Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH TEORI KEPRIBADIAN

Melanie Klein

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut asma Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ilmiah tentang teori kepribadian menurut Melanie Klein ini dengan baik meskipun masih
banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada Bapak Luthfi
Fathan Dahriyanto., S.Psi., M.A selaku Dosen mata kuliah Teori Kepribadian
Psikodinamika dan Neo-Freudian yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai teori kepribadian menurut Melanie Klein. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari
kata sempurna, Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di lain waktu, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun pembacanya.
Sekiranya makalah ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari anda demi
perbaikan makalah ini.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam psikologi, tentunya membahas tentang individu atau manusia. Di dalam
diri manusia terdapat satu aspek yang disebut sebagai kepribadian. Kepribadian sendiri
merupakan karakteristik seseorang yang tidak dikenai nilai. Kepribadian seseorang ini
salah satunya terbentuk karena interaksi sosial antar individu satu dengan individu lain,
karena menusia sendiri merupakan mahluk sosial. Hal ini juga berkaitan dengan
hubungan batin diantara ibu dan anaknya yang sangat kuat. Hubungan antara anak dan
ibu tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena keduanya saling membutuhkan.
Sehingga munculah teori tentang relasi objek yang membahas tentang hubungan yang
berasal dari kedekatan seorang ibu dengan anaknya. Beberapa tokoh dunia yang meneliti
dan mengembangkan teori tentang hubungan ibu dan anak ini diantaranya; teori Melani
Klein, Paranoid-Skizoid yaitu tentang kehidupan Psikis bayi.
B.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Bagaimana Gambaran umum mengenai teori relasi objek?
Bagaimana konsep kesehatan mental menurut Melanie Klein ?
Psikoterapi Melanie Klein
Kritik relasi objek Melanie Klein

C. Biografi Melanie Klein


Melanie Reizes Klein lahir pada tanggal 30 Maret 1882 di Wina, Austria. Ia
lahir sebagai anak terakhir dari empat bersaudra,dari pasangan Dr. Moriz Reizes dan istri
keduanya. Libussa Deutsch Reizes. Klein percaya bahwa ia lahir sebagai anak yang
kehadirannya tidak direncanakan. Keyakinan ini membuatnya merasa ditolak oleh orang
tuanya. Melaine merasa ada jarak oleh ayahnya,yang lebih mencintai kakak
perempuannya, Emilie (Sayers,1991). Ketika Melanie lahir,ayahnya sudah lama
melawan yahidi Ortodoks dan menolak untuk menerapkan agama apapun dalam
kehidupannya. Akibatnya, Klein tumbuh dalam keluarga yang tidak proagama, namun
juga tidak antiagama.

Pada masa anak-anak Klein mengamati kedua orang tuanya menjalani perkerjaan
yg mereka tidak sukai. Ayahnya seorang dokter yang berkerja di bidang obat-obatan yang
kemudian berakhir dengan berkerja sebagai asisten dokter gigi. Ibunya memiliki sebuah
toko tumbuhan dan reptil. Sebuah perkerjaan yang sulit,memalukan dan menakutkan
untuk seseorang yang takut akan ular (H.Segal,1979). Meskipun ayahnya bergelar dokter
dan tidak memiliki penghasilan yang mencukupi keluarganya, klein bercita-cita menjadi
seorang dokter sama seperti ayahnya.
Hubungan-hubungan Klein di awal kehidupannya merupakkan hubunganhubungan yang tidak sehat atau beraakhir dengan tragedi. Ia merasa diabaikan oleh
ayahnya, yang dipandang sebagai sosok yang dingin dan jauh, sedangkan hubungan
dengan ibunya dirasakan sangat kaku , walaupun ia mencintai dan mengidolakan ibunya.
Klein memiliki kedekatan dengan kakak perempuannya Sidonie, yang lebih tua empat
tahun darinya dan sering mengajarkan aritmatika juga membaca. Sayangnya, Sidonie
meninggal ketika Melanie berusia empat tahun. Pada tahun-tahun berikutnya, melanie
mengaku bahwa ia tidak pernah merasa sangat sedih atas kematian sidonie (H.
segal,1992).
Setelah kematian, Sidoine, klein jadi sangat dekat dengan kakak laki-lakinya
Emmanuel, yang merupakan kakak laki-laki satu-satunya dan berusia lima tahun lebih
tua dari Melanie. Ia sangat mengagumi dan terobsesi pada Emmanuel. Kemungkinan
obsesi ini kemudian berpengaruh pada kesulitannya dalam membina hubungan dengan
laki-laki. Seperti Sidonie, Emmanuel juga mengajari Melaniedengan sangat baik
sehingga Melanie berhasil lolos dalam ujian masuk sebuah sekolah persiapan yang
bereputasi baik (Petot, 1990).
Saat Klein berusia 18 tahun, ayahnya meninggal, tetapi tragedi yang lebih besar
terjadi dua tahun kemudian, yaitu ketika kakak laki-lakin yang sangat di cintainya,
Emmanuel meninggal. Kematian Emmanuel sangat mengguncang klein. Ketika masih
berduka atas kematiannya, Melanie menikahi Arthur Klein, seseorang insinyur teman
dekat Emmanuel. Pernikahan ini diyakini melanie sebagai penyebab dari kegagalannya
menjadi seorang dokter sehingga disepanjang sisa hidupnya, ia terus menyesal karna
tidak mencapai tujuannya itu (Grosskurth, 1986).
Sayangnya, pernikahan Klein tidak bahagia, ia menghindari hubungan seksual
dan tidak ingin hamil (Grosskurth, 1986). Meskipun demikian, ia mempunyai tiga anak
dari pernikahannya dengan Arthur, yaitu Melitta lahir tahun 1904, Hans lahir tahun 1907,
dan Erich lahir tahun 1914, pada tahun 1909, keluarga Klein pindah ke Budapest karena

