Anda di halaman 1dari 50

TK3101-01 Proses Pemisahan Kelas 01

Semester I Tahun 2016-2017


Tugas Rancangan Tray Column
Kelompok : TC-2016-03
Nama dan NIM anggota kelompok yang aktif mengerjakan Tugas
TC-2016
No
1
2
3
4

NIM
130 14 002
130 14 017
130 14 032
130 14 047

Nama
The Arif Setio Nugroho
Gallo Ibnu Fajar
Ahmus Mufti Yakobus
Yuda Satria Syaif

Usulan Jadwal Presentasi & Ujian Lisan :


waktu yang diusulkan antara tanggal 1 sampai 11 Nopember 2016 adalah yang ditandai
dengan tulisan YA (catatan: kelompok wajib mengisi minimal 30 kemungkinan waktu
presentasi yang tersebar minimal pada 5 tanggal yang berbeda, bila tidak bisa memenuhi
ketentuan beri alasan).
Senin
31-102016
xxxx

Selasa
1-11-2016

Rabu
2-11-2016

Kamis
3-11-2016

Jumat
4-11-2016

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

YA

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

YA

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

YA

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

YA

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

YA

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

YA

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

xxxx

YA

waktu

Senin
7-11-2016

Selasa
8-11-2016

Rabu
9-11-2016

08.00-09.00
09.00-10.00
10.00-11.00
11.00-12.00
12.00-13.00
13.00-14.00

xxxx
xxxx
xxxx
xxxx
xxxx
xxxx

YA
YA
YA
YA
YA
YA

xxxx
YA
YA
YA
YA
YA

Kamis
10-112016
xxxx
YA
YA
YA
YA
YA

Jumat
11-112016
xxxx
xxxx
xxxx
xxxx
xxxx
xxxx

waktu
08.0009.00
09.0010.00
10.0011.00
11.0012.00
12.0013.00
13.0014.00
14.0015.00
15.0016.00
16.0017.00
17.0018.00

14.00-15.00
15.00-16.00
16.00-17.00
17.00-18.00

xxxx
xxxx
xxxx
xxxx

YA
YA
YA
YA

YA
YA
YA
xxxx

xxxx
xxxx
xxxx
xxxx

xxxx
YA
xxxx
YA

Jumlah kemungkinan waktu yang diusulkan : 32


Jumlah tanggal yang berisi kemungkinan waktu yang diusulkan : 6

KETENTUAN TUGAS YANG DIBERIKAN

TIDAK ADA MODIFIKASI PADA KETENTUAN TUGAS

Equiment No.
(Procee
Descript (Func.)
d)
Sheet No.

COLUMN TRAY DATA SHEET

OR TOP AND
BOTTOM

OPERATING DATA

TOP

BOTTOM

TOWER INSIDE DIAMETER


(mm)

846,2

846,2

600

600

13

13

TRAY SPACE (mm)


TOTAL TRAYS IN SECTION

INTERNAL CONDITIONS AT TRAY NUMBER

VAPOR TO TRAY

RATE (kg/hr)

5883,478

1987,161

DENSITY (kg/m3)

56,91

70,68

10

PRESSURE (Bar a)

24

24

11

TEMPERATURE (0C)

63,25

126,37

12

LIQUID FROM TRAY

13

RATE (kg/hr)

6100,030

9100,764

14

DENSITY (kg/m3)

421,8

418,6

15

TEMPERATURE (0C)

61,58

116,03

16

VISCOSITY (cP)
NUMBER OF LIQUID
FLOW PATHS

0,07

0,07

17

18
19

TECHNICAL/MECHANICAL DATA

20

TOWER MANHOLE INSIDE


DIAMETER

21

TRAY MATERIAL

Carbon
Steel

Carbon Steel

22

TRAY THICKNESS (mm)

23

HOLE DIAMETER (mm)

4,2

4,2

24

DOWNCOMER AREA (m2)


CROSS-SECTIONAL AREA
(m2)

0,1715

0,1828

25

0,562

0,562

26

HOLE AREA (m2)

0,01315

0,0118

27

NET AREA (m2)

0,3905

0,2086

28

0,219

0,1968

29

ACTIVE AREA (m )

30
NUMBER OF HOLES PER
TRAY

951

853

31

WEIR LENGTH (mm)

753

753

32

WEIR HEIGHT (mm)


SUPPORT RING SIZE
(mm)

40

40

33

10

10

34

APRON HEIGHT (mm)

30

30

35
36

DATE OF
ENQUIRY

DATE OF ORDER

38

DRG NO.

39

ORDER No.
MANUFACTUR
ER

40
41

NOTES
(1) INTERNAL VAPOR AND LIQUID LOADINGS AT THE LIMITTING SECTIONS ARE
REQUIRED TO ENSURE PROPER TRAY DESIGN.
DENSITIRS ARE REQUIRED AT ACTUAL INSIDE TOWER CONDITIONS OF
TEMPERATURE AND PRESSURE VISCOSITY IS NOT REQUIRED UNLESS GREATER
THAN 0.7 cP

42
43
44
45
46

(2) CROSS OUT DIMENSION UNITS WHICH DO NOT APPLY. TRAY SUPPLIER TO
ADVISE

47
48

REMARKS

49
50
51
52

Prepare
d
Checke
d
Approv
ed
Dat
e
Service

Engineeri Proce
ng
ss

5
7

5
8

1
RE
V

4
RE
V

By

Company

App
r.

Dat
e

5
9

B
y

App
r.

Dat
e

Address

6
0

61

Equiment No

62

Project No

63
5

BAB I
PERHITUNGAN METODE PINTAS
(Fenske Underwood-Gilliand)

2.1 Kondisi aliran proses


Tabel 1.1 Data Laju Alir dan Komposisi di Setiap Aliran
KOMP
C2
C3
i-C4

Zi,f
0.0247
0.4321
0.2222

Xi,D
0.0553
0.9189
0.0248

Xi,B
0.0000
0.03905
0.3815

n-C4
i-C5
n-C5

0.1481
0.0988
0.0741

0.0009
0.0000
0.0000

0.2670
0.1785
0.1339

JUMLAH

1.0000

1.0000

1.0000

fi
2.0000
35
18
12.000
0
8.0000
6.0000
81.000
0

di
2.0000
33.25
0.9

bi
0.0000
1.75
17.1

0.0317
0.0000
0.0000

11.9683
8.0000
6.0000

36.1817

44.8183

Komponen dengan massa molar lebih besar dari propana mengalir turun ke sisi
bottom dan keluar sebagai produk bawah. Asumsi ini didasarkan pada sifat kemudahan
menguap (volatility) yang sebanding dengan titik didih suatu komponen. Komponen dengan
massa molar lebih kecil memiliki titik didih lebih rendah pula, sehingga volatilitas
komponen tersebut relatif lebih tinggi. Propana yang terbawa ke aliran distilat sebanyak
91% dari propana dalam umpan, sehingga pertimbangan di/fi komponen dengan massa
molar lebih rendah daripada propana harus lebih rendah daripada di/fi propana merupakan
keputusan yang logis.
2.2 Penentuan Tekanan Operasi
Berdasarkan ketentuan yang diberikan, pada kasus ini tekanan operasi adalah 2400
kPa dan dianggap isobarik.
2.3 Penentuan Temperatur Bottom dan Distilat

Nilai tetapan kesetimbangan (K) setiap komponen dicari pada pada berbagai rentang
temperatur dengan tekanan operasi 2400 kPa melalui kurva yang ditunjukkan pada kurva
DePriester hidrokarbon dibawah ini melalui curve fitting.

