Anda di halaman 1dari 14

ISSN 2805 - 2754

GAMBARAN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : SEROSIS HEPATIS
Oleh :
S. Iswahyuni1 _Rejo2
1. Dosen Akademi Keperawatan Mambaul Ulum Surakarta.
2. Dosen Akademi Keperawatan Mambaul Ulum Surakarta.
ABSTRAK
Sirosis hepatis adalahpenyakit hati menahun yang ditandai dengan adanya pembentukan
jaringan ikat disertai nodul.Sirosis hepatis penyakit kronis yang paling sering menyerang pada lakilaki dewasa, kegawatdaruratan penyakit ini menimbulkan kegagalan fungsi hati yang kronis dan
hipertensi portal apabila tidak mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat. Penyusunan
karya tulis ilmiah ini dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan asuhan
keperawatan pada kasus sirosis hepatis.
Studi kasus sirosis hepatis pada Tn.S ini dilaksanakan pada tanggal 11 April 2013 di
Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar. Dalam pengkajian, penulis menemukan data fokus yaitu
data subjektif (S) pasien mengatakan sesak nafas, sulit BAB sejak 10 hari, pasien mengatakan
tidak nafsu makan karena perutnya terasa penuh. Masalah keperawatan yang ditemukan penulis
pada Tn.S adalah pola nafas tidak efektif, konstipasi, nutrisi kurang dari kebutuhan dan kelebihan
volume cairan.
Rencana keperawatan penulis susun sesuai dengan masalah yang ada dengan
memenuhi kebutuhan oksigenasi dan nutrisi, beri laksatif sesuai advis dokter dan mengatasi
kelebihan volume cairan pada klien. Tindakan keperawatan dilakukan sesuai rencana keperawatan
yang telah disusun untuk mengatasi masalah keperawatan pada Tn. S.
Evaluasi yang dilakukan dengan hasil kebutuhan eliminasi terpenuhi, keadaan umum baik
dan tidak ada tanda-tanda komplikasi.
A. PENDAHULUAN
B.
Hati merupakan
organ terbesar dalam tubuh
manusia, mempunyai berat sekitar
1,5 kg. Walaupun berat hati hanya
2-3% dari berat tubuh, namun hati
terlibat dalam 25-30% pemakaian
oksigen. Sekitar 300 milyar sel-sel
hati terutama hepatosit yang
jumlahnya kurang lebih 80%,
merupakan
tempat
utama
metabolisme intermedier.
Hati
manusia terletak pada bagian atas
cavum
abdominis,
dibawah
diafragma, dikedua sisi kuadran
atas, yang sebagian besar terdapat
pada sebelah kanan. Beratnya
1200-1600 gram. Permukaan atas
terletak bersentuhan di bawah
diafragma, permukaan bawah

terletak bersentuhan di atas organorgan abdomen (Agus, 2010).


C.
Ada
berbagai
macam penyakit yang menganggu
fungsi hati diantaranya adalah
sirosis hepatis. Sirosis hepatis
adalah penyakit hati menahun yang
mengenai seluruh organ hati,
ditandai dengan pembentukan
jaringan ikat disertai nodul.
Keadaan tersebut terjadi karena
infeksi akut dengan virus hepatitis
dimana terjadi peradangan sel hati
yang luas dan menyebabkan
banyak kematian sel.
D.
Di negara maju,
sirosis hati merupakan penyebab
kematian terbesar ketiga pada
pasien yang berusia 4546 tahun
(setelah penyakit kardiovaskuler

Gambaran Pelaksanaan .....................................................

dan kanker). Di seluruh dunia


sirosis menempati urutan ke tujuh
penyebab kematian. Berdasarkan
data dari organisasi kesehatan
dunia WHO tahun 2007, sirosis
hepatis atau kanker hati menempati
urutan kelima tertinggi penyakit
kanker yang ada di Dunia. Lebih
dari 600.000 kasus baru didiagnosis
secara global setiap tahun 19.000
penderita di Amerika Serikat,
32.000 pasien di Uni Eropa. Pada
tahun 2002 sekitar 600.000 orang
meninggal karena sirosis hepatis.
Di negara barat yang tersering
akibat alkoholik sedangkan di
Indonesiaterutama akibat infeksi
virus hepatitis B maupun C. Hasil
penelitian diIndonesia menyebutkan
virus hepatitis B menyebabkan
sirosis sebesar 40-50% dan virus
hepatitis C 30-40 %, sedangkan 1020 % penyebabnya tidakdiketahui
dan termasuk virus bukan B dan C
(non B non C). Alkoholsebagai
penyebab sirosis di Indonesia
mungkin
frekuensinya
kecil
sekalikarena belum ada datanya
(Sudoyo, 2006 : 443).
E.
Sirosis
hati
secara klinis dibagi menjadi sirosis
hati kompensata yang berarti belum
adanya gejala klinis yang nyata dan
sirosis hati dekompensata yang
ditandai gejala-gejala dan tanda
klinis yang jelas. Sirosis hati
kompensata merupakan kelanjutan
dari proses hepatitis kronik dan satu
tingkat tidak terlihat perbedaan
secara klinis.
Hal ini dapat
dibedakan melalui pemeriksaan
biopsi hati.
F.
Di
RSUD
Karanganyar sendiri khususnya di
Ruang Mawar I yang merupakan
ruang perawatan penyakit dalam
khusus laki-laki, kasus sirosis
hepatis sendiri menjadi kasus yang
sering di temukan di Ruang Mawar
I. Dari data yang diperoleh penulis

