Anda di halaman 1dari 15

RAJUNGAN

Portunus
pelagicus)
Disusun oleh
Devi Annisa

26020214120006

Dian Isnani G.P

26020214120043

Denny Riandi

26020214120026

I.

ISI

I.1 Rajungan (Portunus pelagicus)


Rajungan (Portunus pelagicus) adalah salah satu anggota kelas crustacea yang
menjadi komoditas ekspor penting dari Indonesia. Rajungan termasuk komoditas
ekspor karena memiliki daging yang sangat enak dan dapat diolah menjadi
berbagai macam masakan sehingga hewan ini sangat diminati para pecinta
seafood (Sudhakar et al. 2009). Rajungan dari Indonesia sering diekspor dalam
bentuk rajungan beku tanpa kepala dan kulit serta dalam bentuk olahan (dikemas
dalam kaleng).
I.2 Taksonomi
Klasifikasi rajungan menurut Indriyani (2006) adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub kelas : Malacostraca
Ordo : Eucaridae
Sub ordo : Decapoda
Famili : Portunidae
Genus : Portunus
Spesies : Portunus pelagis dan Portunus trituberculatus
Rajungan memiliki karapas yang sangat menonjol dibandingkan dengan
abdomennya. Lebar karapas pada rajungan dewasa dapat mencapai ukuran 18,5
cm. Abdomennya berbentuk segitiga (meruncing pada jantan dan melebar pada
betina), tereduksi dan melipat ke sisi ventral karapas. Kedua sisi muka karapas
terdapat 9 buah duri yang disebut sebagai duri marginal. Duri marginal pertama
berukuran lebih besar daripada ketujuh duri belakangnya, sedangkan duri
marginal ke-9 yang terletak di sisi karapas merupakan duri terbesar. Kaki
rajungan berjumlah 5 pasang, pasangan kaki pertama berubah menjadi capit
(cheliped) yang digunakan untuk memegang serta memasukkan makanan ke
dalam mulutnya, pasangan kaki ke-2 sampai ke-4 menjadi kaki jalan, sedangkan
pasangan kaki jalan kelima berfungsi sebagai pendayung atau alat renang,

sehingga sering disebut sebagai kepiting renang (swimming crab). Kaki renang
pada rajungan betina juga berfungsi sebagai alat pemegang dan inkubasi telur
(Oemarjati dan Wisnu 1990).
I.3 Biologi Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus)
Morfologi
Adapun klasifikasi Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) menurut Saanin
(1984) dalam www.dkp.go.id. (2004) adalah sebagai berikut.
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Crustacea
Ordo : Eucaridae
Sub ordo : Decapoda
Family : Portunidae
Genus : Portunus
Species : Portunus pelagicus (Linnaeus, 1764)
Common Name : Swimming crab
Nama Umum : Rajungan
Nama Lokal : Rajungan atau Ketam Renjong

Gambar 1. Rajungan (Portunus pelagicus)


(Sumber : Sunarto, 2011)
Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki nama international yaitu
Swimming crab. (Rusmadi et al. (2014)

