Anda di halaman 1dari 24

RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PANGAN DAN

GIZI DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2014

Oleh:
Kelompok 2
Revina Febri N. P.
Nur Safira Anindita
Nouveraa Nadya P.
Andini Retno
Laillia Ghaisani
Atika Puspa Riani
Celline Pangesti
Ruby Marudiana
Solfa Indah S. D

I14130064
I14130075
I14130090
I14130103
I14130109
I14130118
I14144006
I14144033
I14144038

Asisten Praktikum
Azizah Rohimah
Dwi Astuti

Koordinator Mata Kuliah


Dr.Ir. Yayuk Farida Baliwati, MS

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PENDAHULAN
Latar Belakang
Berdasarkan UU No 18 tahun 2012, pangan adalah segala sesuatu yang
berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan,
peternakan, perairan, dan air, baik diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan
sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan
tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam
proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan dan minuman.
Menurut Malian et al. (2004), produksi beras Indonesia masih bergantung
pada produksi padi di Pulau Jawa. Sebesar 56% produksi padi nasional dipegang
oleh Pulau Jawa, 22% oleh Pulau Sumatra, 10% dari Pulau Sulawesi, 5% dari
Pulau Kalimantan, dan 7% dari pulau lainnya. Jumlah tersebut masih
menunjukkan produksi padi nasional tidak tersebar merata. Peningkatan penduduk
yang terus terjadi pada suatu daerah mengakibatkan munculnya perubahan pada
tingkat konsumsi pada suatu daerah. Memenuhi konsumsi yang mengalami
perubahan harus diikuti dengan ketersediaan yang juga mencukupi hingga surplus.
Kebutuhan seseorang akan memengaruhi status gizinya. Status gizi juga menjadi
indikaKonsumsi yang baik dari bahan-bahan pangan dan memenuhi kebutuhan
gizinya akan meningkatkan kondisi dan status gizi seseorang.
Konsumsi yang semakin meningkat, membutuhkan pengaturan yang baik
agar setiap daerah dapat memenuhi kebutuhannya setiap tahunnya. Kondisi
dimana ketersediaan pangan, konsumsi dan distribusi pangan adalah ketahanan
pangan. Berdasarkan UU no 7 tahun 1996, ketahanan pangan adalah kondisi
dimana terpenuhinya pangan bagi rumah tangga, sehingga setiap anggotanya
mendapatkan pangan sesuai dengan kebutuhannya. Apabila suatu anggotany tidak
dapat terpenuhi kebutuhannya akan timbul masalah baru.
Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang baik agar setiap anggota
dapat memenuhi kebutuhannya. Selain perencanaan yang baik, diperlukan juga
kebijakan yang mendukung agar setiap perencanaan yang dilakukan dapat
didukung dengan baik. Perencanaan yang baik dan memenuhi kebutuhan hingga
ke tingkat keluarga.
Tujuan
Tujuan Umum
:
Menganalisis situasi dan kebutuhan serta merumuskan rencana strategis
pembangunan bidang pangan dan gizi dengan menggunakan Skor Pola Pangan
Harapan di Kabupaten Bogor.
Tujuan Khusus
:
1. Menganalisis keadaan pangan dan gizi, khususnya pada subsistem
ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan, serta status gizi
masyarakat di Kabupaten Bogor
2. Menyusun kebutuhan dan target penyediaan pangan wilayah
berdasarkan Skor Pola Pangan Harapan Kabupaten Bogor

3. Menyusun starategi dan program pangan dan gizi wilayah sesuai


dengan situasi dan kebutuhan masyarakat serta potensi wilayah di
Kabupaten Bogor.

METODE
Desain Studi
Praktikum ini menggunakan desain dengan mengumpulkan data-data dan
informasi mengenai keadaan pangan dan gizi di Kabupaten Bogor yang diperoleh
dari data sekunder. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis untuk
mengetahui ketersediaan, stabilitas harga, dan kebijakan yang berkaitan dengan
pangan dan gizi di Kabupaten Bogor.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan merupakan data sekunder pada tahun 2013 dan 2014
yang tersedia oleh pemerintah Kabupaten Bogor. Sumber data yang digunakan
berasal dari Kabupaten Bogor Dalam Angka 2015. Data yang digunakan terdiri
dari keadaan umum wilayah, jumlah penduduk, laju pertumbuhan, data produksi,
dan data konsumsi pangan strategis. Data tersebut diolah dan dianalisis untuk
mendapatkan skor pola pangan harapan (PPH) ketersediaan maupun skor pola
pangan harapan (PPH) konsumsi di Kabupaten Bogor. Jenis data dan sumber data
yang digunakan disajikan pada tabel berikut.

No
1
2
3
4

Tabel 1 Jenis dan sumber data


Data
Jenis Data
Keadaan umum wilayah
Sekunder
Jumlah penduduk
Sekunder
Laju pertumbuhan
Sekunder
Data produksi pangan
Sekunder

5
6

Data Konsumsi pangan


Data Ketersediaan pangan

Sekunder
Sekunder

Sumber Data
DDA
DDA
DDA
DDA, Data Dinas
Peternakan,Data
Dinas Pertanian
SUSENAS
NBM

Analisis Data
Analisis data yang dilakukan menggunakan Microsoft excel kemudian
dianalisis hasil perhitungannya. Data yang diolah menggunakan Microsoft excel
adalah data konsumsi pangan dari data SUSENAS dan ketersediaan pangan
dengan neraca bahan makanan (NBM). Situasi konsumsi pangan diukur secara
kualitatif dilihat dari skor Pola Pangan Harapan (PPH) dan kuantitatif dilihat dari
tingkat kecukupan energi dan protein.

Definisi Operasional
Distribusi pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka
penyaluran bahan pangan atau pangan kepada masyarakat, baik untuk
diperdagangkan atau tidak.
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi suatu wilayah
sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan
yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi,
merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama,
keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan
produktif secara berkelanjutan.
Ketersediaan pangan adalah jumlah pangan yang disediakan di suatu wilayah
mencakup produksi, impor/ekspor, bibit/benih,bahan baku industri
pangan dan non pangan, penyusutan/tercecer dan yang tersedia untuk
dikonsumsi oleh masyarakat di wilayah tersebut.
Konsumsi pangan adalah banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun
beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan
sosiologis.
NBM adalah penyajian data pangan dalam bentuk tabel yang dapat
menggambarkan situasi dan kondisi ketersediaan pangan untuk konsumsi
penduduk di suatu wilayah (negara/ provinsi/kabupaten-kota) pada waktu
tertentu (satu tahun).
Pangan adalah segala sumber yang berasal dari hayati maupun air yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi manusia dari berbagai
sudut pandang.
Pola Pangan Harapan (PPH) adalah jumlah dan konsumsi pangan yang secara
agregat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi menurut kuantitas
dan kualitas maupun keberagamannya dengan mempertimbangkan aspek
sosial, ekonomi, budaya, agama, daya terima dan citarasa.
Skor PPH adalah angka yang menunjukkan mutu pangan secara kualitas dan
keragamannya yang dikonsumsi penduduk berdasarkan hasil survey
SUSENAS.
Susenas adalah survei untuk mengumpulkan informasi/data di bidang
kependudukan, kesehatan, pendidikan, keluarga berencana, perumahan,
serta konsumsi dan pengeluaran yang sangat dibutuhkan oleh beberapa
kalangan.

