Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Resin Komposit


2.1.1 Definisi Resin Komposit
Resin komposit adalah gabungan dua atau lebih bahan yang
berbed dengan sifat-sifat unggul atau lebih baik daripada bhan itu
sendiri.

Secara umum resin komposit adalah mengacu pada

penambahan polimer yang digunakan untuk memperbaiki enamel atau


dentin yang juga digunakan untuk memodifikasi warna dan kontur gigi
secara estetik ( Anusavice,2004).
2.1.2 Komposisi Resin Komposit
a. Resin matriks
Kebanyakan bahan komposit menggunakan monomer yang
merupakan diakrilat aromatik atau alipatik. Bisphenol-A-Glycidyl
Methacrylate (Bis- GMA), Urethane Dimethacrylate (UDMA), dan
Trietilen Glikol Dimetakrilat (TEGDMA) merupakan Dimetakrilat
yang umum digunakan dalam resin komposit. Bis-GMA dan UDMA
merupakan cairan yang memiliki kekentalan tinggi karena memiliki
berat molekul yang tinggi. Penambahan filler dalam jumlah kecil
saja menghasilkan komposit dengan kekakuan yang dapat digunakan
secara klinis. Untuk mengatasi masalah tersebut, monomer yang
memiliki kekentalan rendah yang dikenal sebagai pengontrol
kekentalan ditambahkan seperti metil metkrilat (MMA), etilen glikol
dimetakrilat (EDMA), dan trietilen glikol dimetakrilat (TEGDMA)
adalah yang paling sering digunakan.
b. Partikel bahan pengisi
Penambahan partikel bahan pengisi kedalam resin matriks
secara signifikan meningkatkan sifatnya. Seperti berkurangnya
pengerutan karena jumlah resin sedikit, berkurangnya penyerapan air
dan ekspansi koefisien panas, dan meningkatkan sifat mekanis
seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan, dan ketahanan abrasi. Faktor3

faktor penting lainnya yang menentukan sifat dan aplikasi klinis


komposit adalah jumlah bahan pengisi yang ditambahkan, ukuran
partikel dan distribusinya, radiopak, dan kekerasan.
c. Bahan Pengikat
Bahan pengikat berfungsi untuk mengikat partikel bahan
pengisi dengan resin matriks. Adapun kegunaannya yaitu untuk
meningkatkan sifat mekanis dan fisik resin, dan untuk menstabilkan
hidrolitik dengan pencegahan air.
d. Aktivator-inisiator (pengaktif)
Bahan yang digunakan untuk memulai proses polimerisasi,
untuk mengaktifkan mekanisme pengerasan resin komposit.
e. Pigment/modifier optic
Resin komposit adalah komponen resin komposit yang
digunakan untuk mencocokkan resin komposit dengan warna gigi.
f. Inhibitor/stabiliser
Bahan penghambat polimerisasi, untuk mencegah polimerisasi
spontan dari monomer
g. Akselerator
Bahan yang digunakan untuk mempercepat proses polimerisasi
(Craig dan Powers,2006).
2.1.3 Syarat Resin Komposit
a. Pertimbangan

biologis

tidak

mengiritasi

pulpa

dan

mukosa,kariostatis,toksisitas sistemik rendah


b. Pertimbangan mekanis ; kuat menerima beban kunyah,modulus
elastisitas tinggi,tidak mudah abrasi,atrisi, dan erosi
c. Pertimbangan termis ; difusi termis rendah, koefisien ekspansi termis
atau sama dengan enamel atau dentin
d. Radiopak ; agar mudah mendeteksi kedudukan restorasi dan adanya
karies
e. Adhesinya baik (Kenneth,2014).

2.1.4 Sifat Resin Komposit


a. Sifat fisik

Warna
Resin komposit resisten terhadap perubahan warna yang
disebabkan oleh oksidasi tetapi sensitive pada penodaan. Stabilitas
warna resin komposit dipengaruhi oleh pencelupan berbagai noda
seperti kopi, teh, jus anggur, arak dan minyak wijen. Perubahan
warna bisa juga terjadi dengan oksidasi dan akibat dari penggantian
air dalam polimer matriks. Untuk mencocokan dengan warna gigi,
komposit kedokteran gigi harus memiliki warna visual (shading)
dan translusensi yang dapat menyerupai struktur gigi. Translusensi
atau opasitas dibuat untuk menyesuaikan dengan warna email dan
dentin.

