Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Ketersediaan listrik di Kabupaten Jaya Wijaya saat ini belum
optimal dan merata, hal ini disebabkan oleh susunan letak antar distrik
yang cenderung tidak merata dan tersebar, sehingga pencapaian listrik
oleh PLN sangat terbatas.
Namun secara potensi khususnya untuk potensi pengembangan PLTMH
di Kabupaten Jaya Wijaya sangatlah besar, hal ini didukung oleh
melimpahnya sumber daya air berupa sungai sungai yang cukup besar
dengan
tinggi
jatuh
yang
mencukupi.
Studi ini dilaksanakan di Distrik Biri dan Koragi, dimana di lokasi
tersebut sama sekali belum tersentuh listrik, untuk itu diperlukan suatu
kajian potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mini-Hidro
(PLTMH)
dengan
melihat
kondisi
sungai
disekitar.
Dalam rangka peningkatan penyediaan tenaga listrik di Indonesia serta
dalam
usaha
mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, Pemerintah
membuat
program
peningkatan pembangunan pembangkit listrik alternatif non minyak
antara
lain
dengan
memanfaatkan potensi sumberdaya alam berupa air sungai yang
banyak terdapat di seluruh Indonesia.
Salah satu solusi menghadapi masalah kelistrikan terutama di daerah
perdesaan
adalah
pembangkit listrik tenaga air skala mikro. Pembangkit Listrik Tenaga
Mini-Hidro
(PLTMH)
merupakan sejenis pembangkit tenaga listrik yang mirip dengan PLTA,
hanya sekalanya lebih kecil. Air dari sungai menggerakan pemutar
kincir secara alami dan disambung ke generator untuk menghasilkan
listrik. Untuk itu telah diadakan survai lapangan yang dilanjutkan
dengan penyusunan studi kelayakan dan rancang dasar (basic design)
pada lokasi pekerjaan.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Kebutuhan energi listrik di Indonesia semakin meningkat, baik


untuk komersial maupun nonkomersial, sementara ini sebagian suplai
listrik di Indonesia menggunakan energi fosil, yang tentunya sangat
mahal dan tidak ramah lingkungan. Untuk itu diupayakan untuk
pemenuhan kebutuhan listrik menggunakan energi terbarukan, dalam
hal ini adalah pemanfaatan energy air yang sangat melimpah di
Indonesia.
Kabupaten Jaya Wijaya Provinsi Papua, mempunyai potensi yang besar
untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air, khusunya untuk
minihidro. Untuk itu diperlukan survey yang lebih lanjut untuk melihat
potensi tenaga air di Kabupaten Jaya Wijaya khususnya utuk DistrikBiri
dan Koragi yang sangat membutuhkan pasokan tenaga listrik agar
dapat mendukung laju perkembangan wilayah serta perekonomian
diwilayah sekitarnya.

1.3 GAMBARAN UMUM LOKASI PEKERJAAN


Lokasi pekerjaan adalah di Distrik Biri dan Koragi Kabupaten Jaya
Wijaya Provinsi Papua. Keadaan saat ini masih belum ada listrik
terpasang secara permanen, untuk pemenuhuan kebutuhan listrik
masyarakat mengandalkan tenaga matahari dari solar cell, tentunya
akan sangat terbatasa dari segi pemenuhan listrik sehari hari.
Sungai yang cukup berpotensi di sekitar lokasi Studi adalah Sungai
Nagi
yang
lokasinya
memang cukup dekat dengan pusat keramaian. Kondisi debit air
berkisar
antara
300
liter/detik sampai 500 liter/ detik.

1.4 LINGKUP PEKERJAAN


Lingkup Pekerjaan studi ini adalah sebagai berikut :
A. Melakukan survai dan pengumpulan data (primer dan sekunder)
dari berbagai aspek,antara lain teknis, ekonomi/bisnis, keuangan
dan lingkungan;
B. Melakukan evaluasi dan analisa data;
C. Membuat Basic Design Engineering (sipil, elektrikal, mekanikal),
termasuk pemilihan dan penentuan letak lokasi pembangkit,
kapasitas dan jenis pembangkit, sistem instalasi pembangkit,
serta kemungkinan interkoneksi dengan jaringan PLN Distribusi;
D. Menghitung dan Rencana Anggaran Biaya Pembangunan Proyek
berdasarkan real price saat ini di lokasi pekerjaan.
E. Melakukan beberapa Analisa Kelayakan berikut kesimpulannya,
yang
ditinjau
dari
masing-masing aspek yaitu:
Analisa kelayakan teknis,
Analisa kelayakan ekonomi,
Analisa kelayakan keuangan, dan
Analisa kelayakan lingkungan.

