Anda di halaman 1dari 23

PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI

PENDAHULUAN
Pembunuhan anak merupakan fenomena yang beragam dengan bermacam
kasus dan karakteristik. Pemberitaan mengenai hal tersebut kemungkinan
membangkitkan reaksi emosi yang kuat dalam masyarakat. Beberapa hal yang
melatarbelakangi terjadinya pembunuhan anak selama ini, diantaranya anak dijadikan
korban (human sacrifice), mengontrol jumlah penduduk, menghindari kemelaratan,
membatasi jumlah perempuan, menghindari kelahiran cacat, takhayul, dan
ilegitimasi.(1,2)
Pembunuhan pada anak menjadi pokok penyelidikan dan publikasi sejak awal
pencatatan sejarah. Dimana kasus pertama atas pengabaian dan kekerasan fatal pada
anak di laporkan di Modern Times yang disajikan oleh Ambrose Tardieau, seorang
ahli forensik Francis dari abad ke-19, yang kemudian diikuti oleh forensik medis
United Kingdom dan United States.(3)
John Caffey dan Henry Kempe merupakan klinisi yang diakui sebagai perintis
penyelidikan terhadap kekerasan anak di United States. Caffey (1946) seorang
radiologis Pitsburgh mempublikasikan gambaran pola trauma kepala dan fraktur yang
dikenal sebagai parent-infant stress syndrome dan Kempe (1967) menggambarkan
pola battered child syndrome yang dilaporkan dalam Journal of the American
Medical

Association.

DiMaio

seorang

forensik

patologi,

menggambarkan

karakteristik pembunuhan bayi, infant dan anak.(3)


Resnick (1970) menjelaskan semua pembunuhan anak dengan istilah
infanticide. Pembunuhan anak yang sebagian besar dilakukan oleh orang tua
dibedakan menjadi dua tipe, yaitu neonaticide dan filicide. Neonaticide didefenisikan
sebagai pembunuhan anak pada hari dia dilahirkan (<24 jam) dan filicide
didefenisikan sebagai pembunuhan terhadap anak anak laki-laki maupun perempuan
berumur lebih dari 24 jam (Resnick, 1970, p. 58).(4)

Sebagian besar pembunuhan anak terjadi pada dua tahun pertama kehidupan,
dimana insiden terbanyak adalah pada tahun pertama. Hal terjadi ketika anak berusia
sekitar enam minggu, dimana sang anak mulai menangis lebih sering dan pada saat
berumur dua tahun ketika tiba waktunya toilet training. Insiden kembali memuncak
pada umur remaja ketika anak menjadi lebih bebas di luar dan keterlibatan dengan
perilaku beresiko seperti alkohol, penyalahgunaan obat-obatan, penggunanaan
senjata, dan kekerasan antar geng.(3)
Menurut hubungan dengan korban, secara umum pelaku pembunuhan anak
dibagi menjadi intrafamilial dan extrafamilial. Intrafamilial diartikan sebagai orang
tua biologis, orang tua angkat ataupun orang tua tiri. Jason (1983) mengusulkan dua
pola pada pembunuhan anak, intrafamilial biasanya didominasi korban yang berumur
0-3 tahun dan kemungkinan dijelaskan sebagai fatal child abuse. Meskipun pelaku
pembunuhan extrafamilial jarang terjadi dan biasnya hanya dilakukan oleh pelaku
laki-laki, korban pembunuhan didominasi anak berumur lebih dari 12 tahun dan
dijelaskan sebagai fatal parental-societal neglect. Pembunuhan yang terjadi pada
umur diantara 3 dan 12 tahun biasanya dilakukan oleh salah satu dari keduanya
(mixture).(1)
DEFENISI
Pembunuhan anak sendiri (PAS) adalah pembunuhan yang dilakukan oleh
seorang ibu terhadap anak kandungnya, pada saat anak itu dilahirkan atau tidak lama
kemudian, karena takut akan ketahuan bahwa ia melahirkan anak.(5)
Dari defenisi tersebut, terdapat tiga unsur yang khas, yaitu pelaku adalah ibu
kandung dari bayi yang bersangkutan, pembunuhan dilakukan dalam tenggang waktu
tertentu dan si ibu dalam keadaan kejiwaan takut akan ketahuan bahwa ia melahirkan
anak.(5)
Ibu kandung