Arthur ditugaskan disana. Di tempat itu, Klein bertemu dengan Sandor Ferenczi, salah
satu anggota lingkaran dalam Freud, yang kemudian mengenalkannya pada dunia
psikoanalisis. Ketika ibunya meninggal pada tahun 1914, Klein mengalami depresi dan
meminta Ferenczi untuk menganalisisnya. Pengalaman ini merupakian titik balik dalam
kehidupannya. Pada tahun yang sama, ia membaca buku Freud yang berjudul On
Dreams (1901/1953) dan dalam seketika menyadari apa yang menjadi tujuan saya.
Setidaknya, untuk tahun-tahun dimana saya merasa sangat antusias mencari apa yang
dapat memuaskan saya, baik secara intelektual maupun emosional.
Pada saat yang sama ketika ia mulai mengenal Freud, lahirlah anak ketiga, Erich.
Klein sangat mempercayai psikoanalisis dan mengajar anaknya sesuai dengan prinsipprinsip Freudian. Sebagai bagian dari pengajarannya, ia mulai menerapkan
psikoanalisisterhadap Erich sejak ia masih kecil.selain itu, ia juga menganalisis Melitta
dan Hans, yang masa mendatang keduanyamalah menemui analisis lain.yang kemudian
menjadi psikoanalis, menemui Karen Horney dan juga analisis lain.
Hubungan antara Horney dan Klein sangat menarik karena di kemudian hari,
Klein menganalisis dua puteri Horney yang termuda ketika usia mereka dua belas dan
sembilan tahun (putri tertua Horney yang berusia empat belas tahun menolak dianalisis).
Tidak seperti Melitta yang dianalisis dengan suka rela,kedua putri Horney merasa
terpaksa menghadiri sesi analisis. Sesi ini bukan sesi untuk menyembuhkan gangguan
neurotik,melainkan sesi dengan tujuan pencegahan (Quinn, 1987).
Klein berpisah dengan suaminya pada tahun 1919,namun percerainya baru terjadi
beberapa tahun kemudian. Setelah perpisahannya, ia membangun praktik psikoanalisis di
Berlin dan membuat makalah mengenai analisisnya terhadap Erich. Makalah ini
merupakan kontribusi pertamanya dalam literatur psikoanalisis. Erich , dalam makalah
tersebut tidak diperkenalkan sebagai anaknya bahkan sampai beberapa waktu lamanya
setelah kematian Klein (Grosskurth, 1998). Tidak merasa puas akan analisis yang
dilakukan oleh Ferenczi terhadap dirinya sendiri, Klein mengakhiri hubungan
dengannya.
Kemudian, ia mulai dianalisis oleh Karl Abraham, anggota lain dari lingkaran
dalam Freud. Setelah hubungan iniberjalan selama empat belas bulan,Klein mengalami
tragedi lain yaitu kematian Abraham. Pada titik saat itu,Klein memutuskan untuk
melakukan analisis terhadap diri sendiri(self analysis),analisis yang terus dilakukan
selama sisa hidupnya. Sebelum tahun 1919,semua psikoanalis,termasuk Freud,membuat
teori mengenai perkembangan anak berdasarkan penanganan terapi mereka pada orang
dewasa. Kasus tunggal Freud yang berhubungan dengan anak hanyalah Little Hans. Ia

adalah anak laki-laki yang menjadi pasiennya hanya dalam sekali pertemuan. Melanie
Klein mengubah situasi tersebut dengan melakukan psikoanalisis langsung pada anak.
Tetapi yang dilakukannya pada anak yang sangat muda,termasuk anaknya sendiri,
menyakikannya bahwa anak-anak menyimpan perasaan positif dan negatif terhadap
ibunya. Mereka juga mengembangkan superego lebih awal daripada yang diyakini oleh
Freud.
Pandangan yang berbeda dari standar teori psikoanalisis ini menyebabkan
munculnya banyak kritik dari koleganya di Berlin sehingga membuatnya tidak merasa
nyaman

lagi

tinggal

Jonesmengundangnya

dikota
ke

tersebut.kemudian

London

untuk

pada

menganalisis

tahun

1926,

Ernest

anak-anaknya

dan

menyampaikanserangkaian kuliah mengenai analisis anak. Serangkaian kuliah tersebut


kemudian

menghasilkan

buku

pertamanya

The

Psycho-Analysis

of

Children

(Klein,1932).
Pada tahun 1927, ia memutuskan pindah ke Inggris dan menetap disana sampai ia
meninggal pada tanggal 22 September 1960. Pada hari pemakaman Klein (Melitta)
melakukan

penghinaan

terhadapnya

dengan

memberikan

ceramah

profesional

menggunakan sepatu bot merah sehingga mengejutkan para pengunjung yang hadir
disana (Grosskurth,1986).
Selama tinggal di London,kehidupan Klein ditandai dengan perbedaan dan
kontrovensi. Meskipun ia tetap menyebut dirinya sebagai Freudian, namun Freud dan
anaknya (anna) tidak menerima konsepnya yang menekankan pentingnya masa kanakkanak awal dalam teknik analisis yang dilakukan pada anak-anak. Perseteruannya
dengan Anna Freud dimulai ketika keluarga Freud masih tinggal di Wina,dan semakin
memuncak ketika Anna berserta ayah dan ibunya pindah ke London pada tahun 1938.
Sebelum kepindahan Anna Freud ke London,sekolah psikoanalisis di Inggris sudah
menjadi sekolah Kleinian dan Klein berseteru terbatas hanya pada orang-orang yang
memiliki hubungan dengan anaknya (Melitta). Perseteruan-perseteruan Klein ini
biasanya sangat keras dan personal.
Pada tahun 1934, putra Klein yang kedua (Hans) meninggal karena jatuh. Melitta,
yang baru saja pindah ke London dengan suaminya yang juga seorang psikoanalis,
Walter Schmideberg, menyakini bahwa adiknya meninggal karena bunuh diri dan ia
menyalahkan ibunya atas kematian adiknya. Pada tahun yang sama , Melitta memulai
analisis dengan Edward Glover, salah satu saingan Klein dalam British Society. Hal ini
membuat hubungan Klein dan putrinya semakin memburuk, baik secara personal

maupun prefesional. Bahkan , Melitta terus menyimpan rasa permusuhannya sehingga


setelah kematian ibunya.
Meskipun Melitta Schmideberg bukan pendukung Anna Freud, namun
permusuhan Melitta dengan Klein ini memperuncing perseteruan Klein dengan Anna
Freud, yang tidk pernah mengakui kemungkinan untuk menganalisis anak-anak
(King&Steriner, 1991;Mitchel&Black, 1995). Perseteruan antara Klein dan Anna Freud
tidak pernah mereda, dan masing-masing menetapkan dirinya lebih Freudian dari pada
yang lain (Hughes, 1989). Akhirnya pada tahun 1946, British Society menerima tiga
prosedur pengajaran, yaitu pengajaran tradisional dari Melanie Klein, pengajaran yang
didukung oleh Anna Freud, dan kelompok tengah yaitu pengajaran dengan pendekatan
lebih bebas yang tidak menerima kedua teknik pengajaran tersebut. Dengan demikian,
British Society tidak pecah, meskipun dengan pencapaian kesepakatan yang tidak
mudah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Teori Relasi Objek
Klein menekankan pentingnya empat sampai enam bulan setelah kelahiran. Ia juga
menekankan bahwa dorongan-dorongan pada bayi (lapar, seks, dan lainnya) dilandasi
oleh sebuah objek, yaitu payudara, penis, vagina, dan seterusnya. Menurut Klein,

