Anda di halaman 1dari 7

RMK SAP 4 DAN 5

AKUNTANSI KEPERILAKUAN
ASPEK KEPERILAKUAN PADA AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN

Oleh:
Kelompok 1

I Wayan Andika

(1406305054 / 20)

Ngurah Agung Peranian

(1406305086 / 22)

Ni Komang Purwanita Wisuandari

(1406305095 / 24)

Ida Bagus Agung Haridharma Purba

(1406305151 / 30)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2016

ASPEK KEPERILAKUAN PADA AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN


(SAP 4 DAN 5)
1.

Akuntansi Pertanggungjawaban
Akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting) merupakan istilah yang

digunakan dalam menjelaskan akuntansi perencanaan serta pengukuran dan evaluasi kinerja
organisasi sepanjang garis pertanggungjawaban. Akuntansi pertanggungjawaban adalah
jawaban akutansi manajemen terhadap pengetahuan umum bahwa maslah-maslah bisnis
dapat dikendalikan seefektif mungkin dengan mengendalikan orang-orang yang bertanggun
jawab untuk menjalankan operasi tersebut.
Salah satu tujuan akuntansi pertanggungjawaban adalah untuk memastikan bahwa
individu-individu pada seluruh tingkat di perusahaan telah memberikan kontribusi yang
memuaskan terhadap pencapaian tujuan perusahaan secara menyeluruh.
2.

Akuntansi Pertanggungjawaban versus Akuntansi Konvensional


Akuntansi pertanggungjawaban tidaklah melibatkan deviasi apa pun dari prinsip

akuntansi yang diterima secara umum. Akutansi pertanggungjawaban berbeda dengan


akuntansi konvesional dalam hal cara operasi direncanakan dan cara data akuntansi
diklasifikasikan serta diakumulasikan.
Dalam akuntansi konvensional, data diklasifikasikan berdasarkan hakikat atau fungsi
dan tidak digambarkan sebagai individu-individu yang bertanggung jawab atas terjadinya
dan pengendalian terhadap data tersebut. Oleh karena itu, data akuntansi konvesional
mempunyai nilai terbatas bagi manajer dalam memantau efisiensi dari aktivitas harian
mereka.
Sedangkan Akuntansi pertanggungjawaban meningkatkan revelansi dari informasi
akuntansi dengan cara menetapkan suatu kerangka kerja untuk perencanaan, akuntasi data,
dan pelaporan yang sesuai dengan struktur organisasi dan hierarki pertanggungjawaban dari
suatu perusahaan. Akuntansi pertanggungjawaban memberikan suatu sentuhan pribadi
terhadap mekanisme akumulasi data yang impersonal dalam akuntansi konvensional
dengan cara membahas manajer segmen secara langsung dan dengan menyediakan tujuan

serta hasil kinerja aktualatas factor-faktor operasional atas mana manajer tersebut
bertanggungjawab dan mampu melakukan pengendalian.
3.

Jaringan Pertanggungjawaban
Akutansi pertanggungjawaban didasarkan pada pemikiran bahwa seluruh biaya dapat

dikendalikan dan bahwa masalahnya hanya terletak pada penetapan titik pengendalianya.
Untuk tujuan ini, struktur organisasi perusahaan dibagi-bagi ke dalam suatu jaringan
pusat-pusat pertanggungjawaban secara individual atau, sebagaimana didefinisikan oleh
National Associaation of Accountants, ke dalam unit-unit organisasional yang terlibat
dalam pelaksanaan suatu fungdi tunggal atau sekelompok fungsi yang saling terkait satu
sama lain, yang memiliki seorang kepala yang bertanggung jawab untuk aktivitas dari unit
tersebut. Dengan kata lain, setiap unit dari jaringan organisasi ini, atau secara lebih spesifik,
individu yang bertanggung jawab untuk unit tersebut, bertanggung jawab untuk
melaksanakan suatu fungsi (output) dan untuk menggunakan sumber daya (input) seefisien
mungkin dalam melaksanakan fungsi ini.
Tanggung jawab sebaiknya tidak dibagi ke dua atau lebih individu karena pembagian
tanggungjawab sering kali menumbulkan kesalahpahaman, kebingungan, duplikasi usaha,
atau pengabaian kerja. Hal tersebut juga membuatnya menjadi sangat sulit untuk
menentukan siapa yang bersalah jika sesuatu yang salah terjadi. Selain kebutuhan untuk
membebankan tanggung jawab secara hati-hati hanya ke satu orang saja, masing-masing
individu tersebut pada giliranya harus melapor hanya ke pada satu manajer saja. Posisi
peyelia harus menetapkan pengelompokan yang logis atas aktivitas-aktivitas pada berbagai
tingkatan manajemen.
Singkatnya, untuk menciptakan jaringan pertanggungjawaban yang berfungsi dengan
baik, harus terdapat kesesuaian yang sempurna antara tanggung jawab dan wewenang
disemua tingkatan.