Moosa et al. (1980) menyebutkan bahwa di Indo Pasifik Barat, jenis


kepiting dan rajungan diperkirakan ada 234 jenis, sedangkan di Indonesia ada
sekitar 124 jenis. Empat jenis diantaranya dapat dimakan (edible crab) selain
tubuhnya berukuran besar juga tidak menimbulkan keracunan, yaitu rajungan
(Portunus pelagicus), kepiting bakau (Scylla serrata), rajungan bintang (Portunus
sanguinolentus), rajungan karang (Charybdis feriatus), dan rajungan angin
(Podopthalamus vigil).
I.4 Morfologi Rajungan
Rajungan adalah kepiting yang kuat dan mempunyai kemampuan
berenang cepat sehingga dapat berimigrasi jauh kedalam air. Hal ini disebabkan
karena rajungan mempunyai potongan-potongan kaki berbentuk dayung dan pada
siang hari rajungan melintang di dalam pasir dan hanya saja kelihatan. Ukuran
rajungan yang terdapat di alam sangat bervariasi tergantung wilayah dan musim.
Perbedaan yang mencolok antara jantan dan betina terlihat jelas, dimana pada
rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar, sapitnya pun lebih panjang
daripada betina. Warna dasar pada jantan adalah kebiru-biruan dengan bercakbercak putih terang, sedangkan pada betina berwarna dasar kehijau-hijauan
dengan bercak-bercak putih agak suram (Kordi 1997).
Rajungan (Portunus pelagicus) adalah sejenis kepiting renang atau
swimming crab; disebut demikian karena memiliki sepasang kaki belakang yang
berfungsi sebagai kaki renang, berbentuk seperti dayung. Karapasnya memiliki
tekstur yang kasar, karapas melebar dan datar; sembilan gerigi disetiap sisinya;
dan gerigi terakhir dinyatakan sebagai tanduk (Gambar 2). Karapasnya tersebut
umumnya berbintik biru pada jantan dan berbintik coklat pada betina, tetapi
intensitas dan corak dari pewarnaan karapas berubah-ubah pada tiap individu
(Kailola, 1993 dalam Kangas, 2000).
Karapas pada Portunus pelagicus merupakan lapisan keras (skeleton) yang
menutupi organ internal yang terdiri dari kepala, thorax dan insang. Pada bagian
belakang terdapat bagian mulut dan abdomen. Insang merupakan struktur lunak
yang terdapat di dalam karapas. Matanya yang menonjol di depan karapas
berbentuk tangkai yang pendek (Museum Victoria 2000 dalam Butarbutar 2005).

Moosa dan Juwana (1996) menyebutkan bahwa rajungan (Portunus


pelagicus) memiliki capit yang memanjang, kokoh, berduri-duri dan berusukrusuk, permukaan sebelah bawah licin. Tepi posterior dari merus berduri, tepi
anterior berduri tajam tiga atau empat buah. Karpus mempunyai duri di bagian
dalam dan di bagian luar permukaan sebelah atas dari propundus dihiasi dengan
tiga buah garis biasanya bergranula, garis sebelah luar dan tengah berakhir
masing-masing dengan sebuah duri.
Hewan ini mencapai panjang 18 cm, capitnya memanjang, kokoh, dan
berduri-duri. Warna karapas pada rajungan jantan adalah kebiru-biruan dengan
bercak-bercak putih terang, sedangkan pada betina memiliki warna karapas
kehijau-hijauan dengan bercak-bercak keputih-putihan agak suram. Perbedaan
warna ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa (Nontji,
1993). Rajungan mempunyai duri yang panjang yang keluar dari tiap sisi karapas,
dan tentu saja Portunus pelagicus biasanya berwarna biru. Meskipun warnanya
dapat berkisar dari coklat hingga biru atau bahkan ungu, jantan mempunyai capit
yang lebih panjang daripada betina dan biasanya warnanya lebih biru (Abyss,
2001).

Gambar 2. Bagian-bagian rajungan (Portunus pelagicus)


Keterangan :
1. Capit

2. Kaki jalan

4. Karapas

7. Duri akhir

1a. Daktilus

3. Kaki renang

5. Mata

8.

