Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat
kesejahteraan masyarakat (Anggraeni, 2010). Salah satu masalah kesehatan utama di
berbagai negara berkembang adalah malnutrisi (kekurangan gizi dan kelebihan gizi)
yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang (Longkumer,
2012). Kekurangan gizi biasanya memberikan dampak yang besar pada anak prasekolah. Jumlah angka kematian untuk anak usia di bawah 5 tahun akibat kekurangan
gizi hampir mencapai 50 %. Hal ini menunjukkan bahwa malnutrisi merupakan salah
satu faktor yang berpengaruh terhadap status gizi (Whitehead dan Rowland, 2002 dalam
Amosu et al, 2011).
Berdasarkan peringkat Human Development Index (HDI), pada tahun 2011
Indonesia berada pada urutan ke -124 dari 187 negara, jauh di bawah negara ASEAN
lainnya. Faktor-faktor yang menjadi penentu HDI yang dikembangkan oleh United
Nations

Development

Program

(UNDP)

adalah

pendidikan,

kesehatan,

dan

ekonomi.Ketiga faktor tersebut sangat berkaitan dengan status gizi masyarakat


(Akhmadi, 2009 dalam Astuti dan Sulistyowati, 2011). Sehubungan dengan itu,
karakteristik penduduk pinggiran sungai masih tergolong ekonomi lemah dengan
pendidikan yang relatif terbatas serta pengetahuan akan perumahan sehat cenderung
masih kurang (Suprijanto, 2003).
Prevalensi nasional gizi buruk pada balita adalah 5,4% dan gizi kurang pada
balita adalah 13 %. Keduanya menunjukkan bahwa target Rencana Pembangunan
Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi sekitar 20% dan target
Millenium Development Goals (MDGs) tahun2015 sekitar 18,5% telah tercapai pada
tahun 2007. Namun demikian, sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi gizi buruk
dan gizi kurang diatas prevalensi nasional, salah satunya adalah Provinsi Sumatera Utara
(Riskesdas, 2007).
1

Masalah kurang gizi masih relatif tinggi di Indonesia terutama di daerah miskin
(Menkes RI, 2002).Akan tetapi, penelitian yang menghubungkan status sosial ekonomi
terhadap status gizi masih kurang (Shoeps et al, 2011).Maka dari itu peneliti tertarik
untuk meneliti status gizi anak pra-sekolah dari keluarga yang mempunyai pendapatan
yang rendah.
Pada miniproject ini, penulis ingin mengetahui gambaran status gizi balita di
Puskesmas Johan Pahlawan periode Agustus 2015 Agustus tahun 2016.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana Gambaran Status Gizi Balita di Puskesmas Johan Pahlawan periode
Agustus 2015 Agustus tahun 2016.
1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui gambaran status gizi balita di Puskesmas Johan Pahlawan periode
Agustus 2015 Agustus tahun 2016.
1.4 Manfaat Penelitian
1.

Bagi Peneliti
1) Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang
didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan pengalaman dalam
membuat penelitian ilmiah.

2.

Bagi instansi terkait


1) Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam membuat kebijakankebijakan dibidang kesehatan di masa mendatang khususnya dalam progam
memperbaiki status gizi.

3.

Bagi ilmu pengetahuan

Sebagai bahan masukan atau referensi bagi peneliti lain yang akan melakukan
penelitian tentang status gizi anak balita.

BAB II
3

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1. Status Gizi Balita


2.1.1 Pengertian
Status gizi adalah Status gizi status kesehatan yang dihasilkan oleh
keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient (Beck 2002 dalam Jafar 2010).
Menutut Almatsier (2005) status gizi didefinisikan sebagai suatu keadaan tubuh
akibat konsumsi makanan dan menggunaan zat-zat gizi.
2.1.2 Klasifikasi Status Gizi Balita
Dalam menentukan status gizi balita harus ada ukuran baku yang sering disebut
reference. Pengukuran baku antropomentri yang sekarang digunakan di Indonesia adalah
WHO-NCHS. Menurut Harvard dalam Supariasa 2002, klasifikasi status gizi dapat
dibedakan menjadi empat yaitu:
a. Gizi lebih (Over weight)
Gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan
sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan (Almatsier, 2005). Kelebihan
berat badan pada balita terjadi karena ketidakmampuan antara energi yang masuk
dengan keluar, terlalu banyak makan, terlalu sedikit olahraga atau keduanya. Kelebihan
berat badan anak tidak boleh diturunkan, karena penyusutan berat akan sekaligus
menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan (Arisman, 2007).
b. Gizi baik (well nourished)
Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zatzat gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,
perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi
mungkin (Almatsier, 2005).
4

c. Gizi kurang (under weight)


Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zatzat esensial (Almatsier, 2005).
d. Gizi buruk (severe PCM)
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan
nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata.
Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus
KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak
dijumpai pada balita (Lusa, 2009).
Menurut Depkes RI (2005) Paremeter BB/TB berdasarkan Z-Score diklasifikasikan
menjadi :
a. Gizi Buruk (Sangat Kurus) : <-3 SD
b. Gizi Kurang (Kurus) : -3SD sampai <-2SD
c. Gizi Baik (Normal) : -2 SD sampai +2SD
d. Gizi Lebih (Gemuk) : > +2 SD
2.1.3 Gizi Seimbang Pada Balita
Gizi Seimbang adalah susunan makanan seharihari yang mengandung zat-zat
gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan
prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat
badan (BB) ideal (Koalisi Fortifikasi Indonesia, 2011). Bahan makanan yang dikonsumsi
anak sejak usia dini merupakan fondasi penting bagi kesehatan dan kesejahteraannya di
masa depan. Dengan kata lain, kualitas sumber daya manusia (SDM) hanya akan

optimal, jika gizi dan kesehatan pada beberapa tahun kehidupannya di masa balita baik
dan seimbang. SDM berkualitas inilah yang akan mendukung keberhasilan
pembangunan nasional di suatu negeri. Secara global, tercapainya keadaan gizi dan
kesehatan yang baik serta seimbang ini merupakan salah satu tujuan utama Millennium
Develpoment Goals (MDGs) 2015 yang dicanangkan oleh UNICEF (Soekirman, 2006
dalam Jafar, 2010).
Menurut Koalisi Fortifikasi Indonesia dalam Wahyuningsih 2011, PGS
memperhatikan 4 prinsip, yaitu:
a. Variasi makanan;
b. Pedoman pola hidup sehat;
c. Pentingnya pola hidup aktif dan olahraga;
d. Memantau berat badan ideal.
Prinsip Gizi Seimbang adalah kebutuhan jumlah gizi disesuaikan dengan
golongan usia, jenis kelamin, kesehatan, serta aktivitas fisik. Tak hanya itu, perlu
diperhatikan variasi jenis makanan. Bahan makanan dalam konsep gizi seimbang
ternbagi atas tiga kelompok, yaitu:
a. Sumber energi/tenaga: Padi-padian, umbi-umbian, tepung-tepungan, sagu, jagung, dan
lain-lain.
b. Sumber zat Pengatur: Sayur dan buah-buahan
c. Sumber zat pembangun: Ikan, ayam, telur, daging, susu, kacang-kacangan dan hasil
olahannya seperti tempe, tahu, oncom,susu kedelai (Candra, 2013).
2.1.4. Metode Penilaian Status Gizi Balita
a. Antropometri

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur


beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain:
umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada,
lingkar panggul dan tebal lemak dibawah kulit. Ukuran tubuh manusia yang
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh
dari

berbagai

tingkat

umur

dan

tingkat

gizi.

Penggunaan

untuk

melihat

ketidakseimbangan asupan protein dan energi (Supariasa, 2002). Dari beberapa


pengukuran tersebut, berat badan, tinggi badan dan lingkar lengan sesuai dengan usia
adalah yang paling sering dilakukan dalam survei gizi. Untuk keperluan perorangan di
keluarga, berat badan (BB), tinggi badan (TB) atau panjang badan (PB) adalah yang
paling dikenal (Soekirman, 2000).
b. Klinis
Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan
dengan ketidakcukupan gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata,
rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaaan tubuh
seperti kelenjar tiroid. Penggunaan untuk survei klinis secara cepat (Supariasa, 2002).
c. Biokimia
Pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada
berbagai macam jaringan tubuh yang digunakan anatara lain: darah, urine, tinja dan juga
beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Penggunaan untuk suatu peringatan bahwa
kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Supariasa, 2002).

d. Biofisik

Penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi dan melihat perubahan
struktur jaringan. Penggunaan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemic
(epidemic of night blindness) (Supariasa, 2002).
e. Survei konsumsi makanan
Metode penentuan gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis
zat gizi yang dikonsumsi. Penggunaan dengan pengumpulan data konsumsi makanan
dapat memberikan gambaran tentang konsumsi barbagai zat gizi pada masyarakat,
keluarga dan individu (Supariasa, 2002).
f. Statistic vital
Dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian
berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data
lainya yang berhubungan dengan gizi. Penggunaan sebagai bahan indikator tidak
langsung pengukuran status gizi masyarakat (Supariasa, 2002).
2.1.5 Jenis-jenis Indikator status gizi balita
Masa balita merupakan masa yang menentukan dalam tumbuh kembangnya yang
akan menjadikan dasar terbentuknya manusia seutuhnya. Karena itu pemerintah
memandang perlu untuk memberikan suatu bentuk pelayanan yang menunjang tumbuh
kembang balita secara menyeluruh terutama dalam aspek mental dan sosial.
Pertumbuhan dan perkembangan saling mendukung satu sama lain perkembangan
seorang anak tidak dapat maksimal tanpa dukungan atau optimalnya pertumbuhan.
Misalnya seorang anak yang kekurangan gizi akan mempengaruhi perkembangan mental
maupun sosialnya, oleh karena itu keduanya harus mendapat perhatian baik dari
pemerintah, masyarakat maupun orang tua. Salah satu indikator untuk melihat
pertumbuhan fisik anak adalah dengan melihat status gizi anak dalam hal ini balita.
Sebagai alat ukur untuk mengetahui tingkat perkembangan seorang anak dengan
menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) (Soetjiningsih, 2002).
8

