Anda di halaman 1dari 11

blogspot.

com
lihat yang asli (lambat dimuat)
Wisnu Nur Bhaskoro

Sabtu, 09 Juni 2012


ketahanan pangan
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Mempertahankan keamanan merupakan kondisi sebagai prasyarat utama bagi semua
negara baik negara yang berkembang maupun negara maju agar keamanan dalam
negerinya dapat diciptakan serta membantu dalam menjaga keamanan dunia
internasional. Semua itu difokuskan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan
mengembangkan kehidupan. Tidak hanya untuk pertahanan, tetapi juga untuk
menghadapi dan mengatasi tantangan, ancaman dan gangguan, baik yang datang dari
luar maupun dari dalam, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pembangunan pertahanan dan keamanan nasional secara keseluruhan harus dikaitkan
dengan pembangunan dalam bidang kesejahteraan sedemikian rupa sehingga
merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Setiap investasi harus
menunjukkan kemanfaatan yang nyata dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan
atau sasaran, serta harus memiliki waktu kegunaan yang cukup panjang. Suatu kegunaan tambahan hendaknya diusahakan apabila mungkin. Meskipun pertahanan dan
keamanan nasional merupakan suatu upaya yang tidak bisa diabaikan, prioritas
pembangunan nasional akan harus diletakkan pada pembangunan bidang
kesejahteraan, sehingga alokasi sumber daya nasional juga akan harus mengutamakan
yang terakhir ini. Upaya pertahanan dan keamanan harus menyesuaikan segenap
rencana-rencananya dengan sumber yang disediakan untuknya, dan kemampuan
kemampuan harus dibangun dengan menetapkan sasaran-sasaran yang harus dicapai
secara bertahap.
Prinsip ekonomi perlu diterapkan sebaik mungkin dalam usaha pertahanan dan
keamanan, di samping itu efektivitas untuk menghadapi keadaan darurat harus tetap
terjamin. Dalam keadaan aman dan damai dipelihara kekuatan pertahanan dan
keamanan yang relatif kecil tetapi efisien, yang dalam keadaan darurat harus dapat
dikembangkan dengan cepat. Keperluan akan kemampuan pengembangan kekuatan
ini menghendaki agar dirumuskan suatu sistem cadangan, yang mencakup kekuatan
lapangan beserta segenap unsur, sarana dan sumber daya yang diperlukan untuk
mendukungnya
Sejak merdeka Negara Indonesia tidak luput dari gejolak dan ancaman yang
membahayakan kelangsungan hidup bangsa. Terutama mempertahankan ketahanan
nasional dalam hal kebutuhan ekonomi yang termasuk didalamnya ketahanan pangan.
Ditinjau dari geopolitik dan geostrategi dengan posisi geografis, sumber daya alam

