Anda di halaman 1dari 10

1.

GELOMBANG ENERGI GEMPA


Sebelum terjadi gempa, pada daerah pusat gempa/fokus terjadi akumulasi
energi/tegangan yang besar sebagai akibat dari adanya kopel gaya. Oleh karena
itu, pada saat terjadinya gempa atau saat patah/pecahnya massa batuan, akan
terjadi pelepasan energi (released energy) yang sangat besar karena peristiwa
mekanik (desak, geser, tarik), yang kemudian ditransfer menjadi energi
gelombang. Kemudian dari pusat gempa/fokus, gelombang gempa akan merambat
ke segala arah yang salah satu arahnya adalah mencapai permukaan tanah.
Sebelum mencapai alat pencatat, gelombang gempa akan melewati bermacammacam kondisi lapisan tanah, sebagian gelombang akan dipantulkan, dibiaskan,
dan ada pula yang bergerak sepanjang permukaan tanah.
Gelombang bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dengan karakterkarakter pokok. Karakter-karakter yang dimaksud adalah jenis gelombang, arah
rambatan gelombang (wavepropagation), adanya kemungkinan perbedaan
intensitas gelombang pada arah yang berbeda (directivity), adanya kecepatan
gelombang dan adanya gerakan partikel (particel motion).
1.1 Intensitas Gempa, Isoseismal (Isoseismic Lines) dan Isoseismic
Attenuation
Intensitas gempa adalah derajat kerusakan bangunan, kerusakan muka tanah
dan reaksi orang-orang atas goncangan gempa untuk menentukan seberapa besar
gempa terjadi. Konsep intensitas gempa didasarkan atas kejadian langsung di
tempat kejadian. Pengukuran intensitas gempa dengan skala MMI didasarkan atas
data dari empat parameter pokok, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Perasaan orang-orang saat terjadi gempa


Respon suatu objek akibat goncangan gempa
Kerusakan bangunan di lapangan akibat gempa
Kerusakan lingkungan akibat kejadian gempa

Berdasarkan parameter tersebut, maka pada umumnya akan terdapat titiktitik yang mempunyai intensitas gempa yang sama/dekat. Senada dengan
pembuatan kontur, maka titik-titik yang mempunyai nilai intensitas gempa yang
sama kemudian dihubungkan dan akhirnya akan terbentuk garis kesamaan
intensitas (equal intensity) atau isoseismic lines.

Secara matematis, isoseismic attenuation atau atenuasi pergerakan tanah


adalah hubungan antara suatu parameter gempa (percepatan, kecepatan, intensitas
gempa, ukuran gempa) dengan jarak ke lokasi pencatat gempa (jarak episenter,
jarak hiposenter). Atenuasi intensitas gempa berbeda-beda antara daerah satu
dengan daerah yang lain, hal itu akibat dari pengaruh media tanah yang dilewati
oleh gelombang gempa. Menurut ilmu fisika bahwa kemampuan suatu material
untuk menyerap energi akan berbanding terbalik dengan panjang gelombang.
Oleh karena itu, gelombang frekuensi tinggi relatif mudah diserap energinya oleh
media yang dilalui oleh gelombang. Maka pada tanah keras, intensitas gempa
akan beratenuasi relatif lebih cepat (berkurang denga rate lebih besar) dibanding
dengan tanah lunak.
1.2 Magnitudo gempa
Magnitudo gempa merupakan bentuk kuantifikasi atas kejadian gempa agar
masyarakat dapat mengetahui/membayangkan besar kecilnya gempa. Terdapat
dua isrilah yaitu size/magitude dan strength suatu gempa. Size/magitude gempa
dihitung berdasarkan amplitude of earthquake wave ataupun properti dan dimensi
patahan (fault), sedangkan earthquake strength dihitung berdasarkan released
energy. Jenis instrumentasi pencatat gempa secara spesifik dikategorikan menjadi
dua kelompok keperluan, yaitu:
1. Seismologist : instrumen pencatat gempa yang diperlukan dalam rangka
keperluan seismologi yaitu untuk menentukan lokasi gempa, kedalaman
gempa, saat terjadinya dan mekanisme gempa.
2. Engineers
:instrumen pencatat gempa yang diperlukan untuk
mengetahui akibat dari gempa (percepatan tanah, dll), karakteristik
getaran tanah, hal-hal yang mempengaruhi dan akibatnya yang terjadi
pada bangunan.
Cara menentukan magnitudo gempa melalui:
1. Amplitudo rekaman gelombang
Adalah amplitudo gelombang yang diperoleh dari rekaman gempa
dalam bentuk akselerogram. Rekaman gelombang gempa terdiri atas:
a. dengan memakai Nomogram Richter
b. dengan memakai persamaan tertentu (closed-form formula)

