Anda di halaman 1dari 3

Maraknya Kejahatan Korporasi: Perlukah Test

Moralitas ditingkat Korporasi?


Ada segelintir pemberitaan mengenai maraknya kejahatan korporasi
yang mengarah pada diperlukannya beberapa aturan baku agar pemidanaan
kejahatan korporasi tersebut dapat dilakukan secara maksimal. Pandangan
saya sebagai seorang akademisi, dibuatnya aturan-aturan baku baru dalam
memitigasi kejahatan korporasi bukanlah solusi yang serta merta dapat
mengubah perilaku dari seorang pelaku kejahatan. Karena dari beberapa
penelitian terbukti bahwa bukan hukumannya yang dapat memitigasi
perilaku kejahatan tersebut tetapi tingkat moralitas pelaku tersebutlah yang
berperan.
Dalam penelitian Albercht (1980) disebutkan bahwa faktor-faktor yang
menyebabkan

terjadinya

fraud/kecurangan/kejahatan

korporasi

adalah

karena adanya tekanan situasional, kesempatan melakukan, dan integritas


personal. Yang mana integritas personal individu ini mengarah pada kode
etik personal individu, yang dapat diobservasi melalui teori perkembangan
moral individu. Albercht (1980) juga mengemukakan bahwa selain integritas
personal, hal penting lainnya yang menyebabkan penyimpangan perilaku
seseorang dalam melakukan kejahatan korporasi adalah lokus kendali (locus
of control) individu.

Locus of control ini menunjukkan tingkat keyakinan

individu mengenai sejauh mana individu tersebut dapat mengendalikan


kejadian-kejadian yang memengaruhi kehidupannya (Rotter, 1996). Individu

dengan internal locus of control cenderung tidak menerima tindakan tertentu


yang kurang etis, sedangkan individu dengan external locus of control
cenderung lebih menerima tindakan tertentu yang kurang etis (Reiss dan
Mitra, 1998). Maka dari itu, individu dengan internal locus of control lebih
kecil kemungkinannya untuk melakukan kecurangan/kejahatan korporasi
dibandingkan dengan individu yang external locus of control.
Selain

itu,

pengetahuan

akan

penalaran

moral

digunakan

untuk

mengetahui kecenderungan individu dalam melakukan suatu tindakan


tertentu, terutama yang berkaitan dengan dilema etika. Penelitian Bernadi
(1944) dan Ponemon (1993) membuktikan bahwa semakin tinggi level
penalaran moral, individu akan sensitif terhadap isu etika. Dengan kata lain,
semakin

tinggi

level

penalaran

moral

seseorang,

maka

individu

itu

cenderung tidak akan melakukan kecurangan/kejahatan korporasi, dan


sebaliknya. Dalam teori perkembangan penalaran moral Kohlberg (1981)
dijelaskan bahwa terdapat 3 tingkat perkembangan moral individu, yakni
prakonvensional, konvensional, dan pascakonvesional. Yang selanjutnya tiga
tingkat tersebut kemudian dibagi atas enam tahap (Kohlberg, 1995) yaitu,
orientasi hukuman dan kepatuhan, orientasi relativis-instrumental, orientasi
kesepakatan antara pribadi/orientasi Anak Manis, orientasi hukum dan
ketertiban, orientasi kontrak sosial legalistis, dan orientasi prinsip etika
universal. Dan keenam tingkat penalaran moral yang dikemukakan oleh
Kohlberg (1995) tersebut dibedakan satu dengan yang lainnya bukan

berdasarkan keputusan yang dibuat, tetapi berdasarkan alasan yang dipakai


untuk mengambil keputusan.
Dari beberapa hasil penelitian jelas diungkapkan bahwa perilaku
seseorang dalam melakukan kecurangan/kejahatan korporasi sebagian besar
dapat dilihat dari seberapa besar tingkat penalaran moralnya, bagaimana
individu itu memiliki lokus kendali, dan alasan dibalik perilaku individu dalam
memutuskan sesuatu. Yang perlu menjadi perhatian dan fokus saat ini dalam
mencegah/memitigasi

tindak

kejahatan

korporasi

adalah

bagaimana

lembaga pemerintahan, dan korporasi itu sendiri meningkatkan penalaran


moral dari para pegawai melalui program tanggap akan dilema etika. Dan
bagi lembaga pendidikan, perlu membekali para didikannya dengan berbagai
isu-isu etika yang sedang berkembang sehingga para didikan memiliki
sensitifitas atas perilaku yang tidak etis dan tindak kecurangan/kejahatan
korporasi dapat dicegah sejak dini. Sambil membenahi sistem hukum yang
ada, mari benahi juga moralitasnya. Karena sistem hukum sebaik dan seadil
apapun jika moralitas individunya yang bobrok sistem tersebut hanya akan
menjadi isapan jempol semata.