Semua kejadian yang berhubungan dengan kesehatan anak sejak lahir sampai
berumur lima tahun, perlu dicatat dalam KMS, misalnya identitas anak, tanggal lahir dan
tanggal pendaftaran, serta penyakit yang pernah dideritanya. KMS berisi pesan-pesan
penyuluhan tentang penanggulangan diare, makanan anak. Sehingga ibu senantiasa
membawa KMS pada semua kegiatan kesehatan dan cenderung ingin kontak dengan
petugas kesehatan untuk merujuk anaknya. Hal ini dapat digunakan sebagai pengamatan
status

gizi

anak,

disamping

mempunyai

kelebihan

maupun

kekurangannya

(Soetjiningsih, 2002).
Untuk mengetahui apakah berat badan dan tinggi badan normal, lebih rendah
atau lebih tinggi dari yang seharusnya, dilakukan perbandingan dengan suatu standard
internasional yang ditetapkan oleh WHO (Soekirman, 2000).Di dalam ilmu gizi status
gizi tidak hanya diketahui dengan mengukur BB atau TB sesuai dengan umur (U) secara
sendiri-sendiri, tetapi juga dalam bentuk indikator yang dapat merupakan kombinasi
antara ketiganya, sebagai berikut :
a. Indikator BB/U
Indikator BB/U menunjukkan secara sensitif status gizi saat ini (saat diukur)
karena mudah berubah. Kelebihan indikator BB/U adalah Dapat dengan mudah dan
cepat dimengerti oleh masyarakat umum; Sensitif untuk melihat perubahan status gizi
dalam jangka waktu pendek; dan Dapat mendeteksi kegemukan. Sedangkan kelemahan
indikator BB/U adalah interpretasi status gizi dapat keliru apabila terdapat
pembengkakan atau oedem; data umur yang akurat sering sulit diperoleh terutama di
Negara-negara yang sedang berkembang; kesalahan pada saat pengukuran karena
pakaian anak yang tidak dilepas/ dikoreksi dan anak bergerak terus; masalah social
budaya setempat yang mempengaruhi orangtua untuk tidak mau menimbang anaknya
karena dianggap seperti barang dagangan (Soekirman, 2000).
b. Indikator TB/U

Indikator TB/U menggambarkan status gizi masa lalu. Adapun kelebihan


indikator TB/U adalah dapat memberikan gambaran riwayat keadaan gizi masa lampau:
dapat dijadikan indikator keadaan social ekonomi penduduk. Sedangkan kekurangannya
adalah kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang badan pada kelompok usia
balita; tidak dapat menggambarkan keadaan gizi saat kini; memerlukan data umur yang
akurat yang sering sulit diperoleh di negara-negara berkembang; kesalahan sering
dijumpai pada pembacaan skala ukur, terutama bila dilakukan oleh petugas nonprofesional.
c. Indikator BB/TB
Indikator BB/TB menggambarkan secara sensitif dan spesifik status gizi saat ini.
Berat badan berkorelasi linier dengan tinggi badan, artinya dalam keadaan normal
perkembangan berat badan akan mengikuti pertambahan tinggi badan pada percepatan
tertentu.Adapu kelebihan indikator BB/TB adalah independen terhadap umur dan ras;
dapat menilai status kurus dan gemuk; dan keadaan marasmus atau KEP berat
lain.Sedangkan kelemahannya adalah kesalahan pada saat pengukuran karena pakaian
anak yang tidak dilepas /dikoreksi dan anak bergerak terus; masalah social budaya
setempat yang mempengaruhi orangtua untuk tidak mau menimbang anaknya karena
dianggap seperti barang dagangan; kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang atau
tinggi badan pada kelompok usia balita; kesalahan sering dijumpai pada pembacaan
skala ukur, terutama bila dilakukan oleh petugas non-profesional; tidak dapat
memberikan gambaran apakah anak tersebut pendek, normal dan jangkung (Soekirman,
2000).

2.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita


10

2.2.1. Keadaan Infeksi


Ada hubungan yang erat antara infeksi (bakteri, virus dan parasit) dengan
kejadian malnutrisi. Ditekankan bahwa terjadi interaksi yang sinergis antara malnutrisi
dengan

penyakit infeksi (Supariasa, 2002). Penyakit infeksi akan menyebabkan

gangguan gizi melalui beberapa cara yaitu menghilangkan bahan makanan melalui
muntah-muntah dan diare. Selain itu penyakit infeksi seperti infeksi saluran pernapasan
dapat juga menurunkan nafsu makan (Arisman, 2004). Mekanisme patologisnya dapat
bermacam-macam, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan, yaitu penurunan
asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorbsi dan kebiasaan
mengurangi makan pada saat sakit, peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat
penyakit diare, mual/muntah dan perdarahan terus menerus serta meningkatnya
kebutuhan baik dari peningkatan kebutuhan akibat sakit dan parasit yang terdapat dalam
tubuh (Supariasa, 2002).
2.2.2. Tingkat Konsumsi Makanan
Konsumsi makanan oleh keluarga bergantung pada jumlah dan jenis pangan yang
dibeli, pemasakan, distribusi dalam keluarga. Hal ini bergantung pada pendapatan,
agama, adat kebiasaan, dan tingkat pendidikan. Dinegara Indonesia yang jumlah
pendapatan penduduk sebagian rendah adalah golongan rendah dan menengah akan
berdampak pada pemenuhan bahan makanan terutama makanan yang bergizi (Almatsier,
2005). Pengukuran konsumsi makan sangat penting untuk mengetahui kenyataan apa
yang dimakan oleh masyarakat dan hal ini dapat berguna untuk mengukur status gizi dan
menemukan faktor diet yang dapat menyebabkan malnutrisi (Supariasa, 2002).
Kurangnya jumlah makanan yang dikonsumsi baik secara kualitas maupun kuantitas
dapat menurunkan status gizi. Anak yang makanannya tidak cukup maka daya tahan
tubuhnya akan melemah dan mudah terserang infeksi (Ernawati, 2006).