Hanya seorang ibu kandung yang dapat dipidana karena melakukan


pembunuhan anak sendiri ataupun pembunuhan anak sendiri yang direncanakan.
Seorang ayah yang membunuh anaknya pada saat dilahirkan atau tidak lama
kemudian, karena takut akan ketahuan bahwa karenanya telah lahir anak itu, akan
dipidana karena melakukan pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana. Tidak
dipermasalahkan, apakah wanita tersebut mempunyai suami atau tidak dan apakah
anak itu didapat didalam perkawinan atau diluar perkawinan.(5)
Phillip Resnick, seorang psikiater, berpendapat bahwa seorang ibu yang
membunuh anaknya sendiri (neonaticide) biasanya masih sangat muda, belum
menikah, belum dewasa sepenuhnya dan membunuh untuk menghilangkan anak yang
tidak diinginkannya.(2)
Tenggang waktu
Dalam undang-undang tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan tidak
lama kemusian, tidak ditentukan berapa menit, jam, atau hari setelah kelahiran.
Hendaknya tidak lama kemudian diartikan sebagai selama bayi baru lahir itu belum
dirawat.(5)
Keadaan kejiwaan si ibu
Keadaan kejiwaan takut akan ketahuan ia melahirkan anak, mendorong si ibu
untuk melakukan pembunuhan terhadap anaknya pada saat dilahirkan atau tidak lama
kemudian. Tidak dipersoalkan hal apa yang menyebabkan rasa takut ketahuan
melahirkan anak itu, apakah karena melahirkan anak haram atau karena hal lain.
Syarat takut ketahuan sudah terpenuhi bila si ibu mempunyai alasan untuk
merahasiakan kelahiran anak tersebut.(5)

INSIDEN
3

Di United States pembunuhan anak berumur dibawah empat tahun menduduki


peringkat pertama. Sekitar 45% dari semua pembunuhan anak terjadi pada 24 jam
pertama kehidupan (neonaticide). Dalam periode 1982-1987. Kira-kira 1,1% terjadi
di bawah umur satu tahun, 8%-9% terjadi di bawah umur delapan belas tahun.
Korban laki-laki dua kali lebih banyak dari korban perempuan. Setengah dari kasus
pembunuhan dilakukan oleh orang tua. Penenggelaman, penjeratan, trauma kepala,
sufokasi dan penelantaran merupakan metode yang sering dilakukan dalam kasus
pembunuhan anak.(6)
Di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, kekerasan yang paling lazim digunakan
pada kasus pembunuhan anak sendiri adalah mengakibatkan keadaan asfiksia
mekanik (sekitar 90%-95% dari 30-40 kasus pertahun) seperti pencekikan,
penjeratan, pembekapan dan penyumbatan. Bentuk kekerasan lainnya adalah
kekerasan tumpul pada kepala (sekitar 5%-10%) dan kekerasan tajam pada leher atau
dada (1 kasus dalam 6-7 tahun).(5)
PENYEBAB KEMATIAN (5)
Bila terbukti bayi lahir hidup (sudah bernapas), maka harus ditentukan
penyebab kematiannya. Pada kasus forensik penyebab kematian dapat merupakan
suatu sebab yang wajar , trauma yang tidak disengaja (kecelakaan), atau trauma yang
disengaja dalam hal ini pembunuhan. Adapun kematian akibat pembunuhan,
dibedakan dalam tindakan aktif dan pasif (kelalaian).
Tindakan pembunuhan aktif

Pembekapan
Penekanan yang ringan pada mulut dan hidung bayi yang baru saja
dilahirkan dengan bantal atau telapak tangan sebenarnya sudah cukup untuk
mematikannya, tanpa meninggalkan jejas. Namun umumnya si-ibu menjadi panic
pada saat mendengar tangisan bayi sehingga ia cepat-cepat membekap hidung
4

dan mulut bayi itu. Tindakan yang tergesa-gesa dengan tenaga yang berlebihan
itu dapat meninggalkan jejas pada muka bayi. Pada pembekapan dengan tangan
dapat ditemukan luka-luka memar dan lecet yang masing-masing disebabkan
oleh tekananbagian lunak ujung jari dan oleh tekanan kuku.
Pembekapan dengan bantal atau selimut mungkin tidak menimbulkan
luka namun serabut-serabut benang atau kapuk dapat tertinggal pada muka bayi.

Gambar 1.1
korban Pembekapan

Penyumbatan
Penyumbatan mulut dan saluran napas bagian atas dengan kertas atau
bahan pakaian kadang-kadang dijumpai. Umumnya benda tersebut ditinggalkan
di tempat dan penentuan penyebab kematian bayi menjadi mudah. Kerusakan
mukosa mulut dapat ditemukan. Kadang-kadang benda penyumbat disingkirka
si-ibu setelah bayi meninggal , maka pada setiap autopsi forensik bayi baru lahir
harus diteliti apakah terdapat kerusakan mukosa mulut dan adakah benda asing di
dalam mulut, misalnya secarik kertas atau serabut-serabut kain.