Gambar 1.1 K-value Hidrokarbon Ringan pada Tekanan dan Temperatur tertentu

6.000

5.000

f(x) = 0.03x + 0.7


R = 1

C2
Linear (C2)

4.000

C3
Linear (C3)
i-C4
Linear (i-C4)

3.000

n-C4
Linear (n-C4)

f(x) = 0.02x - 0.16


R = 0.99

2.000

i-C5
Linear (i-C5)
n-C5

f(x) = 0.01x - 0.19


R
f(x)==0.99
0.01x - 0.22
R = 0.99
f(x)
f(x) =
= 0.01x
0.01x -- 0.17
0.18
R =
= 0.98
0.98
R

1.000

0.000
20

40

60

80

Linear (n-C5)

100

120

140

160

Gambar 1.2 Kurva Temperatur terhadap Nilai K Tiap Komponen pada Tekanan 2400 kPa
Hasil curve fitting nilai K sebagai fungsi T kemudian dinyatakan dalam persamaan
seperti gambar di atas. Selanjutnya, dengan menggunakan fitur Goal Seek, dapat dicari nilai
temperatur distilat dan bottom dengan melakukan iterasi hingga jumlah yi pada distilat dan
bottom = 1. Diperoleh nilai temperatur distilat adalah 58,4 0C dan bottom adalah 125,6 0C.
Tabel 1.2 Penentuan Temperatur Bottom dan Distilat dengan Dasar Tekanan Operasi
KOMP
C2
C3
i-C4
n-C4
i-C5
n-C5
JUMLAH

xi,D
0.0553
0.9189
0.0248
0.0009
0.0000
0.0000

Ki,D
2.40E+00
0.9312
0.4832
3.39E-01
1.65E-01
1.36E-01
4.4505

yi,D
1.32E-01
0.8558
0.0120
2.96E-04
1.71E-07
2.62E-08
1.0006

xi,B
0.0000
0.0390
0.3815
0.2670
0.1785
0.1339

Ki,B
4.3526
2.1883
1.2630
0.9772
0.5482
0.4991
9.8285

yi,B
3.52E-06
0.0854
0.4818
0.2609
0.0978
0.0668
0.9930

2.4 Penentuan Nilai K dan i


Nilai didapatkan dari persamaan di bawah ini dengan nilai K yang didapatkan dari
persamaan kurva setiap komponen seperti tertera pada Gambar 1.2
8

Propana ditentukan sebagai komponen light key(LK) sedangkan isobutana sebagai


komponen heavy key (LK). Hasil perhitungan ditampilkan dalam tabel berikut.
i=

Ki
KHK
Tabel 1.3 Perhitungan Nilai K dan pada Umpan
KOMP
C2
C3
i-C4
n-C4
i-C5
n-C5

Ki,f
3.4206
1.5894
0.8915
0.6729
0.3656
0.3261

Ki,d
2.3964
0.9313
0.4832
0.3385
0.1650
0.1361

Ki,b
4.3526
2.1884
1.2630
0.9772
0.5482
0.4991

i,f
3.8370
1.7829
1
0.7548
0.4101
0.3659

2.5 Penentuan Jumlah Tahap Minimum Metode Fenske


Metode Fenske digunakan untuk menentukan jumlah tahap minimum dan dan
melakukukan koreksi terhadap fraksi komponen tebakan awal. Perhitungan jumlah tahap
minimum memerlukan data laju alir low-key component dan heavy-key component pada
distilat dan bottom, serta nilai rata-rata dari low-key component.
Nilai dapat diperoleh melalui persamaan:
i=

Ki
KHK

Selanjutnya, nilai LK,D, LK,B, dan

LK , AVE dihitung dengan menggunakan

persamaan sebagai berikut :

LK ,B =

[ ]
K LK
K HK

[ ]

LK , D=

K LK
K HK

LK , AVE = LK ,D LK ,B
Hasil perhitungan

AVE

digunakan untuk mencari tahap minimum (Nm) melalui

persamaan:
9

log
N m=

d LK b HK

d HK b LK

log LK , AVE

Setelah itu, untuk melakukan pengecekan komposisi digunakan persamaan yang sama,
tetapi LK , AVE

d LK
b LK

dan

C4, i-C5, dan n-C5. Sehingga nilai

di
bi

i, AVE dan

diubah menjadi

i, AVE dan

di
bi

untuk komponen i-C4, n-

harus dicari terlebih dahulu

menggunakan cara yang sama. Persamaan pengecekan komposisi menjadi:


log
N m=

d i b HK

d HK b i

log i , AVE

Perhitungan persamaan Fenske dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini


Tabel 1.4 Perhitungan Persamaan Fenske
i

KOM
P

C2

n-C4

i-C5

n-C5

-D
4.959
4
0.700
6
0.341
5
0.281
6

-B

averag
e

Nm * log
(average)

3.4462

4.1342

6.0207

2.0000

0.0000

0.7737

0.7363

-1.2988

0.0317

11.9683

0.4340

0.3850

-4.0491

0.0000

8.0000

0.3952

0.3336

-4.6568

0.0000

6.0000

D-LK

B-LK

Tabel 1.5 Perhitungan Jumlah Tahap Minimum


D
K-LK
K-HK

- average
Nm
Nm

0.9313
2.1884
0.4832
1.2630
1.9273
1.7327
1.8274
9.767653676
10

2.6 Metode Underwood

10

Metode Underwood digunakan untuk mencari reflux ratio minimum (Rm). Tahap
pertama yang dilakukan adala mencari konstanta Underwood menggunakan data umpan
(feed) melalui persamaan Underwood I.
Persamaan Underwood I:
c

V F =
i=1

if i
i

VF adalah laju molar umpan yang ada di dalam bentuk uap. Untuk menghitung VF
digunakan flash calculation menggunakan persamaan:
y i=

zI , F K i
1+ v ( K i 1)
c

dengan syarat:

i=1

z I ,F K i
=1
1+ v( K i1)

Penentuan konstanta Underwood

( )

dilakukan menggunakan iterasi yaitu fungsi

goal seek pada Ms. Excel dengan mengubah nilai

sehingga nilai VF sama dengan

nilai VF yang didapatkan dari hasil perhitungan menggunakan persamaan:


V F =V F
Dari hasil perhitungan menggunakan persamaan di atas, nilai VF adalah 32,87.
Perhitungan konstanta Underwood ( ) disajikan pada tabel 1.6 berikut ini.
Tabel 1.6 Perhitungan Konstanta Underwood
Vapor
Fractio
n (V)

0.4058

Vapor
Feed

32.8727

KOMP

Zi

Ki

Flash
Calculation

C2

0.0247

C3
i-C4

0.4321
0.2222

3.420
6
1.589
4
0.891

Underwoo
d Constant

1.2679

fi

Underwood
-1

0.0426

3.8370

2.0000

2.9871

0.5542
0.2072

1.7829
1.0000

35.0000
18.0000

121.1789
-67.1707
11

n-C4

0.1481

i-C5

0.0988

n-C5

0.0741

5
0.672
9
0.365
6
0.326
1

0.1149

0.7548

12.0000

-17.6519

0.0486

0.4101

8.0000

-3.8248

0.0333
1.0009

0.3659

6.0000

-2.4333
33.0854

Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai

sebesar 1,2679. Nilai

digunakan dalam

perhitunan selanjutnya menggunakan persamaan Underwood II.


