Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH BIOLOGI LAUT

THALLOPHYTA
(ALGAE)
Dosen Pengampu:
Bony Irawan, M.Pd

Oleh:
1. Romy

140384205042

2. Sendari

1403842050

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga alhamdulillah kami berhasil
menyelesaikan makalah yang berjudul Thallophyta ini pada waktunya.
Selesainya penyusunan ini berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini kami sampaikan terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1.

Bapak Bony Irawan selaku dosen pengampu mata kuliah Biologi Laut
yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan
bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan
makalah ini.

2.

Rekan-rekan semua di kelas Biologi 03 .

3.

Secara khusus kami menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta


yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar
kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,

kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat kami harapkan. Kami berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin.
Tanjungpinang, 8 Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................5
1.1

Latar Belakang..........................................................................................5

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................6


1.3 Tujuan Masalah..............................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................7
2.1 Keragaman Thallophyta.................................................................................7
2.2 Ganggang atau Algae.....................................................................................7
2.3 Klasifikasi Alga..............................................................................................8
2.4 Kelompok-Kelompok Alga............................................................................9
2.4.1 Alga Cokelat (Phaeophyta).....................................................................9
2.4.2 Alga Merah (Rhodophyta).....................................................................11
2.4.3 Alga Keemasan (Chrysophyta).............................................................12
2.4.4 Diatom (Bacillariophyta)......................................................................13
2.4.5 Alga Hijau (Chlorophyta).....................................................................14
2.5 Suksesi Algae...............................................................................................16
2.6 Ekosistem Algae...........................................................................................18
BAB III PENUTUP...............................................................................................19
3.1 Kesimpulan..................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................21

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang cukup banyak, baik flora
maupun fauna. Beragamnya mahkluk hidup yang ada di bumi ini yang
ditunjukkan dengan adanya variasi bentuk, penampilan serta ciri-ciri yang lainnya,
maka mendorong diperlukannya suatu cara untuk mengelompokkan mahkluk
hidup agar mudah dipelajari dan dipahami. Proses pengelompokan tumbuhan
dalam tingkat-tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai dan secara ideal dinamakan
klasifikasi. Berdasarkan alat perkembangbiakannya, kingdom plantae digolongkan
menjadi dua yaitu :
1. Kormophyta berbiji (Spermatophyta)
2. Kormophyta berspora (Cryptogamae)
Tumbuhan tingkat rendah dikelompokkan menjadi beberapa Divisi, yaitu :
1. Divisi Schizophyta (tumbuhan belah),
2. Thallophyta (tumbuhan talus),
3. Bryophyta (tumbuhan lumut),
4. Pteridophyta (tumbuhan paku).
Setiap divisi terbagi beberapa anak divisi, kelas, bangsa, famili dan spesies.
Pada kali ini kita akan membahas salah satu saja dari kelompok tumbuhan
tingkat rendah yakni Thallophyta. Thallophyta adalah tumbuhan yang belum
memiliki daun, akar dan batang yang jelas dan thallophyta merupakan tumbuhan
yang berthalus termasuk diantaranya adalah golongan jamur /fungi, bakteri dan
ganggang / alga. Yang termasuk golongan Thallophyta adalah ganggang (alga),
jamur (fungi), dan lumut kerak (lichenes). Alga merupakan kelompok organisme
yang bervariasi baik bentuk, ukuran, maupun komposisi senyawa kimianya. Alga
4

ini tidak memiliki akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus.
Alga bereproduksi denganaseksual dan

seksual. Alga adayang

hidup secara

soliter dan berkoloni. Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang


membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler
(bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal
cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya. Lichenes
(lumut

