Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH DISKUSI KLINIK BEDAH MULUT

KISTA

Oleh:

Aizar Agi Syahrial

I4D110033

Feryra Ayu Putri S

I4D110206

Wahyuni A

I4D111011

Wenda Fitriati N

I4D111015

Habibie Aldiaman

I4D111016

Retno Septiana A

I4D111018

Saldy Rizky S

I4D111216

Taupiek Rahman

I4D111217

Putri Amalia

I4D111218

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


BANJARMASIN
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
2016

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah diskusi klinik ini dengan lancar.
Makalah ini diawali dengan pendahuluan, dengan menjelaskan latar
belakang, tujuan, rumusan masalah serta metode penulisan.Pembahasan
menjelaskan tentang Kista. Makalah ini juga dilengkapi dengan daftar pustaka
yang menjelaskan sumber dan referensi bahan dalam penyusunan makalah ini.
Kami sangat menyadari tentunya bahwa makalah ini belum sempurna.
Oleh karena itu, saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun sangat
kami harapkan, agar dapat kami perbaiki untuk yang akan datang. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Banjarmasin, Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Judul ....................................................................................................................... 1
Kata Pengantar ........................................................................................................ 2
Daftar Isi ................................................................................................................. 3
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 4
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................ 5
1.4 Metode Penulisan ............................................................................... 5
Bab II
Pembahasan ............................................................................................. 6
2.1.Definisi ............................................................................................. 6
2.2.Etiologi .............................................................................................. 6
2.3.Klasifikasi .......................................................................................... 7
2.4.Tatalaksana ........................................................................................ 18
Bab III
Penutup .................................................................................................... 28
3.1.Simpulan ............................................................................................ 28
Daftar Pustaka ........................................................................................................ 24

BAB 1
PENDAHULUAN
2.1 Latar Belakang
Kista sudah ditemukan sejak 4500 tahun sebelum masehi. Pada awal
abad pertama, Aulus Cornelius Celsus adalah orang pertama yang meneliti
tentang kista, dan dilanjutkan oleh Pierre Fauchard (1690 1762) dan John
Hunter (1729 1793) yang menyatakan bahwa perkembangan diagnosis dan
perawatan kista terjadi pada tahun 1850 (1).
Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan, dibatasi oleh lapisan
epitel dan jaringan ikat. Kista dapat menyebabkan pembesaran intraoral atau
ekstraoral yang secara klinis dapat menyerupai tumor jinak. Kista banyak
didapatkan pada regio Oral dan Maksilofasial karena adanya sisa epitel
odontogenik (2).
Berdasarkan

klasifikasi

WHO

tahun

2005,

Kista

odontogen

disubklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu inflammatory cyst dan developmental


cyst. Yang termasuk Inflammatory cyst adalah: radicular cyst, residual cyst dan
paradental cyst, sedangkan Yang termasuk developmental cyst adalah: gingival
cyst of newborn, gingival cyst of adult, odontogenic glandular cyst, dentigerous
cyst, orthokeratinized odontogenic cyst, eruption cyst, lateral periodontal cyst,
calcifying odontogenic cyst dan odontogenic keratocyst (3).

2.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana definisi kista?
2. Bagaimana etiologi kista?
3. Apa saja klasifikasi kista pada rongga mulut?
4. Bagaimana tatalaksana kista rongga mulut?

2.3 Tujuan Penulisan


1. Menjelaskan definisi kista.
2. Menjelaskan etiologi kista.
3. Menjelaskan klasifikasi kista pada rongga mulut.
4. Menjelaskan tatalaksana kista rongga mulut
2.4 Metode Penulisan

Metode Literatur
Penyusun melakukan metode literatur dengan berpedoman pada bukubuku kedokteran dan buku-buku kesehatan lainnya serta jurnal kedokteran
yang relevan dengan topik.