Persamaan Underwood II:
c

V =
i=1

i f i
i

Perhitungan V disajikan pada tabel 1.7 berikut:


Tabel 1.7 Perhitungan Reflux Ratio
Minimum
Reflux
2.170166096
Ratio
(Rm)

Underwood -2

Di

Reflux
Ratio

2.712707619

2.0000
33.2500
0.9000
0.0317
0.0000
0.0000

2.9871
115.1200
-3.3585
-0.0466
0.0000
0.0000
114.7019
Didapatkan nilai V sebesar 60.496, kemudian nilai refluks minimum (Rm) dapat dicari
dengan persamaan berikut:
R m=

V
1=2,17
D

Dari hasil perhitungan didapatkan nilai reflux ratio minimum ( Rm ) sebesar


Dari ketentuan soal, diketahui nilai refluks nyata (R) adalah 1,25 kali

Rm

2,17 .

, sehingga

nilai R didapatkan sebesar 2,712


12

2.7 Metode Gilliland


Metode Gilliland digunakan untuk menentukan jumlah tahap ideal atau jumlah tahap
teoritis (N). Data yang dibutuhkan pada perhitungan N adalah jumlah tahap minimum (Nm),
nilai refluks minimum (Rm), serta nilai refluks nyata (R). Grafik korelasi Gilliland
digunakan untuk menemukan hubungan nilai

RRm
R1

dengan

N N m
N +1

Gambar 1.3 Grafik Korelasi Gilliland


Tabel 1.8 Perhitungan Jumlah Tahap dengan Metode Gilliand
Rmin
R
Sumbu x
N
N Pembulatan

9.767653676
2.170166096
2.712707619
0.146130959
19.7070263

Y
0.48
20

13

BAB II
PERHITUNGAN METODE EKSAK
Perhitungan melalui metode eksak digunakan agar jumlah tahap pada kolom dan letak
tahap masuknya umpan ke dalam kolom dapat diketahui. Metode ini dilakukan setelah
perhitungan dengan metode pintas selesai. Melalui metode ini, dapat diketahui juga mengenai
profil temperatur, konsentrasi dan komposisi fasa cair dan uap yang keluar pada setiap tahap.
Prinsip dari metode eksak adalah menghitung profil pada setiap tahap pada kolom berdasarkan
persamaan garis operasi dan persamaan kesetimbangan. Perhitungan pada metode eksak dibagi
menjadi dua bagian, yaitu perhitungan pada bagian rectifying dan stripping. Pada masingmasing section dilakukan perhitungan iterasi dan selesai jika tahap sudah mencapai feed tray.
Tahap feed tray ditentukan melalui pengecekan pada setiap tahap.
2.1 Perhitungan Rectifying Section
Perhitungan rectifying section dimulai dengan pengecekan tahap feed tray melalui
kriteria persamaan :

Apabila

X LK
)
lebih kecil dari
X HK tray

X LK
)
X HK F

, maka iterasi dihentikan dan tray

feed sudah dapat ditentukan . Dari perhitungan pada metode sebelumnya , diperoleh
(

X LK
)
X HK F

= 1,509861. Algoritma untuk menghitung rectifying section adalah sebagai

berikut :
1. Menentukan persamaan garis operasi rectifying section .
Bentuk umum persamaan garis operasi rectifying section adalah sebagai berikut :
x
R
y i ,n=
x i , n1 + i , D
R+1
R+1
Dengan melakukan substitusi dari nilai yang diperoleh dari perhitungan metode pintas,
didapat persamaan :
y i ,n= ( 0,73002172 x i ,n1 ) +

x
( 3,70400161
)
i,D

Persamaan diatas digunakan untuk mendapatkan nilai y n pada tray berdasarkan nilai xi,n
yang didapatkan dari tray sebelumnya.
14

2. Menebak nilai T dengan menghitung nilai T di bagian distilat dan bottom terlebih
dahulu.
3. Menentukan nilai K dari hasil T tebakan.
4. Menghitung nilai i berdasarkan nilai Ki yang telah didapat.
5. Menghitung nilai kesetimbangan (xi,n) dari nilai yi,n pada tray yang sedang dievaluasi
dengan persamaan kesetimbangan sebagai berikut :

6. Temperatur tebakan awal diperiksa dengan persamaan berikut :

Gunakan fitur goal seek, set value K-KHK,n = 0 dengan mengubah nilai temperatur
tebakan awal.
Dibawah ini disajikan tabel evaluasi tiap tahap pada rectifying section. Didalamnya
juga disajikan spesifikasi temperatur tray, dan tekanan operasi tetap. Hasil perhitungan
dibawah ini menampilkan letak tahap pada saat umpan masuk
Tabel 2.1 Hasil Perhitungan di Tahap 1

Dari evaluasi tahap 1, diperoleh temperatur tray sebesar 61,58383 dengan tekanan
operasi tetap yaitu 2400 kPa. Galat hasil perhitungan sudah menunjukkan nilai 0%. Pada
tray ini juga didapat KHK = 0.5201. Melalui tebakan temperatur dan perbandingan nilai
(

X LK
)
X HK F

= 1,509861, nilai

X LK
X HK

pada tray diatas masih lebih besar dari 1,509861

sehingga tray diatas bukanlah feed tray. Untuk menghitung komposisi uap keluaran tahap 2
dan seterusnya, digunakan persamaan :
y i ,n=

x
R
x i , n1 + i , D
R+1
R+1

15

Tabel 2.2 Hasil Perhitungan di Tahap 2

Tabel 2.3 Hasil Perhitungan di Tahap 3

Tabel 2.4 Hasil Perhitungan di Tahap 4

Tabel 2.5 Hasil Perhitungan di Tahap 5

16

Tabel 2.6 Hasil Perhitungan di Tahap 6

Tabel 2.7 Hasil Perhitungan di Tahap 7

Tabel 2.8 Hasil Perhitungan di Tahap 8

Tabel 2.9 Hasil Perhitungan di Tahap 9

17

Tabel 2.10 Hasil Perhitungan di Tahap 10

Berdasarkan tabel 2.10, diperoleh

X LK
)
X HK tray

= 1,4740. Hasil perhitungan pada tray

ini menunjukkan nilai fraksi yang lebih kecil dari rasio feed, oleh karena itu tray 10
merupakan lokasi yang tepat untuk masuknya umpan (feed tray).
2.2 Perhitungan Stripping Section
Perhitungan stripping section hampir sama dengan perhitungan pada rectifying section.
Algoritmanya adalah sebagai berikut :
1. Persamaan umum garis operasi stripping section adalah sebagai berikut :

Persamaan tersebut digunakan untuk mencari nilai xm pada tray berdasarkan nilai
yi,m+1 yang diperoleh dari tray sebelumnya
2. Menebak nilai T dengan menghitung nilai T di bagian distilat dan bottom terlebih
dahulu.
3. Menentukan nilai K dari hasil T tebakan.
4. Menghitung nilai i berdasarkan nilai Ki yang telah didapat.
5. Menghitung komposisi uap yang masuk kembali ke tray column dengan persamaan
berikut :

Persamaan diatas digunakan untuk mendapatkan nilai kesetimbangan yi,m yang


didapat dari nilai xi,m pada tray tersebut.
6. Temperatur tebakan awal ditentukan dengan persamaan berikut :

18

Gunakan fitur goal seek, set value K-KHK,n = 0 dengan mengubah nilai temperatur tebakan
awal
Tabel 2.11 Hasil Perhitungan di Tahap 20 (Reboiler)

