Anda di halaman 1dari 24

PERANCANGAN ALAT PROSES

PERANCANGAN STORAGE VESSEL

DISUSUN OLEH :
Nama

: 1. Khoirul Huda (12 644 001)


2. Niken Widianti (12 644 009)
3. Rita Ahtagia (12 644 011)
4. Mardiah (12 644 025)

Kelompok

: I (Satu)

Kelas

: IV - S1 Terapan
JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA


2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt. karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas yang berjudul Perancangan Storage Vessel ini dapat diselesaikan.
Tugas ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Perancangan Alat

Proses.
Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis mendapat bantuan
dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terimakasih. Tugas ini
bukanlah karya yang sempurna karena masih banyak kekurangan, baik dalam hal isi
maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempernaan makalah ini.
Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat khususnya bagi penulis
umumnya bagi pembaca. Amin.

Samarinda, 04 Maret 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perancangan alat-alat proses yang dalam praktek merupakan bagian terpenting

dan perancangan pabrik kimia, memiliki beberapa macam tingkatan perancangan


sesuai dengan perancangan pabrik kimia.
Perancangan alat proses dapat dilakukan dengan cara menggunakan rumusrumus dan pengetahuan teknik kimia, tetapi dapat juga mempergunakan bantuan
pertolongan hasil pengalaman orang lain atau pabrik pembuat alat yang dirancang,
yang biasanya berbentuk : informasi langsung rumus empiris, tabel-tabel dan grafik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja bentuk dan Jenis Vessel ?
2. Bagaimana kondisi Operasi Vessel?
3. Jelaskan Perancangan Tebal Plat untuk dinding/Shell?
4. Jelaskan Perancangan untuk design stabilitas dari Vessel?
5. Bagaimanakah perhitungan Kemiringan Vessel?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui bentuk dan Jenis Vessel
2. Untuk mengetahui bagaimanakondisi Operasi Vesse.
3. Untuk mengetahui Perancangan Tebal Plat untuk dinding/Shell
4. Untuk mengetahui Perancangan untuk design stabilitas dari Vessel
5. Untuk mengetahui bagaimanaperhitungan Kemiringan Vessel.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Bentuk dan Jenis Vessel
Di industri banyak dijumpai berbagai jenis ataupun bentuk beserta fungsi dari
vessel. Secara umum vessel dikenal dengan sebutan bejana bertekanan. Dalam arti

pada pemakaianya selalu bekerja dengan beban tekan (under working pressure). Jika
didasarkan pada bentuk geometrik dari vessel, dikenal ada vessel
Vessel berbentuk bola
Vessel berbentuk silinder
Jika didasarkan pada fungsi / penggunaan vessel, di industri dijumpai ada
vessel yang berfungsi untuk:
Berlangsungnya suatu proses kimia (vessel proses mis. Reaktor, menara
pemisah / destilation tower dll.)
Untuk melakukan penyimpanan bahan kimia. Secara umum vessel yang pada
penggunaannya sebagai tempat penyimpanan (storage vessel), dikenal
dengan sebutan tangki storage
Baik vessel ataupun tangki storage pada pemakaian dapat pada beban
tekanan yang tinggi (pressure vessel, stoarage vessel: tangki bola), ataupun
pada beban tekanan yang rendah ( under vacuum pressure), bahkan pada
tekanan atmospherik (tang penyimpan silinder tegak )
Jika didasarkan pada bentuk tangki silinder, ada yang berbentuk silinder tegak
(pada umumnya flat bottom dan conical roof ataupun dome roof dan silinder
horisonatl (formed heads/closures). Untuk silinder tegak pada umunya dipakai untuk
menyimpan zat cair yang tidak bersifat volatil ataupun juga boleh zat cair volatil,
dengan kondisi tekanan penyimpanan atmospherik ( 1 atm absolut). Suhu zat cair
yang disimpan pada umunya pada suhu didihnya (jika suhu didih dibawah suhu
lingkungan) ataupun pada suhu lingkungan (jika zat cair yang disimpan suhu
didihnya lebih tinggi dp suhu lingkungan). Untuk tangki silinder tegak, konstruksi
atap (roof) dapat berupa fixed roof ataupun floating roof. Untuk zat cair yang sangat
volatil, untuk meminimasi loss dan konsequences, dipakai konstruksi floating roof.
Jika designer memilih tangki silinder tegak, maka tangki silinder diletakan
secara outdoor system, jika silinder yang dipilih horisontal untuk tujuan storage,
mka dipakai indoor sistem dengan cara dikubur di bawah tanah, Tangki penyimpan
bentuk bola, pada umunya dipakai untuk meneyimpan zat cair yang volatil

