Anda di halaman 1dari 15

PRAKTIKUM SISTEM TELEKOMUNIKASI ANALOG

MODULASI AM

Oleh :
Dyah Anggraini

NIM. 1541160050

Kelompok 1 : JTD 2B
1.
2.
3.
4.

Dani Wahyu H
Dyah Anggraini
Rohmad Karyadi
Wahyu Rizkia Rohmah

NIM. 1541160118
NIM. 1541160050
NIM. 1541160030
NIM. 1541160055

JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016

I.

II.

TUJUAN
1. Mampu menjelaskan dasar modulasi AM
2. Mengetahui cara kerja rangkaian modulasi AM dan DSB
3. Mampu menggunakan software multisim dan mathlab
TEORI DASAR
a. AM
Modulasi amplitudo yaitu metode modulasi di mana amplitudo gelombang carrier dibuat

bervariasi menurut harga sesaat dari sinyal pemodulasi. Dengan kata lain, bila gelombang
pembawa dimodulasikan ke amplitudo, maka amplitudo bentuk gelombang tegangan yang
memodulasi.
Dalam sistem modulasi amplitudo sinyal suara ditumpangkan pada frekuensi pembawa
yang berupa gelombang radio, sehingga pada sistem ini amplitudonya yang berubah-ubah.
Kelemahan sistem modulasi amplitudo adalah mudah terganggu oleh derau cuaca, akan tetapi
modulasi amplitudo ini dapat menjangkau jarak jauh dan dapat dipantulkan oleh lapisan ionosfer.
Keluaran osilator ini kemudian masuk ke bagian frequency multiplier (pengali frekuensi)
untuk menambahkan atau mengurangi besar frekuensi yang terdapat pada bagian frequency
multiplier ini. Dan selanjutnya diberikan ke bagian power amplifier untuk dipancarkan.
Namun dalam penggunaan telemetri pita lebar, jaringan penggandeng, penyesuai dan
tapis dapat mengubah amplitudo dan fase pita sisi sinyal AM yang mengakibatkan distorsi. Tapis
yang digunakan untuk membatasi lebar pita sinyal dalam penggunaan telemetri pita
mengakibatkan modulasi amplitudo dalam sinyal akibatnya tidak adanya pita sisi yang tersaring.
Namun tingkat-tingkat penguat mode campuran kelas C dapat memotong sinyal yang
membangkitkan pita sisi di luar pita lewat tapis.
Panjang gelombang adalah jarak antara titik-titik berfase sama dalam siklus-siklus
berurutan yang diukur dalam suatu waktu dalam arah penjalaran dan perambatan gelombang.
Panjang gelombang sama dengan jarak yang ditempuh oleh gelombang dalam satu periode
osilasi.
b. DSB
Double-sideband suppressed-carrier (DSB-SC) adalah transmisi di mana frekuensi yang
dihasilkan oleh modulasi amplitudo yang simetris berada di bawah frekuensi pembawa dan
tingkat pembawa berkurang ke tingkat praktis terendah, idealnya benar-benar ditekan.
Dalam double-sideband suppressed-carrier (DSB-SC) modulasi persentase besar daya
yang didedikasikan untuk didistribusikan antara sideband, yang berarti peningkatan penutup di
DSB-SC untuk kekuatan yang sama yang digunakan. Transmisi DSB-SC adalah kasus khusus

dari dua sideband transmisi pembawa berkurang. Ini digunakan untuk RDS (Radio Data
System) karena sulit untuk memisahkan.
III. GAMBAR RANGKAIAN

Gambar 1 Rangkaian Modulasi AM

Gambar 2 Rangkaian Receiver AM

Gambar 3 Rangkaian Receiver DSB

IV. SIMULASI MODULASI AM

V.

V. SIMULASI RANGKAIAN MODULASI AM

VI. SIMULASI MATLAB


a. Sinyal AM pada frekuensi 30 kHz

b. Sinyal DSB pada frekuensi 30 kHz

Indeks Modulasi
Am
m=
Ac

Vmax Vmin
Vmax +Vmin

102
10+ 2

8
12

2
=0,67 x 100 =67
3

Daya AM

Pam=Pc 1+

m
2

)
2

Pam=4,5(1+

0,667
)
2

Pam=5,5 Watt

Daya AC
Ac2
Pc=
2
0,667 2
Pc=
=4,5
2

MODULASI AM
1. Sinyal carier

2. Sinyal informasi

3. Amplitudo terbesar (1,12 Vpp) pada saat frekuensi 1,12 kHz

4.

V RMS =

1,12 kHz
=0,79 kHz (Sinyal Carrier)
2

Dan Fc2= 3,27 kHz

5.