Strength
Tensile dan compressive strength resin komposit ini lebih rendah
dari amalgam, hal ini memungkinkan bahan ini digunakan untuk
pembuatan restorasi pada pembuatan insisal. Nilai kekuatan dari
masing-masing jenis bahan resin komposit berbeda.

Setting
Dari aspek klinis setting komposit ini terjadi selama 20-60 detik
sedikitnya

waktu

yang

diperlukan

setelah

penyinaran.

Pencampuran dan setting bahan dengan light cured dalam beberapa


detik setelah aplikasi sinar. Sedangkan pada bahan yang diaktifkan
secara kimia memerlukan setting time 30 detik selama pengadukan.
Apabila resin komposit telah mengeras tidak dapat dicarving
dengan instrument yang tajam.

b. Sifat mekanis

Adhesi
Adhesi terjadi apabila dua subtansi yang berbeda melekat sewaktu
berkontak disebabkan adanya gaya tarik menarik yang timbul
antara kedua benda tersebut. Resin komposit tidak berikatan secara
kimia dengan email. Adhesi diperoleh dengan dua cara. Pertama
dengan menciptakan ikatan fisik antara resin dengan jaringan gigi
melalui etsa. Pengetsaan pada email menyebabkan terbentuknya
porositas tersebut sehingga tercipta retensi mekanis yang cukup
baik. Kedua dengan penggunaan lapisan yang diaplikasikan antara
dentin dan resin komposit dengan maksud menciptakan ikatan
antara dentin dengan resin komposit tersebut (dentin bonding
agent).

Kekuatan dan keausan


Kekuatan kompresif dan kekuatan tensil resin komposit lebih
unggul dibandingkan resin akrilik. Kekuatan tensil komposit dan
daya tahan terhadap fraktur memungkinkannya digunakan bahan
restorasi ini untuk penumpatan sudut insisal. Akan tetapi memiliki
derajat keausan yang sangat tinggi, karena resin matriks yang lunak
lebih cepat hilang sehingga akhirnya filler lepas.

c. Sifat Khemis
Resin gigi menjadi padat bila berpolimerisasi. Polimerisasi
adalah serangkaian reaksi kimia dimana molekul makro, atau
polimer dibentuk dari sejumlah molekul molekul yang disebut
monomer. Inti molekul yang terbentuk dalam sistem ini dapat
berbentuk apapun, tetapi gugus metrakilat ditemukan pada ujung
ujung rantai atau pada ujung ujung rantai percabangan. Salah satu
metakrilat multifungsional yang pertama kali digunakan dalam
kedokteran gigi adalah resin Bowen (Bis-GMA) (Anusavice,2008).
2.1.5 Klasifikasi Resin Komposit
a. Komposit tradisional

Komposit tradisional adalah komposit yang di kembangkan


selama tahun 1970-an dan sudah mengalami sedikit modifikasi.
Komposit ini disebut juga komposit kovensional atau komposit
berbahan pengisi makro, disebut demikian karena ukuran partikel
pengisi relatif besar. Bahan pengisi yang sering digunakan untuk
bahan komposit ini adalah quartz giling. Dilihat dari foto
micrograph bahan pengisi quartz giling mengalami penyebaran yang
luas dari ukuran partikel. Ukuran rata-rata komposit tradisional
adalah 8-12 m, partikel sebesar 50m.
b. Komposit berbahan pengisi mikro
Pada komposit tradisional, dikembangkan suatu bahan yang
menggunkan partikel silika koloidal sebagai bahan pengisi
anorganik. Partikelnya berukuran 0,04 m; jadi partikel tersebut
lebih kecil 200-300 kali di bandingkan rata-rata partikel quartz pada
komposit tradisional. Komposit ini memiliki permukaan yang halus
serupa dengan tambalan resin akrilik tanpa bahan pengisi.
c. Resin komposit berbahan pengisi partikel kecil
Komposit ini dikembangkan dalam usaha memperoleh
kehalusan dari permukaan komposit berbahan pengisi mikro dengan
tetap mempertahankan atau bahkan meningkatkan sifat mekanis dan
fisik komposit tradisional. Untuk mencapai tujuan ini, bahan pengisi
anorganik ditumbuk menjadi ukuran lebih kecil dibandingkan
dengan yang biasa digunakan dalam komposit tradisional.
d. Komposit hibrit
Kategori bahan komposit ini dikembangkan dalam rangka
memperoleh kehalusan permukaan yang lebih baik dari pada partikel
yang lebih kecil, sementara mempertahankan sifat partikel kecil
tersebut. Ukuran partikel kacanya kira-kira 0,6- 1,0 mm, berat bahan
pengisi antara 75-80% berat. Sesuai namanya ada 2 macam partikel
bahan pengisi pada komposit hybrid. Sebagian besar hibrid yang
paling baru pasinya mengandung silica koloidal dan partikel kaca