( ditengarai dengan titik didih dibawah suhu lingkungan) dengan kondisi tekanan
penyimpanan pada elevated pressure ( tergantung suhu zat cair dalam tangki bola).
Tangki bola selalu diletakkan outdoor sistem.
Hampir semua vessel di industri dijumpai bentuk formed head vesse. Bentuk
tuitup dari vessel ini bermacam - macam tergantung dari kondisi tekanan dalam
vessel. Untuk proses vesel pertimbangan konstruksi veseel itu apakah tegak /
horosontal sangat tergantung pada pertimbangan kebutuhan prosesnya (bukan
operating condition). Seperti vessel untuk reaktor, salah satu kebutuhan adaiah
distribusi bahan dalam reaktor, apa yang didapat jika vessel ini dipasang horisontal
2.2 Kondisi Operasi Vessel
Tergantung fungsi dari vessel itu dalam perancangannya. Jika vessel dirancang
untuk kebutuhan proses, maka kondisi pernacangan harus sesauai dengan
pertimbangan proses (tekanan, suhu agar proses berjalan dengan optimal). Penetuan
kondisi optimal ini, akan lebih baik jika perancang mempunyai wawasan inherently
safer design, yaitu process (condition) attenuation -> less hazardous condition but
design intention achievable.
Yang terkait dengan kondisi proses ini, selain kebtuhan proses, maka designer
harus benar memilih bahan konstruksi untuk vesselnya. Sifat yang familiar
adalah, hampir semua bahan konstruksi vessel itu memiliki thermal properties
ataupun mechanical properties yang menuran pada suhu yang lebih tinggi ->
maksimum allowable stress, yield stress ataupun kompresive stress dan juga tingkat
korosifitas bahan naik dengan suhu -> contoh amonia pada suhu yang tinggi sangat
sangat korosif -> bahan kontruksi dipakai urea grade stailess steel.
Untuk storage vessel (tangki), the rulke of thumbs : zat cair yang non volatil
-> tekanan operasi 1 atmosphere, suhu penyimpanan sama dengan suhu
lingkungan. Untuk zat cair yang "the most volatile" (gas - gas yang dicairkan) ->
penyimpanan pada tekanan yang cukup tinggi pada kondisi kejenuhan (suhu
penyimpanan pada titik didihnya).

2.3 Pemilihan Head untuk Vessel Silinder dengan Penutup


Pada awalnya dipakai paku keiing unluk penyambungan head dengan shell pada
berbagai macam vessel. Tetapi ternyata sering timbul masalah yaitu seringnya terjadi
kebocoran pada daerah sekitar paku keiing, terutama ketika tekanan operasi jauh
lebih besar dari tekanan luar. Selain itu sering pula terjadi lepasnya paku keiing.
Untuk mengatasi hal tersebut mak dikembangkan jenis paku keiing yaitu dengan
fillet welding dan seal welding. Kemudian ditemukan bahwa temyata denagn adanya
pengelasan kekuatan menjadi lebih besar, sehingga dewasa mi penggunaan las
menjadi cara yang dipakai pada kebanyakan sambungan head pada shell.
Vessel silinder dengan head sudah digunakan secara luas. Secara umum
penggunaan vessel dapat dikelompokkan dalam tiga katagori :
1. Fungsi
2. pertimbangan tekanan
3. batasan ukuran
Pada peralatan proses seperti kolom distilasi, unit desorpsi, menara bahan isian,
evaporator, kristalizer dan HE pengggunaan head sangat penting dengan berbagai
perlengkapan proses lairmya. Jika tekanan proses tidak atmosferis, penggunaan head
menjadi penting untuk menutup vessel. Semua vessel silinder yang beroperasi pada
tekanan bagian nap sekitar 5 psig atau lebih diproduksi dengan formed head. Vessel
flat-bottomed dengan diameter besar, tangki penyimpanan cone-roofed terbatas
pemakaiannya untuk tekanan pada bagian uap beberapa ons. Vessel silinder

flat-

bottomed dengan diameter kecil digunakan untuk tekanan operasi beberapa psig
dengan roof berbentuk payung atau kubah. Alat yang digunakan pada tekanan di
bawah atmosferis juga memerlukan formed head. Tangki penyimpanan horizontal
yang kecil biasanya juga memakai formed head.
Pada umumnya yang menentukan tangki vertikal atau horizontal adalah fungsi
tangki tersebut. Sebagai contoh kolom distilasi dan menara bahan isian yang
memanfaatkan gaya grafitasi untuk memisahkan fasa, memerlukan instalasi vertikal.
Heat exchanger dan tangki penyimpanan bisa berbentuk vertikal maupun horizontal.
Pada heat exchanger penentuan horizontal dan vertikal ditentukan oleh arah aliran
fluida dan pertimbangan perpindahan panas. Pada tangki penyimpanan penentuan