PEMBAHASAN

ANALISIS SITUASI PANGAN DAN GIZI DI KABUPATEN BOGOR


A.

Keadaan Umum Wilayah Kabupaten Bogor


Letak Geografis
Kabupaten Bogor memiliki luas 2 301.95 km2, yang artinya memiliki luas
sekitar 5.19% dari luas Wilayah Propinsin Jawa Barat. Secara geografis terletak
antara 6.190LU 6.470LS dan 1060 1 -1070 103 Bujur Timur dengan tipe
morfologi wilayah yang bervariasi, dari dataran tinggi di bagian selatan, yaitu
sekitar 29.28% berada pada ketinggian 15-100 meter di atas permukaan laut (dpl),
42.62% berada pada ketinggian 100-500 meter dpl, 19.53% berada pada
ketinggian 500-1000 meter dpl, 8.43% berada pada 1000-2000 meter dpl dan
0.22% berada pada ketinggian 2000-2500 meter dpl. Kabupaten Bogor memiliki
batas strategis antara lain:

Sebelah selatan, berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi


Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Lebak
Sebelah Barat Daya, berbatassan dengan Kabupaten Tanggerang
Sebelah Utara, berbatasan dengan Kota Depok
Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta
Sebelah Timur Laut, berbatasan dengan Kabupaten Bekasi
Sebelah Tenggara, berbatasan dengan Kabupaten Cianjur
Sebelah Tengah, Kota Bogor

Suhu dan Kelembaban Udara


Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya
tempat tersebut dari permukaan air laut dan jarak dari pantai. Pada tahun 2014
suhu udara di Kabupaten Bogor rata-rata berkisar antara 22.7 0C sampai 31.600C.
Suhu uadara maksimum terjadi pada bulan September yaitu 36.00C, sedangkan
suhu udara minimum terjadi pada bulan September dengan suhu 19.20C.
Curah Hujan dan Keadaan Angin
Curah hujan disuatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim,
geografis dan perputaran atau pertemuan arus udara. Sepanjang tahun 2014
Kabupaten Bogor diguyur hujan setiap bulan, dengan curah hujan tertinggi terjadi
pada bulan Januari 2014 yang mencapai 702.0 mm dengan jumlah hari hujan 31,
dan terendah pada bulan Agustus yaitu 146.0 mm dengan jumlah hujan 14.
Penduduk
Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan.
Sasaran ini tidak mungkin tercapai bila pemerintah tidak dapat memecahkan
permasalahannya. Permasalahan tersebut diantaranya besar jumlah penduduk dan
tidak meratanya penyebaran penduduk.
Jumlah penduduk Kabupaten Bogor pada tahun 2013 berdasarkan Hasil
estimasi Penduduk 2013 adalah 5 202 097 jiwa terdiri dari 2 659 306 laki-laki dan
2 542 791 jiwa perempuan. Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah laki-laki
lebih banyak dari perempuan dengan sex ratio 105.

Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Bogor pada tahun 2013 adalah


20 Jiwa/Ha, kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Ciomas dengan
kepadatan 100 Jiwa/Ha dan kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan
Tanjungsari dengan kepadatan 4 Jiwa/ Ha.
A.

Keragaan Ketahanan Pangan dan Gizi di Kabupaen Bogor


1.

Ketersediaan Pangan

Ketahanan pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi


rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam
jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan
ditentukan secara bersama antara ketersediaan pangan dan akses penduduk atau
rumah tangga untuk mendapatkan pangan yang dibutuhkan. Ketersediaan pangan
adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik
itu produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan.
Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut,
perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang
dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari
pemerintah atau organisasi lainnya. Berdasarkan hal tersebut, disusunlah Neraca
Bahan Makanan (NBM) dan Pola Pangan Harapan (PPH) Kabupaten Bogor
sehingga mampu memberikan gambaran tentang situasi ketersediaan pangan bagi
penduduk di Kabupaten Bogor. Selanjutnya, hasil perhitungan NBM dan PPH
tersebut dapat dijadikan bahan acuan dalam pengambilan kebijakan yang
berkaitan dengan program atau aksi ketahanan pangan di Kabupaten Bogor.
Tabel 2 %AKE dan skor PPH ketersediaan
Skor
Skor
No Kelompok Pangan
% AKE*)
Skor PPH
AKE
Maks
1
Padi-padian
26,5
13,3
25,0
13,3
2
Umbi-umbian
3,1
1,6
2,5
1,6
3
Pangan Hewani
7,4
14,8
24,0
14,8
4
Minyak dan Lemak
0,5
0,3
5,0
0,3
5
Buah/Biji Berminyak
0,0
0,0
1,0
0,0
6
Kacang-kacangan
15,4
30,9
10,0
10,0
7
Gula
0,0
0,0
2,5
0,0
8
Sayur dan Buah
1,0
5,2
30,0
5,2
9
Lain-lain
0,0
0,0
0,0
0,0
Total
54,1
65,9
100,0
45,1
Nilai NBM menyajikan angka rata-rata jumlah pangan yang tersedia di
tingkat pedagang eceran atau rumah tangga konsumen untuk konsumsi penduduk
perkapita (kg/kap/thn atau gr/kap/hari atau zat gizi tertentu /kap/hari) (Badan
Ketahanan Pangan Nasional 2005). Persentase Angka Kecukupan Energi (AKE)
untuk Kabupaten Bogor yaitu 54.1 yang berada pada rentang kurang energi dari
yang dianjurkan yaitu 90-110%. Sehingga perlu ditingkatkan dan diberagamkan
ketersediaan kelompok pangannya. Berdasarkan Tabel 2, ketersediaan pangan
kabupaten Bogor belum memenuhi standar SPM Indonesia yaitu 90, ditunjukan