karapas

Lebar

1b. Propadus

3a. Merus

6. Antena

Menurut Juwana dan Romimohtarto (2000) bahwa karapas rajungan


mempunyai pinggiran samping depan yang bergerigi dan jumlah giginya sembilan
buah. Abdomen terlipat kedepan dibawah karapas. Abdomen betina melebar dan
membulat penuh dengan embelan yang berguna untuk menyimpan telur. Rajungan
berkembang biak dengan cara bertelur setelah disimpan didalam lipatan abdomen.
Rajungan berwarna kebiru-biruan dan bercak-bercak putih terang pada jantan,
sedangkan betina berwarna dasar kehijau-hijauan dengan bercak putih agak
suram, perbedaan warna ini terlihat jelas pada rajungan dewasa. Sumpitnya
kokoh, dan berduri biasanya jantan mempunyai ukuran yang lebih besar dan lebih
panjang dari betina. Rajungan dapat tumbuh mencapai 18 cm (Kordi 1997).
Beberapa ciri untuk membedakan jenis kelamin rajungan (Portunus
pelagicus) adalah warna bintik, ukuran dan warna capit dan apron atau bentuk
abdomen. Karapas betina berbintik warna abu-abu atau cokelat. Capitnya
berwarna abu-abu atau cokelat dan lebih pendek dari jantan. Karapas jantan
berwarna biru terang, dengan capit berwarna biru. Apron jantan berbentuk T. Pada
betina muda yang belum dewasa, apron berbentuk segitiga atau triangular dan
melapisi badan, sedangkan pada betina dewasa, apron ini membundar secara
melebar atau hampir semi-circular dan bebas dari ventral cangkang (FishSA,
2000). Gambar 3 menunjukkan perbedaan karapas rajungan (Portunus pelagicus)
jantan dan betina (Gardenia, 2002).
pelagicus adalah rajungan yang berenang dan mempunyai sepasang kaki
renang yang dimodifikasi untuk mendayung. Karapasnya bertekstur kasar,
karapasnya sangat lebar mempunyai proyeksi tertinggi di setiap sudutnya. Capit
rajungan panjang dan ramping. Portunus pelagicus berubah warna dari coklat,
biru sampai lembayung dengan batasan moulting (Sea-ex, 2001 dalam Gardenia,
2006).
Rajungan jantan berwarna dasar biru dengan bercak-bercak putih terang,
sedangkan rajungan betina berwarna dasar hijau kotor dengan bercak-bercak putih
kotor (Indriyani, 2006). Cangkang memiliki duri sebanyak sembilan buah terdapat
pada sebelah mata kanan-kiri. Pada duri yang terakhir berukuran lebih panjang

dari duri-duri lainnya dan merupakan titik ukuran lebar cangkang. Perut atau biasa
disebut abdomen terlipat ke depan di bawah cangkang. Abdomen jantan sempit
dan meruncing ke depan. Abdomen betina melebar dan membulat, gunanya untuk
menyimpan telur (Juwana dan Kasijan, 2000).
Rajungan yang ditangkap di perairan pantai pada umumnya mempunyai
mempunyai kisaran lebar cangkang 8-13 cm dengan berat rata-rata 100 gram,
sedangkan rajungan yang berasal dari perairan lebih dalam mempunyai kisaran
lebar cangkang 12-15 cm dengan berat rata-rata 200 gram. Selain itu pernah juga
ditemukan rajungan dengan lebar cangkang 20 cm dan beratnya mencapai 400
gram (Juwana dan Kasijan, 2000).

(a)
(b)
Gambar 3. Rajungan (Portunus pelagicus) (a) betina dan (b) jantan
Rajungan jantan memiliki abdomen yang sempit, berbentuk T pada sisi
abdomen dan capit berwarna biru. Sedangkan rajungan betina yang belum matang
memiliki bentuk abdomen V atau rajungan dewasa memiliki bentuk abdomen
U (Blue Crab Identification, 2001). Pada hewan ini terlihat adanya perbedaan
yang menyolok antara jantan dan betina. Jantan mempunyai ukuran tubuh yang
lebih besar dan capit yang lebih panjang dibandingkan dengan rajungan betina
(Nontji, 1993). Gambar 4 menunjukan perbedaan antara abdomen rajungan jantan
dan rajungan betina (Mexfish, 1999).

(a)
(b)
Gambar 4. (a) Rajungan jantan dan (b) Rajungan betina
(Sumber : Mexfish)
I.5 Jenis-jenis rajungan lainnya
Jenis rajungan yang umum dimakan (edible crab) ialah jenis-jenis yang
termasuk cukup besar yaitu sub famili Portuninae dan Podopthalminae. Jenis-jenis
rajungan yang terdapat di pasar-pasar di Indonesia ialah rajungan Jawa (Portunus
pelagicus). Jenis yang kurang umum tetapi masih sering dijumpai di pasar adalah
rajungan bintang (Portunus sanguinolentus), rajungan angin (Podophthalmus
vigil) dan rajungan karang (Charybdis feriatus). Jenis-jenis lainnya yang termasuk
cukup besar dan biasa dimakan tetapi jarang dijumpai di pasar-pasar ialah
Charybdis lucifera, Charybdis natatas, Charybdis cruciata, Thalamita danae,
Thalamita puguna, dan Thalamita spimmata (Juwana dan Kasijan, 2000). Jenisjenis rajungan yang ada di perairan Indonesia dapat dilihat pada ilustrasi 3.

C. Rajungan, Portunus pelagicus


D.

Rajungan

hijau,

Thalamita

batik,

Charybdis

crenata
E.

