Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENGANTAR ETIKA PROFESI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Presentasi Mata Kuliah Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat

Kelompok 1:
IRENE NATHASIA DEVI

( 2015271099 )

IRVAN ALI MUSTOFA

( 2015271100 )

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
PENGANTAR ETIKA PROFESI
i

1.1 Akuntansi Sebagai Profesi


Apakah profesi itu? Apakah yang membedakan suatu kegiatan sebagai pekerjaan dan
profesi? Banyak terjadi salah pengertian mengenai profesi. Profesi sering diartikan sebagai
pekerjaan lepas. Profesi memang pekerjaan lepas namun tidak setiap pekerjaan lepas
merupakan profesi. Menurut Duska, Duska dan Ragatz (2011) banyak definisi mengenai
profesi. Namun mungkin dapat diikuti suatu definisi yang diajukan oleh Commision on
Standart of Education and Experience for Certified Public Accountants. Menurut mereka,
profesi memiliki paling tidak tujuh karakteristik, yaitu:
a. Memiliki bangunan pengetahuan yang khusus (a specialized body of knowledge).
b. Melalui pendidikan formal yang diakui untuk memperoleh pengetahuan spesialis
yang disyaratkan.
c. Memilki standar kualifikasi profesional sebagai syarat penerimaan anggota
profesi.
d. Memiliki standar perilaku yang mengatur hubungan antara praktisi dengan klien,
rekan sejawat, dan masyarakat pada umumnya.
e. Pengakuan akan status.
f. Menerima tanggung jawab sosial yang melekat pada pekerjaan untuk kepentingan
publik.
g. Menerima tanggung jawab sosial yang melekat pada pekerjaan untuk kepentingan
publik.
h. Memiliki organisasi yang menjaga kewajiban sosial dari profesi.
Dari berbagai persyaratan di atas, maka dua karakteristik terpenting sebagai prasyarat
sebuah profesi adalah pekerjaan tersebut merupakan tanggung jawab sosial yang terkait
dengan kepentingan publik dan adanya pengakuan dari publik (masyarakat) bahwa pekerjaan
tersebut memang penting bagi mereka. Jadi, pekerjaan yang dilakukan merupakan hal yang
dianggap penting bagi publik dan pelaksanaannya dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab
sosial. Sebagai pekerjaan yang penting, profesi tidak boleh memanfaatkan pekerjaan yang
dilakukan untuk kepentingan diri-sendiri, misalnya mencari keuntungan. Karena itu ciri
pertama profesi adalah altruisme. Altruisme berasal dari kata altruis yang berarti orang yang
mengutamakan kepentingan orang lain. Sebagai imbalan atas altruisme ini, profesi biasanya
menjadi warga terhormat didalam masyarakat.

Jika pekerjaan ini sudah diakui manfaatnya bagi kepentingan publik, maka perlu
disiapkan infrastruktur agar pekerjaan tersebut bisa dilaksanakan dengan baik. Karena itu,
suatu profesi perlu didasarkan pada bangunan pengetahuan yang khusus sehingga pekerjaan
tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Konsekuensinya, para praktisi profesi
harus menjalankan proses pendidikan formal untuk memiliki bangunan pengetahuan yang
khusus tersebut. Mengingat sistem pendidikan formal bersifat umum, maka praktisi profesi
harus memiliki kualifikasi yang ditunjukkan melalui kelulusan atau ujian kulaifikasi dan
sertifikasi. Dan praktisi profesi harus melaksanakan pekerjaannya berdasarkan standar
perilaku tertentu. Inilah ciri kedua profesi, yaitu kompetensi. Tidak mungkin seorang yang
bertugas melaksanakan pekerjaan penting bagi publik tidak memiliki kompetensi atas
pelaksanaan pekerjaan tersebut malah berdampak buruk bagi publik.
Karakteristik terakhir yang dimiliki oleh profesi adalah dimilikinya organisasi atau
asosiasi profesi yang bertugas menjaga angggotanya agar memenuhi kualifikasi yang
ditetapkan, menjaga kompetensi, dan melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang
disepakati. Organisasi yang menjaga agar profesi tetap melaksanakan fungsinya sesuai
dengan status pengakuannya. Untuk menegakkan disiplin profesi, asosiasi harus dapat
mengatur dirinya sendiri. Inilah ciri ketiga profesi yaitu otonomi. Dengan demikian profesi
adalah pekerjaan yang diakui dan diterima masyarakat sebagai pekerjaan untuk kepentingan
publik dengan tiga ciri, yaitu altruisme, kompetensi, dan otonomi.
Pemerintah juga melakukan pengawasan terhadap profesi, karena tugas Pemerintah
melindungi kepentingan publik. Tingkat pengawasan Pemerintah terhadap profesi tergantung
kepercayaan Pemerintah terhadap kemampuan organisasi profesi untuk mengawasi
profesinya. Jika Pemerintah mempercayaI organisasi profesi dapat melaksanakan fungsinya
maka pengawasan yang dilakukan Pemerintah minimal. Namun, jika profesi tidak dapat
dipercaya oleh Pemerintah, maka organisasi profesi kehilangan otonomi. Pengawasan lebih
banyak dilakukan oleh Pemerintah. Karena itu, organisasi profesi harus menjaga agar profesi
berjalan