kerak) merupakan gabungan antara fungi dan alga sehingga secara

morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan. Lumut ini hidup secara epifit
pada pohon-pohonan, di atas tanah terutama di daerah sekitar kutub utara, di atas
batu cadas, di tepi pantai atau gunung-gunung yang tinggi. Perkembangbiakan
lichenes melalui tiga cara, yaitu : Secara Vegetatif, Aseksual,dan Seksual
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka
dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa saja keragaman pada Thallophyta kkususnya pada algae?
2. Bagaimakah Suksesi Pada Thallophyta?
3. Bagaimanakah Ekosistem Pada Thallophyta?
1.3 Tujuan Masalah
Adapun tujuan yang akan dicapai adalah :
1. Mahasiswa dapat megetahui keragaman Thallophyta kkususnya pada algae
2. Mahasiswa dapat mengetahui suksesi pada Thallophyta
3. Mahasiswa dapat mengetahui ekosistem pada Thallophyta.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Keragaman Thallophyta
Thallophyta merupakan tumbuhan-tumbuhan yang memiliki ciri utama
tubuh yang berbentuk talus. Tumbuhan talus merupakan tumbuhan yang struktur
tubuhnya masih belum bisa dibedakan antara akar, batang dan daun. Sedangkan
tumbuhan yang sudah dapat dibedakan antara akar, batang dan daun disebut
dengan tumbuhan kormus. Ciri laen dari tumbuhan talus ini adalah tersusun oleh
satu sel yang berbentuk bulat hingga banyak sel yang kadang-kadang mirip
dengan

tumbuhan

tingkat

tinggi

(sudah

mengalami

diferensiasi).

Perkembangbiakan pada umumnya secara vegetatif (aseksual) dan generatif


(seksual) dengan spora sebagai alat perkembangbiakannya. Perkembangbiakan
secara generatif terjadi melalui peleburan gamet yang terbentuk didalam organ
yang disebut gametangium. Cara hidup pada tumbuhan talus ada tiga cara yaitu :
autotrof (asimilasi dengan fotosintesis), heterotrof dan simbiosis.
Berdasar ciri-ciri utama yang menyangkut cara hidupnya yaitu, divisi
Thallophyta dibedakan menjadi 3 anak divisi yaitu :
a. Ganggang (algae)
b. Jamur (Fungi)
c. Lumut kerak (Lichens)
2.2 Ganggang atau Algae
Alga adalah tumbuhan nonvascular yang memilika benruk thalli yang
beragam, uniseluler atau multiseluler, dan berpigmen fotosintetik. Alga bentik
(makroalga) dapat hidup di perairan tawar dan laut (bold & wynne 1978:1; dawea
1981:59). Makroalga adalah tumbuhan tidak berpembuluh yang tumbuh melekat
pada subtract didasaran laut. Tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang daun,
bunga, buah, dan biji ssejati (sumich 1979:99; mnConnaughey &zottoli 1983: 114
6

lerman 1986:39). Makroalga terbesar didaerah litoral dan sublitoral. Daerah


tersebut masih dapat memperoleh cahaya matahari yang cukup sehingga proses
fotosintesis dapat berlangsung (dawes 1981:13). Makraoalga menyerap nutrisi
berupa fosfor dan nitrogen dari lingkungan sekitar perairan (leviton 2001: 270).
Menurut atmaja & sulistijo ( 1988: 5), makroalga dapat diklasifikasikan menjadi
tiga divisi berdasarkan kandungan pigmen fotosintetik dan pigmen asesoris, yaitu:
cholorophyta, phaeophyta, dan rhodophyta.
2.3 Klasifikasi Alga
Alga yang hidup melayang-layang di permukaan air disebut neuston,
sedangkan yang hidup di dasar perairan disebut bersifat bentik. Alga yang bersifat
bentik digolongkan menjadi :
a. epilitik (hidup di atas batu)
b. epipalik (melekat pada lumpur atau pasir)
c. epipitik (melekat pada tanaman)
d. epizoik (melekat pada hewan).
Berdasarkan habitatnva di perairan, alga dibedakan atas :
a. alga subaerial, yaitu alga yang hidup di daerah permukaan
b. alga intertidal, yaitu alga yang secara periodik muncul di permukaan karena
naik turunnya air akibat pasang surut
c. alga sublitoral, yaitu alga yang hidup di bawah permukaan air
d. alga edafik, yaitu alga yang hidup di dalam tanah.
Beberapa jenis alga dapat bersimbiosis dengan organisme lainnya.
Misalnya, Chlorella

sp. hidup

bersama Paramecium, Hydra,

atau Mollusca;

alga Platymonas sp. hidup bersama cacing pipih Convoluta roscoffensis.