horizontal vertikal lebih ditentukan oleh tempat instalasi. Jika tangki penyimpanan
dipasang di luar ruangan maka angin mempunyai pengaruh pada kekuatan
penyangga, sehingga tangki horizontal lebih ekonomis. Selain itu pertimbangan
penting lainnya seperti ketersediaan, ruang head pemeliharaan menjadi faktor
penentu.
Vessel (dengan head yang dibentuk = vessel with formed head) umumnya
dibuat dari bahan low carbon steel, yang mana bahan ini akan jadi pilihan yang lebih
murah apabila dikaitkan dengan pertimbangan suhu dan korosi. Selain itu, bahan ini
memiliki kekuatan yang cukup tinggi, mudah dibuat dan baja lunaknya (sebagai
bahan dasar baja) mudah didapat. Sedangkan low dan high alloy steel umumnya
digunakan untuk keperluan-keperiuan fabrikasi tertentu.
Baja yang umum digunakan terbagi menjadi dua kategori umum:
Baja yang dispesifikasi oleh ASME
Lebih sering merujuk pada boilerplate steel. Digunakan untuk vessel
bertekanan.
Struksural grade steel
Sebagian baja ini ada yang sesuai dengan spesifikasi dari ASME yang khusus
digunakan untuk keperluan fabrikasi tertentu dan juga yang khusus digunakan untuk
konstruksi vessel storage (vessel penyimpan)
Perancangan vessel yang sesuai dengan standar ASME akan dibicarakan lebih
detail dalam bab 13, meliputi penjabaran tentang bahan dan spesifikasi. Dalam bab
ini pembicaraan akan dibatasi hanya pada penggunaan baja untuk fabrikasi vessel
(dengan head yang dibentuk = vessel with formed head) yang tidak perlu
disesuaikan dengan standar ASME.
Tipe structural steel plates :
Jenis tipe ini yang banyak tersedia dapat dilihat pada daftar 67, pada ASTM A654T. Tipe yang cocok untuk konstruksi vessel adalah A-7, A-113, A-131 dan A-283.
Spesifikasi ASTM-A6-54T memberikan pertimbangan umum, seperti variasi
dimensi dan berat yang diijinkan, metode pengetesan, koreksi, ASTM A-7, A-283
grade C dan A-283 grade D adalah yang paling umum digunakan untuk konstruksi

vessel penyimpanan dan vessel dengan head yang dibentuk, khususnya baja yang
didesign, seperti ASTM A-283 grade C. Baja A-283-54 tipe structural digunakan
untuk fabrikasi vessel secara umum. Tipe ini tersedia dalam 4 grade yaitu A, B, C
dan D dengan daya regang minimum sebesar 45.000,50.000,55.000 dan 65.000 psi.
ketebalannya tersedia dari ukuran 2 in keatas. Tapi untuk perancangan vessel,
ketebalannya dibatasi dari ukuran % in keatas. Grade A dan B memiliki duktilitas
(kegetasan) yang tinggi dan daya regang yang rendah sementara grade D
duktilitasnya tidak memadai untuk membentuk shell dan head dan lebih sulit di las.
Sehingga grade C-lah yang paling banyak digunakan untuk konstruksi vessel. Yang
paling banyak adalah untuk tangki penyimpanan minyak, tangki bertingkat, pipa air
tegak, dan berbagai penggunaan tangki.
Baja A-7 umumnya digunakan untuk konstruksi jembatan, bangunan, dan
berbagai aplikasi structural lainnya. Tipe ini memiliki sifat fisis yang mirip dengan
A-283 grade D. Dua tipe baja ini dibuat dengan proses yang sama yaitu dengan
proses pada tungku perapian terbuka atau electric furnace. Bagaimanapun juga, baja
A-7 juga dibuat melalui proses acid-Bassemer, dan baja yang dibuat melalui proses
ini tidak direkomendasikan untuk konstruksi vessel. Baja A-7 tersedia dalam
berbagai ukuran fcetebalan standar. Baja ASTM A-l 13-55 merupakan baja structural
yang umum digunakan untuk konstruksi lokomotif dan jalan rel. Dibuat melalui
proses tungki perapian terbuka atau proses menggunakan electric furnace. Baja ini
juga tersedia dalam berbagai ukuran ketebalan standar dan dalam tia grade yaitu A,
B dan C. Baja A-113-55 grade B memiliki sifat fisis diantara baja A-283 grade B dan
C, tapi daya regangnya kurang lebih sama dengan baja A-283. Tidak ada keuntungan
lain lebih memilih baja tipe ini dibandingkan dengan baja A-283 kecuali bahwa baja
ini tersedia dalam bentuk yang siap pakai. Baja ini juga bisa digunakan untuk
konstruksi vessel untuk mendapatkan spesifikasi yang sama dengan batasan seperti
baja A-283.
Baja ASTM A-131-55 merupakan baja structural yang lebih baik dan digunakan
untuk konstruksi kapal. Spesifikasi baja ini pada dasarnya mirip dengan baja A-7
dan A-283 grade D. Untuk memperbaiki mutu dari baja kapal ini, tahun 1950
spesifikasinya pernah diubah dengan menambah ketebalan. Peningkatan kualitas

