Anda di halaman 1dari 14

KLASIFIKASI PENYAKIT JAMUR

a. Geographic grouping.
Yaitu klasifikasi jamur menurut letak penyebarannya, penyakit jamur yang menyerang
seluruh dunia atau beberapa tempat di dunia.
Contoh :
1) Jamur yang tersebar luas yang dapat menyerang seluruh permukaan bumi ,
misalnya : Trikopitosis dan Histoplasmosis.
2) Jamur yang hanya menyerang beberapa bagian di dunia

ini, misalnya :

Bakstimikosis Amerika Utara dan blastomikosis Amerika Selatan.


b. Taxonomy grouping
Pengelompokan secara ilmiah berdasarkan morfologi dan karakteristik kultur; bisa
berbeda menurut authornya masing-masing, contoh:
1) Jamur yang berfilamen yaitu jamur yang pada pembiakan memberikan koloni
filamen misalnya Tricophyton dan Microsporum
2) Jamur ragi yaitu jamur yang pada pembiakan memberikan koloni ragi misalnya
kandida
3) Jamur yang mempunyai 2 bentuk (jamur ganda) yaitu jamur yang pada
pembiakan temperatur 370C menghasilkan koloni ragi tetapi pada temperatur
kamar akan memberikan koloni filamen misalnya : Spotrikosis.
c. Berdasarkan etiologi
Pembagian ini sukar karena kita harus sampai pada spesies jamur sebagai
penyebab penyakitnya misalnya :
1) Trikopitosis : penyebabnya Trichophyton
2) Aspergilosis : penyebabnya spesies aspergilus
3) Epidermopitosis : penyebabnya spesies epidermophyton
d. Topographic grouping
Klasifikasi berdasarkan topografi (bentuk klinis).
1) Mikosis superfisialis yaitu jamur yang menyerang lapisan terluar pada kulit, kuku
dan rambut. Dibagi dalam dua bentuk yaitu :

Dermatofitosis
Penyakit yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofit, jamur ini dapat
mencerna keratin kulit ( keratinofilik ), sehingga jamur ini dapat menyerang
lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai stratum basalis. Penyebabnya
adalah fungi dari genus: Trichophyton, Epidermophyton, dan Microsporum.

Penularan penyakit ini melalui : Kontak langsung , kontak tak langsung


( alat-alat ) dari penderita ( manusia / Antropofilik ).
Genus Trichophyton
Secara Mikroskopik ditemukan hifa bersepta / bersekat, hifa spiral, ditemukan
makrokonidia berbentuk gada berdinding tipis terdiri dari 6 12 sel juga
ditemukan mikrokonidia yang bentuknya seperti tetes air. Secara
makroskopik ditemukan koloni yang kasar berserbuk / radier pada bagian
tengah menonjol. Contoh: Trichophyton mentagropytes. Trichophyton
rubrum.

Gambar. Bentuk koloni dan mikrokonidia serta makrokonidia fungi


Trichophyton mentagrophytes.
Genus Microsporium
Genus Microsporum secara mikroskopik memiliki ciri hifa bersekat, bentuk
Makrokonidia seperti gada dengan dinding sel tebal dan berduri / kasar, sel
pada makrokonidia terdiri dari 8 12 sel. Secara makroskopik koloni tampak
granuler berserbuk. Spesies-spesies dari anggota genus ini diantaranya: M.
Cannis, M . gypseum. M. nannum. M. cookei.

Gambar. Makrokonidia dari M. cannis, M. cookie, dan M. gypseum.


Genus Epidermophyton
Genus Epidermophyton secara mikroskopik tampak hifa bersekat,
ditemukan makrokonidia berbentuk seperti gada berdinding halus
mengandung 2 - 4 sel, ditemukan klamidospora. Makrokonidia ini tersusun
pada satu konidiophore 2 3 buah. Tidak ditemukan mikrokonidia.
Secara makroskopik koloni epidermophyton tampak granuler, berserabut,
menonjol pada bagian tengah. Contoh : Epidermophyton floccosum.