1.5 PENCAPAIAN LOKASI PEKERJAAN


Lokasi rencana PLTM Biri Koragi dari Kota Wamena adalah sekitar
60 km, dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat, namun jika
sudah mulai masuk ke Distrik harus memeperhatikan jenis kendaraan
yang dipakai dan cuaca pada saat perjalanan, karena kondisi jalan
masih berupa jalan tanah yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan jika
hujan.

BAB II
DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY
LAPANGAN

2.1 GAMBARAN UMUM KABUPATEN JAYAWIJAYA


Kabupaten Jayawijaya berada di hamparan Lembah Baliem, sebuah
lembah
aluvial
yang
terbentang pada areal ketinggian 1500-2000 m di atas permukaan
laut. Temperatur udara bervariasi antara 14,5 derajat Celcius sampai
dengan 24,5 derajat Celcius. Dalam setahun ratarata curah hujan
adalah 1.900 mm dan dalam sebulan terdapat kurang lebih 16 hari
hujan. Musim kemarau dan musim penghujan sulit dibedakan.
Berdasarkan data, bulan Maret adalah bulan dengan curah hujan
terbesar, sedangkan curah hujan terendah ditemukan pada bulan Juli.
Lembah Baliem dikelilingi oleh Pegunungan Jayawijaya yang terkenal
karena puncak-puncak salju abadinya, antara lain: Puncak Trikora
(4.750 m), Puncak Mandala (4.700 m) dan Puncak Yamin (4.595 m).
Pegunungan ini amat menarik wisatawan dan peneliti Ilmu
Pengetahuan Alam karena puncaknya yang selalu ditutupi salju
walaupun berada di kawasan tropis. Lereng pegunungan yang terjal
dan lembah sungai yang sempit dan curam menjadi ciri khas
pegunungan ini. Cekungan lembah sungai yang cukup luas terdapat
hanya di Lembah Baliem Barat dan Lembah Baliem Timur (Wamena).
Vegetasi alam hutan tropis basah di dataran rendah memberi peluang
pada
hutan
iklim
sedang berkembang cepat di lembah ini. Ekosistem hutan pegunungan

berkembang di daerah ketinggian antara 2.0002.500 m di atas


permukaan laut. Orang Dani di lembah Baliem biasa disebut sebagai
"Orang Dani Lembah". Rata-rata kenaikan populasi orang Dani sangat
rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, salah satu
penyebabnya adalah keengganan pada ibu untuk mempunyai anak
lebih daripada dua yang menyebabkan rendahnya populasi orang Dani
di Lembah Baliem. Sikap berpantang pada ibu selama masih ada anak
yang masih disusui, membuat jarak kelahiran menjadi jarang. Hal ini
selain tentu saja karena adat istiadat mereka, mendorong terjadinya
poligami. Poligami terjadi terutama pada laki-laki yang kaya,
mempunyai banyak babi. Babi merupakan mas kawin utama yang
diberikan laki-laki kepada keluarga wanita. Selain sebagai mas kawin,
babi juga digunaklan sebagai lambang kegembiraan maupun
kedukaan. Babi juga menjadi alat pembayaran denda terhadap
berbagai jenis pelanggaraan adat. Dalam pesta adat besar babi tidak
pernah terlupakan bahkan menjadi bahan konsumsi utama. Sebelum
tahun 1954, penduduk Kabupaten Jayawijaya merupakan masyarakat
yang homogeny dan hidup berkelompok menurut wilayah adat, sosial
dan konfederasi suku masing-masing. Pada saat sekarang ini penduduk
Jayawijaya sudah heterogen yang datang dari berbagai daerah di
Indonesia dengan latar belakang sosial, budaya dan agama yang
berbeda namun hidup berbaur dan saling menghormati.
Mata pencaharian utama masyarakat Jayawijaya adalah bertani,
dengan sistem pertanian
tradisional. Makanan pokok masyarakat asli Jayawijaya adalah ubi jalar,
keladi dan jagung
sehingga pada areal pertanian mereka dipenuhi dengan jenis tanaman
makanan pokok ini.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya berusaha memperkenalkan jenis
tanaman lainnya seperti
berbagai jenis sayuran (kol, sawi, wortel, buncis, kentang, bunga kol,
daun bawang dan
sebagainya) yang kini berkembang sebagai barang dagangan yang
dikirim ke luar daerah untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat.
Lembah Baliem adalah areal luas yang sangat subur sehingga cocok
untuk berbagai jenis
komoditi pertanian yang dikembangkan tanpa pupuk kimia. Padi sawah
juga mulai
berkembang di daerah ini kerena penduduk Dani sudah mengenal cara
bertani padi sawah.
Begitupun komoditas perkebunan lainnya kini dikembangkan adalah
kopi Arabika.