Tabel 2.12 Hasil Perhitungan di Tahap 19

Tabel 2.13 Hasil Perhitungan di Tahap 18

Tabel 2.14 Hasil Perhitungan di Tahap 17

Tabel 2.15 Hasil Perhitungan di Tahap 16

19

Tabel 2.16 Hasil Perhitungan di Tahap 15

Tabel 2.17 Hasil Perhitungan di Tahap 14

Tabel 2.18 Hasil Perhitungan di Tahap 13

Tabel 2.19 Hasil Perhitungan di Tahap 12

20

Tabel 2.20 Hasil Perhitungan di Tahap 11

Tabel 2.21 Hasil Perhitungan di Tahap 10

Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa nilai

X LK
X HK

sudah menunjukkan nilai

1,590. Hal ini berarti memberikan nilai rasio fraksi yang lebih besar dibandingkan nilai
X LK
F
X HK

. Oleh karena itu tahap 10 pada stripping section juga merupakan tahap

masuknya feed.
2.3 Data Kolektif Hasil Perhitungan Metode Eksak
2.3.1. Profil Komposisi Kolom Distilasi
Komposisi zat pada kolom distilasi dibagi menjadi profil fraksi uap dan profil
fraksi cair. Berikut adalah sajian gambar distribusi fraksi uap dan cair tiap
komponen :

21

Profl Konsentrasi Fasa Uap

Konsentrasi (fraksi mol)

1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0

Etana
Propana
Isobutana
Butana
Isopentana
Pentana

10

15

20

25

Tahap ke-

Gambar 2.1 Kurva Profil Konsentrasi Fasa Uap tiap Komponen

Profl Konsentrasi Fasa Cair

Konsentrasi (fraksi mol)

1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0

Etana
Propana
Isobutana
Butana
Isopentana
Pentana

10

15

20

25

Tahap ke-

Gambar 2.2 Kurva Profil Konsentrasi Fasa Cair tiap Komponen


Berdasarkan kedua gambar diatas dapat diamati bahwa komponen yang memiliki
berat molekul yang tinggi seperti iso-butana, butana, isopentana dan pentana akan
mengalami kenaikan konsentrasi ketika mengarah ke reboiler tetapi senyawa yang
berbobot rendah seperti propana dan etana akan mengalami kenaikan pada arah yang
menuju kondensor. Hal ini disebabkan entalpi penguapan komponen yang berbanding
lurus dengan massa molekul relatifnya.

22

2.3.2.

Profil Temperatur Kolom Distilasi


Berikut disajikan profil temperatur pada tray didalam Tabel 2.22 dan Tabel 2.23

hasil perhitungan metode eksak :


Tabel 2.22 Profil Temperatur Tray Rectifying Section

Tabel 2.23 Profil Temperatur Tray Stripping Section

23

Profl Temperatur Setiap Tahap


140
130
120
110

Temepratur (deg.C)

100

Rectifying Section

90

Stripping Section

80
70
60
50

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Tahap ke-

Gambar 2.3 Kurva Profil Konsentrasi Fasa Cair tiap Komponen


Tampak pada kurva diatas bahwa pada tiap tray, terjadi kenaikan temperatur dari
tray pertama hingga ke dua puluh dimana umpan masuk pada tray kesepuluh.
2.3.3.

Efisiensi Kolom
Efisiensi kolom dihitung dengan persamaan korelasi OConnel, yaitu:

Data viskositas didapat dari data software HYSYS. Dengan korelasi ini didapat
nilai efisiensi pada top section adalah 79,83 % dan pada bottom section adalah
80,43%

24

BAB III
PERANCANGAN TRAY COLUMN
Algoritma Perancangan Tray Column
Metode yang digunakan dalam perancangan tray column adalah pendekatan trial and
error. Maka dalam perancangan dibutuhkan suatu prosedur perancangan. Berikut ini algoritma
perancangan tray column.
a. Penentuan laju alir uap dan cairan. Penentuan laju alir diperoleh melalui perhitungan
menggunakan metode pintas dan eksak.
b. Penentuan sifat fisik sistem fluida.
c. Estimasi penentuan diameter kolom menggunakan asumsi terhadap nilai plate
spacing, persentase flooding, dan downcomer. Rentang asumsi yang dapat digunakan
adalah :
- Plate spacing bernilai dari rentang 0.15 m 1 m.
- Persentase flooding berniai dari rentang 70% - 90%
- Persentase downcomer menghasilkan nilai lw/Dc bernilai 0.6 0.9
d. Penentuan liquid flow arrangement. Spesifikasi liquid flow arrangement harus
berada pada daerah single pass sesuai dengan ketentuan pada tugas perancangan
tray column..
e. Provisional plate design yaitu penentuan tebakan plate layout yang meliputi
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

downcomer area, active area, hole area, dan weir height.


Pengujian weeping. Jika tidak lulus uji, ulangi ke langkah e.
Pengujian plate pressure drop. Jika tidak lulus uji, ulangi ke langkah e.
Pengujian downcomer liquid back-up. Jika tidak lulus uji, ulangi ke langkah e.
Pengujian residence time. Jika tidak lulus uji, ulangi ke langkah e.
Penentuan plate layout detail yang meliputi calming zones dan unperforated areas.
Pengujian hole pinch, jika tidak lulus uji, ulangi kembali ke langkah e.
Pengujian ulang flooding berdasarkan diameter kolom yang ditentukan, kemudian
dilanjutkan dengan pengujian entrainment. Jika tidak lulus uji, ulangi kembali ke

langkah e.
m. Finalisasi desain dengan membuat spesifikasi tray column di plate specification dan
plate layout.
Berikut ini hasil perhitungan dari perancangan :
3.1 Penentuan Laju Alir Uap dan Cairan
Laju alir uap dan cairan didapatkan melalui metode pintas dan eksak. Berikut
hasil perhitungan laju alir uap dan cairan.
25

Tabel 3.1 Neraca Massa dan Laju Alir Sistem Fluida


Neraca Massa Feed
D
36,182
L
97,835
V
134,020
B
44,818
VF
30,500
LF
30,500
L'
145,963
V'
32,873
L'/V'
4,440
V'/L'
0,225
F
81,000

Satuan
kmol/h
kmol/h
kmol/h
kmol/h
kmol/h
kmol/h
kmol/h
kmol/h
kmol/h
kmol/h
kmol/h

3.2 Penentuan Sifat Fisik Sistem Fluida


Sifat fisik sistem fluida ditinjau dari parameter tekanan, temperatur, dan
komposisi pada masing-masing laju alir. Sifat fisik sistem fluida ditentukan
menggunakan bantuan dari software ASPEN HYSYS. Berikut hasil penentuan sifat fisik
sistem fluida.

