↗ akses pelayanan
• Pelayanan yang terstruktur
JKN
• Pelayanan yang efisien &
efektif

Derajat
Kesehatan
rakyat
yang
Setinggitingginya

Potensi Bonus Demografi 2030
Bonus demografi
peluang
Demography
Bonusdan
andjendela
Window
of
90Opportunity
80

Bonus Demografi

Demography
Bonus

70

Jendela peluang

Window of
Opportunity

60

Muda

Youth

40
30
20

Lansia

Elderly

10
0
1950
1955
1960
1965
1970
1975
1980
1985
1990
1995
2000
2005
2010
2015
2020
2025
2030
2035
2040
2045
2050

Percentage

50
Persentase

Projection of Population 2010-2035

Projection of Indonesia Population based
on
Population Census 2010

Tahun
Year

Pertumbuhan Ekonomi
DEVELOPMENT OF GDP
(IDR billion)
10.000.000

DEVELOPMENT OF STATE
BUDGET (APBN)

(IDR billion)

2.000.000

8.976.931,5
8.566.271,2
8.156.497,8
7.727.083,4
8.000.000
7.287.635,3
6.864.133,1
7.000.000
9.000.000

1.400.000
1.200.000

4.615.487,0

800.000

3.000.000

600.000

2.000.000

400.000

1.000.000

200.000

2010

2011

2012

2013

2014*) 2015**)

GDP 6.864.

7.287.

7.727.

8.156.

8.566.

8.976.

2016**
*) (Tw I)
4.615.

Source: Publication of National Statistic Agency
(Economic Indicators December 2014 & Economic Indicators July2016)
*): Preliminary figure
**): VeryPreliminary figure

1.311.387
1.104.902

1.000.000 949.656

4.000.000

0

1.529.673

1.600.000

6.000.000
5.000.000

1.737.629
1.793.589
1.667.141 1.786.225

1.800.000

-

201
0

201
1

201
2

201
3

201
4

201
5

201
6

201
7

Government Revenues 949.6 1.104 1.311 1.529 1.667 1.793 1.786 1.737
Source: Ministry of Finance
(Publication of Statistic of Yearbook Indonesia 2015 & Budget Statement
2017)

Transisi Epidemiologi
• Mortality caused by Non-communicable diseases is
increasing
• The trend will probably continue as the changes of
lifestyle (diet with unbalanced nutrition, lack of
physical activity, smoking, etc.)
Causal of Death, 1990-2015

1990

2000

Injury
7%

2010

2015
Injury
9%

Injury
8%

Injury

13%

CD

30
%

CD
CD
56%

NCD
37%

33%

CD
43%

NCD
NCD
49%

58%

Source: Double Burden of Diseases & WHO NCD
Country Profiles (2014)

Note: Measurement of disease burden by the Disability-Adjusted Life
Years (DALYs)  loss of life in year due to illness and premature death

NCD

57%

MANFAAT JAMINAN KESEHATAN
PELAYANAN KESEHATAN BAGI PESERTA : PELAYANAN KESEHATAN RAWAT JALAN
DAN RAWAT INAP, TERMASUK PELAYANAN OBAT DAN BMHP

Rehabilit
atif

Obat
dan
BMHP

Promo
tif

Kuratif

Preventif

DAFTAR DAN HARGA
OBAT YANG DIJAMIN
BPJS, DITETAPKAN
OLEH MENTERI (UU SJSN
PS 25, PERPRES JAMKES
PS 32)

AKSESIBILITAS
KETERJANGKAUAN

PENGGUNAAN
OBAT RASIONAL

PERAN PEMERINTAH DALAM PELAKSANAAN JKN
DI BIDANG OBAT
Pemerintah berkewajiban menjamin ketersediaan, pemerataan dan
keterjangkauan obat
Pembiayaan obat merupakan bagian dari manfaat JKN dan untuk
menjamin keterjangkauan, menggunakan daftar dan harga tertinggi obat
serta BMHP yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan  FORNAS