Transportasi Kabupaten Jayawijaya hingga saat ini masih


mengandalkan perhubungan udara,
trayek komersil Wamena-Jayapura yang (pada tahun 2011) dilayani
oleh dua maskapai
penerbangan yaitu Trigana dan Nusantara Air Charter. Dahulu trayek
ini pernah dilayani oleh
antara lain oleh Merpati Nusantara, Manunggal Air, dan Aviastar. Trayek
Wamena-Biak
maupun Wamena-Merauke biasanya dilayani oleh penerbangan TNI
AURI dengan pesawat
Hercules C130 nya.
Semua jenis barang, baik barang kebutuhan pokok masyarakat, bahan
bangunan seperti
semen, besi beton, kendaraan seperti mobil, truk, bus hingga alat
berat seperti buldozer
maupun excavator serta kebutuhan bahan bakar minyak (bensin dan
solar) diangkut ke
Wamena menggunakan pesawat terbang.
Sedangkan transportasi darat yang menghubungkan Wamena dengan
empat puluh distrik
(hasil pemekaran distrik tahun 2011) di kabupaten Jayawijaya, sudah
dapat dijangkau dengan
kendaraan beroda empat atau setidaknya dengan kendaraan roda dua.
Jalan darat
menghubungkan Wamena dengan ibu kota kabupaten hasil pemekaran
yaitu ke Tiom
(kabupaten Kabupaten Lanny Jaya), Karubaga (Kabupaten Tolikara),
Elelim (Kabupaten
Yalimo). Jalan darat hingga ke Distrik Kurima di Kabupaten Yahukimo
juga sudah ada, namun
kendala longsor yang selalu terjadi di Sungai Yetni membuat bagian
jalan ini tidak selalu dapat
dilalui dengan kendaraat beroda empat.
Sebuah ruas jalan yang diharapkan dapat menghubungkan Wamena
dengan Kenyam
(Kabupaten Nduga) sedang dibangun, namun karena jalan ini melintas
dalam kawasan Taman
Nasional Lorentz, untuk sementara pembangunan jalan ini sedang
ditunda menunggu kajian
lebih lanjut.

2.2 DESKRIPSI LOKASI STUDI


Lokasi pekerjaan adalah di Distrik Bpiri dan Koragi Kabupaten Jaya

Wijaya Provinsi Papua. Dari


data diatas disebutkan bahwa jumlah penduduk di Distrik Koragi
adalah 857 jiwa dan Distrik
Bpiri adalah 1270 jiwa.
Luas wilayah untuk Distrik Koragi adalah 465,94 km2 dan Distrik Bpiri
adalah 348,12 km2.
Dari pengamatan lapangan diperkirakan terdapat Kepala Keluarga (KK)
sebanyak 400 sampai
dengan 500 KK.

2.3 PELAKSANAAN SURVEY


Pelaksanaan survey dilaksanakan dengan penelusuran Sunga Nagi
dengan didampingi oleh
masyarakat setempat. Antusias masyarakat sangat tinggi dengan
besar harapan bisa
dibangunnya prasarana listrik di kampung mereka.

2.4 HASIL PENGAMATAN LAPANGAN


Sungai yang cukup berpotensi di sekitar lokasi Studi adalah Sungai
Nagi yang lokasinya
memang cukup dekat dengan pusat keramaian. Kondisi debit air
berkisar antara 300
liter/detik sampai 500 liter/ detik.

