Anda di halaman 1dari 26

PENGUJIAN DAN ANALISA PARALEL DUA GENERATOR 3

FASA PADA LABORATORIUM DISTRIBUSI, TEKNIK


LISTRIK, POLITEKNIK NEGERI MALANG

Digunakan untuk memenuhi tugas akhir mata pelajaran Bahasa Indonesia


semester 5
Disusun oleh :
Umar Helmi
D4 . 3 A / 16 / 0941150012

POLITEKNIK NEGERI MALANG


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN
2012

III

KATA PENGANTAR

Saya bersyukur kehadirat ALLAH SWT atas rahmat dan hidayah-Nya,


yang telah memberikan kemudahan bagi saya untuk menyelesaikan karya ilmiah
yang berjudul Pengujian dan Analisa Paralel Dua Generator 3 Fasa pada
Laboratorium Distribusi, Politeknik Negeri Malang ini sehingga dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
Penyusunan laporan ini digunakan untuk memenuhi tugas akhir mata
kuliah Bahasa Indonesia untuk semester 5 pada tingkat 3 ini.
Dalam menyusun laporan ini, saya mendapat banyak dukungan, arahan,
dan semangat dari beberapa pihak dan pada kesempatan ini saya ingin
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak tersebut, yaitu :
1. Bapak Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT. selaku Ketua Jurusan
Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang.
2. Bapak Gatot Joelianto, Ir., MMT. selaku Ketua Program Studi
Teknik Listrik Politeknik Negeri Malang.

III

3. Ibu Nurdjizah, Dra. selaku Dosen Pengajar mata kuliah Bahasa


Indonesia yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan
atas penyusunan laporan ini.
4. Orang tua dan keluarga yang telah memberikan doa serta dukungan
kepada saya.
5. Pihak pihak lain yang telah membantu pada proses penyusunan
laporan ini hingga selesai tepat waktunya.
Saya berharap laporan yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi saya
pribadi maupun orang lain.

Malang, 27 Januari 2012


Umar Helmi

III

DAFTAR ISI
COVER.............................................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

II

DAFTAR ISI..................................................................................................... III


BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah...................................................................

1.2 Rumusan Masalah.............................................................................

1.3 Tujuan Penelitian..............................................................................

1.4 Manfaat Penelitian............................................................................

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Dasar Teori........................................................................................

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Waktu dan Tempat Penelitian........................................................... 13

3.2 Metode Penelitian............................................................................. 13

III

3.3 Instrumen Penelitian......................................................................... 16


BAB IV : HASIL PENELITIAN
4.1 Jabaran Variabel Penelitian............................................................... 17
4.2 Hasil Penelitian................................................................................. 18
4.3 Analisa Hasil Penelitian.................................................................... 18
BAB V : PENUTUP
5.1 Kesimpulan....................................................................................... 21
5.2 Saran................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 23

III

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Generator ialah suatu mesin yang mengubah tenaga mekanis menjadi


tenaga listrik. Tenaga mekanis bekerja memutar kumparan kawat penghantar
dalam medan magnet ataupun sebaliknya memutar magnet diantara kumparan
kawat penghantar. Tenaga listrik yang dihasilkan oleh generator tersebut adalah
arus searah (DC) atau arus bolak-balik (AC), hal ini tergantung dari susunan
atau konstruksi dari generator, serta tergantung dari sistem pengambilan arusnya.
Aplikasi dari generator adalah untuk membangkitkan tenaga listrik yang
disalurkan kepada pelanggan dalam sistem pembangkitan tenaga listrik. Dalam
sistem pembangkitan tenaga listrik dikenal dua metode yang digunakan oleh
pembangkit listrik. Kedua metode tersebut adalah sistem pembangkitan tenaga
listrik generator tunggal dan sistem pembangkitan tenaga listrik paralel generator.
III

