Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI KASUS

BBLC DENGAN SEPSIS NEONATUS


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh:
Muflikh Try Harbiyan, S.Ked
2010310075
Diajukan kepada:
dr. Anik Dwiani, Sp, A.

Departemen Ilmu Kesehatan Anak


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2015

HALAMAN PENGESAHAN
BBLC DENGAN SEPSIS NEONATUS

Disusun oleh:
Muflikh Try Harbiyan, S.Ked
20100310049

Disetujui dan disahkan pada tanggal:

Mengetahui,
Dosen Pembimbing

dr. Anik Dwiani, Sp, A.

BAB I
PENDAHULUAN

Sepsis neonatorum sampai saat ini masih merupakan masalah utama di


bidang pelayanan dan perawatan neonatus. Menurut perkiraan World Health
Organization (WHO),terdapat 5 juta kematian neonatus setiap tahun dengan angka
mortalitas neonatus (kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per
1000 kelahiran hidup, dan 98% kematian tersebut berasal dari negara
berkembang. Secara khusus angka kematian neonatus di AsiaTenggara adalah 39
per 1000 kelahiran hidup. Dalam laporan WHO yang dikutip dari State of the
worlds mother 2007 (data tahun 2000-2003) dikemukakan bahwa 36% dari
kematian neonatus disebabkan oleh penyakit infeksi, diantaranya : sepsis;
pneumonia; tetanus; dan diare. Sedangkan 23% kasus disebabkan oleh asfiksia,
7% kasus disebabkan oleh kelainan bawaan, 27% kasus disebabkan oleh bayi
kurang bulan dan berat badan lahir rendah, serta 7% kasus oleh sebab lain.
Sepsis neonatorum sebagai salah satu bentuk penyakit infeksi pada bayi
baru lahir masih merupakan masalah utama yang belum dapat terpecahkan sampai
saatini. WHO juga melaporkan
case fatality rate pada kasus sepsis neonatorum masih tinggi,yaitu sebesar 40%.
Hal ini terjadi karena banyak faktor risiko infeksi pada masa perinatal yang belum
dapat dicegah dan ditanggulangi. Selanjutnya dikemukakan bahwa angka
kematian bayi dapat mencapai 50% apabila penatalaksanaan tidak dilakukan
dengan baik.
Angka kejadian/insidens sepsis di negara berkembang cukup tinggi yaitu
1,8-18 per 1000 kelahiran hidup dengan angka kematian sebesar 12-68%,
sedangkan di negara maju angka kejadian sepsis berkisar antara 3 per 1000
kelahiran hidup dengan angka kematian10,3%.6,7 Di Indonesia, angka tersebut
belum terdata. Data yang diperoleh dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
Jakarta periode Januari-September 2005, angka kejadian sepsis neonatorum
sebesar 13,68% dengan angka kematian sebesar 14,18%.
Seringkali sepsis merupakan dampak atau akibat dari masalah sebelumnya
yangterjadi pada bayi maupun ibu. Hipoksia atau gangguan sistem imunitas pada

bayi dengan asfiksia dan bayi berat lahir rendah/bayi kurang bulan dapat
mendorong terjadinya infeksiyang berakhir dengan sepsis neonatorum. Demikian
juga masalah pada ibu, misalnya ketuban pecah dini, panas sebelum melahirkan,
dan lain-lain. berisiko terjadi sepsis. Selain itu, pada bayi sepsis yang dapat
bertahan hidup, akan terjadi morbiditas lain yang juga tinggi. Sepsis neonatorum
dapat menimbulkan kerusakan otak yang disebabkan oleh meningitis, syok septik
atau hipoksemia dan juga kerusakan organ-organ lainnya seperti gangguan
fungsi jantung, paru-paru, hati, dan lain-lain.

BAB II
PRESENTASI KASUS
A. Identitas Pasien
-

Nama
Umur
Jenis kelamin
Berat Badan Lahir
Tanggal lahir
Alamat
Masuk Teratai tanggal

: Bayi Ny. TL
: 1 hari
: Perempuan
: 3450 gram
: 23 September 2015 pukul 10.53 WIB
: Bembem RT 01 Trimulyo Jetis Bantul
: 24 September 2015 pukul 22.00, dari

Bangsal Alamanda RS Panembahan Senopati Bantul


Diagnosa masuk
: Febris

B. Anamnesis
1. Riwayat Penyakit Sekarang :
Anak lahir dari Ibu G1P0A0 dengan umur kehamilan 40+2 minggu
secara SC atas indikasi Induksi Gagal di RSUD Panembahan Senopati
Bantul. Saat lahir bayi menangis tidak kuat, sehingga diobservasi terlebih
dahulu di bangsal Teratai. Setelah satu hari observasi dilakukan rawat
gabung dengan Ibu bayi di Bangsal Alamanda pada tanggal 24 September
2015. Malam hari ibu megeluh bayi demam, saat diukur suhu aksila
diketahui suhu bayi 38,2 oC sehingga bayi di rawat lagi di Bangsal Teratai.