Gambar. Koloni, Makrokonidia, dan Klamidospora E. floccosum.

Non-dermatofitosis
Infeksi non dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang
paling luar, karena jamur ini tidak dapat mencerna keratin kulit sehingga
hanya menyerang lapisan kulit bagian luar. Yang termasuk jamur non
dermatofitosis antara lain: Pitiriasis versicolor, Tinea nigra palmaris, Piedra.
Pitiriasis versicolor
Disebut juga Pityrosporum ovale / Pytirosporum orbiculare / Tinea
versicolor atau Panu disebabkan oleh jamur Malassezia furfur. Penyakit ini
bersifat kronik, ditandai dengan adanya bercak putih sampai coklat bersisik
menyerang pada bagian badan, ketiak, paha, leher, tungkai dan kulit
kepala. Infeksi terjadi jika jamur / hifa/ spora melekat pada kulit. Penderita
mengalami kelainan pada kulit , orang yang berkulit putih maka jamur akan
tampak bercak-bercak coklat atau merah ( hiperpigmentasi ) sedangkan pada
penderita berkulit sawo matang / hitam maka jamur akan tampak bercak-

bercak lebih muda ( hipopigmentasi ). Dengan demikian warna kulit tampak


bermacam-macam (versicolor). Penderita mengeluh merasa gatal jika
berkeringat atau tanpa keluhan gatal sama sekali, tetapi penderita merasa malu
karena adanya bercak-bercak pada kulit. Penyebaran jamur ini melalui kontak
atau alat- alat pribadi yang terkontaminasi kulit penderita dan predisposisi
kebersihan pribadi.
Koloni M. furfur biasanya ditemukan di kulit kepala, tungkai atas, dan
daerah lipatan, area yang kaya akan kelenjar sebasea dan sekresinya. Dalam
kondisi tertentu Malassezia akan berkembang dari bentuk jamur sporofit
menjadi bentuk miselial dan bersifat pathogen.
Diagnosis terhadap adanya infeksi Pitiriasis versikolor dapat dilakukan
dengan pemeriksaan langsung melalui pengamatan mikroskopis menggunakan
pelarut KOH dan dengan pemeriksaan dengan lampu wood. Pemeriksaan
dengan lampu wood dilakukan pada suatu ruangan yang gelap. Bagian yang
terinfeksi akan menunjukkan fluororesensi berwarna kuning keemasan.

Gambar. Koloni dan konidia Malassezia


Malassezia memiliki ciri sel yeast berbentuk globose, oblong-ellipsoidal
sampai silindris. Reproduksi dengan budding on a broad base and from the same
site at one pole (unipolar). Kecuali M. pachydermatis, Malassezia yang
merupakan yeast lipofilik, sehingga pertumbuhan in vitro-nya harus distimulasi
dengan minyak alami atau substansi mengandung lemak lainnya. Metode yang
paling umum digunakan adalah dengan menanam pada Sabourauds dextrose agar
(SDA) mengandung sikloheksamid (actidione) dengan olive oil atau sebagai
alternatif dapat menggunakan media yang lebih khusus seperti Dixons agar yang

mengandung gliserol mono-oleate. Pada media tersebut, koloni tampak berwarna


kream sampai kekukingan, halus atau agak berkeriput, glistening or dull, dan tepi
entire or lobate (see photo). Sejauh ini telah diketahui 7 spesies anggota genus
Malassezia (Gueho et al. 1996).
Tinea nigra palmaris
Tinea Nigra Palmaris merupakan infeksi jamur yang mengenai tangan atau
kaki yang mengalami bercak-bercak putih atau hitam. Penyebabnya adalah
Phaeoannellomyces werneckii (sebelumnya Cladosporium werneckii atau
Exophiala werneckii penyebab superficial phaeohyphomycosis (tinea nigra).
Infeksi jamur ini biasanya menyerang telapak tangan atau kaki yang menimbulkan
bercak-bercak warna tengguli hitam, tidak ada keluhan yang jelas hanya dari segi
estetika kurang sedap dipandang karena tampak kotor pada tangan dan kaki,
kadang-kadang terasa gatal.