2.2.3. Pengaruh Budaya


11

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengaruh budaya antara lain sikap
terhadap makanan, penyebab penyakit, kelahiran anak, dan produksi pangan. Dalam hal
sikap terhadap makanan, masih terdapat pantangan, tahayul, tabu dalam masyarakat
yang menyebabkan konsumsi makanan menjadi rendah. Konsumsi makanan yang
rendah juga disebabkan oleh adanya penyakit, terutama penyakit infeksi saluran
pencernaan. Jarak kelahiran anak yang terlalu dekat dan jumlah anak yang terlalu
banyak akan mempengaruhi asupan gizi dalam keluarga. Konsumsi zat gizi keluarga
yang rendah, juga dipengaruhi oleh produksi pangan. Rendahnya produksi pangan
disebabkan karena para petani masih menggunakan teknologi yang bersifat tradisional
(Supariasa, 2002).
2.2.4. Penyediaan Pangan
Penyediaan pangan yang cukup diperoleh melalui produksi produksi pangan
dalam menghasilkan bahan makanan pokok, lauk pauk, sayur-mayur dan buah-buahan.
Merupakan program untuk menambah nutrisi pada balita ini biasanya diperoleh saat
mengikuti posyandu. Adapun pemberin tambahan makanan tersebut berupa makanan
pengganti ASI yang biasa didapat dari puskesmas setempat (Almatsier, 2005). Penyebab
masalah gizi yang pokok di tempat paling sedikit dua pertiga dunia adalah kurang
cukupnya pangan untuk pertumbuhan normal, kesehatan, dan kegiatan normal. Kurang
cukupnya pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan dalam keluarga. Tidak
tersedianya pangan dalam keluarga yang terjadi terus menerus akan menyebabkan
terjadinya penyakit kurang gizi (Ernawati, 2006).
2.2.5. Keterjangkauan Pelayanan kesehatan.
Status gizi anak berkaitan dengan keterjangkauan terhadap pelayanan kesehatan
dasar. Anak balita sulit dijangkau oleh berbagai kegiatan perbaikan gizi dan kesehatan
lainnya karena tidak dapat datang sendiri ke tempat berkumpul yang ditentukan tanpa
diantar (Sediaoetama, 2000 dalam Ernawati, 2006). Beberapa aspek pelayanan
kesehatan dasar yang berkaitan dengan status gizi anak antara lain: imunisasi,
12

pertolongan persalinan, penimbangan anak, pendidikan kesehatan anak, serta sarana


kesehatan seperti posyandu, puskesmas, rumah sakit, praktek bidan dan dokter. Makin
tinggi jangkauan masyarakat terhadap sarana pelayanan kesehatan dasar tersebut di atas,
makin kecil risiko terjadinya penyakit gizi kurang (Ernawati, 2006).
2.2.6. Higiene dan Sanitasi Lingkungan
Hal ini bergantung pada kebersihan lingkungan atau ada tidaknya penyakit yang
berpengaruh zat-zat gizi oleh tubuh. Sanitasi lingkungan sangat terkait dengan
ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, jenis lantai rumah serta kebersihan
peralatan makan pada setiap keluarga. Makin tersedia air bersih untuk kebutuhan seharihari, makin kecil risiko anak terkena penyakit kurang gizi (Soekirman, 2000). Higienitas
makanan adalah Tindakan nyata dari ibu anak balita dalam kebersihan dalam mengelola
bahan makanan, penyimpanan sampai penyajian makanan balita.
2.2.7. Jumlah Anggota Keluarga
Seandainya anggota keluarga bertambah, maka pangan untuk setiap anak
berkurang. Usia 1 -6 tahun merupakan masa yang paling rawan. Kurang energi protein
berat akan sedikit dijumpai pada keluarga yang jumlah anggota keluarganya lebih kecil
(Winarno 1990 dalam Ernawati 2006).
2.2.8. Tingkat Pendapatan
Kemiskinan sebagai penyebab gizi kurang menduduki posisi pertama pada
kondisi yang umum di masyarakat (Latief dkk 2000 dalam Ernawati 2006). Batas
kriteria UMR (Upah mimimum regional) menurut BPS untuk daerah pedesaan adalah
Rp.1.375.000,-

2.2.9. Tingkat Pendidikan Ibu


13

Pendidikan

sangat

mempengaruhi

penerimaan

informasi

tentang

gizi.

Masyarakat dengan pendidikan yang rendah akan lebih mempertahankan tradisi-tradisi


yang berhubungan dengan makanan sehingga sulit menerima informasi baru di bidang
Gizi. Selain itu tingkat pendidikan juga ikut menentukan mudah tidaknya seseorang
menerima suatu pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, akan
semakin mudah dia menyerap informasi yang diterima termasuk pendidikan dan
informasi gizi yang mana dengan pendidikan gizi tersebut diharapkan akan tercipta pola
kebiasaan yang baik dan sehat (Handayani 1994 dalam Ernawati 2006). Tingkat
pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat untuk
menyerap informasi dan menginplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup
sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan perbaikan gizi. Tingkat pendidikan
dapat disederhanakan menjadi pendidikan tinggi (tamat SMA- lulusan PT) dan
pendidikan rendah (tamat SD tamat SMP). Hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah
untuk daerah wajib belajar 12 tahun (Nuh, 2013) .
2.2.10. Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
Pengetahuan tentang kadar gizi dalam berbagai bahan makanan, kegunaan
makanan bagi kesehatan keluarga dapat membantu ibu memilih bahan makanan yang
harganya tidak begitu mahal akan tetapi nilai gizinya tinggi (Soekanto 2002 dalam
Yusrizal 2008). Kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi berakibat pada rendahnya
anggaran untuk belanja pangan dan mutu serta keanekaragaman makanan yang kurang.
Keluarga lebih banyak membeli barang karena pengaruh kebiasaan, iklan, dan
lingkungan. Selain itu, gangguan gizi juga disebabkan karena kurangnya kemampuan
ibu menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari (Winarno 1990
dalam Ernawati 2006).