dari skor PPH Kabupaten Bogor yang hanya mencapai angka 45.1 dan hal ini
akan mempengaruhi konsumsi penduduk kabupaten Bogor karena
mengindikasikan kurang beragamnya pangan yang tersedia. Ketersediaan pangan
golongan hewani, kacang-kacangan serta sayur dan buah telah memenuhi skor
PPH ideal sedangkan bahan pangan lainnya masih memiliki skor PPH di bawah
skor PPH ideal. Hal ini berbanding lurus dengan produksi peternakan, kacangkacangan serta sayur dan buah di Kabupaten Bogor berturut-turut mencapai
178.486.084 kg, 1.607 ton dan 5.235.451 kwintal. Produksi tertinggi dari
komoditi kacang-kacangan adalah kacang tanah. Produksi tertinggi dari komoditi
peternakan adalah ayam ras pedaging dan untuk sayur dan buah adalah jamur.
Beberapa kelemahan NBM yang dapat mengganggu hasil %AKE serta
skor PPH, yaitu tidak terdapatnya data perubahan stok, underestimate data
produksi, besar terkonversi tidak sesuai dengan kenyataan, dan data ekspor tidak
termasuk data olahan (Badan Ketahanan Pangan Nasional 2005).
2.
-

Distribusi Pangan
Sarana Prasarana dan Kelembagaan Distribusi Pangan
Jalan merupakan prasarana pengangkutan darat yang penting untuk
memperlancar kegiatan perekonomian. Jalan yang berkualitas akan meningkatkan
usaha pembangunan karena dapat memudahkan mobilitas penduduk dan
memperlancar lalu lintas barang antar daerah. Panjang jalan yang berada di
wilayah Kabupaten Bogor secara keseluruhan mencapai 2.034.255 Km, sebesar
95.74% jalan tersebut sudah di aspal. Pada tahun 2014 tercatat jalan yang
berkondisi baik 1.248.687 Km (72%), sedang sebesar 9%, rusak sebesar 3%, dan
rusak berat sebesar 16%.
Saran perdagangan yang terdapat di Kabupaten Bogor antara lain mini
market sebanyak 490, pasar modern sebanyak 11, pasar tradisional sebanyak 24,
pasar desa sebanyak 41, dan pertokoan sebanyak 901.

Daya Beli Masyarakat terhadap Pangan.


Jumlah keluarga di Kabupaten Bogor pada tahun 2013 sebanyak 1.246.465
keluarga. Berdasarkan klasifikasi keluarga terdapat 195.706 keluarga pra
sejahtera, 345.341 keluarga sejahtera I, 456.608 keluarga sejahtera II, 201.175
keluarga sejahter III, dan 47.635 keluarga sejahtera III+. Jumlah penduduk miskin
pada tahun 2012 sebanyak 447.290 orang (8.82%), jumlah tersebut menurun dari
tahun 2011 yaitu sebesar 470.500 orang (9.65%).
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi
makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan
ekonomi suatu daerah. PDRB Kabupaten Bogor pada tahun 2014 berdasarkan
harga berlaku sebesar Rp 151.285.110, sedangkan berdasarkan harga konstan
sebesar Rp 117.412.136. Laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan pada
tahun 2014 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 6.06
persen dari sebelumnya sebesar 6.16 persen.
Tingkat pendapatan masyarakat dapat dijadikan sebagai indikator
kesejahteraan suatu kelompok masyarakat. Tingkat kesejahteraan masyarakat
dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) diperoleh dengan pendekatan

pengeluaran rumah tangga, karena data pendapatan yang akurat sulit diperoleh.
Stabilitas harga bahan pangan dapat mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap
pangan. Stabilitas harga pangan di Kabupaten Bogor pada tahun 2014 dapat
dilihat pada Tabel 3.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tabel 3 Analisis stabilitas harga beberapa bahan pangan


Jenis Pangan
CVKRi
CVKTi
Beras
3.4087
25
Jagung
30.0477
25
Kedelai
4.9378
25
Daging sapi
1.5068
25
Daging ayam
6.3238
25
Telur
6.1630
25
Gula pasir
3.5590
25
Minyak goreng
5.8517
25
Cabe
46.8917
25
Capaian stabilitas harga pangan (SK)

Ski
186.3651
79.8092
180.2487
193.9727
174.7049
175.3481
185.7638
176.5933
12.4332
151.6932

Berdasarkan Tabel 3 hampir semua komoditas memiliki nilai CVKRi


<25%, kecuali pada komoditas jagung dan cabe merah nilainya >25%. Nilai
CVKRi <25% menunjukan distribusi pangan di Kabupaten Bogor tahun 2014
sudah baik. Distribusi pangan yang baik ini dapat disebabkan jalan yang berada di
Kabupaten bogor sudah baik. Jalan merupakan salah satu akses dalam distribusi
pangan. Menurut BPS (2014), jalan yang berkondisi baik di Kabupaten bogor
sepanjang 1.248.687 Km (72%). Jalan yang berkondisi baik tersebut dapat
menunjang distribusi pangan di Kabupaten Bogor.
Nilai Capaian Stabilitas Harga Pangan (SK) sebesar 151.6932%. Nilai Ski
yang diperoleh secara keseluruhan telah mencapai lebih dari 90%, kecuali pada
komoditas jagung dan cabe merah nilainya <90%. Nilai Ski >90% menunjukan
stabilitas harga pangan di Kabupaten Bogor pada tahun 2014 sudah baik. Artinya
harga pangan strategis yang berada di Kabupaten Bogor pada setiap bulannya di
tahun 2014 tidak mengalami perubahan harga yang signifikan. Hal tersebut dapat
disebabkan ketersedian pangan di Kabupten Bogor sudah baik.
3

Konsumsi Pangan

Kuantitas Konsumsi Pangan


Konsumsi pangan dapat digunakan untuk melihat kondisi pangan disuatu
wilayah, penilaian konsumsi pangan dapat dilihat dari aspek kuantitas. Penilaian
kuantitas konsumsi pangan dilihat dari volume pangan yang dikonsumsi dan
jumlah zat gizi yang dikandung dalam bahan pangan. Aspek tersebut digunakan
untuk melihat apakah konsumsi pangan sudah memenuhi kebutuhan sesuai
dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Penilaian kuantitas konsumsi pangan
dapat menggunakan parameter Tingkat Konsumsi Energi (TKE) dan Tingkat
Konsumsi Protein (TKP), atau dapat dilihat dari %AKE. Berikut adalah konsumsi
pangan dan %AKE di Kabupaten Bogor