2. Riwayat penyakit pada keluarga yang diturunkan


-

Riwayat kejang atau epilepsi disangkal


Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat penyakit hipertensi disangkal
Riwayat diabetes mellitus disangkal
Riwayat penyakit asma disangkal
Riwayat penyakit alergi disangkal
Kesan : Tidak ada riwayat penyakit yang diturunkan dari keluarga

3. Riwayat kehamilan dan persalinan


a. Riwayat Antenatal

Selama kehamilan ibu malakukan kontrol teratur setiap bulan ke bidan,


ANC 9x selama kehamilan. Selama hamil ibu sehat. Riwayat infeksi
selama kehamilan (-), hipertensi (-), diabetes melitus (-).
b. Riwayat Persalinan
Bayi lahir dari G1P0A0 di RSUD Panembahan Senopati secara SC
atas indikasi Induksi Gagal dengan umur kehamilan 40+2 minggu, tanpa
ada riwayat ketuban pecah dini, air ketuban jernih. Skor APGAR 6/8.
Berat badan lahir 3450 gram, panjang badan 50 cm, lingkar kepala 33 cm,
lingkar dada 32 cm, lingkar lengan atas 11 cm.
c. Riwayat Pasca Lahir
Bayi diobservasi setelah lahir di Bangsal Teratai karena lahir secara SC
atas indikasi Induksi dengan Asfiksia Ringan-Sedang. Bayi mendapat O 2
Headbox. Gerak bayi aktif (+) menangis kuat (+) Meco (+) dan BAK (+).
d. Riwayat Vaksinasi
Anak sudah mendapat Vit K dan HB0.
e. Riwayat Diet
Anak mendapatkan ASI dan tambahan susu formula.
4. Riwayat penyakit dahulu
Anak lahir secara SC atas indikasi Induksi dengan Asfiksia
Ringan-Sedang.

C. Anamnesis Sistem
1

Sistem Saraf Pusat

Demam (+), menggigil (-), kejang (-),

.
2

Sistem Kardiovaskuler

penurunan kesadaran (-)


Sesak (-), nadi (+), pucat (-), kaki

.
3

Sistem Respiratori

bengkak (-)
Batuk (-), pilek (-), sesak nafas (-),

vesikuler (-) ronkhi basah kasar (-),

Sistem Urinaria

suara lendir (-), krepitasi(-), wheezing (-)


BAK (+) normal dengan warna urin

.
5

Sistem Gastrointestinal

jernih
BAB (+), cair (-) lendir (-) muntah (-)

.
6

Sistem Anogenital

Anus (+), perempuan, labia mayor

.
7

Sistem Integumental

menutupi labia minor


Turgor dan elastisitas

dalam

batas

normal, kelainan kulit (-) tampak kuning

(+)
Gerakan bebas aktif, lumpuh (-)

Sistem Musculoskeletal

.
D. Pemeriksaan Fisik
1. Kesan Umum
Kesan umum : tampak lemah
Tanda vital
- Suhu : 38,2oC
- Nadi : 150 x/menit
- Nafas: 42 x/menit
- BBS : 3250 gram (turun 5%)
2. Kepala
Bentuk
: Mesocephal
Ukuran
: Normochepal
Rambut
: Warna tampak hitam, tidak rontok, distribusi merata.
Mata
: Mata cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-),
Sklera ikterik (-/-), sekret konjungtiva (+/+)
Telinga
: Malformasi (-) serumen (-/-)
Hidung
: Malformasi (-),lendir (-/-) , napas cuping hidung (-/-),
epiktasis (-/-)
Mulut
: pucat (-), bibir pecah-pecah (-), mucosa bucal basah (+)
candidiasis oral (-) sianosis (-) malformasi (-)
3. Leher
Lemas, pergerakan segala arah.
4. Thoraks
Inspeksi
: simetris, retraksi dinding dada (-), ketinggalan gerak (-)
Palpasi
: vokal fremitus (+/+)
Perkusi
: sonor (+/+)
Auskultasi
-Paru-paru : Vesikuler (+/+) Ronkhi (-/-) Wheezing (-/-)
-Jantung : S1 dan S2 Reguler (+)
5. Abdomen

Inspeksi
: Datar, umbilikus bau (-) umbilikus darah (-)
Auskultasi
: peristaltik usus (+)
Perkusi
: Timpani (+)
Palpasi
: hepatomegali (-), splenomegali (-)
6. Genitalia
Tidak ditemukan tanda-tanda peradangan pada bagian genitalia. Labia
mayor menutupi labia minor
7. Ekstremitas
Akral hangat, capilar refill < 2 detik, edema (-)
8. Kulit
Turgor kulit baik, tampak longgar, lembab, dan tidak berwarna pucat,
ikterik (+)
9. Refleks
Rooting reflex (+) sucking (+) moro (+) tonik (+) palmar graps (+)
E. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan

Hasil

Rujukan

Hemoglobin

14 gr/dl

12-16

Leukosit

20,30 ribu/uL

4-11,00

Eritrosit

4,87 juta/uL

4,0-5,0

Trombosit

321 ribu/uL

150-450

Hematokrit

46.4 %

36-46

Eosinofil

2%

2-4

Basofil

1%

0-1

Batang

1%

2-5

Segmen

67 %

51-67

Limfosit

20 %

20-35

Monosit

9%

4-8

Bilirubin Total

8.52 mg/dl

<1

Bilirubin Direk

0.45 mg/dl

<25

Bilirubin Indirek

8.07 mg/dl

0,00-1,11

CRP kuantitatif

11 mg/L

<6

F. Diagnosis Kerja
BBLC/ CB/ SMK/ SC a/i Induksi Gagal/ Asfiksia Ringan-Sedang/Ikterus
Patologis/ Infeksi Neonatus/
Penatalaksanaan :
-