dan jumlah serta kemampuan penduduk telah menempatkan Indonesia menjadi ajang
persaingan kepentingan dan perebutan pengaruh antar Negara besar. Hal ini, secara
langsung maupun tidak langsung memberikan dampak negative terhadap segenap
aspek kehidupan sehingga dapat mempengaruhi dan membahayakan kelangsungan
hidup dan eksistensi NKRI. Untuk itu bangsa Indonesia harus meiliki keuletan dan
ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional
sehingga berhasil mengatasi setiap bentuk tantangan, ancaman, hambatan dan
gangguan dari manapun datangnya.
Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia untuk dapat mempertahankan
hidup dan karenanya kecukupan pangan bagi setiap orang setiap waktu merupakan
hak azasi yang layak dipenuhi. Berdasar kenyataan tersebut masalah pemenuhan
kebutuhan pangan bagi seluruh penduduk setiap saat di suatu wilayah menjadi sasaran
utama kebijakan pangan bagi pemerintahan suatu negara. Indonesia sebagai negara
dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat kompleks
dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Ketahahan pangan merupakan
bagian dari ketahahan ekonomi nasional yang berdampak besar pada seluruh warga
negara yang ada dalam Indonesia. Dalam hal ketahanan pangan, bukan hanya sebatas
pada sesuatu yang dianggap mudah dan ia memiliki pengaruh besar terhadap
pertahahanan keamanan. Pertahanan pangan merupakan salah satu hal yang
mendukung dalam mempertahankan pertahahanan keamanan, bukan hanya sebagai
komoditi yang memiliki fungsi ekonomi, akan tetapi merupakan komoditi yang
memiliki fungsi sosial dan politik, baik nasional maupun global. Untuk itulah,
ketahahan pangan dapat mempunyai pengaruh yang penting pula agar pertahanan
keamanan dapat diciptakan.
B.Rumusan Masalah
1.Bagaimanankah kondisi ketahahan pangan di Indonesia saat ini?
2.Bagaimana hubungan ketahanan pangan dalam rangka menciptakan ketahahanan
keamanan nasional bangsa?
3.Analisis Dampak Lemahnya Ketahanan Pangan Terhadap Pertahanan dan
Keamanan
4.Peran apa yang dilakukan Pemerintah dalam memperkuat pertahanan pangan
nasional?
BAB II
PEMBAHASAN
A.Ketahanan Pangan Sebagai Bagian Dari Ketahanan Ekonomi Nasional
Tujuan nasional menjadi pokok pikiran ketahanan ekonomi nasional karena sesuatu
organisasi dalam proses kegiatan untuk mencapai tujuan akan selalu berhadapan
dengan masalah-masalah internal dan eksternal sehingga perlu kondisi yang siap
menghadapi. Ketahanan ekonomi nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa
yang terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan
kekuatan nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan,
hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar, secara
langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam dan membahayakan
integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan dalam

mewujudkan tujuan perjuangan nasional.


Konsepsi ketahanan ekonomi nasional Indonesia adalah konsepsi pengembangan
kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan
keamanan yang seimbang, serasi dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan
menyeluruh yang berlandaskan Pancasila, UUD 45 dan Wawasan Nusantara.
Termasuk didialamnya dalam hal memajukan pertahanan keamanan yang didukung
dari adanya upaya untuk memajukan pertahanan pangan.
Ketahanan pangan seringkali diidentikkan dengan suatu keadaan dimana pangan
tersedia bagi setiap individu setiap saat dimana saja baik secara fisik, maupun
ekonomi. Ada tiga aspek yang menjadi indikator ketahanan pangan suatu wilayah,
yaitu sektor ketersediaan pangan, stabilitas ekonomi (harga) pangan, dan akses fisik
maupun ekonomi bagi setiap individu untuk mendapatkan pangan . Ketahanan pangan
mencerminkan ketersediaan bahan makanan yang cukup, sama dalam jumlah maupun
kualitas dan berbagai bahan makanan yang dapat digunakan. Menurut World Food
Confrence on Human Right (1993) dan World Food Summit (1996) ketahanan pangan
adalah kondisi terpenuhinya keperluan zat setiap individu dalam jumlah dan kualitas,
agar dapat hidup aktif dan selalu sehat serta sesuai dengan kondisi budaya tempat
tinggal. Bertitik tolak dari definisi diatas, persoalan jaminan ketahanan pangan tidak
hanya sebatas bagaimana pencapaian pengeluaran pertanian oleh suatu negara atau
daerah secara kuantitas mampu mencukupi keperluan masyarakat, namun yang lebih
penting adalah merupakan persoalan yang lebih kompleks, yang memiliki perspektif
pembangunan dan ekonomi politik.
Ketahanan pangan dipandang sebagai hal yang sangat penting dalam rangka
Pembangunan nasional untuk membentuk manusia Indonesia berkualitas, mandiri,
dan sejahtera. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diwujudkan ketersediaan pangan
yang cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam serta tersebar merata di seluruh
wilayah Indonesia dan terjangkau oleh daya beli masyarakat (Dewan Ketahanan
Pangan, 2002). Ketahanan pangan menurut Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996,
diartikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari
tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan
terjangkau. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air,
baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau
minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku
pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan,
dan/atau pembuatan makanan atau minuman.
Ketahanan pangan sesungguhnya sangat erat kaitannya dan berpengaruh besar
terhadap sektor produksi suatu negara, yang kemudian berpengaruh pada devisa suatu
negara, yang akan dimanfaatkan dalam sektor ekspornya, dan akan berdampak pada
pertumbuhan ekonomi suatu negara. Selain itu, ketahanan pangan pun sangat erat
kaitannya dengan kebijakan-kebijakan politik suatu negara, tentang persetujuan kerja
sama antar aktor dalam sektor pangan, kebijakan-kebijakan pembangunan, dan
pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan dalam suatu sistem. Berangkat dari
pemahaman tersebut, sehingga ketahanan pangan menjadi salah satu wacana yang
cukup berpengaruh dalam bidang ekonomi politik.

