Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Cryptogamae ke-, kelompok 5

JAMUR PILOBOLUS (JAMUR PADA KOTORAN KUDA)


Siti Sawitri Fatimah1, Rizal Maulana Hasby2, Devra Aditya3
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN SGD
Email: Sawitrifatimah@gmail.com
ABSTRACT
Praktikum Pilobolus (Jamur Kotoran Kuda) ini dilakukan di Laboratorium UIN SGD
Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati spora yang dihasilkan dari jamur
Pilobolus (Jamur Kotoran Kuda). Pengambilan sample dilakukan pada bulan November 2015
yang bertempat diperternakan Kuda Kiara Condong. Identifikasi jamur Pilobolus ini
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10x25. Hasil identifikasi ini menunjukkan
bahwa Sporangium dari Pilobolus berbentuk seperti balon bertangkai yang diujungnya
terdapat spora berwarna hitam. Terdapat lapisan kristal kalsium oksalat melingkupi
sporangium, mempunyai tangkai yang besar, dan water doplet yang sedikit. Bentuk
sporangiosfor dari pilobolus ini adalah bulat besar, dan terlihat seperti ada benang-benang
halus. Pilobolus ini bereproduksi dengan spora (sporangiospora).

Kata kunci: Pilobolus sp


I.

PENDAHULUAN
Jamur

satu ini tergolong dalam kelompok

Pilobolus

adalah

Zygomycota dan berkembang biak

cendawan koprofil yang tergolong

dengan spora (sporangiospora). Untuk

dalam Ascomycota. Pilobolus disebut

membantu

cendawan koprofil karena dapat hidup

menyebar,

di kotoran hewan dan dapat bertindak

menggunakan

sebagai cendawan saprob. Keunikan

menembakannya

dari

(Melnick, 1996).

cendawan

menembakkan

ini

adalah

sporanya

dapat

sehingga

terkadang Pilobolus disebut Shot-gun


Fungi. Pilobolus menunjukkan adanya
mekanisme

fototropisme

dimana

sporangiumnya menembakkan spora


ke arah datangnya cahaya. Fungi yang

spora-spora
maka

tersebut
Pilobolus

senapan
sejauh

untuk
mungkin

Pilobolus bereproduksi dengan


menembakkan

sporanya

yang

berwarna hitam ke tumbuhan semacam


rumput. Setelah itu, hewan herbivora
akan

memakan

rumput,

spora

Pilobolus juga akan terbawa. Selama

berada di dalam saluran pencernaan

terjadi pada siang hari (Odum, E.P.

hewan

1971).

herbivora,

bergerminasi

spora

akan

sebagai

bentuk

pertahanan terhadap suhu dan bahan


kimia

dalam

saluran

pencernaan

II.

METODE PENELITIAN

2.1 Alat Dan Bahan

herbivora. Setelah proses pencernaan


berakhir, spora Pilobolus juga akan
ikut keluar bersama feses. Di luar
tubuh,

spora

Pilobolus

akan

berkecambah membentuk miselium,


feses hewan akan menjadi sumber
nutrisi bagi spora tersebut. Spora yang
berkecambah

akan

berkembang

membentuk struktur reproduksi yang


memiliki

spora.

ditembakkan

Spora

kembali

ini
ke

akan

rumput.

Siklus ini akan terus berlanjut selama


ada hewan herbivora yang memakan
rumput dan menjadi inang selanjutnya
(Becker, 1994).
Cahaya

Alat dan bahan yang digunakan


dalam

penelitian

ini

adalah:wadah

plastik, botol jam, sendok bekas, kaca


objek, kaca penutup, jarum pentul,
mikroskop, sampel kotoran kuda, karet,
kertas karbon, cutter dan air.
2.2 Sampling Mikroalga
Dilakukan pengambilan sampel
kotoran kuda pada bulan November 2015
Sampel dibawa ke laboratorium biologi
UIN SGD Bandung. Dibuat kultur jamur
dengan cara masukkan kotoran kuda
dalam botol jam dengan menggunakan
sendok bekas kira-kira setengah bagian
botol dengan dibuat pada posisi miring.

matahari

sangat

Setelah itu, basahi kultur dengan air agar

mempengaruhi pertumbuhan Pilobolus.

lembab,

Di

sporangiofor

seluruhnya dengan kertas karbon, ikat

merupakan daerah yang peka terhadap

dengan karet, lubangi kertas karbon agar

cahaya (Fototropisme dan fototaksis).