2. Geometri patahan dan propertu batuan


Adalah bahwa magitudo gempa akan dipengaruhi oleh dimensi fisik
patahan meliputi panjang dan dislokasi patahan serta properti fisik
batuan.
2. REKAMAN GEMPA
Pada umumnya, pengertian gerakan tanah akibat gempa lebih banyak
ditujukan pada percepatan tanah, sekaligus menjadi parameter utama. Werner
(1976) mengatakan bahwa representasi terbaik atas gerakan tanah akibat gempa
adalah riwayat percepatan tanah (ground acceleration time history). Percepatan
tanah akibat gempa direkam secara lengkap menurut fungsi waktu, artinya
direkam selama terjadinya gerakan tanah. Rekaman gempa dapat diperoleh dari
hasil pengukuran alat pencatat gempa, yaitu:
1. Seismograph
Seismometer

adalah

alat

atau

sensor

getaran,

yang

biasanya

dipergunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada


permukaan tanah (kecepatan tanah). Hasil rekaman alat ini disebut
seismogram. Seismograph menggunakan dua klasifikasi yang berbeda
untuk mengukur gelombang seismik yang dihasilkan gempa, yaitu
besaran gempa (skala Richter) dan intensitas gempa (skala Mercalli).
2. Accelerograph
Accelerograph atau Strong Motion Seismograph adalah instrumen yang
digunakan untuk merekam guncangan permukaan tanah yang sangat
kuat yang mengukur percepatan permukaan tanah.

Pada saat menentukan letak episentrum, sekurang-kurangnya diperlukan


dua seismograph yang berbeda untuk gempa yang sama. Gambar 1 menunjukkan
contoh

rekaman

gempa yang

tercatat

pada
seismograph.

Jarak

awal
permulaan gelombang P dan awal mula gelombang S menunjukkan berapa detik
gelombang tersebut terpisah.

Gambar 1. Rekaman Gempa yang Tercatat pada Seismograph


Sumber: Rekayasa Gempa, Undip

Hasil ini dapat digunakan untuk memperkirakan jarak dari Seismograph ke


pusat gempa, dimana untuk menentukan jarak episentrum dan magnitudo gempa
dapat dilakukan dengan menggunakan grafik pada gambar 2.

Gambar 2. Grafik untuk Menentukan Jarak Episentrum dan Magnitudo Gempa


Sumber: Rekayasa Gempa, Undip

Prosedur untuk menentukan jarak episentrum dan magnitudo gempa adalah


sebagai berikut:
1. Mengukur jarak antara awal gelombang P dan gelombang S, dimana
dalam hal ini awal gelombang P dan S adalah terpisah 24 detik. Plot 24
detik ini pada grafik skala S-P, akan didapatkan jarak pusat gempa
adalah 215 kilometer (Gambar 2).
2. Ukur amplitudo maksimum dari gelombang gempa yang terekam pada
seismograph. Pada rekaman seismograph di dapat amplitudo maksimum
adalah 23 mm (Gambar 2).
3. Plot 23 mm ini pada grafik skala Amplitudo yang sudah tersedia
(Gambar 2).
4. Tarik garik lurus melalui dua yaitu titik 24 detik dan 23 mm, sehingga
memotong grafik skala Magnitudo dimana dengan membaca titik potong
titik pada grafik skala Magnitudo didapatkan besarnya magnitudo
gempa adalah M = 5 pada skala Richter.
2.1

Karakter Umum Rekaman Percepatan Tanah Akibat Gempa


Karakter yang dimaksud dikelompokkan dalam enam hal utama, yaitu:
1. Karakter yang didasarkan atas nilai-nilai maksimum (percepatan,
kecepatan, simpangan)
2. Karakter yang ditentukan berdasarkan durasi gempa (durasi total, durasi
3.
4.
5.
6.

efektif)
Karakter yang ditentukan berdasarkan respons spektrum
Karakter yang ditentukan berdasarkan kandungan frekuensi
Karakter yang ditentukan berdasarkan energi gempa
Karakter yang ditentukan berdasarkan daya-rusak

Gambar 3a dan 3b adalah suatu contoh rekaman percepatan tanah akibat


gempa. Secara umum, riwayat percepatan tersebut dapat dibagi menjadi 3-bagian
yaitu:
1. Tahap initial weak part
2. Tahap strong part
Tahap ini ada yang relatif singkat durasinya, namun juga ada yang relatif
panjang sebagaimana tampang pada gambar 3b. Durasi tahap strong

part ini diantaranya dipengaruhi oleh mekanisme kejadian gempa,


magnitudo gempa, jarak episenter dan orientasi site terhadap patahan.
3. Tahap final weak part