Sistem pembangkitan tenaga listrik generator tunggal memiliki beberapa


kelemahan. Kelemahan dari sistem pembangkitan tersebut yaitu generator akan
terus memproduksi energi listrik sepanjang waktu bahkan ketika sistem daya
memikul beban yang ringan, apabila generator gagal dalam bekerja tidak ada daya
cadangan yang dapat diberikan, dan jika suatu saat beban bertambah sistem
pembangkitan tenaga listrik secara keseluruhan harus diupgrade. Karena
kelemahan kelemahan dari sistem pembangkitan tenaga listrik tersebut, banyak
pembangkit tenaga listrik yang mulai meninggalkan metode ini dan beralih pada
metode sistem pembangkitan tenaga listrik paralel generator.
Jika dibandingkan dengan sistem pembangkitan tenaga listrik generator
tunggal, sistem pembangkitan tenaga listrik paralel generator memiliki kelebihan
yaitu dapat menyuplai daya beban yang lebih besar, lebih handal, efisien dan
efektif. Namun sistem pembangkitan tenaga listrik dengan cara memparalelkan
dua generator atau lebih melalui sistem transmisi tegangan tinggi, yang disebut
grid timbul masalah masalah baru dalam pengoperasiannya, yaitu tegangan,
frekuensi, dan sinkronnya fasa dari masing masing generator harus sama,
pengamanan grid dan stasiun pembangkitan dari gangguan pada generator
maupun saluran transmisi juga harus mendapat perhatian, dan harus
diperhitungkan masalah produksi energi dan pemeliharaan berkala untuk operasi
ekonomis sistem daya yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, pengujian paralel generator 3 fasa diperlukan untuk lebih
memahami dan mengerti teknik memparalelkan 2 atau lebih generator AC 3 fasa.

III

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan paralel 2 generator ?
2. Apa sajakah syarat yang diperlukan dalam memparalelkan 2 generator ?
3. Apa sajakah metode yang digunakan sebagai indikator memparalelkan
2 generator ?
4. Apakah pengaruh penambahan beban pada paralel 2 generator ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari pengujian paralel generator adalah :
1. Mengetahui maksud dan tujuan dari paralel 2 generator.
2. Mengetahui syarat yang diperlukan dalam memparalelkan 2 generator .
3. Mengetahui metode yang digunakan sebagai indikator memparalelkan 2
generator.
4. Mengetahui pengaruh penambahan beban pada paralel 2 generator.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari pengujian paralel 2 generator adalah :


1. Mengetahui maksud dan tujuan dari pararel 2 generator.
2. Mengetahui maksud dan tujuan dari syarat dalam memparalelkan 2
generator
3. Mengetahui maksud dan tujuan dari metode yang digunakan sebagai
indikator memparalelkan 2 generator.
4. Mengetahui pengaruh penambahan beban pada paralel 2 generator.

III

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

III

2.1 Dasar Teori

Generator ialah suatu mesin yang mengubah tenaga mekanis menjadi


tenaga listrik. Tenaga mekanis bekerja memutar kumparan kawat penghantar
dalam medan magnet ataupun sebaliknya memutar magnet diantara kumparan
kawat penghantar. Tenaga listrik yang dihasilkan oleh generator tersebut adalah
arus searah (DC) atau arus bolak-balik (AC), hal ini tergantung dari susunan
atau konstruksi dari generator, serta tergantung dari sistem pengambilan arusnya.
Aplikasi dari generator adalah untuk membangkitkan tenaga listrik yang
disalurkan kepada pelanggan dalam sistem pembangkitan tenaga listrik. Dalam
sistem pembangkitan tenaga listrik dikenal dua metode yang digunakan oleh
pembangkit listrik. Kedua metode tersebut adalah sistem pembangkitan tenaga
listrik generator tunggal dan sistem pembangkitan tenaga listrik paralel generator.
Namun, metode yang saat ini seringkali digunakan adalah sistem pembangkitan
tenaga listrik paralel 2 generator.
Paralel generator dapat diartikan menggabungkan dua buah generator
atau lebih dan kemudian dioperasikan secara bersama sama dengan tujuan :
1. Mendapatkan daya yang lebih besar.
2. Untuk effisiensi (Menghemat biaya pemakaian operasional dan Menghemat
biaya pembelian)
3. Untuk memudahkan penentuan kapasitas generator.