Gambar. Konidiofor dan konida Cladosporium cladosporioides


Bahan pemeriksaan berasal dari kerokan kulit tempat infeksi, hasil
kerokan langsung dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan menggunakan
KOH 10 %. Jamur akan tampak hifa dan tunas yang berwarna hitam atau hijau tua
dengan spora yang bergerombol.
Piedra
Merupakan infeksi jamur pada rambut, berupa tonjolan, keras melekat pada
rambut. Ada dua jenis piedra yaitu : Piedra hitam dan Piedra putih.
Piedra hitam Merupakan infeksi jamur pada rambut kepala yang
disebabkan oleh Piedraia hortai. Infeksi terjadi karena rambut kontak dengan
spora jamur. Rambut yang terinfeksi mengalami kelainan berupa benjolan yang
keras pada rambut yang berwarna coklat kehitaman. Benjolan sulit dilepaskan jika
dipaksakan rambut akan patah. Penderita tidak mengalami gangguan hanya pada
saat menyisir rambut mengalami kesulitan. Bahan pemeriksaan berasal dari

potongan rambut yang terinfeksi, dilakukan pemeriksaan langsung dengan


menggunakan KOH 10 %. Hasil mikroskopik akan tampak hifa yang padat
berwarna tengguli dan ditemukan askus yang mengandung askospora. Jika
ditaman pada media SGA tampak koloni yang berwarna Hitam.
Piedra putih merupakan infeksi jamur pada rambut yang disebabkan oleh
Trichosporon cutaneum. Infeksi terjadi karena rambut kontak dengan spora
jamur. Rambut yang terifeksi mengalami kelainan berupa benjolan yang
tidak berwarna. Bahan pemeriksaan berasal dari rambut yang terinfeksi dilakukan
pemeriksaan langsung dengan menggunakan KOH 10 %. Tampak anyaman hifa
yang padat tidak berwarna atau putih kekuningan, ditemukan arthrospora pada
ujung hifa. jika ditanam pada media akan tumbuh koloni yang berwarna kuning,
granuler.

Gambar. Nodul rambut, arthrospora dan koloni Piedra.


Perbedaan antara dermatofitosis dan nondermatofitosis terletak pada infeksi
di kulit. Golongan dermatofitosis menyerang atau menimbulkan kelainan di dalam
epidermis, mulai dari stratum korneum sampai stratum basalis, sedangkan
golongan nondermatofitosis hanya pada bagian superfisialis dari epidermis. Hal
ini disebabkan dermatofitosis mempunyai afinitas terhadap keratin yang terdapat
pada epidermis, rambut dan kuku sehingga infeksinya lebih dalam.
2) Mikosis Intermediat (Subkutan?)
Yaitu jamur-jamur yang menyerang kulit, mukosa, subkutis dan alat-alat
dalam terutama yang disebabkan oleh spesies kandida sehingga penyakitnya
disebut kandidiasis seperti Candida albicans.
Mikosis subkutan merujuk pada jaringan subkutan dan jarang menyebar
secara sistemik. Biasanya membentuk lesi kulit berupa borok/bisul yang dalam
atau masa fungi, paling umum terdapat pada kaki dan tangan bagian bawah.