dari bagian administrasi Ruang


Mawar I, selama 1 tahun terakhir
jumlah pasien sirosis hepatis yang
di rawat berjumlah 10 orang
(Bag.RM.RSUD.Karanganyar,2013)
.
G.
H. METODE PENELITIAN
I.
Penelitian
ini
telah dilakukan selama tiga hari,
tanggal 11-13 April 2013 bertempat
di Rumah Sakit Panti Umum
Daerah
Karanganyar
Metode
penelitian adalah dengan observasi
yang
dilaksanakan
secara
mendalam (in depth observation)
terhadap objek yaitu pasien
penderita Serosis Hepatis yang
dirawat di Ruang Mawar 1 Rumah
Sakit Umum Daerah Karanganyar.
Analisa
dan penyajian data
dilakukan secara deskriptif kualitatif
J. HASIL DAN PEMBAHASAN
K. Hasil Penelitian
L.
Pengkajian
dilakukan pada tanggal 11 April
2013 pada jam 09.00 WIB, di ruang
IGD RSUD Karanganyar. Sumber
data diperoleh dari pasien, keluarga
dan status pasien. Biodata pasien
nama Tn. S, umur 60 tahun, jenis
kelamin laki-laki, pendidikan SMA,
agama Islam, pekerjaan swasta,
status kawin, alamat Popongan,
Karang pandan, suku Jawa, bangsa
Indonesia. Biodata penanggung
jawab nama Ny. S, umur 55 tahun,
jenis kelamin perempuan, agama
Islam, pendidikan SMP, pekerjaan
ibu rumah tangga, suku bangsa
Jawa, Indonesia, hubungan dengan
pasien istri. Pasien masuk rumah
sakit tanggal 11 April 2013 jam
09.00 WIB, nomor register 207032,
diagnosa medis Asites, sirosis
hepatis.
M.
Riwayat
kesehatan, keluhan utama : pasien
datang dengan keluhan perutnya
terasa penuh dan membesar.

JKm-U, Vol. VI, No. 16, 2014:1-12

Riwayat penyakit sekarang, kurang


lebih lima hari klien mengeluh
badan lemas, kira-kira sepuluh hari
susah buang air besar dan perutnya
membesar, nafsu makan berkurang,
juga merasa mual dan muntah,
disertai mata berwarna kekuningan,
kedua kaki klien juga bengkak,
pasien sudah diperiksakan keklinik
dekat rumahnya namun tidak ada
perubahan, akhirnya pada tanggal
11 April 2013 pasien dibawa
keluarga berobat di IGD RSUD
Karanganyar dan dirawat di ruang
Mawar 1, sebelumnya di IGD
medapat terapi infus IVFD D5% 10
tpm dan injeksi Alinamin F: 1x25
mg, injeksi cefotaxime: 2x1 gr,
injeksi Furosemid: 3x20 mg ,injeksi
pantoprazol: 1x40 mg, kondisi klien
saat dikaji lemah, klien mengeluh
perut membesar sejak lima hari
yang lalu disertai dengan mata
berwarna kekuningan, kedua kaki
bengkak dan sudah sepuluh hari
sulit buang air besar. Riwayat
penyakit dahulu : klien mengatakan
pernah dirawat di rumah sakit PKU
Karanganyar kurang lebih tiga
bulan yang lalu dengan penyakit
yang sama dan pernah berobat di
jakarta, pasien memiliki riwayat
penyakit hepatitis kurang lebih
sejak dua tahun yang lalu dan dulu
saat
masih
muda
sering
mengkonsumsi
alkohol.
Pemeriksaan fisik yang mendukung
masalah
adalah
kesadaran
composmentis
(E:4,M:6,V:5).
Tanda-tanda vital TD: 110/80
mmHg,
N: 94x/menit,
RR:
28x/menit, S: 37,1oC. BB/ TB: 60
kg/158 cm. Mata: sklera ikterik,
konjungtiva
anemis.
Hidung:
terpasang kanul oksigen tiga liter
per menit, fungsi penciuman baik.
Dada: Paru inspeksi: simetris,
pengembangan dada kiri dan kanan
sama, palpasi: traktil fremitus
teraba di intercosta 5, tidak ada

krepitasi, perkusi: sonor, auskultasi:


ronchi halus. Abdomen, inspeksi:
tidak ada lesi tampk tidak simetris,
auskultasi:
peristaltik
usus
terdengar 3x/menit, perkusi: pekak,
palpasi: terdapat nyeri tekan dan
teraba masa di abdomen kanan
atas (splenomegali). Ekstremitas
bawah: terdapat edema dikedua
kaki. Kulit sawo matang, turgor kulit
cukup.
N.
Pengkajian pola
fungsi
menurut
Henderson
didapatkan pola bernafas selama
sakit
pasien
bernafas
menggunakan alat bantu kanul
oksigen tiga liter per menit. Pola
makan, selama sakit pasien makan
dengan porsi dari rumah sakit
yaitu diet tinggi kalori tinggi protein,
indeks massa tubuh pasien 24.
Pola minum, sebelum sakit pasien
minum kurang lebih 800 cc/hari
dengan jenis air putih dan teh,
selama sakit pasien minum kurang
lebih 3-4 gelas/hari,balance cairan
pasien adalah +500 cc. Pola
eliminasi, sebelum sakit pasien
BAK 4-5x/hari dan BAB 1x/hari,
selama sakit pasien BAK 2-3x/hari
dan sulit BAB sudah kurang lebih
10 hari dirasakan pasien. Data
Penunjang : Terapi diit tinggi kalori
tinggi protein, Infus IVFD D5 % 10
Tetes per menit, Injeksi Alinamin F,
Injeksi Cefotaxime 2 x 1 gram (IV),
Injeksi Furosemid 3 x 20 mg (IV),
Injeksi Pantoprazol 1 x 40 mg,
Dulcolax suppositorial 1 x 10
mg/pagi hari, Plasbumin 20 %.
Hasil pemeriksaan laboratorium
(tanggal
11
April
2013)
pemeriksaan. Pemeriksaan Normal
: Pemeriksaan penunjang : hasil
laboratorium pada tanggal 11 April
2013, angka haemoglobin : 10,3
g/dl (angka normal 13-18 g/dl),
hematokrit 39 % (angka normal 4050%), leukosit 39.000/mm3 (angka
normal 4000-11000 /mm3), eritrosit

Gambaran Pelaksanaan .....................................................