Dari hasil pengamatan lapangan didapat potensi tinggi jatuh total


adalah 56 meter, yang
dibagi mencadi dua tingkatan (casecade), masing-masing adalah 36
meter dan 20 meter.
Penerapan PLTMH bertingkat direkomendasikan untuk lokasi ini
mengingat kondisi topograf
yang bervariasi sehingga lebih ekonomis untuk membuat dua
tingkatan PLTMH untuk
mengurangi biaya konstruksi pembangunan saluran hantar (waterway)
yang cukup panjang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Bab Desain PLTMH.

BAB III. PENGENALAN PLTMH


3.1. APAKAH PLTMH
PLTMH merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
Hidro atau dalam bahasa
Inggrisnya Micro Hydro Power (MHP). PLTMH adalah suatu sistem
pembangkit listrik dengan
menggunakan sumber energi dari tenaga air. Mikro menunjukan
ukuran kapasitas pembangkit,
yaitu antara 500 Watt 100 kilo Watt (menurut UNIDO, sedangkan
menurut Permen ESDM
tahun 2002 berkapasitas < 1 MW).
PLTMH bekerja ketika air dalam jumlah dan ketinggian tertentu
dijatuhkan melalui
pipa pesat (penstok) dan menggerakan turbin yang dipasang diujung
bawah pipa. Putaran
turbin di kopel (dihubungkan) dengan generator sehingga generator

berputar dan
menghasilkan energi listrik. Listrik yang dihasilkan dialirkan melalui
kabel listrik ke rumahrumah penduduk atau konsumen lainnya. Jadi
PLTMH mengubah energi potensial yang
berasal dari air menjadi energi listrik. Untuk memanfaatkan energi air
dengan tepat dan
menghasilkan energi listrik yang baik, diperlukan peralatan yang
sesuai dan perencanaan
yang baik.

Tenaga air merupakan salah satu cara untuk membangkitkan listrik


yang telah dimanfaatkan
sejak jaman dulu oleh penduduk Indonesia, dan dikenal dengan istilah
kincir. Secara
prinsip kerja, kincir dengan PLTMH adalah sama, tetapi secara
teknologi PLTMH jauh lebih
modern dan lebih efsien. Adapun beberapa keunggulan pemanfaatan
PLTMH dibandingkan
dengan teknologi lain adalah :

Kondisi geografis sebagian besar wilayah Indonesia yang berbukit dan curah
hujan yang memadai sepanjang tahun merupakan pengembangan PLTMH.
PLTMH tidak menyebabkan polusi dan kerusakan lingkungan, bahkan
masyarakat sekitar akan diajak turut serta menjaga hutan sebagai sumber air.
PLTMH dapat beroperasi penuh 24 jam setiap hari, karena air tidak tergantung
siang atau malam.
Lebih dari 80% komponen PLTMH telah dapat dibuat di dalam negeri oleh
industriindustri kecil dan menengah yang tersebar di seluruh negeri.
PLTMH dapat lebih panjang umur dibandingkan dengan pembangkit listrik
lainnya jika dipelihara dengan baik.

PLTMH sangat cocok untuk melayani kebutuhan listrik masyarakat pedesaan,


dan daerah terpencil sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi
masyarakat desa.
Perubahan sistem kerja PLTMH lebih lambat, air sebagai sumber energi berubah
secara berangsur-angsur dari hari ke hari, tidak dari menit ke menit seperti halnya
angin.
Pengoperasian dan perawatan PLTMH sangat mudah dan murah dibandingkan
dengan generator diesel atau pembangkit lainnya.
Energi listrik atau energi mekanik yang dihasilkan dapat digunakan untuk
usaha
produktif dan meningkatkan produktivitas ekonomi di daerah terpencil.