Organism penyebabnya adalah saprofit tanah, yang menginfeksi melalui


trauma/luka ke kaki atau tungkai kaki.
Merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur pada jaringan bawah kulit,
bersifat menahun dan menyebabkan pembengkakan dan menimbulkan kelainan
pada alat yang terkena, disertai pembentukan abses dan fistel. Infeksi yang sering
terjadi yaitu: Misetoma, kromomikosis, sporotrikosis, rinospiridiosis, fikomikosis.
Misetoma
Infeksi yang disebabkan oleh jamur pada jaringan bawah kulit bersifat
menahun dan terjadi pembengkakan serta menimbulkan abses pada daerah yang
terinfeksi. Penyebabnya adalah Actinomyces, Nocardia, Streptomyces, Madurella
sp.
Kromomikosis
Infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur Phialophora verrucosa dan
Cladosporium carionii. Jamur ini terdapat di tanah, kayu dan tumbuhan yang
busuk. Infeksi terjadi karena spora masuk melalui luka/lesi pada kulit.
Penyebaran melalui pembuluh limfedan secara hematogen keseluruh organ dan
menjadi sistemik.

Diagnosa

Bahan pemeriksaan berasal dari kerokan kulit atau biopsi jaringan bawah kulit.
Pemeriksaan langsung dengan KOH 10 % tampak spora tengguli berdinding
tebal, satu satu atau berkelompok hifa bersekat atau tidak bersekat.

Kultur

Pada media Sabaroud agar tumbuh koloni mold pada inkubasi suhu ruang
berwarna tenggeli atau hitam.

Gambar koloni da spora Cladosporium

Sporotrikosis
Merupakan infeksi jamur yang disebabkan oleh Sporotrichum schenckii.
Merupakan jamur tanah yang dimorfik yaitu tumbuh pada suhu ruang
membentuk koloni mold dan pada suhu 37 C membentuk koloni ragi ( Yeast ).
Infeksi terjadi karena masuknya spora melalui inhalasi dan luka. Ada tiga macam
gambaran klinik :

Sporotrikosis limfatika
Sporotrikosis pulmonum
Sporotrikosis desiminata
Diagnosa

Bahan pemeriksaan berasal dari kulit, biopsi jaringan atau sputum.Pemeriksaan


langsung dengan KOH 10 % tampak blastospota dan sukar ditemukan.

Gambar koloni dan spora Sporotrichum

3) Mikosis Dalam (Sistemik)

Yaitu jamur-jamur yang menyerang subkutis dan alat-alat dalam. Adapun jamur
yang termasuk dalam golongan ini yaitu: Aktinomikosis, Nokardiosis,
Kriptokokosis,

Fikomikosis

Kromomikosis, Sporotrikosis,

sublutis,

Aspergilosis,

Histoplasmoosis,

Blastomikosis Amerika Utara dan Amerika

Selatan, Misetoma Madura Foot.


Mikosis sistemik merupakan infeksi jamur yang mengenai organ organ
dalam. Ada dua macam infeksi yaitu: Infeksi sistemik primer dan infeksi
oportunis.
a. Infeksi sistemik primer. Disebabkan jamur Nocardiosis, Kriptokokosis,
Histoplasmosis, Koksidioidomikosis, Blastomikosis.
b. Infeksi oportunis. Disebabkan oleh jamur Candida dan Aspergilus.
Nocardiosis
Terdapat 2 bentuk nokardiosis yaitu: Nokardiosis sistemik, Nokardiosis misetoma.
Nokardiosis sistemik : Penyakit ini disebabkan oleh jamur Nocardia asteroides,
infeksi terjadi melalui inhalasi. Kelainan primer terjadi pada paru paru
menyebar melalui darah dapat menginfeksi ginjal dan otak.

Diagnosa
Bahan berasal dari sputum, biopsi dan bahan klinik lainnya. Pada pemeriksaan

langsung dengan pulasan Gram atau tahan asam N. asteroides atau N. Brasiliensis
tampak sebagai hifa halus bercabang dan tahan asam pada pulasan gram bersifat
Gram positip.

Kultur
Tumbuh lambat pada media jamur atau nutrient agar berwarna putih atau

kuning. Koloni Glabrous, irreguler atau granuler.


