Pemanfaatan Nawa Cita dan Inpres nomor 6/2016

Untuk Pengembangan Usaha Farmasi Di Tengah Era JKN-BPJS Kesehatan
Munas GP Farmasi Indonesia
Senin, 24 Oktober 2016

“The Only Thing that is
Constant is CHANGE”
“Hal yang tidak pernah berubah
adalah PERUBAHAN itu sendiri”
Heraclitus

Perubahan Lingkungan Makro Industri Farmasi Indonesia

• 170 juta peserta JKN (Q3
2016)
• Peningkatan volume obat
generik menjadi 8.5 miliar
unit (MAT Q3 2015)
• Penurunan harga obat
generik >20% vs. harga
DPHO
• Persepsi Pemerintah &
masyarakat bahwa harga
obat mahal dan menjadi
penyebab defisit BPJS

• KPK meminta GP Farmasi
dan IDI menandatangani
“Pakta Integritas”
• Kasus gratifikasi Industri
farmasi dimuat di Majalah
Tempo
• OJK meminta perusahaan
terbuka memuat isi etika
bisnis-nya di website
• Kemenkes sedang
menyiapkan Permenkes
“Sponsorship” Industri
Farmasi

• Bergabungnya Indonesia
menjadi negara PIC/s (2014)
• Pembekuan / penghentian
operasi beberapa industri
farmasi dan distributor,
termasuk yang berskala
besar, terkait compliance
• Pembatasan dan
pengawasan peredaran
produk DOT biru
• Pengawasan “halal” produkproduk farmasi tertentu

INPRES 6 TAHUN 2016

Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan

Presiden menginstruksikan kepada 12 Kementerian / Lembaga setara
kementerian untuk mempercepat langkah-langkah sesuai tugas, fungsi, dan
kewenangan masing-masing untuk mendukung percepatan pengembangan
industri farmasi dan alat kesehatan, dengan :
• Menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan sebagai upaya
peningkatan pelayanan kesehatan dalam rangka Jaminan Kesehatan Nasional

• Mendorong penguasaan teknologi dan inovasi dalam bidang farmasi dan alat
kesehatan

• Mempercepat kemandirian dan pengembangan produksi bahan baku obat, obat, dan
alat kesehatan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan ekspor serta
memulihkan dan meningkatan kegiatan industri / utilisasi kapasitas industri

Rencana Induk Pengembangan
Industri Nasional
(PP 15/2015)

NAWA CITA
2014 - 2019

Paket Kebijaksanaan Ekonomi
XI / 2016

Percepatan Pengembangan
Industri Farmasi & Alkes
(Inpres no. 6 /2016)

Industri Farmasi Indonesia sebagai Industri Strategis Nasional
Visi

1. Menjadi Pasar Farmasi 15 Terbesar Dunia tahun 2025, dengan nilai Rp 700 triliun

Misi

1. Memenuhi kebutuhan obat dan pengobatan nasional, termasuk JKN & KIS
2. Berkontribusi pada Devisa negara melalui ekspor dan substitusi impor
3. Menguasai teknologi farmasi terkini, termasuk R&D dan talent pool

JKN & KIS:
Ketersediaan, Keterjangkauan, Kemudahan Akses

Bio-Pharma

Vaccine

Kontribusi Devisa:
Ekspor dan Substitusi Impor

Natural

Chem-API

R&D yang kolaboratif

Alignment forum ABGC

Manufacturing yang berkualitas dan efisien

Infrastruktur yang menunjang industri

Regulasi yang pro pertumbuhan industri

Sumber Daya Manusia yang kompeten

Roadmap Industri Farmasi Indonesia
2015 - 2025

Roadmap Industri Farmasi Indonesia 2015 - 2025

Industri Farmasi Indonesia sebagai Industri Strategis Nasional
Visi

1. Menjadi Pasar Farmasi 15 Terbesar Dunia tahun 2025, dengan nilai Rp 700 triliun

Misi

1. Memenuhi kebutuhan obat dan pengobatan nasional, termasuk JKN & KIS
2. Berkontribusi pada Devisa negara melalui ekspor dan substitusi impor
3. Menguasai teknologi farmasi terkini, termasuk R&D dan talent pool

JKN & KIS:
Ketersediaan, Keterjangkauan, Kemudahan Akses

Bio-Pharma

Vaccine

Kontribusi Devisa:
Ekspor dan Substitusi Impor

Natural

Chem-API

R&D yang kolaboratif

Alignment forum ABGC

Manufacturing yang berkualitas dan efisien

Infrastruktur yang menunjang industri

Regulasi yang pro pertumbuhan industri

Sumber Daya Manusia yang kompeten

Transformasi Industri Farmasi Indonesia
Dari Industri Formulasi ke Industri Farmasi yang Integral

Saat Ini
Impor (API & Eksipien)

Formulasi

Manuf.