Meskipun demikian ada juga sejumlah kekurangan yang harus


dipertimbangkan
ketika
membandingkan PLTMH dengan sumber energi lain. Pembangkit listrik
air skala kecil identik dengan:

Biaya investasi yang relatif besar untuk pembangunan PLTMH, meskipun biaya
operasinya rendah. Memerlukan penguasaan pengetahuan khusus yang kadang
tidak tersedia dimasyarakat setempat.
Perlu diperhatikan bahwa PLTMH bukan merupakan pembangkit listrik tenaga
air (PLTA) yang dikecilkan, tetapi sebuah pembangkit yang memerlukan
perencanaan dan pembangunan yang unik dan berbeda dengan PLTA.
Meskipun PLTMH memerlukan perhatian yang sederhana, tetapi harus dilakukan
secara terus menerus, terutama dalam operasional dan perawatannya. Kadangkadang masyarakat desa tidak dipersiapkan untuk melakukannya, sehingga
mereka kurang terorganisir, kurang sadar dan kurang rasa memiliki. Akibatnya
PLTMH kurang mampu bertahan lama. Hal ini merupakan aspek yang harus
diperhatikan dengan teliti dalam merencanakan sebuah PLTMH.

Terlepas dari sejumlah klasifkasi teknis yang akan dijelaskan pada


bagian
berikutnya,
pembangkit listrik tenaga air di kelompokan berdasarkan ukuran
kapasitasnya. Walaupun ada sejumlah defnisi yang berbeda, dalam hal
ini kita akan memakai klasifkasi berdasarkan standard UNIDO dan
Permen ESDM tahun 2002.

3.2. PEMANFAATAN PLTMH

Mikrohidro dapat digunakan langsung sebagai tenaga mekanik poros


untuk
kebanyakan
aplikasi industri kecil, seperti penggilingan padi, jagung dan kopi.
PLTMH
biasanya
diaplikasikan untuk penyediaan energi listrik dengan mengkonversikan
daya
poros
menjadi energi listrik dengan menggunakan generator biasa atau
motor
listrik.
Di beberapa wilayah miskin di dunia, seperti Afrika PLTMH lebih banyak
digunakan
sebagai
penggilingan bahan makanan dari pada digunakan sebagai
pembangkit listrik.

3.3. KOMPONEN CIVIL


Kondisi topograf dan hidrologi lokasi aliran sungai yang berpotensi
minihidro,
secara
alami
sangat mempengaruhi skema sistem PLTMH, dan memberikan
beberapa
alternatif
lokasi
konstruksi bangunan sipil PLTMH sebagai komponen skema sistem
PLTMH.
Dengan
demikian
pemilihan lokasi bangunan sipil berdasarkan kondisi topograf dan
hidrologi
menentukan
skema sistem PLTMH. Perlu dipahami bahwa dari banyak kasus
pembangunan
pembangkit
listrik skala kecil (PLTMH) memiliki hambatan antara lain adalah biaya
pembangunan
yang
relatif tinggi karena kondisi topograf dan mempengaruhi tingkat
keekonomisan.
Bab
ini
akan
membantu menjelaskan prinsip teknologi konstruksi bangunan sipil
yang
tepat,
berkualitas
dan diharapkan dengan biaya pembangunan yang efsien.
1.

Skema Sistem PLTMH


Dalam suatu lokasi potensi pembangin energi minihidro dapat
dipetakan
sebagai
suatu
skema
sistem (gambar) yang terdiri dari bererapa komponen bangunan sipil
seperti
bendungan
(weir), saluran pengambil (intake), saluran pembawa, bak pengendap,
saluran
pembawa,
bak
penenang, pipa pesat (penstock), rumah pembangkit dan saluran
pembuang.

Lokasi
Bendungan
dan
Intake
Tujuan dari bendungan adalah untuk menaikkan/mengontrol tinggi
air
dalam
sungai
secara
signifkan sehingga memiliki jumlah air yang cukup untuk dialihkan ke
dalam
intake
pembangkit
minihidro.
Lokasi bendungan, bendung dan intake yang berfungsi untuk
menaikkan
dan
mengontrol
aliran air sungai untuk instalasi PLTMH terdiri dari berbagai variasi tipe.
Tipe
tersebut
dapat
dipilih dan digunakan sesuai dengan kebutuhan dan atas
pertimbangan
tingkat
keekonomisan
PLTMH. Disamping itu pemilihan lokasi bendungan (weir) dan intake
juga
bergantung
dari
kelayakan
daerah
aliran
sungainya.
Sebuah bendungan dilengkapi dengan pintu air untuk membuang
kotoran/lumpur
yang
mengendap. Perlengkapan lainnya adalah : penjebak/saringan sampah.
PLTMH
umumnya
merupakan pembangkit tipe run off river sehingga bangunan
bendungan
dan
intake
dibangun
berdekatan. Dengan pertimbangan dasar stabilitas sungai dan aman
terhadap
banjir,
dapat
dipilih
lokasi
untuk
bendungan
(weir)
dan
intake.
Tujuan dari intake adalah untuk memisahkan air dari sungai atau
kolam
untuk
dialirkan
ke
dalam saluran, penstock atau bak penampungan. Tantangan utama
dari
bangunan
intake
adalah ketersediaan debit air yang penuh dari kondisi debit rendah
sampai
banjir.
Juga
sering
kali adanya lumpur, pasir dan kerikil atau puing-puing dedaunan pohon
sekitar
sungai
yang

