Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Stres
1. Pengertian Stres
Dwight, 2004 mendefenisikan stres sebagai suatu perasaan ragu
terhadap kemampuan untuk mengatasi sesuatu karena persedian yang ada
tidak dapat memenuhi tuntutan kepadanya. Sedangkan menurut
Goldenson, 1970) mendefenisikan stres meruapakan suatu kondisi atau
situasi internal atau lingkungan yang dapat membebankan tuntutan
penyesuaian terhadap individu yang bersangktan (Saam dan Wahyuni,
2013).
Saam dan Wahyuni 2013, mengungkapkan stres merupakan reaksi
tubuh dan psikis terhadap tuntutan-tuntutan lingkungan kepada
seseorang. Reaksi tubuh terhadap stress misalnya berkeringat dingin,
nafas sesak dan jantung berdebar-debar. Reaksi psikis terhadap stres
misalnya frustasi, tegang, marah dan agresi. Dalam situasi stres terdapat
sejumlah perasaan seperti frustasi, ketegangan, marah, rasa permusuhan
atau agresi. Dengan kata lain, keadaan tersebut berada dalam tekanan
(Pressure).
Stres adalah reaksi fisik, mental, dan kimiawi, dari tubuh terhadap
situasi

yang

menakutkan,

mengejutkan,

membingungkan,

membahayakan, dan merisaukan seseorang (Nerney dan Grenberg, dalam


Priyoto, 2014).
2. Sumber Stres
Kondisi stres dapat disebabkan oleh berbagai penyebab atau sumber,
dalam istilah yang lebih umum disebut stressor adalah keadaan atau
situasi, objek atau individu, yang dapat menembus stres secara umum,
12

13

stressor dapat dibagi menjadi tiga yaitu stressor fisik, sosial dan
psikologis.
a. Stres fisik
Bentuk dari stressor fisik adalah suhu (panas dan dingin), suara
(bising, polusi udara, keracunan, obat-obatan (bahan kimia).
b. Stressor sosial
1) Stressor sosial, ekonomi dan politik,
misalnya tingkat inflasi yang tinggi,
tidak ada pekerjaan, pajak yang
tinggi, perubahan teknologi yang
cepet, kejahatan.
2) Keluarga misalnya peran seks, iri,
cemburu,

kematian

anggota

keluarga, misal keuangan, perbedaan


gaya hidup dengan

pasangan dan

anggota keluarga lainnya.


3) Jabatan
dan
karir
berkompetisi

dengan

misalnya
teman,

hubungan yang kurang begitu baik


dengan atasan dan teman sejawat,
peraturan aturan kerja.
4) Hubungan antar kelompok

dan

lingkungan misalnya harapan sosial


yang terlalu tinggu, pelayanan yang
buruk, hubungan sosial yang buruk.
c. Stressor psikologi
1) Frustasi

14

Frustasi adalah tidak tercapainya suatu keinginan atau tujuan


karena ada hambatan.
2) Ketidak pastian
Apabila seseorang sering berada dalam keraguan dan merasa tidak
pasti mengenai masa depan atau pekerjaan dan selalu merasa
bingung dan tertekan, rasa bersalah, perasaan khawatir (Saam dan
Wahyuni, 2013).
3. Faktor-Faktor Penyebab Stres Atau Stressor
Menurut Gregson, dkk, dalam Lestari (2015) Stressor merupakan
faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan terjadinya
respon stres. Stressor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari
kondisi fisik, psikologis, maupun sosial dan juga muncul pada situasi
kerja, dirumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan luarnya lainnya.
Pikiran dan perasaan individu sendiri yang di anggap sebagai suatu
ancaman baik yang nyata maupun imajinasi dapat juga menjadi stressor.
Penyebab stres dapat dikelompokkan kedalam dua kategori yaitu
kategori pribadi dan kategori kelompok atau organisasi. Kedua kategori
ini, baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada
individu atau kelompok dan prestasi individu dan kelompok yang
bersangkutan.
Santrock, (2003) dalam Syofia, (2009) menyebutkan bahwa faktorfaktor yang menyebabkan stres terdiri atas:
a. Beban yang terlalu berat, konflik dan frustasi