Tabel 3.2 Data Sifat Fisik Sistem Fluida


Aliran
Besaran
Laju Molar

Bottom
Satuan

Cair (L)

Uap (V)

Cair (L)

Uap (V)

kmol/h

145,963

32,873

97,835

134,02

116,03

126,38

61,58

63,25

kg/kmol

62,35

60,45

45,42

43,9

kg/m3

418,6

70,68

421,8

56,91

kg/s

2,5280

0,5520

1,6945

1,6343

m3/s

0,02872

0,00402

0,02312

0,00405

N/m

0,002

0,00275

Temperatur
Berat Molekul (Mr)
Densitas ( )
Laju massa (LW atau VW)
Laju volumetric
Tegangan permukaan (

Top

26

Sifat fisik sistem fluida diatas ditinjau pada tekanan 2400 kPa dan pada
temperatur masing-masing aliran. Untuk menentukan data sifak fisik sistem fluida juga
memerlukan data komposisi dari tiap aliran yang diperoleh dari metode eksak. Sifat fisik
sistem fluida penting untuk ditentukan karena dalam perancangan tray column juga
membutuhkan sifat fisik sistem fluida.
3.3 Penentuan Diameter Kolom
Sebelum menentukan diamaeter kolom, pertama-tama harus menentukan nilai
dari liquid-flow factor (FLV). Untuk menentukan FLV menggunakan persamaan :
F LV =

LW
VW

v
L

Keterangan :
Lw

= Laju alir massa cair (kg/s)

Vw

= Laju alir massa uap (kg/s)

= Densitas uap (kg/m3)

= Densitas cair (kg/m3)

Contoh perhitungan FLV,top :


F LV , top=

LW
VW

v 1,6945 56,91
=
=0,3808
L 1,6343 421,8

Perhitungan FLV,Bottom = 0,3808 Ukuran plate spacing dapat ditentukan dengan asumsi
yang diperoleh melalui perhitungan FLV baik pada bagain top dan bottom. Asumsi plate
spacing yang digunakan adalah 0,6 m. Dari asumsi tersebut, nilai K 1 dapat ditentukan
melalui pembacaan pada graik flooding velocity pada sieve plate. Dalam menentukan
nilai K1 ada beberapa ketentuan yang digunakan :
-

Hole size berukuran kurang dari 6,5 mm.


Tinggi weir yang digunakan kurang dari 15% dari plate spacing.
Non-foaming system dan nilai K1 dikoreksi dengan ketentuan active area dan surface
tension yang digunakan.

Berikut ini contoh hasil penentuan nilai K1 pada bagian top :


27

Gambar 3.1 Penentuan Nilai K1 dari FLV (Sumber : Sinnot, 2005)


Berdasarkan grafik diatas didapatkan nilai K1,top adalah 0,061. Setelah
mendapatkan nilai K1 lalu nilai tersebut harus dikoreksi menggunakan tegangan
permukaan dan juga faktor koreksi berdasarkan persamaan.

K 1=K 1 x faktor koreksi x


0,02

0.2

( )

Berikut ini contoh perhitungan koreksi nilai K1 menggunakan faktor koreksi


sebesar 0,8 pada bagian top :
0,00275
K 1=0,061 x 0,8 x
0,02

0,2

=0,0328

Melalui persamaan diatas diperoleh juga nilai K 1 terkoreksi sebesar 0,0308


untuk bagian bottom. Nilai K1 digunakan untuk mengkoreksi nilai K1 yang digunakan
untuk menentukan flooding velocity. Flooding velocity ditentukan menggunakan
persamaan
uf =K 1
Berikut contoh perhitungan uf

L v
v

untuk bagian top

uf ,top =0,0328

421,856,91
= 0,0831 m/s
56,91

Menggunakan persamaan yang sama didapat

uf ,bottom = 0.0683 m/s.

Menggunakan persentase flooding dapat ditentukan laju alir nyata maksimum melalui
persamaan.
uv =u f flooding
Berikut ini contoh perhitungan laju alir nyata maksimum menggunakan
persentase flooding sebesar 90% pada bagian top:
uv , top=0,0831 90 =0,0748

m
s

Dengan cara yang sama diperoleh pula uv , bottom sebesar 0,0615 m/s. Lalu,
perhitungan selanjutnya adalah menentukan maximum volumetric flow berdasarkan
persamaan berikut:
QV =

VW
v
28

Berdasarkan persamaan diatas diperoleh Qv,top sebesar 0,0287 m/s dan Qv,bottom
sebesar 0,0231 m/s. Nilai maximum volumetric flow berguna untuk menentukan net area
yang digunakan. Penentuan net area menggunakan persamaan
A n=

QV
uv

Dengan persamaan diatas didapat net area untuk top sebesar 0,384 m2 dan untuk
bagian bottom sebesar 0,376 m2. Setelah mendapatkan data net area, maka luas
penampang kolom dapat ditentukan menggunakan persamaan berikut :
A c=

An
1 downcomer

Dengan menggunakan persentase downcomer sebesar 30% didapatkan luas


penampang kolom untuk bagian top dan bottom sebesar 0,548 m2 dan 0,553 m2. Setelah
menentukan luas penampang kolom maka diameter kolom dapat ditentukan. Diameter
kolom ditentukan menggunakan persamaan
Dc=

4 Ac
3,142

Berdasarkan persamaan diatas didapat diameter kolom pada bagian top dan
bottom sebesar 0,834 m dan 0,839 m. Setelah menentukan diameter kolom, maka
dimensi pipa dapat ditentukan. Syarat untuk menentukan pipa adalah diameter dalam
pipa harus lebih besar dari diameter kolom yang sudah ditetapkan. Berdasarkan hasil
perhitungan diameter kolom pada bagian bottom lebih besar daripada bagian top,
sehingga diameter dalam pipa harus lebih besar dan mendekati diameter dari kolom
bagian bottom. Dalam penentuan diameter dalam pipa digunakan metode trial and error
untuk menentukan diameter pipa yang ada di pasaran secara komersial. Diameter dalam
pipa yang ditentukan dari metode trial and error harus memenuhi aspek dan syarat uji
seperti weeping check, plate pressure drop check, down comer liquid backup check,
residence time check dan entrainment check. Melalui berbagai uji tersebut didapatkan
spesifikasi pipa yang memenuhi semua syarat dan uji yaitu (diameter dalam sebesar
0.846 m yaitu pipa NPS34 dengan Schedule Number 40).
3.4 Pengujian Liquid Flow Arrangement
Pertama-tama tentukan maximum volumetric liquid rate menggunakan persamaan :
L
QL = W
L
29

Berdasarkan persamaan diatas didapat nilai QL,top dan QL,bottom sebesar 0,00401
m/s dan 0.00405 m/s. Penentuan liquid flow arrangement menggunakan bantuan
diagram berikut

Gambar 3.2 Daerah Liquid Flow Pattern (Sumber : Sinnot, 2005)


Berdasarkan Gambar 3.2 terlihat bahwa maximum liquid volumetric flow untuk
daerah top dan bottom berada didalam daerah single pass, hal ini sesuai dengan
ketentuan tugas sehingga tidak ada perubahan terhadap spesifikasi tugas yang diberikan.
3.5 Provisional Plate Design
30

Pada bagian 3.3 telah diketahui ukuran diameter kolom untuk bagian top sebesar
0,834 m2 dan untuk bagain bottom sebesar 0,839 m2. Dari data diameter kolom dapat
ditentukan luas penampang kolom (Ac), luas downcomer (Ad), net area (An), dan active
area. Untuk menentukan parameter-paramer tersebut dapat menggunakan persamaanpersamaan berikut

2
A c= D c
4
A c = A d= downcomer A c
A n= A c A d
A a =A c 2 A d
Setelah mengetahui semua parameter luas diatas, maka persentase luas lubang

dapat ditentukan. Dalam perancangan ini digunakan persentase luas lubang adalah 6%.
Luas lubang dapat diketahui dari persentase luas lubang menggunakan persamaan :
A h= hole A a
Berikut hasil perhitungan provision plate design
Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Provision Plate Design
Komponen
net area (An)
%Downcomer
Downcomer area (Ad)
Column area (Ac)
Diameter column (Dc)
active area (Aa)
%hole
hole area (Ah)
hole diameter (hd)
area 1 lubang
jumlah lubang
weir length (lw)
plate thickness
weir height (hw)

Top
0,384
0,305
0,1715
0,562
0,846
0,219
0,06
0,01315
0,0042
1,385E-5
951
0,753
0,005
0,04

Bottom
2

m
column area
m2
m2
m
m2
m2
m
cm2
lubang
m
m
m

0,376
0,325
0,1828
0.562
0.846
0,1968
0,06
0,0118
0,0042
1,385E-5
853
0,753
0,005
0,04

m2
column area
m2
m2
m
m2
m2
m
cm2
Lubang
m
m
m

Nilai weir length ditentukan melalui grafik korelasi Ad/Ac terhadap lw/Dc yang
ditunjukkan pada gambar dibawah ini dengan menggunakan ekstrapolasi.