Rajungan

natator
F. Rajungan hijau, Thalamita danae
G. Kepiting, Scylla serrata
H.

Rajungan

sanguinolentus

Ilustrasi 3. Beberapa Jenis Rajungan


dan Kepiting (Juwana dan Kasijan,
2000)
Keterangan :
A. Rajungan angin, Podophthalmus
vigil
B.

Rajungan

cruciata

karang,

Charybdis

bintang,

Portunus

Rajungan bintang (Portunus sanguinolentus) mudah dikenal dengan


adanya tiap bintik berwarna merah coklat di punggungnya. Rajungan ini
ukurannya lebih kecil dari Portunus pelagicus, dan hidup di laut terbuka mulai
dari tepi pantai sampai kedalaman lebih dari 30 meter. Rajungan karang
(Charybdis feriatus) mempunyai warna yang khas, coklat kemerah-merahan, dan
di punggungnya terdapat gambaran pucat menyerupai salib. Rajungan angin
(Podophthalmus vigil), umumnya hidup di laut terbuka sampai kedalaman 70
meter. Cirinya yang menonjol adalah matanya yang mempunyai tangkai yang
amat panjang dan bisa direbahkan (Nontji, 1993).
I.6 Perbedaan dan persamaan rajungan dengan kepiting
Masyarakat umum mengetahui bahwa rajungan berbeda dengan kepiting.
Secara garis besar perbedaan rajungan (Portunus pelagicus) dengan kepiting
(Scylla serrata) dapat dilihat dalam tabel 2.
Tabel 2. Perbedaan Morfologi Rajungan dengan Kepiting

Namun demikian rajungan juga memiliki kesamaan-kesamaan dengan kepiting,


antara lain (Juwana dan Kasijan, 2000) :
1. merupakan satu famili atau satu suku yaitu Portunidae.
2. karapasnya mempunyai pinggiran samping depan yang bergerigi dan jumlah
giginya sembilan buah
3. perut atau abdomen terlipat kedepan di bawah karapas. Perbedaan antara
abdomen jantan dan betina adalah :

abdomen jantan : sempit dan meruncing kedepan

abdomen betina : melebar dan membulat penuh dengan embelan yang


berguna untuk menyimpan telur.

4. cara berkembang biak dengan bertelur, telur yang sudah dibuahi disimpan di
dalam lipatan abdomen.
I.7 Habitat dan penyebaran
Rajungan termasuk hewan dasar laut yang dapat berenang ke permukaan
pada malam hari untuk mencari makan. Rajungan hidup di daerah pantai berpasir
lumpur dan di perairan depan hutan mangrove. Rajungan biasanya hidup dengan
membenamkan tubuhnya ke dalam pasir (Indriyani, 2006).
Moosa (1980) dalam www.dkp.go.id. (2004) menyebutkan bahwa habitat
rajungan adalah pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur dan di pulau berkarang,
juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 56
meter. Rajungan hidup di daerah estuaria, kemudian bermigrasi ke perairan yang
bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai
rajungan muda akan kembali ke estuaria (Nybakken, 1986 dalam www.dkp.go.id.,
2004).
Rajungan cenderung menyenangi perairan dangkal dengan kedalaman
yang paling disenangi berkisar antara 1 sampai 4 meter. Suhu perairan rata-rata
35o Celsius dan salinitas antara 4 sampai 37 ppm (Moosa dan Juwana, 1996).
Rajungan jantan menyenangi perairan dengan salinitas rendah sehingga
penyebarannya di sekitar perairan pantai yang dangkal. Sedangkan rajungan
betina menyenangi perairan dengan salinitas yang lebih tinggi terutama untuk
melakukan pemijahan, sehingga menyebar ke perairan yang lebih dalam
dibanding jantan. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang
berubah. Perubahan suhu dan salinitas di suatu perairan mempengaruhi aktivitas
dan keberadaan suatu biota (Gunarso, 1985).
Menurut Nontji (1993), rajungan hidup pada habitat yang beraneka ragam
seperti pantai dengan dasar pasir, pasir lumpur, dan juga di lautan terbuka. Pada
keadaan biasa rajungan tinggal di dasar perairan sampai kedalaman 65 meter, tapi

sesekali juga dapat terlihat di dekat permukaan atau kolom perairan pada malam
hari saat mencari makan ataupun berenang dengan sengaja mengikuti arus.
Coleman (1991) dalam www.dkp.go.id. (2004) melaporkan bahwa rajungan
merupakan jenis kepiting perenang yang juga mendiami dasar lumpur berpasir
sebagai tempat berlindung. Jenis rajungan ini banyak terdapat pada lautan IndoPasifik dan India.
Di Indonesia, rajungan tersebar hampir di seluruh perairan Paparan Sunda
dan perairan Laut Arafuru dengan memiliki kecenderungan padat sediaan dan
potensi yang tinggi, terutama pada daerah sekitar pantai (Martosubroto et al, 1991
diacu dalam Nurhakim, 2001).
1.8 Tingkah Laku Rajungan
Rajungan merupakan binatang yang aktif, namun ketika sedang tidak aktif
atau saat tidak melakukan pergerakan, rajungan akan tinggal di dasar perairan
pada kedalaman 35 meter atau membenamkan diri dalam pasir di daerah pantai
berlumpur, hutan bakau, batu karang atau bisa juga terlihat berenang dekat
permukaan. Rajungan akan melakukan pergerakan atau migrasi ke perairan yang
lebih dalam setelah umur rajungan cukup untuk menyesuaikan diri pada kondisi
suhu dan salinitas perairan (Nontji, 1993). Sedangkan jenis yang termasuk dalam
sub famili Podopthalaminae dan Portuninae pada saat dewasa hidup bebas di
dasar perairan, terkadang berenang di dekat permukaan (Solihin, 1993).
Rajungan (Portunidae spp.) sering berganti kulit secara teratur. Kulit kerangka
tubuhnya terbuat dari bahan berkapur dan karenanya tak dapat terus tumbuh. Jika
ia akan tumbuh lebih besar maka kulitnya akan retak pecah dan dari situ akan
keluar individu yang lebih besar dengan kulit yang masih lunak. Rajungan yang
baru berganti kulit, tubuhnya masih sangat lunak. Masa selama bertubuh lunak ini
merupakan

masa

yang

sangat

rawan

dalam

kehidupannya,

karena

pertahanannyapun sangat lemah. Kanibalisme di kalangan rajungan tampaknya


memang merupakan hal yang sering terjadi terutama dalam ruangan yang terbatas,
baik pada yang dewasa maupun yang masih larva (Nontji, 1993).
Menurut Thomson (1974) rajungan sering berenang melewati kapal pada
malam hari, sehingga mereka mendapatkan keuntungan untuk ikut bersama.
Mereka juga dapat menggali pasir dalam sekejap dan untuk menghindari musuh-

musuh mereka. Mereka butuh untuk tetap di permukaan dengan maksud untuk
bernapas dan melihat organisme lain atau mangsanya dengan mata pengawasnya
yang tajam dan juga menjulurkan antenanya. Seperti binatang laut yang lain,
rajungan menemukan daerah estuaria sebagai tempat berkembang biak atau
memijah. Kemudian rajungan jarang terlihat membawa telurnya ke daerah
estuaria tetapi ke daerah pesisir pantai dekat daerah teluk. Seperti udang-udangan
lainnya tumbuh dengan menanggalkan karapasnya secara berkala. Rajungan
betina kawin pada saat karapasnya lunak setelah ganti kulit.
Rajungan betina dapat bertelur antara 180.000 sampai 200.000 telur setiap
memijah. Pemijahan dapat terjadi lebih dari sekali dalam satu musim dengan
menggunakan sperma dari perkawinan yang pertama. Telur akan menetas kira-kira
selama 15 hari pada perairan dengan suhu 24o C (West Australia Goverment,
1997 : Sea-ex Australia, 1999).
Solihin (1993) menyatakan, penangkapan rajungan berlangsung sepanjang tahun
dan puncak penangkapan terjadi pada bulan Januari sampai Maret, di perairan
Cirebon sendiri tidak berbeda dengan musim penangkapan di wilayah lainnya.
Musim barat merupakan musim berlimpahnya hasil tangkapan rajungan berbeda
dengan musim timur karena hasil tangkapan yang diperoleh pada musim ini
sedikit. Pembagian musim di perairan Gebang Mekar terdiri dari tiga musim,
yaitu musim paceklik pada bulan Oktober dan November, musim peralihan pada
bulan Juni, Juli, Agustus dan September sedangkan musim puncak pada bulan
Desember, Januari sampai Mei.