Infus D5%
Fototerapi 24 jam
Inj Ampicilin 2x175 mg
Inj Gentamicin 2x9 mg

G. Follow Up Pasien
Tgl
Pemeriksaan
24/0 S Bayi pindah dari Bangsal Alamanda, gerak akif (+)
9/20
menangis kuat (+), BAK(+) BAB(+)
15
O Vital Sign
- Keadaan Umum : sedang
- Suhu : 37,80C
- Nafas : 40 x/menit
- Nadi : 145x/menit
Kepala
- Bentuk : mesocephal
- Ukuran : normochepal
- Rambut : warna tampak hitam, tidak rontok,
distribusi merata.
- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
refleks pupil (+/+), sekret konjungtiva (-/-)
- Telinga : serumen (-/-)
- Hidung : lendir (-/-) , napas cuping hidung (-/-),
epiktasis (-/-)
- Mulut : pucat (-), bibir pecah-pecah (-), mucosa
bucal basah (+) candidiasis oral (-) sianosis (-)
residu (-)
Leher
- Lemas, pergerakan segala arah.
Thoraks
- Inspeksi : simetris, retraksi dinding dada (-),
ketinggalan gerak (-)
- Palpasi : vokal fremitus (+/+)
- Perkusi : sonor (+/+)

Plan (P)
Infus D5%
Fototerapi
Injeksi
Ampicilin
2x175 mg
Injeksi
Gentamicin
2x9 mg

KC :
60 x 3,45 kg
: 207cc/hari

Tgl
25/0
9/20
15

Auskultasi :
Paru-paru :vesikuler (+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler (+)
Abdomen
- Inspeksi : datar, umbilikus bau (-) umbilikus darah
(-)
- Auskultasi : peristaltik usus (+)
- Perkusi : timpani (+)
- Palpasi : hepatomegali (-), splenomegali (-)
Genitalia
- Tidak ditemukan tanda-tanda peradangan pada
bagian genitalia. Labia mayor menutupi labia minor
Ekstremitas
- Akral hangat, capilar refill < 2 detik, edema (-)
Kulit
- Turgor kulit baik, kering, dan tidak berwarna pucat,
ikterik (-)
Refleks
- Rooting reflex (+) sucking (+) moro (+) tonik (+)
palmar graps (+)
A BBLC/ CB/ SMK/ SC a/i Induksi Gagal/ Asfiksia RinganSedang/ Ikterus Patologis/ Infeksi Neonatus
Pemeriksaan
S Gerak akif (+) menangis kuat (+), BAK(+) BAB(+)
residu (-)
O Vital Sign
- Keadaan Umum : sedang
- Suhu : 37 0C
- Nafas : 42 x/menit
- Nadi : 150 x/menit
Kepala
- Bentuk : mesocephal
- Ukuran : normochepal
- Rambut : warna tampak hitam, tidak rontok,
distribusi merata.
- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
refleks pupil (+/+), sekret konjungtiva (-/-)
- Telinga : serumen (-/-)
- Hidung : lendir (-/-) , napas cuping hidung (-/-),
epiktasis (-/-)
- Mulut : pucat (-), bibir pecah-pecah (-), mucosa
bucal basah (+) candidiasis oral (+) sianosis (-)

10

Plan (P)

Infus D5%
Fototerapi
Injeksi
Ampicilin
2x175 mg
Injeksi
Gentamicin
2x9 mg
Candistatin
drop 4x1cc

KC :
80 x 3,45 kg
: 276cc/hari

residu (-)
Leher
- Lemas, pergerakan segala arah.
Thoraks
- Inspeksi : simetris, retraksi dinding dada (-),
ketinggalan gerak (-)
- Palpasi : vokal fremitus (+/+)
- Perkusi : sonor (+/+)
- Auskultasi :
Paru-paru :vesikuler (+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler (+)
Abdomen
- Inspeksi : datar, umbilikus bau (-) umbilikus darah
(-)
- Auskultasi : peristaltik usus (+)
- Perkusi : timpani (+)
- Palpasi : hepatomegali (-), splenomegali (-)
Genitalia
- Tidak ditemukan tanda-tanda peradangan pada
bagian genitalia. Labia mayor menutupi labia minor
Ekstremitas
- Akral hangat, capilar refill < 2 detik, edema (-)
Kulit
- Turgor kulit baik, kering, dan tidak berwarna pucat,
ikterik (-)
Refleks
- Rooting reflex (+) sucking (+) moro (+) tonik (+)
palmar graps (+)
A BBLC/ CB/ SMK/ SC a/i Induksi Gagal/ Asfiksia RinganSedang/ Ikterus Patologis/ Infeksi Neonatus/ Candidiasis
oral
Pemeriksaan

Tgl
26/0
9/20
15

S Gerak akif (+) menangis kuat (+), BAK(+) BAB(+)


residu (+)
O Vital Sign
- Keadaan Umum : sedang
- Suhu : 38,50C
- Nafas : 40 x/menit
- Nadi : 152 x/menit
Kepala
- Bentuk : mesocephal
- Ukuran : normochepal
11

Plan (P)

Infus D5%
Fototerapi
Injeksi
Ampicilin
2x175 mg
Injeksi
Gentamicin
2x9 mg
Candistatin