31

Gambar 3.3 Grafik Korelasi Ad/Ac terhadap Lw/Dc (Sumber : Sinnot, 2005)
3.6 Pengujian Weeping
Pengujian Weeping check dimulai dengan menentukan maximum liquid rate
dengan menggunakan persamaan berikut :
Lw ,max =Lw =

L Mr L
3600

Selanjutnya adalah menentukan minimum liquid rate dengan menentukan


turndown awal sebesar 70%. Nilai minimum liquid rate dicari menggunakan persamaan
berikut :
32

Lw ,min = turndown Lw
Selanjutnya adalah penentuan nilai weir crest (How) pada maksimum dan minimum
liquid rate dengan menggunakan persamaan berikut :
Lw
how ,(max/min )=750
L l w

2
3

Laju alir minimum dapat ditentukan dengan menjumlahkan nilai h w dan how. Dengan
mengetahui laju alir minimum, nilai K2 dapat diketahui dengan bantuan grafik berikut :

Gambar 3.4 Penentuan Nilai K2 dari Nilai Laju Minimum (hw+how)


Dari Gambar 3.4 didapatkan nilai K2 sebesar 30 untuk bagian top dan bottom. Nilai K2
tersebut digunakan untuk menentukan minimum vapour velocity. Penentuan minimum
vapor velocity menggunakan persamaan berikut :
uv , min=

[ K 2 0,9 ( 25,4d h ) ]
1

( v ) 2
Setelah itu minimum vapour velocity nyata dapat ditentukan menggunakan persamaan
berikut ini :

33

uv , min=

turndown Q v
Ah

Syarat yang harus dipenuhi dalam uji weeping adalah nilai uv , min <u v, min ,nyata . Berikut
hasil perhitungan pada pengujian weeping yang disajikan dalam Tabel 3.4 :
Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Weeping Check
Weeping Check
Maximum liquid rate
Minimum liquid rate
Maximum how
Minimum how
Minimum rate
K2
Minimum vapor velocity
Uh(min)
Actual minimum vapor
velocity
Uji weeping

Top
1.6945
1.1861
22,8964
18,0509
68,0500
30

kg/s
kg/s
mm liquid
mm liquid
mm liquid

1,4236

m/s

Bottom
1,6945
kg/s
1,5250
kg/s
23,0094 mm liquid
21,4487 mm liquid
71,4487 mm liquid
30
1,2774

1,5276
m/s
Lolos Uji

m/s

1,3705
m/s
Lolos Uji

3.7 Penentuan Plate Pressure Drop


Untuk menentukan plate pressure drop, pertama-tama harus menentukan
maximum vapor velocity yang melalui lubang pada keadaan dry plate drop. Maximum
vapor velocity ditentukan menggunakan persamaan berikut :
Q
uh , max= v
Ah
Setelah menentukan maximum vapor velocity, berikutnya adalah menentukan
rasio ketebalan pelat dengan diameter lubang

rasio luas lubang dan luas downcomer

Plate thickness
dh

Ah A h

A p Aa

, serta penentuan

. Data ini digunakan untuk

menentukan orifice coefficient (Co) dengan menggunakan grafik pada Gambar 3.5
berikut:

34

Gambar 3.5 Kurva Penentuan Nilai Co dari Persentase Perforated Area


Dari Gambar 3.5 didapatkan nilai orifice coefficient untuk bagian top dan bottom
bernilai 0.86. Hasil nilai orifice coefficient ini digunakan untuk menentukan dry plate
pressure drop dengan persamaan berikut:
u
hd =51 h
Co

( )

V
L

Langkah berikutnya adalah penentuan residual head dengan persamaan berikut:


hr =

12,5 1000
L

Langkah akhir adalah penentuan total pressure drop menggunakan persamaan berikut:
35

ht =hd + ( h w + how ) + hr
Total pressure drop yang akan dibandingkan dengan total pressure drop reference. Nilai
Total pressure drop harus dibawah total pressure drop reference yang bernilai 138
mmliquid. Jika plate pressure drop lebih dari total pressure drop reference maka tidak
lolos uji. Hasil perhitungan ditunjukkan pada tabel 3.5 berikut:
Tabel 3.5 Hasil Perhitungan Uji Plate Pressure Drop
Uji plate pressure drop
Maximum vapor velocity

Top

(uh,max)
plate thickness/dh
Ah/Aa
C0
Dry plate pressure drop (hd)
residual head (hr)
total pressure drop (ht)
Uji plate pressure drop

2,182
1,200
0,0600
0,860
44,307
29,635
131,990
<138

Bottom
m/s

mmliquid
mmliquid
mmliquid
Lolos uji

1.957
1.200
0.06
0.860
32,361
29.861
123,671
<138

m/s

mmliquid
mmliquid
mmliquid
Lolos uji

3.8 Uji Downcomer Liquid Back-up


Langkah awal adalah penentuan tinggi dari bawah apron hingga di atas pelat
(hap). Apron height adalah pengurangan 5 s.d. 10 mm dari weir height. Langkah
selanjutnya adalah penentuan area under apron dengan menggunakan persamaan
berikut:
A ap=hap l w
Langkah selanjutnya adalah penentuan head loss pada downcomer dengan rumus
berikut:
Lwd
hdc =166
L A ap

h
( b) dapat

Dari data-data yang telah diperoleh, downcomer back-up


ditentukan dengan persamaan berikut:
hb =hw +h ow +h dc +ht

Uji back-up downcomer menggunakan perbandingan dengan syarat uji yaitu


syarat uji=0,5 x ( plate spacing(l t )+ weir height (l w ))
Pengujian dilakukan apakah

hb

kurang dari syarat uji. Jika

hb

lebih kecil

dari syarat uji maka lolos uji. Hasil perhitungan ini ditunjukkan pada tabel 3.6 berikut :
36

Tabel 3.6 Hasil Perhitungan Pengujian Downcomer Liquid Back-up


Uji downcomer liquid back-up
Apron height
hap
Area under apron
Aap
Head loss downcomer
hdc
Back-up in downcomer
hb

Top
30,0000
mm
0,0180
m2
8,2681
mm
203,1581
mm
320
mm
Lolos Uji

syarat uji

Bottom
30,0000
0,0180
8,395
195,0759
320
Lolos Uji

mm
m2
mm
mm
Mm

3.9 Residence Time


Residence time ditentukan menggunakan persamaan berikut :
t r=

A d . hb . l , HK
Lmax, l , HK

Dari hasil perhitungan didapatkan residence time pada bagian top sebesar
8.67detik dan pada bagian bottom sebesar 8,81 detik. Nilai tersebut saat dibandingkan
dengan syarat uji yaitu residence time > 3 detik, memberi kesimpulan uji residence time
dapat diterima.
3.10 Pengujian Entrainment
Untuk melakukan pengujian, pertama-tama menentukan persentase flooding dan
uv

menggunakan persamaan berikut :


F LV =

LW
VW

v
L

%flooding=

uv
x 100
uf

Dari persamaan diataas didapat nilai persentase flooding dan FLV sebesar 90% dan
0.381.