dengan menambah ketebalan, memberikan dampak pada baja ini sebagai bahan
konstraksi. Untuk baja ini, terdapat batasan persen maksimum kandungan karbon
dan batasan 0,6% - 0,9% kandungan mangan untuk fcetebalan yang kurang dari
inch begitu juga untuk fcetebalan baja 1 in atau lebih, dipersyaratkan kandungan
silicon sebesar 0,15% - 0,3%. Baja ini tersedia dalam banyak ukuran ketebalan dan
memiliki kualitas yang lebih tinggi dari baja A-7 tapi tidak diijinkan penggunaannya
untuk konstruksi vessel bertekanan yang sesuai standar. Ukuran plat baja yang lebih
tebal akan lebih mahal harganya. Baja structural lain yang distandarkan ASTM
untuk perancangan adalah A-8, A-94, A-284 dan A-242. Baja A-8 memiliki
kandungan 3% - 4% baja nikel dan kandungan karbon maksimum sebesar 0,43%
dengan daya regang sebesar 90.000 psi hingga 115.000 psi. Digunakan untuk beban
tegangan yang sangat besar. Tambahan nikel menyebabkan baja ini lebih kokoh,
kuat dan lebih berkilau dibandingkan kilau carbon steel, meningkatkan yield point,
batas kelelahan, dan menambah kekuatan. Kesulitan dalam pengelasan dan biaya
extra karena penambahan nikel menyebabkan baja ini tidak digunakan untuk
konstruksi vessel.
Baja A-94 merupakan baja silicon structural yang mimiliki kandungan karbon
maksimum 0,2% dan kandungan silicon minimum 0,2% dengan daya regang
berkisar antara 80.000 psi hingga 95.000 psi. Yield point minimum sebesar 45.000
psi. Baja ini juga dihindari penggunaannya untuk konstruksi vessel sebab
pengelasannya sulit dan ada biaya extra untuk pematian sempurna baja (fully killed
steel).
Baja A-284 merupakan baja silicon-karbon dengan kekuatan rendah hingga
menengah yang memiliki 0,1% - 0,3% kandungan silicon dan daya regang sebesar
50.000 hingga 60.000 psi, tergantung pada grade yang dimiliki. Baja ini memiliki
ukuran butir yang kasar dan dibutuhkan proses pemanasan lebih lanjut untuk
perbaikan ukuran butir. Adanya silicon yang terpisah ikatan dari karbon (untuk
membentuk grafit yang lebih halus) menyebabkan lemahnya sambungan las,
ditambah lagi dengan adanya biaya extra untuk pematian sempurna bajanya
menyebabkan baja ini tidak ekonomis jika digunakan untuk kontruksi vessel.
Baja A-242 merupakan low alloy structural steel yang digunakan terutama