2.3. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Balita


14

2.3.1 Tujuan PMT Balita


Tujuan dari program PMT adalah mempertahan kan dan meningkatkan status
gizi balita dari keluarga miskin
2.3.2 Sasaran PMT Balita
Menurut Depkes RI (1999) di dalam handayani, mulasari dan Nurdianis (2008),
sasaran PMT balita berusia 12-59 bulan denfgan BB/U di bawah garis merah BMG)
pada KMS dan berasal dari keluarga miskin (GAKIN). BGM pada balita GAKIN
tersebut didapatkan dari data sekunder pemantauan status gizi (PSG), laporan bulanan
puskesmas, register balita di posyandu. Untuk PMT berupa makanan pendamping ASI
(MP-ASI) sasarannya adalah bayi dan anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin.
Sedangkan yang dimaksud dengan BB/U di bawah garis merah meliputi balita kurang
energi dan protein berat (gizi buruk) serta energi dan protein sedang. Keduanya hanya
dapat dibedakan melalui penentuan status gizi dengan tabel BB/TB.
2.3.3. Proses PMT
Seperti yang dikutip dari handayani, mulasari dan Nurdianis (2008), proses PMT
terdiri dari tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang harus
disesuaikan dengan teknis program jaringan pengamatan sosial bidang kesehatan (JPSBK) bagi puskesmas.
1.

Perencanaan
Pasa tahapan perencanan dilakukan penetuan balita sasaran PMT dan penentuan

jadwal pendistribusian program PMT Balita.

2.

Pelaksanaan

15

Kegiatan pelaksaan meliputi penentuan jenis makan, pembelian bahan makanan


dan pemberian paket PMT kepada sasaran. Salah satu bentuk PMT Balita adalah MPASI.
3.

Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian


Pada proses ini dilakukan pencataan dan pelaporan dengan mengisi registrasi

yang telah di tetapkan oleh departemen kesehatan republiks indonesia.


Selain itu seperti yang diikuti dari petunjuk Teknis MP-ASI lokal dinas
kesehatan Provinsi sumatra utara (2006) untuk PMT dalam balita dalam bentuk MP-ASI
terdiri dari upaya melaksanan proses tersebut melaksanan proses tersebut diperlukan
juga unsur berupa:
1.

Tenaga
Tenaga adalah orang yang mampu bertanggung jawab dan mengkoordinir

program PMT Balita sasaran di wilayah kerja puskesmas. Tenaga berupa Tenaga
Pelaksana Gizi (TPG) di puskesmas dan bidan di desa, yang bertugas melaksanakan
pembinaan teknis di lapangan (Depkes RI, 1999 dalam handayani, mulasari dan
Nurdianis, 2008)
2.

Dana
Menururt Hasibuan (2003) dalam handayani, mulasari dan Nurdianis (2008)

besarnya biaya untuk penggadaan paket PMT balita tergantung dari jumlah sasaran
penerimaan program. Menurut Hadayani, mulasari dan Nurdianis, 2008)
3.

Sarana
Kartu pencataan dan formulir pelapor merupakan sasaran untuk pemantangan

yang sangat penting(hasibuan, 2003 dalam handayani, mulasari dan Nurdianis, 2008).
4.

Bahan
16

Bahan paket berisis kacang hijau, biskuit gula, susu, telur dan multivitamin. Isi
paket harus berkualitas baik. Bahan paket makanan yang bisa dibawa pulang adalah
beras, telur, gula, dan kacang kacangan (Depkes RI, 1999 dalam handayani, mulasari
dan Nurdianis, 2008). Selain itu seperti yang dikutip dari penunjuk Teknis dua jenis
yaitu MP-ASI hasil pengolahan pabrik (MP-ASI pabrikan) dan MP-ASI yang diolah di
rumah tangga (MP-ASI)
2.4. Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) pada Gizi Kurang
PMT merupakan bagian penatalaksanaan balit gizi kurang, PMT ini disebut PMT
pemulihan (PMT-P). PMT-Pdilaksanakan oleh pusat pemulihan Gizi (PPG) di posyandu
dan secara terus menerut di rumah tangga keseluruhan berjumlah 90 hari.
2.4.1. Lama PMT-P
Pemberian PMT-P diberikan setiap hari kepada anak selama tiga bula (90 hari)
2.4.2 Bentuk makanan PMT-P
Makanan yang diberikan berupa :
1.kudapan (makanan kecil), yang dibuat dari bahan makanan setempat (lokal)
2. bahan makanan mentah berupa tepung beras, tepung susu, gula, minyak, kacang
kacangan, sayuran, telur dan lauk-pauk lainnya.
3. Contoh paket bahan makanan tambahan pemulihan (PMT-P) yang dibawa pulang.