Alga ada yang bersel tunggal (uniseluler), membentuk koloni berupa
filamen (kumpulan sel berbentuk benang) atau koloni yang tidak membentuk
filamen. Alga uniseluler ada yang dapat bergerak atas kekuatan sendiri (motil) dan
ada yang tidak dapat bergerak (nonmotil). Alga uniseluler yang mikroskopis tidak
dapat dilihat dengan mata telanjang. Sebaliknya, ada alga yang membentuk koloni
berupa. filamen berukuran cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata
telanjang. Sel yang terletak paling bawah pada filamen membentuk alat khusus
7

untuk menempel pada batu, batang pohon, pasir, atau lumpur. Alat tersebut
dinamakan pelekap. Koloni alga yang tidak membentuk filamen umumnya
berbentuk bola atau pipih tanpa pelekap.
2.4 Kelompok-Kelompok Alga
Alga memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat
melakukan fotosintesis. Selain itu, alga juga memiliki pigmen lain yang dominan.
Berdasarkan dominansi pigmennya, alga dapat dibedakan menjadi alga cokelat,
alga merah, alga keemasan, diatom, dan alga hijau.
2.4.1 Alga Cokelat (Phaeophyta)
Warna alga cokelat ditimbulkan oleh adanya pigmen cokelat (fukosantin)
yang secara dominan menyelubungi warna hijau dari klorofil pada jaringan.
Selain fukosantin, alga cokelat juga mengandung pigmen lain seperti klorofil a,
klorofil c, violasantin, beta-karoten, dan diadinosantin.
Alga cokelat merupakan alga yang memiliki talus terbesar dibandingkan
jenis alga lainnya. Pada kondisi yang sesuai, Macrocystis sp. atau alga cokelat
raksasa dapat mencapai panjang 100 meter dan kecepatan tumbuh mencapai 15
cm per hari. Alga cokelat yang sering ditemukan di tepi pantai sedang mengalami
fase diploid dari siklus hidupnya.

(Gambar.1 Alga Coklat)


Ciri-ciri alga cokelat adalah sebagai berikut.
a.Ukuran talus mulai dari mikroskopis sampai makroskopis. Berbentuk tegak,
bercabang, atau filamen tidak bercabang.
8

b.

Memiliki kloroplas tunggal. Ada kloroplas yang berbentuk lempengan


diskoid (cakram) dan ada pula yang berbentuk benang.

c.Memiliki pirenoid yang terdapat di dalam kloroplas. Pirenoid merupakan


tempat menyimpan cadangan makanan. Cadangan makanan yang terdapat
pada alga ini berupa laminarin.
d.

Bagian dalam dinding sel tersusun dari lapisan selulosa, sedangkan bagian
luar

tersusun

dari gumi.

Pada

dinding

sel

dan

ruang

antarsel

terdapat asam alginat (algin).


e.Mempunyai jaringan transportasi air dan zat makanan yang analog dengan
jaringan transportasi pada tumbuhan darat.
Habitat Alga cokelat umumnya hidup di air laut, terutama laut yang
bersuhu agak dingin dan sedang. Hanya ada beberapa jenis alga cokelat yang
hidup di air tawar.
Di daerah subtropis, alga cokelat hidup di daerah intertidal, yaitu daerah
literal sampai sublitoral. Di daerah tropis, alga cokelat biasanya hidup di
kedalaman 220 meter pada air yang jernih.
Contoh alga cokelat, antara lain:
a.Fucus serratus
b.

Macrocystis pyrifera

c.Sargassum vulgare
d.

Turbinaria decurrens
Berikut ini akan kita bahas salah satu jenis alga cokelat, yaitu Sargassum.

Sargassum merupakan genus dengan anggota lebih dari 150 spesies. Alga ini
banyak terdapat di perairan tropis dan subtropis, misalnya lautan Atlantik sebelah
barat, yaitu laut Sargasso.
Sargassum muticum adalah salah satu contoh gulma laut yang berasal dari
Jepang. Saat ini, alga tersebut sudah tersebar di pantai barat Amerika Utara dan
Inggris.
Ciri-ciri Sargassum :
a)bentuk talus seperti pohon

b)

batang utama pipih, mempunyai bagian seperti daun di sisi

samping
c)kantong udara berbentuk bulat
d)

reseptakel mempunyai modifikasi cabang yang berbentuk bulat

e)konseptakel terdapat di ujung cabang-cabang


f)hidup di daerah literal dan sublitoral
g)

hidup melayang di air atau melekat pada substrat.