Metode Teknologi
Penyusun mengambil sebagian bahan dari internet dengan sumber yang
valid.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Definisi
Kista adalah rongga patologis berisi cairan, dibatasi oleh lapisan epitel dan
jaringan ikat, Kista dapat menyebabkan pembesaran intraoral atau ektraoral yang
secara klinis dapat menyerupai tumor jinak (4).
Kista lebih sering tumbuh di rahang bawah dari pada rahang atas, terutama
pada posterior mandibula dan cenderung terjadi pada laki-laki daripada
perempuan. Kista dapat tumbuh dengan ukuran besar dan mengakibatkan
destruksi pada tulang rahang (4).
2.2. Etiologi
Pada umumnya, sebagian besar kista odontogen terjadi akibat adanya
proliferasi dari sisa epitel pada saat perkembangan gigi. Epitel yang berperan
pada proses terjadinya kista odontogen adalah sebagai berikut : Epithelial rests
of Malassez, reduced enamel epithelium, dan glands of Serres. Epithelial rests
of Malassez merupakan epitel yang terbentuk akibat dari proses fragmentasi dari
epithelial root sheath of Hertwig pada saat proses odontogenesis, epitel ini
berperan pada proses pembentukan kista radikular, kista residual, dan kista
paradental. Reduced enamel epithelium merupakan epitel yang berasal dari
enamel organ dan menyelubungi mahkota gigi yang tidak erupsi, epitel ini
berperan pada pembentukan kista dentigerous dan kista erupsi. Glands of Serres
merupakan epitel yang tersisa setelah proses disolusi dari dental lamina, epitel ini
berperan pada pertumbuhan odontogenic keratocyst, kista lateral, dan kista pada
gingiva (5).

2.3. Klasifikasi
1.

Kista Odontogen
Berdasarkan

WHO

klasifikasi

tahun

2005,

Kista

odontogen

disubklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu inflammatory cyst dan developmental cyst.


Yang termasuk Inflammatory cyst adalah: radicular cyst, residual cyst dan
paradental cyst, sedangkan Yang termasuk developmental cyst adalah: gingival cyst
of newborn, gingival cyst of adult, odontogenic glandular cyst, dentigerous cyst,
orthokeratinized odontogenic cyst,

eruption

cyst,

lateral

periodontal

cyst,

calcifying odontogenic cyst dan odontogenic keratocyst (3).


A. Kista Inflammatory
1) Kista radikular
Kista radikular adalah kista yang terjadi akibat dari proses keradangan.
Dinding epitel dari kista radikular berasal dari proliferasi sel epitel Malassez
yang berada di ligamen periodontal.

Pada

saat proses odontogenesis

berlangsung, eksternal dan internal dental epithelium akan bergabung untuk


membentuk

cervical loop.

Gabungan dari

eksternal

dan

internal dental

epithelium disebut sebagai Hertwigs epithelial root sheath yang berfungsi


untuk mengontrol formasi pembentukan akar. Setelah proses pembentukan akar
selesai, Hertwigs epithelial root sheath

akan mengalami proses disintegrasi

menjadi jaring- jaring epitel di ligamen periodontal yang dinamakan sel epitel
Malassez (6).
Proses patogenesis kista radikular dibagi menjadi 3 fase yaitu: fase
inisiasi, fase formasi kista, dan fase pembesaran kista. Pada fase inisiasi, produk
iritan berupa endotoksin dari bakteri yang disekresi secara konstan

akan

menginfeksi pulpa, menyebar ke jaringan periapikal dan merangsang terjadinya


proses inflamasi. Pada saat proses inflamasi berlangsung, host cell (Fibroblast,
granulosit, makrofag, dan limfosit) akan mensekresi proinflammatory cytokines
(IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF-), mediator inflamasi (Prostaglandin), dan growth
factor (EGF, KGF, TGF-, FGF, dan HGF) untuk

mengeliminasi bakteri.

Kolaborasi dari mediator inflamasi, proinflammatory cytokine, dan growth factor


akan memicu proliferasi sel epitel malassez (7).