B.Kondisi Ketahanan Pangan di Indonesia


Program ketahanan pangan telah dilakukan sejak zaman Presiden Soekarno dengan
Program Berdikari, begitu pula zaman Presiden Soeharto dikenal dengan Program
Swasembada Pangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa ada usaha yang cukup
berperan dalam meningkatkan upaya ketahanan pangan di Indonesia. Indonesia
sempat dikenal sebagai negara dunia ketiga yang sukses dalam swasembada pangan,
dan bahkan pernah mendapatkan penghargaan dari FAO. Di penghujung tahun 1980an, Bank Dunia memuji keberhasilan Indonesia dalam mengurangi angka kemiskinan
yang patut menjadi contoh bagi negara-negara sedang berkembang (World
Bank,1990). Namun prestasi ini tidak berlangsung lama dapat dipertahankan.
Kondisi saat ini, pemenuhan pangan sebagai hak dasar masih merupakan salah satu
permasalahan mendasar dari permasalahan kemiskinan di Indoensia. Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 menggambarkan masih
terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, yaitu belum terpenuhinya pangan yang
layak dan memenuhi syarat gizi bagi masyarakat miskin, rendahnya kemampuan daya
beli, masih rentannya stabilitas ketersediaan pangan secara merata dan harga yang
terjangkau, masih ketergantungan yang tinggi terhadap makanan pokok beras,
kurangnya diversifikasi pangan, belum efisiensiennya proses produksi pangan serta
rendahnya harga jual yang diterima petani, masih ketergantungan terhadap import
pangan..
Padahal ketahanan pangan bukan hanya sebagai komoditi yang memiliki fungsi
ekonomi, akan tetapi merupakan komoditi yang memiliki fungsi sosial dan politik,
baik nasional maupun global. Permasalahan utama yang dihadapi dalam mewujudkan
ketahanan pangan di Indonesia saat ini adalah bahwa pertumbuhan permintaan pangan
yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaan. Permintaan yang meningkat
merupakan resultante dari peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi,
peningkatan daya beli masyarakat, dan perubahan selera. Sementara itu, pertumbuhan
kapasitas produksi pangan nasional cukup lambat dan stagnan, karena: (a) adanya
kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya lahan dan air, serta (b) stagnansi
pertumbuhan produktivitas lahan dan tenaga kerja pertanian. Ketidak seimbangan
pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional
mengakibatkan kecenderungan pangan nasional dari impor meningkat, dan kondisi ini
diterjemahkan sebagai ketidak mandirian penyediaan pangan nasional. Dengan kata
lain hal ini dapat diartikan pula penyediaan pangan nasional (dari produksi domestik)
yang tidak stabil.
Selain itu, saat ini di Indonesia sendiri Kendala dan tantangan yang dihadapi dalam
mewujudkan ketahanan pangan nasional antara lain adalah: Berlanjutnya konversi
lahan pertanian untuk kegiatan nonpertanian, khususnya pada lahan pertanian kelas
satu di Jawa menyebabkan semakin sempitnya basis produksi pertanian, sedangkan
lahan bukaan baru di luar Jawa mempunyai kesuburan yang relatif rendah. Demikian
pula, ketersediaan sumber daya air untuk pertanian juga telah semakin langka. Dalam
kaitan ini sektor pertanian menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi dan
optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dan air secara lestari dan mengantisipasi
persaingan dengan aktifitas perekonomian dan pemukiman yang terkonsentrasi.