Tgl
27/0
9/20

Rambut : warna tampak hitam, tidak rontok,


distribusi merata.
- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
refleks pupil (+/+), sekret konjungtiva (-/-)
- Telinga : serumen (-/-)
- Hidung : lendir (-/-) , napas cuping hidung (-/-),
epiktasis (-/-)
- Mulut : pucat (-), bibir pecah-pecah (-), mucosa
bucal basah (+) candidiasis oral (+) sianosis (-)
residu (-)
Leher
- Lemas, pergerakan segala arah.
Thoraks
- Inspeksi : simetris, retraksi dinding dada (-),
ketinggalan gerak (-)
- Palpasi : vokal fremitus (+/+)
- Perkusi : sonor (+/+)
- Auskultasi :
Paru-paru :vesikuler (+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler (+)
Abdomen
- Inspeksi : datar, umbilikus bau (-) umbilikus darah
(-)
- Auskultasi : peristaltik usus (+)
- Perkusi : timpani (+)
- Palpasi : hepatomegali (-), splenomegali (-)
Genitalia
- Tidak ditemukan tanda-tanda peradangan pada
bagian genitalia. Labia mayor menutupi labia minor
Ekstremitas
- Akral hangat, capilar refill < 2 detik, edema (-)
Kulit
- Turgor kulit baik, kering, dan tidak berwarna pucat,
ikterik (-)
Refleks
- Rooting reflex (+) sucking (+) moro (+) tonik (+)
palmar graps (+)
A BBLC/ CB/ SMK/ SC a/i Induksi Gagal/ Asfiksia RinganSedang/ Ikterus Patologis/ Candidiasis oral/ Sepsis
Pemeriksaan
S Gerak akif (+) menangis kuat (+), BAK(+) BAB(+)
residu (-)

12

drop 4x1cc
Paracetamol

KC :
100 x 3,45 kg
: 345cc/hari

Plan (P)
Infus D5%

15

Vital Sign
- Keadaan Umum : sedang
- Suhu : 36,60C
- Nafas : 51 x/menit
- Nadi : 163 x/menit
Kepala
- Bentuk : mesocephal
- Ukuran : normochepal
- Rambut : warna tampak hitam, tidak rontok,
distribusi merata.
- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
refleks pupil (+/+), sekret konjungtiva (-/-)
- Telinga : serumen (-/-)
- Hidung : lendir (-/-) , napas cuping hidung (-/-),
epiktasis (-/-)
- Mulut : pucat (-), bibir pecah-pecah (-), mucosa
bucal basah (+) candidiasis oral (+) sianosis (-)
residu (-)
Leher
- Lemas, pergerakan segala arah.
Thoraks
- Inspeksi : simetris, retraksi dinding dada (-),
ketinggalan gerak (-)
- Palpasi : vokal fremitus (+/+)
- Perkusi : sonor (+/+)
- Auskultasi :
Paru-paru :vesikuler (+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler (+)
Abdomen
- Inspeksi : datar, umbilikus bau (-) umbilikus darah
(-)
- Auskultasi : peristaltik usus (+)
- Perkusi : timpani (+)
- Palpasi : hepatomegali (-), splenomegali (-)
Genitalia
- Tidak ditemukan tanda-tanda peradangan pada
bagian genitalia. Labia mayor menutupi labia minor
Ekstremitas
- Akral hangat, capilar refill < 2 detik, edema (-)
Kulit
- Turgor kulit baik, kering, dan tidak berwarna pucat,
ikterik (-)

13

Fototerapi
Injeksi
Ampicilin
2x175 mg
Injeksi
Gentamicin
2x9 mg
Candistatin
drop 4x1cc

KC :
120 x 3,45 kg
: 414cc/hari

Tgl
28/0
9/20
15

Refleks
- Rooting reflex (+) sucking (+) moro (+) tonik (+)
palmar graps (+)
Lab BIL TID
- Bilirubin Total : 4,65 mg/dl
- Bilirubin Direk : 0,78 mg/dl
- Bilirubin Indirek : 3,87 mg/dl
A BBLC/ CB/ SMK/ SC a/i Induksi Gagal/ Asfiksia RinganSedang/ Ikterus Patologis/ Candidiasis oral/ Sepsis
Pemeriksaan
S Gerak akif (+) menangis kuat (+), BAK(+) BAB(+)
residu (-)
O Vital Sign
- Keadaan Umum : sedang
- Suhu : 37,10C
- Nafas : 56 x/menit
- Nadi : 128 x/menit
Kepala
- Bentuk : mesocephal
- Ukuran : normochepal
- Rambut : warna tampak hitam, tidak rontok,
distribusi merata.
- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
refleks pupil (+/+), sekret konjungtiva (-/-)
- Telinga : serumen (-/-)
- Hidung : lendir (-/-) , napas cuping hidung (-/-),
epiktasis (-/-)
- Mulut : pucat (-), bibir pecah-pecah (-), mucosa
bucal basah (+) candidiasis oral (-) sianosis (-)
residu (-)
Leher
- Lemas, pergerakan segala arah.
Thoraks
- Inspeksi : simetris, retraksi dinding dada (-),
ketinggalan gerak (-)
- Palpasi : vokal fremitus (+/+)
- Perkusi : sonor (+/+)
- Auskultasi :
Paru-paru :vesikuler (+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler (+)
Abdomen
- Inspeksi : datar, umbilikus bau (-) umbilikus darah
(-)

14

Plan (P)
LT/LS

KC :
140 x 3,45 kg
: 483cc/hari

- Auskultasi : peristaltik usus (+)