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tabel 4 Konsumsi pangan dan %AKE kabupaten Bogor


Golongan Pangan
Gram/kap/hari
AKE (%)
Padi-padian
294.5
Umbi-umbian
21.7
Pangan hewani
79.3
Minyak dan lemak
25.1
Buah/biji bermiyak
5.7
Kacang-kacangan
31.6
Gula
11.3
Sayur dan buah
169.3
Lain-lain
152.1
Total

50.4
1.1
9.3
10.5
1.6
3.7
1.9
2.8
4.7
86.1

Berdasarkan tabel 4, konsumsi pangan dari beberapa golongan pangan


didapatkan persentase AKE Kabupaten bogor dari hasil perhitungan kalori yang
diperoleh dari tiap bahan pangan dibagi dengan Angka Kecupukan Energi (AKE)
yaitu 2150 kkal/kap/hari, sehingga didapatkan persentase AKE sebesar 86.1%, hal
ini dapat dikatakan bahwa konsumsi energi di wilayah tersebut sudah cukup
menurut WNPG (2004), karena konsumsi pangan suatu wilayah dianggap cukup
apabila persentase energi sebesar 80-110%. Pola konsumsi pangan ditentukan oleh
faktor sosial ekonomi rumah tangga, seperti tingkat pendapatan, harga pangan,
selera, dan kebiasaan makan, pola konsumsi juga dipengaruhi oleh karakteristik
rumah tangga, umur, jenis kelamin, dan pendidikan.
-

Kualitas Konsumsi Pangan


Analisis konsumsi pangan dapat dinilai dari aspek kualitas, yaitu penilaian
konsumsi wilayah yang ditekankan pada aspek gizi yang didasarkan pada
keanekaragaman tiap bahan pangan, semakin beragam dan seimbang, semakin
baik pula kualitas konsumsi pangan wilayah. Penilaian keanekaragaman konsumsi
pangan dapat menggunakan pendekatan Pola Pangan Harapan (PPH), semakin
tinggi skor PPH maka konsumsi pangan semakin beragam. Berikut adalah tabel
skor PPH wilayah kabupaten Bogor
Tabel 5 Skor PPH konsumsi pangan kabupaten Bogor berdasarkan kelompok
bahan pangan
No
Golongan Pangan
Skor PPH
1 Padi-padian
25.0
2 Umbi-umbian
0.6
3 Pangan hewani
18.7
4 Minyak dan lemak
5.0
5 Buah/biji bermiyak
0.8
6 Kacang-kacangan
7.3
7 Gula
1.0
8 Sayur dan buah
14.0
9 Lain-lain
0.0

No

Golongan Pangan
Total

Skor PPH
72.3

Berdasarkan tabel 5 skor PPH konsumsi di kabupaten Bogor adalah 72.3,


halini menunjukan bahwa keberagaman pangan belum tercapai, suatu wilayah
dikatakan kosnumsinya sudah beragam apabila memiliki skor PPH 100, 30 untuk
sayuran dan buah, 25 padi-padian, 24 pangan hewani, 10 kacang-kacangan, 5
untuk minyak dan lemak, 2.5 untuk umbi-umbian dan gula, 1 untuk buah/biji
berminyak, dan 0 untuk pangan lainnya, sehingga pangan yang sudah sesuai
dengan dengan skor PPH adalah padi-padian yaitu 25.0 dan pangan lainnya yaitu
0.
B.

Prioritas Masalah Pangan dan Gizi di Kabupaten Bogor


Prioritas masalah tersusun atas tiga aspek yakni pentingnya masalah (I),
kelayakan teknologi (T), dan sumberdaya yang tersedia (R). Pentingnya masalah
diberi nilai 5 jika masalah tersebut sangat penting, nilai 3 untuk jika masalah
tersebut penting, dan nilai 1 jika masalah tersebut kurang penting. Aspek
kelayakan teknologi (T) diberi nilai 5 jika teknologi yang layak bersifat sangat
sulit, nilai 3 jika sulit, dan nilai 1 jika mudah. Aspek sumber daya (R) diberi skor
2 jika sumber daya tidak tersedia dan 1 jika tersedia. Nilai prioritas masalah (P)
dapat dihitung dengan cara mengalikan skor I dengan skor T dan skor R. Berikut
disajikan tabel prioritas masalah pangan dan gizi di Provinsi Kabupaten Bogor.
Tabel 6 Prioritas masalah pangan dan gizi di Kabupaten Bogor
Masalah
I
T
R
P
Keterangan
Prioritas
Penentuan Prioritas Masalah Status Gizi
Stunting (23% anak usia 6-12 bln)
5
3
2
30
1
Underweight (62.8% dari anak
5
3
2
30
1
stunting)
Penentuan Prioritas Masalah Konsumsi
Kualitas konsumsi pangan
5
5
1
25
1
Skor PPH pangan hewani rendah
3
3
1
9
2
(18.7)
Skor PPH kacang-kacangan rendah
3
3
1
9
2
(7.3)
Skor PPH sayur dan buah rendah
3
1
1
9
3
(14.0)
Penentuan Prioritas Masalah Konsumsi
Ketersediaan padi-padian
5
3
1
15
1
Ketersediaan umbi-umbian
3
3
1
9
2
Ketersediaan minyak dan lemak
3
3
1
9
2
Ketersediaan air bersih
5
1
1
5
3
Ketersediaan lahan pertanian
5
3
1
15
1
Penentuan Prioritas Masalah Distribusi
Jalan rusak berat (16 %)
5
3
1
15
1

Masalah

Jalan rusak ringan (3 %)


Penduduk miskin (8.82 %)