Gambar 3. Bagian-Bagian Penting Rekaman Gempa


Sumber: Widodo Pawirodikromo, 2012

Berdasarkan hasil penelitian para peneliti, bahwa rekaman gerakan tanah


akibat gempa diantaranya dipengaruhi oleh beberapa hal yang secara skematis,
adalah sebagai beriku:
1. Mekanisme kejadian gempa
Mekanisme yang dimaksud adalah cara gempa itu terjadi, apakah gempa
tersebut akibat aktivasi lempeng di daerah subduksi ataupun akibat
patahan (fault).
2. Magnitudo gempa
Semakin besar magnitudo gempa itu berarti bahwa energi yang dilepas
semakin besar, akibatnya getaran/gerakan tanah juga akan semakin besar.
3. Kedalaman gempa
Semain dalam pusat gempa, maka energi yang sampai di permukaan akan
semakin kecil karena energi telah merambat secara tiga dimensi atau
secara volume.
4. Kondisi geologi rambatan gelombang gempa
Gelombang energi gempa akan merambat dari fokus ke situs (site). Selama
merambat, gelombang energi gempa akan melalui berbagai macam kondisi
batuan atau bahkan patahan, kondisi batuan seperti itu akan beroengaruh
terhadap penyerapan energi gempa.
5. Jarak episenter
Jarak episenter ke situs juga berpengaruh terhadap rekaman gempa. Pada
jarak yang semakin jauh, maka energi gempa akan diserap oleh media
batuan untuk waktu yang semakin lama.
6. Kondisi tanah setempat (site effect)

Situs dimana alat perekam berada, dapat berada di atas tanah batu ataupun
tanah biasa. Selain itu, mungkin terdapat tanah endapan yang luas dan
tebal, hal ini akan berpengaruh terhadap amplifikasi percepatan tanah.
2.2

Kandungan Frekuensi Gempa


Kandungan frekuensi pada gempa bumi dinyatakan dalam rasio antara

percepatan tanah maksimum A dengan kecepatan maksimum V sehingga menjadi


istilah A/V rasio. Tiga kelompok A/V rasio dengan masing-masing 15 data gempa
per kelompok dipakai sebagai input/beban gempa, diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. A/V rasio tinggi apabila mempunyai A/V > 1,2 g/m/dt
2. A/V rasio menengah apabila 1,20 g/m/dt > A/V > 0,80 g/m/dt
3. A/V rasio rendah apabila A/V < 0,80 g/m/dt
Tso dkk (1992) menyatakan bahwa sebagaimana sifat rambatan gelombang
gempa, percepatan tanah beratenuasi (hubungannya dengan ukuran gempa dan
jarak episenter) lebih cepat dibanding percepatan tanah. Oleh karena itu, gempa
dengan frekuensi tinggi (dekat dengan episenter) cenderung mempunyai A/V
tinggi (V rendah) dan gempa dengan frekuensi rendah (jauh dari episenter)
cenderung mempunyai A/V rasio rendah (V masih relatif tinggi).
Gempa-gempa
mengakibatkan

dengan

kerusakan

kandungan
besar

pada

frekuensi

rendah

bangunan

bertingkat

cenderung
banyak

(fleksibel/frekuensi rendah). Hal tersebut terjadi karena gempa dengan frekuensi


relatif rendah membebani struktur yang mempunyai frekuensi yang rendah juga.
Kesamaan atau kedekatan frekuensi antara frekuensi beban dan frekuensi struktur
akan cenderung mengakibatkan resonansi yang akan mengakibatkan respon
struktur menjadi sangat besar.
2.3

Efek Jenis Tanah Terahadap Peak Ground Acceleration (PGA)


Kondisi atau jenis tanah telah berpengaruh terhadap percepatan tanah

akibatn gempa. Selain jenis, maka jarak situs/site terhadap sumber gempa juga
telah berpengaruh baik terhadap kandungan frekuensi, respon tanah, disipasi

energi dan durasi efektif getaran gempa, dimana hal ini dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Pada PGA yang tinggi, maka hal tersebut berasosiasi dengan gempa
jarak dekat yang mana batuan akan bergetar dengan kandungan
frekuensi tinggi, hanya tanah keraslah yang dapat bergetar dengan
frekuensi tinggi, oleh karenanya PGA tanah keras lebih besar daripada
tanah lunak. Konsekuensi yang lain adalah bahwa pada PGA yang
tinggi, respon tanah dapat mencapai inelastik sehingga redaman material
menjadi relatif tinggi. Akibat yang timbul adalah percepatan di
permukaan tanah tidak dapat menjadi sangat besar, sehingga amplifikasi
yang terjadi relatif kecil.
2. Pada PGA yang kecil, maka hal tersebut berasosiasi dengan gempa jarak
jauh atau memang gempa relatif kecil. Gempa jarak jauh cenderung
mempunyai kandungan frekuensi rendah, sedangkan tanah lunak juga
bergetar dengan frekuensi rendah, tanah keras tidak dapat bergetar
dengan frekuensi rendah. Oleh karena itu, pada kondisi tersebut
percepatan di tanah lunak lebih besar daripada percepatan di tanah keras.
Kebalikan dari kondisi sebaliknya, karena percepatan tanah relatif kecil
maka respon tanah masih bersifat elastil, akibatnya redaman material
tanah masih relatif kecil. Sebagai konsekuensinya adalah percepatan di
permukaan tanah relatif jauh lebih besar daripada percepatan di base
rock, sehingga amplifikasi menjadi relatif besar.
3. RESPON SPEKTRUM
Menurut