Dikutip dari kepustakaan No.7

Mulut dan hidung bayi dapat pula diikat dengan bahan pakaian. Pada
umumnya ikatan masih terdapat pada mayat bayi dan luka lecet dapat ditemukan
pada sudut mulut. Seorang ibu dapat pula menggunakan jari-jari tangannya untuk
menyumbat mulut dan faring bayi. Luka lecet dan memar mungkin ditemukan
pada mukosa mulut dan faring.

B
Gambar 2.2
Korban penyumbatan

Pencekikan
Pada pemeriksaan mayat bayi baru lahir, daerah leher dan tengkuk harus
diperiksa dengan teliti karena pencekikan merupakan cara yang sering dilakukan
dalam pembunuhan anak sendiri.
Pada pencekikan dari depan dengan tangan kanan dapatditemukan luka
memar pada sisi kanan leher akibat tekanan ibu jari dan beberapa luka lecet pada
sisi kiri akibat tekanan keempat jari lainnya.

Dikutip dari kepustakaan No.7

Gambar 3.3
Korban Pencekikan Manual
(tampak bekas kuku pelaku pada leher korban)
Pada pencekikan dengan kedua tangan dan dari depan dapat ditemukan
luka-luka lecet di daerah tengkuk dan luka memar di daerah leher. Luka lecet
bekas tekanan kuku dapat berbentuk garis lengkung atau garis lurus. Untuk
meredam tangisan bayi, si-ibu mungkin akan membekap mulut bayinya sehingga
luka-luka memar dan lecet dapat ditemuka disekitar mulut. Pencekikan kadangkadang disertai dengan pembekapan mmulut dan hidung untuk mempercepat
kematian bayi. Dalam hal tersebut ditemukan luka-luka disekitar mulut dan
hidung.

Penjeratan
Jerat pada umumnya terdapat in situ pada mayat bayi dan biasanya adalah
suatu benda yang erdapat dekat dengan si ibu. Pada jejas jerat dan diskitarnya

Dikutip dari kepustakaan no.8

dapat ditemukan perdarahan kecil-kecil. Pada leher dan muka dapat ditemukan
luka lecet akibat tergores kuku si ibu.
Tali pusat dapat juga digunakan untuk menjerat leher bayi, segera setelah
bayi lahir dan uri belum lahir. Tali pusat diputuskan dan dililitkan erat-erat pada
leher bayi. Namun apabila uri lahir bersamaan dengan bayi maka tali pusat
dililitkan poada leher bayi tanpa perlu diputuska terlebih dahulu. Tali pusat
menunjukkan tanda bekas digenggam dan ditarik berupa tersisihkannya
Whartons jelly di tempat yang tergenggam serta terdapat perdarahan.
Pemeriksaan paru-paru menunjukkan bayi telah bernapas.
Kadang-kadang tali pusat terlilit pada leher bayi. Apabila lilitan tersebut
tidak dilepaskan pada saat kepala bayi lahir maka denagn bertambah majunya
kelahiran, tali pusat menjadi tertarik dan akhirnya menjerat leher bayi. Pada
pemeriksaan mayat dapat ditemukan depresi akibat jeratan tali pusat pada leher
tetapi pada leher dan muka tidak ditemukan adanya luka memar, lecet atau jejas
kuku. Paru-paru menunjukkan gambaran belum mengalami aerasi. Namun
apabila bayi sempat bernapas sebelum mati terjerat oleh lilitan tali pusat maka
paru-paru akan menunjukkan beberapa alveoli yang sudah mengembang karen
aerasi. Tali pusat masih berhubungan dengan uri dan tidak menunjukkan bekas
digenggam dengn erat.

Penekanan Dada
Penekanan pada dada dengan akibat kematian bayi baru lahir jarang
ditemukan. Pada penekanan dengan tangan ditemukan memar dan luka lecet
pada kulit dada bayi itu, namun patah tulang iga biasanya tidak terdapat.
Kelainan itu mungkin tidak terdapat pada penekanan dengan menggunakan
bantal atau penekanan yang ringan dan tidak tergesa-gesa. Biasanya disertai
dengan pembekapan mulut bayi untuk meredam tangisnya sehingga memar dan
luka lecet dapat ditemukan pada muka bayi dan di sekitar mulut.
8

Penenggelaman
Pada autopsi atas mayat bayi yang baru lahir yang ditemukan dalam air,
misalnya dalam selokan, kali atau kakus, perlu ditentukan apakah bayi masih
hidup ataukah sudah mati pada saat tubuhnya sudah terbenam dalam air. Perlu
dipikirkan beberapa kemungkinan:
Bayi lahir hidup kemudian ditenggelamkan dalam air
Bayi lahir hidup kemudian dibunuh, misalnya dicekik sampai mati, dan
dibuang ke dalam kali atau selokan.
Bayi lahir mati kemudian dibuang ke selokan.
Sehubungan dengan adanya beberapa kemungkinan tersebut maka perlu
ditentukan ada tidaknya luka (intravital/post mortal), jika ada maka tentukan
kekerasan jenis apa yang menyebabkannya, apakah bayi sudah bernapas (lahir
hidup) ataukan belum bernapas (lahir mati), dan bila terbukti bayi sudah
bernapas

maka

tentukan

apakah

kematiannya

disebabkan

oleh

tenggelam/terbenam dalam air atau oleh sebab lain.


