Anda di halaman 1dari 26

TUGAS MATA KULIAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

TAHAPAN PERKEMBANGAN REMAJA


KASUS REMAJA FERNO

Norbertus Labu

16.E2.0006

Shirley Angelin Kusuma

16.E2.0012

MAGISTER SAINS PSIKOLOGI UNIKA SOEGIJAPRANATA


SEMESTER GASAL 2016/2017
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

Sejak manusia masih berupa sel sel yang berada di rahim seorang ibu sampai dengan akhir
hidupnya manusia terus menerus mengalami perubahan perubahan dari waktu ke waktu.
Perubahan perubahan tersebut memampukan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya
dan mempertahankan dirinya. Perubahan perubahan tersebut mencakup pertumbuhan dan
perkembangan. Pertumbuhan adalah segala perubahan yang bersifat fisik, yang dapat diamati atau
bahkan dapat diukur. Selain pertumbuhan manusia tentu saja mengalami perkembangan dari waktu
ke waktu, dimana perkembangan ini merupakan perubahan perubahan yang terjadi di dalam diri
individu yang membuat individu semakin matang dan semakin berkualitas untuk memampukan
mereka dalam beradaptasi di lingkungan tempat mereka hidup dan bertempat tinggal sesuai dengan
pertumbuhan fisiknya.
Salah satu tahapan perkembangan yang dialami manusia adalah masa remaja. Suatu masa yang
cukup panjang yang dialami oleh manusia. Dalam tahapan perkembangan ini seringkali remaja
tidak dapat menikmati dan tidak dapat melaluinya dengan baik. Banyak konflik konflik yang
dihadapi oleh remaja dan bahkan banyak permasalahan permasalahan di dalam masyarakat yang
melibatkan remaja. Banyak pula orang orang dewasa yang menyesali kehidupan masa lalunya dan
harus dihadapkan dengan masalah masalah atau konflik dengan orang orang di sekitarnya
seperti orangtua, keluarga, dan juga guru atau bahkan masyarakat di sekitarnya. Mengapa ada
remaja yang berbahagia dan sanggup berprestasi namun di sisi lain ada remaja yang mersa tertekan,
tidak berbahagia dan cenderung bermasalah?

1.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, kami merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.1.

Bagaimana karakteristik pertumbuhan dan perkembangan masa remaja?

1.2.

Apa saja tugas-tugas perkembangan pada remaja?

1.3.

Apa saja masalah yang dihadapi pada masa remaja?

2. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini sebagai berikut :
2.1. Agar dapat mengetahui apa saja karakteristik partumbuhan dan perkembangan remaja
2.2. Agar dapat lebih mengetahui dan memahami tugas-tugas perkembangan pada remaja
2.3. Agar dapat mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada fase remaja

BAB II
PEMBAHASAN

1.

Pengertian Remaja

Masa remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting, yang di awali
dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu berproduksi. Kata remaja
diterjemahkan dalam bahasa inggris adolescence atau adolecer (bahasa latin) yang berarti tumbuh
atau tumbuh untuk masak, menjadi dewasa. Dalam pemakaiannya istilah remaja dengan
adolescence disamakan. Kata Adolescence maupun remaja menggambarkan seluruh perkembangan
remaja baik perkembangan fisik, intelektual, emosi dan social.
Masa remaja di tinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa peralihan dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa. Jika melihat dari rentang usia remaja, Menurut Hurlock (1964)
menyatakan rentangan usia remaja itu antara 13-21 tahun, yang di bagi pula dalam usia masa
remaja awal 13/14 tahun sampai 17 tahun dan remaja akhir 17 sampai 21 tahun.
WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO menyatakan
walaupun definisi di atas terutama di dasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) wanita, batasan
tersebut berlaku juga untuk remaja pria dan WHO membagi kurung usia dalam dua bagian, yaitu
remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
Selain itu, ada juga membagi usia remaja menjadi tiga fase perkembangan, seperti dikemukakan
oleh Monks, dkk (2002) membagi fase-fase masa remaja ke dalam tiga tahap, yaitu:
1.

Remaja awal (12-15 tahun)

2.

Remaja pertengahan (15-18 tahun)

3.

Masa remaja akhir (18-21 tahun)

Rentang usia remaja yang telah dikemukakan oleh beberapa tokoh di atas memiliki batasan yang
hampir sama diawali di usia di atas sepuluh tahun / awal belasan tahun dan diakhiri sampai di usia
20/21 tahun. Selama rentang waktu tersebut remaja mengalami banyak hal dan menghadapi
kehidupannya dengan beberapa karakteristik sebagai berikut :

2.

Aspek Perkembangan Remaja


2.1 Perkembangan fisik
Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak dan masa dewasa,

dimulai dengan pubertas, ditandai dengan perubahan yang pesat dalam berbagai aspek
perkembangan, baik fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada saat
4

masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara
perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah
pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya
alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tandatanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2006: 52).
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap
perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Pada akhir dari
perkembangannya fisik ini akan terjadi seorang pria yang berotot dan berkumis yang menghasilkan
beberapa ratus juta sel mani (spermatozoa) setiap kali ia berejakulasi (memancarkan air mani), atau
seorang wanita yang berpayudara dan berpinggul besar yang setiap bulannya mengeluarkan sel
telur dari indung telurnya yang disebut menstruasi atau haid.

Perubahan fisik pada pada remaja pria meliputi


1.

Membesarnya ukuran penis dan buah pelir

2.

Tumbuhnya bulu kapuk disekitar kemaluan, ketiak, dan diwajah.

3.

Perubahan suara menjadi agak membesar

4.

Terjadnya ejakulasi pertama biasanya melalui maturbasi atau onani atau web dream
(mimpi basah). Puncak pertumbuhan fisik masa pubertas adalah pada usia 13,5 tahun bagi
remaja pria.

Sementara perubahan fisik pada remaja wanita ditandai dengan


1.

Menstruasi pertama

2.

Mulai membesarnya payudara

3.

Tumbuhnya bulu kapuk di sekitar ketiak dan kelamin.

4.

Membesarnya/ atau melebarnya ukuran pinggul. Puncak pertumbuhan fisik masa pubertas
adalah pada usia 11,5 tahun pada remaja wanita.

2.2.

Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan (kapasitas) individu untuk


memanipulasi dan menyimak informasi. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif remaja
berada pada tahap formal operation stage yaitu tahap ke empat atau terakhir dari tahapan
perkembangan kognitif. Tahapan berpikir formal ini terdiri atas 2 periode (Broughton dalam John
W. Santrock, 2010:97), yaitu:
5

1.

Early formal operation thought, yaitu kemampuan remaja untuk berpikir dengan cara
hipotetif yang menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (bebas) tentang berbagai kemungkinan
yang tidak terbatas. Dalam priode awal ini remaja mempersepsi dunia sangat bersifat
subjektif dan idealistik.

2.