15

Beban yang terlalu berat menyebabkan perasaan tidak berdaya,


tidak memiliki harapan yang disebabkan oleh stres akibat pekerjaan
yang sangat berat dan akan membuat penderitanya merasa kelelahan
secara fisik dan emosional.
b. Faktor kepribadian
Tipe kepribadian A merupakan tipe kepribadian yang cenderung
untuk mengalami stres, dengan karakteristik kepribadian yang
memiliki perasaan kompetitif yang sangat berlebihan, kemauan yang
keras, tidak sabar, mudah marah dan sifat yang bemusuhan.
c. Faktor kognitif
Sesuatu yang menimbulkan stres tergantung bagaimana individu
menilai dan menginterpretasikan suatu kejadian secara kognitif.
Penilaian secara kognitif adalah istilah yang digunakan oleh Lazarus
untuk menggambarkan interpretasi individu terhadap kejadiankejadian dalam hidup mereka sebagai sesuatu yang berbahaya,
mengancam atau menantang dan keyakinan mereka dalam menghadapi
kejadian tersebut dengan efektif.
Sedangkan Iyus Yosep (2011), mengungkapkan pada umumnya
stressor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut:

a) Problem orang tua

16

Permasalahan yang dihadapi orang tua; misalnya kenakalan


anak, anak sakit, hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar,
besan dan lain sebagainya.
b) Hubungan interpersonal
Gangguan ini dapat berupa hubungan dengan kawan
dekat/orang-orang disekitar yang mengalami konflik.
c) Pekerjaan
Masalah pekerjaan merupakan sumber stres kedua setelah
masalah perkawinan; misalnya pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan
tidak cocok, mutasi, jabatan, kenaikan pangkat, pensiun, kehilangan
pekerjaan, dan lain sebagainya.
d) Lingkungan hidup
Kondisi lingkungan yang buruk besar pengaruhnya bagi
kesehatan seseorang. Rasa tercekam dan tidak merasa aman ini
amat mengganggu ketenangan dan ketenteraman hidup, sehingga
tidak jarang orang jatuh kedalam depresi dan kecemasan.
e) Keuangan
Masalah keuangan (kondisi sosial-ekonomi) yang tidak sehat
misalnya pendapatan jauh lebih rendah dari pengeluaran, terlibat
utang, kebangkrutan usaha, soal warisan dan lain sebagainya sangat
berpengaruh terhadap kesehatan jiwa seseorang.

f) Perkembangan

17

Yang dimaksud disini adalah masalah perkembangan baik fisik


maupun mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa,
menopouse, usia lanjut, dan sebagainya.
g) Faktor keluarga
Faktor keluarga yang dimaksud disini adalah faktor stres yang
dialami oleh seseorang yang disebabkan karena kondisi keluarga
yang tidak baik yaitu sikap orang tua.

4. Psikoneurologi Stres
Bagan 2.1 : Terjadinya Stres Secara Fisiologis (Dadang Harwari, 2012,
dalam, Suliswati., dkk, 2005)

Stresor Psikososial

Susunan syaraf pusat (Otak, system


limbic, system treansmisi
syaraf/neurotransmitter)

Kelenjar endokrin (sistem


hormonal,
kekebalans/imunitas

CEMAS

STRES

DEPRESI

18

Bagan 2.2 : Mekanisme General Adaption Syndrome Hans De Selve


Normal
Level Of Resistence

Alarm

Exhaustio

GAS atau General Adaption Syndrome adalah reaksi fisiologis dan


psikobiologis yang ditimbulkan akibat stres. Contohnya hilangnya nafsu
makan, melemahnya otot, menurunnya minat, perasaan cemas, dan
sebagainya. GAS diperkenalkan oleh Hans De Selye pada tahun 1920.
Hans De Selye menjelaskan model GAS dalam 3 (tiga) model tahapan:
a. Tahap Peringatan (Alarm)
Adalah tahap awal di mana tubuh langsung bereaksi terhadap
penyebab stres (stressor). Setelah bertemu stressor, tubuh bereaksi
dengan respon "fight-or-flight response" (melawan atau lari) dengan
mengaktifkan sistem saraf simpatik. Jika ada ancaman atau bahaya,
tubuh akan mengeluarkan hormon seperti hormon kortisol dan
adrenalin untuk mengatasi rasa cemas atau takut. Pada tahap ini
pertahanan tubuh dikerahkan untuk menghadapi stressor, akibatnya
kemampuan imun dapat menurun. Jika stressor hilang, maka tubuh
akan kembali normal.

b. Tahap Pertahanan (Level Of Resistence)