Pemerintah daerah berwenang merencanakan kebutuhan perbekes
sesuai dengan kebutuhan daerahnya  RKO
- Pengadaan obat
berdasarkan e-Catalogue
bertujuan untuk
meningkatkan transparansi, efisiensi, efektifitas dan akuntabel
- Komitmen penggunaan e-Catalogue akan menjamin ketersediaan dan
pemerataan obat

8

Belanja JKN per Penyakit
Total number of impatient CVD is ranked 4th, however the expenditure is the
highhest (IDR 3.5 Trillion )
Top 10 Hospitalization costs Disease
Claims Year 2014: NHI , total
GASTRAOINTESTINAL
INFECTION

774.276
644.207

DELIVERIES/LABOR
PARACIYE AND INFECTION

448.816

CARDIOVASCULAR DISEASES

448.342

RESPIRATORY DISEASES

401.059

Top 10 Hospitalization costs Disease
Claims Year 2014: IDR Milyar
CARDIOVASCULAIR
DISEASES

3.503,4
3.318,8

GASTRAOINTESTINAL
INFECTION

2.396,7

RESPIRATORY DISEASES

2.341,5

DELIVERIES/LABOR

1.919,4

STROKE

327.132

MUSCULOSCELETAL

1.535,5

WOMEN REPRODUCTIVE

320.777

STROKE

1.509,2
1.440,9

RENAL DISORDERS

274.469

RENAL DISORDERS

MUSCULOSCELETAL

265.645

PARACYTE AND INFECTION

THMT

Source: BPJS of Health, 2014

173.936

WOMEN REPRODUCTIVE

1.214,7
934,7

KONTRIBUSI INDUSTRI FARMASI
mendukung pemerintah dalam pelaksanaan
program kesehatan :
– membantu pelayanan kesehatan yang paripurna
kepada masyarakat
– mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya
saing industri farmasi dalam negeri
– memastikan keterjangkauan (accessible),
keterjangkauan (affordable), ketersediaan
(available), dan kesinambungan (sustainable)

Kesiapan Industri Farmasi
dalam JKN dan Persaingan Global
Pemenuhan Terhadap Standar
(produk dan sarana)

Peningkatan Kapasitas Produksi
Obat yang dibutuhkan

Industri farmasi yang
kuat dan memiliki
keunggulan kompetitif

Partisipasi dalam Program
Pemerintah

Jaminan ketersediaan &

distribusi

Pengembangan
industri farmasi

Mengapa Industri Farmasi Perlu Dikembangkan?





Menekan harga obat, utamanya obat inovasi atau obat baru, dan obat
yang belum ada generiknya.
Mengurangi ketergantungan impor bahan obat dan alat kesehatan
Mendorong pengembangan dan penguasaan teknologi, serta
kompetensi R&D
Mendorong diversifikasi produk farmasi baik untuk kebutuhan
domestik maupun ekspor
Penguatan infrastruktur sosial mengingat obat merupakan barang
yang spesifik
Indonesia memiliki potensi sumber daya (bahan baku dan SDM)
serta peluang ekonomi yang besar
Indonesia merupakan negara pharmerging countries yang memiliki
pertumbuhan ekonomi yang besar (rerata 12% pertahun)
Meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia baik secara lokal
maupun global

Penguatan bidang kefarmasian nasional diperlukan sebagai pengembangan industri
strategis, karena: Obat merupakan komponen yang tidak tergantikan dalam pelayanan
kesehatan, memiliki fungsi sosial dan berguna meningkatkan kualitas kesehatan
masyarakat Indonesia.