Selain itu Terbatasnya kemampuan kelembagaan produksi petani karena terbatasnya


dukungan teknologi tepat guna, akses kepada sarana produksi, serta kemampuan
pemasarannya. Adalah tantangan bagi institusi pelayanan yang bertugas memberikan
kemudahan bagi petani dalam menerapkan iptek, memperoleh sarana produksi secara
tepat, dan membina kemampuan manajemen agribisnis serta pemasaran, untuk
meningkatkan kinerjanya memfasilitasi pengembangan usaha dan pendapatan petani
secara lebih berhasil guna.
C.Analisis Pentinganya Pertahanan Pangan Terhadap Pertahanan Keamanan
Masalah ketahanan pangan merupakan salah satu sub dari unsur ketahanan nasional,
yang dapat dikaitkan dengan ketahanan ekonomi maupun ketahanan sosial budaya,
bahkan dapat masuk dalam ketahanan dalam bidang pertahanan dan keamanan bila
kita melihat bahwa kualitas dan kuantitas pangan akan berpengaruh juga terhadap
kualitas sumber daya manusia Indonesia yang merupakan salah satu sumber daya
nasional utama bagi sistim pertahanan negara. Selain itu, Ketahanan pangan nasional
merupakan modal besar bagi suatu bangsa untuk menstabilkan proses
pembangunannya karena berkaitan langsung dengan eksistensi kehidupan rakyat.
Rentannya kondisi ketahanan pangan akhir-akhir ini, telah memperlambat proses
pembangunan nasional.
Ancaman terhadap ketahanan pangan telah mengakibatkan Indonesia harus sering
mengimpor produk-produk pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dalam
keadaan jumlah penduduk yang masih terus meningkat jumlahnya, ancaman-ancaman
terhadap produksi pangan telah memunculkan kerisauan akan terjadi keadaan rawan
pangan pada masa yang akan datang. Akibatnya dalam waktu yang akan datang
Indonesia membutuhkan tambahan ketersediaan pangan dan lahan pangan.
Masalah ketahanan pangan ini harus serius ditangani oleh pemerintah karena
menanyangkut keberlangsungan suatu negara dan untuk kehidupan generasi penerus
bangsa. Jika masalah krisi pangan ini tidak segera diatasi akan merusak stabilitas
negara dengan adanya masalah kelaparan nasional. Kelaparan, kemiskinan, kurangnya
gizi ini akan berpengaruh pada masyarakat indonesia terutama genersi muda. Padahal
generasi muda akan akan memimpin bangsa ini. Untuk memimpin bangsa ini
dibutuhkan generasi muda yang kuat dan cerdas. Bagaimana bisa membentuk
generasimuda yang kuat dan cerdas jika gizi mereka tidak terpenuhi. Kembali lagi
bahwa dalam ketahanan dalam bidang pertahanan dan keamanan bila kita melihat
bahwa kualitas dan kuantitas pangan akan berpengaruh juga terhadap kualitas sumber
daya manusia Indonesia yang merupakan salah satu sumber daya nasional utama bagi
sistim pertahanan negara. Jika generasi penerus bangsa ini dilanda krisi pangan akan
berdampak pada tubuh mereka. Dan akan melemahkan pertahanan keamanan
indonesia. Karena kita tahu sendiri, Indonesia adalah negara yang luas. Untuk
menjaga pertahanan keamanan di indonesia baik dari luar maupun dalam diperlukan
sumber daya manusia yang kuat dan cerdas. Untuk itu pentingnya menangani
masalah ketahanan pangan, karena dampak yang ditimbulkan sangat kompleks bagi
kehidupan manusia.
D.Analisis Dampak Lemahnya Ketahanan Pangan Terhadap Pertahanan dan
Keamanan

Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan,
distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan
pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas,
kualitas, keragaman dan keamanannya. Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan
sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin agar seluruh rumah tangga
dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu
dengan harga yang terjangkau. Sedangkan subsistem konsumsi berfungsi
mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu,
keragaman, kandungan gizi, kemananan dan kehalalannya. Situasi ketahanan pangan
di negara kita masih lemah. Hal ini ditunjukkan antara lain oleh: (a) jumlah penduduk
rawan pangan (tingkat konsumsi < 90% dari rekomendasi 2.000 kkal/kap/hari) dan
sangat rawan pangan (tingkat konsumsi <70 % dari rekomendasi) masih cukup besar,
yaitu masing-masing 36,85 juta dan 15,48 juta jiwa untuk tahun 2002; (b) anak-anak
balita kurang gizi masih cukup besar, yaitu 5,02 juta dan 5,12 juta jiwa untuk tahun
2002 dan 2003 (Ali Khomsan, 2003)
Menurut Bustanul Arifin (2005) ketahanan pangan merupakan tantangan yang
mendapatkan prioritas untuk mencapai kesejahteraan bangsa pada abad milenium ini.
Apabila melihat Penjelasan PP 68/2002 tersebut, upaya mewujudkan ketahanan
pangan nasional harus bertumpu pada sumber daya pangan lokal yang mengandung
keragaman antar daerah. Sejak tahun 1798 ketika Thomas Malthus memberi
peringatan bahwa jumlah manusia meningkat secara eksponensial, sedangkan usaha
pertambahan persediaan pangan hanya dapat meningkat secara aritmatika. Dalam
perjalanan sejarah dapat dicatat berbagai peristiwa kelaparan lokal yang kadangkadang meluas menjadi kelaparan nasional yang sangat parah diberbagai Negara.
Permasalahan diatas adalah ciri sebuah Negara yang belum mandiri dalam hal
ketahanan pangan (Nasoetion, 2008)
Kebutuhan pangan di dunia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah
penduduk di dunia. Pada tahun 1930, penduduk dunia hanya 2 miliar dan 30 tahun
kemudian pada tahun 1960 baru mencapai 3 miliar. Lonjakan penduduk dunia
mencapai peningkatan yang tinggi setelah tahun 1960, hal ini dapat kita lihat dari
jumlah penduduk tahun 2000an yang mencapai kurang lebih 6 miliar orang, tentu saja
dengan pertumbuhan penduduk ini akan mengkibatkan berbagai permasalahan
diantaranya kerawanan pangan. Di Indonesia sendiri, permasalah pangan tidak dapat
kita hindari, walaupun kita sering disebut sebagai negara agararis yang sebagian besar
penduduknya adalah petani. Kenyataannya masih banyak kekurangan pangan yang
melanda Indonesia, hal ini seiring dengan meningkatnya penduduk. Bahkan dua
peneliti AS pernah menyampaikan bahwa pada tahun 2100, penduduk dunia akan
mengahadapi krisis pangan (Nasoetion, 2008) .Bertambahnya penduduk bukan hanya
menjadi satu-satunya permasalahan yang menghambat untuk menuju ketahanan
pangan nasional. Berkurangnya lahan pertanian yang dikonversi menjadi pemukiman
dan lahan industri, telah menjadi ancaman dan tantangan tersendiri bagi bangsa
Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri dalam bidang pangan.
Permasalahan yang menghambat dalam mencapai ketahanan pangan dan menjauhkan
Indonesia dari keadaan rawan pangan adalah konversi lahan pertanian menjadi daerah