- Perkusi : timpani (+)
- Palpasi : hepatomegali (-), splenomegali (-)
Genitalia
- Tidak ditemukan tanda-tanda peradangan pada
bagian genitalia. Labia mayor menutupi labia minor
Ekstremitas
- Akral hangat, capilar refill < 2 detik, edema (-)
Kulit
- Turgor kulit baik, kering, dan tidak berwarna pucat,
ikterik (-)
Refleks
- Rooting reflex (+) sucking (+) moro (+) tonik (+)
palmar graps (+)
A BBLC/ CB/ SMK/ SC a/i Induksi Gagal/ Asfiksia RinganSedang/ Ikterus Patologis/ Candidiasis oral/ Sepsis

15

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. DASAR TEORI
Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam waktu 1 jam pertama
setelah lahir.
Klasifikasi menurut berat lahir yaitu :
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang dilahirkan dengan berat

lahir <2500 gram tanpa memandang masa gestasi.


Bayi berat lahir Cukup atau Normal (BBLC) adalah bayi yang dilahirkan

dengan berat lahir >2500-4000 gram


Bayi berat lahir lebih (BBLL) adalah bayi yang dilahirkan dengan berat

lahir >4000gram
Klasifikasi menurut masa gestasi atau umur kehamilan yaitu:
Bayi kurang bulan (BKB) adalah bayi dilahirkan dengan masa gestasi <37

minggu (<259 hari)


Bayi cukup bulan (BCB) adalah bayi dilahirkan dengan masa gestasi antara

37-42 minggu (259-293 hari)


Bayi lebih bulan (BLB) adalah bayi dilahirkan dengan masa gestasi
>42minggu (>294 hari)
Bayi kecil untuk masa kehamilan disebut juga Small of gestation

age/SGA adalah bayi dilahirkan dengan berat lahir <10 persentil menurut
grafik Lubchenco. Sedangkan bayi besar untuk masa kehamilan disebut juga
Large of gestation age/LGA adalah bayi yang dilahirkan dengan berat lahir
>90 persentil menurut grafik Lubchencho.
Gambar1. Grafik Lubchenco
B. SEPSIS PADA BAYI BARU LAHIR
1. Definisi
Sepsis pada BBL adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan
ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh sperti darah, cairan
sumsum tulang atau air kemih. Keadaan ini sering terjadi pada bayi berisiko
misalnya pada BKB, BBLR, bayi dengan Sindrom Gangguan Napas atau bayi

16

yang

lahir

dari

ibu

beresiko. The International

Sepsis

Definition

Conferences (ISDC), sepsis


adalah sindrom klinis dengan adanya Systemic Inflammatory Response
Syndrome (SIRS) dan infeksi. Sepsis merupakan suatu proses berkelanjutan
mulai dari infeksi, SIRS, sepsis, sepsis berat,renjatan/syok septik, disfungsi
multiorgan,

dan

akhirnya

kematian.

Sepsis

adalah

sindrom

yang

dikarakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah


yang dapat berkembang ke arah septisemia dan syok septik.
Sejak adanya konsensus dari American College

of

Chest

Physicians/Society of Critical Care Medicine (ACCP/SCCM) telah timbul


berbagai istilah dan definisi di bidang infeksi yang banyak pula dibahas pada
kelompok BBL dan penyakit anak. Istilah/definisi tersebut antara lain:
Sepsis merupakan sindrom respon sistemik (Systemic Inflammatary
Respons Syndrome SIRS) yang terjadi sebagai akibat infeksi bakteri,
virus, jamur, ataupun parasit. International Consensus Definitions for
Pediatric Sepsis menyebutkan bahwa SIRS bila memenuhi 2 dari 4 kriteria.
Manifestasi [1] hiper atau hipotermia (suhu >38,4 C atau <36 C), [2]
takikardia (nadi >160x/menit), [3] takipnea (nafas >60x/menit) [4] patologi

hitung sel darah putih (>15.000 sel/uL, <5.000 sel/uL, >10% immature)
Sepsis berat adalah keadaan sepsis yang disertai disfungsi organ
kardiovaskular dan gangguan napas akut atau terdapat gangguan dua organ

lain (seperti gangguan neurologi, hematologi, urogenital, dan hepatologi).


Syok sepsis terjadi apabila bayi masih dalam keadaan hipotensi walaupun
telah mendapatkan cairan adekuat

17

Sindroma disfungsi multi organ terjadi apabila bayi tidak mampu lagi
mempertahankan hemeostasis tubuh sehingga terjadi perubahan fungsi dua
atau lebih organ tubuh.
Pada masa neonatal berbagai bentuk infeksi dapat terjadi pada bayi. Di

