Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KIMIA ZAT PADAT

HUKUM BRAGG
&
POWDER DIFFRACTION

OLEH :
JHON HARKESANDI SIHOTANG
( 2015-60-014 )

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PAPUA
MANOKWARI
2016

HUKUM BRAGG
Hukum Bragg ditemukan oleh William L. Bragg dan ayahnya, Sir William H. Bragg. Hukum ini
menyatakan bahwa pada suatu panjang gelombang elektromagnet (digunakan sinar X-Ray) yang
mengenai kisi kristal padatan baik koheren maupun inkoheren, akan mengalami difraksi kisi
dengan sudut sebesar 2 Teta ( )
Suatu kristal memiliki susunan atom yang tersusun secara teratur dan berulang, memiliki jarak
antar atom yang ordenya sama dengan panjang gelombang sinar-X. Akibatnya, bila seberkas
sinar-X ditembakkan pada suatu material kristalin maka sinar tersebut akan menghasilkan pola
difraksi khas. Pola difraksi yang dihasilkan sesuai dengan susunan atom pada kristal tersebut.
Menurut pendekatan Bragg, kristal dapat dipandang terdiri atas bidang-bidang datar (kisi kristal)
yang masing-masing berfungsi sebagai cermin semi transparan. Jika sinar-X ditembakkan pada
tumpukan bidang datar tersebut, maka beberapa akan dipantulkan oleh bidang tersebut dengan
sudut pantul yang sama dengan sudut datangnya,sedangkan sisanya akan diteruskan menembus
bidang.
Perumusan secara matematik dapat dikemukakan dengan menghubungkan panjang gelombang
sinar-X, jarak antar bidang dalam kristal, dan sudut difraksi:
n = 2d sin (Persamaan Bragg)
adalah panjang gelombang sinar-X, d adalah jarak antar kisi kristal, adalah sudut datang
sinar, dan n = 1, 2, 3, dan seterusnya adalah orde difraksi. Persamaan Bragg tersebut digunakan
untuk menentukan parameter sel kristal. Sedangkan untuk menentukan struktur kristal, dengan
menggunakan metoda komputasi kristalografik, data intensitas digunakan untuk menentukan
posisi-posisi atomnya.
Nilai d akan menentukan tipe kristal yang diuji dan telah didapat data spesifik hubungan d dan
ciri - ciri tipe kristal.
d sendiri merupakan nilai yang dapat dihitung dengan persamaan:
h2

1
=
2

d hkl

k2
+

l2
+

c2

untuk latis ortogonal (kubik, tetrtagonal, ortorombik)


Dimana:
d = Jarak antar bidang / lapisan

h,k,l = Indeks miller (h = 1/x , k = 1/y, dan l = 1/z)


a,b,c = Panjang sisi sel satuan.
Sedangkan untuk latis heksagonal:

Gambar 3. Pemantulan berkas sinar-X monokromatis oleh dua bidang kisi dalam kristal, dengan
sudut sebesar dan jarak antara bidang kisi sebesar dhkl
Secara matematis, difraksi hanya terjadi ketika Hukum Bragg dipenuhi. Secara fisis jika kita
mengetahui panjang gelombang dari sinar yang membentur kemudian kita bisa mengontrol sudut
dari benturan maka kita bisa menentukan jarak antar atom (geometri dari latis). Persamaan ini
adalah persamaan utama dalam difraksi. Secara praktis sebenarnya nilai n pada persamaan Bragg
diatas nilainya 1. Sehingga cukup dengan persamaan 2d sin = . Dengan menghitung d dari
rumus Bragg serta mengetahui nilai h, k, l dari masing-masing nilai d, dengan rumus-rumus yang
telah ditentukan tiap-tiap bidang kristal kita bisa menentukan latis parameter (a, b dan c) sesuai
dengan bentuk kristalnya.
Berdasarkan persamaan Bragg, jika seberkas sinar-X di jatuhkan pada sampel kristal, maka
bidang kristal itu akan membiaskan sinar-X yang memiliki panjang gelombang sama dengan
jarak antar kisi dalam kristal tersebut.