udara dapat masuk, dan biarkan kultur 3-

Tangkai tersebut akan tumbuh ke arah

cahaya matahari. Ketika jamur telah

pertumbuhan sporanya.

matang, maka tekanan air di dalam

2.3 Pembuatan Preparat

bawah

tangkai

ujung

menyebar

sampai

hari.

lalu

Lalu,

tutup

botol

amati

tersebut

setiap

hari

dengan

Dilakukan pembuatan preparat

ujung tangkai dan menyebabkan ujung

dari hasil kultur jamur yang telah

tangkai meledak. Saat itulah terjadi

dilakukan yaitu dengan mencukil jamur

penyebaran spora dengan penembakan

dengan menggunakan jarum preparat,

spora ke udara. Peristiwa ini umumnya

letakkan jamur pada kaca preparat yang

telah ditetesi air, tutup dengan objek

akan terus dilakukan oleh jamur pilobolus

glass

dibawah

ini, selama cahaya masih di berikan, dan

mikroskop dengan perbesaran untuk

selama spora pada jamur ini masih ada.

mengidentifikasi

Proses penembakan spora ini terjadi

dan

amati

jamur

bentuk

sporangium,

sporangiosfor dan hifanya.


III.

karena jamur telah matang, Kemudian

HASIL PENGAMATAN

tekanan air dalam tangkai menyebar ke

Medium jamur
Pilobolus sp

ujung, dan akhirnya meledak.


Gambar hasil

Gambar literatur

pengamatan jamur

jamur Pilobolus

Pilobolus

Selama 1 minggu
pengamatan yang telah

Dari

dilakukan, sesuai dengan gambar diatas,


diketahui bahwa spora yang di tembakkan
oleh jamur pillobolus ini mulai terlihat
ketika

hari

ke-tiga

setelah

proses

pembungkusan. Spora yang terlihat berupa


seperti percikan putih tepatnya seperti
kapur putih yang bubuk. Pada hari
selanjutnya yaitu hari ke-empat spora
mulai terlihat berupa bintik-bintik yang
lebih jelas dari pada hari ketiga. Hari yang
ke-lima spora yang ditembakkan jamur ini
terlihat

lebih

banyak

dan

mulai

menumpuk, hal ini dikarenakan jamur


pilobolus ini terus-terusan menembakan
sporanya.

Pada

hari

ke-enam

spora

semakin bertumpuk. Penembakan spora

10x25

(Wardah, 2013)

(Dokumentasi
pribadi, 2015)
Pada praktikum kali ini kami telah
melakukan pengamatan mengenai jamur
pilobolus dari kotoran kuda. Klasifikasi
jamur Pilobolus menurut Hariana (2005),
yaitu:.
Kingdom

: Fungi

Subfilum

: Mucormycotina

Ordo

: Mucorales

Family

: Pilobolaceae

Genus

: Pilobolus

Setelah mengamati pertumbuhan


jamur pilobolus ini diketahui bahwa
ternyata

Cahaya

matahari

sangat

mempengaruhi

pertumbuhan

Pilobolus.

dengan sniper yang ulung, karena spora-

Hal ini dilihat dari tembakan spora

nya dapat terbang melewati tubuh hewan

didalam botol menuju ke arah lubang yang

ternak dan dalam kecepatan yang demikian

sengaja kami buat. Hal ini sesuai dengan

fantastis.

pendapat (Gould, 2003) yang menyatakan


Menurut Adi Yudianto (1992),

bahwa penyebaran spora pada siang hari


akan memberi kesempatan yang lebih baik
untuk mendarat di tempat yang cerah di
mana

rumput

atau

tanaman

sudah

berkembang dan hewan-hewan ternak


seperti sapi akan merumput disana. Di
bawah ujung sporangiofor merupakan
daerah

yang

peka

terhadap

cahaya

(Fototropisme dan fototaksis). Tangkai


tersebut akan tumbuh ke arah cahaya
matahari. Ketika jamur telah matang, maka
tekanan air di dalam tangkai menyebar
sampai

dengan

ujung

tangkai

itulah terjadi penyebaran spora dengan


penembakan spora ke udara. Peristiwa ini
terjadi

pada

siang

pada tekanan turgor pada sporangium. Saat


tekanan

hari

(Moore,1980).
Menurut Hariana (2005), bahwa
spora-spora yag ditembakkan tersebut
terbang pada kecepatan 10,8 m per detik
dan pada ketinggian kurang lebih 2 m dari
permukaan tanah. Mereka dapat terbang
sejauh kurang lebih 2,5 m. Kecepatan
terbang spora tersebut merupakan yang
tercepat di alam. Percepatan terbang spora
Pilobolus dalam 1 mm pertama adalah 0
45 mph. Pilobolus dapat kita sejajarkan

