Anda di halaman 1dari 4

Hilal

Oleh MOH. Andriyan


Setelah ditinggal oleh suaminya, ibu Aisyah hidup merana bersama anaknya. Dia
terpaksa harus menjadi kepala rumah tangga. Ibu Aisyah bekerja sebagai pembantu di rumah
ibu Amel. Dengan rajin, ibu Aisyah melaksanakan tugasnya sebagai seorang pembantu.
Ketika ibu Aisyah membersihkan meja di ruang tamu, tanpa sengaja ibu Aisyah menjatuhkan
vas bunga milik ibu Amel yang membuatnya hancur berkeping-keping. Astaghfirullah, aku
telah memecahkannya. Apa yang harus aku lakukan? batin ibu Aisyah. Ibu Amel sangat
marah dan memarahinya.
Apa yang telah kau lakukan?
Maaf Nyonya, saya telah memecahkan vas bunga ini. (sambil menunjuk vas bunga
yang sudah pecah)
Apa? Kau telah memecahkan vas bunga yang sangat ku sayangi?
Maaf Nyonya, saya tidak sengaja.
Sekarang, pergi kau dari rumahku! Aku tidak mau melihatmu ada di rumahku lagi,
pergi! (dengan nada keras dan membentak, sambil menendang ember berisi air yang
membuat baju ibu Aisyah basah kuyup)
Tiba-tiba, Amira anak dari bu Amel datang meredam kemarahan ibunya.
Sudah Bu, jangan marahi ibu Aisyah. Dia tidak sengaja.
Sudahlah, anakku! Apa kau akan mendurhakai perintah ibumu ini hanya untuk
membela seorang pembantu seperti dia? (sambil menunjuk ibu Aisyah yang bersedih)
Tidak Bu, tapi kasihan ibu Aisyah.
Sudahlah, Non! Ibu akan pergi secepatnya, jangan kau durhakai ibumu.
Dengan langkah secepatnya bersama baju yang basah kuyup dan kerudung yang digunakan
mengusap air matanya, ibu Aisyah bergegas meninggalakan rumah ibu Amel.

Sesampai di rumahnaya, ibu Aisyah menangisi kesalahannya. Bagaimana aku bisa


menafkahi anak-anakku? batin ibu Aisyah. Tiba-tiba, bunyi ketukan pintu terdengar dari luar
dan suara salam yang lembut terlintas bersama suara ketukan tersebut.
Assalamualaikum. Bu, Hilal datang.
Waalaikumsalam. Sebentar anakku
Dengan bergegas, ibu Aisyah mengganti baju yang sudah basah kuyup dengan baju yang
kering menghangatkan dan membersihkan air mata yang masih menempel di wajahnya.
Kemudian, Merubah suasana hatinya yang semula penuh kesedihan menjadi penuh
kegembiraan. Dia menghampiri anaknya yang baru saja datang.
Anakku, bagaimana belajarmu di sekolah?
Bu, tadi aku mendapatkan nilai 100 dari bu guru
Alhamdulillah. Pertahankan prestasimu, Nak!
Iya, Bu.
Kemudian, ibu Aisyah memeluk anakanya yang baru saja mendapatkan nilai terbaik. Ibu
Aisyah merasa dalam dirinya untuk bangkit dari kesedihannya untuk semangat untuk
manafkahi Hilal.
Pada malam hari, di rumah ibu Aisyah yang ditemani oleh suara serangga-serangga
malam yang mendendangkan fatwa-fatwanya. Ibu Aisyah bermimpi mengenakan mukenah
baru yang membuat dirinya terbangun dari tidurnya.
Astaghfirullohaladzim
Ada apa, Bu?
Anakku, aku bermimpi mengenakan mukenah baru
Wah. Aku turut senang, Bu
Hilal. Ayo kita sholat tahajjud!
Baik, Bu

Bersama ibunya, hilal melaksanakan sholat tahajjud. Hilal memperhatikan mukenah tua yang
sudah kusut dikenakan ibunya. Hilal adalah seorang anak yang berbakti dan sangat
menyayangi ibunya, berkata dalam batinnya. Ya Alloh, Andaikan aku bisa membelikan
ibuku mukenah baru, ibuku pasti senang.
Keesokan harinya, di sebuah sekolah yang mendapatkan akreditasi terbaik dari
Menteri Pendidikan yaitu MI Darul Falah mengadakan upacara bendera. Upacara tersebut
akan diisi pidato dari seorang pembina upacara yang bernama bapak Alvin Dzikri. Dia adalah
seorang Menteri Pendidikan. Di dalam pidatonya, dia menegaskan bahwa akan mendukung
dan memberikan apresiasi terbaik bagi anak-anak yang berprestasi di sekolah tersebut.
Selesai menyampaikan pidatonya, Bapak Alvin memanggil Hilal seorang siswa berpresatsi
terbaik di sekolah tersebut. Hilal bergegas menuju ke depan. Dia mendapatkan apresiasi
terbaik dari Bapak Alvin berupa beasiswa dan uang saku senilai Rp 500.000,00. Hilal senang
dan bersyukur atas pemberian tersebut.
Sepulang sekolah, bersama sepeda tua yang sudah termakan oleh waktu Hilal
bergegas menuju pasar Banyuwangi. Di sana, dia membelikan ibunya mukenah baru. Dia
senang, kemudian bergegas pulang ke rumah. Sesampai di rumah, hilal segera memberikan
mukenah baru itu.
Assalamulaikum.
Walaikumsalam. (bergegas membuka pintu)
Bu, tadi di sekolah aku dapat hadiah dari menteri pendidikan.
Alhamdulillah, Hilal dapat hadiah apa?
Beasiswa dan uang saku 500.000.
Alhamdulillah, ibu senang sekali.
Bu, ini ada hadiah mukenah baru untuk semoga ibu suka (sambil memberikan
mukenah baru untuk ibunya)
Wah, ini mukenah yang bagus. Terima kasih, Nak! (sambil memeluk anakknya dan
bersyukur)

Ibu Aisyah bertekad dalam hatinya untuk tetap berusaha mencari nafkah untuk anaknya
asalkan itu halal. Hilal seorang anak yang cerdas dan berbakti kepada ibunya tetap menjadi
sang juara dan tetap menjaga dan menyayangi ibunya untuk selamanya. Ibu Aisyah dan hilal
anaknya hidup bahagia bersama kesederhanaan dan ketulusan hati mereka. Tamat

Amanat:
1. Berbaktilah kepada orang tuamu terutama ibumu! Baik dalam keadaanmu bahagia
maupun sengsara. Karena hanya merekalah yang menyayangimu dengan tulus dan ikhlas.
2. Maafkanlah kesalahan orang lain!