Autopsi dilakukan sebagai berikut : Trakea diikat di bawah krikoid dan
rongga dada dibuka, dilihat apakah paru-paru menunjukkan gambaran mozaik
atau tidak. Dengan pinset dan gunting yang bersih diangkat keluar paru kiri,
secara hati-hati menghindarkan kontaminasi dengan permukaan tubuh mayat.
Dengan siraman aquadest atau air leding yang mengalir, permukaan paru dimana
akan dibuat irisan, dibersihkan. Dibuat sayatan 2-3 cm (sedalam 1 cm) dengan
skalpel yang bersih. Dengan punggung skalpel diambil getah paru dari
penampang irisan dan diletakkan pada kaca objek. Kemudian diperiksa dengan
mikroskop ada tidaknya alga, diatom dan benda asing lain. Pemeriksaan diatom
juga merupakan cara lain yang lebih unggul daripada uji getah paru.
Pemeriksaan

mikroskopik

juga

dilakukan

pada

trakea.

Dengan

ditemukannya algae, kristal-kristal pasir, mungkin juga kista amuba, telur cacing
9

dalam trakea dan bronkus, serta algae dalam getah paru atau diatom-diatom,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bayi hidup pada waktu masuk ke dalam
air. Sebaliknya, bila tidak ditemukan dapat dibuat kesimpulan bahwa bayi sudah
mati ketika masuk ke dalam air.
Bila bayi bernapas pada saat dilahirkan dan segera dibunuh ibunya,
misalnya dibekap atau dicekik, dan kemudian dibuang ke dalam kali atau selokan
maka pemeriksaan getah paru akan negatif dan pemeriksaan makroskopik, uji
apung paru dan pemeriksaan histologik akan menunjukkan tanda-tanda aerasi
paru. Namun, apabila bayi hidup pada saat dilahirkan tetapi belum bernapas,
langsung tercemplung ke dalam air, maka tanda-tanda aerasi mungkin tidak
terdapat pada paru-paru tetapi pemeriksaan getah paru akan menunjukkan
adannya algae atau benda asing lain yang terdapat dalam air yang teraspirasi
karena bayi mengadakan inspiratory gaps pada masuk ke dalam air. Bila bayi
lahir mati dan tercemplung ke dalam air maka paru-paru tidak akan menunjukkan
tanda aerasi, uji apung paru negatif dan pemeriksaan getah paru pun negatif.
Perlu juga dipikirkan kemungkinan bahwa si ibu dengan sengaja
melahirkan di tepi kali8 atau kakus sehingga bayi tercemplung da;lam air dan
mati tenggelam. Dalam upaya untuk menutupi kesalahannya, dikemukakan
keterangan bahwa pada waktu ia merasa ingin buanng air besar, di luar dugaan
bayi lahir secara tiba-tiba (partus presipitatus). Keterangn mengenai telah telah
dialaminya partus presipitatus tidak selalu dianggap sebagai keterangan palsu.
Dengan partus presipitatus dimaksudkan bayi lahir secara tiba-tiba dan cepat,
umumnya sebelum si ibu merasa tanda-tanda akan melahirkan. Hal-hal yang
sesuai denga partus presipitatus adalah :
Jalan lahir lebar, bayi prematur
Ibu seorang multipara
Kaput suksedanium tidak terdapat
Moulage kepala yang ringan
10

Kekerasan Tumpul pada Kepala


Kekerasan tumpul pada kepala, misalnya dipukul dengan suatu benda
tumpul atau dibenturkan pada lantai/dinding, jarang dijumpai pada kasus-kasus
PAS di Jakarta.
Umumnya kepala bayi dipukul atau dibenturkan lebih dari satu kali. Pada
kulit kepala ditemukan resapan-resapan darah, pada atap tulang tengkorak
ditemukan beberapa fraktur. Satu pukulan/benturan pada tulang tengkorak,
misalnya tulang parietal, dapat menimbulkan fraktur berupa satu garis yang
berjalan dari perifer menuju ke titik benturan atau dua garis yang masing-masing
mulai dari perifer dan berakhir pada titik benturan. Kadang-kadang ditemukan
fragmentasi dan depresi tulang atap tengkorak. Fraktur basis kranii hampir selalu
berkaitan dengan pembunuhan anak sendiri. Pada bagian tubuh lain dapat
ditemukan memar atau luka lecet akibat geggaman si ibu yang berada dalam
keadaan panik.