Late Formal Opreration Thought, yaitu remaja mulai menguji pikirannya yang berlawanan
dengan pengalamanya dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui akomodasi
(penyesuaian terhadap informasi atau hal baru), remaja mulai menyesuaikan terhadap
bencana atau kondisi pancaroba yang telah dialaminya.

Remaja, secara mental telah dapat berpikir secara logis tentang berbagai gagasan yang abstrak.
Dengan kata lain berpikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak, serta sistematis dan
ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berpikir konkret.

2.3.

Perkembangan emosi

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosional yang tinggi.
Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau
perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta,
rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis.
Gesel dkk. (Elizabeth B. Hurlock, 1980, terjemahan istiwidayanti dan Soedjarwo, 1991)
mengemukakan bahwa remaja empat belas tahun sering kali mudah marah, mudah terangsang, dan
emosinya cenderung meledak, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja
enam belas tahun mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai keprihatinan. Jadi, adanya badai
dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang akhirnya awal masa remaja.
Meskipun pada usia remaja kemampuan kognitif telah berkembang dengan baik, yang mungkin
dapat mengatasi sters atau fluktuasi emosi secara efektif tetapi masih banyak remaja yang belum
mampu mengelolah emosinya sehingga mereka mengalami depresi marah-marah, dan kurang
mampu meregulasi emosi. Kondisi ini dapat memicu masalah seperti kesulitan belajar
menyalahgunakan obat dan perilaku menyimpang, dalam suatu penelitian dikemukakan bahwa
regulasi emosi sangat penting bagi keberhasilan akademik. Remaja yang sering mengalami emosi
yang negatif cenderung memiliki prestasi belajar yang rendah.

2.4.

Perkembangan Sosial

Pada masa remaja berkembang social cognition yaitu kemampuan untuk memahami orang
lain. Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat
6

peribadi, minat nilai-nilai maupun perasaan. Pemahamannya ini, mendorong remaja untuk menjalin
hubungan sosial yang lebih akrap dengan mereka (terutama teman sebaya),baik melalui jalinan
persahabatan maupun percintan (pacaran). Dalam hubungan persahabatan, remaja memilih teman
yang memiliki kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interes,
sikap, nilai, dan kepribadian.
Pada masa ini juga berkembang sikap conformity yaitu kecenderungan untuk menyerah atau
mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman
sebaya). Perkembangan sikap konformitas pada remaja dapat memberikan dampak yang positif
maupun yang negatif bagi dirinya.
Penyesesuaian sosial ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap
realitas sosial, situasi, dan relasi. Remaja dituntut untuk memiliki kemampuan penyesuaian sosial
ini, baik dalam lingkungan keluarga, sosia, dan masyarakat.

2.5.

Perkembangan Moral

Melalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya, atau
orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia
anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konsep moralitas seperti
kejujuran, keadilan, kesopanan, dan kedisiplinan.
Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh
orang lain. Remaja berprilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasaan fisiknya, tetapi psikologis
(rasa puas dengan adannya penerimaan dan peneliaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).

2.6.

Perkembangan kepribadian

Sifat-sifat kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial,


kognitif, dan nilai-nilai. Masa remaja merupakan saat berkembangnya identity (jati diri).
Perkembangan identity merupakan isu sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi
masa dewasa. Dapat juga dikatakan sebagai aspek sentral bagi kepribadian yag sehat yang
mereflesikan kesadaran diri. Kemampuan mengidetifikasi orang lain dan mempelajari tujuan-tujuan
agar

dapat

berpartisipasi

dalam

kebudayaannya.

Erikson

menyakini

bahwa

perkembangan identity pada masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya terhadap okupasi
masa depan, peran-peran masa dewasa dan sistem keyakinan pribadi (Nancy J. Cobb, 1992: 75).
Sejak masa anak, sudah berkembang kesadaran akan diri dan masa remaja merupakan saat
berkembang usahany yang sadar untuk menjawab pertanyaan who am I? (Siapa saya?).
7

Menurut Erikson, identity diri individu berkembang pada usia remaja pada tahap
perkembangan kelima yaitu , identiti vs identiti confusion (kebingungan identitas/peran). Erison
mendifinisikan identitas sebagai consepsi konsep diri penentuan tujuan, nilai dan keyakinan yang
dipegang teguh oleh seseorang.
Krisis, apabila remaja tidak mampu memilih diantara berbagai alternatif yang bermakna
remaja dikatakan telah menemuakan identitas dirinya (self-identity) ketika berhasil memecahakan
tiga masalah utama yaitu , pilihan pekerjaan, adopsi nilai yang diyakinin dan dijalanin dan
perkembangan identitas yang memuaskan. Remaja yang gagal menemukan identitas dirinya, atau
mengalami kebingungan identitas, cenderung menampilkan perilaku menyimpang atau aneh-aneh.
Perilaku menyimpang seperti menampikan diri dan cara bepakaian kata-kata kasar, senang
mengonsumsi makanan keras dan melalukan tindakan kriminal.

2.6 Perkembangan Kesadaran Beragama

2.6.1. Masa remaja awal (usia 13-16 tahun),


Pada masa ini terjadi perubahan fisik yang cepat, Pertumbuhan fisik yang terkait dengan seksual
mengakibatkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan dan kekhawatiran pada diri remaja.
Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami
kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang
menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang
malas. Penghayatan rohaninya cenderung skeptis (was-was) sehingga muncul keengganan dan
kemalasan untuk melakukan berbagai ibadah ritual (seperti ibadah salat, pergi ke gereja,
menjalankan puasa, dll) yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.

2.6.2. Masa remaja akhir (usia 17-21 tahun),


secara psikologis, pada masa ini remaja sudah mulai stabil dan pemikirannya mulai matang. Dalam
kehidupan beragama remaja sudah melibatkan diri kedalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Remaja
sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya (ada yang
taat dan ada yang tidak taat). Kemampuan ini memungkinkan remaja untuk tidak terpengaruh oleh
orang orang yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama. Remaja dapat
menilai bahwa ajaran agamanya yang salah, tetapi orangnya yang salah.

3.

Ciri-ciri (karakteristik) Umum Masa Remaja

Pada remaja sering terlihat adanya :


1.

Kegelisahan, keadaan yang tidak tenang menguasai ciri remaja. Mereka mempunyai banyak
keinginan yang tidak dapat selalu dipenuhi.

2.

Pertentangan, pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri juga menimbulkan


kebingungan baik bagi dari mereka maupun orang lain. Pertentangan dapat menyebabkan
timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua, tambah pula keinginan
melepaskan diri secara ekonomis tidak memperoleh lagi bantuan dari keluarga dalam hal
keuangan.

3.

Keinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui.

4.

Keinginan menjelajah kealam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam
kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pencinta alam (Himapala).

5.

Menghayal dan berfantansi, hayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi
dan tangga karir.

6.

Aktivitas kelompok. Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitankesulitannya dengan berkumpul-berkumpul melakuakan kegiatan bersama, mengadakan
penjelajahan secara berkelompok.