terbawa
aliran
sungai.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi
bendungan
(weir)
dan
intake, antara lain :
Jalur
daerah
aliran
sungai.
Lokasi bendungan (weir) dan intake dipilih pada daerah aliran sungai
dimana
terjamin ketersediaan airnya, alirannya stabil, terhindar banjir dan
pengikisan
air
sungai.
b.
Stabilitas
lereng
yang
curam.
Oleh karena pemilihan lokasi PLTMH sangat mempertimbangkan head,
sudah
tentu
pada lokasi lereng atau bukit yang curam. Dalam mempertimbangkan
lokasi
bangunan bendung (weir) dan intake hendaknya mempertimbangkan
stabilitas
sedimen
atau
stuktur
tanahnya
yang
stabil.
c. Memanfaatkan fasilitas saluran irigasi yang tersedia di
pedesaan.
Pemanfaatan ini dapat dipertimbangkan untuk efsiensi biaya
konstruksi,
karena
sudah banyak sungai di pedesaan telah dibangun konstruksi sipil untuk
saluran
irigas.
d. Memanfaatkan topografi alami seperti kolam dan lain-lain.
Penggunaan kealamian kolam untuk intake air dapat meemberikan
keefektifan
yang
cukup tinggi untuk mengurangi biaya, disamping itu juga membantu
menjaga
kelestarian alam tata ruang sungai dan ekosistem sungai. Yang perlu
diperhatikan
adalah
keberlanjutan
kolam
dan
pergerakan
sedimen.
e. Level volume yang diambil (tinggi dam) dan level banjir.
Karena pebangunan bendung/dam intake pada bagian yang sempit
dekat
sungai,
maka level banjir pada daerah itu lebih tinggi sehingga diperlukan
daerah
bagian
melintang
dam
yang
diperbesar
untuk
kestabilan.
f. Peletakan intake selalu pada sisi terluar dari lengkungan
sungai.
Pertimbangan ini dilakukan untuk memperkecil sedimen di dalam
saluran
pembawa.

Dan sering kali dibuat pintu air intake untuk melakukan pembilasan
sedimen
yang
terendap
dari
intake.
g. Keberadaan penggunaan air sungai yang mempengarungi
keluaran/
debit
air.
Jika intake untuk pertanian atau tujuan lain yang mengambil air maka
akan
mempengaruhi
debit
air.
2.
Rute
Saluran
Air
Tujuan bangunan saluran pembawa air (headcare/canal) adalah
untuk
mengalirkan
air
dari
intake/settling basin ke bak penenang, dan untuk memelihara volume
air.
Saluran air untuk sebuah pembangkit skala kecil, cenderung untuk
memiliki
bangunan
yang
terbuka. Ketika sebuah saluran terbuka dibangun pada sebuah lereng
bukit
maka
beberapa
hal
penting yang perlu diperhatikan :
a.
Topografi
dari
rute
Rute saluran air yang melewati daerah kemiringan yang curam, perlu
diperhatikan
gradient kemiringannya, tingkat potensi longsornya. Gradient aliran
yang
dilewati
tidak tinggi sehingga dapat mengalirkan kecepatan air melebihi
kecepatan
maksimal
yang
dapat
mengakibatkan
erosi
pada
dinding
saluran.
b.
Kesetabilan
tanah
pada
daerah
yang
dilewati
Terdapat banyak kejadian penimbunan saluran air karena longsornya
lereng
bukit
sehingga
perlu
diteliti/diperiksa
kestabilan
tanahnya.
c. Penggunaan struktur yang telah tersedia, termasuk jalan
dan
saluran
irigasi
Pemilihan saluran air sepanjang jalan yang telah tersedia dan saluran
irigasi
yang
tersedia memberikan banyak keuntungan disamping mengurangi
biaya,
juga
untuk
pemeliharaan dan pengawasan kualitas dan penggunaan air.
d. Geometri saluran yang baik adalah seperti setengah
lingkaran
3. Bak Penenang (Forebay) dan Fasilitas Pendukung
Tujuan bangunan bak penenang (forebay) adalah sebagai
penyaring
terakhir
seperti
settling
basin untuk menyaring benda-benda yang masih tersisa dalam aliran