Sargassum yang hidup melayang tidak dapat bereproduksi secara seksual tetapi
dapat melakukan fragmentasi.
2.4.2 Alga Merah (Rhodophyta)
Alga merah berwarna merah sampai ungu, tetapi ada juga yang
lembayung atau kemerah-merahan. Kromatofora berbentuk cakram atau lembaran
dan mengandung klorofil a, klorofil b, serta karotenoid. Akan tetapi, warna lain
tertutup oleh warna merah fikoeritrin sebagai pigmen utama yang mengadakan
fluoresensi. Jenis Rhodophyta tertentu memiliki fikosianin yang memberi warna
biru.

(Gambar.2 Alga Merah)


Ciri-ciri alga merah
a. Talus berupa helaian atau berbentuk seperti pohon. Banyak alga merah yang
tubuhnya dilapisi kalsium karbonat.
b. Tidak memiliki flagela.
c. Dinding sel terdiri dari komponen yang berlapis-lapis. Dinding sel sebelah
dalam tersusun dari mikrofibril, sedangkan sisi luar tersusun dari lendir.
Komponen kimia mikroribril terutama adalah xilan, sedangkan komponen
10

kimia dinding mikrofibril luarnya adalah manan. Dinding sel alga merah
mengandung polisakarida tebal dan lengket yang bernilai komersial.
d. Memiliki pigmen fotosintetik fikobilin dan memiliki pirenoid yang terletak di
dalam kloroplas. Pirenoid berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan
atau hasil asimilasi. Hasil asimilasinya adalah sejenis karbohidrat yang
disimpan dalam bentuk tepung fluorid, fluoridosid (senyawa gliserin dan
galaktosa), dan tetes minyak. Tepung fluorid jika ditambah lodium
menunjukkan warna kemerah-merahan.
Habitat Alga merah umumnya hidup di laut yang dalam, lebih dalam daripada
tempat hidup alga cokelat. Sepertiga dari 2500 spesies yang telah diketahui, hidup
di perairan tawar dan ada juga yang hidup di tanah. Biasanya organisme ini
merupakan penyusun terumbu karang laut dalam.
Contoh anggota-anggota Rhodophyta antara lain: Corrallina, Palmaira,
Batrachospermum moniliforme, Gelidium, Gracilaria, Eucheuma, dan Scicania
furcellata.
2.4.3 Alga Keemasan (Chrysophyta)
Chrysophyta diambil dari kata Yunani chrysos yang berarti emas.
Kelompok alga keemasan memiliki keragaman komposisi pigmen, dinding sel,
dan tipe flagela sel. Alga keemasan mengandung klorofil a dan c, karoten, dan
santofil.

(Gambar.3 Alga Keemasan)


Ciri-ciri alga keemasan adalah sebagai berikut :
a. Bentuk talus ada yang berupa batang atau telapak tangan.
b. Alga keemasan yang bersel satu ada yang memiliki 2 flagela heterodinamik,
yaitu sebagai berikut.
11

c. Satu flagela mempunyai tonjolan seperti rambut yang disebut mastigonema.


Flagela seperti ini disebut pleuronematik. Flagela pleuronematik mengarah ke
anterior.
d. Satu

flagela

lagi

tidak

mempunyai

tonjolan

seperti

rambut

disebut akronematik, mengarah ke posterior.


e. Kedua flagela heterodinamik ini ada yang hampir sama panjangnya
(contohnya pada synura) ada pula yang sedikit berbeda panjangnya
(contohnya pada Ochromonas). Tidak semua alga. keemasan memiliki flagela
heterodinamik, ada pula yang hanya mempunyai satu flagela atau dua flagela
yang sama bentuknya.
f. Pada kloropas alga keemasan jenis tertentu, ditemukan pirenoid yang
merupakan tempat persediaan makanan. Persediaan makanan berupa
krisolaminarin (dahulu disebut leukosin). Selain itu di dalam vakuola terdapat
tetes-tetes minyak.
Habitatnya di air tawar atau air laut, serta tempat-tempat yang basah.
2.4.4 Diatom (Bacillariophyta)
Inti sel dan kloropas diatom berwarna cokelat keemasan, tetapi ada juga
yang berwarna hijau kekuningan atau cokelat tua. Sebagian besar diatom bersifat
uni-seluler, walaupun ada juga yang berkoloni.