sebagai material tumpuan tegangan diantara semua baja structural yang ada, dimana
berat dan tahanan korosi pada kondisi atmosferis menjadi pertimbangan penting.
Ketebalannya dibatasi tidak lebih tipis dari 3/16 inch dan tidak lebih tebal dari 2
inch. Baja ini memiliki kandungan mangan sebesar 1,25% dan kadar karbon
maksimum 0,2%. Yield point sebesar 50.000 psi untuk ketebalan 3/16 - 3/4 inch,
45.000 psi untuk ketebalan 3/4 - 1 inch dan 40.000 psi untuk ketebalan 1 - 2
inch. Bandingkan dengan yield point 30.000 psi yang dimiliki oleh baja A-283 grade
C. Untuk ketebalan 1 inch, mem'ngkatnya ketebalan akan meningkatkan kekuatan
sebesar 50% lebih. Dengan menggunakan factor design aman yang sama berdasar
pada yield point, dihasilkan bahwa penurunan ketebalan logam yang digunakan akan
menurunkan pula kemampuan menahan beban yang diberikan.
Pada perancangan vessel dimana tegangan bahan lebih mengontrol dibanding
stabilitas elastis, maka penggunaan baja ini akan lebih aman jika dibanding dengan
penggunaan baja A-283 grade C.
2.3.1 Persamaan untuk Vessel dengan Eliptical Dished Heads
Volume tangki silinder tertutup dengan eliptical dished heads sama dengan
volume silinder ditanbah dua kali volume head. Volume head dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan untuk silinder dengan volume yang ekivalen dan diameter
dalam yang sama dengan bagian silindris dari head.
Pemilihan tangki dibatasi oleh diameter atau panjang maksimum yang dapat
diangkut dengan railroad flatcar ( kereta dengan gerobak datar), umumnya sekitar
13ft 6in. Tangki yang lebih besar daripada itu bisa didapatkan dengan cara:
a. Diangkut dengan kapal (jika antara lokasi dan pembuat terdapat sarana
transportasi laut)
b. Pengelasan sambungan dan pembentukan dilakukan di lokasi
c. Plat dipotong dan dibentuk di penjual dan dirakit di lokasi
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah sambungan karena berpengaruh
terhadap proporsi tangki. Usahakan jumlah sambungan seminimal mungkin.

2.3.2 Pemilihan dimensi plate yang optimum


Lebar Plate, tangki silinder dapat dibuat dengan meng-roll dan mengelas 1 atau
beberapa plate. Pilihan pengelasan tergantung pada ukuran plate yang digunakan.
Pengelasan keliling dan mendatar dapat dihilangkan dengan menggunakan plate yang
ukurannya lebih besar, Plate dengan lebar lebih dari 90 inch akan lebih mahal setiap
inch kelebihannya. Tetapi penghematan yang didapatkan dengan menggunakan plat
yang lebih lebar sehingga mengurangi jumlah sambungan dan pengelasan melebihi
biaya tambahan dari plate yang lebih lebar.
Sebagai contoh penghematan yang dapat dilakukan, diberikan oleh
W.G.Theisinger. Penggunaan dua buah plate menghabiskan total USD 17,440
sedangkan penggunaan satu buah plate hanya menghabiskan total USD 9,853.
Penghematan yang dapat dilakukan adalah USD 7,587 dan 5800 jam kerja.
Biaya ekstra yang dibutuhkan untuk plain-carbon-steel adalah :
Ce= 1/145. (w-90)1,23
Dengan :
Ce = dollar per 100 lb
W = lebar plate, inch
Biaya fabrikasi per circumferential weld adalah xc.D.Cw. Sehingga biaya

total untuk pengelasan plate sejumlah N (tanpa head) adalah :


Persamaan

Persamaan di atas akan memberikan lebar plate optimum dengan biaya fabrikasi
minimum.
1. Tebal Plate, Plate dengan tebal 0,5 - 1 inch tidak membutuhkan biaya tambahan.
Penggunaan tebal lebih dari 1 inch akan memerlukan biaya tambahan sehingga
serigkali digunakan plate yang lebih kuat.
2. Panjang Plate, Plate dengan panjang antara 8-50 feet tidak memerlukan biaya
tambahan. Persediaan yang ada biasanya mempunyai panjang tidak lebih 40 ft
dengan tebal % inch dan lebar plate maksimal 72 inch. Tetapi persediaan juga
tergantung pada fcemampuan untuk rnenangani ukuran plate yang tersedia.

2.3.3 Tipe Head yang Umum Dipakai dan Pemilihannya


Hampir semua head dibuat dari plate melingkar yang di spin atau dengan metode
press. Meskipun membutuhkan biaya tambahan untuk membentuk head dari plate
datar, tetapi penggunaan head yang telah dibentuk akan lebih ekonomis daripada
penggunaan head yang datar, kecuali untuk diameter tangki yang kecil. Penghematan
dapat diperoleh dengan berkurangnya tebal head yang digunakan.