RENSTRA KEMENTERIAN KESEHATAN 2015-2019
Sasaran Strategis No 12:
Meningkatkan akses, kemandirian, dan mutu sediaan farmasi dan alat
kesehatan

STRATEGI dan UPAYA yang dilaksanakan:
 Mendorong perusahaan farmasi untuk memproduksi bahan baku dan obat tradisional dan
menggunakannya dalam produksi obat dan obat tradisonal dalam negeri, insentif bagi
percepatan kemandirian nasional.
 Jejaring dan networking pengembangan dan produksi bahan baku obat, obat tradisional
dan alat kesehatan dalam negeri.

Perlunya upaya kemandirian di bidang bahan baku obat dan obat tradisional
Indonesia melalui pemanfaatan keanekaragaman hayati yang tersinkronisasi
harmonis dan didukung aliansi strategis yang komprehensif

Regulasi Kebijakan Ekonomi
Paket XI Tahun 2016

INPRES NO. 6
Tahun 2016

PROGRESS PERCEPATAN PENGEMBANGAN INDUSTRI FARMASI
DAN ALAT KESEHATAN

Inpres No. 6
Tahun 2016
Paket
kebijakan
Ekonomi XI

Rencana Aksi
Percepatan
Penyusunan Roadmap
Industri Farmasi dan
Alat Kesehatan

SATUAN TUGAS PAKET KEBIJAKAN EKONOMI

POKJA I

POKJA II

POKJA III

POKJA IV

KAMPANYE DAN
DISEMINASI
KEBIJAKAN

PERCEPATAN
DAN
PENUNTASAN
REGULASI

EVALUASI DAN
ANALISA
DAMPAK

PENANGANAN
DAN
PENYELESAIAN
KASUS

Instruksi untuk Kemenkes
menyusun dan menetapkan rencana
aksi untuk Pengembangan IF dan
alkes
Memfasilitasi
pengembangan ke arah
biopharmaceuticals, vaksin,
natural dan API kimia

Memprioritaskan
penggunaan produk
dalam negeri melalui ecatalogue

Menyederhanakan system
dan proses perizinan

Mendorong dan
mengembangkan R&D
sediaan farmasi dan alkes
menuju kemandirian IF dan alkes

Mengembangkan sistem
data dan informasi
terintegrasi dari kebutuhan
masyarakat, produksi, distribusi
sampai pelayanan kesehatan serta IF
dan alkes

Melakukan koordinasi
dengan BPJSK untuk
memperluas faskes sesuai
kebutuhan

Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi
dan Alkes (2016 - 2020)
1. Mendorong investasi ke arah BBO, transfer teknologi yang bernilai
tambah, penguasaan teknologi dan inovasi
2. Mempercepat pemanfaatan hasil R&D oleh IF dan alkes
3. Melakukan pemetaan prioritas kebutuhan obat dan alkes dalam
pemenuhan JKN
4. Mempercepat transformasi IF dan alkes melalui percepatan layanan
sepanjang rantai nilai tambah
5. Mempercepat layanan perizinan alkes dalam negeri
6. Mendorong Gerakan Cinta Alat Kesehatan Dalam Negeri
7. Melaksanakan koordinasi dengan KL dalam percepatan
pengembangan IF dan alkes

MENINGKATKAN DAYA SAING FARMASI
Transformasi Industri Farmasi Indonesia
Industri Formulasi menjadi Industri Farmasi Berbasis Riset

Farmalkes, Kemkes

PENUTUP
• Tantangan pembangunan bidang kesehatan di masa
mendatang membutuhkan dukungan dan partisipasi
dari berbagai pihak termasuk industri farmasi.
• Industri farmasi menjadi mitra pemerintah dalam
memberikan pelayanan kesehatan untuk mewujudan
masyarakat yang sehat.
• Pemerintah senantiasa mendorong kemajuan industri
farmasi agar dapat menjadi industri yang unggul dan
menjadi prime mover perekonomian bangsa Indonesia.
• Industri farmasi harus bertransformasi menjadi industri
berbasis riset untuk JKN dan persaingan global.

Terima Kasih
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 Kav 4-9 Jakarta Selatan 12950
Telp. 021-5201590, Fax 027-52964838