Dist.

Formulasi

Manuf.

Dist. &
Export

Masa Depan

R&D

8

Clinical
Trial

Intermediate

API

Membangun HULU Industri Farmasi Indonesia: RISET

Sinergi ABGC

Insentif Pajak

(Double Tax Deduction)

Peraturan & Guideline
Pengembangan

SDM

Riset Farmasi

Pengembangan R&D Farmasi di Negara Lain – KOREA SELATAN

Industrial Clusters
• Daegu Hi-Tech
Medical Cluster
(Medivalley)
• Osong Bio Valley
• Innopolis Daedok
• Wonju Medical
Device Cluster
• Gyeonggi-do Techno
Valley
• IFEZ Bio-Complex
• Jeju Healthcare
town
Sumber: IMS Health Analysis

Research Fund
• 19% of budget riset
nasional (2.58
triliun Won)
dialokasikan untuk
riset bioteknologi
(2012)
• Penggalangan dana
oleh pemerintah
“Korea Seoul Life
Science Fund”
senilai USD 75
milyar (2012)

Regulation &
Incentive
• Penyiapan
peraturan kondusif
untuk prosedur
registrasi dan
pengesahan obat,
serta harga
• Insentif R&D
• Insentif ekspor

Talent Development
• Undang-undang
Kementerian
Pendidikan, Sains,
dan Teknologi untuk
memperkokoh
fondasi riset biotek
• Pertukaran SDM
skala internasional
bidang teknologi
• Riset bersama
antara industri,
institusi, dan
akedemisi

Pengembangan R&D Farmasi di Negara Lain - CHINA
Insentif Pajak Industri Farmasi Mendorong Investasi Masuk
Insentif Pajak

Investasi Perusahaan API

• Pembebasan pajak usaha untuk transfer teknologi
terkualifikasi, pengembangan, serta konsultasi
dan pelayanan teknologi terkait

• Pengurangan pajak sebesar 50% atas
pengeluaran R&D yang terkait dengan
pengembangan produk/tekonologi baru
• Pengurangan pajak penghasilan sebesar 15%
untuk bidang usaha teknologi baru dan canggih
(High New Tech Enterprise-HNTE)

Investor

Kegiatan

Investasi

Novartis

Pusat produksi dan
R&D API Hepatitis B
dan Hipertensi di
Shanghai

$245 Juta

Pfizer

Kerja sama dengan
Hisun: pusat
produksi API
Cardiovascular dan
Penyakit Infeksi

$295 Juta

• Pembebasan pajak selama 2 tahun, serta
pengurangan pajak 50% untuk 3 tahun berikutnya
bila HNTE terpusat di daerah terpilih: Shenzen,
Zhuhai, Shantou, Xia’men, Hainan, Pudong
• Pembebasan/pengurangan pajak penghasilan dari
transfer teknologi
• Bebas bea masuk impor untuk peralatan
utama/pengembalian PPn bila kegiatan R&D
menggunakan barang lokal

Sumber: Deloitte Life Science Healthcare China, 2014; PWC Report The Changing Dynamics of Pharma Outsourcing in Asia

Pengembangan R&D Farmasi di Negara Lain - BRAZIL
Potongan Pajak untuk Obat Generik Import Tertentu
Pemerintah Brazil mengeluarkan amandemen bertujuan untuk memberikan flexibiltas potongan
pajak pada obat generik dan biosimilar impor apabila obat tersebut belum tersedia di dalam
negeri.

Percepat Akses Registrasi Obat Generik Baru
Pemerintah Brazil melalui ANVISA (Badan Pengawasan Kesehatan Nasional Brazil) mempercepat
proses registrasi obat first generics.
Misalnya obat yang baru habis masa paten untuk meningkatkan akses masyarakat pada
pelayanan kesehatan. Hal ini merupakan usulan dari industri obat generik.