Kriptokokosis
Merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans.
Jamur ini hidup ditanah yang mengandung kotoran burung merpati, menyebabkan
penyakit Meningitis. Infeksi terjadi jika spora masuk melalui inhalasi ke paru

paru, jamur berkembang biak dalam alveoli dan dapat menimbulkan penyakit
pada paru-paru jika faktor predisposisi mendukung. Sering kali gejala infeksi paru
tidak diperhatikan karena ringan, tetapi jika telah masuk ke otak dan timbul gejala
yang menonjol barulah dilakukan pemeriksaan terhadap kriptokokosis.

Diagnosis
Bahan pemeriksaan berasal dari sputum, LCS, darah, Urin, kotoran burung

merpati. Pemeriksaan langsung dilakukan dengan menggunakan tinta cina untuk


melihat adanya kapsul pada spora yang berbentuk oval.

Kultur
Biakan pada media Sabaroud agar tampak koloni berwarna krem, konsistensi

mucoid (berlendir).
Histoplasmosis
Merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur His toplasma capsulatum
yang bersifat dimorfik dan menyebabkan penyakit histoplasmosis. Infeksi terjadi
jika spora masuk melalui inhalasi pada paru-paru dan menimbulkan peradarangan
setempat, diikuti dengan pembesaran kelenjar limfe regional. Dengan foto
Rontgen tampak gambaran menyerupai tuberculosis paru. Jika infeksi dibiarkan
maka akan menimbulkan penyakit yang lebih parah lagi menyebar ke seluruh
organ dalam dan dapat menimbulkan kematian.

Diagnosa
Bahan pemeriksaan berasal dari sputum , darah, LCS, urin dan bahan biopsi.

Pemeriksaan langsung dari bahan yang berasal dari jaringan maka akan tampak
spora yang berbentu bulat / oval (yeast).

Kultur

Bahan pemeriksaab ditanam pada media Saboraud agar akan tumbuh koloni :
-

Koloni Yeast jika diinkubasi pada suhu 37 C

Koloni Mold jika diinkubasi pada suhu ruang.

Jika dilakukan pemeriksaan mikroskopik maka pada koloni yeast tampak spora
yang berbentuk oval. Dan pada koloni mold jika dilakukan pemeriksaan
mikroskopik maka tampak hifa- hifa dan makrokonidia.

Kandidiasis
Merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur Candida. Candida yang
paling patogen dan paling sering ditemukan adalah Candida albicans. Genus ini
hidup sebagai saprofit dan merupakan flora normal kulit dan selaput mukosa,
saluran pencernaan, vagina dialam ditemukan pada air, dan tanah. Infeksi terjadi
melalui kontak, tertelan, dan lesi/traumatic. Jamur ini berbentuk dimorfik yaitu
berbentuk hifa/pseudohifa ditemukan pada penyakit atau bentuk patogen dan
berbentuk ragi (yeast) merupakan bentuk istirahat sebagai saprofit. Candida
berada pada jaringan yang mati dan melakukan invasi kebawah permukaan kulit
atau mukosa yang luka, terjadinya invasi ke jaringan bawah kulit dipengaruhi oleh
faktor virulensi, kolonisasi pada kulit serta terjadinya penurunan daya tahan
tubuh. Faktor virulensi berperan dalam terjadinya adhesi Candida pada endotel
dan epitel, sekresi enzim memudahkan invasi jaringan dan kemampuan mengatasi
imunitas inang, Candida mampu membentuk pseudohifa dan enzim proteinase
aspartat untuk menembus sel jaringan inang. Terdapat beberapa bentuk gambaran
klinik yaitu:
1. Kandidiasis kurtis, terdiri dari: Kandidiasis intertriginosa, Paronikia,
Diaper diasease (kandidiasis popok) dan Glanuloma kandida.
2. Kandidiasis mukokotan terdiri dari:
o Pada mulut: thrush, glosistis, stomatis, chelitis, perleche
o Vaginitis
o Bronchus dan paru-paru
o Saluran pencernaan
o Kandidiassis mukokutan kronik
3. Kandidiasis
Meningitis,
desiminata.