4. Tugas Perkembangan Remaja


Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan prilaku kehidupan sosial
psikologi manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan
kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus diperlajari,
dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya. Pada jenjang kehidupan remaja,
seseorang telah banyak menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, seperti misalnya mengatasi
sifat-sifat tergantung pada orang lain, memahami norma sepergaulan dengan teman sebaya, dan
lain-lain, memahami norma sepergaulan dengan teman sebaya, dan lain-lain.
Berkaitan dengan tugas perkembangan remaja Menurut Hurlock (1990), seluruh tugas
perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada penanggulangan sikap dan pola perilaku yang
kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa
Menurut Havighurst, tugas-tugas perkembangan remaja adalah sebagai berikut:
1.

Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun
wanita.

2.

Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.


9

3.

Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan secara efektif

4.

Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya

5.

Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.

6.

Memilih dan mempersiapkan karier (pekerjaan)

7.

Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga

8.

Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga


negara.

9.

Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial

10. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam
bertingkah laku.
11. Beriman dan bertakwah kepada tuhan yang Maha Esa
Dari beberapa tugas-tugas perkembangna remaja tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa jenis
perkembangan remaja itu pada dasarnya mencakup segala persiapan diri untuk memasuki jenjang
dewasa, yang intinya bertolak dari tugas perkembangan fisik dan tugas perkembangan sosiopsikologis.

5. Konflik Pada Masa Remaja


Masa remaja adalah masa penuh pergolakan karena pada masa ini terjadi begitu banyak
perubahan dalam diri remaja, antara lain; perubahan fisik, perubahan sosial, perubahan kematangan
emosional. Perubahan fisik berupa perubahan eksternal dan internal. Perubahan eksternal yaitu
terjadi perubahan tinggi badan, berat badan, proporsi tubuh, organ seks dan ciri-ciri seks sekunder.
Perubahan internal berupa perubahan sistem pencernaan, peredaran darah, pernapasan, sistem
endokrin dan jaringan tubuh (Hurlock 1997: 211).
Selain perubahan fisik, pada remaja terjadi pula perubahan sosial. Kelompok teman sebaya
memiliki pengaruh yang sangat kuat pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku
remaja. Remaja sangat takut kalau dikucilkan atau tidak diterima oleh kelompok teman sebaya.
Kegagalan dalam bersosialisasi dengan teman sebaya dapat membuat remaja minder dan membuat
remaja menjadi tertekan.
Perubahan lain yang dialami remaja adalah perkembangan emosinya. Hurlock (1997: 213)
menandaskan bahwa pola emosi pada masa remaja sama dengan pada masa kanak-kanak, namun
bila diperlakukan sebagai anak-anak atau secara tidak adil mereka akan sangat marah. Pola
emosi para remaja ini disebabkan juga oleh kematangan emosi mereka. Kematangan emosi pada
masa remaja dinyatakan dalam reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-ubah dan tidak
10

menjadikan orang lain sebagai sasaran kemarahan atau pelampiasan emosi, tetapi memiliki
keterbukaan dalam hubungan dengan orang lain terlebih dengan orangtua.
Hubungan dengan orangtua selama masa remaja tingkat konflik dan keterbukaan
komunikasi didasarkan pada besarnya kedekatan emosi selama perkembangan masa anak; dan
hubungan masa remaja dengan orangtua, pada gilirannya, membentuk tahap tahap kualitas sebuah
hubungan dengan pasangannya di masa dewasa (Overbeek, Stattin, Velmust, Ha, & Engels dalam
Papalia, 2014). Masa remaja membawa tantangan istimewa. Hanya saat merasa tekanan antara
ketergantungan pada orangtua mereka dan kebutuhan untuk melepaskan diri, orangtua
menginginkan anak anak mereka menjadi mandiri, tetapi juga sekaligus sulit untuk
melepaskannya. Orangtu seharusnya berjalan pada garis lurus antara memberikan anak anaknya
cukup kemandirian dan melindungi mereka dari ketidakmatangan penyimpangan dalam penalaran.
Tekanan dapat mengarahkan keluarga pada konflik, dan gaya pengasuhan dapat mempengaruhi
bentuk dan hasilnya. Pengawasan efektif tergantung pada seberapa besar remaja membiarkan
orangtua mereka mengetahui aktivitas sehari hari dan keterbukaan seperti itu tergantung pada
atmosfer yang dibangun oleh orangtua. Begitu juga dengan anak yang lebih muda, hubungan
orangtua dengan remaja tergantung pada situasi kehidupan orangtua pekerjaan mereka dan status
pernikahan serta sosial ekonominya. Kepribadian juga merupakan faktor penting (Denissen, van
Aken, dan Dubas dalam Papalia, 2014).

11

BAB III
CONTOH KASUS

1. Identitas Subyek
Nama

: Ferno (bukan nama sebenarnya)

Sex

: Laki - laki

Alamat

: Tegal

Ayah

: Tuan Hoki (bukan nama sebenarnya)

Usia

: 17 tahun

2. Permasalahan
Ferno adalah anak pertama dari dua bersaudara, laki laki semua, selisih 2 tahun. Ferno
bukanlah anak kandung dari Tuan Hoki dan isterinya. Tn. Hoki dan isterinya sudah berusaha
sedemikian rupa, bahkan sampai mengikuti program bayi tabung untuk mempunyai anak namun
belum berhasil, sampai akhirnya dipertemukan dengan seorang wanita yang kurang beruntung
secara ekonomi dan suaminya meninggal, wanita tersebut baru saja melahirkan dan mengalami
sakit hingga tidak bisa mengurus bayinya. Melihat hal tersebut, Tn Hoki dan isterinya jatuh kasihan
dan dengan dorongan keluarga, mengambil anak tersebut sebagai anak mereka, dan memberinya
nama Ferno. Tidak lama setelah Ferno dirawat oleh Tuan dan Nyonya Hoki, ibu kandung Ferno
meninggal.
Tuan dan Nyonya Hoki merawat Ferno dengan penuh kasih sayang bahkan sangat sayang,
sampai pada 2 tahun kemudian tanpa disadari oleh keluarga mereka, Ny. Hoki ternyata dinyatakan
positif hamil, berita ini tentu saja sangat menggembirakan bagi keluarga tersebut. Namun Tuan dan
Nyonya Hoki berkomitmen untuk tetap menjaga dan membesarkan Ferno sebaik mungkin dan
jangan sampai Ferno merasa dibedakan. Dengan dasar pikiran tersebut mereka memperlakukan
kedua anak tersebut dengan sangat hati hati. Segala fasilitas dipenuhi, semua permainan
disediakan selalu berjumlah dua agar semua anak mempunyai dan tidak saling merasa iri lalu
berebutan. Meskipun salah satu anak sebenarnya tidak menyukainya, kedua orangtuanya selalu
membelikan dengan jumlah dua. Untuk urusan baby sitter pun setiap anak disediakan masingmasing satu. Tuan dan Nyonya Hoki tidak pernah marah kepada kedua anaknya dan berusaha selalu
menuruti keinginan keinginan anak anak mereka. Setelah mereka semakin bertambah besar
nampak adik Ferno lebih mandiri dan selalu ingin melakukan segala sesuatunya sendiri, berbeda
dengan Ferno yang tidak mudah bergaul dengan orang lain dan sangat mudah menjadi emosional
12