yang mengandung logam berat. Silica koloidal jumlahnya 10-20%


dari seluruh kandungan pasinya (Anusavice,2008).
2.1.6 Manipulasi Resin Komposit
a. Resin komposit yang diaktifkan secara kimia
Bahan yang diaktifkan secara kimia dipasok dalam dua pasta,
satu

mengandung

inisiator

benzoil

peroksida

dan

lainnya

mengandung amine tersier (N,N-dimetil-p-toluidin). Bila kedua


pasta diaduk , amin beraksi dengan benzoil peroksida untuk
membentuk radikal bebas dan polimerisasi tambahan dimulai.
Bahan-bahan yang digunakan untuk restorasi dan pembuatan inti
yang pengerasaanya tidak dengan sumber sinar.
b. Resin komposit yang diaktifkan secara sinar tampak
Sistem yang pertama diaktifkan dengan sinar menggunakan
sinar ultra violet untuk merangsang radikal bebas. Dewasa ini,
komposit yang diaktifkan dengan sinar ultraviolet telah diganti karna
efek cahayanya dapat mengiritasi retina. Sehingga digantidengan
sinar

yang

dapat

dilihat

dengan

mata

(sinar biru). Yang

secara nyata meningkatkan kemampuan berpolimerisasi lebih tebal


sampai 2 mm.Resin komposit yang mengeras dengan sinar dipasok
sebagai pasta tunggal dalam satu semprit.Radikal bebas pemulai
reaksi , terdiri atas molekul foto-inisiator dan aktivator amin, yang
terdapat dalam pasta ini. Bila kedua komponen tidak terpapar
olehsinar, komponen tersebut tidak bereaksi. Namun, pemamparan
terhadap sinar dengan panjang gelombang yang tepat yaitu 468 nm.
Dapat merangsang foto-inisiator dan interaksi dengan amin untuk
membentuk radikal bebas yang mengawali polimerisasi tambahan
Foto inisiator yang umum digunakan adalah camphoroquinone, yang
memilikipenyerapan berkisar 400 dan 500 nm yang berada pada
region biru dari spektrum sinar tampak. Inisiator ini ada dalam pasta
sebesar 0,2 % berat atau kurang. Juga ada sejumlah aselerator amin
yang cocok untuk berinteraksi dengan camphoro qunone seperti

dimetil amino etil metakrilat 0,15 % berat, yang ada dalam pasta
(Craig dan Powers,2006).
2.1.7 Aplikasi Resin Komposit
1. Bahan tambalan pada gigi anterior dan posterior ( direct atau inlay)
2. Sebagai veneer mahkota logam dan jembatan (prosthodontic resin)
3. Sebagai pasak.
4. Sebagai semen pada orthodontic brackets, Maryland
bridges, ceramic crown,inlay, onlay.
5. Pit dan fisur sealant.
6. Memperbaiki restorasi porselen yang rusak (Anusavice,2008).
2.2 Etsa Asam
2.2.1 Definisi Etsa Asam
Sebelum memasukan resin, email pada permukaan struktur gigi
yang akanditambal diolesi etsa asam. Asam tersebut akan menyebabkan
hydroxiapatit larut danhal tersebut berpengaruh terhadap hilangnya
prisma email dibagian tepi, inti prismadan menghasilkan bentuk yang
tidak spesifik dari struktur prisma. Kondisi tersebut menghasilkan poripori kecil pada permukaan email, tempat kemana resin akan mengalir
bila ditempatkan kedalam kavitas. Asam fosfor adalah bahan etsa yang
digunakan. Konsentrasi 35 %-50 % adalah tepat, konsentrasi lebih dari
50% menyebabkan pembentukan monokalsium fosfat monohidrat pada
permukaan teretsa yang menghambat kelarutan lebih lanjut. Asam ini
dipasok dalam bentuk cair dan gel dan umumnya dalam bentuk gel agar
lebih mudah dikendalikan. Asam diaplikasikan dan dibiarkan tanpa
diganggu kontaknya dengan email minimal selama 15-20 detik.
(Anusavice, 2004).
2.2.2 Kelebihan dan Kekurangan Etsa Asam
Metode dalam sistem adhesi kedokteran gigi yaitu total-etch
yang terdiri dari kompleksitas komponen dan prosedur aplikasi