industri. Menurut Tambunan (2003) dengan semakin sempitnya lahan pertanian ini,
maka sulit untuk mengharapkan petani kita berproduksi secara optimum. Roosita
(2002) dalam Tambunan (2003) memperkirakan bahwa konversi lahan pertanian ke
nonpertanian di Indonesia akan semakin meningkat dengan rata-rata 30.000-50.000 ha
per tahun, yang diperkirakan jumlah petani kecil telah mencapai sekitar 12 juta orang.
E.Peran Pemerintah Dalam Upaya Memajukan Pertahanan Pangan
1.Memperkuat struktur ekonomi masyarakat berbasis agribisnis dan meningkatkan
peranan serta swadaya masyarakat lokal.
Strategi umum pembangunan pertahanan pangan misal dalam hal pertanian adalah
memajukan agribisnis, yaitu membangun secara sinergis dan harmonis aspek-aspek:
(1) industri hulu pertanian yang meliputi perbenihan, input produksi lainnya dan alat
mesin pertanian; (2) pertanian primer (on-farm); (3) industri hilir pertanian
(pengolahan hasil); dan (4) jasa-jasa penunjang yang terkait. Mengingat bahwa pelaku
utama agribisnis adalah petani dan pengusaha, dan tanpa adanya insentif pendapatan
mereka akan enggan menekuni agribisnis, maka kata kunci dalam meningkatkan
kinerja sektor ini adalah menciptakan insentif ekonomi yang menunjang daya tarik
agribisnis.
2.Membuat kebijakan yang dapat memperkuat pertahan pangan
Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional tidak terlepas dengan kebijakan
umum pembangunan pertanian dalam mendukung penyediaan pangan terutama dari
produksi domestik. Dalam kerangka demikian upaya mewujudkan ketahanan pangan
dan stabilitasnya (penyediaan dari produksi domestik) identik pula dengan upaya
meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional dalam pembangunan pertanian
beserta kebijakan pendukung lain yang terkait.
Dengan memperhatikan beberapa azas kebijakan ketahanan pangan di daerah tersebut,
beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah tersebut diantaranya
meliputi:
Pemerintah daerah perlu menyadari akan pentingnya memperhatikan masalah
ketahanan pangan di wilayahnya.
Perlunya apresiasi tentang biaya, manfaat, dan dampak terhadap pembangunan
wilayah dan nasional program peningkatan ketahanan pangan di daerah kepada para
penentu kebijakan di daerah.
Pemerintah daerah perlu menyusun perencanaan dan strategi untuk menangani
masalah ketahanan pangan di daerah.
Perlu dikembangkan suatu wahana untuk saling tukar menukar informasi dan
pengalaman dalam menangani masalah ketahanan pangan antar pemerintah daerah.
3.pengembangan inovasi teknologi seperti pengembangan Pengelolaan Tanaman
Terpadu (PTT)
Pengembangan teknologi guna meningkatkan efisiensi akan mencakup spektrum
teknologi yang sangat luas dari teknologi yang terkait dengan teknologi
pengembangan sarana produksi (benih, pupuk dan insektisida), teknologi pengolahan
lahan (traktor), teknologi pengelolaan air (irigasi gravitasi, irigasi pompa, efisiensi
dan konservasi air), teknologi budidaya (cara tanam, jarak tanam, pemupukan
berimbang, pola tanam, pergiliran varietas), teknologi pengendalian hama terpadu