3
5

3
3

1
1

9
15

Keterangan
Prioritas
2
2

Masalah status gizi di Kabupaten Bogor adalah masalah stunting dan


underweight. Dari seluruh anak berusia 6-12 bulan di Kabupaten Bogor, 23% di
antaranya mengalami stunting. Sebesar 62.8% dari anak tersebut juga mengalami
underweight. Persentase anak stunting di Kabupaten Bogor lebih rendah dari
prevalensi stunting nasional yaitu sebesar 37.2% menurut Riskesdas (2013).
Meski lebih rendah, persentase stunting hampir mencapai seperempat dari semua
anak usia 6012 bulan di Kabupaten Bogor. Hampir dua pertiga dari anak yang
mengalami stunting di Kabupaten Bogor juga mengalami masalah underweight.
Jumlah masalah yang tinggi ini menyebabkan skor prioritas masalah yang paling
tinggi dibandingkan masalah pangan dan gizi lain di Kabupaten Bogor.
Konsumsi di Kabupaten Bogor juga mengalami masalah, antara lain
masalah kualitas konsumsi pangan dan skor PPH yang rendah pada pangan
hewani (18.7), kacang-kacangan (7.3) serta sayur dan buah (14.0). Masalah
kualitas konsumsi pangan tergolong masalah dengan prioritas sangat tinggi karena
kualitas konsumsi pangan yang buruk akan membawa masalah status gizi. Hal ini
terlihat dari skor masalah status gizi yang tinggi. Skor PPH pangan hewani dan
kacang-kacangan yang rendah tergolong masalah dengan prioritas tinggi karena
pangan hewani dan kacang-kacangan adalah sumber protein utama yang
dikonsumsi manusia. Namun masalah ini tidak tergolong masalah dengan prioritas
sangat tinggi atau masalah utma karena protein masih dapat dikonsumsi dari
makanan pokok. Skor PPH sayur dan rendah tergolong masalah dengan prioritas
rendah, karena kebutuhan serat masih dapat diperoleh dari konsumsi jenis pangan
lain.
Ketersediaan pangan merupakan salah satu aspek dari ketahanan pangan.
Nilai ketersediaan pangan di suatu daerah sangat penting untuk diketahui. Berikut
merupakan analisis ketersediaan pangan Kabupaten Bogor. Persentase angka
kecukupan energi ketersediaan pangan Kabupaten Bogor pada tahun 2015 sebesar
54,1%. Hal tersebut menunjukkan bahwa angka kecukupan energi di Kabupaten
Bogor tergolong rendah. Skor PPH untuk ketersediaan pangan di Kabupaten
Bogor adalah 45.1 yang menunjukkan bahwa ketersediaan pangan di kabupaten
Bogor belum beragam.
Permasalahan bidang distribusi di wilayah Kabupaten Bogor antara lain
insfrastruktur jalan dan kemiskinan. Beberapa masalah tersebut memiliki tingkat
prioritas masing-masing. Permasalahan bidang distribusi di wilayah kabupaten
Bogor menurut prioritasnya antara lain:
1

Insfrastruktur Jalan

Infrastruktur jalan merupakan prasarana pengangkutan darat yang penting


untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Infrastruktur jalan yang berkualitas
akan meningkatkan usaha pembangunan suatu wilayah karena memudahkan
mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang antar daerah. Masalah
infrastruktur jalan merupakan masalah prioritas utama di bidang distribusi

Kabupaten Bogor. Panjang jalan yang berada di wilayah Kabupaten Bogor secara
keseluruhan mencapai 2.034.255 Km, sebesar 95.74% jalan tersebut sudah di
aspal. Masalah infrastuktur jalan di kabupaten Bogor terbagi menjadi jalan
kondisi rusak berat, rusak, sedang, dan berkondisi baik. Pada tahun 2014 tercatat
jalan yang berkondisi baik 1.248.687 Km (72%), sedang sebesar 9%, rusak
sebesar 3%, dan rusak berat sebesar 16%. Jalan rusak berat yang terjadi di cukup
tinggi sehingga menjadi prioritas utama dalam mengatasi permasalahan pangan
dan gizi dibanding dengan jalan rusak ringan. Banyaknya jalan rusak berat di
daerah Kabupaten Bogor akan mengganggu sitem distribusi barang dan pangan
dari satu daerah ke daerah lain. Terganggunya distribusi dapat dapat mengurangi
stok di daerah yang memiliki kekurangan sumber pangan. Akhirnya akan
meningkatkan masalah pangan dan gizi lainnya yaitu kemiskinan dan
menimbulkan masalah kekurangan zat gizi.
2

Kemiskinan

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bogor pada tahun 2015 sebesar 6. Laju


pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan atau LPE Kabupaten Bogor tahun
2014 yaitu sebesar 6.06 persen. Pertumbuhan ini mengalami perlambatan
dibanding tahun sebelumnya, pada tahun 2014 LPE Kabupaten Bogor sebesar
6.16 persen. Garis Kemiskinan Kabupaten Bogor mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun, disebabkan karena adanya peningkatan harga atau inflasi. Pada
tahun 2012 ini, inflasi mencapai Rp. 259.151. Jumlah penduduk miskin di
Kabupaten Bogor tetap menunjukkan penurunan. Pada tahun 2011 jumlah
penduduk miskin mencapai 475.500 orang dan berkurang menjadi 447.290 orang
pada tahun 2012, atau berkurang sebesar 12,57%. Pada tahun 2013 di Kabupaten
Bogor banyaknya keluarga menurut kecamatan dan klasifikasi keluarga terdapat
195.706 keluarga Pra sejahtera 345.341 keluarga sejahtera I, 456.608 keluarga
sejahtera II, 201.175 keluarga sejahtera III dan 47.635 keluarga III+. Masalah
kemiskinan juga menjadi prioritas utama di bidang distribusi. Masalah kemiskinan
dipengaruhi oleh ketersediaan insfrastruktur yang memadai sehingga perlunya
perbaikan masalah insfrastruktur terlebih dahulu, selanjutya masalah terkait
kemiskinan dapat dikurangi. Kemiskinan akan berdampak langsung maupun tidak
langsung terhadap masalah pangan dan gizi di suatu wilayah terutama di
Kabupaten Bogor.
C.

Determinan Utama Ketahanan Pangan dan Gizi di Kabupaten Bogor


Determinasi utama ketahanan pangan dan gizi di wilayah Kabupaten
Bogor dilakukan dengan menentukan skala prioritas yang kemudian dijadikan
determinasi utama masalah ketahanan pangan dan gizi. Determinasi masalah
tersebut digambarkan dengan menggunakan kerangka UNICEF. Permasalahan
utama yang menjadi menjadi fokus perhatian adalah stunting dan angka kematian
ibu dan bayi. Faktor penyebab dari permasalahan yang terjadi terdiri dari faktor
langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung yang meyebabkan masalah
tersebut adalah konsumsi makanan yang tidak seimbang dan penyakit infeksi,
sedangkan faktor tidak langsungnya adalah ketersediaan pangan yang kurang,
pola asuh, pendidikan dan fasilitas kesehatan yang kurang memenuhi. Pada

Gambar 1 disajikan diagram causal model permasalahn gizi yang mengacu pada
kerangka UNICEF.

ng (23%), underweight (62.8% dari anak stunting), angka kematian ibu (71 orang), angka kematian bayi (216