Sel epitel Malassez merupakan sel yang tidak bermetabolisme secara aktif
karena memiliki kandungan rough endoplasmic reticulum, free ribosomes, dan
high nuclear-cytoplasmic ratio dalam jumlah yang sedikit, walaupun demikian
sel ini masih memiliki kemampuan untuk berproliferasi. Pada proses siklus sel,
epitel malassez merupakan sel yang stabil dan diam dalam fase G0, jika ingin
berproliferasi dan membelah, sel tersebut harus bisa mensintesis RNA dan protein
untuk masuk ke fase G1 lalu selanjutnya mensintesis DNA dan kromosom untuk
masuk ke fase S, dan akhirnya berlanjut ke fase M (mitosis). Untuk menstimulasi
sel di fase G0 agar bisa memasuki fase G1 dibutuhkan extracellular signal atau
mitogen seperti mediator inflamasi dan growth factor (6).

Saat massa semakin membesar, sel yang terletak di bagian tengah


massa terletak semakin jauh dari pembuluh darah sehingga mengakibatkan
suplai nutrisi terhambat, sel yang berada di tengah massa akan mati dan
ruangan di tengah massa akan menjadi suatu lumen (6).
Proses pembesaran kista radikular berhubungan dengan adanya
peningkatan tekanan hidrostatik di dalam lumen kista yang lebih besar
daripada tekanan kapiler pembuluh darah, sehingga untuk menyeimbangkan
tekanan akan terjadi proses transudasi dimana cairan dari luar kista radikular
bisa masuk ke lumen yang akan mengakibatkan ukuran kista semakin besar
(7). Pertumbuhan kista radikular akan disertai dengan resorbsi tulang karena
adanya aktivasi dari osteoklas. Proinflammatory cytokines,

interleukins,

prostaglandins, dan TNF- merupakan substansi yang bisa menstimulasi


proses resorbsi tulang melalui peningkatan regulasi dari RANKL yang akan
berperan pada proses aktivasi osteoklas (6).
2) Kista Residual
Merupakan kista yang ditemukan pada regio yang tidak bergigi dengan
riwayat ekstraksi akibat tidak terambilnya granuloma atau kista radikular
secara sempurna pada saat dilakukan enukleasi (2).
Kista residual bersifat asimptomatis dengan proses pembesaran secara
perlahan-lahan yang tidak disadari oleh penderita sehingga kista residual
sering ditemukan secara tidak sengaja pada saat dilakukan pemeriksaan

radiologis rutin. Kista residual bisa menggangu ketepatan pemasangan dari


gigi tiruan, karena adanya penebalan yang progresif pada epithelial lining dari
kista (2).
B. Kista Developmental
Kista developmental bukan merupakan kista yang terjadi akibat dari
suatu proses keradangan, namun merupakan perkembangan dari sisa epitel
odontogenik (7).
1) Odontogenic keratocyst
Odontogenic keratocyst merupakan kista berasal dari proliferasi dental
lamina atau sisa epitel

pertumbuhan

yang terdapat pada rahang.

Istilah

odontogenic keratocyst pertama kali diperkenalkan oleh Phillipsen pada tahun


1956 untuk menunjukkan tipe spesifik dari perubahan yang terjadi dalam kista
dentigerous, kista residual, dan kista radikular (2).
Odontogenic keratocyst sering menyebabkan pembengkakan di daerah
fasial atau lingual dari tulang rahang, dan terlihat menonjol. Gejala klinis lainnya
adalah parestesi pada bibir, gigi tanggal, dan nyeri (7)
2) Kista dentigerous
Kista dentigerous merupakan kista yang terbentuk di sekitar mahkota gigi
dan melekat pada cemento-enamel junction gigi yang tidak erupsi. Kista
dentigerous juga disebut sebagai kista folikular

sebab merupakan hasil

pembesaran folikel, berasal dari akumulasi cairan antara reduced enamel


epithelium dan enamel gigi (2). Ada dua teori mengenai pembentukan kista
dentigerous. Teori pertama menyatakan bahwa