bonding, serta self-etch yang menggunakan teknik aplikasi lebih


sederhana . Bonding total-etch memiliki berbagai keunggulan dan
kekurangan. Keunggulan bahan ini antara lain memiliki pelekatan ke
dentin yang kuat mencapai 25 MPa . Hal itu disebabkan penggunaan
etsa asam fosfat 37% pada email dan dentin dengan pH 0.1-0.Proses
etsa akan menghilangkan sebagian atau seluruh smear layer,
meningkatkan pembasahan pada dentin, demineralisasi intertubular dan
peritubular dentin, dan membuka tubulus dentinalis. Hasilnya penetrasi
bahan bonding menjadi dalam, baik, dan dapat menghasilkan retensi
mikromekanik berupa mechanical interlocking yang lebih besar.
Kekurangan bonding total-etch yaitu prosedur penggunaannya yang
sulit dan waktu aplikasi yang lama. Penyemprotan saat pengeringan
harus mengkondisikan keadaan moist. Jika kondisi pengeringan yang
berlebihan, maka menyebabkan jalinan kolagen kolaps, sehingga bahan
bonding

tidak

dapat

penetrasi

dengan

baik

serta

membuat

ikatan.Kegagalan bonding ini menyebabkan nyeri setelah restorasi,


adanya kebocoran tepi restorasi, dan kegagalan restorasi. Sistem adhesif
total-etch, seluruh smear layer akan disingkirkan dan serat kolagen akan
terpapar oleh etsa asam sehingga menciptakan retensi mikromekanis
yang baik melalui infiltrasi monomer resin, tetapi penyingkiran seluruh
smear layer dari permukaan dentin dapat menyebabkan jaringan
kolagen yang terpapar menjadi kolaps, oleh karena itu dikembangkan
sistem adhesif self-etch. (McCabe, 2008)
2.2.3 Ketentuan Pemakaian Etsa Asam
Secara sistematis, ada 4 hal yang perlu diperhatikan dalam
melakukan etsa asam yaitu metode, waktu, konsentrasi asam, dan tipe
asam yang digunakan.
a. Metode
Asam fosforik dapat diaplikasikan dalam bentuk gel dengan
menggunakan kuas atau injeksi. 1,2 Kuas lebih dianjurkan karena
ujung yang baik dari kuas akan mengikatkan asam ke enamel pada
preparasi chamfer-shoulder dan bulu kuas yang halus akan mencegah
10

gosokan kasar yang nantinya akan menghasilkan penurunan retensi


akibat fraktur dari enamel interstitial yang mengelilingi pori-pori
yang sangat kecil (micropore).
b. Waktu
Waktu yang digunakan untuk etsa asam fosforik tidaklah lama,
normalnya 10-60 detik.3 Waktu yang lebih lama tidak akan
menambah kekuatan ikatan. Namun, lamanya pemberian etsa
bervariasi tergantung riwayat gigi yang dietsa. Aplikasi dapat lebih
lama (1 menit atau lebih) pada gigi susu dan gigi yang mengalami
fluorosis karena keduanya bersifat melawan prosedur etsa.2
c. Konsentrasi Asam
Konsentrasi 30%-50% adalah yang paling efektif dan banyak
terdapat di pasaran.1,3Konsentrasi 37% merupakan konsentrasi
terbanyak

di

pasaran.