3,5/mm3 (angka normal 4,5-5,5


/mm3) , trombosit 144.000 /mm3
(angka normal 150.000-400.000
/mm3), SGOT 73 u/l, SGPT 39 u/l,
albumin 1.99 g/dl, ureum 31,9
mg/dl, kreatinin 0,73 mg/dl, terapi
infus IVFD D5 % 10 tpm, alinamin f
1x25 mg, cefotaxime 2x1 gram,
furosemid 3x20 mg, pantoprazol
1x40 mg, dulcolax suppositorial
1x10 mg/pagi hari, plasbumin 20 %
(3 flash/100 cc).
O.
Data fokus, data
subyektif : pasien mengatakan
bernafas agak sesak dan perutnya
agak sakit, pasien mengatakan
sudah 10 hari susah buang air
besar, pasien juga mengatakan
perutnya besar dan membuncit
serta nafsu makan berkurang,
pasien mengatakan makan habis 3
sendok makan (1/4 porsi), data
obyektif : keadaan umum lemah
pasien tampak lebih sering
berbaring
jarang
beraktivitas,
terdapat edema dikedua kaki
pasien, pasien terpasang oksigen
kanul 3 liter/menit, makan habis 3
sendok makan (1/4 porsi) diit dari
rumah sakit, aktivitas pasien
sebagian dibantu oleh keluarga, A
(Anrtopometri) : TB 158 cm, berat
badan 60 kg, IMT 24, B
(Biomekanikal) : hematokrit 37, Hb
10,3 g/dl, albumin 1,99, gds 103
mg/dl, C (Clinical) : TD : 140/90
mmHg, N : 94 x/menit, S : 37,1oC,
RR : 28 x/menit, D (Dietary): diet
tinggi kalori tinggi protein.
P.Kreatinin hasil 0,73 mg/dL,
glukosa hasil 103 mg/dL, ureum
hasil 31,9 mg/dL, RDW hasil 18,2
Fi.
Pemeriksaan differential :
Basofil hasil 0,3%, Eosinofil hasil
4,9, Lymposit hasil 6,9.
Q.
Pemeriksaan
EKG (elektro kardiografi) tanggal 11
april 2013, interpretation : norrmal
synus
rhytem,
pemeriksaan
Rontgen thorax tanggal 08 april

2013,
kesan : cor tak
membesar,pulmo tampak memadat,
pemeriksaan USG (ultra sonografi)
tanggal 11 april 2013, kesan :
hepatosplenomegali sesuai sirosis
hepatis tidak tampak portal
hipertensi,tampak ascietes.
R. Dari data fokus didapatkan data
subyektif
pasien mengatakan
sesak nafas, sulit BAB, tidak nafsu
makan. Data obyektif pasien
tampak ascietes, terdapat edema
dikedua kaki, tekanan darah 110/80
mmHg, nadi 94 kali/menit, suhu
37,1o C, Respirasi rate 28 kali/menit.
Pasien terpasang infus IVFD D5 %
10 tetes per menit ditangan kiri,
pasien bedrest tidak total
S. Diagnosa, Intervensi, Implementasi
dan Evaluasi
1. pola nafas tidak efektif berhubungan
dengan gangguan ekspansi paru
T.
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam, dengan kriteria hasil :
pola nafas efektif, TTV dalam batas
normal, dapat bernafas normal tanpa
bantuan alat. Intervensi yaitu sebagai
berikut, observasi keadaan umum
pasien, observasi tanda-tanda vital
pasien, atur posisi semi fowler, beri
oksigen tambahan melalui kanul sesuai
program, kolaborasi pemberian terapi.
U.
Implementasi
dilakukan tanggal 11-13 April 2013 yang
bertujuan untuk mengatasi masalah yang
muncul pada pasien dilakukan sesuai
dengan rencana yang telah disusun,
yaitu : kaji keadaan umum pasien,
mengukur tandatanda vital pasien,
mengatur posisi pasien semi fowler,
memberi O2 kanul sesuai program,
memberikan terapi sesuai indikasi.
V.
Evaluasi
keperawatan adalah pola nafas tidak
efektif belum teratasi, lanjutkan intervensi
beri O2 kanul sesuai indikasi.
2. Konstipasi
berhubungan
dengan
kelemahan otot abdomen.

JKm-U, Vol. VI, No. 16, 2014:1-12

W.
Tujuan yang
ditetapkan
adalah
setelah
dilakukantindakan keperawatan selama
3x24 jam diharapkan konstipasi teratasi
dengan kriteria hasil yaitu : pasien
mampu BAB dengan lancar, bising usus
dalam batas normal (5-35x/menit), tidak
ada distensi abdomen. Intervensi yaitu
sebagai berikut, kaji tanda-tanda
konstipasi, kaji frekuensi BAB pasien,
monitor bising usus, motivasi pasien
mengonsumsi makanan tinggi serat,
kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian laksatif.
X.
Implementasi
dilakukan pada tanggal 1113 april 2013
diagnosa
konstipasi berhubungan
dengan kelemahan otot abdomen
mengkaji pola eliminasi pasien,
menganjurkan
pasien
untuk
mengonsumsi
makanan
tinggi,
memberikan terapi laksatif sesuai
program.
Y.
Evaluasi
keperawatan adalah masalah konstipasi
teratasi.
3. Nutrisi
kurang
dari
kebutuhan
berhubungan dengan mual, muntah,
anoreksia.
Z.
Tujuan yang ditetapkan
setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam masalah nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh dapat teratasi,
Kriteria hasil : pasien makan habis satu
porsi, mual dan muntah berkurang/hilang.
Intervensi
meliputi
:
diskusikan
pentingnya nutrisi bagi klien, anjurkan
untuk makan sedikit tapi sering, batasi
cairan sebelum dan sesudah makan (1
jam), kolaborasi dengan ahli gizi untuk
diit yang sesuai, kolaborasi pemberian
anti emetik.
AA.
Implementasi yang telah
dilakukan : mendiskusikan pentingnya
nutrisi bagi klien, menganjurkan untuk
makan sedikit tapi sering, kolaborasi
dengan ahli gizi untuk diit yang sesuai,
memberikan terapi anti emetik.
AB.
Evaluasi
keperawatan
adalah kebutuhan nutrisi pasien teratasi

sebagian,
lanjutkan
intervensi
menganjurkan makan sedikit tapi sering.
4. Kelebihan volume cairan berhubungan
dengan gangguan mekanisme regulasi.
AC.
Tujuan yang ditetapkan
setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama
3x24
jam
diharapkan
menunjukkan volume cairan stabil,
dengan kriteria hasil : tidak terdapat
perluasan edema, volume cairan stabil.
Intervensi : ukur masukan dan haluaran
cairan, kaji derajat perifer/edema
dependen, pantau tekanan darah setiap
3 jam, batasi natrium dan air, kolaborasi
pemberian albumin bebas garam atau
plasma ekpander sesuai indikasi.
AD.
Implementasi
dilakukan
tanggal 13 April 2013, mengukur
masukan dan haluaran cairan, mementau
derajat edema, membatasi natrium dan
air, kolaborasi pemberian albumin sesuai
advis dokter.
AE.
Evaluasi
keperawatan
adalah masalah kelebihan volume cairan
belum teratasi, lanjutkan intervensi
kolaborasi pemberian albumin sesuai
advis dokter.
AF.
AG. Pembahasan
AH. Pengkajian
AI.
Pengkajian adalah tahap
awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistematis
dalam pengumpulan data dari berbagai
sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi
status
kesehatan,tiga
metode yang digunakan dalam pengumpulan
data pada tahap pengkajian antara lain :
1. Komunikasi yang efektif
AJ. Teknik
komunikasi
terapeutik merupakan suatu teknik
dimana usaha mengajak klien dan
keluarga untuk bertukar pikiran dan
perasaan, yang mencakup ketrampilan
verbal dan non verbal, empati dan rasa
kepedulian
yang
tinggi
(Handayaningsih, 2007: 38).
2. Observasi
AK. Observasi
menurut
Handayaningsih (2007: 38), adalah