2.4.3. cara Penyelenggaraan

17

1. Makanan kudapan diberikan setiap hari di PPG, atau


2. Seminggu sekali kader mendemonstrasikan pembuatan MP-ASI makanan anak, dan
membagikan makanan tersebut kepada balita gizi kurang, selanjutnya kader
membagikan paket bahan makanan mentah untuk kebutuhan enam hari (Dinkes Sumut,
2000).Bentuk lain dari PMT untuk balita adalah PMT penyuluhan. PMT penyuluhan
diberikan bagi balita yang berat badannya tidak naik pada satu kali penimbangan
posyandu (Depkes RI, 2000).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Johan Pahlawan dalam hal ini
dilakukan di poli Gizi periode Agustus 2015 Agustus tahun 2016.

18

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi penelitian ini adalah seluruh balita kawasan Puskesmas Johan
Pahlawan.Sampel dipilih secara proposive sampling yaitu sampel hanya pada individu
yg didasarkan pada pertimbangan dan karakteristik tertentu pasien yang berada ke poli
Gizi Puskesmas Johan Pahlawanyang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria Inklusi:
1. Anak balita yang di data di poli Gizi
2. Anak balita yang berusia 2 bulan 5 tahun
Kriteria Eksklusi:
1. Anak usia > 5 tahun
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan Data Sekunder yang dikumpulkan dari data
buku poli Gizi Puskesmas Johan Pahlawan periode Agustus 2015 Agustus tahun 2016.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Profil Komunitas Umum
Johan Pahlawan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi
Aceh, Indonesia. Di sinilah, kawasan Meulaboh, ibukota dan pusat pemerintahan
Kabupaten Aceh Barat berada. Kecamatan Johan Pahlawan ini terdiri dari 11 desa.
Dengan Jumlah Penduduk65.473 Jiwa, terdiri dari laki-laki 33.874 jiwa dan Perempuan
31.599 jiwa, Data BPS, Proyeksi Antar Sensus

Agustus 2014( Kecamatan Johan

Pahlawan, dalam angka 2015)


4.1.1 Data Geografis
19

UPTD Puskesmas Johan Pahlawan merupakan salah satu puskesmas induk dari 2
puskesmas yang berada dalam wilayah kecamatan Johan Pahlawan yang mencakup 11
desa yang menjadi wilayah kerjanya dan membawahi 2 Puskesmas Pembantu (Pustu)
dan 3 buah Poskesdes yang menjadi jaringan kerjanya.
Adapun batas wilayah kerja UPTD Puskesmas Johan Pahlawan adalah sebagai
berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Meureubo
Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah kerja UPTD Puskesmas Suak Ribee
Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kaway XVI
Secara administrasi pemerintahan luas wilayah kerja Puskesmas Johan Pahlawan
193,2 km2. Puskesmas Johan Pahlawan berdiri tahun 1992 dengan luas bangunan 520
m2 dan luas tanah 1500 m2, dengan status rawat jalan. Lokasi Puskesmas Johan
Pahlawan berada di Jalan Tgk. Dirundeng No.36 Gampong Ujong Baroh, Meulaboh,
Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.
Sarana dan Prasarana

Pustu

: 2 Unit

Poskesdes

: 3 Unit

Polindes

: - Unit

Posyandu

: 27 Pos

4.1.2 Data Demografis


Distribusi Jumlah Penduduk43,953 Jiwa, terdiri dari laki-laki 22,113jiwa dan
Perempuan 21,840jiwa, Data BPS, Proyeksi Antar Sensus Agustus 2013( Kecamatan
Johan Pahlawan, dalam angka 2014).
Tabel1. Distribusi Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kepala Keluarga di
Kecamatan Johan Pahlawan Tahun 2014
20

No

Desa
Lk

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Panggong
Padang Seurahet
Ujong Baroh
Runding
Drien Rampak
Kp. Darat
Seuneubok
Gampa
Lapang
Leuhan
Blang Beurandang
J U M LAH

684
23
3,374
1,738
3,474
356
2,708
1,460
2,611
2,432
3,253
22,113

Jumlah Penduduk
Pr
Total
628
18
3,366
1,720
3,715
323
2,771
1,487
2,461
2,361
2,990
21,840

1,312
41
6,740
3,458
7,189
679
5,479
2,947
5,072
4,793
6,243
43,953

Jumlah
RT
329
14
1,569
805
1,615
165
1,194
745
1,190
1,144
1,495
10,265

Sumber : BPS, Proyeksi Antar Sensus Desember 2013


4.1.3Sumber daya dan sarana kesehatan yang ada
A. Sarana Kesehatan
Kedudukan UPTD Puskesmas Johan Pahlawan, beralamat di Jalan Tgk Dirunding
Gampong Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan, dengan Fasilitas Kesehatan /
Jaringan kerja meliputi :
Tabel 2.

Distribusi Jaringan

Sarana

Kesehatan

Dalam

Wilayah

Kerja UPTD

Puskesmas Johan Pahlawan Tahun 2014

Nama Sarkes
No

Desa
Pustu

1
2

Panggong
Padang Seurahet

Poskesdes

Polindes

Posyandu
1
2
21

3
4
5
6
7
8
9
10
11

Ujong Baroh
Runding
Drien Rampak
Gp. Darat
Seuneubok
Gampa
Lapang
Leuhan
Blang Beurandang

1
1

1
3

3
1
5
1
3
2
3
3
3

J U M LAH

27

Perkiraan Jarak antar Faskes dan waktu tempuh Faskes sbb :