Gambar 4.4
Fraktur Tulang Tengkorang pada Bayi
Kekerasan Tajam
Pembunuhan anak sendiri dengan
benda tajam sangat jarang dijumpai di
4

Dikutip dari kepustakan no.7

11

Jakarta. Tusukan pada fontanel dengan benda tajam tau runcing tidak pernah
ditemukan di Jakarta. Namun demikian kedua fontanel harus selalu diperiksa.
Profesor Muller dalam kuliahnya mengemukakan Engelen steek sebagai
suatu cara pembunuhan anak sendiri yang dapat dijumpai di pulau Madura.
Denganpaku yang tajam atau benda sejenis palatum molle ditusuk, melalui
foramen magnum hingga mencapai batang otak.

Tali Pusat Diputuskan Dan Tidak Diikat


Terdapat kemungkinan nahwa tali pusat diputuskan dan tidak diikat
dengan maksud terjadi perdarahan dan mematikan bayi. Akan tetapi, perdarahan
yang fatal tidak akan terjadi karena pembuluh-pembuluh darah tali pusat akan
mengkerut secara reflektorik dan tidak berfungsi lagi setelah terjadi perubahan
peredaran darah pada bayi.

Tindakan pembunuhan Pasif (tanpa melakukan tidakan kekerasan)


Seorang ibu dapat saja dengan sengaja menyebabkan kematian bayinya tanpa
melakukan tindakan kekerasan langsung pada bayinya. Misalnya, bayi lahir
tertelungkup diantara kedua paha ibunya dan mukanya terbenam dalam cairan
ketuban tetapi si ibu membiarkannya sehingga bayi itu mati lemas karena aspirasi
cairan ketuban yang tercampur dengan lendir, darah dan mungkin pula feses.
Autopsi dapat menentukan penyebab kematian bayi tetapi tidak dapat
menentukan apakah si ibu tersangka benar tidak dapat menolong bayinya karena
mengalami keadaan tidak berdaya pada saat itu atau telah dengan sengaja
membiarkan bayinya menemui ajalnya.

HAL-HAL YANG PERLU DITENTUKAN PADA AUTOPSI (5)

12

Pada autopsi forensik atas mayat bayi baru lahir, perlu ditentukan beberapa
hal di bawah ini :
1. Apakah bayi baru dilahirkan dan belum dirawat?
2. Apakah bayi sudah mampu hidup terus di luar kandungan ibu (viable) atau
belum (non-viable)?
3. Umur bayi dalam kandungan, premature, matur, atau postmatur?
4. Sudah bernapas (lahir hidup) atau belum (lahir mati)?
5. Bila terbukti lahir hidup dan telah dirawat, berapa jam/hari umur bayi tersebut
(umur setelah dilahirkan)?
6. Adakah tanda-tanda kekerasan?
7. Bila terbukti lahir hidup, apakah sebab matinya?
Bila terbukti lahir mati, apakah sebab kelahiran matinya?
Bayi baru lahir dan belum dirawat
Keadaan baru lahir dan belum dirawat sebagai petunjuk dari tidak lama
setelah dilahirkan, berarti tubuh bayi masih berlumuran darah dan verniks kaseosa
serta tali pusat mungkin masih berhubungan dengan uri atau sudah terpisah, tetapi
belum diikat (belum dirawat). Dalam hal bayi tercemplung atau dicemplungkan
dalam air maka darah dan sebagian dariverniks kaseosa dapat tersingkirkan dari
tubuhnya, namun masih bisa ditemukan pada lipat-lipat kulit dileher, belakang daun
telinga,ketiak, lipat siku, lipat lutut, dan selangkangan. Menurut ponsold, bayi baru
lahiradalah bayi yang baru dilahirkan dan belum dirawat, dan tali pusat yang belum
diikat merupakan petunjuk terpenting dari keadaan belum dirawat.
Sudah mampu hidup diluar kandungan ibu (viable)
Bayi yang viable, adalah bayi yang lahir setelah dikandung selama 28 minggu
atau lebih, dengan berat badan 1000 gram atau lebih, panjang badan kepala-tumit 35
cm atau lebih, lingkaran kepala oksipitofrontal 23 cm atau lebih dan tidak mengadung
cacat bawaan yang tidak memungkinkannya untuk hidup terus (incompatible with
life).