negara berkembang macam infeksi yang sering ditemukan berturut-turut


infeksi saluran pernapasan akut, infeksi saluran cerna (diare), tetanus neonatal,
sepsis dan meningitis.
2. Etiologi
Bakteri, virus, jamur, dan protozoa (jarang) dapat menyebabkan sepsis
pada neonatus. Penyebab paling sering dari sepsis pada mulai awal adalah
streptokokus group B (SGB) dan bakteri enterik yang di dapat dari saluran
kelamin ibu. Sepsis mulai akhir dapat di sebabkanoleh SGB, virus herves
simplek, enterovirus dan E.coli. Pada bayi dengan berat badan lahir sangat
rendah, candida dan stapilokocus koagulasi-negatif (CONS), merupakan
patogen yang paling umum pada sepsis mulai-akhir.
3. Klasifikasi
Sepsis neonatus dibagi dalam dua kelompok yaitu sepsis awitan dini dan
awitan lambat. Pada awitan dini, kelainan ditemukan pada hari-hari pertama
kehidupan (umur dibawah 3 hari). Infeksi terjadi secara vertikal karena
penyakit ibu atau infeksi yang diderita ibu selama persalinan atau kelahiran.
Sedangkan awitan lambat terjadi disebabkan kuman yang berasal dari
lingkungan di sekitar bayi setelah hari ke 3 lahir. Proses infeksi semacam ini
disebut juga infeksi dengan transmisi horizontal dan termasuk didalamnya
infeksi karena kuman nosokomial. Selain perbedaan waktu paparan kuman,
kedua bentuk infeksi juga berbeda dalam macam kuman penyebab infeksi.
Selanjutnya baik patogenesis, gambaran klinis ataupun panatalaksaan penderita
tidak banyak berbeda dan sesuai dengan perjalanan sepsisnya yang dikenal
dengan cascade sepsis.
Tabel 1. Klasifikasi sepsis berdasarkan awitan dan sumber infeksi
Dini

Lambat

18

Awitan
Sumber Infeksi

< 72 jam
Jalan lahir

> 72 jam
Lingkungan (nosokomial)

4. Patofisiologi dan patogenesis


Selama dalam kandungan janin relatif aman terdahap kontaminasi kuman
karena terlindung oleh berbagai organ tubuh speerti plasenta, selaput amnion,
khorion, dan beberapa faktor anti infeksi pada cairan amnion. Walaupun
demikian kemungkinan kontaminasi kuman dapat timbul melalui barbagai
jalan yaitu:
a. Infeksi kuman, parasit atau virus yang diderita ibu dapat mencapai janin
melalui aliran darah menembus barier plasenta dan masuk sirkulasi janin.
Keadaan ini ditemukan pada infeksi TORCH, Triponema pallidum atau
Listeria dll.
b. Prosuder obstetri yang berkurang mempertahankan faktor aseptik/antisepsik
misalnya saat pengambilan contoh darah janin, bahan villi khorion atau
amniosentesis. Paparan kuman pada cairan amnion saat prosuder dilakukan
akan menimbulkan amnionitis dan pada akhirnya terjadi kontaminasi kuman
pada janin
c. Pada saat ketuban pecah, paparan kuman yang berasal dari vagina akan
lebih berperan dalam infeksi janin. Pada keadaan ini kuman vagina masuk
ke dalam rongga uterus dan bayi dapat terkontaminasi kuman melalui
saluran pernafasan ataupun saluran cerna. Kejadian kontaminasi kuman
pada bayi yang belum lahir akan meningkat apabila ketuban telah pecah
lebih dari 18-24 jam.
Setelah lahir, kontaminasi kuman terjadi dari lingkungan bayi baik
karena infeksi silang ataupun alat-alat yang digunakan bayi, bayi yang
mendapat prosedur neonatal invasif seperti kateterisasi umbilikus, bayi dalam
ventilator, kurang mempertahankan tindakan antisepsis, rawat inap yang terlalu
lama dan hunian terlalu padat, dll. Bila paparan kuman pada kelompok ini
berlanjut dan memasuki aliran darah maka akan terjadi respon tubuh yang
berupaya untuk mengeluarkan kuman dari tubuh. Berbagai reaksi tubuh yang
terjadi akan memperlihatkan pula bermacam gambaran klinis pada pasien.

19

Tergantung dari perjalan penyakit, gambaran klinis yang terlihat akan berbeda,
karenanya penatalaksanaan penderita selain pemberian antibiotik, harus
memperhatikan pula gangguan fungsi organ yang timbul akibat beratnya
penyakit.
Informasi dalam patogenesis dan perjalan penyakit penderita sepsis ini
merupakan konsep patogenesis infeksi yang banyak dibahas akhir-akhir ini dan
dikenal dengan konsep systemic inflammatory syndrome (SIRS). Dalam
konsep ini diajukan adanya gambaran klinik infeksi dengan respon sistemik
yang pada stadium lanjut menimbulkan perubahan fungsi berbagai organ tubuh
yang disebut multi organ dysfunction syndrome (MODS).
Dalam sistem imun, salah satu respon sistemik yang penting pada pasien
SIRS adalah pembentukan sitokin. Sitokin yang terbentuk dalam proses infeksi
berfungsi sebagai regulator reaksi tubuh terhadap infeksi, inflamasi, atau
trauma. Sebgain sitokin (Pro inflammatory cytokine seperti IL-1, IL-2, dan
TNF-) dapat memperburuk keadaan penyakit tetapi sebagian lainnya (antiinflammatory cytokin seperti IL-4 dan IL-10) bertindak merendam infeksi dan
mempertahankan homeostatis organ vital tubuh.
Perubahan sistem imun penderita sepsis menimbulkan perubahan pula
pada system koagulasi. Pada sistem koagulasi tersebut terjadi peningkatan
pembentukan Tissue Factor (TF) yang bersama dengan faktor VII darah akan
berperan pada proses koagulasi. Kedua faktor tersebut menimbulkan aktivasi
faktor IX dan X sehingga terjadi proses hiperkoagulasi yang menyebabkan
pembentukan trombin yang berlebihan dan selanjutnya meningkatkan produksi
fibrin dan fibrinogen. Pada pasien sepsis, respon fibrinolisis yang biasa terlihat
pada bayi normal juga terganggu. Supresi fibrinolisis terjadi karena
mengingkatnya pembentukan plasminogen-activator inhibitor-1 (PAI-1) yang
dirangsang oleh mediator proinflamasi (TNF-). Demikian pula pembentukan
trombin yang berlebihan berperan dalam aktivasi thrombin-activatable
fibrinolysis inhibitor (TAF-1) yaitu faktor yang menimbulkan supresi