19

Pada tahap ini, sistem saraf parasimpatis kembali ke tingkat


normal, sementara tubuh memfokuskan kekuatan menghadapi
stressor. Reaksi tubuh naik melebihi batas normal, kadar glukosa
darah, kortisol dan adrenalin tetap tinggi, namun penampilan luar
organisme tampak normal. Reaksi yang berlebihan ini untuk melawan
penyebab ketegangan sehingga diharapkan akan ada penyesuaian.
Reaksi seperti ini bila berjalan terus menerus dapat menyebabkan
penyakit. Pada tahap ini dapat muncul gejala psikis dan psikosomatis.
c. Tahap Kelelahan (Exhaustion)
Pada tahap ini stres berlangsung cukup lama. Tubuh tidak
mampu menyingkirkan stressor, akibatnya tubuh terus menerus
membuat pertahanan ataupun perlawanan. Perlawanan yang yang
dilakukan terus menerus menyebabkan kelelahan pada tubuh.
Ketahanan tubuh (imun) berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali.
Pada tahap ini dapat muncul berbagai macam penyakit, seperti diare,
gatal-gatal, mual, tekanan darah tinggi hingga penyakit jantung.

20

Bagan 2.3 Teori Stres Dan Adaptasi


Hipotalamus
Merangsang
Sintem saraf simpatik
Mempersarafi

Kelenjar keringat
Medulla
mata
Hati Sistem perkemihann
Sistem GI (lambung dan usus)
Sistem pernapasan
System kardiovaskuler
Kelenjar airmata
Adrenal

Sel lem

Dilatasi
pupil

Motilitas
lambung
dan usus
Sekresi kontraksi sfingter
Dilatasi bronkiolus peningkatan
frekuensi
pernapasan
Glikoge-nesis dan glukone-ogenesi Sintesis glikogen
sekresirelaksasi Lipoli
ureter kontraksi
otot kandung kemih;
sfingt
Kekuatan kontraksi jantung
Curah jantung motilitas
Frekuensi
denyut
Pelepasan
neropinefrin

peningkatan sekresi

jantung

Tekanan
darah

21

5. Gejala Stres
Priyoto, (2014) Gejala terjadinya stres secara umum terdiri dari 2
(dua) gejala :
a. Gejala fisik
Beberapa bentuk gangguan fisik yang sering muncul pada stres
adalah nyeri dada, diare, selama beberapa hari, sakit kepala, mual,
jantung berdebar debar, lelah, sukar tidur, dan lain-lain.
b. Gejala psikis
Sementara bentuk gangguan psikis yang sering terlihat adalah cepat
marah, ingatan melemah, tak mampu berkonsentrasi, tidak mampu
menyelesaikan tugas, perilaku impulsive, reaksi berlebihan terhadap
hal sepele, daya kemampuan berkurang, tidak mampu santai pada saat
yang tepat, tidak tahan terhadap suara atau gangguan lain dan emosi
tidak terkendali.
6. Tahapan Stres
Gejala-gejala stres pada diri seseorang sering kali tidak disadari
karena perjalanan awal, tahapan stres timbul secara lambat. Dan baru
dirasakan saat gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya
sehari-hari baik dirumah, ditempat pekerjaanya ataupun di lingkungan
sosialnya. Robert Ambreg (1979) dalam penelitannya terdapat, dalam
Hawari (2001) terbagi dalam beberapa tahap stres seabagai berikut:
a. Stres Tahap I
Pada tahap Ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan
biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut :
1) Memiliki semangat kerja yang besar dan
berlebihan (over acting).
2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.

22

3) Merasa mampu menyelesaikan tugas lebih dari


biasanya namun tanpa disadari cadangan energi
dihabiskan (all out) disertai rasa gugup yang
berlebihan pula.
b. Stres Tahap II
Dalam tahapan ini dampak stres yang semula menyenangkan
bagaimana dijelaskan pada tahap 1 diatas mulai menghilang, dan
timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi
yang menjadi sedikit. Keluhan-keluhan yang sering dikatakan oleh
seseorang yang berada pada stres tahap 2 adalah sebagai berikut :
1) Merasa lelah sewaktu bangun pagi, yang
2)
3)
4)
5)

seharusnya merasa segar dan bersemangat.