(PHT).
4.Diversifikasi Produksi Pangan
Diversifikasi produksi pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam ketahanan
pangan. Diversifikasi produksi pangan bermanfaat bagi upaya peningkatan
pendapatan petani dan memperkecil resiko berusaha. Diversifikasi produksi secara
langsung ataupun tidak juga akan mendukung upaya penganekaragaman pangan
(diversifikasi konsumsi pangan) yang merupakan salah satu aspek penting dalam
ketahanan pangan.
5.Pemerintah harus lebih memberikan dukungan dan kontribusi terhadap komoditas
lokal. Kebijakan pemerintah harus mengacu pada produksi dan konsumen dalam
negri serta suplai pangan dalam negri harus rutin. Harus ada teknologi yang
mendukung seperti pengaturan curah ujan, dll.
6.Menghimbau kelompok tani yang ada di daerah memanfaatkan lumbung pangan
untuk menabung hasil panen mereka.Lumbung pangan yang dibangun pemerintah
tersebut berfungsi untuk menyimpan hasil panen padi petani, caranya hasil panen
mereka ditabung di lumbung pangan ini, keamanan dan mutu padi atau berasnya akan
terjamin. Pembangunan lumbung pangan di setiap kecamatan di daerah .
7.Perlindungan lahan pertanian pangan
Adanya alih fungsi lahan-lahan pertanian subur selama ini kurang diimbangi oleh
upaya-upaya terpadu mengembangkan lahan pertanian melalui pencetakan lahan
pertanian baru yang potensial. Oleh karena itu, pengendalian alih fungsi lahan
pertanian pangan melalui perlindungan lahan pertanian pangan merupakan salah satu
upaya untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan, dalam rangka
meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan petani dan masyarakat pada
umumnya.perlu dilakukan dengan menetapkan kawasan-kawasan pertanian pangan
yang perlu dilindungi. Kawasan pertanian pangan merupakan bagian dari penataan
kawasan perdesaan pada wilayah kabupaten. Dalam kenyataannya lahan-lahan
pertanian pangan berlokasi di wilayah kota juga perlu mendapat perlindungan.
8.Melakukan pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
Adalah menjamin tersedianya pendanaan dalam penyelenggaraan Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah
Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Kebijakan Pembiayaan Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan mengatur Pembiayaan pada keseluruhan
sistem dan proses Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, meliputi:
perencanaan dan penetapan, pengembangan, penelitian, pemanfaatan, pembinaan,
pengendalian, pengawasan, sistem informasi, serta perlindungan dan pemberdayaan
Petani. Untuk memenuhi Pembiayaan sistem dan proses Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan tersebut, ada 3 (tiga) hal utama yang perlu diatur
dalam kebijakan Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
Yaitu: (i) kegiatan-kegiatan yang perlu dibiayai terkait dengan perencanaan dan
penetapan, pengembangan, penelitian, pemanfaatan, pembinaan, pengendalian,
pengawasan, sistem informasi, serta perlindungan dan pemberdayaan Petani, yang
merupakan bagian Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan; (ii) sumbersumber dan bentuk Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah provinsi, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
kabupaten/kota terhadap kegiatan-kegiatan yang perlu dibiayai berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan (iii) penyelenggaraan Pembiayaan Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Konsepsi ketahanan ekonomi nasional Indonesia adalah konsepsi pengembangan
kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan
keamanan yang seimbang, serasi dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan
menyeluruh yang berlandaskan Pancasila, UUD 45 dan Wawasan Nusantara.
Termasuk didialamnya dalam hal memajukan pertahanan keamanan yang didukung
dari adanya upaya untuk memajukan pertahanan pangan.
Program ketahanan pangan telah dilakukan sejak zaman Presiden Soekarno dengan
Program Berdikari, begitu pula zaman Presiden Soeharto dikenal dengan Program
Swasembada Pangan.Kondisi saat ini, pemenuhan pangan sebagai hak dasar masih
merupakan salah satu permasalahan mendasar dari permasalahan kemiskinan di
Indoensia. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009
menggambarkan masih terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, selain itu pada saat
ini di Indonesia sendiri banyak mengalami Kendala dan tantangan yang dihadapi
dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Situasi ketahanan pangan di negara kita masih lemah. Hal ini ditunjukkan antara lain
oleh: (a) jumlah penduduk rawan pangan (tingkat konsumsi < 90% dari rekomendasi
2.000 kkal/kap/hari) dan sangat rawan pangan (tingkat konsumsi <70 % dari
rekomendasi) masih cukup besar, yaitu masing-masing 36,85 juta dan 15,48 juta jiwa
untuk tahun 2002; (b) anak-anak balita kurang gizi masih cukup besar, yaitu 5,02 juta
dan 5,12 juta jiwa untuk tahun 2002 dan 2003 (Ali Khomsan, 2003), Di Indonesia
sendiri, permasalah pangan tidak dapat kita hindari, walaupun kita sering disebut
sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Kenyataannya
masih banyak kekurangan pangan yang melanda Indonesia, hal ini seiring dengan
meningkatnya penduduk. Ketahanan pangan merupakan tantangan yang mendapatkan
prioritas untuk mencapai kesejahteraan bangsa pada abad milenium ini.
Peran Pemerintah Dalam Upaya Memajukan Pertahanan Pangan dilakukan dengan
berbagai cara seperti memperkuat struktur ekonomi masyarakat berbasis agribisnis
dan meningkatkan peranan serta swadaya masyarakat local, membuat kebijakan yang
dapat memperkuat pertahan pangan, pengembangan inovasi teknologi seperti
pengembangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), Diversifikasi Produksi Pangan,
Pemerintah harus lebih memberikan dukungan dan kontribusi terhadap komoditas
lokal, Menghimbau kelompok tani yang ada di daerah memanfaatkan lumbung
pangan untuk menabung hasil panen mereka, Perlindungan lahan pertanian pangan
dan Melakukan pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
B.Saran
Ketahanan pangan merupakan basis utama dalam wewujudkan ketahanan ekonomi,