hubungan anak dengan payudara merupakan dasar dari sebuah hubungan dan berperan
sebagai prototipe dari hubungan selanjutnya, seperti ibu dan ayah. Kecenderungan awal
seorang bayi untuk menghubungkan bagian-bagian dari suatu objek membuatnya
mengalami suatu kondisi tidak realistis atau serupa dengan khayalan yang memengaruhi
hubungan interpersonalnya di kemudian hari.
Selain teori Klein, ada beberapa teori lain yang juga berpendapat mengenai
pentingnya pengalaman awal seorang anak dengan ibunya.Margaret Mahler percaya
bahwa penginderaan pembentukan identitas seorang anak bergantung pada tiga tahap
hubungan dengan ibunya. Pertama, bayi memiliki kebutuhan dasar untuk disayangi dan
diasuh oleh ibunya; kemudian, mereka mengembangkan hubungan simbiotik yang aman;
dan akhirnya, mereka keluar dari lingkaran perpektif ibunya dan membangun identitas
individualis mereka. Heinz Kohut berteori bahwa anak mengembangkan pengindraan diri
selama periode awal kehidupan bayi. Hal ini terjadi ketika orang tua dan yang lainnya
memperlakukan mereka layaknya bayi yang bisa mengenali identitas diri mereka sendiri.
John Bowlby menyelidiki kedekatan bayi dengan ibunya. Mary Ainsworth dan
partnernya mengembangkan teknik untuk mengukur tipe gaya kedekatan yang
dikembangkan seorang bayi terhadap orang yang mengasuhnya
B. Konsep Kesehatan Mental

The play Technique/Teknik Bermain


Setelah Perang Dunia I, Klein mengembangkan teknik terapi bermain, yang sekarang
digunakan di seluruh dunia. Sebagai pengganti asosiasi bebas Freud, Klein
mengembangkan teknik terapi bermain untuk mengungkap motivasi bawah sadar anakanak. Dia percaya bahwa anak-anak, melalui penggunaan permainan dan gambar,
diproyeksikan perasaan mereka dalam sesi terapi. Dia menunjukkan bahwa cara anakanak bermain dengan mainan, dapat mengungkapkan fantasi kekanak-kanakan dan
kecemasan. Kehidupan sadar anak-anak dapat dipahami oleh analis melalui non-verbal
perilaku mereka. Dalam Psikoanalisis Anak, dia menunjukkan bagaimana kecemasan
mempengaruhi ego seorang anak berkembang, superego, dan seksualitas untuk
membawa gangguan emosional.

Melalui metodenya, dia berusaha untuk meringankan rasa bersalah pada anak, dengan
meminta mereka langsung menuju terapis sehingga terapis dapat mengetahui perasaan
agresif dan oedipal mereka yang tidak dapat mereka sampaikan kepada orangtuanya.
Dalam hal ini, Melanie mengalami perselisihan besar dengan Anna Freud, putri Sigmund
Freud, yang merasa bahwa anak-anak tidak dapat dianalisa (Grosskurth, 1986).

Paranoid Schizoid Position/Posisi Paranoid Schizoid


Klein juga menulis tentang penggunaan identifikasi proyektif. Dalam identifikasi
proyektif itu bukan hanya dorongan saja, tapi bagian dari diri dan produk tubuh yang
dalam fantasi diproyeksikan ke objek (Segal, 1980). Ketika rasa sakit datang, maka salah
satu akan menempatkan rasa sakit pada orang lain. Kemudian yang lain adalah
penganiaya (Grosskurth, 1986).

Depressive Position/Posisi Depresif


Sebuah keadaan yang lebih berkembang adalah Posisi Depressive Klein. Menurut Klein,
orang akan menyadari bahwa seorang ibu yang membenci merupakan ibu yang juga
mencintai. Posisi depresi terjadi ketika salah seorang ibu sebagai objek menjadi ibu
secara keseluruhan. Teori Klein juga terkait dengan ambivalensi, seseorang dapat
mencintai dan juga membenci ibu atau orang lain namun masih tetap dapat memiliki
hubungan (Grosskurth, 1986).

Obyek Hubungan/Object Relation


Klein, bersama dengan Sigmund Freud dan W.R.D. Fairbairn, menyumbangkan ide
untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai hubungan-hubungan objek.
Pertama Freud memperkenalkan gagasan pilihan objek, yang disebut hubungan anak
dengan pengasuhan awal nya. Selanjutnya Melanie Klein menciptakan istilah objek
bagian, misalnya payudara ibu, yang memainkan peran penting dalam pengembangan
awal dan yang nantinya dapat menjadi sebuah gangguan psikis, seperti keasikan
berlebihan dengan bagian tubuh tertentu atau aspek dari seseorang yang bertentangan

dengan seluruh orang. Akhirnya, Fairbairn dan lain-lain mengembangkan apa yang
disebut objek teori hubungan.

Menurutnya, anak yang tidak menerima hubungan cukup baik dengan ibu, akan semakin
mundur ke dalam dunia batin objek fantasi dengan siapa ia mencoba untuk memuaskan
kebutuhannya, sebagai hubungan dekat (Segal, 1980).
Teori obyek hubungan Melanie Klein, berbeda dari teori Freudian dalam setidaknya ada
tiga cara:
(1) Lebih menekankan pada hubungan interpersonal,
(2) Menekankan hubungan bayi dengan ibu ketimbang ayah, dan
(3) Serta menunjukkan bahwa orang yang termotivasi terutama untuk kontak manusia
bukan untuk kenikmatan seksual.

Istilah Obyek di dalam teori hubungan objek mengacu pada setiap orang atau bagian dari
seseorang bahwa bayi introject, atau mengambil ke dalam struktur psikis mereka dan
kemudian proyek ke orang lain.

Sexuality
Menurut Klein, baik kreativitas artistik dan kesenangan tubuh adalah arena di mana
perjuangan manusia tengah antara cinta, benci, dan kompensasi dimainkan. Pria dan
wanita dipandang sangat prihatin tentang keseimbangan antara kemampuan mereka
sendiri di dalam cinta dan benci, tentang kapasitas mereka untuk menjaga kehidupan
mereka, baik hubungan mereka dengan orang lain sebagai objek yang nyata dan objek
internal mereka, kebaikan hati mereka dan vitalitas (kemampuan untuk bertahan hidup).
Klein melihat hubungan seksual sebagai arena yang sangat dramatis di mana dampak
baik seseorang dan kualitas esensi berada di jalurnya tersendiri.

Kemampuan untuk membangkitkan dan memenuhi kapasitas sendiri diwakili


kompensasi, untuk memberikan kenikmatan dan kesenangan bahwa cinta seseorang lebih
kuat daripada kebencian seseorang.

Envy/Iri
Pemahaman Klein iri, dipahami dengan membandingkan keserakahan. Mereka merasa
tergantung pada payudara untuk makanan, keamanan, dan kesenangan.