20

fibrinolisis. Kedua faktor yang berperan dalam supresi ini mengakibatkan


akumulasi fibrin darah yang dapat menimbulkan mikrotrombi pada pembuluh
darah kecil sehingga terjadi gangguan sirkulasi. Gangguan tersebut
mengakibatkan hipoksemia jaringan dan hipotensi sehingga terjadi disfungsi
berbagai organ tubuh. Manifestasi disungsi multiorgan ini secara klinis dapat
memperlihatkan sindrom distres respirasi, hipotensi, gagal ginjal dan bila tidak
teratasi akan diakhiri dengan kematian pasien.
5. Diagnosis
Diagnosis sepsis neonatal sulit karena gambaran klinis pasien tidak
spesifik. Tanda dan gejala sepsis neonatal tidak berbeda dengan gejala penyakit
non infeksi berat lain pada BBL. Selain itu tidak ada satupun pemeriksaan
penunjang yang dapat dipakai sebagai pegangan tunggal dalam diagnosis pasti
pasien sepsis.
Dalam menentukan diagnosis diperlukan berbagai informasi antara lain
faktor resiko, gambaran klinis, pemeriksaan penunjang. Ketiga faktor ini perlu
dipertimbangkan saat menghadapi pasien karena salah satu faktor saja tidak
mungkin dipakai sebagai pegangan dalam menegakkan diagnosis pasien.
Faktor resiko sepsis dapat bervariasi tergantung awitan sepsis yang
diderita pasien. Pada awitan dini berbagai faktor yang terjadi selama
kehamilan, persalinan ataupun kelahiran dapat dipakai sebagai indikator untuk
melakukan elaborasi lebih lanjut sepsis neonatal. Berlainan dengan awitan dini
pada awitan lambat, infeksi terjadi karena sumber infeksi yang terdapat dalam
lingkungan pasien.
Pada sepsis awitan dini faktor resiko dikelompokkan menjadi:
a. Faktor ibu
- Persalinan dan kelahiran kurang bulan
- Ketuban pecah lebih dari 18-24 jam
- Chorioamnionitis
- Demam pada ibu (>380C)
- Infeksi saluran kencing pada ibu
- Faktor social ekonomi dan gizi ibu
b. Faktor bayi
- Asfiksia perinatal
- Berat lahir rendah
- Bayi kurang bulan
- Prosedur invasif
21

Kelainan bawaan
Berlainan dengan awitan dini, pada pasien awitan lambat, infeksi terjadi

karena sumber infeksi yang berasal dari lingkungan tempat perawatan pasien.
Keadaan ini sering ditemukan pada bayi yang dirawat di ruang intensif BBL,
bayi kurang bulan yang mengalami perawatan lama, nutrisi parenteral yang
berlarut-larut, infeksi yang bersumber dari alat perawatan bayi, infeksi
nosokomial atau infeksi silang dari bayi lain atau dari tenaga medik yang
merawat bayi.
Pada sepsis awitan dini janin yang terkena infeksi mungkin menderita
takikardi, lahir dengan asfiksia dan memerlukan resusitasi karena nilai apgar
rendah. Setelah lahir, bayi terlihat lemah dan tampak gembaran klinis sepsis
seperti hipo/hipertermia, hipoglikemia dan kadang-kadang hiperglikemia.
Selanjutnya akan terlihat berbagai kelainan gangguan fungsi organ tubuh. Jika
sepsis disertai dengan disfungsi organ, hipoperfusi, atau hipotensi sepsis
dikategorikan sebagai sepsis berat.
Gangguan fungsi organ tersebut antara lain kelainan susunan saraf pusat
seperti letargi, refleks hisap buruk, menangis lemah kadang-kadang terdengar
high pitch cry dan bayi menjadi iritabel serta mungkin disertai kejang.
Kelainan kardiovaskular seperti hipotensi, pucat, sianosis, dingin dan clummy
skin. Bayi dapat pula memperlihatkan kelainan hematologik, gastrointestinal
ataupun gangguan respirasi seperti perdarahan, ikterus, muntah, diare, distensi
abdomen, intoleransi minum, waktu pengosongan lambung yang memanjang,
takiphnu, apnu, merintih dan retraksi. Manifestasi gambaran klinis sangat
terpengaruh pada beratnya gangguan yang terjadi pada masing-masing organ.
Beberapa manifestasi klinis secara umum antara lain, demam,
hipotermia, tampak lemah, malas minum, letargi. Saluran cerna terdapat
distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatoegali. Saluran nafas apnea,
dyspnea, takipnea, retraksi, nafas cuping hidung, merintih, sianosis. Sistem
kardiovaskular pucat, sianosis, kulit berburuk, hipotensi. Sistem syaraf pusat
iritabilitas, tremor, kejang, hiperfleksi, pola pernafasan tidak teratur/ tidak
efektif, ubun-ubun menonjol. Hematologi kuning, spleeomegali, pucat, ptekie,
purpura, perdarahan.