Konsentrasi

lebih

dari

50%

dapat

menyebabkan pembentukan monokalsium fosfat monohidrat pada


permukaan teretsa yang menghambat kelarutan lebih lanjut.1
d. Tipe asam yang digunakan
Ada 2 macam tipe asam yang dapat digunakan untuk etsa yaitu
gel dan larutan encer. Tipe larutan encer mudah untuk digunakan
tetapi sangat sulit untuk mengontrol flow cairan.2,3 Gel fosforik
dengan viskositas tinggi seperti Caulk Gel Etchant atau Ultradent
Etching Gel lebih mudah untuk dikontrol secara klinis.2Dalam
pembuatannya, gel tersebut seringkali dibuat dengan menambah
silika koloidal atau butiran polimer ke dalam asam(Anusavice,2004 )
2.2.4 Perbedaan Aplikasi Dengan Bonding
Bahan etsa asam di buat dari asam fosfor dengan konsentrasi
35-50% dalam bentuk gel, sedangkan bahan bonding terdiri dari bahan
matriks resin BIS-GMA yang tanpa pasi atau dengan sedikit pengisi.
Selain itu juga dapat dikatakan bahwa bahan bonding bersifat hidrofilik
dengan membasahi gigi dengan baik, berbeda dengan etsa asam yang
bersifat hidrofobik atau anti air. Etsa asam dilakukan hanya apabila
daerah sekitar kavitas terhindar dari cairan rongga mulut dan benarbenar bersih.

11

Bahan bonding email dikembangkan untuk meningkatkan


kemampuan membasahi email yang teretsa. Umumnya, kekentalan
bahan ini berasal dari matriks resinyang dilarutkan dengan monomer
lain untuk menurunkan kekentalan dan meningkatkankemungkinan
membasahi. Bahan ini tidak mempunyai potensi perlekatan tetapi
cendrungmeningkatkan ikatan mekanis dengan membentuk resin tag
yang optimum pada email.Beberapa tahun terakhir bahan bonding
tersebut telah digantikan dengan sistem yangsama seperti yang
digunakan pada dentin. Peralihan ini terjadi karena manfaat daribonding
simultan pada enamel dan dentin dibandingkan karena kekuatan
bonding. (McCabe,2008).
2.3 Bahan Bonding
2.3.1 Definisi Bahan Bonding
Bahan bonding didefinisikan sebagai sebuah material dengan
viskositas rendah, yang diaplikasikan di atas permukaan gigi dan
membentuk film tipis setelah setting. Film tipis ini mengikat dengan
kuat permukaan gigi yang di atasnya restorasi komposit resin kental
diaplikasikan. Ini diatur membentuk restorasi resin yang terpadu.
Jika dibandingkan dengan unfilled resin akrilik, resin komposit
lebih kental, oleh karena itu tidak membasahi permukaan gigi dengan
mudah.Bonding

agent dikembangkan

untuk

digunakan

dalam

hubungannya dengan resin komposit.


Resin dalam bahan bonding telah diencerkan dengan monomer
lainnya hingga suatu tingkatan yang memiliki viskositas rendah dan
mudah

membasahi

permukaan

gigi.

Ketika

disapukan

pada

dinding cavity, secara bebas menembus ke dalam porositas kecil yang


dihasilkan oleh etsa asam berpolimerisasi. Ketika restorasi resin
komposit

ini

kemudian

dimasukkan

mempolimerisasi kehadiran bahan


Dengan

cara

ini,

diharapkan

ke cavity,

bonding di
adaptasi

ia

akan

permukaan cavity.
lebih

baik

pada

12

dinding cavity enamel dicapai dengan peningkatan retensi mekanis dari


restorasi.
Bahan bonding menembus permukaan enamel dan dentin yang
teretsa dan membuat micro mechanical retensi dengan restorasi. Retensi
micro mechanical berarti bahwa ikatan retensi yang terbetuk sangat
kecil. Dengan material ini, memungkinkan untuk mengikat material
restorasi pada enamel dan dentin. (Noort, 2007)
2.3.2 Klasifikasi Bahan Bonding
Klasifikasi bonding agent berdasarkan aplikasinya ada 2 (dua)
macam, yaitu:
a. Enamel Bonding Agent
Bondingpada