4.

Jenis-jenis Pusat Pertanggungjawaban


Pusat-pusat pertanggungjawaban (responsibility center) individu berfungsi sebagai

kerangka kerja untuk mengukur dan mengevaluasi kinerja dari manajer segmen. Pusat

pertanggungjawaban dikelompokan ke dalam empat kategori, yang masing-masing


mecerminkan rentang dan diskresi atas pendapatan dan atau biaya serta lingkup
pengendalian dari manajer yang bertanggungjawab, antara lain:
1) Pusat Biaya
Pusat biaya merupakan bidang tanggng jawab yang menghasilkan suatu produk
atau memberikan suatu jasa. Manajer yang bertanggung jawab atas pusat biaya
memiliki dikresi dan kendali hanya atas penggunaan sumberdaya fisik dan
manusia yang diperlukan untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
Mereka tidak memiliki kendali atas pendapatan, karena fungsi pemasaran
bukanlah tanggung jawabnya.
2) Pusat Pendapatan
Manajer dipusat pendapatan tidak mempunyai diskresi maupun pengendalian
terhadap investasi pada aktiva atau biaya dari barang atau jasa yang akan dijual.
mereka hanya memiliki kendali terhadap biaya pemasaran langsung dan kinerja
mereka akan diukur dalam hal kemampuan mereka untuk mencapai target
penjualan yang telah ditentukan sebelumnya dalam batasan beban tertentu.
3) Pusat Laba
Pusat laba adalah segmen di mana manajerr memiliki kendali baik atas
pendapatan maupun atas biaya, manajer dievaluasi berdasarkan efisiensi mereka
dalam menghasilkan pendapatan dan pengendalian biaya. Dikresi yang mereka
miliki terhadap biaya meliputi beban produksi dari produk atau jasa.
Tanggungjawab mereka adalah lebih luas dibandingkan dengan tanggung jawab
dari pusat pendapatan atau pusat biaya karena mereka bertanggung jawab baik
atas fungsi distribusi maupun manufaktur.
4) Pusat Investasi
Manajer pusat investasi bertanggung jawab terhadap investasi dalam aktiva serta
pengendalian atas pendapatan dan biaya. Mereka bertanggung jawab untuk
mencapai margin kontribusi dan target laba tertentu serta efisiensi dalam
penggunaan aktiva.
5.

Menetapkan Pertanggungjawaban
Setelah memilih jenis dari struktur organisasi, maka tugas penting berikutnya dalam

membangun suatu system pertanggungjawaban yang efektif secara keperilakuan adalah


menggambarkan pertanggungjawaban.
4

Kebanyakan orang menerima tanggung jawab dan tantangan yang terkandung di


dalamnya. Bertanggung jawab terhadap sesuatu membuat seseorang merasa kompeten dan
penting. Hal tersebut mengimplikasikan wewenang pengambilan keputusan dan dapat
memotivasi mereka untuk memperbaiki kinerjanya. Tanggung jawab adalah pemenuhan
dari suatu pekerjaan. Tanpa hal tersebut, moral akan menderita. Faktor yang paling penting
dalam menggambarkan pertanggungjawaban adalah masalah tingkat dikresi dan
pengendalian atas sumber daya yang diperlukan guna melaksanakan fungsi atau tugas yang
didelegasikan.
6.