Merasa mudah letih sesudah makan siang.
Cepat lelah setelah menjelang sore hari.
Sering mengeluh sakit perut.
Detakan jantung lebih keras dari biasanya

(berdebar-debar).
6) Otot-otot punggung dan pinggang terasa tegang.

c. Stres Tahap III


Bila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa
menghiraukan keluhan-keluhan sebagaimana di jelaskan pada stres
tahap 2 diatas, maka yang bersangkutan akan menunjukan keluhankeluhan yang semakin nyata dan mengganggu yaitu :

23

1) Gangguan pada lambung dan usus semakin terasa,


misalnya keluhan maag, buang air besar tidak
teratur (diare).
2) Otot-otot tegang semakin terasa.
3) Perasaan menjadi ketidak tenang dan ketegangan
emosional semakin meningkat.
4) Terjadi gangguan pola tidur (insomnia).
5) Keseimbangan tubuh terganggu (badan terasa
oyong dan serasa mau pingsan).
d. Stres Tahap IV
Seseorang lebih sering memeriksakan diri ke dokter sehubungan
dengan keluhan-keluhan stres tahap 3 diatas, dokter mengngatakan
tidak sakit karena tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik pada organ
tubuhnya. Bila hal ini tejadi dan terus memaksakan diri untuk bekerja
tanpa mengenal istirahat, maka gejala stres tahap 4 akan muncul :
1) Untuk bertahan sepanjang hari saja terasa amat
sulit.
2) Aktifitas

pekerjaan

menyenangkan

dan

yang
mudah

awalnya
diselesaikan

menjadi sangat membosankan dan terasa lebih


sulit.
3) Yang semula sangat cepat tanggap terhadap
situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk
merespon secara memadai (adequate).
4) Tidak mampu untuk melaksanakan kegiatan
rutin sehari-hari.
5) Terjadi gangguan pola tidur disertai dengan
mimpi-mimpi yang menegangkan.

24

6) Sering sekali menolak ajakan teman sebaya


karena tidak ada semangat.
7) Kosentrasi dan daya ingat menurun.
8) Timbul perasaan takut dan cemas yang tidak
dapat dijelaskan apa penyebabnya.
e. Stres Tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan masuk dalam
stres tahap 5 yang ditandai dengan hal-hal berikut :
1) Terjadi Kelelahan fisik dan mental yang
semakin mendalam.
2) Tidak mampu untuk menyelesaikan pekerjaan
sehari-hari yang ringan dan sederhana.
3) Terjadi gangguan sistem pencernaan semakin
berat.
4) Timbulnya perasaan ketakutan, kecemasan
semakin meningkat, mudah bingung dan panik.

f. Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seserang mengalami
serangan panik (panic attack) dan perasaan takut akan kematian.
Tidak jarang jika seseorang mengalami stres tahap VI ini akan di
bawak ke UGD (Unit Gawat Darurat) bahkan ICCU (Intensive
Coronary Care Unit), walaupun pada akhirnya akan di pulangan
karena tidak di temukan kelaianan fisik pada organ tubuh. Tahapan
stres VI sebagai berikut:
1) Detak jantung teramat keras.
2) Susah bernapas (sesak dan megap-megap).
3) Seluruh tubuh terasa gemetar, dingin dan
keringat bercucuran.

25

4) Tidak ada tenaga unutk mealkukan hal-hal


ringan.
5) Terjadi pingsan atau kolaps.
7. Tingkatan Stres
Menurut Priyoto, 2014 Stres sudah menjadi bagian hidup
masyarakat. Mungkin tidak ada manusia biasa yang belum pernah
merasakan stres. Stres kini menjadi manusiawi selama tidak berlarut-larut
berkepanjangan. Berdasarkan gejalanya, stres dibagi menjadi tiga tingkat
yaitu :
a. Stres Ringan
Stres ringan adalah stressor yang dihadapi setiap orang secara
teratur, seperti terlalu banyak tidur, kemacetan lalu-lintas, kritikan
dari atasan. Situasi seperti ini biasanya berlangsung beberapa menit
atau jam. Stressor ringan biasanya tidak disertai timbulnya gejala.
Ciri-cirinya yaitu semangat meningkat, pengelihatan tajam, energi
meningkat namun cadangan energinya menurun, kemampuan
menyelesaikan pelajaran meningkat, sering masalah letih tanpa sebab,
kadang-kadang terdapat gangguan sistem pencernaan, otot, perasaan
tidak santai. Stres yang ringan berguna karena dapat memacu
seseorang untuk berpikir dan berusaha lebih tangguh menghadapi
tantangan hidup.
b. Stres Sedang
Berlangsung lebih lama dari beberapa jam sampai beberapa hari.
Situasi perselisihan yang tidak terselesaikan dengan rekan, anak yang
sakit atau ketidak hadiran yang lama dan anggota keluarga merupakan
penyebab stres sedangkan ciri-cirinya yaitu sakit perut, mules, otot-