proses perkembangan

kista

disebabkan oleh adanya akumulasi cairan antara reduced enamel epithelium dan
mahkota gigi. Tekanan cairan

akan memicu

proliferasi

reduced enamel

epithelium. Teori kedua menyatakan bahwa proses terjadinya kista dentigerous


diawali dengan rusaknya

stellate reticulum

yang akan membentuk

cairan

diantara outer dan inner enamel epithelium. Tekanan cairan tersebut akan
memicu proliferasi outer enamel epithelium yang menyisakan perlekatan pada
gigi di bagian cemento enamel junction, sehingga inner enamel epithelium
tertekan ke atas permukaan mahkota. Kista

dentigerous akan

terbentuk

mengelilingi mahkota dan melekat pada cemento enamel junction dari gigi. Saat
telah terbentuk sempurna, mahkota akan berprotrusi ke dalam lumen, dan akarakarnya memanjang ke sisi luar kista. Kedua teori menjelaskan bahwa tekanan
dari cairan akan menyebabkan proliferasi kistik karena kandungan hiperosmolar
yang dihasilkan oleh kerusakan dari sel sehingga menyebabkan adanya tekanan
osmotik yang akan memompa cairan ke dalam lumen. Proses terjadinya kista
dentigerous juga berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi atau impaksi. Gigi
impaksi yang mempunyai potensi untuk erupsi akan menyebabkan penyumbatan
aliran vena (venous outflow) dan mengakibatkan transudasi serum dinding
kapiler. Hal ini mengakibatkan meningkatnya tekanan hidrostatik

yang akan

memisahkan folikel dari mahkota gigi (7).


Kista dentigerous

bersifat

asimtomatik, namun

ukuran

dari kista

dentigerous bisa menjadi sangat besar (10-15cm) sehingga bisa menyebabkan


adanya asimetris wajah pada penderita (3).
3) Kista lateral periodontal
Kista lateral periodontal merupakan jenis kista yang tumbuh dari sisa
epitel dental lamina yang tertinggal di daerah tulang regio interradicular crestal
atau di daerah tulang setinggi setengah panjang akar (7).
Kista lateral periodontal bersifat asimptomatik, tidak tampak secara
klinis, sehingga sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan
radiologis rutin (3).
4) Kista Periodontal
Kista ini berasal dari degenerasi kistik dari sisa-sisa epitel malassez / epitel
embryonal pembentuk gigi ataupun berasal dari proliferasi dental granuloma yang
terdapat di sepanjang jaringan periodontal sekitar akar gigi. Pada umumnya
terdapat di sekitar apeks gigi yang sudah non vital atau gigi dengan karies
profunda perforasi (2).
Bila kista ini besar maka dengan palpasi terasa adanya krepitasi yang
disebut pingpong phenomena yaitu rongga patologis dalam rahang yang dapat
digerakkan. Sedangkan, bila kista ini kecil dalam foto rontgen akan sulit
dibedakan dengan periapikal granuloma (2).

10

Patogenesis kista ini dimulai dengan timbulnya


periapikal kronis (radang granulomatik)

suatu keradangan

yang mengalami degenerasi kistik.

Dengan terjadinya inflamasi kronis pada jaringan periodontal tersebut maka akan
menyebabkan terbentuknya jaringan granulasi pada periapikal periodontal
membrannya, dimana pada akhirnya akan terbentuk granuloma. Di tengah
jaringan epitel tersebut tidak mendapat supply darah yang cukup sehingga bagian
tersebut akan berubah menjadi rongga yang penuh dengan epitel serta cairan yang
disebut weg liquivatic, dan juga banyak terdapat jaringan yang nekrotik maupun
hasil-hasil metabolisme lainnya, sehinga lama kelamaan menjadi kista (2).
5) Kista erupsi
Kista erupsi terbentuk dalam gusi di atas mahkota gigi yang akan erupsi
karena terjadi akumulasi cairan jaringan atau darah di dalam suatu ruang folikular
yang membesar di sekitar mahkota gigi (3).
Kista erupsi tampak sebagai pembengkakan gusi yang lunak, translusen,
dan bila terisi darah akan berwarna biru keunguan (3).
2.