Inisiatif Pemerintah untuk Distribusi Obat
Program pemerintah Brazil sebagai perpanjangan tangan industi farmasi untuk pendistribusian
obat generik dan sejenis khusus kepada masyarakat dengan pendapatan mengengah kebawah.

Transfer Teknologi antar Lab R&D Publik dan Swasta
Untuk mengembangkan teknologi kesehatan dan memperkuat manufaktur nasional dalam
jangka panjang, Departemen Kesehatan Brazil membuat 34 kemitraan transfer teknologi antara
lab R&D publik dan swasta. Sampai saat ini, program ini sudah berhasil memproduksi 28 obat
(termasuk obat generik) dan 3 vaksin.
Sumber: Brazillian Government; IMS Health Analysis

Memperkuat HILIR Industri Farmasi Indonesia: JKN

Program JKN
Kebutuhan JKN vs.
Kapasitas Industri

Biaya Pengobatan vs.
Kapasitas Industri

Peningkatan jumlah peserta
JKN akan meningkatkan
kebutuhan obat, sementara
kapasitas produksi industri

Untuk menekan biaya
pengobatan, terkadang

obat generik relatif stagnan

sesuai ketentuan persyaratan

pengobatan dilakukan tidak
komprehensif dan/atau tidak

Memperkuat HILIR Industri Farmasi Indonesia: RETAIL

Memperkuat Retail Farmasi,
termasuk Beradaptasi pada
Perubahan Bisnis Model

telemedicine
online-consultation

Hospital-Information-System
health & wellness-apps

Laboratory-Information-Management-System

e-Medical-Record

patient-monitoring-system

e-prescription-system online-CME e-Psychology
e-Health Record

real-time-clinical-trial-management

etc

Memperkuat HILIR Industri Farmasi Indonesia: EKSPOR

Compliance pada Standar Kualitas Global

Hambatan Non-tarif Negara Tujuan Ekspor

Promosi Ekspor yang Terintegrasi

Program Ekspor yang
Terstruktur & Kolaboratif

Efisiensi Biaya dan Optimalisasi Kapasitas
Produksi

Pengembangan Ekspor Farmasi di Negara Lain – INDIA (1)

Keunggulan Ekspor Farmasi India:
• India mengekspor produknya ke lebih dari 200 negara dengan dengan nilai

lebih dari US$ 15 miliar dan CAGR > +10%
• India memiliki 584 pabrik yang teregister di FDA Amerika (dari total sekitar
3000 pabrik)
• 65-70% daftar produk farmasi yang dibutuhkan WHO dipegang oleh India

Pengembangan Ekspor Farmasi di Negara Lain – INDIA (2)

Program Ekspor India:
• Pemerintah India mencanangkan
VISI 2020 untuk menjadikan
India pemimpin industri farmasi
dunia
• Membentuk lembaga khusus
yang menangani perkembangan

industri farmasi India
(Pharmaxecil)
• Menyiapkan infrastruktur yang
diperlukan industri sehingga
biaya produksinya sangat
kompetitif di tingkat global

Rekomendasi
1. Perubahan lingkungan makro farmasi beserta momentum implementasi Nawa
Cita dan Inpres no. 6/2016 perlu menjadi refleksi diri industri farmasi untuk
repositioning diri dan lebih fokus
2. Pasar Farmasi Indonesia akan berkembang pesat bila perusahaan-perusahaan
farmasi nasional bersama-sama berkomitmen terlibat langsung dalam
implementasi Roadmap Industri Farmasi Indonesia 2015-2025, termasuk untuk
mengembangkan riset farmasi
3. Ekspor farmasi perlu diperhitungkan sebagai alternatif bagi perusahaanperusahaan farmasi nasional untuk berkembang
4. Retail farmasi perlu melakukan adaptasi pada perubahaan bisnis model agar
dapat tetap eksis dan berkembang di masa yang akan datang
5. Pemerintah, Industri, Akademisi, dan Komunitas (Forum ABGC) perlu
menguatkan komitmen dan berkolaborasi untuk memastikan kesuksesan
implementasi Roadmap Industri Farmasi Indonesia 2015-2025

Terima Kasih

Related Interests