13

Cukup bulan
Bayi yang cukup bulan (matur) ialah bayi yang lahir setelah dikandung selama
37 minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh (259 sampai 293 hari).
Ukuran Antopometrik:
Berat badan 3000 gram (2500-4000).
Panjang badan kepala-tumit 46-50 cm
Panjang kepala tungging 30 cm atau lebih
Lingkar kepala oksipito-frontal 33-34 cm
Diameter dada (antero-posterior) 8-9 cm
Diameter perut (antero-posterior) 7-8 cm
Lingkar dada 30-33 cm
Lingkar perut 28-30 cm
Ciri-Ciri Eksternal :
Daun telinga pada bayi lahir cukup bulan, menunjukkan pembentukan tulang
rawan yang sudah sempurna, pada helix teraba tulang rawan yang keras pada
bagian dorsokrnialnya dan bila dilipat cepat kembali kekeadaan semula.
Putting susu pada bayiyang matur, sudah berbatas tegas, areola menonjol
diatas permukaan kulit dan diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih.
Kuku jari tangan sudah panjang, melampaui ujung jari, ujung distalnya tegas
dan relative keras sehingga tersa bila digarukkan pada telapak tangan.
Terdapat garis-garis pada seluruh telapak kaki, dari depan hingga tumit. Yang
dinilai garis yang relative lebar dan dalam.
Pada bayi laki-laki matur, testis sudah turun dengan sempurna, yakni sampai
pada dasar skrotum dan rugae pada kulit skrotum sudah lengkap. Dan pada
bayi perempuan yang matur, labia minor sudah tertutup dengan baik oleh labia
mayor.

14

Rambut kepala relative kasar, masing-masing helai terpisah satu sama laindan
tampak mengkilat, batas rambut pada dahi jelas.
Skin opacity cukup tebal sehingga pembuluh darah yang agak besar pada
dinding perut tidak tampak atau tampak samara-samar.
Processus xyphoideus membengkok kedorsal, sedangkan bayi premature
membengkok keventral atau satu bidang dengan korpusmanubrium sterni.
Alis mata sudah lengkap, yakni bagian lateralnya sudah ada.
Pusat Penulangan:
Pada bayi cukup bulan terdapat pusat penulangan epifisial diujung distal
femur dengan diameter 4-5 mm.dan adanya pusat penulangan pada tallus dan
calcaneus. Pusat penulangan pada tallus terdapat pada akhir masa kehamilan 7
bulan .

15

Lahir hidup
Seorang bayi dinyatakan lahir hidup apabila pada pemeriksaan dapat
dibuktikan bahwa bayi telah bernapas, dengan ciri sebagai berikut :
Rongga dada yang telah mengembang, pada pemeriksaan didapati diafragma
yang letaknya rendah, setinggi iga ke-5 atau ke-6.
Pada bayi yang telah bernapas, paru tampak mengembang dan telah mengisi
sebagian besar rongga dada.
Tertelannya udara (yang menyertai pernapasan) mangakibatkan telinga tengah
dan saluran pencernaan mengandung udara.
Gambaran makroskopis paru
Paru-paru bayi yang sudah bernapas (sudah teraerasikan) berwarna merah
muda

tidak

homogeny

tetapi

berupa

bercak-bercak

(mottled)

dan

menunjukkan gambaran mozaik berupa daerah-daerah poligonal yang


berwarna lebih muda dan menimbul di atas permukaan berselang-seling
dengan yang berwarna lebih tua dan kurang menimbul. Gambaran tersebut
tampak jelas pada tepi lobus paru. Tepi-tepi paru tumpul.
Paru-paru bayi yang belum bernapas (belum teraerasikan) berwarna merah
ungu tua seperti warna hati bayi, homogeny, tidak menunjukkan gambaran
mozaik dan tepi-tepinya tajam. Kadang-kadang tampak guratan-guratan yang
membentuk pola daerah-daerah poligonal pada permukaan paru. Warna
daerah-daerah yang poligonal itu tidak berbeda satu sama lain dan juga tidak
berbeda dengan warna paru di bagian lainnya.
Uji apung paru positif yang membuktikan telah terdapatnya udara dalam
alveoli paru. Dengan cara mengeluarkan seluruh alat rongga dada kemudian
dimasukkan dalam air, dan memperhatikan apakah kedua paru terapung.
Kemudian dilanjutkan dengn mengapungkan paru kanan dan kiri secara
tersendiri. Dan lobus paru dipisah dan diapungkan diair. Selanjutnya membuat
5 potongan kecil ( 5 mm x 10 mm x 10 mm) dari masing-masing lobus dan
diapungkan kembali. Pada paru yang telah mengalami pembusukan, potongan
16

