Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN JIWA
PERUBAHAN PROSES PIKIR: WAHAM

ADE DWI MAULANA


32.103.09.1.2013

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014

LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN JIWA
PERUBAHAN PROSES PIKIR : WAHAM
A. Masalah Utama
Perubahan proses pikir: waham
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas
yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan
latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan
perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang,
pertengkaran orang tua dan aniaya (Keliat, BA, 1999).
Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun
tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas sosial (Gail W.
Stuart, 2000).
Jadi waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan,
yang tetap dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain.
Pemikiran ini berasal dari pemikiran klien yang tidak terkontrol.
Tanda dan gejala:
a.

Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang


agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) secara berlebihan tetapi
tidak sesuai kenyataan.

b.

Hal tersebut diungkapkan secara berulang-ulang.

c.

Klien tampak tidak mempunyai orang lain.

d.

Takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai


lingkungan/realitas.

e.

Ekspresi wajah tegang.

f.

Mudah tersinggung.

g.

Marah tanpa sebab.

h.

Bermusuhan dan curiga.

i.

Komunikasi kacau.
2

j.

Perawatan diri terganggu.

2. Penyebab
Salah satu hal yang berperan penting menyebakan terjadinya waham
adalah gangguan konsep diri : harga diri rendah. Gangguan harga diri rendah
adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang
negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan
(Townsend, 1998). Schult & Videbeck (1998) mengatakan gangguan harga diri
rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diiri dan kemampuan, yang
diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung.
Tanda dan gejala:
a.

Perasaan malu terhadap diri sendiri.

b.

Rasa bersalah terhadap diri sendiri.

c.

Mengejek dan mengkritik diri sendiri.

d.

Merendahkan martabat.

e.

Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak


ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.

3.

f.

Percaya diri kurang.

g.

Mencederai diri.

h.

Klien sukar mengambil keputusan.

Akibat
Waham dapat menimbulkan klien menjadi beresiko untuk menciderai
diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Tanda dan gejala:
a.

Memperlihatkan permusuhan.

b.

Keras dan menuntut.

c.

Mendekati orang lain dengan ancaman.

d.

Memberi kata-kata ancaman.

e.

Menyentuh orang lain dengan cara menakutkan.

f.

Rencana melukai diri sendiri dan orang lain.

C.

Pohon Masalah

Kerusakan komunikasi verbal

Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Perubahan proses
pikir: waham

Core problem

Gangguan konsep diri : harga diri rendah


D.

Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji


1.

Masalah keperawatan
a.

Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan

b.

Kerusakan komunikasi: verbal

c.

Perubahan proses pikir: waham

d.

Gangguan konsep diri: harga diri rendah.

2.

Data yang dikaji


a.

Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan


1)

Data subyektif
Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin
membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya.

2)

Data obyektif
Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan
tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.

b.

Kerusakan komunikasi: verbal


1) Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
2) Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang
didengar dan kontak mata kurang

c.

Perubahan proses pikir: waham


1) Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
2) Data objektif
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan,
merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat
waspada, tidak tepat menilai lingkungan/realitas, ekspresi wajah klien
tegang, mudah tersinggung.

d.

Gangguan konsep diri: harga diri rendah.


1) Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa- apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri
2) Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternative tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

E.

F.

Diagnosa Keperawatan
1.

Waham.

2.

Harga diri rendah.


Rencana Tindakan Keperawatan

1. Gangguan proses pikir: waham


a. Tujuan umum:
Klien tidak menciderai diri, orang lain dan lingkungan.
b. Tujuan khusus:
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Rasional: Hubungan saling percaya adalah dasar kelancaran hubungan
interaksi.

Tindakan:
a)

Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan


diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,
buat kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).

b)

Jangan membantah dan mendukung waham klien : katakan


perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan
anda"

disertai

ekspresi

menerima,

katakan

perawat

tidak

mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan


isi waham klien.
c)

Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi :


katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat
yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan
klien sendirian.

d)

Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan


perawatan diri.

2) Klien dapat berhubungan dengan realitas.


Rasional: Menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita
itu lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien
dapat menghilangkan waham yang ada
Tindakan:
a)

Berbicara dengan klien dalam konteks


realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).

b)

Sertakan

klien

dalam

terapi

aktivitas

kelompok : orientasi realitas.