Gambaran Pelaksanaan .....................................................

a.
b.
c.
3.

a.

b.
c.

d.

mengamati perilaku dan keadaan klien


untuk memperoleh data tentang
masalah kesehatan klien. Kegiatan
observasi meliputi : 2S HFT (sight,
smell, hearning, feeling, taste).
Sight
: Kelaian fisik,
Perdarahan, terbakar, menangis.
Smell
: Alkohol, darah,
feses, obat, urin.
Hearing
: Tekanan darah,
batuk, menangis, ekspresi nyeri.
Pemeriksaan Fisik
AL. Pemeriksaan fisik dalam
keperawatan
digunakan
untuk
mendapatkan data objektif dari riwayat
keperawatan klien, menentukan status
kesehatan klien, mengidentifikasi
masalah klien dan mengambil data
dasar untuk menentukan rencana
tindakan keperawatan.
AM.
Teknik dasar pemeriksaan
fisik ada 4 menurut Tambunan (2012:
2), yaitu :
Inspeksi adalah metode observasi,
dimana pemeriksaan dilakukan dengan
cara melihat bagian tubuh yang
diperiksa melalui pengamatan.
Palpasi adalah suatu teknik yang
menggunakan indra peraba.
Perkusi adalah pemeriksaan dengan
jalan mengetuk bagian permukaan
tubuh tertentu membandingkan dengan
bagian tubuh lainnya (kiri dan kanan)
dengan tujuan menghasilkan suara.
Auskultasi adalah pemeriksaan fisik
yang
dilakukan
dengan
cara
mendengarkan suara yang dihasilkan
oleh tubuh.
AN.Data
diperoleh
dari
wawancara dengan keluarga pasien,
observasi keadaan pasien, dan dari
catatan rekam medik pasien. Di dalam
pengkajian penulis mendapatkan data
subjektif (s)
adalah pasien
mengatakan sesak nafas, sudah
sepuluh hari sulit BAB, nafsu makn
berkurang karena mual dan muntah,
perutnya terasa penuh dan kedua
kakinya membengkak. Data objektif (o)
adalah pasien tampak pucat, lemas,

perut tampak asites,sklera mata ikterik,


TD: 110/80 mmHg, Nadi: 94 x/menit,
Respirasi: 28 kali/menit, Suhu: 37,10 C,
hasil laboratorium SGOT 73 u/L, SGPT
39 u/L, kreatinin 0,73 mg/dL, albumin
1,99 g/dL, kalium 2,8 mmol/L, Hb 10,3
g/dL, GDS 103 mg/dL, Hematokrit 39,
hasil pemeriksaan diagnostik, EKG :
normal sinus rhitym, rontgen thorax :
Cor tak membesar, Pulmo tampak
memadat,
hasil
USG
:
Hepatosplenomegali tampak asites,
balance cairan 500cc.
AO. Selama
melakukan
pengkajian penulis mengalami hambatan.
Data yang dibutuhkan seperti, pemantauan
nutrisi
pasien,
pemeriksaan
skala
norton,balance cairan tidak terkaji secara
lengkap karena kurang ketelitiannya penulis
dalam melakukan pengkajian. Penulis
melakukan pengkajian pada pasien dan
keluarga dengan anamnesa atau wawancara
dan pemeriksaan fisik. Mereka tampak
kooperatif sehingga penulis mendapatkan
kekuatan dan kemudahan dalam melakukan
pengkajian.
AP.
AQ. Diagnosa keperawatan, Intervensi,
Implementasi dan Evaluasi
AR. Diagnosa
keperawatan
adalah keputusan klinis terhadap individu,
keluarga komunitas yang merupakan respon
terhadap masalah kesehatan atau proses.
AS.
Intervensi
keperawatan
meliputi penentuan prioritas masalah, tujuan,
kriteria hasil, rasional dari tindakan untuk
masing-masing diagnosa. Intervensi adalah
diskripsi untuk perilaku spesifik yang
diharapkan dan atau tindakan yang harus
dilakukan oleh perawat (Doengoes,2008:10).
Intervensi dilakukan selama 3 kali 24 jam
karena dalam waktu itu diperkirakan cukup
untuk mengatasi masalah yang timbul,
dengan pertimbangan bahwa keadaan
pasien sudah memungkinkan untuk
membaik. Pada bab ini akan dibahas
mengenai tujuan, kriteria hasil dan intervensi
yang telah dirumuskan dalam kasus Tn. S.
AT.
Implementasi merupakan
tahap keempat dari proses keperawataan