enamel

retensi micromechanical setelah


menghilangkan smear

terjadi
etsa

layer dan larutnya

terutama
asam digunakan
kristal

dengan
untuk

hidroksiapatit

di

permukaan luar dari interface. Konstitusi cairan perekat masuk ke


dalam permukaan irregular yang baru terbentuk dan menjadi terjebak ke
dalamnya setelah perekat berpolimerisasi. Gel etsa (teruama asam
fosfat) dikeluarkan dari alat suntik ke permukaan gigi yang teretsa.
Waktu etsa enamel berbeda tergantung pada tipe dan kualitas enamel.
Umumnya, etsa 15 detik dengan 37% asam fosfat cukup untuk
menghasilkan microtags. Walaupun begitu, sampai macro-spaces jelas,
titik akhir karakteristik klinis a frosty enamel appearance tidak akan
berkembang.
Beberapa email mungkin telah diberikan lebih larut sebagai akibat
dari fluorosis. Dalam kasus itu, perpanjangan waktu etsa dibutuhkan
untuk memastikan bahwa ikatan micromechanical dapat terjadi. Tidak
jarang untuk memperpanjang waktu etsa selama beberapa menit untuk
mencapai tingkat etsa yang memadai. Yang harus diperhatikan, dentin
harus dilindungi dari perlakuan asam. Setelah waktu etsa dengan fourth,
dan fifth-generasi system bonding, material dibilas dan struktur gigi
dipertahankan dalam kondisi permukaan lembab untuk tahap ikatan

13

berikutnya. Kemudian, primer dapat mengalir ke permukaan untuk


menembus ke dalam permukaan irreguler yang tersedia. Primer dan
perekat yang mengalir ke dalam irreguler yang lebih besar, seperti
perifer prisma menghasilkan resin tag sekali perekat digunakan. Tag ini
sebenarnya macrotags. Pemeriksaan rincian permukaan tunggal
prisma menghasilkan bentuk tag yang lebih kecil microtagdimana
perekat mengalir ke ruang-ruang antara sebagian kristal hidroksiapatit
terlarut. Microtag jauh lebih banyak dan berkontribusi ke sebagian
besar retensimicromechanic.
b. Dentin Bonding Agent
Tidak

seperti

enamel,

dentin

terdiri

atas

zat

organic

dan bonding semakin sulit. Smear layer harus dihilangkan sehingga


material dapat mencapai dentin dan berikatan dengannya. Harus ada
jumlah sedikit kelembaban yang dipertahankan agar tidak mongering
pada gigi, dan aplikasi material harus bisa melindungi pulpa, tidak
mengiritasinya.
Komponen dari dentin bonding agent terdiri dari tiga komponen
essensial:

Primer

Coupling agent

Sealer
Dalam literatur kedokeran gigi, primer umumnya disebutdentine

conditioner, dan terdiri atas berbagai asam yang mengubah penampakan


permukaan dan karakteristik dentin. Satu factor besar pembeda
dentin bonding agentadalah variasi dari dentine conditioner yang telah
digunakan selama ini. Ini meliputi asam malat, EDTA, asam oxalate,
asam fosfat, dan asan nitrat. Apa yang mereka miliki pada umumnya
adalah mereka semua asam dan mereka mengubah smear layer menjadi
tingkatan yang berbeda. Pengaplikasian asam pada permukaan dentin
menghasilkan reaksi asam basa dengan hidroksiapatit. Ini menyebabkan
hidroksiapatit menjadi larut dan menghasilkan pembukaan tubulus

14

dentin dan membuat permukaan dentin terdemineralisasi yang


umumnya hingga kedalaman 4 m. Semakin kuat asam, semakin
terlihat efeknya. Demikian, untuk EDTA, yang merupakan asam yang
tidak terlalu kuat, hanya sebagian tubulus dentin yang terbuka,
sementara itu untuk asam nitrat, yang merupaka asam kuat, semakin
banyak pembukaan tubulus dentin yang terjadi.
Peran dari primer adalah bereaksi sebagai adhesive