dan marah. Meskipun Ferno sangat pandai terutama di bidang musik, aransemen musik,
matematika dan pelajaran pelajaran exact lainnya, namun ia selalu mengalami masalah dalam
pergaulannya. Kecerdasan musik dan akademiknya tidak berbanding lurus dengan kemampuannya
dalam bersosialisasi dan dalam mengontrol emosinya. Dalam setiap komunitas dia sulit untuk
berbaur, ia hanya merasa nyaman dengan orang orang yang dirasanya lebih pandai di bidang
bidang yang disukainya, dan dia sangat sensitif terhadap respon maupun perkataan orang lain, dan
menyimpannya sebagai suatu perasaan negatif di dalam dirinya. Jika ada yang tidak sesuai di
hatinya, ia akan marah sekali bahkan pernah beberapa kali meludahi papa dan mamanya, kemudian
memukuli ayahnya di dalam kamarnya yang sengaja dia kunci agar papanya tidak bisa keluar,
belum lagi dia pernah marah yang luar biasa sampai seluruh isi rumah diporak porandakannya,
sampai ayahnya memanggil polisi yang adalah kawannya untuk menakut nakuti Ferno dan cara
ini berhasil.
Di awal tahun kelas 2 SMA sekolah informal, semua bahan pelajaran selama 1 tahun sudah
hampir diselesaikannya hanya dalam waktu 3 bulan saja, dan saat ini dia tinggal dengan tante dan
omnya di kota Salatiga dengan harapan bahwa dengan tinggal bersama orang lain Ferno bisa
merasa segan dan belajar mengontrol emosinya. Namun ternyata harapan ini belum terwujud
sampai sekarang bahkan Ferno berani memarahi dan memusuhi om dan tantenya dan memandang
buruk semua orang yang tidak sesuai dengan keinginannya.

3. Analisa Kasus
Kasus Ferno di atas dapat ditelaah dengan menggunakan teori-teori yang mempengaruhi
faktor perkembangan individu yaitu teori nativis (aliran nativisme), teori empiris (aliran empirisme)
dan teori konvergensi (aliran konvergensi). Teori nativisme percaya bahwa faktor hereditaslah yang
mempengaruhi perkembangan individu. Kalau orang tuanya, atau leluhurnya baik maka individu
tersebut akan menjadi pribadi yang baik. Tetapi kalau orang taunya atau leluhurnya emosional,
maka individu tersebut akan menjadi pribadi yang emosional. Teori empirisme berpendapat bahwa
individu lahir ke dunia ini seperti kertas putih yang siap ditulis atau seperti tabula rasa. Bagi aliran
ini faktor lingkunganlah yang mempengaruhi perubahan dalam perkembangan individu. Teori
konvergensi menyatukan pandangan kedua aliran ini. Menurut aliran konvergensi, faktor yang
mempengaruhi perkembangan individu adalah faktor hereditas dan juga faktor lingkungan. Kedua
faktor ini memiliki andil yang sama dalam mempengaruhi perkembangan individu.
Dalam kasus Ferno di atas, kami sependapat dengan aliran konvergensi yang mengatakan
bahwa perkembangan kepribadian individu dipengaruhi baik oleh faktor hereditas maupun oleh
13

faktor

lingkungan.

Untuk

analisis

kasus

Ferno,

kami

mengempokkan

faktor

yang

mempengaruhinya dalam dua kelompok yaitu faktor internal dan eksternal.


3.1.

Faktor-faktor nature / herediter/ bawaan :


Beberapa hal yang dipaparkan dalam faktor herediter ini merupakan aspek aspek yang

muncul dalam diri Ferno yang merupakan anak angkat Tuan dan Nyonya Hoki namun tidak
didapati pada adiknya yang merupakan anak kandung dari Tuan dan Nyonya Hoki
meskipun mereka diasuh dengan pola asuh yang sama, dan aspek aspek tersebut juga tidak
didapati pada diri Tuan dan Nyonya Hoki sendiri.
-

Bakat: Ferno memiliki bakat di bidang musik, aransemen musik, matematika dan
pelajaran pelajaran exact. Bakat-bakat ini bersifat genetis dan berkembang karena
didukung oleh lingkungan, di mana Tuan dan Nyonya Hoki selalu berusaha
menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh Ferno untuk pengembangan bakatnya.

Sifat emosional: sifat ini bisa merupakan sifat bawaan, mungkin ayah atau ibu
kandungnya atau leluhurnya memiliki sifat pemarah atau emosional. Bisa jadi sifat ini
diwarisi oleh ibunya, ketika ia masih berada di dalam kandungan ibunya. Karena ketika
mengandung Ferno, ibunya berada dalam situasi sebagai seorang yang kurang
beruntung secara ekonomis dan juga sebagai janda karena suaminya meninggal. Situasi
ini bisa menimbulkan kemarahan atau emosi terpendam yang tidak terselesaikan dengan
baik. Tetapi bisa juga sifat ini merupakan kemarahan yang tak disadari karena pola asuh
yang sangat menekannya atau over protektif. Atau seperti yang dikatakan Hurlock
(1997:213) karena dia merasa diperlakukan sebagai anak kecil atau secara tidak
adil, walaupun mungkin tidak demikian.
Sifat minder sebagai wujud krisis indentitas. Ferno gagal dalam bersosialisasi dengan
teman-teman sebayanya. Kegagalan tersebut membuat Ferno marah. Kemarahan bisa
ditimbulkan oleh krisis indentitas. Erikson (dalam Hurlock 1997: 208) menjelaskan
bahwa indentitas diri yang dicari oleh remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa
dirinya dan apa perannya dalam masyarakat. Dalam pencarian itu Ferno menempatkan
tokoh-tokoh idola atau ideal sebagai pembimbing untuk menemukan identitasnya yaitu
mereka yang sebakat dengannya dan lebih hebat dari dirinya.
Sifat minder bisa saja merupakan warisan dari sang ibu kandung yang ketika
mengandung Ferno berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan. Sifat itu
membuatnya minder. Satu-satunya yang bisa ia andalkan adalah orang-orang yang
sebakat, karena bersama mereka ia merasa didukung.
14

3.2.
-

Faktor-faktor eksternal:
Pola asuh Tuan dan Nyonya Hoki (orang tua angkat dari Ferno). Pola asuh Tuan dan
Nyonya Hoki yang over protektif. Mereka ingin merawat Ferno sebaik-baiknya dengan
memberikan perhatian yang berlebihan, membelikan atau memberikan apa yang tidak
dibutuhkan oleh kedua anaknya; Ferno dan adiknya.