37

Gambar 3.6 Uji Entrainment dari FLV


Dari Gambar 3.6 didapat fractional entrainment sebesar 0,09. Nilai ini lebih
kecil daripada nilai referensi yaitu 0,1 sehingga uji entrainment dapat diterima.
3.11 Plate Layout
Plate menggunakan lebar tepi 10 mm. Bagian dari lebar ini tidak berisi lubang
maupun weir apapun. Bagian ini sering disebut calming zone. Ilustrasi dari layout yang
digunakan adalah:

a.

b.
38

Gambar 3.7 Ilustrasi Plate Layout Bagian Top (a) dan Bottom (b) (Sumber:
Sinnot.2005)
Penentuan plate layout ini menggunakan grafik korelasi Lw/Dc terhadap Lh/Dc pada
gambar berikut:

Gambar 3.8 Penentuan Sudut dan Lh/Dc dari Grafik (Sumber: Sinnot, 2005)
Dengan grafik diatas untuk perbandingan Lw/Dc sebesar 0.89 untuk bagian top
dan bottom diperoleh sudut yang digunakan. Langkah selanjutnya adalah penentuan
panjang rata-rata unperforated dengan persamaan berikut:
meanlength unperforated= ( Dcsupport ring ) ( I w 2 calming zone width )
Kemudian, unperforated area ditentukan dari persamaan berikut:
unperforated area= panjang ratarataunperforated supporting ring
Langkah selanjutnya adalah penentuan calming zone area dari persamaan berikut:
39

calming zone area=(2 0,075 ( I w 2 calming zone width) )


Hal akhir adalah penentuan luas total perforated untuk menentukan
perbandingan Ip/dh. Total perforated area dihitung dari rumus berikut
A P= Aa unperforated areacalming zone area
Nilai Ip/dh diperoleh dari grafik korelasi Ip/dh dengan hasil perhitungan total
perforated area untuk menentukan diameter lubang yang ditunjukkan pada gambar
berikut:

Gambar 3.9 Penentuan Ip/dh dari Grafik sebagai Syarat Uji Layout
Dari hasil pembacaan grafik pada gambar di atas akan dilakukan uji nilai I p/dh.
Jika nilai Ip/dh berada pada rentang 2,5 sampai 4,0 maka lolos uji. Hasil perhitungan ini
ditunjukkan pada tabel 3.7 berikut:
Tabel 3.7 Hasil Perhitungan Plate Layout
Perforated area
lw/Dc
Sudut (teta)
angle substended
support ring
mean length of unperforated

Top
0,89
121
59
10

edge
area of unperforated edge

0,8617
0,00861

Bottom
degree
degree
mm

0,89
121
59
10

degree
degree
mm

m
m2

0,8617
0,00861

m
m2
40

mean length of calming zone


area of calming zone
total area for perforation (Ap)
Ah/Ap
lp/dh
Syarat Uji (2,5 - 4)

0,7631
m
0,0153
m2
0,1954
m2
0,0673
3,6
Lolos Uji

0,7633
m
0,0153
m2
0,1729
m2
0,0683
3,6
Lolos Uji

3.12 Pemilihan Material Penyusun Kolom


Parameter utama dalam pemilihan material adalah biaya, daya tahan terhadap korosi dan
kekuatan mekanik/daya tahan terhadap tekanan. Pada kasus ini, fluida yang dipisahkan dalam
kolom adalah hidrokarbon yang tidak bersifat korosif, sehingga parameter daya tahan terhadap
korosi dapat diabaikan.
Pemilihan material penyusun kolom memperhatikan kekuatan/ketahanan mekanik
terhadap tekanan operasi yang cukup tinggi yaitu 2400 kPa. Terdapat cukup banyak material
penyusun kolom yang tahan terhadap tekanan operasi ini. Opsi material disajikan dalam tabel
3.8 berikut:

Tabel 3.8 Opsi Pemilihan Material Penyusun Kolom


Carbon Steel Pipes - Working Pressure
Wall
Thickness
-t(inches)

Working Pressure ASTM A53 B to


400F
Manufacturi Joint
ng Process Type

Psig

0.088

CW

188

0.119

CW

871

0.091

CW

203

0.126

CW

820

0.109

CW

214

0.147

CW

753

kPA
1278,
9
5925,
2
1381,
0
5578,
2
1455,
8
5122,
41

4
1476,
0.113
CW
T
217
2
4632,
0.154
CW
T
681
7
1537,
0.133
CW
T
226
4
4367,
0.179
CW
T
642
3
(Sumber:http://www.engineeringtoolbox.com/)
Semua bahan yang disajikan dalam tabel 3.8 tahan terhadap tekanan operasi 2400 kPa. Jadi,
penyusun yang dipilih adalah Carbon Steel ASTM A53 dengan ketebalan minimum 0,119 inci (3
mm).
3.13 Pemilihan Tipe Tutup Kolom
Perancangan ini menggunakan tekanan operasi yang relatif tinggi yaitu 2400 kPa,maka
kriteria dalam pemilihan tutup kolom adalah ketahanan mekanik terhadap tekanan. Tipe-tipe
tutup kolom yang umum adalah flat flanged head (tipe tutup datar), torispherical head,
hemispherical head, toriconical head dan ellipsoidal head. Tipe flat flanged head tidak cocok
digunakan karena tekanan operasi relatif tinggi walaupun harga atau biayanya murah. Jenis
penutup kolom yang direkomendasikan adalah tipe ellipsoidal head karena memiliki luas
permukaan paling kecil dan berbentuk bola sehingga tekanan operasi tinggi bisa terdistribusi
secara merata dan mengurangi beban tiap satuan luas material. Penggunaan penutup kolom ini
akan menambah ketinggian kolom sebesar D/4 dari masing-masing diameter atas dan bawah.

Gambar 3.11 Contoh Tipe Tutup kolom Ellipsoidal Head (Sumber: mycheme.com)
42

3.14 Pemilihan Tipe Kaki Kolom


Fungsi dari kaki kolom adalah untuk menopang kolom sehingga posisi kolom dapat
tegak seperti menara. Ada dua tipe kaki kolom yang umum digunakan yaitu straight skirt
support dan flared skirt support. Parameter pemilihan kaki kolom adalah berat dan bentu kolom
yang diguankan. Paramter lain yang perlu diperhatikan adalah lokasi kolom distilasi dan ruang
(space) yang tersedia.

Gambar 3.12 Tipe Straight Skirt Support dan Flared Skirt Support (Sumber: Walas, 1988)
Tipe yang dipilih adalah straight skirt support karena tipe ini lebih umum digunakan
untuk kolom distilasi.

3.15 Pemilihan Tipe Tray dan Jenis Pitch


Ketentuan perancangan pada kasus ini telah memberikan jenis tray yang digunakan
yaitu sieve/perforated tray. Jenis pitch yang digunakan adalah tipe segitiga (triangular hole
pitch). Tipe ini dipilih karena karena perhitungan menggunakan grafik pada gambar 3.9 berbasis
pada susunan triangular hole pitch. Besar pitch yang digunakan pada bagian Top dan Bottom
adalah 15 mm (3,6 x diameter lubang). Tipe segitiga lebih sering digunakan di industri
dibandingkan dengan tipe pitch yang lain karena memberikan laju perpindahan energi yang
lebih tinggi sehingga lebih cepat mencapai kesetimbangan.