dalam

dentin bonding agent karena mempunyai metode mengikat hidrofobik


komposit dan kompomer pada hidrofilik dentin. (Annusavice, 2004)
2.3.3 Komposisi Bahan Bonding
Sebuah bonding agent terdiri dari tiga komponen-etchant, primer
dan adhesive. Etchant biasanya terdiri dari 37% phosphoric acid dalam
sebuah larutan atau gel. Banyak bonding agent mengandung monomer
multifungsional (primer/adhesive) dengan grup hydrophilic untuk
meningkatkan pembasahan dan penetrasi dari dentin yang dirawat dan
kelompok hydrophobic untuk mempolimerisasi dan membentuk ikatan
dengan komposit. Primer dan adhesive biasanya terbawa dalam sebuah
pelarut seperti aseton, alkohol, atau air. Dalam multiple-bottle systems,
komponen-komponen ini dikemas terpisah. Dalam single-bottle
systems, primer dan adhesive digabung menjadi satu. Yang terbaru,
single-bottle systems mengandung acidic primers, yang membuatnya
dapat digunakan tanpa dilakukan etsa dengan phosporic acid
sebelumnya.
Perlekatan pada enamel yang telah dietsa adalah perlekatan
mikromekanikal hasil dari pembasahan dan penetrasi dari permukaan
yang baik (4-2). Perlekatan pada dentin memerlukan pembersihansmear
layer, yang terdiri dari hidroxyapatite dan sebagian denaturated
collagen, dan dekalsifikasi dari intertubular dentin pada kedalaman 1
hingga 5 m. Bonding agent memasuki kolagen yang terpapar dan tidak
seperti perlekatan pada enamel, membentuk sebuah hybrid layer (4-8).
Formasi dari hybrid layer memberikan retensi mikromekanikal terhadap
dentin. Karena morfologi dari dentin beraneka macam tergantung

15

lokasinya, seperti jumlah dan ukuran dari tubulusm perlekatan juga


akan berbeda-beda, khususnya pada area high tubule density (dentin
dalam) dan dentin sklerosis.
2.3.4 Sifat Bahan Bonding
Sebagian besar bonding agent menghasilkan kekuatan ikatan
terhadap enamel dan superficial dentin 15 sampai 35 MPa. Kekuatan
ikatan ditentukan untuk bagian dentin dalam cenderung lebih rendah
daripada superficial dentin. Berbagai masalah klinis dapat mengurangi
kekuatan ikatanPelarut dan monomer dalam bonding agent biasanya
mengiritasi kulit. Material tertentu seperti 2-hydroxyethylmethacrylae
(HEMA), tidak biokompetibel sebagai monomer. Bonding agent bisa
memproduksi reaksi lokal dan sistemik pada dokter gigi maupun asisten
dokter gigi. Penting bagi dental personnel melindungi diri mereka
sendiri. Proteksi meliputi memakai sarung tangan, mengganti sarung
tangan yang terkontaminasi segera, menggunakan high-volume
evakuasi dimana material digunakan, menjaga semua botol tertutup
rapat atau menggunakan sistem unit-dose dan membuang material
sedemikian rupa agat monomer tidak dapat menguap ke dalam udara
kantor. Bahkan dengan sarung tangan ganda, kontak dengan pelarut dan
monomer agresif akan menyebabkan kontak dengan kulit yang
sebenarnya dalam beberapa menit.
2.3.5 Syarat Bahan Bonding
a.
b.

Biokompatibel, tidak toksik, non-iritasi, tidak beracun

Tidak bereaksi dengan konstituen organik maupun inoeganik


c. Sesuai denan viskositas rendah untuk mengalir dengan mudah pada
permukaan adherend

d.

Membasahi permukaan gigi dengan mudah

e.

Ketebalan film yang tipis

16

f.

Membentuk ikatan permanent yang kuat

g.

Stabilitas dimensi yang bagus

h.

Harus mempunyai kedua grup hidrofilik dan hidrofobik

i.