sesuai dengan yang diharapkan agar memiliki otonomi dan memperoleh

kepercaayaan dari publik.

1.2 Etika Dalam Profesi

Dalam melaksanakan fungsinya, profesi sering menghadapi delima etika. Sebagai


contoh, profesi advokat berfungsi antara lain untuk penegakkan hukum berdasarkan keadilan.
Namun, pengacara mendapat bayaran dari pihak yang bersalah yang membayarnya dengan
harapan untuk memperoleh putusan bebas atau hukuman yang seringan-ringannya, yang
mungkin berlawanan dengan prinsip keadilan. Demikian pula dengan

profesi akuntan.

Akuntan bertugas untuk mengaudit laporan keuangan untuk pemegang saham dengan
pembayaran dari manajemen yang menyusun laporan keuangan yang diaudit.
Sejak sekitar tahun 1980, profesi akuntan dianggap bertanggungjawab atas terjadinya
krisis perekonomian yang dipicu skandal-skandal korporasi. Hal ini dapat dilihat antara lain
dari Saving & Loan Crisis yang terjadi di Amerika Serikat di akhir tahun 1970an dan skandal
Bank of Credit Commerce International pada tahun 1990an, sampai dengan skandal
manipulasi laporan keuangan korporasi Amerika Serikat yang dilakukan oleh Enron,
WorldCom, Adelphia Communication dan banyak perusahaan lainnya. Kantor akuntan juga
disibukkan dengan berbagai tuntutan hukum. Hal ini menunjukkan bahwa ada permasalahan
dalam profesi akuntan, mulai dari akuntan yang meninggalkan sifat altruismedan mengejar
keuntungan pribadi sampai ke lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh organisasi profesi.
Banyak kantor akuntan yang menjaga profesionalitas dengan meningkatkan
kompetensi akuntannya dan mengembangkan sistem kerja yang mendorong keberhati-hatian.
Namun upaya ini sebetulnya tidak mengatasi maslah hilangnya altruisme dalam profesi
akuntan dan keberhati-hatian akuntan lebih didorong kepada ketakutan menghadapi tuntutan
hukum dan kehilangan reputasi (external control) daripada suatu tangggung jawab profesi
(internal control). Etika profesi adalah sarana untuk praktisi profesi mengendalikan diri
(internal control) agar tetap menjaga profesionalitasnya. Etika profesi paling tidak menjaga
praktisi profesi agar selalu ingat profesi adalah untuk kepentingan publik dan selalu ingat
dengan sifat altruismeyang melekat pada profesi. Dengan etika profesi maka praktisi profesi
diharapkan melaksanakan tugas profesi berdasarkan kecintaan dan tanggung jawab profesi,
bukan karena ketakutan tuntutan hukum ataupun karena kehilangan reputasi dan nama baik.