22

Bervariasinya gejala klinis dan gambaran klinis yang tidak seragam


menyebabkan kesulitan dalam menentukan diagnosis pasti. Untuk hal itu
pemeriksaan penunjang baik pemeriksaan laboratorium ataupun pemeriksaan
khusus lainnya sering dipergunakan dalam membantu menegakkan diagnosis.
Sampai saat ini pemeriksaan laboratorium tunggal yang mempunyai sensitifitas
dan spesifitas tinggi sebgai indikator sepsis, belum ditemukan. Dalam
penentuan diagnosis, interpretasi hasil laboratorium hendaknya memperhatikan
faktor resiko dan gejala klinis yang yang terjadi.
Hasil biakkan darah sampai saat ini masih menjadi baku emas dalam
menentukan diagnosis, tetapi hasil pemeriksaan membutuhkan waktu minimal
2-5 hari. Ditemukan kuman pada pemeriksaan kultur dan pengecatan Gram
pada sample darah, urin, dan cairan serebrospinal serta dilakukan uji kepekaan
kuman.
Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan komponen-komponen darah.
Pada sepsis neonatal trombositopenia dapat ditemukan pada 10-60% pasien.
Jumlah trombosit biasanya kurang dari 100.000 dan terjadi pada 1-3minggu
setelah diagnosis sepsis ditegakkan.
Sel darah putih dianggap lebih sensitif dalam menunjang diagnosis
ketimbang hitung trombosit. Enam puluh persen pasien sepsis biasanya disertai
perubahan hitung neutrofil. Rasio antara neutrofil imatur dan neutrofil total
(rasio I/T) sering dipakai sebagai penunjang diagnosis sepsis neonatal.
Sensitifitas rasio I/T ini 60-90%, karenanya untuk diagnosis, perlu disertai
kombinasi dengan gambaran klinik dan pemeriksaan penunjang lain.
C-reactive protein (CRP), yaitu protein yang timbul pada fase akut
kerusakan jaringan, meningkatkan pada 50-90% pasien sepsis neonatal.
Peninggian kadar CRP ini terjadi 24 jam setelah terjadi sepsis, meningkat pada
hari 2-3 sakit dan menetap tinggi sampai infeksi teratasi. Karena protein ini
dapat meningkat pada berbagai kerusakan jaringan tubuh, pemeriksaan ini
tidak dapat dipakai sebagai indikator tunggal dalam menegakkan sepsis
neonatal. Nilai CRP akan lebih bermanfaat bila dilakukan secara serial karena
dapat memberikan informasi respon pemberian antibiotika serta dapat pula

23

dipergunakan untuk menentukan lamanya pemberian pengobatan dan kejadian


kekambuhan pada pasien dengan sepsis neonatal.
6. Manajemen
Eliminasi kuman merupakan pilihan utama dalam manajemen sepsis
neonatal. Pada kenyataan menentukan kuman secara pasti tidak mudah dan
membutuhkan waktu. Untuk memperoleh hasil yang optimal pengobatan sepsis
harus cepat dilaksanakan. Sehubungan dengan hal tersebut pemberian
antibiotika secara empiris terpaksa cepat diberikan untuk menghindarikan
berlanjutnya perjalanan penyakit.
Pemberian pengobatan pasien biasanya dengan memberikan antibotik
komninasi yang bertujuan untuk memperluas cakupan mikroorganisme patogen
yang mungkin diderita pasien. Diupayakan kombinasi antibiotik tersebut
mempunyai sensitifitas yang baik terhadap kuman Gram positif ataupun Gram
negatif. Tergantung pola dan resistensi kuman di masing-masing Rumah sakit
biasanya antibiotik yang dipilih adalah golongan ampisilin/ kloksasilin/
vankomisin dan golongan aminoglikoid/sefalosporin.
Lamanya pengobatan sangat tergantung kepada jenis kuman penyebab.
Pada pemderita yang disebabkan oleh kuman Gram Postif, pemberian
antibiotik dianjurkan selama 10-14 hari, sedangkan penderita Gram Negatif
peengobatan dapat diteruskan sampai 2-3 minggu.
Walaupun pemberian antibiotik masih merupakan tatlaksana utama
pengobatan sepsis neonatal, berbagai upaya pengobatan tambahan (adjunctive
therapy, adjuvant therapy) banyak dilaporkan memperbaiki mortalitas bayi.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Danamik, Sylviati M. Klasifikasi Bayi Menurut Berat Lahir dan Masa Gestasi
dalam Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama. Jakarta : Badan Penerbit IDAI.
2014.
2. Sarosa, Gatot Irawan. Kejang dan Spasme dalam Buku Ajar Neonatologi Edisi
Pertama. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2014.
3. Aminullah, Asril. Sepsis Pada Bayi Baru Lahir dalam Buku Ajar Neonatologi
Edisi pertama. Jakarta : badan Penerbit IDAI. 2014.
4. Kosim, Sholeh. Perilaku bayi Baru Lahir dalam Buku Ajar Neonatologi Edisi
Pertama. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2014.
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Sepsis Neonatal dalam Pedoman Pelayan
Medis. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2009.
6. Friedland, Ian R dan McCracken, George H. Sepsis dan Meningitis pada
Neonatus dalam: Buku Ajar Pediatri Rudolph. Vol. 1. Edisi 20. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
7. Behrman, Kliegman, Arvin. Sepsis dan Meningitis Neonatus dalam Nelson
Textbook of Pediatrics, Ilmu Kesehatan Anak, edisi ke 18. Jakarta : EGC

25