26

otot terasa tegang, perasaan tegang gangguan tidur, badan terasa


dingin.
c. Stres Berat
Adalah situasi yang berlangsung beberapa minggu sampai beberapa
bulan, seperti perselisihan perkawinan secara terus menerus, kesulitan
financial yang berlangsung lama karena tidak ada perbaikan, berpisah
dengan keluarga, berpindah tempat tinggal mempunyai penyakit
kronis dan termasuk perubahan fisik, psikologis, sosial pada usia
lanjut. Makin sering dan makin lama situasi stres, makin tinggi resiko
kesehatan yang ditimbulkan. Stres yang berkepanjangan dapat
mempengaruhi

kemampuan

unutuk

menyelesaikan

tugas

perkembangan. Ciri-cirinya yaitu sulit beraktivitas, gangguan


hubungan sosial, sulit tidur, penurunan kosentrasi, takut tidak jelas,
kelitihan meningkat, tidak mampu melakukan pekerjaan sederhana
gangguan sistem meningkat, perasaan takut meningkat.
B. Konsep Mahasiswa Perawat
1. Defenisi Mahasiswa
Mahasiswa adalah seorang yang sedang dalam proses menimba
ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani pendidikan pada
salah satu bentuk perguruan tinggi yang terdiri dari akademik,
politeknik, sekolah tinggi, institute dan universitas (Hartaji, 2012., dalam
Nurnaini, 2014).
Iren (2011), mengemukakan seperti yang di kutip Christofer Rettop
(2008) mendefinisikan bahwa mahasiswa merupakan pelajar yang
derajatnya lebih tinggi dari pelajar lain. Predikat ini deberikan karena

27

mereka belajar di tingkat pendidikan perguruan tinggi atau yang paling


tinggi, seperti para dosen mereka yang disebut dengan mahaguru. Selain
itu subjek yang dipelajari di perguruan tinggi juga menduduki tingkatan
yang lebih tinggi dari subyek-subyek yang dipelajari pada sekolah biasa.
Mahasiswa keperawatan merupakan calon perawat professional
yang akan melaksanakan asuhan keperawatan di palayanan (Suminarsis
& Sudaryanto, 2009).
Berdasarkan Undang-undang Pendidikan No.12 tahun (2012),
mendefinisikan mahasiswa sebagai

peserta didik pada jenjang

Pendidikan Tinggi. Dimana sistem pembelajaran adalah proses interaksi


mahasiswa dengan dosen dan sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar.
Mahasiswa memperoleh ilmu pengetahuan melalui proses
pembelajaran di unit perguruan tinggi yang merupakan jenjang
pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program
diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan
program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh
perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Ilmu
Pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali, disusun, dan
dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan
tertentu, yang dilandasi oleh metodologi ilmiah untuk menerangkan
gejala

alam

dan/atau

kemasyarakatan

tertentu.

Dimana

proses

pembelajaran juga penerapan dan pemanfaatan berbagai cabang Ilmu


pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan dan

28

kelangsungan hidup, serta peningkatan mutu kehidupan manusia (UU


DIKTI, 2012).
2. Pembelajaran Klinik
a. Defenisi Pembelajaran klinik
Nursalam dan Efendi, (2009), pembelajaran klinik fokus pada
pembalajaran dan pengajaran yang melibatkan klien secara langsung
dan pokok utama dari pendidikan keperawatan.
Pembelajar klinik meruapakan wahana yang memberikan
kesempatan pada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan teoritis
kedalam pembelajaran klinik (Amelia, 2008., dalam Putri, 2012).
Pembelajaran praktik klinik merupakan proses interaksi
mahasiswa dengan pasien dibawah bimbingan dan supervise yang
dilakukan pembimbing klinik (Haryani.,dkk 2011).
b. Tantangan pembelajaran klinik
Tantangan dari pembelajaran klinik, seabagai berikut:
a) Dibatasi oleh waktu.
b) Berorientasi pada tuntutan klinik (jumlah klien
dan mahsiswa).
c) Meningkatnya jumlah mahasiswa.
d) Jumlah klien yang sedikit (hari rawat inap nya
pendek, ada klien yang menolak inform consent).
e) Lingkungan klinik terkadang kurang kondusif
bagi pembelajaran.
f) Reward yang di terima oleh pembimbing klinik
kurang memenuhi standar (Nursalam dan Efendi,
2009).
c. Masalah pembelajaran klinik
Masalah utama dalam pembelajari klinik, sebagai berikut:
a) Belum jelasnya tujuan yang ingin dicapai.