kecil dari paru dapat mengapung sekalipun paru belum pernah bernapas. Hal
ini disebabkan oleh pengumpulan gas pembusukan pada jaringan interstisial
paru, yang dengan menekan potongan paru yang bersangkutan antara 2
karton, gas pembusukan dapat didesak keluar. Uji apung paru dinyatakan
positif bila potongan paru yang telah ditekan antara dua karton sebagian
besar masih tetap mengapung.
Penekanan tersebut bertujuan untuk menyingkirkan gas pembusukan dan tidal
air, yang terdapat dalam jaringan intertisial paru-paru yang membusuk.
Namun, bila paru tersebut sudah mebusuk sekali, alveoli sudah pecah atau
menjadi pecah pada penekanan, maka residual air tersingkirkan sehingga
jaringan paru akan tenggelam. Dengan demikian bayi yang telah bernapas
dapat dinilai sebagai belum bernapas setelah dilahirkan. Hal ini merupakan
salah satu alasan mengapa pada hasil uji apung paru yang negatif tidak dapat
dibuat kesimpulan bahwa bayi pasti belum bernapas. Bila uji apung paru
negatif, hanya dapat dibuat kesimpulan bayi mungkin belum bernapas.
Kepastian bahwa bayi belum bernapas baru diperoleh setelah dipadu dengan
tidak ditemukannya gambaran mozaik pada permukaan paru dan tidak
ditemukannya gambaran histologik yang khas untuk paru-paru yang belum
mengalami aerasi, yakni crumpled sac alveoli atau karusselalveolen.
Pada pemeriksaan mikroskopik akan tampak jaringan paru dengan alveoli
yang telah terbuka dengan dinding alveoli yang tipis.
Cara pengambilan jaringan untuk pemeriksaan mikrosopis, yaitu dengan
memasukkan seluruh paru kanan ke dalam formalin netral 10%. Setelah kirakira 12 jam dibuat beberapa irisan melintang pada paru untuk memungkinkan
fiksatif meresap dengan baik ke dalamnya. Setelah difiksasi selama 48 jam
diambil potongan-potongan melintang dari ketiga lobus dengan menggunakan
scalpel yang tajam atau pisau silet. juga dari sisa paru kiri diambil beberapa
potongan jaringan. Biasanya digunakan pewarnaan hematoksilin eosin, namun
untuk paru yang sudah membusuk , Reh (34) menganjurkan pewarnaan cara
17

Gomori, tatapi dapat pula dilakukan dengan pewarnaan cara Ladewig yang
lebih murah.
Dengan pewarnaan cara Gomori, ruang kosong akibat gas pembusukan atau
akibat aerasi dapat dibedakan, karena serabut-serabut retikulin yang terdapt
pada septa alveoli relatif resisten terhadap pembusukan. Pada pembusukan,
ruang kosong menunjukkan batas yang tidak rata karena tidak dibatasi oleh
serabut retikulin yang tegang, sebaliknya pada ruang kosong akibat aerasi,
menunujukkan batas yang rata dimanan tampak serabut yang tegang.

Gambar 5.5
Mikroskopis Paru Bayi Lahir Hidup (Live Born)

Dikutip dari kepustakaan No.7

18

Gambar 6.6
Mikroskopis Paru Bayi Lahir Mati (StillBorn)
Hidup berapa lama
Berapa jauh perubahan yang terjadi setelah bayi lahir dapat digunakan untuk
memperkirakan umur bayi itu. Perubahan setelah lahir yang dapat ditemukan pada
bayi yang mati atau dibunuh dalam waktu tidak lama setelah lahir hanyalah terisinya
lambung dengan udara dan perubahan pada perbatasan pusat dan tali pusat.
ASPEK MEDIKO-LEGAL
Dokter yang memeriksa sering mendapatkan pertanyaan berikut ini pada siding
pengadilan sehubungan dengan kasus pembunuhan bayi.

i.

Apakah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup atau mati ?

ii.

Jika bayi lahir hidup, berapa lama bayi tersebut bertahan ?

iii.

Apa penyebab kematian bayi ?

Dukutip dari kepustakaan No.7

19

PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI


Pasal 341
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa
anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
Pasal 342
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak
lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan
pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama
sembilan tahun.
Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang
lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak
dengan rencana
Pasal 338
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 340
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas
nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan
pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu,
paling lama dua puluh tahun.
Pada tindak pidana Pembunuhan Anak Sendiri, terdapat tiga unsur yang khas,
yaitu pelaku adalah ibu kandung dari bayi yang bersangkutan, pembunuhan dilakukan