Introyeksi
Introyeksi menurut Klein adalah hayalan yang diperoleh bayi mengenai persepsi dan
pengalaman mereka dengan object eksternal, yang asalnya dari payudara ibu. Introyeksi
dimulai pertama kali pada saat bayi mulai menyusui. Ketika dilakukannya usah untuk
memasukkan puting ibu ke dalam mulut bayi. Biasanya, bayi mencoba untuk
mengintroyeksi objek-objek bayi dan menyambut puting ibunya itu sebagai objek yang
dapat melindunginya dari rasa cemas. Namun, bayi juga mengintroyeksikan objek-objek
buruk, seperti "payudara buruk" dan "penis buruk", untuk mengambil kendali dari objekobjek tersebut.
Objek yang di introyeksi bukan representasi akurat dari objek nyata, tapi diwarnai
dengan hayalan anak-anak. Contoh, bayi berhayal ibunya selalu ada bersamanya,
sehingga sang bayi merasa ibunya selalu berada di dalam badannya, namun pada
kenyataannya ibunya tidak selalu ada di sampingnya, tetapi sang bayi tidak ingin
menghilangkan khayalannya, sehingga sosok ibunya selalu menjadi objek internal.

The Melanie klein Trust


Didirikan pada pertama Februari 1955 untuk mempromosikan pelatihan dan penelitian
dalam teori psikoanalitik. Teknik diadaptasi, dipraktekkan, serta dikembangkan oleh
Melanie Klein. Melanie juga menerbitkan buku, artikel, dan makalah yang berkontribusi
untuk mempromosikan kerja klinis dan pengembangan lebih lanjut dari teori dengan
teknik yang berdasarkan pada setiap bagian di dunia.

C. Teori Relasi Objek

Teori relasi objek merupakan bagian dari teori freud mengenai teori insting, tetapi
penyebabnya berbeda setidaknya dalam tiga hal. Pertama, teori relasi objek tidak terlalu
menekankan dorongan dorongan biologis dan lebih menekankan pada pentingnya pola
yang konsisten dalam hubungan interpersonal. Kedua, kebalikan dari teori freud yang
bersifat paternalistis dan menekan pada kekuatan dan kontrol ayah, teori relasi objek
cenderung lebih maternal dengan menekankan ke intiman dan pengasuhan ibu. Ketiga,
teori relasi objek umumnya lebih memandang kontak dan hubungan sebagai motif utama
tingkah laku manusia bukan kesenangan seksual.
Secara lebih spesifik dijabarkan bahwa teori mengandung banyak makna sesuai
dengan jumlahnya. Sebagai gambaran, mahler menganggap penting kemampuan
mempertahankan diri pada bayi untuk mencapai otonomi dan indra mengenai diri sendiri.
Kohud lebih menekankan pada pembentukan diri sendiri, sedangkan bowlby
menekankan tahapan pemisahan kecemasan dan aisworth lebih kepada daya
kedekatan.
Jika klein disebut sebagai ibu dari teori relasi objek, maka freud adalah ayahnya.
Tujuan dan objek berdampak pada faktor psikologis walaupun kelihatanya tiap dorongan
yang berbeda mempunyai tujuan masing masing, namun tujuan dasar keduanya selalu
sama yaitu untuk mengurangi ketegangan dengan mencapai kesenangan, dalam istilah
freudian, manusia adalah objek suatu dorongan, bagian dari seseorang atau sesuatu yang
dapat membuat tercapainya suatu tujuan. Klein dan teori relasi objek lainya memulai dari
asumsi dasar yang di kemukakan freud tersebut.kemudian mereka berspekulasi mengenai
bagaiman kenyataan atau khayalan seorang bayi di awal hubungan dengan ibunya atau
dengan payudara ibunya. Juga bagaimana keduanya menjadi model dari hubungan
interpersonalnya dimasa datang.
Meskipun klein terus menyebut dirinya sebagai freudian, namun ia melanjutkan
teori psikoanalisnya di luar batasan yang telah di tetapkan oleh freud. Dilain pihak, freud
sendiri cenderung mengabaikan klein.
Dalam kehidupan psikis bayi klein lebih menekankan pada pentingnya 4 sampai
6 bulan pertama. Baginya seorang bayi tidak memulai hidupnya sebagai individu yang
kosong. Bayi membawa predisposisi untuk mengurangi pengalaman kecemasan yang
dihasilkan oleh dorongan insting hidup dan insting mati. Kesiapan bayi untuk bertindak

atau bereaksi seperti yang diharapkan secra filogenetis merupak faktor bawaan, sebuah
konsep yang juga disetujui oleh freud.
a. Fantasi
Fantasi atau khayalan hidup yang aktif dimiliki oleh seorang bayi sejak ia lahir.
Fantasi ini merupakan representasi psikis dari ketidak sadaran insting id yang tidak bisa
dicampur adukan dengan fantasi kesadaran yang dimiliki oleh anak anak dan dewasa.
Ketika klein (1932) menulis mengenai dinamika kehidupan fantasi pada bayi, ia tidak
mengatakan bahwa bayi yang baru kahir bisa merangkum pemikiranya melalui kata kata.
Maksudnya adalah bahkan sejak masih sangat kecil, bayi memiliki gambaran ketidak
sadaran dari baik dan buruk. Contohnya perut penuh adalah baik; perut kosong tidak
baik. Selanjutnya, klein mengemukakan bahwa bayi yan tertidur saat sedang mengisap
jarinya sedang berfantasi bhwa ia mengisap punting payudara ibunya yang baik.
Seiring dengan berkembangnya sang bayi fantasi ketidaksadaran yang muncul
belakangn ini di bentuk melalui kenyataan yang dialami dan predisposisi bawaan. Salah
satu daripreposisi adalah qedifus complex atau keinginan anak untuk menghancurkan
salah satu orang tuanya dan untuk terlibat secara seksual dengan orang tuanya.
b. Objek
Manusia mempunyai dorongan bawaan atau insting, termasuk insting kematian.
Dorongan-dorongan tersebut berupa objek dan objek-objek tersebut adalah dorongan
lapar untuk mendapatkan payudara baik, dorongan berhubungan badan dan memiliki
organ seksual, juga lainnya. Klein (1948) yakin bahwa pada sejak masa bayi awal, anak
sudah berkaitan dengan objek-objek eksternal ini, dan kemudian mulai berminat pada
wajah dan tangan yang dapat memenuhi kebutuhan untuk mereka. Dalam khayalan
aktifnya bayi mengintroyeksi atau mencapai struktur psikis pada objek-objek eksternal,
termasuk penis ayahnya, tangan dan wajah ibunya, serta bagian tubuh lainnya.

Aplikasi Teori Relasi Objek


1.

Posisi-posisi
Klein memilih istilah posisi daripada tahapan perkembangan untuk

mengindikasikan bahwa posisi dapat maju dan mundur. Posisi bukanlah merupakan

periode perkembangan dalam rentan waktu tertentu dalam pase kehidupan manusia.
Meskipun ia menggunakan label-label psikiatris atau patologis klein bertujuan
menempatkan posisi untuk mewakili pertumbuhan dan perkembangan normal. Dua
posisi yang dikemukakannya adalah posisi paranoid-schizoid dan posisi depresif.
a.