DAFTAR PUSTAKA

Abyss. 2001. Portunus pelagicus. http://www.abyss.com.au/crab.html


Butarbutar, Donna N.P. 2005. Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan Dengan
Menggunakan Dua Konstruksi Bubu Lipat Yang Berbeda Di Kabupaten
Tangerang. Skripsi. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor
Sudhakar M, Manivannan K, Soundrapandian P. 2009. Nutritive value of hard and
soft shell crabs of Portunus sanguinolentus (Herbst). Journal Animal and
Veterinary Advances 1(2): 44-48.
Fish SA. 2000. Blue Swimmer Crab. http://www.fishsa.com/crabs.php.
Gardenia, Y. T. 2002. Studi Tentang Pengaruh Perbedaan Tinggi Jaring Kejer
Terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) Di Perairan
Bondet, Desa Marta Singa, Kabupaten Cirebon. Skripsi. Program Studi
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Gardenia, Y. T. 2006. Teknologi Penangkapan Pilihan Untuk Perikanan Rajungan
Di Perairan Gebang Mekar Kabupaten Cirebon. Skripsi. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metode
dan Teknik Penangkapan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,
Fakultas Perikanan - Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Indriyani, Asri. 2006. Mengkaji Pengaruh Penyimpanan Rajungan (Portunus
pelagicus Linn) Mentah Dan Matang Di Mini Plant Terhadap Mutu Daging

Di Plant. Tesis. Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro.

Semarang
Juwana, S. dan Romimohtarto, K. 2000. Rajungan Perikanan, Cara Budidaya
dan Menu Masakan. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Kailola, P. J. 1993. Australian Fisheries Resources. Fisheries Research and
Development Corporation (Australia). Australia.
Kangas, M. I. 2000. Synopsis of The Biology and Exploitation of The Blue
Swimmer Crab, Portunus pelagicus Linnaeus, in Western Australia
Fisheries Research Report no. 121, 2000. Fisheries Western Australia.
http://www.fish.wa.gov.au.
Mexfish. 1999. Blue Swimming Crab. http://www.mexfish.com/fish/sscrab/ sscrab
Moosa, M. K., Burhanuddin, dan Razak, H. 1980. Beberapa Catatan Mengenai
Rajungan dari Teluk Jakarta dan Pulau-pulau Seribu Dalam Sumber Daya
Hayati Bahari. Rangkuman Hasil Penelitian Pelita II LON. Jakarta.
Moosa, M. K., dan Sri Juwana. 1996. Kepiting Suku Portunidae dan Perairan
Indonesia (Decapoda, Branchiura). Pusat Penelitian dan Pengembangan
Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
MuseumVictoria. 2000. Crab Biology. http://www.mov.vic.gov.au/crust/crabbiol.
html
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Nurhakim, M.A. 2001. Analisis Hasil Tangkapan Jaring Kejer Pada Kedalaman
Yang Berbeda di Desa Gebang Mekar, Kecamatan Babakan, Kabupaten 43
Cirebon. Skripsi. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Rusmadi. Irawan, Henky dan Yandri, Falmi. 2014. Studi Biologi Kepiting Di
Perairan Teluk Dalam Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan Provinsi
Kepulauan Riau Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Binacipta, Jakarta.
Sea-ex
Australia,
1999.
Blue
Swimmer
Crab.
http://www.seaex.com/fishphotos/crab,.htm.
Solihin, I. 1993. Pengaruh Perbedaan Tinggi Jaring Kejer Terhadap Hasil
Tangkapan Rajungan (Portunus spp.) di Perairan Bondet, Kabupaten
Cirebon. Skripsi. Fakultas Perikanan - Institut Pertanian Bogor (tidak
dipublikasikan). Bogor.
Sunarto. 2011. Karakteristik Bioekologi Rajungan (Portunus pelagicus) di
Perairan Laut Kabupaten Brebes. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Thomson, J.W. 1974. Fish of the Ocean and Shore. William Collins Ltd. Sydney.
www.dkp.go.id., 2004, Pengamatan Aspek Biologi Rajungan dalam Menunjang
Teknik Pembenihannya, http://www.dkp.go.id. 8 hal.