Dari Dinas Kesehatan ke Pkm Johan Pahlawan berjarak +/- 2 Km dengan waktu
tempuh +/- 10 Menit
Dari Pkm Johan Pahlawan ke Pustu Leuhan berjarak +/- 3 Km dengan waktu
tempuh +/- 15 menit
Dari Pustu Leuhan ke Pustu Blang Beurandang berjarak +/- 1 Km dengan waktu
tempuh +/- 7 menit
Dari Pustu Blang Beurandang ke Poskesdes Caritas berjarak +/- 500 Mtr dengan
jarak tempuh +/-5 Menit
Dari Poskesdes Caritas ke Poskesdes Islamic Relief berjarak +/- 1 Km dengan
waktu tempuh +/- 7 Menit
Dari Poskesdes Islamic Relief ke Poskesdes C W S berjarak +/- 1 Km dengan
waktu tempuh +/- 7 Menit
Peta Rute lokasi dan jarak Sarkes

Poskesdes CWS

Pustu
Blang Beurandang

Dinkes

22

Poskesdes
CARITAS

Poskesdes
Islamic Relief

Arah ke Kaway XVI

RSU CND

Pustu Leuhan

B. Ketenagaan

Pkm Johan Pahlawan

Jumlah tenaga kesehatan yang ada di wilayah Puskesmas Johan Pahlawan adalah
106 orang. Distribusi tenaga kesehatan terdiri dari berbagai disiplin ilmu untuk
melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdiri dari pegawai negeri
sipil (PNS) dan pegawai tidak tetap (PTT).
Distribusi tenaga kesehatan di Puskesmas Johan Pahlawan dapat dilihat pada
table di bawah ini :
Tabel 3. Jenis Pegawai Kesehatan Puskesmas Johan Pahlawan tahun 2014
No

Jenis Ketenagaan

1
2

Dokter Umum
Dokter Gigi

Perawat

D1/D3/S1
Bidan Ppb / D3

Perawat Gigi

Status
Pns Bakti
3
1
1
-

- 24

Jumlah

Keterangan

4
1

30

24

32

23

Ass. Apoteker

Kesmas / Skm

Kesling

G I Z I D3 / S1

10

Analis / Labor

11

Admin / Tu

10

16

12

UMUM

1 Org. Cleaning Service +


1 Sopir

Jumlah

83

23

106

4.1.4 Visi dan Misi


Adapun kegiatan pokok yang dijalankan oleh Puskesmas Johan Pahlawan adalah
sebagai berikut:
1. Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas, meliputi :
a. Promosi Kesehatan Masyarakat
b. Kesehatan lingkungan
c. Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana
d. Perbaikan Gizi Masyarakat
e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta pengobatan
2. Upaya Kesehatan pengembangan Puskesmas :
a. Uapaya kesehatan sekolah
b. Upaya kesehatan gigi dan mulut
c. Upaya kesehatan jiwa
d. Kesehatan usia lanjut
e. Pembinaan pengobatan tradisional
VISI :Mewujudkan masyarakat yang cerdas, peduli, tanggap dan mampu
dalam mengatasi masalah kesehatan yang terjadidilingkungannya sendiri secara mandiri
MISI :
1.Menggerakkan upaya kesehatan yang berbasis masyarakat
2.Mendorong partisipasi dan peran aktif masyarakat dalam bidang kesehatan
24

3.Memelihara

dan

menigkatkan

mutu

program

kesehatan

dasar

dan

pengembangan, baik kegiatan dalam gedung maupun luar gedung.


4.Meningkatkan promosi kesehatan sebagai upaya merubah perilaku masyarakat
menuju perilaku hidup bersih dan sehat.
Motto :
Disiplin, Tanggap, Cepat Dan Profesional Sebagai Wujud
Pelayanan Prima Kepada Masyarakat

4.2

Hasil Penelitian
Hasil data kunjungan yang didapat dari poli Anak Puskesmas Johan Pahlawan
periode Agustus 2015 Agustus tahun 2016 adalah sebagai berikut:

USIA
Total
< 12 bulan
13 36 bulan
37 60 bulan
Gizi Lebih
0
0
0
0
Gizi kurang
18
55
26
99
Gizi Buruk
2
2
0
4
Total
20
57
26
57
Tabel 4.1 Gambaran status gizi balita di Puskesmas Johan Pahlawan periode Agustus
2015 Agustus tahun 2016.
GIZI

Grafik Batang 4.2 Gambaran status gizi balita di Puskesmas Johan Pahlawan periode
Agustus 2015 Agustus tahun 2016.

25

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

DESA
Panggong
Padang Seurahet
Ujong Baroh
Runding
Drien Rampak
Gp. Darat
Seuneubok
Gampa
Lapang
Leuhan
Blang Beurandang
TOTAL

Gizi Lebih
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Status Gizi
Gizi
Kurang
1
10
17
9
12
10
3
5
5
14
13
99

Gizi Buruk
0
1
0
2
0
0
0
0
1
0
0
4

Tabel 4.3 Gambaran status gizi balita di berbagai desa Puskesmas Johan Pahlawan
periode Agustus 2015 Agustus tahun 2016.