III

4. Untuk menjamin kotinyuitas ketersediaan daya listrik.


Jika kita hendak memparalelkan dua generator atau lebih tentunya kita
harus memperhatikan beberapa persyaratan paralel generator tersebut. Beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi adalah :
1.Tegangan kedua generator harus mempunyai amplitudo yang sama.
2.Tegangan kedua generator harus mempunyai frekwensi yang sama.
3.Tegangan antar generator harus sefasa.
Dengan persyaratan diatas berlaku apabila :
1. Lebih dari dua generator yang akan kerja paralel.
2. Dua atau lebih sistem yang akan dihubungkan sejajar.
3. Generator atau pusat tenaga listrik yang akan dihubungkan pada sebuah
jaringan.
Metoda sederhana yang dipergunakan untuk mensikronkan dua generator
atau lebih adalah dengan mempergunakan sinkroskop lampu dan alat
synchroscope.

Sinkronoskop Lampu Gelap


Jenis sinkronoskop lampu gelap pada prinsipnya menghubungkan antara
ketiga fasa, yaitu U dengan U, V dengan V dan W dengan W.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

III

Gambar Skema Sinkronoskop Lampu Gelap

Pada hubungan ini jika tegangan antar fasa adalah sama maka ketiga
lampu akan gelap yang disebabkan oleh beda tegangan yang ada adalah nol.
Demikian juga sebaliknya, jika lampu menyala maka diantara fasa terdapat beda
tegangan. Ini dapat dijelaskan pada gambar berikut.

Gambar Beda tegangan antara fasa pada sinkronoskop lampu gelap

III

Sinkronoskop Lampu Terang


Jenis sinkronoskop lampu terang pada prinsipnya menghubungkan antara
ketiga fasa, yaitu U dengan V, V dengan W dan W dengan U. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar Skema Sinkronoskop Lampu Terang

Sinkronoskop jenis ini merupakan kebalikan dari sinkronoskop lampu


gelap. Jika antara fasa terdapat beda tegangan maka ketiga lampu akan menyala
sama terang dan generator siap untuk diparalel. Kelemahan dari sinkronoskop ini
adalah kita tidak mengetahui seberapa terang lampu tersebut sampai generator
siap diparalel. Ini dapat dijelaskan dengan gambar dibawah ini.

III

Gambar Beda

tegangan antara
fasa sinkronoskop lampu terang

Sinkronoskop Lampu Terang Gelap


Sinkronoskop jenis ini dapat dikatakan merupakan perpaduan antara
sinkronoskop lampu gelap dan terang. Prinsip dari sinkronoskop ini adalah
dengan menghubungkan satu fasa sama dan dua fasa yang berlainan, yaitu fasa U
dengan fasa U, fasa V dengan fasa W dan fasa W dengan fasa V. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada skema dibawah ini.

III

Gambar Skema sinkronoskop lampu terang gelap

Pada sinkronoskop ini generator siap diparalel, jika satu lampu gelap
dan dua lampu lainnya terang. Pada kejadian ini dapat diterangkan
pada gambar berikut ini.

Gambar Beda tegangan antara fasa sinkronoskop


lampu terang gelap

Namun apabila persyaratan paralel antar generator tidak terpenuhi maka :


1. Jika Frekwensi tidak sama
Berdasarkan rumus f = ((p*n)/120) maka terdapat hubungan kesebandingan antara
f dan n, jika frekwensi tidak sama atau f1 > f2, makaseolah olah generator
pertama (G1) akan menarik generator kedua (G2). Dan G2 diperlakukan sebagai
beban (motor) oleh G1.
2. Jika Tegangan tidak sama

III

Diagram paralel 2 generator

Dari diagram diatas, diketahui bahwa G1 dengan tegangan output E1 / phasa dan
tegangan G2 adalah E2 / phase, dan Rbeban atau busbar 0. Dengan hukum
kirchoff, bahwa S E = 0
Pada loop 1,

E1 E2 i1*Rbusbar = 0
E1 E2 i1* 0 = 0

Karena G1 paralel G2 maka, E1 = E2, sehingga


E1 E1 i1*Rbusbar = 0
i1 = (0/ Rbusbar) = 0/0 = 0
Apabila E1 E2 maka, E1 E2 = DE
i1 = (DE / Rbusbar) = DE /0 = ~
Dan arus i1 akan memukul ke G2.