Berikan pujian pada tiap kegiatan positif

c)

yang dilakukan klien.


3) Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Rasional: Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi
perawat

dapat

merencanakan

untuk

memenuhinya

dan

lebih

memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa


nyaman dan aman
Tindakan:
a) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.

b) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di


rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
c) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
d) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
e) Atur

situasi

agar

klien

tidak

mempunyai

waktu

untuk

menggunakan wahamnya.
4)

Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi dan


kemampuannya
Rasional: mengoptimalkan kemampuan klien dalam melakukan
kegiatan dan klien dapat melakukan dengan senang hati
Tindakan:
a) Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan
b) Beri pujian atas keberhasilan klien
c) Diskusikan kemungkinan pelaksanan di rumah

5) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.


Rasional: Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka
akan memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang
bermanfaat bagi klien dari pada hanya memikirkannya
Tindakan:
a) Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
b) Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu
lalu dan saat ini yang realistis.
c) Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari - hari dan
perawatan diri).
d) Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai
kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien
sangat penting.
6) Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Rasional: Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan
mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek
samping obat
7

Tindakan:
a)

Diskusikan dengan klien tentang


nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.

b)

Bantu klien

menggunakan

obat

dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
c)

Anjurkan klien membicarakan efek


dan efek samping obat yang dirasakan.

d)

Beri reinforcement bila klien minum


obat yang benar.

7) Klien dapat dukungan dari keluarga.


Rasional: Dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan
mambentu proses penyembuhan klien
Tindakan:
a)

Diskusikan dengan keluarga


melalui pertemuan keluarga tentang : gejala waham, cara merawat
klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.

b)

Beri

reinforcement

atas

keterlibatan keluarga
2. Harga diri rendah
a.

Tujuan umum:
Klien tidak terjadi perubahan proses pikir: waham dan klien akan
meningkat harga dirinya.

b.

Tujuan khusus:
1)

Klien dapat membina hubungan saling percaya


Rasional: Hubungan saling percaya adalah dasar kelancaran hubungan
interaksi.
Tindakan:
a) Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, perkenalan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
c) Sediakan waktu untuk mendengarkan klien

d) Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang


berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya
sendiri.
2)

Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang


dimiliki
Rasional: Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas,
kontrol diri atau integritas ego diperlakukan sebagai dasar asuhan
keperawatannya, Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri
klien dan pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan
kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian
Tindakan:
a) Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
b) Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien,
utamakan memberi pujian yang realistis
c) Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

3)

Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.


Rasional: Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang
dimiliki adalah prasyarat untuk berubah dan pengertian tentang
kemampuan

yang

dimiliki

diri

memotivasi

untuk

tetap

mempertahankan penggunaannya.
Tindakan:
a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
b) Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang
ke rumah.
4)

Klien dapat menetapkan/merencanakan kegiatan sesuai dengan


kemampuan yang dimiliki
Rasional: Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap
dirinya sendiri, Klien perlu bertindak secara realistis dalam
kehidupannya dan contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi
klien untuk melakukannya.
Tindakan:
a) Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap
hari sesuai kemampuan
b) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
9

c) Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.


5)

Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan


Rasional: Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat
meningkatkan motivasi dan harga diri klien, reinforcement positif
dapat meningkatkan harga diri klien dan memberikan kesempatan
kepada klien untuk tetap melakukan kegiatan yang bisa dilakukan
Tindakan:
a) Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b) Beri pujian atas keberhasilan klien
c) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.

6)

Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada


Rasional: Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di
rumah, support sistem keluarga akan sangat berpengaruh dalam
mempercepat proses penyembuhan klien dan meningkatkan peran serta
keluarga dalam merawat klien di rumah.
Tindakan:
a) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat
klien.
b) Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
c) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
d) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

10

G.

Daftar Pustaka
Aziz R, dkk. 2003. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa . Semarang:
RSJD Dr. Amino Gonohutomo
Darsana W. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Waham. 2009. Diakses
pada tanggal 14 November 2011 dari http://darsananursejiwa.blogspot.com /
2009/03/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-waham.html
Keliat BA. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Stuart GW, Sundeen. 2000. Buku Saku Keperawatan Jiwa (ed. Indonesia).
Jakarta: EGC.
Towsend. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan
Psikiatri (ed. Indonesia). Jakarta: EGC

11