29

b) Lebih

cenderung

berdasarkan

fakta

untuk
dari

fokus
pada

pada

aspek

pengembangan

pengetahuan
sikap

serta

keterampilan dalam menyelesaiakan masalah.


c) Peserta pendidik lebih banyak melakukan observasi pasif
dibandingkan partisipasi aktif.
d) Supervisi yang belum adekuat dan kurangnya masukan dari
pembimbing klinik.
e) Kesempatan untuk berdiskusi kurang.
f) Kurangnya penghargaan terhadap privasi dan harga diri klien.
Berbagai prinsip mengajar yang baik dapat diintegrasikan ke
dalam pembelajaran klinik. Salah satu hal yang diperlukan
merupakan perencanaan. Fungsi perencanaan merupakan memberikan
panduan kepada pembimbing dan mahasiswa dalam struktur dan
konteks seperti kerangka kerja untuk refleks dan evaluasi. Persiapan
merupakan hal yang perlu diamati oleh peserta didik untuk mengenai
apakah pembimbing klinik tersebut siap atau tidak.
Hampir sebagian besar perawat terlibat dalam bimbingan klinik.
Akan tetapi, kenyataan di lapangan, masih banyak pembimbing klinik
yang tidak memperoleh pelatihan mengajar formal dan asumsi bahwa
pembimbing klinik lebih mengetahui kasus yang ada di rungan.
Padahal penguasaan kasus yang mendalam saat di perlukan bagi
seorang pembimbing klinik. Memahami proses pembelajaran klinik
supaya lebih efektif.
Dalam pembelajaran klinik pasti timbul berbagai macam
pertanyaan akibat rasa keingintahuan dan hal hal baru yang di jumpai

30

di klinik. Pertanyaan memiliki banyak tujuan, seperti mengklarifikasi


pemahaman, meningkatan rasa keingintahuan peserta didik, dan
menekankan kunci pokok. Pertanyaan dapat di klasifikasikan menjadi
pertanyaan terbuka, pertanyaan tertutup, dan klasifikasi. Pertanyaan
tertutup memerlukan pemikiran yang lebih ringan dan kemampuan
mengingat sederhana. Di samping itu, pertanyaan tertutup dapat
mengakibatkan respons yang minim, sebab peserta didik khawatir
mejawab salah pembimbing klinik menanyakan alasan menjawab
tersebut. Di dalam teori, pertanyaan terbuka lebih mengembangkan
pemikiran yang mendalam, tetapi jika pertanyaan tersebut terlalu luas
kemungkinan akan menjadi tidak efektif. Isu-isu penting terkait
pembelajaran klinik adalah memastikan staf lain di ruangan tersebut
mengetahui apa yang terjadi menjelaskan dan meminta persetujuan
klien, tidak berdiskusi di depan klien dan memastikan informasi yang
relevan tersedia.
Peran pembimbing klinik adalah membuat peserta berpartisipasi
secara aktif, misalnya mereka diminta untuk melakukan observasi
khusus, menuliskan kemungkinan diagnosis keperawatan yang lain,
atau mencatat pertanyaan yang di ajukan klien. Pendekatan efektif
yang dapat dilakukan adalah hot seating. Di sini mahasiswa
melakukan konsultasi atau menjadi bagian darinya, apa yang di
temukan dapat di klarifikasi langsung kepada klien dan diskusi serta
umpan balik dapat dilakukan selam atau setelah pertemuan tersebut.
Walaupun bagi mahasiswa terkadang menakutkan, tetapi hal ini dapat