1.3 Lahirnya Profesi Akuntan


4

Kelahiran profesi akuntan dapat diktakan dipicu oleh banyaknya kasus kebangkrutan
di Inggris dan Skotlandia. Berdasarkan BankrupcyAct1831, perusahaan yang bangkrut
ditangani oleh pegawai Pemerintah. Namun kebijakan ini dianggap terlalu mahal dan
sebetulnya pihak yang berkepentingan adalah pemberi kredit. Maka diupayakan suatu
perubahan atas Bankrupcy Act ini, dimana pengacara akan berperan lebih besar dibandingkan
akuntan. Sebagai reaksi atas rencana perbahan Bankrupcy Act ini, di Skotlandia didirikan
Society of Accountant in Edinburg dan Institute of Accountants in Glasgow pada tahun 1853.
Setahun kemudian keberadaan Society of Accountant in Edinburgmendapatkan pengakuan
dari kerajaan (Royal Charter), dan pada tahun berikutnya Institute of Accountants in
Glasgowmenyusul mendapatkan Royal Charter.
Pada tahun 1861 dikeluarkan BankrupcyAct baru yang mengalihkan penanganan
perusahaan bangkrut dari pegawai pemerintah ke pemberi kredit. Oleh pemberi kredit,
penanganan perusahaan bangkrut didelegasikan ke pengacara dengan dibantu oleh akuntan,
Namun UU ini tidak berlaku lama. Pada tahun 1869, dikeluarkan UU baru yang mengakui
keberadaan profesi akuntan dalam penanganan perusahaan bangkrut, bersama dengan profesi
pengacara. Dengan pengakuan atas profesi akuntan ini, maka beberapa akuntan ternama di
Liverpool dengan dukungan dari pengacara mendirikan Incorporated Society of Liverpool
pada tahun 1870. Tujuannya awalnya adalah untuk menyepakati pembagian kerja antara
profesi pengacara dan akuntan dalam penanganan perusahaan bangkrut. Organisasi ini
kemudian juga menjadi organ yang menyeleksi akuntan yang dianggap memiliki kualifikasi
untuk melaksanakan tugas profesi dan memudahkan klien dalam memilih akuntan. Pendirian
Incorporated Society of Liverpool, diikuti dengan pendirian Institute of Accountant in
London (1870), Manchester Institute of Accountants (1871) dan Institute of Accountants in
Sheffield (1877), yang semuanya berupaya mendapatkan kepercayaan masyarakat, sehingga
jasanya digunakan, melalui seleksi keangggotaan berdasarkan kompetensi dan reputasi.
Untuk mendapatkan kepercayaan ini mereka melakukan seleksi keanggotaan yang ketat,
memiliki kantor yang bagus yang dilengkapi dengan perpustakaan yang lengkap, dan
menerbitkan semacam majalah atau newsletter yang disebarkan ke anggota dan klien
mengenai perkembangan pengetahuan yang mereka miliki.
Tindakan Institute Accountant in London yang membatasi keanggotaan organisasi
berdasarkan kompetensi dan domisili menimbulkan reaksi dari akuntan-akuntan yang tidak
memenuhi persyaratan. Mereka kemudian membentuk organisasi tandingan Society of
Accountants in England pada tahun 1872. Untuk menarik anggota, mereka membuka
5