Konsumsi makanan rendah

Skor PPH 45.1%Pola asuh

Pendidikan

Status infeksi

Penyebab langsung

Petugas kesehatan 1427,


Rumah sakit 22,
Puskesmas 257, Penyebab tak langsung

Masalah
Utamapendud
berat (16%), jalan rusak sedang (9%), jalan rusak ringan (3%), PDRB harga berlaku (Rp 151
285 110),

Krisis ekonomi, politik, sosial, dan budaya

Masalah Dasar

Gambar 1 Diagram causal model penentuan prioritas masalah gizi di Kabupaten


Bogor
Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa masalah gizi yang menjadi prioritas
adalah masalah stunting, angka kematian ibu dan angkakematian bayi. Penyebab
langsung dari masalah tersebut adalah konsumsi yang rendah dan penyakit
infeksi. Penyebab tidak langsung dari masalah tersebut adalah skor PPH yang
rendah yaitu sebesar 45.1%, pola asuh yang kurang baik, pendidikan, dan
pelayanan kesehatan dengan jumalhpetugas kesehatan sebanyak 1427 orang,
rumah sakit sebanyak 22, dan jumlah Puskesmas sebanyak 257. Masalah utama

dari masalah gizi yang terjadi di Kabupaten Bogor antara lain jalan rusak berat
sebesar 16%, jalan rusak sedang sebesar 9%,dan jalan rusak ringan sebesar 3%,
serta PDRB harga berlaku sebesar Rp 151 285 110. Jalan yang rusak dapat
menghambat akses penduduk terhadap pangan dan menuju fasilitas kesehatan.
Masalah dasar dari masalah gizi yang terjadi di Kabupaten Bogor antara lain krisis
ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

ANALISIS KEBUTUHAN DAN TARGET PENYEDIAAN PANGAN


WILAYAH DI KABUPATEN BOGOR
E. Estimasi Kebutuhan Pangan Wilayah
Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi setiap individu,
sehingga kebutuhan akan pangan menjadi urusan yang penting untuk menjadi
perhatian, khususnya oleh pemerintah. Oleh karena itu analisis kebutuhan pangan
wilayah perlu untuk dilakukan. Kebutuhan pangan aktual Kabupaten Bogor dapat
dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Kebutuhan pangan aktual Kabupaten Bogor tahun 2014
Konsumsi Pangan
Bahan Pangan
Aktual
% AKE
(kkal/kap/hari)
Beras
863
Tepung terigu
17
Minyak Kelapa sawit
209
Minyak Kelapa
9
Tahu
13
Tempe
23
Gula Pasir
38
Daun singkong
5
Bawang putih
4
Pisang
6
Salak
4
Jeruk
3

98.1
1.9
95.9
4.1
36.1
63.9
100
22.7
18.2
27.3
18.2
13.6

Secara keseluruhan komoditas pangan yang memiliki sumbangan energi


paling tinggi dari keduabelas pangan strategis tersebut adalah beras, yaitu sebesar
863 kkal/kap/hari kemudian disusu oleh minyak kelapa dan gula pasir yang
masing-masing menyumbangkan energi sebesar 209 kkal/kap/hari dan 38
kkal/kap/hari. Komoditas pangan strategis Kabupaten Bogor yang menyumbang

energi paling sedikit adalah jeruk, yaitu sebesar 3 kkal/kap/hari. Apabila data
konsumsi aktual pangan strategis telah diketahui, kemudian dilakukan analisis
kebutuhan pangan strategis Kabupaten Bogor pada tahun 2017. Kebutuhan
pangan ideal di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Kebutuhan pangan ideal Kabupaten Bogor
Kebutuhan Pangan Ideal Penduduk berdasarkan PPH
Bahan Pangan
Ton/tahun
Gram/kap/hari
Kg/kap/tahun
9.94
53007.7
Beras
27.24
0.19
1029.8
Tepung terigu
0.53
3.97
21156.1
Minyak Kelapa sawit
10.87
0
0
Minyak Kelapa
0.22
51.46
274343.4
Tahu
140.99
1.01
5391.5
Tempe
2.77
3.62
19304.3
Gula Pasir
9.92
43.5
231905.0
Daun singkong
119
0
0
Bawang putih
0
27.65
147414.3
Pisang
75.76
0
0
Salak
0
13.27
70758.9
Jeruk
36.36
Analisis kebutuhan pangan ideal yang dilakukan berdasarkan konsumsi
aktual pangan strategis Kabupaten Bogor, diketahui bahwa komoditas tahu yang
paling dibutuhkan oleh Kabupaten Bogor, yaitu sebesar 274343.4 ton/tahun.
komoditas pangan kedua yang paling dibutuhkan adalah buah pisang, yaitu
sebesar 147414.3 ton/tahun.
F. Proyeksi Kebutuhan Pangan Berdasarkan PPH
Estimasi dan proyeksi kebutuhan pangan perlu dilakukan oleh pemerintah
Kabupaten Bogor untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Dalam
melakukan proyeksi kebutuhan pangan Kabupaten Bogor menggunakan tahun
dasar 2014 dengan tahun yang ingin dicapai yaitu tahun 2017, dan menetapkan
tahun 2020 sebagai tahun ideal. Data proyeksi PPH, proyeksi konsumsi energi
menurut PPH, dan proyeksi konsumsi pangan menurut PPH setiap golongan
bahan pangan perlu untuk diketahui untuk menentukan kebutuhan pangan.
Proyeksi Pola Pangan Harapan dapat dilihat pada Tabel 9.

No
1
2
3
4
5

Tabel 9 Proyeski Pola Pangan Harapan


Proyeksi Skor Pola Pangan Harapan
Kelompok Pangan
2014
2017
2019
Padi-padian
25,0
25,0
25,0
Umbi-umbian
0,7
1,8
2,5
Pangan Hewani
14,4
20,1
24,0
Minyak dan Lemak
5,0
5,0
5,0
Buah/Biji
Berminyak
0,8
0,9
1,0

6
7
8
9

Kacang-kacangan
Gula
Sayur dan Buah
Lain-lain
Total Pangan

3,8
1,0
14,2
0,0
64.9

7,5
1,9
23,7
0,0
86.0

10,0
2,5
30,0
0,0
100.0

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa skor PPH golongan


pangan selain padi-padian pada tahun 2014 masih jauh dari skor PPH ideal di
tahun target, yaitu tahun 2019. Kabupaten Bogor harus meningkatkan skor PPH
komoditas pangan selain padi-padian serta minyak dan lemak ntuk memenuhi
skor PPH ideal di tahun 2019. Untuk mencapai skor PPH ideal pada tahun 2019
maka pada tahun 2017 Kabupaten Bogor perlu meningkatkan skor PPH semua
komoditas pangan kecuali padi-padian serta minyak dan lemak sehingga pada
tahun 2019 akan tercapai skor PPH ideal untuk umbi-umbian, pangan hewani,
buah/biji berminyak, kacang-kacangan, gula, serta sayur dan buah, yaitu masingmasing sebesar 2.5, 24.0, 1.0, 10.0, 2.5, 30.0.