air,
dan
merupakan
tempat permulaan pipa pesat (penstock) yang mengendalikan aliran
menjadi
minimum
sebagai
antisipasi aliran yang cepat pada turbin tanpa menurunkan elevasi
muka
air
yang
berlebihan
dan
menyebabkan
arus
baik
pada
saluran.
Pemilihan lokasi bak penenang untuk pembangkit listrik skala kecil
seringkali
berada
pada
punggung yang lebih tinggi, beberapa yang dapat dipertim-bangkan
antara
lain
:
a.
Keadaan
topograf
dan
geologi
lokasi.
b. Sedapat mungkin dipilih lokasi dimana bagian tanahnya relatif stabil.
Dan
jika
umumnya terdiri dari batuan keras maka sedapat mungkin dapat
mengurangi
jumlah
pekerjaan
penggalian.
c. Walaupun ditempatkan pada punggung, dipilih tempat yang relatif
datar.
d. Mengurangi hubungan dengan muka air tanah yang lebih tinggi.
4.
Rute
Pipa
Pesat
(Penstock)
Tujuan bangunan pipa pesat (penstock) adalah sebagai saluran
tertutup
(pipa)
aliran
air
yang
menuju turbin yang ditempatkan di rumah pembangkit. Saluran ini
yang
berhubungan
dengan
peralatan
mekanik
seperti
turbin.
Kondisi topograf dan pemilihan skema sistem PLTMH mempengaruhi
tipe
pipa
pesat
(penstock). Umumnya sebagai saluran ini harus didesain/dirancang
secara
benar
sesuai
kemiringan (head) sistem PLTMH.

Berdasarkan kondisi topograf yang ada pada lokasi skema sistem


PLTMH,
beberapa
pertimbangan pemilihan lokasi pipa pesat (penstock) antara lain
adalah
:
a. Topograf yang dilewati memiliki tingkat kemiringan yang memenuhi
persyaratan
dimana rute pipa pesat harus berada di bawah minimum garis
kemiringan
hidraulic,
seperti
digambarkan
berikut.
b.
Stabilitas
tanah
dari
daerah
yang
dilewati
c. Penmanfaatan jalan yang telah ada atau tersedia.

5. Rumah Pembangkit (Power House)


Tujuan
bangunan
rumah
pembangkit
(power
house)
adalah
sebagai
bangunan
yang
berfungsi
untuk
melindungi
peralatan
elektro
mekanikal
seperti
:
turbin,
generator,
panel
kontrol,
dan
lainnya
dari
segala
cuaca
dan
juga
mencegah
dari
orang
yang
tidak
berkepentingan
dan
pencurian peralatan barang tersebut.

Beberapa pertimbangan dalam memilih


lokasi
dan
membangun
rumah
pembangkit
ini,
antara
lain
:
a. Konstruksi harus berada di atas
struktur tanah yang sangat stabil, tidak
di
lereng
yang curam, dan umumnya di pinggir
sungai
yang
relatif
rendah
dan