keanggotaan yang lebih terbuka untuk seluruh wilayah Inggris sehingga jumlah anggota
merekapun beragam baik dari segi kompetensi maupun domisili. Menanggapi berdirinya
Society, pada tahun yang sama Institute of Accountant in Londonkemudian juga tidak
membatasi domisili anggota. Sebagai konsekuensinya, mereka mengubah namanya menjadi
Institute of Accountant.
Pada tahun 1878, Institute of Accountant memutuskan untuk mengupayakan
meningkatkan status mereka menjadi satu-satunya organisasi akuntan dengan mempersiapkan
rancangan undang-undang yang terkait dengan hal tersebut. hal ini menimbulkan kepanikan
pada Society. Mereka segera memberikan tanggapan. Awalnya, pada bulan November 1878,
mereka mengajukan usulan ke walikota London untuk menjadi semacam sworn body of
accountant. Sebulan kemudian mereka mengajukan usulan ke Instituteuntuk melebur
menjadi satu organisasi.
Pada tahun 1879, terjadi banyak perkembangan pada perkumpulan-perkumpulan
akuntan tersebut. Institute menerima usulan Societydan kedua perkumpulan ini mulai
melakukan pembicaraan. Society mengusulkan agar Institute dapat menerima keanggotaan
dari akuntan yang bekerja di perusahaan. Namun Institute mempertahankan untuk membatasi
keanggotaan dengan alasan that the true interest of the proffesion requires that eligibility for
membership should be limited to persons whose business is that of public accountant.
Institute mempertahankan posisinya karena pada saat yang sama, perkumpulan akuntan lain,
yaitu Liverpool Society, Manchester Institute, Sheffield Institute, dan Accountants
Incorporation Assocsiation juga mengusulkan untuk bergabung dengan Institute of
Accountants. Akibat dari sikap Institute, pembicaraan mengenai penyatuan perkumpulan
terhenti dan Societymenarik dukungan atas rancangan UU yang diusulkan oleh Institute.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, beberapa anggota parlemen menyarankan kepada
Instituteuntuk menarik rancangan UU yang diusulkan. Selain itu mereka menyarankan
Instituteagar mengupayakan Royal Charter. Pada pertengahan tahun 1879, usulan Royal
Charter ditandatangani oleh ketua dari perkumpulan-perkumpulan Institute of Accountants,
the Society of Accountants in England, the Manchester and Sheffield Institutes, the Liverpool
Society. Mereka pada tahun 1880 memperoleh Royal Charterdengan nama baru Institute of
Chartered Acountants in England & Wales (ICAEW) dan untuk selanjutnya menyebut
anggotanya sebagai Chartered Accountant (CA).

Pada tahun 1883, Bankruptcy Act yang baru disahkan. UU ini menetapkan suatu
jabatan baru dalam likuidasi perusahaan yang disebut Official Receiver yang sekaligus
meninggalkan peran akuntan dalam likuidasi perusahaan. Perubahan Bankruptcy Act ini
disebabkan karena sebelumnya ditemukan bahwa akuntan yang menjadi anggota tim likuidasi
banyak yang tidak segera dana hasil likuidasi atas aset dari perusahaan yang bangkrut ke
kreditor. Mereka malah menahan dana tersebut. Dengan adanya Bankruptcy Act yang baru
ini maka akuntan kehilangan sumber pendapatan utamanya, Dan juga kepercayaan. Untuk
mengembalikan kepercayaan masyarakat, ICAEW memutuskan untuk melakukan seleksi
keanggotaan yag lebih ketat dengan membuat ujian masuk yang lebih sulit. Hal ini kemudian
mendorong didirikannya Society of Accountants and Auditors yang angggotanya adalah
orang-orang yang tidak lulus ujian kualifikasi ICAEW, dan terjadilah persaingan antara
Societydengan Institute.
Hubungan antara kedua organisasi ini menarik, karena dalam persaingan juga terdapat
upaya untuk melakukan merjer. Pada tahun 1893, Societymengusulkan rancangan UU Public
Acountantuntuk memperkuat profesi yang isinya yang mengatur registrasi akuntan hanya
dapat dilakukan oleh anggota Societydan ICAEW. Usulan ini ditanggapi oleh ICAEW dengan
mengusulkan rancangan UU Akuntan Publik tandingan yang membatasi registrasi akuntan
hanya dapat dilakukan oleh anggota ICAEW. Kedua rancangan UU ini ditolak. Namun, pada
tahun 1897 ICAEW dan Society mencoba menyusun rancangan UU Chartered Accountant
yang berisi penyatuan kedua organisasi ini. Namun rancangan ini tidak disetujui oleh Rapat
Anggota kedua Organisasi.
Pada tahun 1900 disahkan Companies Act yang mewajibkan perseroan terbatas untuk
membuat laporan keuangan yang diaudit. Namun UU ini tetap tidak mengatur akuntan yang
berhak untuk melakukan audit. Pemilihan akuntan sepenuhnya melalui mekanisme pasar, dan
untuk itu perkumpulan akuntan bersaing untuk memperoleh kepercayaan masyarakat agar
anggotanya dipercaya sebagai auditor. Dengan adanya Companies Actini, berbagai
perkumpulan akuntan berdiri untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh UU
tersebut, antara lain London Association of Accountants pada tahun 1904 yang kemudian
berkembangmenjadi Association of Certified Accountant (ACA) pada tahun 1971, dan setelah
mendapat Royal Charter pada tahun 1974, diubah menjadi Chatered Association of Certified
Accountants (CACA) pada tahun 1984 dan kemudian menjadi Association of Chartered
Certified Accountants (ACCA) pda tahun 1996. Sementara itu, Society of Accountants and