Konduktivitas termal rendah


2.3.6 Generasi Bahan Bonding
a. Generasi ke-1 dari sistem adhesif diperkenalkan oleh Buonocoreet
al. (1956)

dengan

menggunakan

asam gliserofosforik

dimetakrilat(mengandung resin) yang dilekatkan ke dentin yang


telah di etsa dengan asam hidroklorik. Perlekatan ini disebabkan
interaksi antara molekul resin dengan ion kalsium dari hidroksiapatit,
tetapi kekuatan daya lekatnya akan berkurang apabila terkena air.
b. Generasi ke-2 menggunakan ester fosfat yang merupakan derivat
metakrilat. Sistem ini menggunakan interaksi ion antara grup fosfat
yang bermuatan negatif dengan kalsium yang bermuatan positif.
Oleh karena dentin tidak di etsa, maka bahan bonding akan melekat
ke smear layer dan bukan permukaan dentin. Beberapa contoh
sistem

bonding

generasi

ke-2

yaitu Bondlite

(Kerr

Corporation) dan Prisma Universal Bond (Dentsply).


c. Generasi

ke-3

lebih

difokuskan

pada

pembuangan

atau

modifikasi smear layer dengan pengetsaan pada permukaan dentin


oleh asam fosforik yang memungkinkan penetrasi bahan adhesif tipe
ester fosfat ke tubulus dentin. Akan tetapi, sistem ini tidak begitu
berhasil karena monomer resin tidak berpenetrasi melewati smear
layer.
d. Perlekatan pada dentin yang dapat diandalkan dimulai dari generasi
ke- 4. Yang mengandung 3 unsur utama, yaitu bahan etsa, primer,
dan adhesif. Nakabayshi et al. (1982) mengemukakan bahwa kunci
dari perlekatan bahan adhesif ke dentin adalah terbentuknya lapisan
hibrid

(hybrid

layeratau hybrid

zone).

Sistem

adhesif total-

etch merupakan karakter utamanya dengan menggunakan asam

17

fosfor selama 15-20 detik. Pengetsaan dentin (menyingkirkan


seluruh smear layer, membuka semua tubulus dentin dan kolagen
terekspos), kemudian diikuti oleh aplikasi primer dan bahan adhesif
yang akan berpenetrasi ke dalam tubulus dentin kemudian
berpolimerasi

membentuk resin

tag. Beberapa

contoh

sistem bonding generasi ke-4 yaituAll-Bond 2 (Bisco), OptiBond FL


(Kerr Corporation), dan Scocthbond Multi Purpose (3M ESPE).
e. Sistem adhesif generasi ke-5 dikembangkan untuk menyederhanakan
langkah prosedur klinis sistem adhesif dan mencegah kolapsnya
kolagen pada dentin yang termineralisasi. Generasi ke-5 ini terdiri
dari dua sistem yang berbeda yaitu One-bottle system merupakan
kombinasi dari primer dan resin adhesif dalam satu botol yang
diaplikasikan setelah pengetsaan email dan dentin secara simultan
dengan

asam phospor 35-37

selama

15-20

detik. 16 19

Misalnya Gluma Coomfort Bond, OptiBond Solo, EasyBond, Prime


& Bond NT (Dentsply), Single Bond (3M Dental Product).
f. Sistem adhesif generasi ke-6 adalah Sel-etching primer atau two-step
self-etch adhesive merupakan kombinasi antara etsa dan primer
dalam satu botol diikuti dengan resin adhesif. Kombinasi ini dapat
mengurangi waktu kerja, mengurangi sensitifitas dan untuk
mencegah kolapsnya kolagen, Beberapa contoh bahan adhesif
Universitas Sumatera Utara Self-etching primer antara lain Clearfil
Liner Bond 2V, Clearfil Liner Bond II, Unfil Bond (GC Product),
Adper SE Plus (3M ESPE).
g. Sistem adhesif generasi ke-7 merupakan perkembangan dari sistem
adhesif self-etch yang menggabungkan bahan etsa, primer, dan
adhesif dalam satu botol, tanpa adanya tahap-tahap aplikasi ataupun
pencampuran bahan primer dan bahan adhesif, sistem ini dikenal
dengan one-step self-etch system atau single solution.
Contohnya Prompt L-Pop (3M Dental Product), iBond 16
TM, dengan semakin berkembangnya sistem adhesifself-etch Bond
Force (Tokuyama) yang dapat melepaskan flour dan menghasilkan
lapisan hybrid yang dalam, dapat digunakan pada daerah yang
18

lembab dan juga mengurangi sensitifitas pada gigi. (Anusavice,


2014)

19