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tabel 10 Proyeksi konsumsi energi menurut PPH


Proyeksi Konsumsi Energi (kkal/kap/hari)
Kelompok Pangan
2014
2017
2019
Padi-padian
1.193
1.122
1.075
Umbi-umbian
30
90
129
Pangan Hewani
155
217
258
Minyak dan Lemak
225
219
215
Buah/Biji Berminyak
36
53
65
Kacang-kacangan
41
81
108
Gula
41
81
108
Sayur dan Buah
61
102
129
Lain-lain
35
66
86
Total Pangan
1817
2017
2150

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa konsumsi energi


komoditas pangan selain padi-padian menurut PPH Kabupaten Bogor pada tahun
2014, yaitu sebesar 1.193 kkal/kap/hari belum memenuhi konsumsi energi ideal
atau mencapai 2150 kkal/kap/hari. Untuk mengatasi masalah Kabupaten Bogor
perlu melakukan proyeksi dan untuk mencapai ideal maka pada tahun 2017
Kabupaten Bogor harus meningkatkan konsumsi energi untuk semua golongan
pangan selain padi-padian serta minyak dan lemak sehingga pada tahun 2020
dapat tercapai konsumsi energi menurut PPH yang ideal. Sedangkan proyeksi
konsumsi pangan penduduk Kabupaten Bogor dalam satuan gram/kap/hari adalah
sebagai berikut.

No
1
2

Tabel 11 Proyeksi konsumsi pangan menurut PPH


Proyeksi Konsumsi Pangan (gram/kap/hari)
Kelompok Pangan
2014
2017
2019
Padi-padian
303,4
297,3
293,2
Umbi-umbian
27,3
69,6
97,7

3
4
5
6
7
8
9

Pangan Hewani
Minyak dan Lemak
Buah/Biji Berminyak
Kacang-kacangan
Gula
Sayur dan Buah
Lain-lain
Total Pangan

74,4
25,1
4,7
17,6
11,3
170,1
47,5
681,4

117,7
24,7
7,7
27,6
22,1
214,6
19,0
800,3

146,6
24,4
9,8
34,2
29,3
244,3
0,0
879,5

Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa Kabupaten Bogor belum


mencapai konsumsi pangan yang ideal pada tahun 2014 untuk golongan pangan
selain padi-padian serta minyak dan lemak. Apabila ingin mencapai konsumsi
pangan ideal pada tahun 2019 maka pada tahun 2017 Kabupaten Bogor perlu
meningkatkan konsumsi pangan seluruh golongan pangan selain padi-padian serta
minyak dan lemak melalui proyeksi konsumsi pangan gram/kap/hari. Pada tahun
2017 golongan pangan padi-padian serta minyak dan lemak sudah mencapai nilai
konsumsi pangan ideal sehingga program selanjutnya adalah meningkatkan
konsumsi pangan seluruh golongan pangan selain golongan pangan padi-padian
serta minyak dan lemak agar mencapai konsumsi ideal di tahun 2019.
G.

Target Penyediaan Pangan Wilayah


Penyediaan pangan wilayah dapat diperoleh dengan penambahan 10% dari
total kebutuhan pangan ideal menurut PPH. Penambahan 10% ini bertujuan untuk
menjaga jumlah ketersediaan pangan agar dapat mencukupi kebutuhan pangan
wilayah. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan tercecer atau rusak selama
proses distribusi pangan ke masyarakat. Target penyediaan pangan menurut PPH
dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Target penyediaan pangan merurut PPH
Bahan Pangan
Beras
Tepung terigu
Minyak Kelapa sawit
Minyak Kelapa
Tahu dan Tempe
Gula Pasir
Daun singkong
Bawang putih
Pisang
Salak
Jeruk

Target Panyediaan Pangan (ton/tahun)


2017
2019
626222.9
657120.5
70654.0
74140.0
53730.0
56589.2
2444.6
2574.7
60770.0
80218.4
48484.0
68370.4
375081.4

454278.2

129129.2

156394.3

Tabel 12 di atas menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan


strategis penduduk Kabupaten Bogor pada tahun 2017 dan tahun 2019,

pemerintah Kabupaten Bogor perlu menyiapkan atau menyediakan pangan


strategis minimal dapat mencukupi kebutuhan penduduk. Berdasarkan proyeksi
jumlah penduduk pada tahun 2017 dan 2020 penduduk Kabupaten Bogor
meningkat dari tahun 2017 hingga tahun 2019. Hal tersebut menyebabkan target
penyediaan pangan dari tahun 2017 ke tahun 2019 meningkat pula.
RENCANA STRATEGI PEMBANGUNAN BIDANG PANGAN DAN GIZI
DI KABUPATEN BOGOR
A. Visi
Terwujudnya pelaku utama dan pelaku usaha yang tangguh, mandiri, dan
berdaya saing.
B. Misi
Upaya untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan, misi Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah adalah
1. Meningkatkan kapabilitas sumberdaya manusia dan kelembagaan
penyuluhan
2. Meningkatkan jejaring kerja dalam alih inovasi teknologi dalam
mendukung ketahanan pangan.
C. Strategi dan Program
Adapun strategi dan program yang diterapkan di Kabupaten Bogor dalam
mencapai semua tujuanya terkait bidang pangan dan gizi sebagai berikut:
Tabel 13 Strategi dan program bidang pangan dan gizi Kabupaten Bogor
Strategi
Meningk
atkan
cakupan
pelayana
n
kesehata
n dan
gizi
masyara
kat serta
PHBS

Program

Kegiatan

Program Perbaikan
Perbaikan
Gizi
Gizi
Masyarakat
Masyaraka Pengadaan
t
makanan
tambahan
Rapat kerja
program
perbaikan
gizi
masyarakat

SKPD

Sasaran

Dinke
s

Bayi,
balita,
ibu
hamil,
dan ibu
menyusu
i

Indikator
Capaia
keberhasilan
n
Seluruh Meningka Tahun
Kabupa
tnya
2013
ten
status gizi status
Bogor
balita.
gizi
balita
Menurun
mening
nya
prevalensi kat
balita gizi 0.69%.
buruk. Tahun
2013
Presentas
seluruh
e balita
anak
naik
yang
timbanga
mengal
nnya
ami
Presentas
gizi
Lokasi