4.3

Pembahasan
Dari hasil miniprojek ini didapatkan hasil bahwa angka tertinggi gizi kurang

terdapat anak usia 13-36 bulan (55 orang) yang selanjutnya diikuti pada usia 37-60 bulan

26

gizi kurang (26 orang), pada usia < 12 bulan gizi kurang berjumlah (18 orang), untuk
gizi buruk di dapatkan pada usia < 12 bulan ( 2 orang) dan usia 13-36 bulan (2 orang),
sedangkan gizi lebih tidak ditemukan ada nya kasus pada usia <12 bulan, 13-36 bulan
ataupun 37-60 bulan.
Pada tabel 4.3 dapat dilihat desa yang memiliki tingginya kasus gizi kurang
terdapat pada desa ujung baroh (17 kasus) di ikuti desa Leuhan (14 kasus), desa Blang
brandang (13 kasus), desa Drien rampak (12 kasus), desa Gampong darat dan desa
Padang seurahet (10 kasus), desa Runding (9 kasus), desa Gampa dan desa Lapang di
temukan 5 kasus diikuti desa Seunebok (3 kasus) dan desa panggong di temukan 1
kasus. Sedang pada desa Runding ditemukan 2 kasus gizi buruk dan desa Padang
seurahet dan desa lapang di temukan masing-masing 1 kasus gizi buruk. Hal ini sangat
di pengaruhi oleh sosial-ekonomi pada tempat tersebut.
Untuk meningkatkan penemuan gizi kurang pada usia 13-36 bulan kemudian
usia 37-60 bulan hal ini disebabkan oleh berbagai faktor salah satu faktornya adalah
tinggat pengetahuan ibu akan bagaimana cara memberikan makanan yang baik dan
bergizi kepada anak, selain pengetahuan, pendapatan ekonomi setiap keluarga memiliki
pengaruh yang signifikan dalam memenuhi makan yang bergizi pada setiap keluarga
yang ekonomi rendah.
Selain peran para petugas kesehatan juga diperlukan peran ibu yang aktif untuk
ikut dalam setiap kegiatan posyandu untuk menjaring balita yang memiliki garis tumbuh
kembang pada garis merah atau garis di bawah merah. Selain dapat menjaring balita
yang memiliki kekurangan gizi di posyandu juga mendapatkan pengetahuan bagaimana
cara memberikan makan pada balita yang baik dan benar. Dalam hal ini petugas
kesehatan sudah aktif untuk memberikan penyuluhan dan pembagian makan dan susu
untuk memperbaiki gizi balita yang kurang.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

27

5.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari mini project yang telah dilakukan di Poli gizi Puskesmas

Johan Pahlawan periode Agustus 2015 - Agustus 2016 dapat disimpulkan bahwa gizi
buruk banyak di jumpai pada usia 13 - 36 bulan sedangkan desa yang tinggi jumlah
kasus gizi buruk terdapat di desa ujung baroh. Untuk mengurangi jumlah angka ini,
selain peran dari tenaga kesehatan juga sangat diperlukan peran ibu dalam pemberian
makanan sehat dan bergizi
5.2

Saran
Saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan program promosi kesehatan ke seluruh lapisan masyarakat


2. Pengadaan evaluasi dan diskusi secara berkala tentang ilmu kesehatan di masyarakat

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S., 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Anggraini. 2010. Kehamilan Dengan Anemia. Diambil pada tanggal 7 Oktober 2016
pukul 17.30 WIB. (http://anggarini.staff.uns.ac.id/2011/06/19/kehamilan-dengananemia/)
Arisman. 2007. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.

28

Atmarita, 2006. Analisis Antropometri Balita, Survei Sosial Ekonomi Nasional


(Susenas) 1989-2005.Available from : http://www.gizi.net/.../all-prov-sus.8905.pdf. [Accesed 19 Agustus 2016].
Astuti, F.D., Taurina., Fitriya, S., 2012.Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Tingkat
Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi Anak Prasekolah dan Sekolah Dasar di
Kecamatan Godean .(Skripsi). Sarjana Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.
Beck, E. Marry.2011.Ilmu Gizi dan Diet.Yogyakarta:Andi Yogyakarta.
Chandran, V., 2009.Nutritional Status Of Preschool Children : A SocioEconomic Study
Of Rural Area Of Kasaragod District In Kerala. Available from
:http://shodhganga.inflibnet.ac.in/bitstream/10603/2588/16/16_synopsis.pdf.
[Diunduh pada 08 Oktober 2016].
Departement Kesehatan Republik Indonesia, 2002 a. Pemantauaan Pertumbuhan Balita.
Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi masyarat.
Departement Kesehatan Republik Indonesia, 2005. Standar Pemantauan Pertumbuhan
Balita. Directorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi
Masyarakat.
Depkes RI, 1999. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010,
Jakarta.
Ernawati A., 2006. Hubungan Faktor Sosial Ekonomi, Higiene Sanitasi Lingkungan,
Tingkat Konsumsi dan Infeksi dengan Status Gizi Anak Usia 2-5 tahun di
Kabupaten Semarang Tahun 2003. Universitas diponegoro. Tesis.
Jafar, Nurhendar.2012.Peranan Gizi pada Anemia Ibu Hamil. Makasar:Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
Lusa. 2009. Gizi Seimbang pada Remaja dan Dewasa. dikutip dari
http://www.lusa.web.id/gizi seimbang-pada-remaja-dan-dewasa/ pada tanggal 01
Oktober 2016.
Menteri Kesehatan RI.2002.Gizi.Jakarta.
Riskesdas, 2007. Laporan Nasional 2007. Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

29

Shoeps, D.O et al., 2011.Nutritional status of pre-school children from low income
families. Available from : http://www.nutritionj.com/content/10/1/43 [Diunduh
pada 5 Mei 2013].
Soekirman (2001). Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat.

Soetjiningsih, 2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Jakarta : CV. Sagung Seto
Supariasa, I.D.N., Bakri, B., And Fajar, I. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC.

30