31

meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Model ini yang dapat di


terapkan adalah ketika mahasiswa menemui klien sendiri di rungan
terpisah dan dihadiri pembimbing klinik. Kemudian mahasiswa
memaparkan hasil temuannya dan dilanjutkan dengan diskusi
(Nursalam dan Efendi, 2009).
C. Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyebab Stres Pada Mahasiswa
Penelitian Saam tahun 2006, dalam Wahyuni (2013), menunjukan
beberapa faktor yang menyebabkan stres pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran UNRI, terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan stres
pada mahasiswa antara lain :
faktor pribadi yang meliputi (1) Ketidak mampuan mahasiswa dalam
mengatur waktu, (2) Uang bulanan yang habis sebelum waktunya, (3)
Terlalu memforsir diri untuk belajar, (4) Teman yang terlalu sering datang
ke kontrakan, (5) Sakit yang tak kunjung sembuh, bermasalah dengan
teman, (6) Suasana hati yang terus berubah-ubah, (7) Putus cinta, (8)
Dijauhi teman-teman, (9) Kurangnya kasih sayang dari kekasih, (10) Cinta
ditolak oleh seseorang, (11) Pasa waktu ulang tahun/hari special kekasih
tidak datang, (12) Diduakan oleh kekasih.
Faktor Keluarga meliputi (1) Orang tua yang bercerai, (2) Terlalu
dikekang oleh orang tua, (3) Keinginan orang tua yang dipaksakan ke
anaknya, (4) Orang tua yang bertengkar, (5) Orang tua yang pisah ranjang,
(6) Keinginan yang belum bisa dipenuhi oleh orang tua, (7) Ada masalah
dengan anggota keluarga lainnya, (8) Adik suka mengganggu saat belajar,

32

(9) Kurang diperhatikan orang tua, (10) Kurangnya kasih sayang yang
didapatkan dari orang tua, (11) Faktor ekonomi, perceraian, kawin atas
paksaan orang tua (Saam dan Wahyuni, 2013).
Faktor Kampus meliputi (1) Tugas yang terlalu banyak dan menumpuk
kuliah dari pagi sampai sore dalam satu hari, (2) Dosen yang mengubah
kesepakatan bersama secara sepihak, (3) Bahan ujian yang tidak pernah
dibahas sebelumnya, (4) Tugas selama praktek dilapangan/ruumah sakit,
(5) Pembimbing yang kurang respek, (6) Bahan kuliah yang belum dimiliki
sebelum kuliah tersebut selesai, (7) Nilai ujian jelek, (8) Selalu kena marah
oleh dosen, (9) Mendapatkan kesulitan atau tidak mengerti apa yang
dijalaskan oleh dosen, (10) Tidak bisa menjawab pertanyaan yang
dilontarkan oleh dosen, (11) Selalu ditanya oleh dosen setiap kali masuk,
(12) Senior yang suka mengganggu, (13) Ujian yang berturut-turut (Saam
dan Wahyuni, 2013).
Sedangkan menurut penelitian

Ghozali dan Aisyah, (2014)

menunjukkan faktor penyebab stres, jenis kelamin perempuan lebih sering


mengalami stres dibandingkan laki-laki itu dikarenakan oleh faktor biologis
perempuan yang berbeda dengan laki-laki dan penyebab stres yang paling
dominan pada mahasiswa sebelum menjalani praktek yaitu masuknya
dalam lingkungan yang baru dan sulit untuk beradaptasi, adapun penyebab
stres yang lain pada saat praktek di rumah sakit mahasiswa sering merasa
takut melakukan kesalahan saat menjalani praktek hal tersebut dapat
menyebabkan stres pada mahasiswa sedangkan hasil dari penelitian
Kasenda, 2012, dalam Gozali dan Aisyah, (2014) meliputi tentang

33

pengaruh bimbingan instruktur klinis pada respons stres mahasiswa


perawat di menunjukkan bahwa mahasiswa perawat memiliki tingkat stres
yang diinterpretasikan cukup stres sebelum dilakukan program bimbingan
klinis dan mengalami peningkatan setelah mengikuti program bimbingan
klinis jadi proses bimbingan dapat menyebabkan stres pada Mahasiswa.

D. Faktor-Faktor Penyebab stres saat Praktek di Rumah Sakit


a. Beban Tugas Selama Praktek/Asuhan Keperawatan
Menurut teori Santrock, (2003) dalam Syofia, (2009) beban yang
terlalu berat menyebabkan perasaan tidak berdaya, tidak memiliki
harapan yang disebabkan oleh stres akibat pekerjaan yang sangat berat
dan akan membuat penderitanya merasa kelelahan secara fisik dan
emosional.
Menurut Sherwood (2001) dalam Purwati (2010) Mahasiswa yang
mendapat beban tugas akademik dan mahasiswa merasakannya sebagai
suatu tugas yang berat maka dapat mengakibatkan aktifnya jalur neuralendokrin. Mengakibatkan sekresi hormone stres yang mengakibatkan
pembuluh darah mengalami Vasokontriksi mengakibatkan respon nyeri
pada bagian kepala
b. Proses Adaptasi Lingkungan Baru
Adaptasi adalah menyusaikan diri dengan kebutuhan atau tuntutan
baru yaitu suatu usaha untuk mencari keseimbangan kembali kedalam
keadaan normal (Ghozali dan Aisyah, 2014).