V RMS =

1,12 kHz
=0,79 kHz (Sinyal Carrier)
2

Dan Fc1= 102,9 Hz

6. Sinyal AM saat amplitudo 1 Vpp dan frekuensi 500 Hz

7. Sinyal DSB

Praktikum AM menuju DSB


1. BPF 300 Hz-3,4 Hz, f=1 KHz, v=2 Vpp

2. Sinyal AM sebelum melewati Bandpass 20,3-23,4 KHz


Input f=1 KHz, v=2 Vpp
Output f=16,13 KHz, v=5,68 Vpp

3. Sinyal Carrier AM
Input f=1 KHz, v=2 Vpp
Output f=15,87 KHz, v=3,6 Vpp

4. Sinyal Modulasi AM sebelum ke receiver


Input f=1 KHz, v=2 Vpp
Output f=16 KHz, v=3,6 Vpp

5. Sinyal keluaran G 20 KHz


Input f=1 KHz, v=2 Vpp
Output f=20,01 KHz, v=3,26 Vpp

6. Sinyal Output dari Mixer


Input f=1 KHz, v=2 Vpp
Output f=64,52 KHz, v=5,68 Vpp

7. Output mixer setelah bandpass (receiver)


Input f=1 KHz, v=2 Vpp
Output f=3,630 KHz, v=1,86 Vpp

DSB
8. Sinyal setelah BPF 34 Hz-3,4 KHz
Input f=1 KHz, v=2 Vpp
Output f=1 KHz, v=2 Vpp

VII. ANALISIS
Pada praktikum ini sinyal informasi ditumpangkan pada sinyal pembawa yang
menumpang pada amplitudo dari sinyal pembawanya. Sinyal yang frekuensinya tinggi
merupakan sinyal pembawa dan yang frekuensinya rendah merupakan sinyal informasi. Dari
percobaan saat sinyal input dimasukkan dari function generator sebesar 1000 khz dan 2 Vpp ke
mixer, pada osiloskop terlihat gambar outputnya termodulasinya seperti yang bisa dilihat pada
data hasil percobaan, outputnya mempunyai suatu pita frekuensi. Bagian sisi atas dan sisi bawah
frekuensi yang terlihat pada output merupakan bentuk gelombang informasi yang termodulasi
oleh sinyal pembawa yang frekuensinya lebih besar. Dari gambar yang terlihat bahwa sinyal
termodulasi dihasilkan dengan cara sinyal informasi berada ada amplitude positif (atas) dan
amplitudo negative (bawah) dari sinyal pembawa. Pada dua sisi band tersebut sinyal pembawa
ditumpangkan oleh sinyal informasi.
Frekuensi dari sinyal informasi yang menumpang pada sinyal pembawa tidak mengalami
perubahan saat proses modulasi. Sinyal informasi dimodulasi dengan merubah ubah nilai
amplitudenya. Ketika sinyal LF informasi digerakan ke upper envelope, posisinya jika
dibandingkan antara sinyal termodulasi dengan sinyal informasi ialah simetris. Bentuk upper
envelope sama dangan bentuk sinyal informasi yang dimodulasikan. Jika sinyal LF berubah,
maka akan mempengaruhi gelombang termodulasinya, karena gelombang output dari band sinyal
termodulasinya bergantung pada bentuk sinyal informasi. Seperti yang dapat dilihat pada data
percobaan, besarnya amlplitudo sinyal informasi mempengaruhi nilai indeks modulasi pada
sinyal output termodulasi.Nilai indeks modulasi yang kecil akan mempengaruhi kecacatan sinyal
termodulasi, nilai indeks yang hampir mendekati nilai 1 juga akan mempengaruhi kualitas sinyal
termodulasi yang menyebabkan sinyal informasi tidak dapat terbaca pada sinya termodulasinya.
Indeks modulasi yang baik rata rata berkisar pada kisaran 0,925. Pada keadaan tersebut sinyal
informasi dapat terbaca dengan jelas pada sinyal termodulasinya. Indeks modulasi ini sangat
dipengaruhi oleh besar amplitudo sinyal LF. Sehingga dalam modulasi ini harus diperhatikan
dalam perubahan amplitudo sinyal LF maupun sinyal HF-nya.
VIII. KESIMPULAN
Kesimpulan yang bisa di dapat dari praktikum dan simulasi adalah bahwa membuat
sinyal AM dengan cara menambahkan sinyal carrier dengan sinyal informasi dan kalau sinyal
DSB mengkalikan sinyal carrier dengan sinyal informasi
Rumus mencari indeks modulasi ada dua yaitu :

m=

m=

Am
Ac

Amax Amin
Amax+ Amin

Dan kedua rumus membuktikan hasilnya sama walaupun berbeda rumus. Indeks
modulasi yang didapat setelah simulasi adalah = 0,667
Rumus mencari daya pada AM dengan rumus :
Pam=Pc (1+

m2
)
2

Hasil pada daya AM yang sudah di simulasi adalah = 5,5 Watt


Pada rangkaian receiver sinyal modulasi AM dan DSB yang di terima adalah sinyal
informasi. Ditunjukkan pada output pada osiloskop menampilkan sinyal sinus yang frekuensinya
sama dengan sinyal input. Dan sinyal carrier tidak diloloskan karena hanya ssebagai sinyal
pembawa.