Auditors mengubah namanya menjadi Society of Incorporated Accountants and Auditors dan
menyebut anggotanya dengan Incorporated Accountant.
Pada tahun 1909 dikeluarkan Companies Act yang baru yang mewajibkan seluruh
perusahaan untuk membuat laporan keuangan yang diaudit dan menetapkan peran akuntan
sebagai auditor yang bertanggung jawab atas laporan kepada pemegang saham. Untuk
menindaklanjuti Companies Act ini, dibuat rancangan UU yang mengatur registrasi praktisi di
Inggris dan Wales, namun rancangan UU ini gagal karena tidak mengatur akuntan di
Skotlandia dan Irlandia. Upaya ini diulang pada tahun 1911, namun tetap gagal. Pada tahun
1955 Society bergabung dengan Institute menjadikan Institute sebagai organisasi terbesar di
Inggris. ICAEW yang besar ini terdiri dari anggota-anggota dengan latar belakang yang
berbeda. Sebagian anggota bekerja pada perusahaan, sebagian lagi bekerja pada kantor
akuntan besar, dan sebagian pada kantor akuntan kecil. Hal ini menyebabkan timbulnya
perbedaan kepentingan di antara anggota ICAEW. Karena itu, pada tahun 1968 ICAEW
mengusulkan reformasi profesi akuntan melalui dua perubahan besar. Usulan pertama adalah
merger dengan lima organisasi profesi akuntansi yang besar Institute of Chartered
Accountants of Scotland (ICAS), Institute of Accountants in Ireland (ICAI), Association of
Chartered Certified Accountants (ACCA), Chartered Institute of Public and Finance of
Accountants (CIPFA) dan Chartered Institute of Management Accountants (CIMA). Kedua,
menyederhanakan jumlah kualifikasi menjadi dua yaitu: the CharteredAccountant
(kualifikasi tinggi)and the LicentiateAccountant (kualifikasi lebih rendah)
Usulan reformasi profesi akuntan tidak tercapai. Namun pada tahun 1974 eenam
organisasi ini membentuk C onsutative Committee of Accoutancy Bodies (CCAB) yang
bertujuan untuk perwakilan atas permasalahan bersama. Akuntan anggota organisasi anggota
CCAB ini sering menyebut dirinya sebagai CCAB-qualified accountants. Baru pada tahun
1989, melalui Companies Act 1989 yang kemudian disempurnakan pada tahun 2006, terjadi
pengaturan mengenai profesi akuntan publik, dimana akuntan yang dapat melakukan audit
atas perseroan terbatas adalah akuntan yang menjadi anggota lima organisasi anggota CCAB
atau anggota Association of International Accountants (AIA). Keenam organisasi ini disebut
Recognised Qualifying Bodies (RQBs). Selain itu juga ada Recognised Supervisory Bodies
(RSBs) dengan fungsi yang sama tapi anggota yang berbeda, yaitu 4 organisasi anggota
CCAB (CIPFA tidak termasuk) dan Association of Authorized Public Accountants (APPA).
Mengingat CIPFA tidak atif sebagai RQB dan APPA sudah menjadi bagian dari ACCA, maka
sebetulnya organisasi profesi akuntan (publik) yang dominan sekarang ini di Inggris adalah
8