JKm-U, Vol. VI, No. 16, 2014:1-12

dimana rencana keperawatan dilaksanakan


dan melaksanakan intervensi atau aktifitas
yang telah ditentukan (Doengoes,2008:15).
Pembahasan implementasi ini meliputi
rencana tindakan yang dapat dilakukan dan
tindakan yang tidak dapat dilakukan sesuai
dengan intervensi pada masing-masing
diagnosa.
AU.
Evaluasi merupakan tahap
akhir dari proses keperawatan yang continue
yang penting untuk menjamin kualitas dan
ketepatan perawatan yang diberikan,
dilakukan dengan meninjau respon untuk
menentukan
keefektifan
rencana
keperawatan dalam memenuhi kesehatan
pasien (Doengoes,2008 : 19).
AV. Data-data yang penulis
dapatkan kurang lengkap dan penulis
menyadari
tidak
melakukan
pendokumentasian.
Namun
masalah
keperawatan yang terjadi terdapat beberapa
kesenjangan yang perlu dibahas lebih dalam
bab ini.
AW.
Diagnosa yang
penulis tegakkan sesuai dengan
prioritas
AX. Dari hasil pengkajian yang telah
penulis lakukan pada Tn. S,
seharusnya
penulis
dapat
menegakkan 5 diagnosa yaitu :
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan
dengan penurunan ekspansi paru
b. Kelemahan
otot
abdomen(ascietes/penurunan
bising
usus) berhubungan dengan konstipasi
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat
d. Kelebihan volume cairan berhubungan
dengan gangguan mekanisme regulasi
e. Resiko kerusakan integritas kulit
berhubungan
dengan perubahan
metabolik, imobilitas, penurunan turgor
kulit
AY.
Tetapi karena kurangnya
ketelitian dalam melakukan pengkajian,
keterbatasan
waktu
dan
pengetahuan,sehingga
penulis
tidak
menegakkan diagnosa kerusakan integritas
kulit, padahal terdapat data yang mendukung

untuk ditegakkannya diagnosa tersebut.


Resiko kerusakan integritas kulit adalah
perubahan
epidermis
dan
dermis
(Wilkinson,2012:704).Resiko
kerusakan
integritas kulit adalah kondisi ketika individu
mengalami atau beresiko mengalami
kerusakan jaringan epidermis dan dermis
(Carpenito, 2009:822).
AZ.
Faktor resiko kerusakan
integritas kulit adalah kelembaban, zat kimia,
ekskresi/sekresi, hipertermi, hipotermi,
pengobatan (Taylor, 2012: 145).
BA.
Diagnosa resiko kerusakan
integritas kulit ini dapat ditegakkan apabila
didukung data sebagai berikut kerusakan
pada lapisan kulit (dermis), invasi struktur
tubuh, kerusakan pada permukaan kulit
(epidermis), perubahan pigmentasi, kulit
yang terkelupas, eritema, pruritus, lesi
(Carpenito, 2009: 822).
BB.
Alasan
penulis
tidak
menegakkan diagnosa resiko kerusakan
integritas kulit karena penulis kurang teliti
dalam melakukan pengkajian, kurang paham
dalam menegakkan diagnosa yang
seharusnya ditegakkan pada Tn. S.
BC.
Diagnosa
resiko
kerusakan integritas kulit ini seharusnya
penulis tegakkan karena didukung data
terdapat edema di kedua kaki, tetapi
elastisitas kulit baik.
BD.
Seharusnya
penulis
menegakkan diagnosa resiko kerusakan
integritas kulit karena jika masalah ini tidak
diatasi bisa menimbulkan iritasi, bisa juga
menyebabkan pruritus (Taylor,2012:146).
BE. Diagnosa yang penulis tegakkan
sesuai prioritas adalah:
a. Pola nafas tidak efektif adalah kondisi
ketika individu mengalami penurunan
ventilasi yang adekuat, aktual atau
potensial, karena perubahan pola nafas
(Carpenito, 2009: 892).Pola nafas tidak
efektif ialah inspirasi dan atau ekspirasi
yang tidak memberi ventilasi yang
adekuat (Wilkinson, 2007: 53). Kondisi
dimana
pasien
tidak
dapat
mempertahankan pola inhalasi dan
ekhalasi karena adanya gangguan fungsi
paru (Tarwoto, 2011: 41).

Gambaran Pelaksanaan .....................................................

BF. Diagnosa pola nafas tidak


efektif ini dapat ditegakkan apabila
ditemukan data antara lain yaitu : napas
pendek, dispnea, perubahan gerakan
dada, mengambil posisi tiga titik,napas
cuping hidung, kecepatan respirasi
(Wilkinson, 2006: 54).
BG. Masalah ini muncul pada
Tn. S dengan data pendukung gejala
yang muncul berupa ascites ditandai
dengan perut tampak membesar, edema
di kedua kaki, Hematokrit L 37, Hb L
10.3 g/dl, respirasi rate : 28 x/menit,
pasien tampak menggunakan O2 kanul 3
liter/menit, hasil rontgen thoraks pulmo
tampak memadat.
BH. Penulis
prioritaskan
masalah pola nafas tidak efektif sebagai
diagnosa yang pertama, karena
merupakan salah satu jenis kebutuhan
dasar manusia dalam tingkatan pertama
menurut Hirarki maslow yaitu kebutuhan
fisiologis(Tarwoto, 2004 : 5).
BI. Rencana tindakan disusun
untuk mengatasi masalah pola nafas
tidak efektif. Diharapkan pola nafas
efektif setelah dilakukan tindakan
keperawatan 3x24 jam, dengan kriteria
hasil : menyebutkan intervensi yang
efektif yaitu menunjukkan status
pernafasan yang tidak terganggu, pasien
tampak bernafas dengan normal,
respirasi rate dalam batas normal (20
x/menit), pasien dapat bernafas normal,
tanpa bantuan kanul O2. Rencana
tindakan yang penulis susun adalah
sebagai berikut : observasi keluhan
umum dan TTV (Tanda-Tanda Vital),
yang bertujuan untuk menentukan
intervensi yang tepat. Berikan posisi semi
fowler, bertujuan untuk memudahkan
pasien bernafasdengan menurunkan
tekanan
pada
diafragma
dan
meminimalkan ukuran aspirasi sekret.
Ajarkan tekhnik nafas dalam, bertujuan
untuk relaksasi pasien. Berikan O2 sesuai
indikasi, bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan oksigen pasien agar adekuat.
Kolaborasi pemberian terapi, bertujuan