Gambar di atas menunjukkan macam-maeam head yang umum


digunakan, dengan:
t = tebal head, inch

icr = inside comer radius, inch


sf = straight flange, inch
r = radius of dish, inch
OD = diameter luar, inch
b =depth of dish, inch
a = ID/2 = inside radius, inch
s = slope of cone, deg
OA = overall dimension, inch
H = diameter of flat spot, inch
Flanged-only Heads : Head jenis ini adalah yang paling ekonomis dalam
pembuatannya, karena hanya membentuk flange dengan radius pada plate datar.
Penggunaannya yang paling banyak adalah pada tangki bertekanan atmosferis. Head
ini juga dapat digunakan sebagai dasar dari tangki silinder vertikal dengan diameter
maksimal 20 ft. Head jenis ini diukur dengan basis diameter luar dan tersedia untuk
ukuran 12-42 in dengan selisih 2 in, 42 -144 in dengan selisih 6 in, 144 - 240 in
dengan selisih 12 in, juga tersedia untuk ukuran lebih dari 246 in.
Flanged standard dished and Flanged shallow dished Head : Untuk
meningkatkan kemampuan menahan tekanan maka bagian datar dari flanged only
head harus dirubah menjadi lengkungan. Pada head semacam ini, terdapat dua radius
yaitu radius lengkungan dan inside comer radius. Jika radius dari lengkungan lebih
besar dari diameter luar shell maka disebut flanged and shallow dished head. Jika
radius tersebut sama atau lebih kecil maka disebut flanged and standard dished head.
Head yang tersedia ukurannya sama dengan
Flanged only head. Head ini tidak boleh digunakan untuk tangki bertekanan
tinggi, Penggunaan umumnya adalah untuk tangki vertikal dengan tekanan rendah,
tangki horisontal untuk fluida yang volatile, dan tangki berdiatneter besar yang
tekanan uap dan tekanan hidrostatisnya terlalu besar untuk flaged only head.
Torispherical Head : Dengan mengurangi stress lokal pada inside corner head,
batas tekanan dari flanged and dished head dapat ditingkatkan. Hal ini dapat
dilakukan dengan membentuk head sehingga inside comer radius paling tidak sama

dengan tiga kali ketebalan plate, atau radiusnya tidak kurang dari 6% diameter
dalam, dan radius lengkungan harus sama atau kurang dengan diameter head. Head
ini umumnya digunakan untuk tangki bertekanan antara 15-200 psig bahkan dapat
lebih dari 200 psig. Tetapi untuk penggunaan lebih dari 200 psig lebih ekonomis
untuk menggunakan elliptical flanged and dished head. Head ini dapat digunakan
untuk tangki vertikal maupun horisontal pada berbagai alat proses.
Elliptical Dished Head : Head ini digunakan untuk tangki bertekanan antara 100
psig hingga lebih dari 200 psig. Jika rasio sumbu mayor : sumbu minor = 2:1 maka
kekuatan head akan sama dengan kekuatan shell silinder dengan diameter dalam dan
luar yang sama. Kedalaman bagian dalam dari lengkungan sama dengan setengah
dari sumbu minor atau sama dengan \4 diameter dalam dari head.
Hemispherical Head : Untuk ketebalan yang sama, Head ini merupakan yang
paling kuat. Head ini dapat menahan tekanan hingga 2 kali lipat dari elliptical head
ataupun shell silinder dengan tebal dan diameter yang sama. Tetapi harga pembuatan
dan biaya lain-lain dari head ini paling besar dibandmgkan dengan yang lain.
Ketersedian head ini juga terbatas dalam ukurannya, karena pembuatan dari plate
tunggal lebih sulit.
2.4 Perancangan Tebal Plat Untuk Tutup ( Vessel Head) Mengaeu pada ASME Code
(under internal working pressure)
Perancangan tebal plat untuk dinding vessel mengacu pada ASME VIII div1,
paragraph : Part UG- 32 (d) dan Appendix 1 ( Supplementary Design Formulas )

l-

4(c)
Part UG:
General requirement ( persyaratan yang harus dipenuhi secara umum) untuk
semua cara / method untuk kontruksi dan berlaku untuk seaiua material
Part UG -

32 : General requirement untuk : FORMED HEAD, PRESSURE

ON CONCAVE SIDE
(a) Ketebalan yang diperlukan pada titik ketebalan paling tipis setelah
pembentukan head jenis ellipsoidal dimana tekanan yang bekerja pada