Kista Non Odontogen

A. Kista Duktus Nasopalatina / Nasopalatine Duct Cyst (9)


Sinonim : Nasopalatine canal cyst, incisive canal cyst, nasopalatine cyst,
median palatine cyst, and median anterior maxillary cyst
Gambaran Klinis
Biasanya terdapat di midline anterior maksila dekat foramen
insisivus
Biasanya asimptomatik namun nyeri tekan, dan pembengkakan
bisa terjadi
bila kista kecil pembengkakan terlihat di papila incisivus, bila kista
besar menyebabkan terjadinya ekspansi di regio labial & palatal.

11

Gambaran Histologis
Kista dilapisi oleh lapisan stratified squamous epitel dan sebagian
ditemukan epitel respiratory
Dinding duktus nasopalatinus sering ditemukan jaringan saraf &
dinding pembuluh darah
Gambaran Radiografis
gambaran bulat atau berbentuk hati radiolusen, berbatas tegas,
terletak di antara I1 Rahang atas.
Pengaruh terhadap gigi yang berdekatan : perpindahan, jarang
teresorbsi.

Diagnosa Banding / DD
granuloma periapikal
Kista radikular

12

B. Kista Nasolabial / Nasolabial Cyst (9)


Sinonim : naso alveolar cyst
Gambaran Klinis
Sangat jarang & tumbuh terbatas hanya di jaringan lunak di daerah
vestibulum anterior maksila, di bawah ala nasii (dasar hidung)
bengkak yang tumbuh perlahan mengisi lipatan nasolabialis
nyeri & sukar bernafas melalui hidung
terjadi pada usia rentang 40 tahun dan 50 tahun
biasanya unilateral
asimptomatik pembengkakan jaringan lunak
ukuran kurang dari 1.5 cm
terjadi pada regio maksilari bibir dan dasar alar, lateral ke midline
Gambaran Histologis
Dinding kista pseudostratified, epitel collumnar & tidak bersilia,
banyak ditemukan sel mukus

Gambaran Radiografis
Tidak terlihat pada radiograf karena lesi jaringan lunak
Radiofacity sferikal ada di dekat midline sampai fossa caninus

13

Diagnosis Banding
infeksi odontogen
3.

Kista Jaringan Lunak

A. Mucocele (9)
A. Foto

B. Gambaran klinis
Pembengkakan berbentuk kubah
Berwarna kebiru-biruan
Tranlusen
Menonjol
Tidak sakit
Diameter <1cm
Lesi mudah pecah serta mengeluarkan cairan mucous yang asin
dan encer
Rekuerensi tinggi (sering muncul kembali)
C. Terapi
Bila tidak terasa sakit dan kecil, amati saja. Apabila besar maka lakukan
cryosurgery atau eksisi
14

B. Ranula (9)
a. Foto

b. Gambaran klinis
Mukosel besar yang berbentuk perut katak di dasar mulut
Menyerang kelenjar sublingual
Meluas melalui mylohyoid (plugging ranula)
Bisa Unilateral atau Bilateral di dasar mulut
Berwarna Kebiruan
Ukuran > 5-10 cm
c. Terapi
Marsupialisasi
C. Kista Dermoid/Epidermoid (9)
a. Foto

b. Gambaran klinis
Pembengkakan di daerah garis tengah dasar mulut yang membuat
lidah terangkat