Alat Synkronoskop

III

Selain dengan phasing lamp, synkronisasi fasa paralel generator dapat


juga dimonitor dengan synkronoskop. Pada dasarnya synkronoskop adalah sebuah
motor dengan statornya dicatu oleh generator yang akan diparalelkan ( incoming
generator ) sedangkan rotornya dicatu oleh generator yang sedang berjalan
( runninng generator ). Kecepatan putar dari motor ( synkronoskop ) tersebut
ditentukan oleh perbedaan frekuensi antara kedua generator itu. Apabila kedua
generator mempunyai frekuensi yang sama, maka synkronoskop akan berhenti
berputar.

BAB III

III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Hari, Tanggal : Jumat, 16 Desember 2011
Waktu
: 07.30 10.00 WIB
Tempat
: Laboratorium Distribusi, Politeknik Negeri Malang
3.2 Metode Penelitian
Metode indikator yang digunakan pada pengujian paralel 2
generator 3 fasa ini adalah metode synkronoskop dan indikator lampu. Berikut
adalah lanngkah langkah pengoperasian paralel 2 generator 3 fasa :
1. Hidupkan generator 3 sesuai dengan prosedur yang telah dijelaskan
sebelumnya. Sesuaiakan tegangan keluaran generator sebersar 300 V 50
Hz.
2. Alirkan daya dari generator 3 ke stasiun 1 dan tambahkan beban Station
Service dan Agricultural. Pertahankan tegangan keluaran dan
frekuensinya.
3. Catat penunjukan meter pada tabel hasil percobaan.
4. Putar saklar synkronoskop dari generator 3 ke posisi running. Dan putar
saklar synkronoskop dari generator 2 ke posisi incoming.
5. Putar saklar lampu synkronisasi ke posisi generator 2. Putar saklar
frekuensi meter ke posisi generator 2.
6. Pastikan bahwa saklar isolasi saluran generator pada keadaan off.
7. Nyalakan CB pencatu DC utama untuk generator 2
8. Hidupkan generator 2 sesuai dengan prosedur yang telah dijelaskan
sebelumnya. Set tegangan keluaran sebesar 380 V dan frekuensi 50 Hz
9. Amati lampu synkronisasi. 3 lampu synkronisasi akan berkedip kedip
dengan frekuensi sebesar selisih antara frekuensi kedua generator.
Berkedip kedipnya lampu lampu tersebut menunjukan bahwa

III

tegangan keluaran generator belum mempunyai frekuensi yang sama.


Jangan memperalelkan dua generator pada kondisi ini !
10. Amati sykronoskop. Kecepatan putar jarum penunjuk sama dengan
selisih antara kedua frekuensi kedua generator. Arah rotasi (slow / fast)
menunjukan generator incoming mempunyai kecepatan relatif terhadap
generator running. Sebagai contoh, jika rotasi mengarah ke posisi slow
pada putaran 1 putaran/detik maka generator 2 mempunyai frekuensi 1
Hz lebih lambat dari generator 3. Ingat bahwa synkronoskop tidak
dapat digunakan untuk mengetahui bahwa fasa kedua sumber dalam
keadaan tidak sefasa.
11. Seusaikan generator 2 sehingga jarum synkronoskop berhenti berputar.
Jaga tegangan keluaran kedua generator. Jika jarum synkronoskop
sudah tidak berputar dan lampu synkronisasi sudah tidak berkedip maka
kedua generator siap diparalelkan dengan menutup saklar isolasi
saluran.
12. Synkronoskop harus tetap tidak berputar. Jika tidak maka bukalah
saklar isolasi saluran dan ulangi langkah ke-11.
13. Aturlah generator 2 sehingga generator tersebut mensuplai 50% dari
daya beban. Tetap pertahankan tegangan keluaran dan aturlah power
faktor untuk tetap pada kondisi lagging. Isikan data tegangan, arus,
daya, dan power faktor kedua generator pada tabel hasil percobaan.
14. Arahkan aliran daya ke beban industri dan tambahkan beban industri.
Jaga stasiun 1 pada keluaran yang sesuai. Aturlah kedua generator
sehingga kedua generator sama-sama memikul beban tersebut. gunakan
regulator untuk menjaga tegangan tetap 380 V pada beban industrial.
Isikan data tegangan, arus, daya, dan power faktor kedua generator
pada tabel hasil percobaan.
15. Hilangkan beban station service. Jaga kedua generator tetap memikul
beban yang tersisa. Isikan data tegangan, arus, daya, dan power faktor
kedua generator pada tabel hasil percobaan.
16. Kemudian ambil alihkan semua beban ke generator 2. Pertahankan
tegangan dan frekuensi statiun 1 tetap konstan. Juga pertahankan power
faktornya tetap lagging. Ketika generator 3 tidak lagi menghasilkan