Strategi

Pengemb
angan
Keamana
n pangan
Kab
Bogor

Meningk
atkan
ketahana
n pangan

Program

Program
Pengawas
an dan
Pengendal
ian
Kesehatan
Makanan

Program
Peningkat
an
Ketahanan
Pangan

Kegiatan

Peningkatan
mutu dan
keamanan
makanan

SKPD

Sasaran

Lokasi

Dinke
s

Pengusa
ha
makanan

Seluruh
Kabupa
ten
Bogor

(1) Koordinasi BKP


ketersediaan
produksi
pangan.
(2) Koordinasi
distribusi dan

Seluruh
masyara
kat

Seluruh
Kabupa
ten
Bogor

Indikator
keberhasilan
e ibu
hamil
yang
mendapat
tablet Fe
Gizi
buruk
mendapat
perawatan
Jumlah
PMT
untuk
balita dan
ibu hamil
KEK
Cakupan
pengawasan
terhadap obat
dan makanan
yang
berbahaya
Jumlah
pelaksana
sosialisasi
keamanan
makanan
jajanan
Jumlah
pelaksana
sosialisasi
keamanan
makanan
untuk
memperoleh
sertifikat
PIRT
Jumlah
display
Kantin Sehat
di sekolah
(1)(2)(3)
Jumlah rapat
koordinasi

Capaia
n
buruk
sudah
mendap
at
perawat
an

3 kali

3 plakat

14
SD/MI
2 kali

Strategi

Program

Kegiatan
harga pangan.
(3) Koordinasi
penganekarag
aman
konsumsi
pangan
(P2KP)
Kabupaten
Bogor.
(4)
Pengembanga
n lumbung
pangan.
(5)
Penanganan
daerah rawan
pangan.

(6)
Pengembanga
n desa
mandiri
pangan.

SKPD

Sasaran

Lokasi

Indikator
keberhasilan
(3)Keanekara
gaman
konsumsi
pangan Kab
Bogor,
kadarsi, dan
pembinaan.

(4) Jumlah
peserta
pelatihan
lumbung
pangan.
(5)
(5) Jumlah
Cigude bahan pangan
g,
yang tersedia
Jasinga, bagi
Sukaja keluarga.
ya,
Pamija
han,
Rumpi
n,
Babaka
n
Madan
g,
Cigom
bong,
Cijeruk
,
Ciomas
, Taman
sari
(6)
Seluruh (6) Jumlah
kabupat desa mandiri
en
pangan,
Bogor. jumlah
kelompok
penerima
program
diversifikasi
pangan,
jumlah balita

Capaia
n

Strategi

Program

Kegiatan

SKPD

Lokasi

Masyara
kat

Kabupa
ten
Bogor

Jumlah
peserta
pelatihan

Leulian
g,
Rancab
ungur,
Cibung
bulang,
Cijeruk
,
Drama
ga
Kabupa
ten

Jumlah
promosi

(7)Percepatan
penganekarag
aman
konsumsi
pangan dan
gizi.

(8)
Pengembanga
n pangan
lokal berbasis
sumber daya
(9) Penigkatan
peran DKP
Kab Bogor.
Meningk
atkan
peran
lembagalembaga
pelatihan
dan
lembaga
sertifikas
i profesi
dalam
pengemb
angan
kompete
ndi
SDM.

KRPL

1.
BKP
Pelatihan dan
pendampinga
n mandiri
pangan 2.
Pembinaan
dan cadangan
pangan
pemerintah
3.
Pembina
an dan
pengembanga
n P2KP.
4.
Promosi
pangan lokal
pada
HPS(Hari
Pangan
Sedunia);

Indikator
keberhasilan
gizi buruk
yang diberi
PMT.
(7) Jumlah
pelaksana
sosialisasi
P2KP, jumlah
pelatihan
pengolahan
pangan lokal,
jumlah
pelaksana
lomba ipta
menu.
(8) jumlah
pangan lokal
yang
dikembangka
n.
(9) jumlah
produk
olahan Kab
Bogor.

Sasaran

Capaia
n

2 kali

Strategi
Mengata
si dan
membant
u daerah
yang
masih
mengala
mi rawan
pangan

Program

Kegiatan

Program
Penanggul
angan
kerawanan
an Pangan

Penyedia dan
pengembanga
n
kewaspadaan
di daerah
rawan
bencana
Pemberian
bantuan

SKPD

Sasaran

Lokasi

BKP

Seluruh
kabupate
n bogor

Bogor
Kabupa
ten
Bogor

Indikator
Capaia
keberhasilan
n
pangan lokal
Ketersediaan 1
data daerah
dokume
rawan
n
pangan
Data SKPG
5 buku
Laporan
akhir
kegiatan

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan skor PPH dari ketersediaan dan konsumsi maka Kabupaten
Bogor belum mencapai SPM yang telah ditetapkan. Prioritas masalah di
Kabupaten Bogor yaitu kurangnya ketersediaan pangan di daerah Kabupaten
Bogor karena ketersediaan pangan golongan padi-padian, umbi-umbian, minyak
dan lemak, buah/biji berminyak, gula, dan lain-lain masih memiliki skor PPH di
bawah skor PPH ideal. Demi mencapai skor PPH ideal pada tahun 2019 maka
pada tahun 2017 Kabupaten Bogor perlu meningkatkan skor PPH semua
komoditas pangan kecuali padi-padian serta minyak dan lemak
Saran
Ketersediaan pangan Kabupaten Bogor perlu ditingkatkan dan
diberagamkan ketersediaan kelompok pangannya. Ketersediaan data Kabupaten
Bogor tidak tersedia secara lengkap sehingga dapat mengganggu hasil analisis
perhitungan data, seharusnya data tersedia lebih lengkap dan ditampilkan secara
rinci oleh dinas terkait agar hasil analisis lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
[BPS Kabupaten Bogor] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. 2015.
Kabupaten Bogor dalam Angka 2015. Bogor (ID): Badan Pusat Statistik
Kabupaten Bogor.

[Riskesdas] Riset Kesehatan Dasar. 2013. Jakarta (ID): Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia.
Malian AH, Mardianto S, dan Ariani M. 2004. Faktor-faktor yang memengaruhi
produksi, konsumsi, dan harga beras serta inflasi bahan makanan [Jurnal].
Jurnal Agro Ekonomi. Vol 22 (2) : 119-146.
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG). 2004. Jakarta (ID): Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia.