Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Induksi persalinan merupakan suatu tindakan buatan atau memberikan


perlakuan untuk merangsang kontraksi uterus yang dilanjutkan oleh dilatasi progresif
dan pendataran dari serviks kemudian diakhiri dengan kelahiran bayi. Prosedur ini
dilakukan ketika terjadi indikasi atau risiko apabila kehamilan terus dilanjutkan dan
digunakan untuk berbagai kondisi, diantaranya kehamilan postterm, kehamilan
dengan hipertensi, preeklamsi, eklamsi, janin tumbuh lambat, chorioamnionitis,
kematian fetus, dan diabetes maternal. Dengan induksi persalinan ini diharapkan
dapat menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas ibu dan neonatus.1
Keberhasilan induksi persalinan sangat tergantung dari kondisi serviks saat
awal induksi, pada serviks yang belum matang dapat menyebabkan terjadinya induksi
yang lama, kegagalan induksi, peningkatan risiko tindakan operatif, perawatan yang
lebih lama, dan meningkatnya biaya.2
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk pematangan serviks dan induksi
persalinan diantaranya, metode farmakologis dan mekanik. Metode mekanik yang
biasa dilakukan antara lain : metode stripping (pelucutan selaput ketuban), dilatator
serviks higroskopis, kateter dan amniotomi. Sedangkan metode farmakologis dengan
menggunakan obat-obatan, diantaranya adalah dengan infus oksitosin, relaksin,
mifepriston, dan preparat prostaglandin.3,4,5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Induksi Persalinan


Induksi persalinan ialah usaha agar persalinan mulai berlangsung sebelum
atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan merangsang timbulnya his.
Induksi persalinan merujuk dimana kontraksi uterus diawali secara medis maupun
bedah sebelum terjadinya partus spontan.6
Induksi persalinan merupakan suatu tindakan buatan atau memberikan
perlakuan untuk merangsang kontraksi uterus yang dilanjutkan oleh dilatasi
progresif dan pendataran dari serviks kemudian diakhiri dengan kelahiran bayi.1
Pengertian induksi persalinan menurut Cuningham (2001) yaitu terjadinya
kontraksi uterus

disebabkan oleh pengaruh hormon-hormon (adenosine

triphospate, estrogen dan progesterone) dan meningkatnya kadar beberapa


elektrolit seperti kalsium, sodium dan potasiium, kontraksi protein yang spesifik
(actin

dan

myosin),

ephinephrine

dan

norephinephrin,

oxytocin

dan

prostaglandin.4

B. Tujuan Induksi Persalinan


Tujuan melakukan induksi persalinan antara lain:
1. Mengantisipasi hasil yang berlainan sehubungan dengan kelanjutan kehamilan

2. Untuk menimbulkan aktifitas uterus yang cukup untuk perubahan serviks dan
penurunan janin tanpa meyebabkan hiperstimulasi uterus atau komplikasi
janin
3. Agar terjadi pengalaman melahirkan yang alami dan seaman mungkin dan
memaksimalkan kepuasan ibu
C. Indikasi Induksi Persalinan3,7
Induksi diindikasikan hanya untuk pasien yang kondisi kesehatannya atau
kesehatan janinnya berisiko jika kehamilan berlanjut. Induksi persalinan mungkin
diperlukan untuk menyelamatkan janin dari lingkungan intra uteri yang potensial
berbahaya pada kehamilan lanjut untuk berbagai alasan atau karena kelanjutan
kehamilan membahayakan ibu.
Indikasi melakukan induksi persalinan antara lain:
1. Ibu hamil tidak merasakan adanya kontraksi atau his. Padahal kehamilannya
sudah memasuki tanggal perkiraan lahir bahkan lebih (sembilan bulan lewat).
2. Induksi juga dapat dilakukan dengan alasan kesehatan ibu, misalnya si ibu
menderita tekanan darah tinggi, terkena infeksi serius, atau mengidap diabetes.
3. Ukuran janin terlalu kecil, bila dibiarkan terlalu lama dalam kandungan diduga
akan beresiko/membahayakan hidup janin.
4. Membran ketuban pecah sebelum ada tanda-tanda awal persalinan.
5. Plasenta keluar lebih dahulu sebelum bayi.
Induksi persalinan umumnya dilakukan dengan bermacam-macam indikasi,
dapat karena indikasi dari ibu maupun janin.

1. Indikasi ibu:
a. Kehamilan dengan hipertensi
b. Kehamilan dengan diabetes mellitus
c. Perdarahan antepartum tanpa kontraindikasi persalinan pervaginam
2. Indikasi janin:
a. Kehamilan lewat bulan
b. Ketuban pecah dini
c. Kematian janin dalam rahin
d. Pertumbuhan janin terhambat
e. Isoimmunisasi-Rhesus
f. Kelainan kongenital mayor

Indikasi induksi persalinan berdasarkan tingkat kebutuhan penanganan, antara


lain:
1. Indikasi darurat:
a. Hipertensi gestasional yang berat
b. Diduga komplikasi janin yang akut
c. PJT (IUGR) yang berat
d. Penyakit maternal yang bermakna dan tidak respon dengan pengobatan
e. APH yang bermakna dan Korioamnionitis
2. Indikasi segera (Urgent)
a.
b.
c.
d.

KPD saat aterm atau dekat aterm


PJT tanpa bukti adanya komplikasi akut
DM yang tidak terkontrol
Penyakit iso-imun saat aterm atau dekat aterm

3. Indikasi tidak segera (Non urgent)


a.
b.
c.
d.
e.

Kehamilan post-term
DM terkontrol baik
Kematian intrauterin pada kehamilan sebelumnya
Kematian janin
Problem logistik (persalinan cepat, jarak ke rumah sakit)

D. Kontraindikasi Induksi Persalinan


Sejumlah kondisi di uterus, janin, atau ibu merupakan kontraindikasi induksi
persalinan. Kontraindikasi ini serupa dengan yang meniadakan kemungkinan
persalinan spontan. Kontraindikasi pada uterus terutama berkaitan dengan riwayat
cidera uterus misalnya insisi seksio sesarea klasik atau bedah uterus.4
Kontra indikasi induksi antara lain:8
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Disproporsi sefalopelvik
Insufisiensi plasenta
Malposisi dan malpresentasi
Plasenta previa
Gemelli
Distensi rahim yang berlebihan
Grandemultipara
Cacat rahim

E. Persyaratan Induksi Persalinan


Untuk dapat melakukan induksi persalinan perlu dipenuhi beberapa kondisi di
bawah ini, yaitu:7
1. Sebaiknya serviks uteri sudah matang, yakni serviks sudah mendatar dan
menipis dan sudah dapat dilalui oleh sedikitnya 1 jari, serta sumbu serviks
mengarah ke depan.
2. Tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD).
3. Tidak terdapat kelainan letak janin yang tidak dapat dibetulkan.
4. Sebaiknya kepala janin sudah mulai turun ke dalam rongga panggul.

Apabila kondisi-kondisi di atas tidak terpenuhi maka induksi persalinan


mungkin tidak memberikan hasil yang diharapkan. Untuk menilai keadaan serviks
dapat dipakai skor bishop. Bila skor 6, induksi cukup dilakukan dengan
oksitosin. Sedangkan bila skor 5, perlu dilakukan pematangan serviks terlebih
dahulu dengan pemberian prostaglandin atau pemasangan foley kateter.

Tabel 2.1. Skor Pelvik menurut Bishop

F. Proses Induksi
Ada dua cara yang biasanya dilakukan untuk memulai proses induksi, yaitu
kimia dan mekanik. Namun pada dasarnya, kedua cara ini dilakukan untuk
mengeluarkan zat prostaglandin yang berfungsi sebagai zat penyebab otot rahim
berkontraksi. Keberhasilan induksi persalinan tergantung kondisi serviks yang
matang. Yang dimaksud serviks yang matang yaitu lembut, anterior, penipisannya
lebih dari 50% dan dilatasi 2 cm atau lebih.
Metode farmakologis/ kimia diantaranya yaitu pemberian prostaglandin E2
(dinoprostone, cervidil, dan prepidil), prostaglandin E1 (Misoprostol atau

cytotec), dan donor nitrit oksida. Sedangkan ynag termasuk kedalam metode
mekanis yakni kateter transservikal (kateter foley), ekstra amnionik salin infusion
(EASI), dilator servikal higroskopik, dan stripping membrane.4
1. Kimia atau medicinal/ farmakologis
a. Prostaglandin
Ada 2 unsur prostaglandin yang sejak lama merupakan fokus utama
yang digunakan pada induksi persalinan yaitu prostaglandin E1 dan
prostaglandin E2. Prostaglandin E1 dikenal dengan nama Misoprostol atau
Cytotec. Sedangkan prostaglandin E2 terdiri dari Cervidil dan Prepidil.
Respon terkait dosis pada pemberian prostaglandin mencakup
pematangan serviks, distress janin, hiperstimulasi uterus, seksio sesarea
untuk penanganan distress janin, ikterik pada neonatus.
Kontraindikasi untuk agen prostaglansin secara umum meliputi asma,
glaukoma, atau peningatan tekanan intraokular. Mengingat resiko yang
ditimbulkan akibat pemberian prostaglandin, maka sebelum pemberian
prostaglandin dilakukan pemantauan denyut nadi, tekanan darah,
kontraksi uterus, pemeriksaan denyut jantung janin. Pemantauan
dilakukan dengan pengamatan partograf.

1) Prostaglandin E1 (PGE1)
Misoprostol merupakan prostaglandin sintetik, analog dari
PGE1, yang dibuat dan dipasarkan sebagai gastroprotektor diakui

sebagai tablet 100 atau 200 g. Misoprostol dapat diberikan peroral,


sublingual atau pervaginam.

Indikasi
Penggunaan misoprostol untuk pematangan serviks hanya pada
kasus-kasus tertentu, misalnya:
a) Preeklamsia berat atau eklamsia dan serviks belum matang
sedangkan seksio sesarea belum dapat segera dilakukan atau bayi
terlalu prematur untuk bisa hidup
b) Kematian janin dalam rahim lebih dari 4 minggu belum inpartu,
dan terdapat tanda-tanda gangguan pembekuan darah.

Penggunaan
Efek misoprostol pada saluran reproduksi meningkat dan efek
pada gastrointestinal menurun bila misoprostol diberikan secara
pervaginam. Ketika tablet misoprostol ditempatkan pada forniks
posterior dari vagina, konsentrasi plasma dari asam misoprostol
mencapai puncaknya dalan satu sampai dua jam dan kemudian
menurun secara perlahan. Misoprostol yang diberikan pervaginam atau
secara oral dapat memberikan efek pematangan serviks sebelum
induksi persalinan dengan menggunakan oksitosin.
Dosis

Misoprostol pervaginam diberikan dengan dosis 25 mcg,


diberikan dosis ulang setelah 6 jam tidak ada his. Apabila tidak ada
reaksi setelah 2 kali pemberian 25 mcg, maka dosis dinaikkan menjadi
50 mcg setiap 6 jam. Misoprostol tidak dianjurkan melebihi 50 mcg
dan melebihi 4 dosis atau 200 mcg dan tidak boleh memberikan
oksitosin dalam 8 jam sesudah pemberian misoprostol.

Efek Samping
Efek samping yang paling sering terjadi pada penggunaan
misoprostol diantaranya:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Nausea & vomitus


Nyeri pada perut
Demam & menggigil
Korioamnionitis-endometritis
Retensio plasenta
Perdarahan postpartum
Pada janin ditemukan pola denyut jantung janin (DJJ) abnormal
dan pengeluaran mekonium

2) Prostaglandin E2 (PGE2)
PGE2 tersedia dalam bentuk gel atau pesarium yang dapat
dimasukkan intravaginal atau intraserviks. Gel atau pesarium ini yang
digunakan secara lokal akan menyebabkan pelonggaran kolagen

serviks dan peningkatan kandungan air di dalam jaringan serviks.


PGE2 memperlunak jaringan ikat serviks dan merelaksasikan serabut
otot serviks, sehingga mematangkan serviks. PGE2 ini pada umumnya
digunakan untuk mematangkan serviks pada wanita dengan nilai
bishop <5 dan digunakan untuk induksi persalinan pada wanita yang
nilai bishopnya antara 5 - 7.

Prepidil
Bentuk gelnya (prepidil) tersedia dalam suntikan 2,5 ml untuk
pemberian intraserviks berisi 0,5 mg dinoprostone. Ibu dalam posisi
terlentang, ujung suntikan yang belum diisi diletakkan di dalam
serviks, dan gel dimasukkan tepat di bawah os serviks interna. Setelah
pemberian, ibu tetap berbaring selama setidaknya 30 menit. Dosis
dapat diulang setiap 6 jam, dengan maksimum tiga dosis yang
direkomendasikan dalam 24 jam.

Cervidil
Cervidil (dinoprostone 10 mg) juga diakui untuk pematangan
serviks. Bentuknya yang persegi panjang (berupa wafer polimerik)
yang tipis dan datar, yang dibungkus dalam kantung jala kecil

10

berwarna putih yang terbuat dari polyester. Kantungnya memiliki ekor


panjang agar mudah untuk mengambilnya dari vagina.pemasukannya
memungkinkan dilepaskannya obat 0,3 mg/jam (lebih lambat dari
pada bentuk gel).4
Cervidil digunakan dalam dosis tunggal yang diletakkan
melintang pada forniks posterior vagina. Pelumas harus digunakan
sedikit, atau tidak sama sekali, saat pemasukan. Pelumas yang
berlebihan dapat menutupi dan mencegah pelepasan dinoprostone.
Setelah pemasukan, ibu harus tetap berbaring setidaknya 2 jam. Obat
ini kemudian dikeluarkan setelah 12 jam atau ketika persalinan aktif
mulai terjadi. Dilakukan pemantauan janin selama cervidil digunakan
dan sekurang-kurangnya selama 15 menit setelah dikeluarkan.4

Efek Samping
Efek samping setelah pemberian prostaglandin E2 pervaginam
adalah peningkatan aktivitas uterus, menurut American College of
Obstetricians and Gynecologists (1999) mendeskripsikannya sebagai
berikut:
a) Takisistol uterus diartikan sebagai 6 kontraksi dalam periode 10
menit.
b) Hipertoni uterus dideskripsikan sebagai kontraksi tunggal yang
berlangsung lebih lama dari 2 menit.

11

c) Hiperstimulasi uterus jika salah satu kondisi menyebabkan pola


denyut jantung janin yang meresahkan.
Karena hiperstimulasi yang dapat menyebabkan masalah bagi
janin bisa berkembang jika prostaglandin diberikan sebelum adanya
persalinan spontan, maka penggunaannya tidak direkomendasikan.

b. Donor Nitrit Oksida


Nitrit oksida merupakan mediator pematangan serviks, metabolit NO
pada serviks meningkat pada awal kontraksi uterus, dan produksi NO di
serviks sangat rendah pada kehamilan lebih bulan. Dasar pemikiran dan
penggunaan donor NO yaitu isosorbide mononitrate dan glyceryl
trinitrate. Isosorbide mononitrate menginduksi siklo-oksigenase 2 serviks,
agen ini juga menginduksi pengaturan ulang ultrastruktur serviks, serupa
dengan yang terlihat pada pematangan serviks spontan. Namun sejauh ini
uji klinis belum menunjukkan bahwa donor NO sama efektifnya dengan
prostaglandin

E2

dalam

menghasilkan

pematangan

serviks, dan

penambahan isosorbide mononitrate pada dinoprostone atau misoprostol


tidak meningkatkan pematangan serviks pada awal kehamilan atau saat
cukup bulan dan tidak mempersingkat waktu pelahiran pervaginam.4

c. Oksitosin

12

Oksitosin saat ini secara luas digunakan sebagai stimulant uterus,


dimana dapat digunakan untuk induksi persalinan dan perbaikan kontraksi
uterus dalam persalinan. Selain itu oksitosin juga dapat digunakan pada
pengelolaan perdarahan postpartum.

Cara Kerja
Oksitosin merupakan hormon yang dikeluarkan neurohipofise yang
merangsang

secara

langsung

jaringan

miometrium.

Mekanisme

pematangan serviks oleh oksitosin terjadi secara tidak langsung dimana


oksitosin merangsang decidua untuk memproduksi prostaglandin E dan
prostaglandin F. Prostaglandin E meningkatkan degradasi kolagen, asam
hyaluronik hidrofilik, dilatasi pembuluh darah kecil di serviks, sedangkan
PGF meningkatkan glikosaminoglikan sehingga serviks menjadi lunak.
Pada sel miometrium, oksitosin meningkatkan aktifitas phospodiesterase
yang menyebabkan pengeluaran kalsium dari retiulum endoplasmik.
Peningkatan konsentrasi kalsium intraseluller mengaktifkan mekanisme
kontraksi otot.9

13

Tabel 2.2. Tuntunan Penggunaan Oksitosin

Dosis dan Penggunaan

Infuse oksitosin 2,5 unit dalam 500 cc dextrose (atau garam fisiologis)

mulai dengan 10 tetes per menit.


Naikkan kecepatan infuse 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai
kontraksi adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan lama > 40 detik) dan

pertahankan sampai terjadi kelairan.


Jika terjadi hiperstimulasi (lama kontraksi > 60 detik) atau > 4 kali
kontraksi dalam 10 menit, hentikan infuse dan kurangi hiperstimulasi
dengan:
- Terbutalin 250 mcg IN pelan-pelan selama 5 menit, ATAU
- Salbutamol 5 mg dalam 500 ml cairan (garam fisiologis atau ringer

laktat) 10 tetes per menit.


Jika tidak tercapai kontraksi yang adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan
lama > 40 detik) setelah infuse oksitosin mencapai 60 tetes per menit:
14

Naikkan konsentrasi oksitosin menjadi 5 unit dalam 500 ml


dextrose (atau garam fisiologis) dan sesuaikan kecepatan infuse

sampai 30 tetes per menit (15 mlU/ menit);


Naikkan kecepatan infuse 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai
kontraksi adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan lama > 40 detik)

atau setelah infuse oksitosin mencapai 60 tetes per menit.


Jika masih tidak tercapai kontraksi yang adekuat dengan konsentrasi
yang lebih tinggi:
- Pada multigravida, induksi dianggap gagal, lakukan sectio cesarea
- Pada primigravida, infuse oksitosin bisa dinaikkan konsentrasinya
yaitu:
o 10 unit dalam 500 ml dextrose (atau garam fisiologis) 30 tetes
per menit.
o Naikkan 10 tetes tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat.
o Jika konsentrasi tetap tidak adekuat setelah 60 tetes per menit
(60 mlU/ menit), lakukan sectio cesarea.
Catatan: Jangan berikan oksitosin 10 unit dalam 500 cc pada
multigravida dan pada bekas sectio cesarea.
Tabel 2.3. Kecepatan infuse oksitosin untuk induksi persalinan

2. Mekanis
a. Kateter transservikal (kateter foley)

15

Kateter foley merupakan alternatif yang efektif disamping pemberian


prostaglandin untuk mematangkan serviks dan induksi persalinan. Akan
tetapi tindakan ini tidak boleh digunakan pada ibu yang mengalami
servisitis, vaginitis, pecah ketuban, dan terdapat riwayat perdarahan.
Teknik ini telah dilaporkan memberikan perbaikan yang signifikan pada
skor bishop dan mengurangi waktu induksi ke persalinan.4

Penggunaan
Kateter foley diletakkan atau dipasang melalui kanalis servikalis (os
seviks interna) di dalam segmen bawah uterus (dapat diisi sampai 100 ml).
Tekanan kearah bawah yang diciptakan dengan menempelkan kateter pada
paha dapat menyebabkan pematangan serviks. Modifikasi cara ini disebut
dengan extra-amnionic saline infusion (EASI), cara ini terdiri dari infuse
salin kontinu melalui kateter ke dalam ruang antara os serviks interna dan
membran plasenta.4
Adapun teknik pemasangan kateter foley yaitu sebagai berikut:
1) Pasang speculum pada vagina
2) Masukkan kateter foley pelan-pelan
3)
4)
5)
6)

melalui

servik

dengan

menggunakan cunam tampon


Pastikan ujung kateter telah melewati ostium uteri internum
Gelembungkan balon kateter dengan memasukkan 10 ml air
Gulung sisa kateter dan letakkan dalam vagina
Diamkan kateter dalam vagina sampai timbul kontraksi uterus atau
maksimal 12 jam

16

7) Kempiskan balon kateter sebelum mengeluarkannya dan kemudian


lanjutkan dengan infuse oksitosin.
b. Pemecahan ketuban (amniotomi)
Pemecahan ketuban dengan disengaja merupakan salah satu bentuk
induksi maupun akselerasi persalinan. Dengan keluarnya sebagian air
ketuban, terjadi pembentukan prostaglandin yang akan merangsang
persalinan dengan meningkatkan kontraksi uterus, dan terjadi pemendekan
otot rahim sehingga otot rahim lebih efektif berkontraksi.
Amniotomi dapat dilakukan sejak awal sebagai tindakan induksi,
dengan atau tanpa oksitosin. Induksi persalinan secara bedah (amniotomi)
lebih efektif jika keadaan serviks baik (skor Bishop > 5). Amniotomi pada
dilatasi serviks sekitar 5 cm akan mempercepat persalinan spontan selama
1 sampai 2 jam.