III

daya Watt, buka saklar isolasi saluran. Dan matikan generator 3. Isi data
tegangan, arus, daya, dan power faktor kedua generator pada tabel hasil
percobaan.
17. Hilangkan beban dari sistem. Atur kembali generator 2 tetap memiliki
tegangan 380 V 50 Hz. Matikan generator 2.
3.3 Instrumen Penelitian
Alat yang dibutuhkan pada pengujian dan analisa paralel 2
generator hanyalah Hampden Power System Simulator dan alat tulis untuk
mencatat hasil pengujian.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Jabaran Variabel Penelitian

Variabel yang dibuat tetap adalah frekuensi dan tegangan sumber.


Sedangkan variabel yang diubah ubah nilainya adalah variabel beban. Dan

III

variabel yang diukur adalah frekuensi, tegangan, arus, power faktor dan daya dari
generator 1 dan generator 2
Beban yang digunakan dalam percobaan ini ada 5 macam yaitu
-

station service
agriculture service
station + agriculture service
beban industrial (RL 1000 ohm, XL 300 ohm)
beban industrial (RL 250 ohm + XL 150 ohm + XC 1 mF)

4.2 Hasil Penelitian


Berikut merupakan tabel hasil pngujian pararel 2 generator 3 fasa :
Tabel 4.2 Hasil Pengujian
Beban
Station Service

F
50

Generator 1
V
I
Pf
300
0
0,99

P
0

F
50

Generator 2
V
I
Pf
300 0,14
1

P
0,09

Agricultural Service

49,4

290

0,04

lag
0,99

Station + Agricultural

48,3

270

0,1

lag
0,98

0,01

48,3

270

0,22

lead
0,99

0,12

Service
RL 1000 ohm + XL

48,2

270

0,02

lag
0,89

48,2

270

0,15

lead
0,99

0,08

0,14

lag
0,78

0,28

lag
0,98

0,14

300 ohm
RL 250 ohm + XL

46,5

230

150 ohm + XC 1 mF

0,01

49,4

290

0,04

46,5

230

0,18

lead
1

0,1

lag

lag

4.3 Analisa Hasil Penelitian


Sesuai dengan tabel 4.2 hasil pengujian paralel 2 generator 3 fasa
diperoleh data data dari nilai frekuensi ( F ), tegangan ( V ), arus ( I ), power
faktor ( Pf ), dan daya ( P ) untuk kedua generator. Dari data yang diperoleh, untuk
nilai frekuensi dan tegangan nilainya sama antara generator 1 dan 2 pada tiap
III

tiap beban. Contohnya pada beban Agricultural Service, nilai untuk tegangan pada
generator 1 sebesar 290 V yang mana nilainya sebanding dengan nilai tegangan
pada generator 2 yaitu 290 V juga dan untuk nilai frekuensi pada generator 1 dan
2 adalah 49,4 Hz. Nilai tegangan dan frekuensi pada kedua generator dapat
memiliki nilai yang sama karena pada dasarnya paralel 2 generator harus memiliki
nilai tegangan dan frekuensi yang sama sebagai syarat terbentuknya paralel
generator sehingga nilainya akan tetap sama pada bermacam macam beban yang
dipikul selama proses paralel berlangsung. Sedangkan untuk nilai arus dan daya
pada saat beban Agricultural Service tidak sama antara generator 1 dan 2
meskipun perbedaan nilainya tidak terlalu besar. Pada generator 1 memiliki nilai
arus sebesar 0,04 A dan daya sebesar 0,01 kW sedangkan generator 2 memiliki
nilai arus sebesar 0,18 A dan daya sebesar 0,1 kW. Untuk nilai power faktor pada
kedua generator juga berbeda nilainya. Pada generator 1 memiliki power faktor
sebesar 0,99 lagging dan pada generator 2 power faktornya sebesar 1,01 leading.
Perbedaan ketiga variabel ini disebabkan karena masing masing genarator tidak
memikul total beban yang sama meskipun kedua generator tersebut dikondisikan
paralel karena inti dari pararel 2 generator bukanlah membagi beban sama besar
akan tetapi memasok daya yang lebih besar kepada konsumen sehingga dapat
melayani beban yang lebih besar daripada hanya memasok daya pada 1 generator
saja.
Pada tabel 4.2 juga terlihat perubahan nilai pada tiap tiap variabel
ketika terjadi perubahan beban. Pada saat kedua generator dibebani dengan beban
yang lebih besar dari sebelumnya maka akan berdampak pada semua variabel
yang mengalami penurunan dan kenaikan nilai. Variabel tegangan dan frekuensi