15

Pembengkakan meluas hingga ke leher sehingga pasien seperti


memiliki dua buah dagu
Saat di palpasi teraba lunak

c. Terapi
Enukleasi ( di RS GA)
D. Kista Limfo-epitelial (9)
a. Foto

b. Gambaran Klinis
Pembengkakan yang lunak dan nyeri tekan
Ukuran bervariasi hingga d= 10 cm
Bersifat superfisial
Terletak sebelah anterior dari sternocleidomastoideus, dekat
dengfan sudut rahang bawah
c. Terapi
Eksisi
E. Kista Intraoral Lymphoepithelial
a. Foto

16

b. Gejala Klinis
Banyak terdapat di daerah dasar mulut
Kadang-kadang terjadi pembengkakan dan keluar cairan
Ukuran 1-10mm
Palpasi lunak->kenyal
Warna normal kuning-> putih
c. Terapi
Eksisi/ Enukleasi

F. Kista Duktus Tiroglosus (9)


a. Foto

b. Gambaran Klinis
Konsistensi Lunak
Dapat digerakan
Biasanya terletak di daerah tulang hyoid
Pembengkakan lunak dan fluktuasi
Ukuran 1-10mm pada median line/ lateral leher
c. Terapi
Eksisi/Enukleasi dengan GA

17

G. Kista Parasitik
a. Foto

b. Gejala Klinis
Terjadi pembengkakan pada lidah
Tidak sakit
Disebabkan cacing pita Echinococcus granulossus
c. Terapi
Eksisi
2.4. TATALAKSANA
Dua teknik pembedahan digunakan dalam praktik klinis pengangkatan
kista, yaitu enukleasi dan marsupialisasi (9).
1. Enukleasi
Teknik ini melibatkan pengangkatan kantung kista seutuhnya dan
penyembuhan luka dengan primary intention. Teknik ini merupakan metode
yang paling sering digunakan dalam perawatan kista dan diindikasikan pada
semua kasus kista, yang dapat diangkat tanpa merusak struktur anatomis atau
gigi di sekitarnya (9).
Prosedur bedah perawatan kista dengan nukleasi terdiri dari tahapan
berikut (9) :
1. Flap mukoperiosteal dibuat
2. Mengurangi tulang dan eksposur bagian kista
3. Enukleasi kantung kista
4. Debridement dan suturing luka

18

Setelah dilakukan radiografi untuk menentukan lokasi dan ukuran pasti lesi,
flap trapezoidal dibuat, dengan lebar yang mampu memberikan akses dan
visualisasi yang cukup terhadap daerah bedah (gambar 12.1-12.4) (9).
Selanjutnya, tulang yang menutupi lesi dievaluasi, di mana tulang bisa jadi
tetap normal, telah menipis, atau sudah hancur. Pada tulang normal, bur round
digunakan untuk menghilangkan bagian plate kortikal bukal yang menutupi
kista, dan tergantung luasnya, rongeur juga dapat digunakan untuk
memperbesar jendela osseus yang dibuat (gambar 12.5, 12.6) (9).
Jendela osseus harus cukup besar sehingga semua kavitas kista dapat diakses
dan diangkat tanpa kesulitan yang berarti (9).
Apabila tulang telah menipis atau perforasi, tulang dihilangkan menggunakan
rongeur, hingga mencapai tulang kompak. Kuret digunakan untuk enukleasi
kista ukuran kecil, sementara untuk kista yang lebih besar, ujung lebar dari
elevator periosteal biasanya lebih dipilih, yang diletakkan di dalam kavitas
dan ditekan pelan di antara dinding kista dan tulang, sementara kista dijepit
secara berhati-hari menggunakan forcep (gambar 12.7) (9).
Setelah pengangkatan kista, kuret digunakan untuk menginspeksi kavitas
apakah terdapat sisa kista, dan diikuti oleh irigasi salin yang banyak setera
suturing (gambar 12.8-12.10) (9).
2. Marsupialisasi
Metode ini biasanya digunakan untuk mengangkat kista berukuran
besar dan telah mengganggu struktur anatomis di sekitarnya. Metode ini
dilakukan dengan membuat jendela bedah pada bagian yang tepat di atas lesi.
Pembuatan jendela bedah dimulai dengan membuat insisi sirkular, pada
mukoperiosteum, dan tulang di bawahnya (yang biasanya telah perforasi),
serta dinding kantung kista yang terlibat (gambar 12.19-12.23). Setelah
prosedur ini, isi kista dikeluarkan, dan suture interrupted dilakukan di sekitar
kista, dengan menjahit mukoperiosteum dan dinding kista menjadi satu
(gambar 12.24) (9).