ketahanan nasional yang berkelanjutan. Ketahanan pangan merupakan sinergi dan


interaksi utama dari subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi, dimana dalam
mencapai ketahanan pangan dapat dilakukan alternatif pilihan apakah swasembada
atau kecukupan. Dalam pencapaian swasembada perlu difokuskan pada terwujudnya
ketahanan pangan.
DAFTAR PUSTAKA
Suryana, Achmad. 2005.Seminar Kebijakan Pertahanan Pangan. Bogor : Faberta,
IPB
..2008. Ketahanan pangan dan keamanan energi untuk kebangkitan Indonesia.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia
Anonymous, 2001. Program Kerja Pengembangan Kewaspadaan Pangan. Pusat
Kewaspadaan Pangan 2001-2004. Pusat Kewaspadaan Pangan. Badan Bimas
Ketahanan Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Barichello, Rick, 2000. Evaluating Government Policy for Food Security: Indonesia.
University of British Columbia. Berlin
Muhilal, Fasli Jalal dan Hardinsyah, 1998. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan.
Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. Jakarta.
Napitupulu, Tom Edward Marasi, 2000. Pembangunan Pertanian dan pengembangan
Agroindustri. Wibowo, R. (Editor). Pertanian dan pangan. Pustaka Sinar Harapan.
Jakarta.
http://petikdua.wordpress.com/
http://warta.dephan.go.id/index1.asp?vnomor=33&mnorutisi=7
http://www.rmexpose.com/detail_list_marketreview_baru.php?page=91&id=626
http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/09/tantangan-menuju-ketahanan-pangan/
Wisnu Nur Bhaskoro di 00.26
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar

Beranda
Lihat versi web
About Me

Wisnu Nur Bhaskoro


surakarta, jawa tengah, Indonesia
When you wait for someone for few minutes, It's your need. When you wait for
someone for few hours, It's your trust. When you wait for someone for few weeks, It's
your friendship. But if you are waiting for someone even after knowing that he/she
will never come, It's your love
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.
http://icl.googleusercontent.com/?

lite_url=http://civicsedu.blogspot.com/2012/06/ketahanan-pangan.html?m
%3D1&ei=E6FijC1g&lc=id-ID&s=1

Stats: 4.0kB, 0.10s