daerah
aliran
datar.
b. Memiliki akses jalan yang cukup lebar untuk transportasi peralatan
elektriralmekanikal
yang
akan
dipasang.
c. Di lokasi yang relatif rata dan kering, sedikit luas sehingga dapat
digunakan
untuk
tempat kerja seperti pada saat perbaikan dan perawatan peralatan.
d. Elevasi lantai rumah pembangkit ini harus berada di atas elevasi
muka
air
saat
banjir
yang
paling
besar
dalam
beberapa
tahun
terakhir.
e. Karena berupa bangunan, harus memiliki ventilasi udara, jendela
untuk
cahaya
masuk tetapi diberikan seperti kasa untuk melindungi serangga masuk.
f. Ruangan yang dibangun juga cukup untuk digunakan seperti
penyimpanan
peralatan
dan atau suku cadang peralatan elektrikal dan mekanikal.
g. Kondisi pondasi harus cukup kuat untuk menahan pemasangan
beberapa
peralatan
yang
memiliki
berat
yang
cukup.
6.
Saluran
Pembuang
Tujuan saluran pembuang ini adalah sebagai saluran pembuang
aliran
air
yang
masuk
kedalam
rumah pembangkit dan menggerakkan turbin. Saluran ini bersatu
dengan
rumah
pembangkit

dan
aliran
sungai.
Dalam hal penempatan rute saluran pembuang ini, beberapa hal yang
harus
dipertimbangkan
antara
lain
:
a. Perkiraan tinggi genangan air pada rumah pembangkit ketika terjadi
banjir
besar.
b. Menghindari penggenangan bantaran sungai dan permukaan tanah
di
sekitar
rumah
pembangkit.
c. Fluktuasi dasar sungai pada daerah saluran pembuang.
d. Saluran pembuang harus diarahkan sesuai arah aliran sungai.

3.4. KOMPONEN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL


Peralatan
elektro-mekanikal
adalah
semua
peralatan
yang
dipergunakan
untuk
merubah
energi potensial air menjadi energi listrik. Peralatan utamanya terdiri
dari :
1.
Turbin
Merupakan peralatan mekanik yang mengubah energi potensial air
menjadi
energi
mekanik (putaran). Air yang memiliki tekanan dan kecepatan tertentu
menumbuk
sudu
sudu turbin dan memutar runner turbin sehingga berputar dengan
daya
yang
sebanding
dengan daya dari potensi air.

turbin crossflow

turbin propeller

Ada beberapa jenis turbin yang digunakan dalam pemanfaatan PLTMH


yang
disesuaikan
dengan besarnya debit air dan tinggi jatuh. Turbin yang paling banyak
digunakan
untuk
PLTMH
di
Indonesia
adalah
:

2.

Generator

Generator sinkron

Generator induksi

Generator merupakan komponen yang berfungsi merubah energi


mekanik
berupa
putaran menjadi energi listrik. Generator yang digunakan biasanya
jenis
arus
bolak
balik
(AC)
dengan frekuensi 50 hz pada putaran 1500 rpm. Energi listrik yang
dihasilkan
dapat
berupa
1
fasa (2 kabel) atau 3 fasa (4 kabel) dengan tegangan 220/380 Volt.
Generator
diputar
oleh
turbin melalui kopel langsung atau melalui puley dan sabuk (belt). Ada
dua
jenis
generator
yang banyak digunakan untuk PLTMH yaitu generator sinkron dan
motor
induksi
sebagai
generator (generator induksi).
3.

Panel
Listrik
dan
Alat
Kontrol
Panel listrik merupakan tempat dimana sambungan kabel (terminal)
dan
peralatan
pengaman listrik (MCB) serta meter listrik ditempatkan. Berikut
fungsi
panel
listrik
dan
alat
kontrol
:

kontrol, dimana frekuensi pada ELC dan tegangan pada IGC. Cara
paling
mudah
untuk
membedakannya adalah adanya kapasitor pada IGC dan sedangkan
pada ELC tidak ada.

4.

Beban Ballast (Ballast Load)


Beban ballast hanya digunakan pada PLTMH dengan pemakaian
kontrol beban (ELC/IGC)
sedangkan pada PLTMH tanpa kontrol tidak menggunakan beban
ballast. Pada PLTMH tanpa
menggunakan kontrol, tegangan dan frekuensi akan naik dan turun

sesuai dengan
perubahan beban konsumen, hal ini akan mengakibatkan lampu
dan peralatan elektronik
akan cepat rusak.
Beban ballast digunakan untuk membuang energi listrik yang
dibangkitkan oleh
generator tetapi tidak terpakai oleh konsumen. Sehingga daya yang
dihasilkan generator
dengan daya yang dipakai akan seimbang, hal ini dimaksudkan
untuk menjaga tegangan dan
frekuensi generator tetap stabil.