19

Setelah itu kavitas kista diirigasi menggunakan larutan salin dan dipack
menggunakan gauze iodoform (gambar 12.25, 12.26), yang akan dilepas
seminggu kemudian bersama suture. Selama periode tsb, margin luka akan
telah sembuh, sehingga membentuk komunikasi permanen. Irigasi kavitas
kista dilakukan beberapa kali sehari, untuk menjaganya dari debris makanan
dan mencegah infeksi potensial. Penyembuhan luka menggunakan teknik ini
adalah melalui secondary intention dan epitel kista akan berubah menjadi
mukosa oral (9).

20

ENUKLEASI

21

22

23

24

MARSUPIALISASI

25

26

BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan

Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan, dibatasi oleh lapisan epitel
dan jaringan ikat.

Kista odontogen disubklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu inflammatory cyst


dan developmental cyst. Yang termasuk Inflammatory cyst adalah: radicular
cyst,

residual

cyst

dan

paradental

cyst,

sedangkan

Yang

termasuk

developmental cyst adalah: gingival cyst of newborn, gingival cyst of adult,


odontogenic glandular cyst, dentigerous cyst, orthokeratinized odontogenic
cyst, eruption cyst, lateral periodontal cyst, calcifying odontogenic cyst
dan odontogenic keratocyst.

Kista Nonodontogen terbagi menjadi Kista Nasopalatina/Nasopalatinus Duct


Cyst dan Kista Nasolabial/Nasolabial cyst.

Kista

Jaringan

Lunak

terbagi

menjadi

Mucocele,

Ranula,

Kista

Dermoid/Epidermoid, Kista Limfe-epitheliel, Kista Intraoral Lymphoepithelial,


Kista Duktus Triglosus, dan Kista Parasitik.

Penatalaksanaan pembedahan pada praktik klinis pengangkatan kista adalah


enukleasi dan marsupialisasi.

27

DAFTAR PUSTAKA
1. Pechalova P, Angel P, et all. Bisphosphonate-Associated Osteonecrosis of The
Jaw Report of three cases and Review of The Literature. Acta Clin Croat
2011; 50:273-279.
2. Cawson R.A, E.W Odell. 2008. Cawsons Essential of Oral Pathology and
Oral Medicine 8th ed. Churchill Livingstone Elsevier: China, p. 13.
3. Malik NA. 2008. Textbook of Oral and Maxillofacial Surgery. Jaypee:New
Delhi, India, p. 453-454.
4. Danudiningrat, Coen P. Kista Odontogen & Non Odontogen. Textbook.
Surabaya. Airlangga University. Indonesia. 2006. Hal. 38-42.
5. J. V. Soames and J. C. Southam. 2005. Oral Pathology 4thEd. Oxford
University Press. UK.
6. Lin LM, Huang GTJ, Rosenberg PA (2007) Proliferation of epithelial cell
rests, formation of apical cysts, and regression of apical cysts after periapical
wound healing. Journal of Endodontics 33, 90816.
7. Miloro M, Petersons principles of oral and maxillofacial surgery, 2th ed, BC
Decker Inc, London, 2004; p. 457-60.
8. Pasler FA, Heiko V. 2007. Pocket Atlas of Dental Radiology. Thieme:
Amerika, p. 367.
9. Fragiskos, D. Fragiskos. Oral Surgery. Athens, Greece. Springer Science &
Bussiness Media. 2007; p. 33-46; 155-76.

28