20

dalam tenggang waktu tertentu dan si ibu dalam keadaan kejiwaan takut akan
ketahuan bahwa ia melahirkan anak.(5)
Ibu kandung
Hanya seorang ibu kandung yang dapat dipidana karena melakukan
pembunuhan anak sendiri (kinderdoodslag) ataupun pembunuhan anak sendiri yang
direncanakan (kindermoord). Seorang ayah yang membunuh anaknya pada saat
dilahirkan atau tidak lama kemudian, karena takut akan ketahuan bahwa karenanya
telah lahir anak itu, akan dipidana karena melakukan pembunuhan (KUHP pasal 338)
atau pembunuhan dengan rencana (KUHP pasal 340).
Tidak dipermasalahkan, apakah wanita terdakwa tersebut mempunyai suami
atau tidak, dan apakah anak itu didapat didalam perkawinan atau diluar perkawinan.(5)
Tenggang waktu
Undang-undang menetapkan tenggang waktu pada saat dilahirkan hingga
tidak lama kemudian. Dalam hal ibu kandung membunuh anaknya setelah batas
waktu tidak lama kemudian, maka ia dapat dipidana karena melakukan pembunuhan
atau pembunuhan dengan rencana.
Undang-undang tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan tidak lama
kemudian, tidak ditentukan berapa menit, jam, atau hari setelah kelahiran.
Hendaknya tidak lama kemudian diartikan sebagai selama bayi baru lahir itu belum
dirawat. Dengan perkataan lain selama bayi tersebut masih dalam keadaan seperti
pada saat ia meninggalkan jalan lahir. Tubuh yang masih berlumuran darah serta tali
pusat yang belum diikat dan dipisahkan dari uri menunjukkan bayi tersebut belum
dirawat.(5)
Keadaan kejiwaan si ibu
Keadaan kejiwaan takut akan ketahuan ia melahirkan anak, mendorong si ibu
untuk melakukan pembunuhan terhadap anaknya pada saat dilahirkan atau tidak lama
kemudian. Unsur kejiwaan inilah yang merupakan alasan yang mendasari
21

ditentukannya hukuman yang lebih ringan (dibandingkan dengan pidana pembunuan


biasa) pada tindak pidana Pembunuhan Anka Sendiri. Tidak dipersoalkan hal apa
yang menyebabkan rasa takut ketahuan melahirkan anak itu, apakah karena
melahirkan anak haram atau karena hal lain. Syarat takut ketahuan sudah terpenuhi
bila si ibu mempunyai alasan untuk merahasiakan kelahiran anak tersebut.(5)
Bila keputusan untuk membunuh anak telah diambil sebelum anak dilahirkan,
maka si ibu diancam dengan pidana telah melakukan Pembunuhan Anak Sendiri
dengan rencana (pasal 342 KUHP). Tidak dipermasalahkan jangka waktu antar saat
pengambilan keputusan dengan saat pelaksanaan PAS itu. Sekalipun jangka waktu
tersebut sangat pendek, pembunuhan anak itu tetap dianggap sebagai pembunuhan
anak sendiri dengan rencana.
MENYEMBUNYIKAN KELAHIRAN DAN KEMATIAN ANAK
Pasal 181
Barang

siapa

mengubur,

menyembunyikan,

membawa

lari

atau

menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau


kelahirannya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan
atau pidana denda paling banyak empat ribu lirna ratus rupiah.
Dalam hal terbukti bayi lahir mati atau tidak dapat dibuktikan (karena mayat
sudah sangat busuk atau tidak terdapatnya alat bukti lain), atau terbukti bayi lahir
hidup, tetapi tidak lama kemudian meninggal karena sebab yang wajar serta tidak
terbukti bahwa si ibu dengan sengaja meninggalkan anaknya itu, maka pidana penjara
atau denda karena menyembunyikan kelahiran dan kematian anaknya dapat
dijatuhkan kepada yang bersangkutan.(5)
TINDAK PIDANA LAIN YANG MENYANGKUT ANAK YANG BARU
DILAHIRKAN
22

Pasal 308
Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya,
tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau
meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, maka
maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.
Pasal 305
Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk
ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri
daripadanya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam
bulan.
Pasal 306
(1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 mengakibatkan
luka-luka berat, yang bersalah diancamdengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun enam bulan.
(2) Jika mengakibatkan kematian pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Terdorong oleh rasa takut akan ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak,
seorang ibu mungkin tidak membunuh anaknya yang baru dilahirkannya, tetapi
menempatkannya

di suatu tempat

untuk ditemukan oleh seseorang atau

meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya. Bila perbuatan


si ibu tidak menimbulkan luka berat pada bayinya, maka ia diancam dengan pidana
maksimal 2 tahun 9 bulan (separuh dari 5 tahun 6 bulan). Bila si bayi mengalami luka
berat, ancaman pidana menjadi maksimal 3 tahun 9 bulan (separuh dari 9 tahun).

23