Kontraindikasi & komplikasi


Pemecahan ketuban harus dilakukan dengan mempertimbangkan
banyak hal, diantaranya adalah ada tidaknya polihidramnion, presentasi
muka, tali pusat terkemuka, vasa previa, adanya presentasi selain kepala.
Kepala janin yang belum masuk ke pintu atas panggul atau janin kecil
juga merupakan kontraindikasi pemecahan ketuban, karena kedua kondisi
tersebut menjadi faktor pemicu terjadinya prolaps tali pusat sehingga

17

menimbulkan asfiksia intrauterine akibat terjepitnya tali pusat antara


panggul dan kepala janin.
Komplikasi atau resiko lain yang dapat timbul setelah dilakukan
amniotomi yaitu infeksi intrauterine (korioamnionitis) yang sering terjadi
akibat pecahnya ketuban yang lama (> 24 jam), perdarahan ringan,
perdarahan post partum (resiko relatif 2 kali dibandingkan dengan tanpa
induksi persalinan), dan hiperbilirubinemia neonatus (bilirubin > 250
mol/l).

c. Dilator servikal higroskopik (batang laminaria)


Dilatasi serviks dapat juga di timbulkan menggunakan dilator serviks
osmotic higroskopik. Teknik yang dilakukan yakni dengan batang
laminaria dan pada keadaan dimana serviks masih belum membuka.
Dilator mekanik ini telah lama berhasil digunakan jika dimasukkan
sebelum terminasi kehamilan, tetapi kini alat ini juga digunakan untuk
pematangan serviks sebelum induksi persalinan. Pemasangan laminaria
dalam kanalis servikalis dan dibiarkan selama 12-18 jam, kemudian jika
perlu dilanjutkan dengan infus oksitosin.4

d. Stripping membrane

18

Stripping membrane yaitu cara atau teknik melepaskan atau


memisahkan selaput kantong ketuban dari segmen bawah uterus. Induksi
persalinan dengan stripping membrane merupakan praktik yang umum
dan aman serta mengurangi insiden kehamilan lebih bulan. Stripping dapat
dilakukan dengan cara manual yakni dengan jari tengah atau telunjuk
dimasukkan dalam kanalis servikalis.4

G. Komplikasi Induksi Persalinan


Komplikasi dapat ditemukan selama pelaksanaan induksi persalinan maupun
setelah bayi lahir. Pada penggunaan infuse oksitosin dianjurkan untuk
meneruskan pemberian hingga 4 jam setelah bayi lahir. Komplikasi yang dapat
ditemukan adalah:
1. Hiponatremia
2. Atonia uteri
3. Hiperstimulasi/ adanya kontraksi rahim yang berlebihan
4. Fetal distress
5. Prolaps tali pusat
6. Solusio plasenta
7. Rupture uteri
8. Hiperbilirubinemia
9. Perdarahan post partum
10. Kelelahan ibu dan krisis emosional
11. Infeksi intrauterine
12. Emboli
Meski kemungkinannya sangat kecil sekali namun tetap harus
diwaspadai. Emboli terjadi apabila air ketuban yang pecah masuk ke
pembuluh darah dan menyangkut di otak ibu atau paru-paru. Bila terjadi,
dapat merenggut nyawa ibu seketika.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Wannmacher, Lenita. 2005. Misoprostol low Dose For Induction Labour


http://www.archives.who.int/.../misoprostollowdose_ECM_review_10f

eb05.pdf

(28 Agustus 2009).


2. Asl Z.A., Farrokhi M., Rajaee M. 2007. Comparative Efficacy Of Misoprostol
And Oxytocin As Labor Preinduction Agents: A Prospective Randomized Trial.
Acta Medica Iranica. 45 : 4433.
3. Arias, fernando. 1993. Practical Guide to high risk pregnancy and delivery.
Mosby. Westline Industrial drive.
4. Cunningham F.G., Gant N.F., Leveno K.J., Gilstrap L.C., Hauth J.C., Wenstrom
K.D. 2005. Obstetri Williams. Edisi 21. Jakarta: EGC.
5. Tenore J.L. 2003. Methods For Cervical Ripening and Induction of Labor.
AAFP. 67: 2123-26.
6. Prawirohardjo S. 2007. Ilmu Kebidanan Edisi ketiga. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
7. Angsar MD, Setjalilakusuma L. Induksi Persalinan. Dalam: Wiknjosastro H,
Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Ilmu Bedah Kebidanan. Cetakan Kedua. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1991: 73-9.

20

8. Arias, fernando. 1993. Practical Guide to high risk pregnancy and delivery.

Mosby. Westline Industrial drive.

21