(Gambar.4 Diatom)
Ciri-ciri umum diatom
a. Talus bersel satu. Struktur talus terdiri dari dua bagian, yaitu wadah (kotak)
disebut hipoteka dan tutupnya disebut epiteka. Epiteka berukuran lebih besar
12

daripada hipoteka. Di antara dua kotak dan tutup terdapat rafe atau celah,
dindingnya mengandung zat kersik (silika).
b. Inti sel berada di pusat sitoplasma,
c. Kloroplasnya mempunyai bentuk yang bervariasi, yaitu seperti cakram, seperti
huruf H, periferal, dan pipih.
Habitatnya hidup di air tawar, laut, dan daratan yang lembab sebagai
plankton atau bentos.
2.4.5 Alga Hijau (Chlorophyta)
Alga hijau memiliki pigmen, hasil metabolisme, dan struktur dinding sel
yang mirip dengan tumbuhan darat. Berdasarkan data molekuler saat ini, banyak
ilmuwan yang memasukkan kelompok ini dalam kingdom Plantae.

(Gambar.5 Alga Hijau)


Ciri-ciri Chlorophyta adalah sebagai berikut :
a. Ada yang bersel satu, ada yang membentuk koloni.
b. Bentuk tubuhnya ada yang bulat, filamen, lembaran, dan ada yang
menyerupai tumbuhan tinggi.
c. Bentuk dan ukuran kloroplas beraneka ragam, ada yang seperti mangkok,
busa, jala, atau bintang. Di dalam kloroplas terdapat ribosom dan DNA.
Selain itu terdapat pirenoid sebagai tempat penyimpanan hasil asimilasi yang
berupa tepung dan lemak. Organel lainnya adalah badan Golgi, mitokondria,
dan retikulum endo-plasma.

13

d. Pada sel reproduktif yang motil terdapat pigmen yang disebut stigma (bintik
mata merah).
e. Di dalam sitoplasma sel yang dapat bergerak terdapat vakuola kontraktil,
Vakuola kontraktil berfungsi sebagai alat osmoregulasi.
f. Inti sel alga hijau memiliki dinding, sehingga bentuknya tetap. Inti yang
demikian disebut eukarion.
g. Pada alga hijau yang motil terdapat dua flagela yang sama panjang.
Habitat alga ini di air tawar, air laut, dan tanah-tanah yang basah. Ada pula
yang hidup di tempat yang kering.
Contoh beberapa jenis alga hijau antara lain:
Spirogyra, Volvox, Chlamydomonas, Ulva, dan Stigeoclonium. Berikut ini akan
kita bahas tentang Spirogyra, Ulva, dan Chlorella.
a. Spirogyra
Habitat Spirogyra adalah di air tawar. Alga ini mudah dikenali karena
memiliki kloroplas besar berbentuk pita melingkar di dalam sel. Reproduksi
aseksual dengan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksualnya secara konjugasi.
Proses konjugasi berlangsung sebagai berikut. Spirogyra yang berbeda jenis
berdekatan, kemudian muncul tonjolan yang saling mendekati hingga bersatu
membentuk pembuluh. Protoplasma dari sel Spirogyra jenis + pindah ke sel
Spirogyra jenis -, sehingga terjadi persatuan plasma (plasmogami) yang kemudian
diikuti persatuan inti (kariogami). Hasil persatuan ini berupa zigospora yang
diploid. Zigospora mengalami meiosis dan terbentuklah empat sel baru yang
diploid.
b. Ulva
Koloni Ulva membentuk suatu lembaran setebal dua sel, lebarnya
beberapa cm dan panjang 30 cm atau lebih. Ulva ditemukan pada air asin dan air
payau, menempel pada kayu-kayuan atau batu-batu karang sepanjang pantai.
Reproduksi aseksualnya dengan zoospora berflagela empat. Reproduksi
seksualnya terjadi dengan bersatunya sel kelamin jantan dan sel kelamin betina
yang masing-masing berbentuk seperti zoospora biasa. Akan tetapi, kedua jenis
kelamin itu berukuran lebih kecil daripada zoospora biasa dan masing-masing
berflagela dua.
14