Faktor Sosial Ekonomi. Keluarga Ferno adalah keluarga yang mapan secara ekonomi
bahkan dapat dikatakan hidup dengan berkecukupan, sehingga sejak dari kecilnya Ferno
selalu menikmati fasilitas yang nyaman dan melebihi teman teman sebayanya. Apapun
yang menjadi kebutuhannya selalu dapat disediakan oleh kedua orangtuanya, sehingga
Ferno selalu merasakan kenyamanan dan bantuan dari lingkungan seperti materi yang
selalu tercukupi maupun bantuan seperti baby sitter ketika dia kecil dan asisten rumah
tangga ketika dia mulai usia sekolah, sehingga ketika dia memasuki masa remaja
dimana ia harus mulai mandiri ia merasakan ketidkanyamanan yang cukup mengganggu
sehingga dia mengalami frustrasi dan kebingungan yang membuatnya sulit untuk
mengontrol emosi emosinya.

Teman sebaya. Penolakan atau ketidakmampuan untuk bersosialisasi dengan teman


sebaya bisa jadi karena Ferno tidak dapat menyesuaikan dengan situasi teman-temannya.
Ferno tidak dapat masuk ke dalam kelompok teman sebaya karena gagal
mengindentifikasikan diri dengan mereka.

3.3.

Terlalu Banyak Kasih Sayang (Hurlock, 1978, h.237)


Orang yang terlalu khawatir akan keselamatan anaknya/ terlalu demonstratif

menunjukkan kasih sayang tidak akan mendorong anak untuk belajar mengekspresikan
kasih sayang kepada orang lain, bahkan mendorong anak memusatkan kasih sayang kepada
diri sendiri dan menuntut serta mengharapkan kasih sayang orang lain, anak tidak mampu
membina komplek empatik atau pertalian emosi dengan orang lain. Akibatnya, anak terkesan
tidak menaruh minat kepada orang lain dan menaruh sedikit saja kasih sayang kepada orang
lain, suatu kesan yang menghalangi penerimaan mereka sebagai anggota kelompok teman
sebaya, sehingga memusatkan kasih sayang hanya pada satu dua orang saja dan biasanya
hanya memiliki satu atau dua teman saja, pada Ferno ia hanya memiliki satu teman dekat
saja di sekolah dasar dan berlanjut sampai SMP, ia merasa diabaikan oleh teman temannya
padahal yang terjadi adalah Ferno terkesan tidak berminat dengan orang lain.

15

Keadaan ini menimbulkan perasaan sunyi dan tersiksa karena kesal terhadap
kegembiraan yang dialami oleh teman sebaya dan hal ini pulalah yg memicu kemarahan dan
perilaku emosional Ferno.

3.4.

Faktor Perkembangan Psikososial

Teori Erick Erickson membahas mengenai delapan tahapan perkembangan manusia yang
diawali pada masa bayi dan diakhiri di masa usia lanjut atau dewasa akhir, dimana setiap
tahapan perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Setiap tahapan
perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial tersebut, terdapat interaksi
berlawanan di dalamnya, yaitu konflik antara elemen sintonik (harmonis) dan elemen distonik
(mengacaukan). Interaksi tersebut dibutuhkan untuk adaptasi yang benar, agar siap menghadapi
realitas yang harus dihadapi pada tahap perkembangan selanjutnya. Konflik antara elemen
distonik dan sintonik menghasilkan kualitas ego dan kekuatan ego, yang disebut oleh Erikson
sebagai kekuatan dasar (basic strength). Tiap tahapan menghasilkan kekuatan ego dasar
yang muncul dari benturan elemen elemen harmonis dan mengacaukan di tahapan itu.
Benturan antara elemen sintonik dan distonik yang tidak memunculkan kekuatan dasar
(basic strength) akan mengakibatkan terjadinya patologi inti (core pathology) pada tahap
tersebut. Dimana patologi inti merupakan lawan dari kekuatan dasar, dan setiap tahapan
memiliki potensi untuk memunculkan patologi inti tersebut (Feist, 2016, h.296).
Masa bayi dalam teori Erikson meliputi kurang lebih satu tahun pertama kehidupan dan paralel
dengan fase oral dalam perkembangan psikoseksual Freud. Menurut Erikson masa bayi adalah
masa pembentukan, dimana bayi bukan hanya menerima melalui mulut saja seperti dalam teori
Freud, namun juga melalui organ indra yang lain, dimana hal ini merupakan mode aktivitas
yang disebut inkorporasi, yaitu memasukkan sesuatu ke dalam dirinya secara pasif namun
sangat mendambakan sesuatu itu (Erikson dalam Crain, 2007 hal. 429). Bayi berada dalam
tahapan perkembangan psikoseksual yang disebut oleh Erickson sebagai Gaya Psikoseksual
Sensori Oral.
Tahapan sensori oral merupakan gaya psikoseksual utama dalam penyesuaian diri masa bayi
yang ditandai oleh dua gaya pembentukan yaitu memperoleh dan menerima apa yang
diberikan. Bayi dapat memperoleh walaupun tanpa keberadaan orang lain misalnya memperoleh
udara melalui paru paru, memperoleh data sensori tanpa manipulasi.
Gaya pembentukan kedua menyiratkan konteks sosial, yaitu menerima. Misalnya, bayi
menerima susu melalui mulutnya untuk menghilangkan rasa lapar, untuk mendapatkannya dia
16

hanya bisa menerimanya dari orang lain yaitu ibunya atau pengasuhnya karena ia masih sangat
tergantung pada orang lain, melalui interaksi ini bayi belajar mempercayai atau tidak
mempercayai orang lain. Hal inilah yang membangun krisis psikososial dasar di masa kanak
kanak, yang dinamai rasa percaya dasar versus rasa tidak percaya dasar.

Masa Bayi Ferno - Rasa Percaya Dasar versus Rasa Tidak Percaya Dasar
Seorang bayi apabila secara konsisten mendengar suara ibu, dimana biasanya sebagai
pengasuh utama mereka, dengan usaranya yang ramah dan ritmis, dan menyadari bahwa ibu
menyediakan makanan secara reguler, maka bayi mulai belajar rasa percaya dasar. Bila mereka
bisa bergantung pada lingkungan visual yang menyenangkan, mereka akan lebih memperkuat
rasa percaya dasar. Dapat dikatakan bahwa apabila pola menerima segala sesuatu cocok dengan
cara kulturnya menerima segala sesuatu, maka bayi belajar rasa percaya dasar. Sebaliknya,
mereka belajar rasa tidak percaya dasar bila mereka tidak menemui kecocokan antara kebutuhan
sensori oral mereka dengan lingkungan mereka.
Rasa percaya dan tidak percaya adalah pengalaman yang tidak terelakkan bagi bayi. Semua
bayi yang bertahan hidup berarti dia telah dirawat dengan baik, dan oleh karenanya
mengembangkan rasa percaya pada pengasuhnya secara khusus dan pada lingkungannya secara
umum. Sebaliknya bayi yang merasakan frustrasi karena rasa sakit, lapar, dan tidak nyaman
mengembangkan rasa tidak percaya kepada pengasuhnya dan kepada lingkungannya sehingga
mengakibatkan frustrasi, amarah, sifat permusuhan, sikap sisnis atau depresi.
Konflik antara rasa percaya dasar dan rasa tidak percaya dasar memunculkan Harapan.
Tanpa mengalami konflik antara rasa percaya dan tidak percaya, manusia tidak dapat
mengembangkan harapan. Bayi harus merasakan lapar, sakit, dan tidak nyaman sebagaimana
bayi juga harus merasakan pengurangan kondisi tidak menyenangkan ini. Dengan memiliki
pengalaman menyakitkan berganti dengan menyenangkan, bayi belajar untuk berharap bahwa
gangguan mereka di masa depan akan diakhiri oleh hasil yang memuaskan.
Apabila bayi tidak pernah merasakan harapan yang cukup pada masa ini, maka bayi akan
memunculkan lawan dari harapan yaitu withdrawal atau penarikan diri sebagai patologi inti di
masa bayi.
Dalam hal ini Ferno merupakan bayi yang sangat diharapkan oleh keluarga Tn. Hoki, sehingga
mereka merawat Ferno dengan sangat sempurna sehingga elemen distonik yang seharusnya juga
dirasakan oleh bayi Ferno sebaliknya tidak pernah dirasakan olehnya, sehingga ia tidak pernah
merasakan adanya konflik sama sekali antara elemen sintonik dan distonik, maka ia
17