Posisi paranoid-schizoid
Menurut klein bayi mengembangkan posisi paranois-schizoid ketika berusia 3-4

bulan. Pada saat ini, egonya mempersepsi dunia eksternal sebagai dunia yang subjektif
dan fantastis, bukan objektif dan nyata. Pada awal kehidupannya, bayi melakukan kontak
dengan payudara ibu, yang dipersepsi sebagai payudara baik dan buruk. Pengalaman
kontak ini memberikan pilihan antara keberhasilan atau kegagalan.
Klein menyatakan bahwa bayi memiliki keinginan menguasai payudara dan
dorongan

untuk

menghancurkan

payudara.

Kedua

keinginan

berlawanan

ini

termanifestasi dalam dua hal. Di satu sisi, keinginan menghancurkan termanifestasikan


saat bayi menggigit, mengoyak, atau merobek payudara. Di sisi lain, keinginan
menguasai termanifestasikan dalam tetap meyakini perasaannya bahwa ibu dan
payudaranya adalah hal yang baik.
Kondisi ambivalensi ini disebut posisi paranoid-schizoid. Klein mengatakan
bahwa bayi mengembangkan posisi paranoid-schizoid ini pada usia tiga sampai empat
bulan. Pada masa ini dimana bayi memilah objek-objek di dunia sebagai sesuatu yang
baik dan buruk, hal ini akan menjadi prototipe ketika bayi menilai orang lain pada masa
selanjutnya. Sehingga kondisi ambivalensi tersebut akan tetap ada pada dirinya. Posisi
paranoid-schizoid ini setara dengan kasus nyata transferens dari seorang klien kepada
terapisnya.
Di satu sisi, klien merasa mencintai analisnya, namun di sisi lain, klien sangat
membencinya. Dalam kehidupan nyata, bahkan yang terjadi pada orang dewasa,
terjadinya ambivalensi adalah sangat wajar. Ambivalensi itu wajar hanya jika terjadi
secara sadar. Sedangkan ambivalensi yang terjadi dalam posisi ini adalah ambivalensi
yang tidak disadari.
Perasaan ambivalen ini tentunya tidak terbatas hanya pada situasi terapi.
Kebanyakan manusia memiliki perasaan positif dan negative terhadap kekasihnya.
Meskipun demikian,perasaan ambivalen yang disadari bukan merupakan esensi dari
posisi paranoid-schizoid. Orang dewasa mengadopsi posisi paranoid-schizoid dengan
cara yang primitive dan mengandalkan ketaksadarannya. Seperti yang ditegaskan Ogden,
mereka mungkin menjadikan diri mereka sebagai objek yang pasif ketimbang sebagai

subjek aktif. Mereka cenderung berkata,ia adalah orang yang berbahaya ketimbang
mengatakansaya merasa bahwa ia berbahaya bagi saya. Orang lain bisa
memproyeksikan perasaan paranoid yang tak disadari terhadap orang lain,yang kemudian
melihat orang tersebut sebagai orang yang sempurna sementara memandang dirinya
kosong dan tidak bermakna.
Ciri-Ciri Diagnostic Dari Kepribadian Paranoid

Kecurigaan dan ketidakpercayaan yang pervasive terhadap orang lain

Curiga bahwa orang lain sedang mengeksploitasi, mencalakai dan menipunya

Preokupasi dengan keragu-raguan yang tidak beralasan terhadap loyalitasteman

atau teman-teman sejawatnya

Kecenderungan untuk membaca adanya maksud merendahkan atau mengancam

yang tersembunyi di balik ucapan manis seseorang

Menyimpan dendam atas penghinaan, cedera dan kebohongan yang pernah

diterimanya

Mempersepsi adanya serangan terhadap karakter atau reputasinya bagi orang lain

sama sekali tidak ada

Kecurigaan tanpa alasan yang berulang kali muncul bahwa suami/istri atau mitra

seksualnya telah berselingkuh

Tidak muncul secara eksklusif dengan skizofrenia, gangguan suasana perasaan

dengan fitur fitur psikotik, atau gangguan psikotik lainnya.


Cirri-Ciri Diagnostic Gangguan Kepribadian Schizoid

Menggambarkan orang yang memiliki sedikit minat, bila ada, dalam hubungan

sosial, menunjukkai dan ekspresi emosi yang terbatas, serta tampak jauh dan menjaga
jarak

Pola pelepasan diri dari hubungan sosial dan ragam ekspresi emosi terbatas, yang

dimulai pada masa dewasa awal

Kurangnya keinginan untuk menikmati hubungan dekat

Hamper selalu memilih aktivitas-aktivitas soliter

Kurang memiliki sahabat atau teman karib di luar anggota keluarga batihnya

Tampak tidak peduli terhadap pujian maupun kritik dari orang lain

Menunjukkan sikap dingin atau lepas secara emosional

Tidak muncul secara eksklusif dengan skizhofrenia atau gangguan-gangguan

lainnya
b.

Posisi depresif
Saat usia lima atau enam bulan bayi mulai dapat melihat objek eksternal secara

utuh dan melihat terdapat kebaikan sekaligus keburukan pada seseorang. Oleh karena itu,
pada saat ini, bayi dapat mengembangkan gambaran yang realistis sebagai individu yang
bebas dan juga dapat melakukan kebaikan sekaligus keburukan dalam dirinya. Selain itu,
ego nya sudah matang. Hal ini ditunjukkan pada saat bayi mulai dapat menerima
perasaan-perasaannya yang buruk, daripada memproyeksikannya.
Pada masa ini, bayi sudah mulai menyadari bahwa ibunya dapat pergi jauh dan
hilang selamanya, sehingga ia merasa takut kehilangan dan berusaha melindungi ibunya
dari segala hal yang membahayakan ibunya tersebut. Namun, di sisi lain, bayi sadar
bahwa ia tidak dapat melindungi ibunya, sehingga hal ini membuatnya merasa bersalah.
Kondisi dimana bayi kehilangan objek yang dicintai, ditambah dengan perasaan bersalah
karena tidak dapat melindungi ibu, ini yang disebut dengan posisi depresif. Kondisi ini
akan menjadi faktor yang menguntungkan bagi bayi dalam menjalin hubungan
interpersonalnya di masa yang akan datang.
Posisi depresif ini akan hilang, jika kelak bayi dapat membuat khayalan untuk
memperbaiki keadaan, dan meyakini bahwa ibu tidak akan hilang selamanya, melainkan
akan kembali setiap kali ibu pergi. Hilangnya posisi depresif ini akan menghilangkan
pandangan bayi bahwa ada ibu baik dan ada ibu buruk. Hal itu tidak berlaku lagi pada
bayi. Ketika posisi itu sudah dilewati, bayi tidak hanya akan mampu menerima kasih
sayang dari ibunya, tetapi juga dapat menunjukkan kasih sayang kepada ibunya.
2.