c. Chlorella
Chlorella hidup di air tawar, air laut, dan tempat yang basah. Bentuk
Chlorella seperti bola dengan kloroplas berbentuk seperti mangkuk.
Chlorella berpotensi menjadi sumber makanan baru karena beberapa hal berikut.
1. Dalam lingkungan yang baik, perkembangbiakan berlangsung cepat. Suhu
ideal untuk fotosintesisnya ialah sekitar 25 C.
2. Jika dalam kulturnya dimasukkan zat organik sederhana, yaitu karbon dioksida
dan cahaya, alga ini akan berfotosintesis dan menghasilkan karbohidrat,
protein, serta lemak.
2.5 Suksesi Algae
Suksesi merupakan proses perubahan yang terjadi secara teratur dan dalam
kurun waktu tertentu pada suatu komunitas atau ekosistem hingga terbentuk suatu
ekosistem dan komunitas yang baru dan berbeda dengan yang semula
Ketika ada suatu gangguan terjadi besar-besaran dan menghapuskan suatu
kehidupan di suatu daerah, komusitas harus mulai dari awal. Biasanya spesies
yang pertama yang tumbuh di daerah yang baru yakin spesies yang mampu
berkembang biak dengan cepat dan biasa di sebut dengan tumbuhan pionir atau
tumbuhan perintis. Tumbuhan perintis inilah yang merupakan bagian dari
thallophyta. Salah satu contohnya adalah lumut kerak dan algae.
suksesi primer dapat kita amati pada daerah yang baru saja mengalami
letusan gunung berapi. Mula-mula daerah tersebut gersang dan tandus. Setelah
beberapa saat tanah akan ditumbuhi oleh spesies pionir (perintis), misalnya lumut
kerak. Spesies pionir ini akan melapukkan batuan dan menggemburkan tanah
sehingga tanah dapat ditumbuhi rumput-rumputan yang tahan kekeringan. Setelah
rumput-rumput ini tumbuh dengan suburnya, tanah akan semakin gembur karena
akar-akar rumput dapat menembus dan melapukkan tanah, juga karena rumput
yang mati akan mengundang datangnya dekomposer (pengurai) untuk
menguraikan sisa tumbuhan yang mati.
Dengan semakin subur dan gemburnya tanah maka biji-biji semak yang
terbawa dari luar daerah itu akan tumbuh sehingga proses pelapukan akan
semakin banyak. Dengan makin gemburnya tanah, pohonpohon akan mulai
15

tumbuh. Kehadiran pohon-pohon akan mendesak kehidupan rumput dan semak


sehingga akhirnya tanah akan didominasi oleh pepohonan. Sejalan dengan
perubahan vegetasi, hewan-hewan yang menghuni daerah tersebut juga
mengalami perubahan tergantung pada perubahan jenis vegetasi yang ada. Ada
hewan yang datang dan ada hewan yang pergi. Akhirnya terbentuklah komunitas
klimaks atau ekosistem seimbang yang tahan terhadap perubahan.
Komunitas klimaks yang terbentuk dapat berupa komunitas yang
homogen, tetapi dapat juga berupa komunitas yang heterogen. Contoh komunitas
klimaks homogen adalah hutan pinus dan hutan jati. Contoh komunitas klimaks
yang heterogen misalnya hutan hujan tropis. Perhatikan mekanisme suksesi
primer hingga terbentuk komunitas klimaks berikut!

(Gambar.6 Suksesi)
Keterangan gambar:
1. Suksesi yang berlangsung pada danau yang telah mengalami kerusakan
diawali dengan tumbuhnya spesies pionir seperti fitoplankton, Algae, dan
beberapa

tumbuhan

yang

hidup

di

dasar

perairan,

misal Hydrilla sp., Cabomba sp., dan Elodea sp. Tumbuhan-tumbuhan ini
mampu beradaptasi dengan baik karena akarnya yang berserabut mampu
menembus tanah dan menyerap nutrien.
2. Tumbuhnya berbagai tumbuhan yang hidup melayang di permukaan air, misal
eceng gondok (Eichornia sp.).

16

3. Semakin banyak tumbuhan yang hidup melayang di permukaan air,


mengakibatkan tumbuhan yang hidup di dasar air mati karena cahaya
matahari tidak dapat menembus masuk dalam air sehingga tumbuhan dasar
air tersebut tidak dapat melakukan fotosintesis.
4. Semakin banyak tumbuhan yang hidup melayang di permukaan air
mengakibatkan danau semakin dangkal.
5. Tumbuhan air banyak yang mati karena danau telah kering. Tumbuhan yang
mati diuraikan oleh dekomposer. Dalam waktu bersamaan berlangsung proses
erosi dan sedimentasi yang mengakibatkan danau dipenuhi oleh tanah.
6. Setelah itu, danau menjadi rata dengan tanah dan dipenuhi oleh tumbuhan
darat yang lama-kelamaan terbentuklah komunitas klimaks.
2.6 Ekosistem Algae
Alga merupakan kelompok tumbuhan yang meskipun tidak memiliki
batang dan daun sejati seperti tanaman daratan lainnya, tetapi memiliki klorofil
sehingga memampukan mereka melakukan fotosintesis. Alga mengandung
berbagai bahan seperti vitamin, hormon, mineral, dan segenap senyawa bioaktif
untuk menjadi bahan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Selain dijadikan menjadi bahan industri, alga sangat berperan dalam
ekosistem perairan karena merupakan produsen terbesar dalam ekosistem
perairan. Alga merupakan organisme bersel satu yang berperan aktif menyusun
fitoplankton, misalnya alga hijau. Alga yang berfotosintesis tadi akan bertambah
banyak menghasilkan cadangan makanan bagi ikan-ikan di lautan. Berdasarkan
warna pigmen alga masing-masing, mereka memiliki peranan yang sama dengan
lingkungan yang berbeda.