34

Adaptasi adalah menyesuaikan diri dengan kebutuhan atau


tuntutan baru; yaitu suatu usaha untuk mencari keseimbangan
kembali kedalam

keadaan

normal. Penyesuaian terhadap kondisi

lingkungan; modifikasi dari organisme atau penyesuaian organ secara


sempurna untuk dapat eksis pada kondisi lingkungan tersebut.
kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan
yang

lainnya, jika

seseorang

dapat

menyesuaikan

diri dengan

perubahan maka ia mempunyai kemampuan untuk menghadapi


rangsangan baik positif maupun negatif (Ghozali dan Aisyah,2011).
c. Kesalahan Dalam Melakukan Tindakan
Lingkungan

belajar

yang

baik

adalah

lingkungan

yang

menstimulasi rasa ingin tahu dan kebutuhan untuk mengerti bukan


menstimulasi kegelisahan dan kompetisi ( Emilia,2008 dalam Ghozali
dan Aisyah, 2011).
Menurut teori relly dan Oesman (2002) dalam Gozali dan Aisyah
(2011) lingkungan klinik kaya akan pengalaman belajar, tetapi
lingkungan yang kurang mendukung akan mematahkan semangat
belajar peserta didik untuk mencari pengalaman dan akibatnya banyak
kesempatan untuk maju hilang.
d. Dosen pembimbing dan proses bimbingan
Satria (2010) mengatakan bahwa instruction merupakan bagian
dari pendidikan yang merupakan suatu proses dimana lingkungan

35

seseorang dengan sengaja dikelola agar memungkinkan orang tersebut


dapat belajar melakukan hal tertentu atau memberikan respon terhadap
situasi tertentu pula.

E. Kerangka teori
Daftar Bagan 2.3 kerangka teori

Faktor pribadi
1. uang
bulanan
habis
waktunya
2. tidak bisa mengatur waktu

Faktor keluarga
1. orang tua yang bercerai,

untuk

2. terlalu dikekang orang


tua

3.

terlalu
belajar

4.

teman yang selalu sering datang


kontrakan

5.

sakit yang tak kunjung sembuh

6.

8.

bermasalah dengan teman


Karakter Individu
Mahasiswa:
putus cinta
Jenis Kelamin
suasana hati yang terus berubah

9.

dijauhi oleh teman-teman

7.

memaksakan

sebelum

10. kurang kasih sayang


11. cinta di tolak seseorang

diri

3. keinginan orang tua


yang dipaksakan ke
anaknya,
4. orang tua bertengkar,
5. orang tua pisah ranjang,
asertifyang belum
6. keinginan
bisa di penuhi orang
tua,

Faktor
Faktor Lingkungan
kampus
1.
1. selalu
tugas terlalu
di banyak
kucilkan dalam
kegiatan masyarakat
2. kuliah dari pagi sampai sore
2. selalu
dalam di
satu
diproses/dikritik
hari
oleh
masyarakat
3. dosen yang selalu mengubah
3. selalu
janji secara
di pandang
sepihakseblah mata
dan
diremehkan
oleh
4. masyarakat
bahan ujian yang tidak pernah
dibahas sebelumnya
4. selalu
disalahkan
oleh
5. masyarakat
bahan kuliah yang belum
dimiliki
sebelum
kuliah
5. tinggal
selesai di lingkungan
Pengetahuan
yang
tidak aman (banyak
Pengalaman
pencuri,
6. banyak
selalu dimarahi
dosen
Adaptif/maladaptif
preman, oleh
dan lain
lain)
7.
6.

mendapatkan
kesulitandengan
dan
tidak
bersosialisasi

tidak mengerti
apa yang di
masyarkat
sekitar
STRES PADA MAHASISWA
PERAWAT

7. adik suka mengganggu


saat belajar,

7.
8.

8. kurang

8.

kasih

sayang

jelaskan oleh dosen


tidak mempuyai teman di
tidak
bisa
lingkungan
sekitar menjawab
pertanyaan yang di beriakn
tidak
dosen disukai oleh lingkungan

36