untuk membantu penyembuhan pasien


sesuai indikasi.
BJ. Tindakan yang penulis
lakukan mulai tanggal 11 April 2013
sampai dengan 13 April 2013, tindakan
yang dilakukan sesuai dengan intervensi
yang penulis susun.
BK. Evaluasi dilakukan pada
tanggal 13 april 2013 pukul 15.00 WIB
dengan hasil : S (subyective) : Tn. S
mengatakan sesak nafas berkurang, O
(obyective) : Respirasi rate : 24 kali /
menit, pasien nampak terpasang kanul
O2 3 liter / menit, pasien tampak lebih
nyaman dalam pada posisi semi fowler, A
(assesment) : Masalah belum teratasi,
karena keterbatasan waktu dan
kurangnya koordinasi antar penulis
dengan teman sejawat sehingga masalah
pola nafas tidak efektif ini belum bisa
teratasi sepenuhnya. P (planning) :
Intervensi dalam pemberian O2 sesuai
indikasi dilanjutkan.
BL. Dalam
melakukan
tindakan keperawatan pola nafas tidak
efektif penulis menemukan kekuatan
adalah keluarga dan klien kooperatif dan
mentaati apa yang dianjurkan petugas
kesehatan, serta keinginan untuk
sembuh klien yang tinggi.
b. Konstipasi
berhubungan
dengan
kelemahan otot abdomen (penurunan
bising usus)
BM. Konstipasi
ialah
penurunan frekwensi defikasi yang
normal pada seseorang, disertai dengan
kesulitan keluarnya feses yang tidak
lengkap atau keluarnya feses yang
samgat keras dan kering (Wilkinson,
2006: 84). Kondisi ketika individu
mengalami atau berisiko mengalami
keadaan stasis pada usus besar yang
mengakibatkannya jarang buang air
besar (dua kali atau kurang dalam
seminggu) dan atau feses keras, kering
(Tarwoto, 2011: 57).
BN. Tanda dan gejala yang
mendukung diagnosa konstipasi adalah
feses berbentuk keras dan defekasi yang
terjadi kurang dari dua kali setiap

JKm-U, Vol. VI, No. 16, 2014:1-12

minggu, defekasi lama dan sulit,


penurunan bising usus, melaporkan
perasaan adanya tekanan didalam
rektum (Carpenito, 2009 : 280).
BO. Masalah konstipasi penulis
tegakkan pada Tn. S karena didukung
dengan data pasien mengatakan sudah
10 hari sulit BAB, feses keras dan keluar
hanya sedikit, sedangkan data obyektif,
perut pasien tampak asites, bising usus 3
kali/menit, pasien tampak bedrest jarang
aktivitas.
BP.
Penulis menetapkan
diagnosa tersebut menjadi diagnosa
yang
kedua
karena
merupakan
kebutuhan dasar manusia pada urutan
keempat Hirarki Maslow yaitu kebutuhan
eliminasi (Tarwoto, 2004 : 5).
BQ.Tujuan
:
diharapkan
konstipasi teratasi setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24
jam, dengan kriteria hasil : pasien akan
melaporkan defekasi sedikitnya 23
x/hari, dengan indikator BAB lancar,
bising usus kembali normal (5-35
x/menit),
tidak
ada
distensi
abdomen.Rencana tindakan yang
penulis susun adalah sebagai berikut :
kaji tanda-tanda konstipasi, mengetahui
adanya distensi abdomen. Kaji
frekuensi BAB pasien, dengan tujuan
mengetahui frekuensi BAB pasien.
Motivasi
pasien
mengkonsumsi
makanan tinggi serat, dengan tujuan
untuk membantu melancarkan BAB.
Monitor bising usus, dengan tujuan
mengetahui adanya peningkatan atau
penurunan bising usus pasien.
Kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian pelunak feses (laxatif,
suppositoria, enema), memudahkan
pengeluaran feses dengan terapi
farmakologi.
BR.Tindakan yang sudah
penulis lakukan mulai tanggal 11 April
2013 sampai dengan 13 April 2013.
Tindakan yang dilakukan sesuai
dengan intervensi yang penulis susun,
semua tindakan dapat dilakukan

penulis sesuai rencana yang telah


dibuat.
BS.
Evaluasi
dilakukan
padatanggal 13 April 2013 pukul 15.30
WIB dengan hasil : S (subyective) :
Pasien mengatakan sudah bisa BAB 1
kali / hari, BAB banyak, lembek, BAK
lancar, O (obyective): Perut tidak teraba
keras, bising usus 8 kali / menit,
A(assesment) : Masalah teratasi, P
(planning) : Intervensi dihentikan.
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan mual-muntah,
anoreksia.
BT. Gangguan nutrisi adalah
keadaan dimana individu mengalami
penurunan berat badan karena
masukan tak adekuat sehingga
metabolisme tidak adekuat untuk
kebutuhan metabolik (Carpenito, 200 :
259).
Anoreksia adalah penyakit
kelaparan berupa gangguan citra diri
berat dan penurunan nafsu makan
(Doengoes, 2008 : 423).
BU.Faktor yang berhubungan
adalah penurunan masukan oral, mual,
muntah, ketidak nyamanan mulut
(Wilkinson, 2006 : 504). Batasan
karakteristik
mayor : masukan
makanan tidak adekuat, minor :
penurunan
berat
badan
10%
(Capernito, 2009: 710).Data pendukung
untuk menegakkan diagnosa tersebut
adalah Tn. S mengatakan nafsu makan
menurun, terkadang merasa mual dan
ingin muntah, makan hanya habis 1/4
porsi.
Data
tersebut
dapat
memunculkan masalah nutrisi kurang
dari kebutuhan.
BV. Diagnosa ini ditegakkan
menjadi prioritas ketiga karena
memerlukan asuhan keperawatan yang
tepat,jika tidak segera ditangani maka
pasien akan kurang kebutuhan nutrisi,
penurunan berat badan dan terjadi
kelemahan
otot
sehingga
memperlambat
penyembuhan
( Doengoes, 2008 : 203).
BW.
Tujuan : setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24

Gambaran Pelaksanaan .....................................................