turgor

telah

mencukupi,

sporangium akan menembakkan sporanya


ke arah datangnya cahaya. Jarak yang
ditempuh spora dapat lebih jauh dibanding
ukuran sporangiofor cendawan itu sendiri.
Peristiwa terlontarnya spora diatur oleh
regulasi

adenosin

monofosfat

siklik.

Regulasi ini terjadi bila terdapat glukosa


pada lingkungan

dan

menyebabkan ujung tangkai meledak. Saat

umumnya

Peristiwa terlontarnya spora bergantung

Jamur

pilobolus

identifikasi

tidak

(miselium),

karena

dari

mempunyai
saat

hasil
hifa

pembuatan

preparatnya kita tidak mengetahui posisi


dari pada miselium tersebut. Hal ini sesuai
dengan pendapat Marder (2004), yang
menyatakan bahwa jamur Pilobolus tidak
mempunyai hifa (miselium). Sporangium
dari Pilobolus berbentuk seperti balon
bertangkai yang diujungnya terdapat spora
berwarna hitam. Terdapat lapisan kristal
kalsium oksalat melingkupi sporangium
yang

berperan

dalam

mekanisme

pertahanan diri dan penempelan saat


berada

di

media

buatan.

Pilobolus

mempunyai tangkai yang besar, dan water

doplet yang sedikit. Bentuk sporangiosfor


dari pilobolus ini adalah bulat besar, dan
terlihat seperti ada benang-benang halus.
Spora
dinding

Pilobolus

ini

sel yang tebal

memiliki

sangat sulit

dicernakan, sehingga hewan ternakpun


tidak dapat mencernanya. Spora tersebut
akan melewati sistem pencernaan ternak
dan dikeluarkan dalam kotoran, di mana
mereka akan tumbuh. Pilobolus telah
mengembangkan

cara

jitu

mendistribusikan

spora-sporanya

untuk
ke

rerumputan. Senjata atau shotgun yang


dimiliki pilobolus merupakan semacam
tangkai (sporangiofor) yang membengkak

Adi
Yudianto,
Suroso.
1992.
Pengantar
Cryptogamae.
Bandung:
Tarsito.
Entjang, Indan. 2003. Mikrobiologi &
Parasitologi. PT.Citra Aditya bakti.
Bandung.
Gould, Dinah. 2003. Fungi (Jamur)
Penembak

Ulung.

Jakarta:

Kedokteran EGC.
Hariana,

A.

2005.

Perkembangannya.

Jamur

dan

Depok:

PT

Penebar Swadaya.
Marder, SS. 2004. Biology. 7 th.ed.boston.
MC Graw-Hill.companies.Inc.

di bagian ujungnya dengan bantalan massa

Melnick, Jawetz. 1996. Perkembangan

spora hitam (sporangium) pada bagian atas

Fungi. Penerbit Buku Kedokteran

(Mulyani, 2004).

EGC. Jakarta.

IV.

Moore RT. 1980. "Taxonomic proposals

KESIMPULAN
Dari

dilakukan

pengamatan
dapat

yang

disimpulkan

telah
bahw,

Pilobolus merupakan salah satu jamur

for the classification of marine


yeasts and other yeast-like fungi
including the smuts". 23: 36173.

ascomycota, yang habitatnya di kotoran

Botanica Marine The classification system

hewan herbivora. Pilobolus menunjukkan

presented here is based on the 2007

adanya mekanisme fototropisme dimana

phylogenetic study by Hibbett et all.

sporangiumnya menembakkan spora ke


arah datangnya cahaya (Shot-gun Fungi)
yang dimana pertumbuhan jamur ini
sangat dipengaruhi oleh sinar matahari.
DAFTAR PUSTAKA

Mulyani,S.2004.

Jamur

Pilobolus

si

Penembak Ulung . Erlangga.Jakarta.


Odum, E.P. 1971. Fundamentals
of Ecology. WB Saunders
Company.Phyladelphia.
Wardah,
Eva.
2013.
Laporan
Cryptogamae Jamur. [scribd.com].

[Diakses pada tanggal 2 Desember


2015].