teori

dinamika

struktur,

salah

satu

cara

untuk

menghitung/menentukan simpangan, gaya-gaya dinamik pada struktur derajat


kebebasan banyak (Multi Degree of Freedom, MDOF) adalah dengan memakai
metode Respon Spektruk. Selain itu, respon spektrum juga dapat dimanfaatkan
untuk keperluan praktis yaitu untuk menentukan strenght demand dalam bentuk
gaya horizontal akibat gempa dengan cara pendekatan. Pendekatan yang

dimaksud adalah beban gempa yang awalnya merupakan beban dinamik


kemudian disederhanakan menjadi beban ekivalen statik.
Respon spektrum adalah suatu spektrum yang disajikan dalam bentuk
garfik/plot antara periode getar struktur T, lawan respon-respon maksimumnya
untuk suatu rasio redaman dan beban gempa tertentu sehingga suatu spektrum
maksimum suatu gempa tertentu kadang-kadang dinyatakan dalam fungsi:
SD(,T,,S)
SV(,T,,S)
SA(,T,,S)

Dimana :

= rasio redaman

= periode getar

= jenis tanah

= daktilitas struktur

Respon spektrum suatu struktur SDOF akan bergantung pada beban


gempa, rasio redaman, periode getar, daktilitas struktur dan jenis tanah setempat
dimana umumnya beban gempa, rasio redaman, daktilitas dan jenis tanah sudah
dijadikan suatu variabel kontrol sehingga grafik yang ada tinggal di plot antara
periode getar T lawan nilai simpangan, kecepatan atau percepatan maksimum.
3.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bentuk/Nilai Spektrum
Terdapat beberapa hal/faktor yang akan mempengaruhi bentuk/nilai
spektrum, diantaranya adalah:
1. Kandungan frekuensi
Kandungan frekuensi yang berbeda berarti bentuk spektrum akan
berbeda-beda untuk gempa yang berbeda, untuk gempa bumi dengan
kandungan

frekuensi

tinggi

maupun

rendah

akan

mempunyai

bentuk/nilai yang sangat berbeda dengan gempa yang mempunyai


kandungan frekuensi menengah.
2. Pengaruh rasio redaman
Semakin besar redaman struktur, maka respon struktur akan semakin
kecil.

3.2 Amplifikasi Spektrum Terhadap Gerakan Tanah


Gerakan tanah akibat gempa dapat berupa rekaman riwayat percepatan
tanah. Percepatan tanah tersebut dapat dilakukan integrasi sehingga diperoleh
riwayat kecepatan dan simpangan tanah akibat gempa. Apabila dipandang suatu
struktur SDOF sangat kaku sehingga seolah-olah menyatu dengan tanah, maka
apabila terjadi gempa, percepatan massa struktur akan sama dengan percepatan
tanah (prinsip rigid body motions). Apabila struktur SDOF mempunyai kekakuan
yang sangat kecil/sangat fleksibel, maka massa hampir tidak bergerak walaupun
tanah dasarnya bergerak karena gempa. Hal ini terjadi karena kekakuan struktur
demikian lemah sehingga tidak mampu mentransfer gaya/kekuatan yang
ditimbulkan oleh gerakan tanah untuk menggerakkan massa. Pada kondisi seperti
ini, maka simpangan massa hampir sama atau sama dengan simpangan tanah
akibat gempa. Dua kondisi ini akan menjadi karakter penting pada respon
spektrum.
Kondisi yang terjadi pada struktur yang sangat kaku yaitu percepatan
massa sama dengan percepatan tanah pada umumnya disebut equal acceleration.
Kondisi yang kedua yaitu simpangan massa sama dengan simpangan tanah
umumnya disebut equal displacement. Umumnya, respon massa akan lebih besar
daripada percepatan di tanah keras (base rock). Rasio antara respon massa
(percepatan, kecepatan dan simpangan) terhadap gerakan tanah keras (base rock)
juga disebut dengan amplifikasi, yaitu amplifikasi spektrum.