jam diharapkan masalah nutrisi kurang


dari kebutuhan dapat teratasi dengan
kriteria hasil : pasien makan habis satu
porsi, mual dan muntah teratasi.
Rencana tindakan yang penulis susun
adalah sebagai berikut : diskusikan
nutrisi yang penting bagi klien,
bertujuan untuk nutrisi yang baik
mempercepat penyembuhan. Anjurkan
keluarga memberikan makanan sedikit
tapi sering mencegah mual, muntah
dan kebosanan. Batasi cairan sebelum
dan sesudah makan 1 jam, bertujuan
untuk cairan dapat menurunkan nafsu
makan. Pertahankan oral hygiene,
mulut yang bersih dapat meningkatkan
nafsu makan. Kolaborasi dengan ahli
gizi dalam pemberian diit, untuk
mengetahui tingkat kebutuhan nutrisi
sesuai dengan terapi dan indikasi.
Kolaborasi dalam pemberian terapi,
bertujuan mencegah mual dan muntah.
BX.Tindakan
keperawatan
dilakukan sesuai dengan rencana
keperawatan yang disusun. Adapun
rencana keperawatan yang belum
penulis lakukan adalah membatasi
cairan 1 jam sebelum dan sesudah
makan.Rencana tersebut belum penulis
lakukan karena keterbatasan waktu,
penulis kurang teliti dan memahami
keadaan pasien.
BY. Evaluasi dilakukan pada
tanggal 13 April 2013 pukul 15.00 WIB
dengan hasil : S (subyective) : Pasien
mengatakan sudah tidak mual dan
muntah, keluarga mengatakan pasien
makan habis porsi dan snack, O
(obyektif) : makan habis porsi dan
snak habis, mukosa bibir lembab, A
(assesment):
masalah
teratasi
sebagian,karena
penulis
kurang
memahami keadaan pasien dan karena
keterbatasan waktu sehingga penulis
tidak melakukan salah satu rencana
tindakan yang penulis susun yaitu,
membartasi cairan sesudah dan
sebelum makan (1 jam),P (planning) :
Intervensi dilanjutkan, anjurkan makan

10

sedikit tapi sering, batasi cairan


sebelum dan sesudah makan (1 jam).
BZ.Dalam melakukan asuhan
keperawatan
pemenuhan
nutrisi,
penulis menemukan kekuatan yaitu
terjalin hubungan kerjasama antar tim
medis, pasien dan keluarga dalam
melakukan program terapi terhadap
pasien.
d. Kelebihan volume cairan berhubungan
dengan gangguan mekanisme regulasi.
CA.
Kelebihan cairan adalah
ketidakseimbangan volume cairan :
kondisi ketika individu mengalami atau
berisiko
mengalami
penurunan,
peningkatan atau perpindahan cairan
yang cepat dari satu ruang
intravaskular ke ruang intravaskular
lain, ruang intertisial dan atau ruang
intraseluler (Capernito, 2009 : 471).
Kondisi dimana terjadi peningkatan
retensi dan edema (Tarwoto, 2011: 68).
CB.
Tanda
gejala
yang mendukung diagnosa kelebihan
cairan adalah gangguan mekanisme
regulasi, kelebihan natrium atau
masukan cairan, edema, anasarka,
peningkatan berat badan. (Doengoes,
2008 : 548).Data yang ditemui pada
Tn. S adalah perut tampak asites,
terdapat edema di kedua kaki.
CC.
Diagnosa
tersebut ditetapkan pada urutan
keempat karena termasuk kebutuhan
dasar manusia urutan ke dua yaitu
kebutuhan
cairan
dan
elektrolitmenurut Hirarki Maslow
(Tarwoto, 2004 : 5).
CD.
Tujuan:
diharapkan kelebihan cairan teratasi
setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan 3x24 jam, dengan
kriteria hasil : tidak terdapat perluasan
edema, volume cairan stabil.
Rencana tindakan yang penulis
susun adalah sebagai berikut : ukur
masukan dan haluaran cairan,
disusun untuk mengetahui status
volume sirkulasi. Kaji derajat perifer
atau edema dependen, disusun untuk

JKm-U, Vol. VI, No. 16, 2014:1-12

mengetahui perpindahan cairan pada


jaringan sebagai akibat retensi
natrium dan air, penurunan albumin.
Pantau tekanan darah setiap 3 jam,
bertujuan untuk mengetahui tekanan
darah dapat meningkat berhubungan
dengan adanya kelebihan cairan.
Batasi natrium dan air, tujuannya
meminimalkan
retensi
cairan.
kolaborasi pemberian albumin bebas
garam atau plasma ekpander sesuai
indikasi, disusun untuk meningkatkan
tekanan osmotik koloid dalam
kompartemen vaskuler (pengumpulan
cairan dalam area vaskuler),
sehingga meningkatkan volume
sirkulasi efektif dan penurunan
terjadinya asites.
CE.
Tindakan yang
penulis lakukan tanggal 11-13 April
2013 yaitu april 2013 pukul 15.00
WIB,tindakan keperawatan dilakukan
sesuai dengan rencana keperawatan
yang disusun.
Adapun rencana
keperawatan yang belum penulis
lakukan adalah mengukur balance
cairan pasien. Rencana tersebut
belum penulis lakukan karena penulis
kurang teliti dan memahami
pentingnya memantau balance cairan
pada pasien.
CF.
Evaluasi
dilakukan pada tanggal 13 April 2013
dengan hasil catatan perkembangan
adalah
Subyektif:pasien
masih
mengeluh perut terasa penuh,
Obyektif : perut tampak asites,
dikedua kaki tampak oedem, balance
cairan 500cc.Assesment : masalah
belum teratasi, karenakurangnya
komunikasi antara penulis dengan
perawat dan staf karyawan Rumah
Sakit sehingga penulis kurang
mendapatkan informasi yang sesuai
tentang Tn. S,penulis juga kurang
teliti dalam menghitung balance
cairankarena keterbatasan waktu,
penulis tidak dapat mengobservasi
selama 24 jam penuh karena input
dan output tidak terpantau setiap hari

dan juga kurangnya koordinasi antar


perawat, pasien dan keluarga.
CG.
Planning:
intervensi dilanjutkan. Ukur masukan
dan haluaran cairan, kaji derajat
perifer / edema dependen, dorong
untuk tirah baring bila ada asites,
kolaborasi pemberian albumin bebas
garam atau plasma ekpander sesuai
indikasi.
CH.
Dalam melakukan
asuhan keperawatan kelebihan
volume cairan penulis menemukan
kekuatan adalah tingginya motivasi
pasien untuk sembuh dan dukungan
keluarga yang besar, sehingga
penulis dapat melaksanakan asuhan
keperawatan
sesuai
dengan
intervensi yang telah penulis susun.
CI.
D. SIMPULAN
CJ.
CK.
Setelah penulis
menjabarkan berbagai hal yang
berhubungan dengan asuhan
keperawatan pada Tn. S dengan
sirosis hepatismulai tanggal 11 April
2013 sampai dengan tanggal 13
April 2013 di Ruang Mawar
1Rumah Sakit Umum Daerah
Karanganyar
maka
penulis
menyimpulkan :
1. Latar belakang yang menarik dari
Sirosis hepatis adalah penyakit kronis
hati yang dikarakteristikan oleh
gangguan struktur dan perubahan
degenerasi, gangguan fungsi seluler
dan selanjutnya aliran darah ke hati.
2. Pengkajian dilaksanakan pada tanggal
1113 April 2013 dari pengkajian
tersebut didapatkan data subjektif Tn.
S mengatakan sesak nafas, sulit BAB
kurang lebih 10 hari, tidak nafsu
makan, dan perut terasa penuh. Dan
data obyektif didapat respirasi rate : 28
x/menit, nafas tampak cepat dan
dangkal abdomen teraba keras, diit dari
RS hanya habis 1/4 porsi, terdapat
edema di kedua kaki, perut tampak
asites.