ICAEW, ICAS, ICAI yang menyebut anggotanya sebagai Chartered Accountant, ACCA yang
menyebut anggotanya Chartered Certified Accountant, dan AIA yang menyebut anggotanya
sebagai International Accountant.
1.4 Profesi Akuntan di Masyarakat
Pada periode 1870-1900 perekonomian Amerika Serikat mengalami banyak
perubahan. Amerika mengalami ledakan penduduk, industrialisasi, persaingan kereta api,
perpindahan penduduk dari desa ke kota, dan tumbuhnya kelas menengah. Situasi ini
mengundang investasi dari perusahaan-perusahaan dari Inggris yang kemudian membuka
pintu bagi akuntan-akuntan Skotlandia dan Inggris. Akuntan-akuntan ini melihat bahwa
belum ada organisasi profesi sebagaimana yang mereka miliki di Inggris sehingga mereka
kemudian mendirikan organisasi serupa.
Organisasi profesi akuntan pertama di Amerika adalah Institute of Accountants yang
didirikan pada tahun 1882. Keanggotaan terbuka untuk setiap akuntan yang lulus ujian
masuk. Sedangkan fungsi dari organisasi adalah pendidikan akuntan. Setelah itu, beberapa
organisasi berdiri diantaranya American Association Public Accountants (AAPA) pada tahun
1887. Yang membatasi pada keanggotaannya hanya untuk akuntan publik. Pendiri
Association adalah Chartered Accountant dari Inggris. Mereka mendirikan Association untuk
memperoleh status sebagaimana yang mereka peroleh di Inggris. Institute tidak dapat
mewakili status yang mereka harapkan karena keanggotaannya yang lebih terbuka untuk
semua akuntan.
Pada tahun 1895 dan 1896, Association dan Institute, secara individual dan kemudian
bersama-sama mengajukan usulan untuk memperoleh pengakuan hukum dari Negara Bagian
New York untuk dapat memberikan lisensi akuntan profesional yang memenuhi persyaratan
pendidikan dan domisili. Usulan mereka ditolak. Keputusan dari Pemerintah Negara Bagian
New York adalah akuntan profesional yang diakreditasi oleh negara, dimana akuntan yang
telah memenuhi persyaratan ujian dan pelatihan, akan diberikan lisensi oleh Pemerintah
Negara Bagian dimana akuntan bekerja. Dengan lisensi yang diberikan oleh Pemerintah
akuntan berhak mendapat gelar akuntan publik bersertifikat (certified public accountant).
Sistem New York ini diadopsi oleh negara bagian lainnya dan pada setiap negara bagian
didirikan organisasi profesi akuntan, yang disebut society, yang mengatur dan
mengadministrasikan dari akuntan terpisah dengan organisasi yang yang berskala nasional
seperti AAPA.
9

Permasalahan yang kemudian timbul ketika itu adalah akuntan harus meyakinkan
masyarakat bahwa mereka memiliki profesionalisme yang tinggi, terutama dalam hal
pendidikan, pelatihan dan etika. Hal ini karena adanya kritik dari kalangan masyarakat
mengenai standar akuntansi dan auditing dan keprihatinan dikalnagan akuntan mengenai
standar kelulusan yang berbeda diantara society dimasing-masing negara bagian. Untuk
mengatasi permasalahan ini pada tahun 1902 dibentuk Federation of Societies of Public
Accountants. 3 tahun kemudian, organisasi ini kemudian merger dengan Association, dan
kemudian mengubah namanya menjadi Institute of Certified Public Accountants in United
States of America pada tahun 1916, dan setahun kemudian berubah menjadi American
Institute of Accountants (AIA).
Pemimpin AIA mengarahkan organisasi seperti organisasi profesi di Inggris. Mereka
berupaya untuk mendapatkan otonomi, menjadi organaisasi yang dapat mendisiplinkan
anggotanya. Masalahnya, anggota Institute juga terikat aturan yang berlaku dimasing-masing
negara bagian. Untuk mengatasi kesulitan untuk menguasai anggota secara penuh, Institute
kemudian memperluas keanggotaannya tidak terbatas pada akuntan publik bersertifikasi.
Akuntan publik bersertifikasi berkeberatan atas kebijakan ini dan Insitute menghadapi
perpecahan. Akuntan publik bersertifikat kemudian mendirikan organisasi tandingan,
American Society of Certified Public Accountants (ASCPA), pada tahun 1921.
Keanggotaannya terbatas pada akuntan publik bersertifikasi. Setelah perpecahan ini , lalu
timbul upaya untuk menyatukan organisasi, terutama untuk kesamaan standar ujian. Pada
tahun 1963, Insitute dan Society merger menjadi American Institute of Public Accountant,
yang kemudian menjadi American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) pada
tahun 1957. Upaya untuk mendapatkan otonomi penuh tidak pernah tercapai, karena lisensi
akuntan masih diberikan oleh Negara. Karena itu, berbeda dengan situasi di Inggris, hanya
ada satu sebutan untuk akuntan yang dapat untuk melakukan audit yaitu CPA.
1.5 Profesi akuntan di Indonesia
Lahirnya profesi akuntansi di Indonesia dipicu oleh pengakuan pemerintah atas profesi
akuntansi melalui Undang-Undang nomor 34 tahun 1954 tentang pemakaian gelar akuntan.
Undang-Undang ini mengatur bahwa yang berhak memakai gelar akuntan adalah seseorang
yang memiliki ijazah akuntan dari universitas negeri atau badan perguruan tinggi lain yang
dibentuk oleh Undang-Undang atau diakui Pemerintah atau seseorang yang lulus dalam ujian
lain yang dapat disamakan dengan ijazah universitas negeri. Undang-Undang ini juga
10