III

yang mengalami penurunan nilai akan tetapi bernilai sama besar pada tiap tiap
generator. Sedangkan nilai arus dan daya pada kedua generator cenderung nilainya
meningkat. Untuk power faktornya, semakin nilai beban meningkat akan
membuat nilai power faktor pada tiap tiap generator menjadi lebih jelek atau
turun. Misalnya dari beban Agricultural Service kemudian bebannya ditambah
dengan Station Service sehingga generator memasok beban Agricultural Service
dan Station Service dengan nilai frekuensi dan tegangan pada tiap tiap generator
sebesar 48,3 Hz dan 270 V. Sedangkan nilai arus, daya, dan power faktor pada
generator 1 adalah 0,1 A, 0,01 kW, dan 0,98 lagging. Untuk generator 2 adalah
0,22 A, 0,12 kW dan 0,99 lead. Dari data tersebut telah mengalami perubahan
yang semula paralel 2 generator hanya menyuplai Agricultural Service ke
Agricultural Service dan Station Service yang membuat generator bekerja lebih
keras untuk menyuplai beban yang bertambah.
Jadi, hipotesis awal yang dapat diambil dari percobaan paralel 2
generator 3 fasa tersebut adalah
Pengaruh beban pada paralel generator akan membuat nilai dari
frekuensi, tegangan, arus, daya dan power faktor menjadi

berubah.
Pada saat akan memparalelkan generator, nilai frekuensi,
tegangan dan urutan fasa harus sama.

III

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan yaitu :
1. Paralel generator adalah menggabungkan dua generator atau lebih
dengan memperhatikan syarat paralel generator yang benar dengan
tujuan memperoleh kapasitas daya yang lebih besar, effisien, dan
ketersedian daya listrik yang memadai.
2. Syarat untuk memparelkan generator adalah kedua generator harus
mempunyai nilai frekuensi, tegangan, urutan fasa yang sama
3. Metode yang digunakan sebagai indikator memparalelkan generator
adalah sinkronisasi fasa yang dimonitor oleh sinkronoskop dan phasing
lamp yang ditandai dengan kedipan lampu.
III

4. Penambahan beban akan berpengaruh pada penurunan nilai frekuensi,


tegangan, dan power faktor sedangkan nilai arus dan daya mengalami
kenaikan.
5.2 Saran
Hipotesis yang dikemukakan oleh penulis adalah hipotesis awal yang
belum dapat dijadikan sebagai acuan secara penuh. Perlu dilakukan pengujian
yang lebih lanjut dan lebih detail dengan menggunakan peralatan yang lebih
canggih sehingga didapat data yang lebih akurat.

III

DAFTAR PUSTAKA

Ronilaya, Ferdian dan Ahmad Hermawan. 2010. Praktikum laboratorium Sistem


Tenaga 1. Malang: Politeknik Negeri Malang
Listrik, Dunia. 2008. Operasi Paralel Generator . www.dunialistrik.com,
Diakses Pada Tanggal 18 Januari 2012 Pukul 16.00 WIB.
Indonesia, Elektro. 1998. Macam macam Sikronisasi pada Paralel Generator .
www.elektroindonesia.com, Diakses Pada Tanggal 18 Januari 2012 Pukul
16.00 WIB.

III