17

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Alga dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai ganggang merupakan
tumbuhan taluskarena belum memiliki akar, batang dan daun sejati. Algae
(ganggang) dapat dibedakan menjaditujuh kelompok yaitu : cyanophyta,
cholrophyta, euglenophyta, pyrrophyta, crysophyta, phaeophyta, rhodophyta.
2. Chlorophyceae merupakan talus yang memiliki kloroplas yang berwarna
hijau, mengandung klorofil-a, dan b serta karotenoid, hidup diair tawar, air
laut, dan tempat basah. Bereproduksi secara seksual (anisogami) dan aseksual
(zoospora).
3. Habitat pyrrophyta dominan di perairan laut,dan beberapa terdapat di perairan
tawar.
Tipe sel pyrrophyta memiliki sifat yang tidak umum,terutama pada thecal dan
nukeusnya
Pertumbuhan yang sangat cepat dari fitoplankton pyrrophyta dapat
menyebabkan red tides pada perairan,yang akhirnya dapat menyebabkan
kematian pada organisme laut karena minimnya oksigen. Saxitoxin pada
Alexandrium sp. Menyebabkan prnyakit kanker hati Paralytic Shellfish
Poisoning (PSP).
4. Chrysophyta adalah salah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warnanya
atau pigmen. Chrysophyta hidup ditempat yang basah, air tawar dan air laut.
Chrysophyta mempunyai klorofil A dan C. Chrysophyta kloroplasnya
mengandung pigmen karoten dan xantofil. Pada Chrysophyta isi sel (berinti
tunggal) memiliki plastida yang terdiri 1 atau 2. Cadangan makanan pada
Chrysophyta berupa minyak dan tepung krisolaminarin. Perkembangbiakan
Chrysophyta dilakukan dengan cara vegetatif (dengan pembelahan sel,
fragmentasi, pemisahan koloni dan pembentukan spora) dan dengan cara
generatif.
5. Phaeophyceae atau Ganggang coklat adalah salah satu kelas dari dari
ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Pigmen yang lebih
18

dominan adalah pigmen xantofil yang menyebabkan ganggang berwarna


coklat. Pigmen lain yang terdapat dalam Phaeophyceae adalah klorofil A dan
C serta karoten.

19

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2008. Ganggang coklat. (Online)
.http://id.wikipedia.org/wiki/Ganggang coklat. Diakses Tanggal
Oktober 2016.

23

Anonymous.
2008.
Divisi
Phaeophyta.
(Online).
http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?moid=134&fnae=%20bio_106_
kb2 haaman19.htm. Diakses Tanggal 23 Oktober 2016..
Anonymous.
2008.
Ciri
ciri
alga
(ganggang).
(Online).
http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?mod=134&fnae=%20bio_106_k
b2hal20.htm. Diakses Tanggal 23 Oktober 2016.
Anonymous. 2008. Division Phaeopyta (Brown Algae). (Online).
http://www.cs.cuc.edu/~tfucher/Phaeophyta.html. Diakses Tanggal
23 Oktober 2016.
Anonymous. 2008. Divisi clorophyta. http://id.wikipedia.org/ clorophyta. Diakses
Tanggal 23 Oktober 2016.
Anonymous. 2008. Divisi crysophyta. http://id.wikipedia.org/ crysophyta. Diakses
Tanggal 23 Oktober 2016.
Anonymous.
2008.
Division
Pyrrophyta
(online).
http://www.cs.cuc.edu/~tfucher/Phaeophyta.html. Diakses Tanggal
23 Oktober 2016.

20