bagian sisi cekungan (internal pressure), harus dihitung berdasarkan


formula pada paragraph ini
(b) Simbol yang dipakai
t = ketebalan minimum yang diperluaka setelah pembentukan head, tidak
termasuk corrosion allowance, inci
P = design pressure, psi ataupun working pressure maksuimum yang diizinkan
untuk vessel yang terancang ( existing vessel)
D = inside diameter dari " head skirt" atau inside length dari major axis dari
ellipsoidal head, inci
S = tegangan maksimum yang diizinkan dari bahan konstrufcsi, psi
E = efisiensi sambungan terendah pada sembarang bagian di head.
Ini mencakup sambungan antara shell dan head ( head to shell joint) Untuk
welded vessel, efisiensi dipergunakan mengacu pada UW-12 , yaitu pada label
UW - 12 ( Max. allowable joint efficiencies for arc and gas welded joints)
Part UG - 32 (d): Ellipsoidal head
Ketebalan yang diperlukan untuk dished head yang berbentuk semi-ellipsoid ,
dimana separuh dari minor axis (inside depth dari head dikurangi fcetinggian
skirt) sama dengan dari inside diameter dari" head skirt".
2.5 Perhitungan Tebal Head Mengacu Appendix 1 - 4c (Supplementary design
formulas)
RUMUSAN UNTUK PERANCANGAN " FORMED HEAD "
UNDER INTERNAL WORKING PRESSURE
(a) Rumusan dari paragraph ini berlakuk untuk perancangan tutup vessel
dengan bentuk tertentu ( formed head ) dengan proporsi ukuran lain
daripada seperti tertulis ada UG - 32 (ASME Div. VTII, section 2 ) dalam
besaran diameter dalam (inside diameter) dan diameter luar (outside
diameter)
(b) Simbol yang dipakai dibawah ini digunakan dalam rumusan perancangan
dari paragraph ini.
t = tebal dari head minimum yang diperlukan setelah pembentukan
head inci

P = tekanan perancangan ( internal design pressure ) , psi ( lihat UG-21) untuk


tekanan kerja maksimum (maximum allowable working pressure untk vessel yang
sudah ada, lihat UG - 98)
D = diameter dalam dari " head skirt", atau inside length dari major axis dari
ellipsoidal head, inci
Do= diameter luar dari" head skirt" atau panjang luar dari major axis dari ellipsoidal
head, inci
S = tegangan kerja dari bahan konstruksi maksimum yang diperkenankan, psi
E = efisiensi sambungan yang terendah dari katagori sambungan jenis A ( Category
A joint ) untuk hemispherical mencakup sambungan head to shell joint. Untuk vessel
dengan sambungan cara las (welded vessels, efisiensi dipakai seperti tertulis pada
UW - 12
r = inside knuckle radius , inci
h = one - half of length dari minor axis dari ellipsoidal head atau
inside depth dari ellipsoidal head yang diukur dari tangent line
(head bend line), inci
K= factor dari rumus untuk ellipsoidal head, yang harganya
tergantung dari(D/2h)
(D/2h) = rasio dari major axis dengan minor axis pada ellipsoidal head, harganya
sama dengan inside diameter dari "skirt" dari head dibagi dengan dua kali inside
height dari ellipsoidal head.
2.6 Peraneangan Tebal Plat Untuk Dinding / Shell (under internal working
pressure )
Perancangan untuk menghitung ketebalan dinding shell dari vessel
absorber, mengacu pada kode ASME VIII, div. 1, paragraph UG -27 (c) dan
Appendix 1 - (1-1)
Part UG 27 (c): Menghitung ketebalan shell under internal working pressure
PartUG-27(a):
Ketebalan dinding shel yang terkena beban internal working pressure haras tidak
boleh lebih tipis dari ketebalan yang dihiutng dari formula (c)

PartUG-27(b)
Symbol - symbol yang dipakai:
t = ketebalan minimum plat yang diperlukan untuk shell, tidak termasuk corrosion
allowance, inci
P = design pressure, psi ataupun working pressure maksuimum yang diizinkan untuk
vessel yang terancang ( existing vessel)
R = inside radius dari "shell courses" yang ditinjau sebelum corrosion allowance
ditambahkan, inci
S = tegangan maksimum yang diizinkan dari bahan konstruksi, psi
E = efisiensi sambungan terendah pada sembarang bagian di head. Ini mencakup
sambungan antara shell dan head (head to shell joint)
Untuk welded vessel, efisiensi dipergunakan mengacu pada UW
-12 , yaitu pada label UW - 12 (Max. allowable joint efficiencies for
arc and gas welded joints)
Part UG- 27 (c): Ketebalan Shell Silinder
Ketebalan plate minimum yang diperlukan untuk beban working pressure yang
bekerja pada silinder seharusnya dipakai ketebalan yang lebih besar dari persamaa /
formula dibawah ataupun ketebalan yang memberikan tekanan yang lebih rendah
dari formula dibawah :
1. Circumferential stress (longitudinal joints) jika ketebalan plate tidak melebihi
dari inside radius atau P tidak melebihi 0.385 SE, dipakai formula sbb :
t=

PR
SE - 0,6P

2. Longitudinal stress ( circumferential joints )


Jika ketebalan plate tidak melebihi dari inside radius dari shell ataupun P
tidak melebihi dari 1.25 SE , maka dipakai formula sbb.
t=