mengembangkan hanya basic trust saja selama tahapan perkembangan masa bayinya. Ia melihat
bahwa lingkungan adalah sesuatu tempat yang sangat nyaman dan tidak pernah ada masalah
apapun di dalamnya.
Masa Kanak kanak Awal Ferno Otonomi versus Rasa Malu dan Ragu
Kondisi yang sangat nyaman ini dikondisikan sampai di masa kanak-kanaknya dan terus
dipertahankan sedemikian rupa oleh kedua orangtuanya, sehingga Ferno tidak pernah
mendapatkan kekuatan dasar yang merupakan hasil interaksi antara elemen sintonik dan
distonik. Ketika masa kanak kanak awal dimana seharusnya Ferno mengembangkan rasa
otonom sebagai elemen sintonik di dalam dirinya melalui pengembangan rasa kendali akan
lingkungannya melalui gaya penyesuaian psikoseksual otot uretral anal, yaitu gaya
penyesuaian yang diterapkan pada tahapan perkembangan kanak kanak awal, dan kembali
Ferno tidak mengalami konflik antar elemen sintonik dan distonik dan pada masa ini ia hanya
mengembangkan elemen distonik saja akibat dari orangtua Ferno yang secara sempurna
mengendalikan seluruh lingkungan Ferno, seperti misalnya pelatihan penggunaan toilet sebagai
output dari penyesuaian psikoseksual anal, itupun diambil alih oleh orangtua dengan
penggunaan pampers dan tidak melatih Ferno untuk mengontrol dalam menahan dan
menghilangkan feses pada waktu dan tempat yang tepat. Contoh lainnya dalam hal pelatihan
makan sendiri sebagai output dari gaya penyesuaian otot, orangtua kembali mengambil alih
tugas tersebut dengan memfasilitasi adanya baby sitter yang siap sedia 24 jam,

tanpa

membiarkan Ferno belajar mengendalikan otot otot tangannya untuk makan sendiri dan
menjadi kotor dan berantakan sebagai akibat dari otot otot yang belum terkendali sempurna.
Melalui sikap orangtua yang sedemikian maka Felix mengembangkan elemen distonik saja
pada masa kanak kanak awalnya yaitu elemen Rasa malu dan Ragu.
Masa Usia Bermain Ferno Inisiatif versus Rasa Bersalah Pembentukan Hati Nurani
Masa ini adalah masa dimana anak mengembangkan gaya penyesuaian Psikoseksual
Lokomotor Genital. Seorang anak pada masa ini seharusnya mengembangkan daya gerak,
keterampilan, keingintahuan, imajinasi, dan kemampuan untuk menentukan tujuan, namun hal
ini tidak dialami oleh Ferno, orngtua memiliki kekhawatiran yang besar sehingga banyak hal
yang ingin dilakukan oleh Ferno dihambat sehingga ia mengembangkan elemen distonik rasa
bersalah, karena setiap hal yang ingin dilakukannya dikekang oleh orangtuanya. Oleh karena itu
pula pembentukan hati nurani yang seharusnya terbentuk pada masa ini tidak terbentuk
18

sempurna dalam diri Ferno karena standard benar salah yang ditanamkan bukanlah standard
nilai atau norma yang berlaku secara umum di masyarakat tetapi standard benar dan salah dari
orangtuanya, maka ketika memasuki masa remaja dimana Ferno dihadapkan pada standard nilai
atau norma yang berlaku umum di masyarakat Ferno mengalami kebingungan dan kesulitan
untuk menyesuaikan diri, maka krisi identitas pada masa remaja semakin menyiksa buat Ferno
dan membuatnya tanpa disadari menyalahkan orangtuanya dan senantiasa menjadikan
orangtuanya sebagai pelampiasan emosinya.

Dalam tahapan perkembangan Bayi dan masa kanak kanak awal sebagai dasar epigenetik
bagi masa perkembangan berikutnya Ferno tidak pernah mengalami konflik dari elemen sintonik
dan distonik, bahkan ketika masa usia sekolah dasar, Ferno juga mengalami elemen distonik yaitu
inferiority atau rendah diri karena pengabaian dari teman temannya, karena ia tidak terbiasa
dengan orang lain dan selalu dilindungi oleh orangtua akibatnya ia mengalami kesulitan untuk
bergaul dan memperoleh teman dekat. sampai akhirnya ketika ia memasuki masa remaja, suatu
masa yang menurut Erickson adalah suatu tahapan perkembangan yang ditandai oleh krisis identitas
yang disebutnya sebagai titik balik, yaitu periode krusial akan meningkatnya kerapuhan atau
sebaliknya memuncaknya potensi. Sewajarnya krisis identitas bukanlah hal yang buruk melainkan
kesempatan untuk penyesuaian adaptif maupun nonadaptif, namun pada kasus Ferno ia amat
kesulitan dalam menghadapinya karena ia tidak pernah disiapkan untuk mengalami konflik apapun
di dalam kehidupannya karena semua konflik telah diambil alih dan diselesaikan oleh kedua
orangtuanya. Maka pada masa remaja yang penuh dengan krisis dan bahkan disebut sebagai masa
storm and stress ini, Ferno tidak siap menghadapinya dan mengalami konflik di dalam dirinya yang
tidak bisa dia lampiaskan kepada siapapun kecuali kepada keluarganya dan orang orang
terdekatnya.

3.5.