Gambaran Pelaksanaan .....................................................

3. Diagnosa yang penulis tegakkan


adalah pola nafas tidak efektif
berhubungan
dengan
gangguan
ekspansi paru, konstipasi berhubungan
dengan kelemahan otot abdomen,
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan
berhubungan dengan mual, muntah,
anoreksia, kelebihan volume cairan
berhubungan
dengan
gangguan
mekanisme regulasi.
4. Rencana tindakan yang disusun untuk
masalah pola nafas tidak efektif
berhubungan
dengan
gangguan
ekspansi paru, observasi keadaan
umum pasien, observasi tandatanda
vital pasien, atur posisi semi fowler,
monitor masukan jumlah oksigen, beri
oksigen tambahan melalui kanul sesuai
program.Rencana
tindakan
yang
disusun untuk masalah konstipasi
berhubungan dengan kelemahan otot
abdomen, mengkaji pola eliminasi
pasien, menganjurkan pasien untuk
mengurangi minuman yang manis dan
pedas,
menganjurkan
makanamakanan yang mengandung tinggi
serat, memberikan terapi laksatif sesuai
program.Rencana
tindakan
yang
disusun untuk mengatasi masalah
nutrisi kurang dari kebutuhan, mengkaji
status nutrisi pasien, mengkaji pola
makan pasien, memberikan makanan
dalam keadaan hangat, menganjurkan
makan sedikit tapi sering, kolaborasi
dengan ahli gizi untuk pemberian diit
sesuai indikasi. Rencana tindakan yang
disusun untuk mengatasi masalah
kelebihan cairan, ukur masukan dan
haluaran
cairan,
kaji
derajat
perifer/edema dependen, dorong untuk
tirah baring bila ada asites, kolaborasi
pemberian albumin bebas garam atau
plasma ekpander sesuai indikasi.
5. Implementasi sesuai dengan rencana
tindakan dengan modifikasi yakni
memberikan diit sesuai indikasi,
memberikan
terapi
kolaborasi
pemberian laksatif, albumin dan
oksigen kanul karena hal tersebut
sudah
diprogram
oleh
dokter

12

penanggung jawab dan perawat tinggal


melaksanakan program tersebut.
Rencana tindakan yang tidak dilakukan
antara lain menimbang berat badan
setiap hari, menghitung balance cairan
secara tepat, membatasi cairan 1 jam
sebelum dan sesudah makan.
6. Evaluasi semua masalah keperawatan
yang ditegakkan teratasi sebagian
karena asuhan keperawatan yang
penulis lakukan sesuai dengan batas
minimal waktu yang ditentukan, tidak
sampai dengan paripurna (pulang).
Batas waktu minimal penulis pakai
karena penulis masih menyelesaikan
beberapa target kompetensi yang lain.
7. Dalam
pendokumentasian
ada
beberapa
hal
yang
tidak
terdokumentasi yakni pengkajian,
keseimbangan cairan pasien, tingkat
pengetahuan,
serta
kurangnya
ketelitian penulis dalam menegakkan
diagnosa pada Tn. Syaitu risiko
kerusakan integritas kulit.
CL.
CM. Daftar Pustaka
CN.
Asmadi. 2009. Teknik Prosedural
Keperawatan:
Konsep
dan
Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien.
Edisi ke-1. Jakarta : Salemba
Medika.
CO.
CP.
Brunner dan Suddart. 2003. Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah
ed. 8 vol 2. Jakarta : EGC.
CQ.
CR.
Carpenito, L. J. 2007. Buku Saku
Diagnosa Keperawatan Edisi 10.
Jakarta : EGC.
CS.
CT.
Doenges, Moorhouse, Mur. 2008.
Nursing
Diagnosis
Manual
Planning Individualizing and
Documenting Client Care. Edisi
ke-3.
Philadelphia,
Davis
Company.
CU.
Handayaningsih,
Isti.
2007.
Dokumentasi
Keperawatan
DAR: Panduan, Konsep dan

JKm-U, Vol. VI, No. 16, 2014:1-12

Aplikasi. Edisi ke-1. Yogyakarta :


Mitra Cendekia.

DE.

Wilkinson, Judith, M.. 2007. Buku


Saku Diagnosis Keperawatan
dengan Intervensi Nic dan Kriteria
Hasil Noc.Jakarta : EGC.
Anonymoushttp://alcoholism.about.
com/library/blcirrosis.htm Diakses
tanggal 18 Mei 2013 Jam 19.30
WIB

CV.
CW.

Nugroho, Taufan. 2011. Asuhan


Keperawatan: Maternitas, Anak,
Bedah, Penyakit Dalam. Edisi ke1. Yogyakarta : Nuha Medika.

DF.

CX.
CY.

Tambunan, Eviana S. & Deswani


Kasim.
2012.
Panduan
Pemeriksaan
Fisik
Bagi
Mahasiswa
Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.

DG.
DH.

CZ.
DA.

DI.
Tarwoto dan Wartonah. 2011.
Kebutuhan Dasar Manusia dan
Proses Keperawatan, Edisi 4.
Jakarta : Salemba Medika

DB.
DC.

W. Sudoyo, Aru, dkk. 2006. Buku


Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III.
Edisi IV. Jakarta : EGC.
DD.

http://yuudi.blogspot.com/2012/12/is
tilah-untuk-suara-nafas.html
Diakses tanggal 10 Mei 2013 Jam
12.30 WIB

DJ.

http://aghus.blogspot.com/2010/12/
anatomi-fisiologi-hepar-hatml
Diakses tanggal 01 Mei 2013 Jam
20.30 WIB
DK.

DL.

www.library.upnvj.ac.id/pdf/3keper
awatanpdf/.../bab1.pdf
Diakses
tanggal 30 April 2013 Jam 19.00
WIB

Gambaran Pelaksanaan .....................................................

DM.
DN.