Mekanisme Pertahanan Psikis


Klein mengemukakan bahwa sejak awal masa bayinya anak dapat mengadopsi

beberapa mekanisme pertahanan psikis untuk melindungi perasaan yang berasal dari
kecemasan sadistis oral mengenai payudara-payudara sebagai objek yang menyenangkan
dan sangat membantunya di sisi yang lain. Untuk mengontrol kecemasan ini, bayi
menggunakan beberapa mekanisme pertahanan diri, seperti :
Introyeksi
Introyeksi adalah khayalan yang diperoleh bayi mengenai persepsi dan
pengalaman mereka dengan objek eksternal yang asalnya dari payudara ibu. Introyeksi
dimulai ketika pertama kali bayi disusui, dimana puting ibu berusaha dimasukkan ke

dalam mulut bayi. Bayi yang mampu melakukan introyeksi objek baik, akan menyambut
puting ibu sebagai objek yang dapat melindunginya, memberinya kehangatan, dan kasih
sayang. Bayi yang melakukan introyeksi objek buruk akan menolak puting ibu, karena
menganggap itu berbahaya. Jika hal ini terjadi, maka payudara akan dianggap sebagai
sesuatu yang membahayakan, mengancam, atau menakutkan bayi.

Proyeksi
Proyeksi merupakan khayalan atau dorongan yang dirasakan oleh bayi dan
kemudian dipindahkan pada orang lain. Misalnya, anak laki-laki memiliki keinginan
untuk mengebiri ayahnya. Namun karena hal ini dirasa tidak pantas, maka anak tersebut
menyalahkan ayahnya dengan mengatakan bahwa ayah ingin mengebiri dirinya sendiri.
Atau, seorang anak perempuan yang ingin menguasai ibunya, namun anak ini berkhayal
bahwa ibu akan menyiksa dirinya.
Pemisahan
Pemisahan merupakan usaha bayi dalam mengembangkan gambaran yang
terpisah antara dirinya yang baik dan dirinya yang buruk. Hal ini dapat terjadi ketika bayi
sudah mampu memisahkan impuls-impuls yang tidak sesuai. Pemisahan ini dapat
berakibat positif maupun negatif bagi anak ketika mereka dewasa kelak. Jika pemisahan
ini dilakukan dengan tidak ekstrem dan tidak kaku, maka dampaknya positif, yaitu
membantu anak melihat sisi positif dan negatif dalam kepribadiannya sendiri, serta dapat
membedakan mana kepribadian yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai.
Sebaliknya, jika pemisahan dilakukan secara berlebihan dan tidak luwes, maka
akan menyebabkan represi patologis. Misalnya, jika anak yang memiliki ego sangat
kaku, tidak mampu memisahkan sisi baik dan buruk dalam dirinya, maka anak tidak akan
pernah mampu menerima dan mengakui sisi negatif atau perilaku buruknya. Perilaku
buruk akan ditekan, sehingga kelak akan menjadi sesuatu hal yang patologis.
Identifikasi proyektif
yaitu usaha memisahkan bagian dari diri mereka yang tidak dapat diterimanya.
Hasil pemisahan ini kemudian diproyeksikan menjadi objek lain, dan diintroyeksikan ke
dalam diri mereka dalam bentuk yang berbeda. Misalnya, bayi ingin memukul payudara
ibu, kemudian memproyeksikan bahwa payudara itu membuatnya takut. Selanjutnya, ia
mengatakan bahwa payudara itu menyenangkan untuknya. Usaha ini membuat mereka

mampu memiliki kendali bahwa payudara itu objek yang menakutkan, namun juga
menyenangkan.
Usaha ini memiliki pengaruh yang kuat pada hubungan interpersonal bayi ketika
ia dewasa kelak. Misalnya, suami memiliki kecenderungan untuk mendominasi orang
lain. Ia tidak menyukai kecenderungan ini, sehingga ia proyeksikan ke istrinya. Ia
berpikir bahwa istrinya adalah orang yang suka mendominasi orang lain. Selanjutnya,
suami membuat istri mendominasi, dengan cara berperilaku submisif pada istri, agar istri
menunjukkan kecenderungan mendominasi.
3.

Internalisasi
Internalisasi merupakan usaha orang untuk melakukan introyeksi, yaitu memasukkan

aspek eksternal, dan mengolah menjadi sesuatu yang bermakna psikologis. Teori
Kleinian menyebutkan tiga internalisasi yang penting, yaitu :
1. Ego
Klein meyakini bahwa ego sudah matang pada tahap lebih awal daripada yang
diyakini Freud. Freud menduga ego sudah ada pada saat bayi lahir, namun ia tidak
menghubungkan fungsi psikis tersebut hingga usia tiga atau empat tahun. Freud
meyakini, anak kecil didominasi id, sedangkan Klein mengabaikan id, dan mendasarkan
teorinya pada ego sejak awal kelahiran.
Klein yakin bahwa walaupun ego belum berkembang dengan baik, namun mampu
merasakan kecemasan, mampu menggunakan mekanisme pertahanan, dan mampu
membentuk objek relasi awal pada khayalan dan kenyataan. Ego mulai muncul ketika
menyusu pada ibunya. Pada saat ini ego mengetahui apakah ia mendapatkan kasih
sayang dan cinta atau tidak mendapatkannya. Gambaran ini menjadi titik utama
pembentukkan ego selanjutnya. Payudara menjadi relasi objek yang pertama bagi bayi,
dan selanjutnya menjadi prototipe untuk perkembangan ego dan hubungan interpersonal
di kemudian hari.
Namun demikian,sebelum bergabung ego harus berpindah terlebih dulu. Klein
berasumsi bahwa secara bawaan,bayi tidak hanya didorong untuk berintegrasi, tetapi
juga dipaksa untuk menghadapi dorongan-dorongan hidup dan mati, seperti direfleksikan
dalam pengalaman mereka terhadap payudara baik dan payudara buruk.
2. Superego
Gambaran superego Klein berbeda dari Freud. Konsep superego yang dikemukakan
Freud terdiri dari dua subsistem, yaitu : (a) ego ideal yang menghasilkan perasaan
inferior ; (b) yang menghasilkan perasaan bersalah.