43

Gambar 3.13 Tipe Pitch


3.16 Utilitas yang diperlukan
Berikut data sistem utilitas yang digunakan pada perancangan tray column berdasarkan
data yang diperoleh dari bantuan software ASPEN HYSYS

Kondensor dengan spesifikasi heat load 2,27 x 106 kJ/h


Bila pendingin yang digunakan adalah air laju alir massa yang dibutuhkan adalah
1,084 x 106 kg/h, jika yang digunakan udara laju alir massa yang dibutuhkan 4,533 x

106 kg/h.
Reboiler dengan spesifikasi heat load 1,96 x 106 kJ/h sistem kettle reboiler.
Bila pemasok panas yang digunakan Low Pressure Steam laju alir massa yang
dibutuhkan adalah 893,3 kg/h, jika yang digunakan medium pressure steam laju alir
massa yang dibutuhkan 990,3 kg/h, jika yang digunakan high pressure steam laju alir
massa yang dibutuhkan 1152 kg/h

3.17 Hasil Perancangan Tray Column


Berikut ini gambar hasil perancangan tray column

44

Gambar 3.14 Ilustrasi Hasil Perancangan Tray Column

45

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Konsentrasi
Berikut profil konsentrasi fasa uap dan cair hidrokarbon pada setiap tahap berdasarkan
perhitungan dengan metode eksak:

Profl Konsentrasi Fasa Cair


1
0.8

Etana
Propana

0.6

Konsentrasi (fraksi mol)

Isobutana
Butana

0.4

Isopentana
0.2
0

Pentana
0

10

15

20

25

Tahap ke-

Gambar 4.1 Grafik profil konsentrasi fasa cair hidrokarbon pada setiap tahap

Profl Konsentrasi Fasa Uap


1
0.8

Etana
Propana

0.6

Konsentrasi (fraksi mol)

Isobutana
Butana

0.4

Isopentana
0.2
0

Pentana
0

10

15

20

25

Tahap ke-

Gambar 4.2 Grafik profil konsentrasi fasa uap hidrokarbon pada setiap tahap
Pada Gambar 4.1 dan 4.2, tahap 1 merupakan kondenser dan tahap 20 merupakan
reboiler. Terdapat dua tren yang terdapat pada grafik diatas. Terdapat dua tren yang
ditunjukkan Gambar 4.1, Tren menurun menunjukkan bahwa hidrokarbon tersebut
merupakan hidrokarbon fraksi ringan yaitu etana dan propana, sedangkan tren naik
menunjukkan hidrokarbon fraksi berat isobutana, butana, isopentana, dan pentana. Hal ini
46

sesuai dengan literatura, karena hidrokarbon fraksi ringan akan lebih mudah menguap
sehingga akan banyak terdapat pada bagian atas kolom distilasi (tahap 1), dan semakin
sedikit di bagian bawah kolom distilasi (tahap 20). Sedangkan fraksi berat tidak mudah
menguap, sehingga akan sedikit ditemukan di bagian atas kolom distiasi (tahap 1) dan
semakin banyak di bagian bawah kolom distilasi (tahap 20).
4.2 Profil Temperatur
Berikut ini profil temperatur setiap tahap berdasarkan perhitungan menggunakan metode
eksak :

Profl Temperatur Setiap Tahap


140
130
120
110

Temepratur (deg.C)

100

Rectifying Section

90

Stripping Section

80
70
60
50

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Tahap ke-

Gambar 4.3 Grafik Profil Temperatur Setiap Tahap


Berdasarkan gambar diatas, terlihat bahwa temperatur naik seiring dengan naiknya
tahap. Hal ini sesuai dengan tren tray column yang monoton naik dari tahap kondenser
hingga tahap reboiler. Terlihat juga feed masuk pada tahap kesepuluh. Masuknya feed ini
akan menyebabkan perubahan komposisi sehingga tren berubah setelah tahap feed masuk.
4.3 Hasil Perancangan Tray Column
Pada perancangan tray column, jarak antar pelat yang digunakan sebsar 0,6 m.
Pemilihan jarak antar pelat ini sudah sesuai dengan literatur yang berada pada rentang 0,15
m hingga 1 m. Ketinggian weir yang digunakan sebesar 40 mm. Pada literatur ditunjukkan
bahwa kriteria pemilihan tinggi weir pada tekanan diatas tekanan atmosfer sebesar 40-90
mm. Pemilihan tinggi weir sudah di dalam rentang kriteria literatur. Pada pengujian
entrainment didapat nilai FLV,top dan FLV,bottom sebesar 0,381 dengan persen flooding sebesar
90%. Dari, nilai FLV dan persen flooding didapat fraksi entrainment sebesar 0,09.

47

Berdasarkan literatur, nilai entrainment dibawah 0,1 akan menyebabkan terhadap efisiensi
pelat sangat kecil sehingga, tray column yang dirancang sudah lolos uji entrainment.
Untuk uji hilang tekan pada pelat, didapatkan hilang tekan pada bagian top dan bottom
berturut-turut sebesar 131,994 mm dan 123,671 mm. Hilang tekan yang diperoleh masih
dibawah batas yang diperbolehkan yaitu sebesar 138 mm cairan, sehingga tray column ini
lolos uji hilang tekan pada pelat.
Uji berikutnya adalah uji residence time atau waktu retensi untuk menunjukkan bahwa
aliran uap dan aliran cairan memiliki waktu yang cukup untuk dipisahkan sehingga tidak
terjadi aerasi cairan pada downcomer. Dari uji waktu tinggal didapatkan bahwa waktu
retensi untuk bagian top sebesar 8.67 detik dan bagian bottom sebesar 8.81 detik. Waktu
retensi minimal berdasarkan literatur adalah 3 detik, sehingga tray column ini sudah lolos
uji waktu retensi.
Uji weeping bertujuan untuk melihat apakah laju alir uap sudah cukup besar untuk
mencegah terjadinya weeping. Hasil uji weeping pada top section memberikan laju
minimum sebesar 1,45 m/s dan laju uap nyata sebesar 1,53 m/s sedangkan pada bottom
section memberikan laju minimum sebesar 1,3 m/s dan laju uap nyata sebesar 1,37 m/s
sehingga kolom ini disimpulkan lolos uji weeping.
Tray column yang dirancang telah sesuai dengan spesifikasi literatur dan telah lolos uji
weeping, uji residence time, uji downcomer liquid backup, uji entrainment. Dari hasil
tersebut, dapat disimpulkan tray column yang dirancang sudah layak untuk digunakan
sesuai dengan kondisi yang diberikan pada penugasan.

48

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Tray column yang dirancang telah sesuai dengan spesifikasi literatur dan telah lolos uji
weeping, uji residence time, uji downcomer liquid backup, uji entrainment. Dari hasil
tersebut, dapat disimpulkan tray column yang dirancang sudah layak untuk digunakan.
5.2 Saran
Untuk menyempurnakan perancangan tray column ini dibutuhkan pengetahuan dan
pengalaman di lapangan mengenai kolom distilasi

49

DAFTAR PUSTAKA
Sinnott, R. K. 2005. Coulson & Richardsons Chemical Engineering, Volume 6, 4th Ed:
Chemical Engineering Design. Oxford : Elsevier Butterworth-Heinemann.
Smith, J.M., Van Ness, H.C., & Abbott, M.M. 2001. Introduction to Chemical
Engineering Thermodynamics 6th Ed. New York : McGraw-Hill Inc.

50

Beri Nilai