Perencanaan,

Akumulasi

Data,

dan

Pelaporan

Berdasarkan

Pusat

Pertanggungjawaban
Ketika struktur jaringan pertanggungjawaban yang baik dibangun, maka hal ini
menjadi suatu wahana untuk perencanaan, kumulasi data, dan pelaporan. Setiap elemen
biaya ataupun pendapatan, baik yang berada dalam anggaran maupun dalam akumulasi
hasil aktual, seharusnya ditelusuri ke segmen jaringan pertanggunjawaban di mana
tanggung jawab atas hal tersebut ada.
1) Anggaran Pertanggungjawaban
Karakteristik dari anggaran pertanggungjawaban adalah bahwa manajer pusat
pertanggungjawaban dibebani target kinerja hanya untuk pos-pos pendapatan dan
biaya

yang

dapat

mereka

kendalikan.

Walaupun

kepala

dari

pusat

pertanggungjawaban tidak memiliki kendali sepenuhnya atas elemen-elemen


biaya tertentu, jika mereka mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
jumlah biaya yang terjadi, maka biaya-biaya tersebut bias dianggap dapat
dikendalikan pada tingkat mereka dan dapat dibebankan kepada pusat
pertanggungjawaban mereka.
2) Akumulasi Data
Untuk memfasilitasi perbandingan periodik dengan berbagai perencanaan
anggaran, akumulasi pos-pos laba dan beban aktual harus lah mengikuti pola
jaringan pertanggungjawaban.
3) Pelaporan Pertanggunjawaban
Produk akhir dari hasil sistem akuntansi pertanggungjawaban adalah laporan
pertanggungjawaban atau laporan kinerja secara periodik. Laporan-laporan ini
merupakan media lewat mana biaya-biaya dikendalikan, efisien manajerial

diukur, dan pencapaian tujuan dinilai. Alat pengendalian ini melaporkan apa yang
terjadi baik berdasarkan akun maupun berdasarkan tanggngjawab fungsional dari
individu-individu. Laporan kinerja didistribusi kepada manajemen puncak dan
manajer di tingkat yang lebih rendah.
7.

Asumsi Keperilakuan dari Akutansi Pertanggungjawaban


Perencanaan pertanggungjawaban, akumulasi data, dan system pelaporan didasarkan

pada beberapa asumsi yang berkenan dengan operasi dan perilaku manusia, meliputi:
1) Manajemen berdasarkan perkecualian adalah mencukupi untuk mengendalikan
operasi secara efektif.
2) Manajemen berdasarkan tujuan akan menghasilkan anggaran, biaya standar,
tujuan organisasi, dan rencana praktis untuk mencapaian yang disetujui bersama.
3) Struktur pertanggungjawaban dan akuntabilitas mendekati sstruktur hierarki
organisasi.
4) Para manajer dan bawahanya rela menerima pertanggunjwaban dan akuntabilitas
yang dibebankan kepada mereka melalui hirarki organisasi.
5) Sistem akuntansi pertanggungjawaban mendorong kerja sama dan bukan
persaingan.

DAFTAR PUSTAKA
Aries, Ivan dan Imam Ghozali. 2006. Akuntansi Keperilakuan. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Arfan Ikhsan dan Muhammad Ishak. 2005. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba
Empat.
Belkaoui, Ahmed. 1989. Behavioral Accounting: The Research and Practical Issues. New
York: Quorum Books.
Dermawan Rizky. 2004. Pengambilan Keputusan: Landasan Filosofis, Konsep, dan
Aplikasi. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Hudayati, Ataina. 2002. Perkembangan Penelitian Akuntansi Keperilakuan: Berbagai
Teori. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia. Vol. 6 No. 2.
Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.
Siegel, G.; Marconi, dan Helena R. 1989. Behavioral Accounting. South-Western
Publishing Co.
Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keperilakuan. Denpasar: Penerbit ANDI.
Thoha, Miftah. 1983. Perilaku Organisasi dan Perekayasaan. Yogyakarta: STIE YKPN.