Faktor Individuasi
Ferno yang berusia 17 tahun saat ini sedang berada pada tahapan perkembangan

masa remaja. Pada masa ini banyak perubahan perubahan yang terjadi, remaja mengalami masa
pencarian identitas dan idealnya dapat menemukan identitas pribadinya di penghujung tahapan
masa perkembangan ini yang akan mempersiapkannya untuk memasuki tahapan perkembangan
dewasa awal. Meski demikian dalam menjalaninya bukanlah suatu hal yang mudah, terdapat
beberapa hal yang dapat menghambat proses penemuan identitas dirinya, salah satunya adalah
19

Individuasi dan Konflik Keluarga. Individuasi adalah perjuangan remaja demi otonomi dan
perbedaan, atau identitas personal. Aspek penting dari individuasi adalah meniti batas kontrol
antara diri sendiri dan orangtua dan proses ini mungkin menuntut konflik keluarga (Nucci, Hasebe,
dan Lins-Dyer, dalam Papalia 2014). Orang muda yang melihat diri mereka sendiri sebagai
individu yang memiliki kesempatan yang baik mengenai otonomi pada aktivitas sehari hari
mereka cenderung menghabiskan lebih banyak waktu bersosialisasi tanpa pengawasan dengan
sebayanya dan menghadapi risiko untuk permasalahan perilaku di sekolah menengah atas. Di sisi
lain, yang melihat orangtua mereka sangat campur tangan dalam kehidupan pribadinya cenderung
bermasalah dengan teman teman sebayanya. Jadi orang tua dari remaja muda harus tegas
memelihara keseimbangan antara kebebasan yang berlebihan dan campur tangan yang berlebihan
(Goldstein, Davis-Kean & Eccles dalam Papalia 2014). Intensitas emosi pada konflik tersebut
mungkin mencerminkan dasar proses individuasi. Pada kasus Ferno, campur tangan yang
berlebihan pada masa anak anak yang tidak berkurang sampai masa remaja menimbulkan
hambatan bagi Ferno untuk melakukan individuasi sehingga ia mengalami konflik keluarga yang
memunculkan letupan letupan emosi yang cukup besar pada dirinya dan dirasakan oleh orang
orang terdekatnya.

20

BAB IV
PENUTUP

1. SARAN INTERVENSI
Saran untuk intervensi psikologis dalam kasus Ferno di atas adalah sebagai berikut:

1.1.

Perubahan Pola Asuh Bertahap

Keluarga tuan dan nyonya Hoki perlu dibantu dalam hal penyelesaian persoalan emosional
Ferno. Solusi memindahkan Ferno untuk tinggal bersama om dan tantenya di Salatiga bukanlah
solusi yang tepat. Hal ini tidak menyelesaikan masalah tetapi hanya memindahkan tempat masalah
dan menambah masalah baru. Dalam terapi keluarga, tuan dan nyonya Hoki dibantu untuk
mengenal pola asuh mereka terhadap Ferno dan juga anak kandung mereka. Mereka perlu
dijelaskan bahwa pola asuh yang mereka lakukan selama ini, seperti over protektif, memberikan hal
yang sama untuk kedua anaknya walaupun mereka tidak suka, telah membuat Ferno tertekan dan
menimbulkan kemarahan. Ferno memberontak terhadap kenyataan ini. Oleh karenanya sebaiknya
dilakukan perubahan pola asuh yang tepat namun tidak secara serta merta namun bertahap terutama
untuk melatih kemandirian Ferno dan kesiapannya dalam menghadapi perubahan perubahan di
dalam hidupnya.
1. Orangtua dibantu untuk memahami pola asuh yang tidak tepat yang selama ini mereka
terapkan kepada Ferno, kemudian diajak dan diarahkan untuk memilih pola asuh yang tepat.
2. Orangtua

sebaiknya

memberikan

waktu

bagi

Ferno

untuk

membicarakan

dan

menyampaikan pikiran pikiran dan perasaannya baik yang menyenangkan maupun yang
tidak menyenangkan, dan meresponinya dengan wajar tanpa tekanan tekanan emosi
tertentu, bukan sekedar memfasilitasi secara materi saja sehingga dengan memberikan
kesempatan ini, Ferno dapat melakukan katarsis emosi sehingga dia tidak mudah meluap
luap secara emosi dan melampiaskan emosi dengan cara yang salah.
3. Orangtua mulai memberi kesempatan Ferno untuk mengambil keputusan kepututsan
sendiri dan orangtua menunjukkan sikap menghargai tanpa mengkoreksi kemudian baru
memberikan pengarahan yang sewajarnya tanpa bernada menghakimi, sehingga Ferno dapat
merasa dihargai sehingga sedikit demi sedikit menumbuhkan rasa percaya dirinya.
4. Orangtua mulai menerapkan pola asuh authoritative, mendorong anak untuk mandiri namun
masih tetap memberi batasan dan kendali atas tindakan anak. Orangtua masih memberikan
kesempatan untuk berdialog secara verbal. Di samping itu orangtua juga bersifat hangat dan
21

mengasuh. Orangtua tetap menunjukkan kehangatan ketika Ferno melakukan sesuatu hal
yang tidak tepat, namun mengevaluasi kesalahan dan merencanakan bersama tindakan yang
tepat yang seharusnya dilakukan Ferno. Sebaliknya orangtua memperlihatkan rasa senang
dan dukungan sebagai respons terhadap perilaku konstruktif dari Ferno

(Santrock,

2012,h.291), sehingga Ferno belajar untuk menyadari perilaku mana yang diterima dan
tidak dapat diterima dan mengembangkan perilaku konstruktif.
5. Memfasilitasi Ferno untuk mengembangkan bakat dan minatnya seperti les, mengikuti
kompetisi tertentu yang sesuai bakat dan minatnya.

1.2.

Konseling dan Terapi kepada Ferno

Selain kedua orang tuanya diterapi Ferno juga perlu menjalani terapi. Ferno perlu dibantu untuk
menyadari emosinya yang dapat merusak masa depannya. Dalam terapi Ferno dapat diajak untuk
bersama-sama melihat akar masalah; mengapa ia marah? Setelah mendapatkan akar masalah, akar
ini diolah. Bila telah selesai Ferno diajak untuk mensyukuri hidupnya bahwa ia sangat beruntung
boleh memiliki orang tua yang luar biasa, dibandingkan dengan teman-teman lain.
Ferno perlu dibantu untuk lebih mandiri, menganalisa setiap permasalahannya, kemudian dilatih
untuk mengambil keputusan sendiri dan belajar menerima setiap resiko yang ada kemudian belajar
dari setiap kegagalan dan mencari alternatif solusi lainnya, sampai ia benar benar menjadi pribadi
yang mandiri.
Ferno perlu dibangkitkan kesadarannya bahwa ketika ia mandiri dan belajar menyelesaikan
masalahnya secara mandiri, ia tetap tidak sendirian namun ada orangtuanya dan keluarga yang
mendampingi, menguatkan ketika dia lemah dan merasa tidak mampu, namun ia bertanggung
jawab sepenuhnya terhadap diri sendiri dan masa depannya.

1.3.

Menerapkan Modifikasi Perilaku.

Merencanakan program modifikasi perilaku berdasarkan kesepakatan kesepakatan dan


komitmen bersama antara orangtua Ferno dengan Ferno sendiri. Misalnya dengan menemukan hal
hal yang menjadi kebutuhan dan keinginan Ferno dan menjadikannya sebagai reward ketika ia
menunjukkan perilaku yang sesuai atau diinginkan dan meniadakannya ketika Ferno memunculkan
perilaku yang tidak diharapkan.