PR
SE - 0,4P

2.7 Perancangan Tebal Plat Untok Binding/ Shell Mengacu Appendix 1-1
APPENDIX 1 : Supplementary Design formulas
1-1 : Ketebalan untuk kulit (shell) silinder dan kulit ( shell) bola
(a) : Rumusan untuk kulit silinder didasarkan pada jari - jari luar silinder
analog dengan formula yang diberikan pada UG -27 (c ). Untuk ketebalan kulit
silinder (under circumferential stress).
t=

PR0
SE - 0,4P

dengan: Ro= out side radius dari kulit silinder yang ditinjau ( cylinder shell course ),
inci
2.8 Rumusan untuk design stabilitas dari vessel (Design of vessel stability : Tall
vessel design)
1. Untuk vessel / tower yang menjulang tinggi, maka pada vessel akan mendapatkan
beban angin. Jika angin yang bertiup kencang, maka akan memberikan moment
puntir pada vessel yang dapat mengakibaikan vessel patah (failure). Demikian
juga dengan gempa. Gempa akan menggetarkan vessel, dapat mengakibatkan
gaya geser bekerja pada dinding vessel dan akan menimbulkan tegangan geser
bekerja pada dinding vessel ( seismic stress)
2. Kegagalan vessel di pabrik, dapat dijumpai pada bewrbagai kondisi pelayanan
( loading case) vessel itu. Ada beberapa loading case yang selalu dialami olea
vessel di industri :
a. Vessel kosong ( selesai didirikan = belum dipakai), boleh jadi jika design vessel
keliru, begitu vessel berdiri, terkena angin / gempa vessel bias roboh ( gagal
berdiri)
b. Vessel dipakai untuk operasi (operating vessel). Pada keadaan ini vessel dipakai
untuk keperntingan proses, sehingga didalam vessel terdapat cairan proses yang

bekerja pada tekanan dan suhu operasi yang ditargetkan.


c. Vessel dipakai untuk test hidrostatik, Untuk setiap design dari vessel dan test
commissioning dari vessel sebelum dilakukan penyerahan ke pemiliknya, maka
selalu dilakukan test hidrostatik untuk melifaat ketahanan vessel terhadap beban
yang bekerja. Pada test hidrostatik, vessel disi penuh dengan air dan tekanan test
dipakai lebih besar ( kira - kiran 50 % ) dari maksimum allowable working
pressure (MAWP)
d. Pada tahapan perancangan, diantara tiga kondisi vessel diatas, dicari beban beban (stress atupun moment) yang bekerja, yang paling berpengaruh. Untuk
mengetahui kondisi yang berpengaruh, maka dapat dilakukan perhitungan "
loading case ", ataupun Netto stress yang bekerja. Loading yang paling besar
ataupun netto stress yang bekerja yang paling besar, adalah yang berpengaruh.
Perhitungan stress gabungan yang bekerja pada absorber

Up- wind side :


Netto stress yang bekerja kearah atas , berupa tensile stress tensile stress keatas nilai
positif dead weight stress araahnya selalu kebawah , nilai negatif
1. Netto stress yang bekerja untuk ketebalan plat yang terpakai :
Sup-wind = (Sw + Sap + Ss) - Sdw
2. Netto stress yang bekerja pada down-wind side , adalah tegaangan tekan
( compressive stress ) , denga arah kebawah nilainya positif :
Sdown-wind = (Sdw + Sw + Ss) - Sap
Pengkajian stress yang bekerja:
Plat yang dipakai oleh absorber di Pabrik akan aman ( safe in operation ) , jika
memnuhi persaratan sbagai berikut :
Sdown-wind S allowable dari material.
Sdown-wind Sc allowable (= compressive stress)
2.9 Perhitungan Kemiringan dari Vessel (Design of vessel deflection)
(a) Untuk menara yang terfcena beban angin ataupoun gempa, maka vessel harus
dirancang agar defleksi (yang diukur sebagai penyimpan dari arah vertical /
poros vessel di bagian puncak menara / vessel tidak melebihi 6 in per 100 ft
ketinggian menara / vessel
(b) Defleksi ini disebabkan olen beban angin yang bekerja ( wind load) pada menara.
(c) Defleksi dihitung sebagai berikut:

LM = Pw xD1xHx(12xH)3
8xExI

dengan:
() = defleksi maksimum pada puncak menara, in
PW = tekanan angin yang bekerja, Ib/ft2
D1 = diameter vessel (termasuk isolasi yang dipakai), ft
H = ketinggian vessel, ft
E = modulus elastisitas material yang dipakai, psi

I = moment inertia (kelebaman) dari silinder tipis


I = 3.UxR3xt
t = ketebalan plat yang dipakai, in

DAFTAR PUSTAKA
Pemilihan Head Untuk Vessel Silinder dengan Penutup Universitas Gadjah Mada