Gambar 2.2 ilustrasi pemantulan Bragg dari sebuah kumpulan bidang paralel.
Jika JE + EK = , kemudian LH + HM = 2, dan seterusnya serta seluruh lapisan (layer) yang
bertumpuk menghamburkan sefase, maka intensitas dari foton difraksi direkam oleh detektor.
Jika wavelets sedikit berbeda fase, maka interferensi destruktif terjadi karena terdapat ratusan
lapisan (layer) dengan ketidaksamaan fase yang meningkat sedikit demi sedikit, n umumnya
diambil bernilai 1 dan ini dapat dipahami bahwa yang digunakan merupakan sinar
monokromatik.
Latihan soal
Sebuah sinar monokromatis ditembakkna pada logam aluminium dengan panjang gelombang
0,709nm dan menghasilkan sudut pantul sebesar 10,11. Apabila diketahui difraksi terjadi pada
orde 2 terang, maka jarak antar bidang pada aluminium adalah
Penyelesaian
Diketahui: =0,709 nm
=10,11
n= 2
ditanya : d
jawab

: 2dsin=n
n
d= 2 sin

2(0,709 nm)
2 sin 10,1

= 4,04 nm

Metode Bubuk Difraksi Sinar-X ( POWDER DIFFRACTION )


Pada metode bubuk, Kristal diproses menjadi bubuk yang sangat halus dan ditempatkan dalam
seberkas sinar-x monokromatik. Setiap partikel bubuk adalah Kristal kecil, atau kumpulan
Kristal kecil, yang berorientasi secara acak terhadap berkas peristiwa. Hanya secara kebetulan,
beberapa Kristal akan berorientasi dengan benar dengan kisi mereka, misalnya dapat memantul
pada berkas peristiwanya. Sedangkan Kristal lain berorientasi untuk dipantulkan, dsb. Hasilnya
adalah bahwa setiap set bidang kisi akan mampu melakukan refleksi (pantulan). Massa bubuk
setara dengan keadaan sebenarnya, untuk Kristal tunggal diputar tidak hanya pada satu sumbu,
akan tetapi pada semua sumbu yang memungkinkan.
Mempertimbangkan satu refleksi hkl tertentu. Satu atau lebih Kristal kecil akan berorientasi pada
kisi dan membuat sudut bragg untuk melakukan refleksi
Metode serbuk ini adalah metode satu-satunya yang dapat digunakan ketika specimen Kristal
tunggal tidak tersedia dan dalam hal ini lebih sering terjadi bukan pada pekerjaan metalurgi.
Metode ini sangat cocok untuk menetukan parameter kisi dengan presisi tinggi dan untuk
identifikasi fase, mereka dapat terdiri sendiri atau dalam campuran seperti polyphase, sebuah
iloys, produk korosi, refaktori dan batu.
Dalam sebutir serbuk yang sangat halus mengandung jutaan partikel yang arahnya tak beraturan.
Oleh karena itu, secara statistik ia akan memiliki jumlah kristalit yang besar dalam berbagai arah
yang mungkin terhadap berkas sinar-x. Menempatkan sebuah sampel dalam berkas sinar-x akan
menghasilkan difraksi dari seluruh kumpulan bidang secara simultan tetapi pada sudut yang
bergantung pada nilai d. Aplikasi powder technique memiliki andil yang sangat hebat ketika
tidak semua padatan dapat diperoleh kristal tunggal dalam jumlah cukup besar (sekitar beberapa
puluh milimeter).
Powder diffraction telah luas digunakan di industri, dunia akademik atau bidang apapun yang
membutuhkan informasi tentang padatan. Dengan adanya keuntungan yang amat besar diperoleh
dalam dunia elektronik, komputer, dan perangkat lunak akurasi data, kemudahan pengambilan
data, dan interpretasi data telah dikembangkan bersamaan. Dalam dua dekade sebuah usaha besar
dilakukan dalam penentuan struktur kristal dari data sinar-x serbuk (X-ray powder data). Usaha
ini menemui sukses besar untuk tujuan menguraikan informasi pada struktur yang bisa jadi
diperoleh dari padatan kompleks seperti kristalin protein.