Diagnosa

sistemik

terdiri

Septikemia,

dari:

kandidemia

Tractusurinarius,
latrogenik,

dan

Endokarditis,
Kandidiasis

Bahan pemeriksaan berasal dari swab vagina, sputum, LCS, sekret mata,
mukosa mulut. Pemeriksaan langsung dengan pulasan gram dan KOH 10
%. Secara mikroskopik tampak spora yang berbentuk oval, pada pulasan gram
bersifat gram positip. Ditemukan blastospora, klamidospora, pseudohifa.

Kultur
Pada media Sabaroud agar koloni tampak krem konsistensi smooth. Bau

seperti ragi.

Aspergilosis
Merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur Aspergillus. Jamur ini
terdapat dialam bebas, sehingga sporanya sering diisolasi dari udara.
Aspergilus termasuk jamur kontaminan. Species yang sering dianggap
penyebab penyakit adalah : A. Fumigatus, A. niger, dan A. flavus. Cara infeksi
tergantung lokasi yang diinfeksi ada beberapa bentuk yaitu: Aspergilosis
kulit, Aspergilosis sinus, Aspergilosis paru, Aspergilosis sistemik.

Diagnosis
Bahan pemeriksaan berasal dari sputum, sekret hidung, nanah, kerokan

kulit, kerokan kuku, biopsi jaringan dll. Pemeriksaan langsung dari bahan
pemeriksaan ditemukan hifa bersekat, bercabang dengan atau tanpa spora,
ditemukan bangunan aspergilus vesikel, sterigmata.

Kultur
Pada media Sabaroud agar dapat tumbuh cepat pada suhu ruang

membentuk koloni mold yang granuler, berserabut dengan beberapa warna


sebagai salah satu ciri identifikasi. Aspergilus fumigatus koloni berwarna
hijau, Aspergilus niger koloni berwarna hitam dan Aspergilus flavus koloni
berwarna putih atau kuning.

Gambar. Aspergillus sp.

Diagnosis Serologis
Uji Serologi dapat membantu bila diaplikasikan terhadap penyakit jamur tertentu; tidak

ada skrining antigen untuk "jamur" secara umum. Karena jamur adalah antigen yang buruk,
efektivitas dari serologi bervariasi pada infeksi jamur yang berbeda.. Tes serologi yang
paling lazim untuk jamur berdasarkan pada agglutinasi latex, imunodifusi ganda, fiksasi
komplemen dan immunoassay enzim. Agglutinasi latex baik untuk mendeteksi antibody
IgM, sedangkan imunodifusi ganda dan fiksasi komplemen biasanya untuk mendeteksi
antibody IgG. Sebagian tes EIA sedang dikembangkan untuk mendeteksi baik antibody IgG
maupun IgM.

Biopsi dan Histopatologi


Diagnosis definitif membutuhkan kultur dan identifikasi. Jamur patogenik biasanya

tumbuh pada Sabouraud Dextrose Agar (SDA) yang memiliki pH agak asam (sekitar 5-6);
cyclohexamide, penicillin, streptomycin atau antibiotik penghambat lainnya sering
ditambahkan untuk mencegah kontaminasi bakteri dan pertumbuhan yang berlebihan. Dua
kultur diinokulasi dan diinkubasi secara terpisah pada suhu 25oC dan 37oC
untuk mengungkapkan dimorfisme. Kultur diperiksa secara makroskopik dan mikroskopik.
Pertumbuhan tidak dinyatakan negatif sampai sesudah 4 minggu masa inkubasi.
Biopsi mungkin sangat berguna untuk identifikasi dan sebagai sebuah sumber dari
jamur yang menginvasi jaringan. Biasanya pewarnaan Gomori Methenamine Silver (GMS)
digunakan untuk menunjukkan organisme yang berwarna hitam dengan latar belakang

hijau. Pewarnaan hematoksilin eosin tidak selalu mewarnai organisme, tetapi ia akan
mewarnai sel-sel yang meradang.