Sedangkan konsep superego yang dikemukakan Klein adalah : (a) superego


berkembang lebih awal dibanding asumsi Freud ; (b) pertumbuhan oedipus complex
yang tidak mencukupi ; (3) pandangan Klein mengatakan bahwa superego lebih keji dan
kasar. Artinya, Klein menyatakan bahwa pada masa dewasa, superego akan
menghasilkan perasaan inferior dan bersalah (sama dengan Freud). Namun, pada anakanak awal, superego akan menghasilkan perasaan terancam.
Klein menggambarkan superego anak usi lima tahun dengan cara yang sama seperti
yang digambarkan oleh Freud. Pada usia lima atau enam tahun,superego memunculkan
sedikit kecemasan dan rasa bersalah yang besar. Superego juga kehilangan sebagian
besar kekejamannya dan secara bertahap berubah menjadi kesadaran yang realistis.
Meskipun demikian,Klein menolak gagasan Freud yang menyatakan bahwa supergo
merupakan konsekuensi dari Oedipus complex. Klein malah menyatakan bahwa
superego berkembang sejalan dengan perkembangan Oedipus complex dan akhirnya
menyatu dalam perasaan bersalah yang realistis setelah Oedipus complex berkembang
sepenuhnya.
3. Oedipus Complex
Konsep Klein mengenai Oedipus complex adalah : (a) dimulai pada masa oral-anal,
dan mencapai puncaknya pada tahap genital. Freud mengatakan pada masa phalik atau
genital ; (b) Klein yakin bahwa bagian terpenting dari oedipus complex adalah bahwa
ketakutan anak akan ancaman orangtua karena anak berkhayal bahwa anak melukai
orangtuanya ; (c) Klein menekankan pentingnya anak menjaga perasaan positif terhadap
kedua orangtua selama tahun oedipal ; (4) Klein yakin bahwa oedipus complex
menyediakan kebutuhan yang sama terhadap anak laki-laki dan perempuan, yaitu
membangun sikap positif dengan objek yang menyenangkan dan menghindari objek
yang menakutkan.
Perkembangan Oedipal pada Perempuan yaitu terjadi pada fase feminimitas
Pada awal perkembangan Oedipal feminine, yaittu selama bulan pertama dalam
kehidupan, seorang anak perempuan melihat payudara ibunya sebagai objekbaik atau
buruk. Kemudian,sekitar usia enam bulan ia mulai melihat payudara lebih sebagai objek
yang positif daripada negative. Setelah itu, ia mulai melihat ibunya secara keseluruhan
sebagai objek yang penuh dengan kebaikan dan sikap ini membuatnya berimajinasi
mengenai bagaimana hadirnya seorang bayi. Ia juga berkhayal bahwa penis ayahnya
memberi ibunya berbagai hal, termasuk bayi-bayi. Oleh karena anak perempuan kecil ini
melihat penis ayahnya sebagai pemberi bayi, maka ia mengembangkan hubungan positif

terhadap penis ayahnya dan berkhayal bahwa ayahnya akan memenuhinya dengan bayibayi. Jika proses perkembangan Oedipus feminine ini berjalan dengan mulus, makan
anak perempuan akan menempatkan dirinya pada posisi feminine dan mengembangkan
hubungan positif dengan kedua orang tuanya.
Namun,dalam situasi yang tidak terlalu ideal,anak perempuan akan melihat
ibunya sebagai saingannya dan berkhayal untuk merebut penis ayahnya dari ibunya dan
mengambil bayi-bayi ibunya. Keinginannya ini menghasilkan paranoid bahwa ibunya
akan menyakitinya dengan cara melukai dan mengambil bayi-bayinya. Kecemasan yang
dimiliki oleh anak perempuan ini dating dari ketakutan di dalam dirinya yang merasa
dilukai oleh ibunya, suatu kcemasan yang hanya akan berkurang ketika ia kemudian
melahirkan seorang bayi yang sehat. Menurut Klein(1945), rasa iri akan penis(penis
envy) dating dari keinginan anakan perempuan untuk diinternalisasi oleh penis ayanya
dan untuk memperoleh bayi darinya. Khayalan ini menjadi penyebab semua hasrat akan
penis eksternal. Bertolak belakang drngan pandangan Freud, Klein tidak dapat
menemukan adanya bukti mengapa anak perempuan menyalahkan ibunya kerena
menghadirkannya di dunia tanpa penis. Sebaliknya, Klein memnadang anak perempuan
memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan ibunya selama periode Oedipal.
Perkembangan Oedipal pada Laki-laki yaitu terjadi saat fase maskulinitas
Seperti pada anak perempuan,anak laki-laki juga memandang payudara ibunya
sebagai objek baik dan buruk. Kemudian selama bulan-bulan pertama perkembangan
oedipal,anak laki-laki mengganti hasrat oralnya,yang semula pada payudara ibunya
diganti menjadi hasrat terhadap penis ayahnya. Ada masa ini,anak laki-laki sedang
berada pada posisi feminine dimana ia mengadopsi sikap homoseksual pasif terhadap
ayahnya. Kemudian ia bergerak menuju hubungan heteroseksual dengan ibunya. Oleh
karena persaan homoseksual terhadap ayahnya yang pernah dimilikinya, maka ia tidak
takut ayahnya akan mengebirinya. Klein percaya bahwa posisi homoseksual pasif ini
meruakan factor awal terbentuknya hubungan heteroseksual yang sehat dengan ibunya.
Sederhannya,seorang anak laki-laki harus memiliki perasaan yang baik terhadap penis
ayahnya terlebih dulu sebelum ia dapat menilai miliknya.
Klein merepresentasikan perubahan pemikiran yang penting dalam psikoanalitik.
Ketimbang hanya memfokuskan perhatian mereka terhadap dorongan biologis libidinal,
Klein dan para koleganya mulai serius memperhatikan kualitas hubungan antara
klien/pasien dan orang lain:

Dalam teori object relation, pikiran dan struktur psikis yang merupakan
pembandingnya berkembang lebih karena interaksi dengan orang lain ketimbang karena
ketegangan biologis. Ketimbang termotivasi oleh pengurangan ketegangan, seseorang
lebih termotivasi oleh kebutuhan untuk membangun dan membina hubungan. Dengan
kata lain, adalah kebutuhan akan interaksi dengan manusia lain yang membentuk motif
utama dalam perspektif object relation.
Para teoretikus object relation mengadopsi istilah object sebagai peringatan
bahwa kenyataannya hubungan seseorang yang penting secara emosional mungkin saja
dilakukan dengan orang lain sebagai seseorang yang utuh, dengan citra akan seseorang
yang terinternalisasikan atau terkenang yang merupakan bagian dari seseorang atau
dengan objek fisik.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya, seorang anak makin mampu
menerima bahwa kebaikan dan keburukan dapat berjalan bersama, dan karena itu mulai
membedakan kebaikan dan keburukan dalam berbagai tingkatan. Ketika perkembangan
ini tak berjalan memuaskan atau ketika ancaman eksternal membangkitkan kembali
perasaan tidak aman pada bulan awal kehidupan ini, maka seseorang akan tumbuh
dengan kecenderungan untuk merasakan dunia sebagai objek yang terpecah antara yang
baik dan yang buruk, atau menggunakan mekanisme pertahanan diri ini pada situasi
tertentu.