22

1.4.

Mengekplorasi bakat bakat yang ada pada diri Ferno.

Obsesi yang berlebihan pada bidang bidang khusus, seperti musik, matematika, dan
religiusitas bisa saja merupakan manifestasi dari kegeniusan Ferno, yang setelah dilakukan tes IQ
dia memiliki skor IQ yang tergolong genius dengan skor IQ 140 lebih, dengan mengeksplornya
membantu menyalurkan bakat, minat bahkan kebutuhannya untuk memuaskan keingintahuannya
mengenai bidang bidang tersebut, dan dengan mengekplorasinya, semakin terasahlah bakatnya,
dengan demikian membantunya untuk dapat menerima dirinya sebagai manusia yang memiliki
kelebihan sekaligus kekurangan. Maka dengan mengeksplorasi bakat dan minat Ferno, dapat
membantunya mengatasi rasa mindernya, melalui pengakuan dari orang lain selain keluarga ia bisa
menyadari kelebihan- kelebihannya, di sisi lain ia juga bisa bertemu lebih banyak orang yang
mungkin lebih mahir darinya sehingga ia dapat menyeimbangkan pikiran dan perasaannya agar
tidak menjadi terlalu minder atau menjadi terlalu sombong sehingga diharapkan dia menjadi pribadi
yang seimbang dan stabil.
Dengan menyadari kelebihan dan kekurangannya jugalah diharapkan Ferno dapat mengatasi
krisis identitasnya dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan potensi sebagai nilai lebih dalam
mengatasi krisis identitasnya.

Kesimpulan untuk intervensi pada Ferno :


1. Ferno dibantu untuk mengendalikan emosinya dengan mengenali setiap emosi tidak
menyenangkan yang muncul, menyampaikan dengan cara yang tepat dengan orang yang dia
percaya jika perlu dibantu dengan relaksasi atau melatih respons time emosinya.
2. Ferno diajak untuk belajar melakukan katarsis emosi, bisa melalui tulisan, maupun
disampaikan secara verbal kepada orang yang dipercaya, tanpa takut adanya penilaian
ataupun penghakiman dari orang lain. Katarsis emosi ini bisa dilakukan salah satunya
dengan menggaris bawahi atau membuat Ferno memahami emosi apa yang sering
mengganggu, kapan biasanya muncul, pada orang tertentu atau pada semua orang, dan
tindakan apa yang bisa membantunya menyalurkan emosi dan perasaan sehingga
menimbulkan perasaan tenang dan lega.
3. PROSES SOSIALISASI (Hurlock, 1978,h.250)
a. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial
Ferno diajak untuk mempelajari standar perilaku yang dapat diterima lalu
menyesuaikan perilaku dengan patokan yang dapat diterima (ranah kognitif).
b. Memainkan peran sosial yang dapat diterima
23

Memahami perannya di rumah sebagai anak, di sekolah sebagai murid dan teman
sebaya, di lingkungan sebagai remaja dan teman bagi sebayanya, lalu belajar
melakukan perannya masing masing, melihat dan merasakan respons dari orang
lain, sedikit demi sedikit akan menjadi kebiasaan, (ranah afeksi). Jika mengalami
kesulitan di awal maka dapat dilakukan permainan peran oleh pembimbing atau
konselor dan terapis.
c. Perkembangan Sikap Sosial
Ferno diajak untuk belajar bekerja sama dengan orang lain,karena untuk dapat
bermasyarakat atau bergaul dengna baik seseorang harus menyukai orang dan
aktivitas sosial. Ferno dapat diajak untuk terlibat dalam berbagai kegiatan kegiatan
tertentu seperti kegiatan gereja, kegiatan keluarga yang melibatkan keluarga besar,
sambil dihargai pendapat pendapatnya, sehingga sedikit demi sedikit dia akan
terbiasa dan menyenangi berhubungan dengan orang lain.
4. Aktif mengembangkan bakat dan minatnya selain untuk meningkatkan percaya diri tetapi
juga untuk bisa bertemu lebih banyak orang, bersosialisasi, belajar menjadi sportif dan
belajar menerima orang lain yang lebih hebat dari dirinya dan suatu saat dia bisa berada di
posisi yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka dia bisa menghargai orang yang tidak
sehebat dirinya.
5. Mendorong Ferno untuk berani memunculkan karya karyanya di depan publik seperti
mengupload lagu lagu ciptannya sendiri di youtube atau ketika ada performance di
sekolah.

2.1.

Peran Sekolah

1. Memfasilitasi Ferno untuk dapat mengikutsertakannya dalam kompetisi kompetisi yang


sesuai dengan bakat dan minatnya
2. Mendorong Ferno untuk menampilkan lagu lagu hasil karyanya di performance sekolah.
3. Melibatkan Ferno dalam kegiatan kegiatan sekolah di luar kegiatan akademis, menjadi
panitia kegiatan tertentu atau bisa juga melibatkan Ferno dalam kegiatan kegiatan bakti
sosial untuk menumbuhkan rasa empati Ferno.

24

2.2.

Peran keluarga yang ditinggali sekarang

1. Memahami bahwa Ferno membutuhkan pertolongan sehingga mau bekerja sama dengan
Ferno dan orangtua Ferno sehingga bisa menjadi keluarga yang hangat bagi Ferno,
menunjukkan sikap penerimaan dan bukan permusuhan atau ketakutan.
2. Mau menjadi pendengar bagi Ferno.
3. Menjadi pendorong dan motivator bagi munculnya perilaku positif.
4. Mendorong, memotivasi dan aktif mengajak Ferno untuk terlibat kegiatan kegiatan di
keluarga besar dan kegiatan gereja atau kegiatan sosial lainnya.

PENUTUP
Kasus Ferno bukanlah kasus yang mudah diselesaikan namun bukan tidak mungkin untuk
diselesaikan terutama karena Ferno memiliki bakat dan potensi yang luar biasa, serta memiliki
kedua orangtua yang menyadari ada masalah dan mau mencari solusi masalah serta mau bekerja
sama dengan pihak lain seperti rohaniwan, atau psikolog jika diperlukan, keluarga besar dan teman
sebaya dalam membantu menyelesaikan masalah Ferno dan membantunya dalam menyelesaikan
tuga tugas perkembangan masa remajanya, menemukan identitas dirinya yang ideal, menjadi
remaja yang berbahagia untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.

25

DAFTAR PUSTAKA

Crain, W. (2007). Teori Perkembangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Feist, J. F. (2010). Teori Kepribadian (Vol. I). Jakarta: Salemba Humanika.
Feldman, D. E. (2014). Menyelami Perkembangan Manusia (Vol. II). Jakarta: Salemba Humanika.
Hurlock, E. B. (1978). Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan . Jakarta: Erlangga.
Santrock, J. W. (2012). Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: Erlangga.
Sarwono, S. W. (2012). Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

26