D. Psikoterapi
Klein menggunakan psikoanalisis terhadap anak-anak tetapi tidak di terima
dengan baik oleh analisis-analisi lain. Penolakan gagasan mengenai psikoanalisis
terhadap masa kanak-kanank ini terutama dilakukan oleh Anna Freud,yang mengatakan
bahwa terapis tidak dapat mengembangkan transferens pada anak kecil yang masih
sangat dekat dengan orang tuanya karena mereka tidak memiliki khayalan atau gambaran
yang tidak sadar. Oleh karena itu,ia mengklaim bahwa anak kecil tidak bisa memperoleh
keuntungan dari terapi psikoanalisis. Sebaliknya,Klein percaya bahwa,baik anak-anak
yang

mengalami

gangguan

akan

memperoleh

keuntungan

dari

penanganan

terapeutik,sementara anak-anak yang sehat akan memperoleh keuntungan dari penangan


prophylactic. Konsisten dengan keyakinannya,ia bersikeras melakukan analisis terhadap
anak-anaknya sendiri. Ia juga bersikeras bahwa keberhasilan psikoanalisis terhadap anak

ditentukan dengan adanya transferens negative,sebuah pandangan yang tidak disetujui


Anna Freud dan banyak psikonalis lainnya.
Untuk memunculkan tranferens negative fan khayalan agresif, klein menyediakan
mainan kecil,pensil dan kertas,cat,crayon,dan sebagainya uuntuk setiap anak.ia
mengganti pendekatan analisis mimpi dan asosiasi bebas dari Freud dengan terapi
bermain. Ia percaya bahwa anak kecil dapat mengekspresikan berbagai keinginan mereka
yang tidak sadar dan sadar melalui terapi bermain. Terapi bermain juga mendukung
adanya transferens negative,yaitu ketika pasien klein yang masih anak-anak
menyerangnya secara lisan. Hal ini memberinya peluang untuk menginterprestasikan
alasan-alasan tidak sadar di balik serangan-serangan tersebut.
Tujuan dari terapi klein adalah mengurangi perasaan kecemasan yang depresif
dan ketakutan yang mengancam dan untuk mengurangi kekerasaan objek yang
terintenalisasi. Untuk memenuhi tujuan tersebut,klein mendorong pasien-pasiennya
untuk mengalami kembali emosi dan khayalan awal,namun kali ini dengan bantuan
terapis. Tugas terapis adalah menunjukkan perbedaan antara kenyataan dan khayalan
serta antara tidak sadar dan yang sadar. Ia juga mengizinkan pasiennya untuk
mengekspresikan transferens positif dan negative. Situasi ini penting agar terbentuk
pemahaman pasien mengenai bagaimana khayalan tidak sadar berhubungan dengan
situasi-situasi sehari-hari. Begitu hubungan ini dibuat,pasien-pasien merasakan
berkurangnya

penderitaan

yang

diakibatkan

oleh

objek

yang

diinternalisasinya,berkurangnya kecemasan depresifnya, dan mampu memproyeksikan


ketakutan internal yang dialaminya pada dunia luar.
E. Kritik Terhadap Teori Relasi Objek
Pada saat ini , teori objek menjadi lebih populer di inggris dibanding di Amerika
Serikat. British School memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam psikoanalisis dan
psikiatris di inggris. Di Amerika, meskipun masih tetap berkembang,pengaruh dari teori
relasi objek tidak terlalu dirasakan secara langsung.
Teori relasi objek berkembang dari teori psikoanalisis orthodoks, maka sama
seperti teori freud, teori ini menghadapi permasalahan dalam hal ketidak mampuannya
untuk diulang atau di uji kebenarannya. kebanyakkan gagasan didasarkan pada apa yang
terjadi dalam diri psikis seorang bayi sehingga asumsi tersebut tidak dapat diulang untuk
disangkal atau dibenarkan. Teori ini tidak membiarkannya untuk di sangkal atau

dibenarkan karena teori ini hanya memunculkan sangat sedikit hipotesis yang bisa di uji.
Dilain pihak teori kedekatan dinilai tinggi dalam hal ketidak mampuannya untuk diulangi.
Kegunaan yang terpenting dari teori relasi objek adalah kemampuannya dalam
mengorganisasi atau mengelola informasi tentang perilaku bayi. Melebihi kebanyakan
pencetus lain, pencetus relasi objek berspekulasi terhadap bagaimana manusia secara
bertahap menjadi peka terhadap identitas mereka.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teori relasi objek memandang kepribadian manusia sebagai produk dari hubungan awal
antara ibu dan anaknya yang berusia empat hingga enam bulan pertama yang merupakan
masa paling kritis untuk perkembangan kepribadian. Klein percaya bahwa terdapat
representasi internal psikis yaitu merupakan bagian terpenting dalam objek signifikan awal,
seperti pada payudara ibu dan penis ayah. Menurut Klein, hubungan anak dengan payudara
merupakan dasar dari sebuah hubungan dan berperan sebagai prototipe dari hubungan
selanjutnya. Perkembangan ini mencoba mencari tahu bagaimana gambaran dan pola awal
hubungan diri sendiri dengan orang lain, yang dibangun pada masa kanak-kanak yang mana
bisa mempengaruhi konsep diri kita dan hubungan sosial melalui tantangan-tantangan hidup
dimasa selanjutnya.
Teori relasi objek merupakan bagian dari teori Freud mengenai teori insting, tetapi
penyebabnya berbeda. Teori relasi objek menekankan pada pentingnya pola yang konsisten
dalam hubungan interpersonal sedangkan teori Freud menekankan dorongan-dorongan
biologis, teori relasi objek bersifat maternal yang menekankan keintiman dan pengasuhan ibu
sedangkan teori Freud bersifat paternal dan menekankan pada kekuatan kontrol ayah, dan
yang terakhir teori relasi objek lebih memandang kontak dan hubungan sebagai motif utama

tingkah laku manusia sedangkan teori Freud lebih memandang kesenangan seksual sebagai
motif utama tingkah laku manusia.
Teori relasi objek telah mendorong munculnya banyak penelitian. Teori relasi objek
memiliki permasalahan dalam hal ketidakmampuannya untuk diulang atau diuji
kebenarannya, seperti halnya teori Freud (teori psikoanalisis ortodoks). Kebanyakan gagasan
didasarkan pada apa yang terjadi dalam diri psikis seorang bayi sehingga asumsi tersebut
tidak dapat diulang untuk disangkal atau dibenarkan. Teori ini hanya memunculkan sedikit
hipotesis yang diuji. Di lain pihak, teori kedekatan dinilai tinggi dalam hal
ketidakmampuannya untuk diulangi. Kegunaan yang paling penting dari teori relasi objek
adalah kemampuannya dalam mengorganisasi atau mengelola informasi tentang perilaku
bayi. Di luar masa kanak-kanak teori relasi objek kurang bermanfaat sebagai pengorganisasi
pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi.
Semarang : IKIP Semarang Press
Georgy, Feist J. 2013. Teori Kepribadian. Jakarta : Salemba Humanika
Hjelle, Larry A. & Daniel J. Ziegler. 1976. Personality Theories Basic Assumptions
Research, and Aplications. USA : Kingsport Press