mengatur pemakaian nama kantor akuntan, biro akuntan, dan nama lain yang menggunakan
kata akuntan dan akuntansi hanya untuk kantor yang dipimpin oleh orang yang berhak
menggunakan gelar akuntan. Undang-Undang ini dibuat untuk melindungi pengguna jasa
akuntan karena sebelumnya banyak yang mengaku sebagai akuntan tanpa kualifikasi yang
memadai dan untuk melindungi profesi akuntan sendiri karena banyak orang yang mengaku
sebagai akuntan yang merangkap pekerjaan sebagai makelar, jual beli rumah dan sebagainya.
Kata akuntan sendiri merupakan kata yang masih asing bagi masyarakat Indonesia. Kata ini
sering rancu dangan kata contant yang berarti tunai sehingga akuntan dipersepsikan sebgai
kasir. Akuntan juga sering disalah-artikan sebagai pengusaha angkutan.
Undang-Undang ini semacam lisensi yang diberikan negara sebagaimana yang terjadi
di Amerika Serikat. Bedanya, lisensi di Indonesia langsung diberikan kepada lulusan
universitas negeri, sedangkan di Amerika lisensi diberikan setelah lulus ujian yang
diselenggarakan oleh profesi.
Universitas Indonesia membuka jurusan Akuntansi sejak tahun 1952/1953 dan merupakan
satu-satunya universitas negeri yang menyelenggarakan pendidikan akuntansi di Indonesia
sampai dengan tahun 1960 yaitu pada saat Sekolah Tinggi Keuangan Negara didirikan.
Tahun 1957 untuk pertama kalinya Universitas Indonesia menghasilkan akuntan
sebanyak empat orang yaitu Basuki Siddharta, Hendra Darmawan, Tan Tong Joe, dan Go Tie
Siem. Lulusan lokal ini tidak memenuhi persyaratan menjadi anggota organisasi profesi
akuntan Belanda. Akibatnya mereka tidak dapat menandatangani laporan. Maka lulusan baru
ini didukung oleh dosennya yang bernama Sumardjo Tjitrowarsito merintis pendirian
organisasi profesi akuntan di Indonesia. Mereka mengajak akuntan bangsa Indonesia lulusna
Belanda, yaitu Sumardjo, Abutari, Tio Poo Tjiang, tan Eng Oen, Teng Sioe Tjhan, Liem Koie
Liang dan The Tik Him. Ketujuh orang ini sebenarnya sudah menjadi anggota organisasi
profesi akuntan Belanda, namun mereka mendukung rencana pendirian organisasi akuntan
Indonesia ini. Pada 23 Desember 1957 tercapai kesepakatan untuk mendirikan organisasi
profesi yang disebut sebagai Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) yang secara hukum
memperoleh pengesahan hukum pada awal tahun 1959.
Dalam perjalalanannya, sampai awal tahun 1970an, profesi akuntansi tidak mengalami
perkembangan, karena perekonomian nasional yang mengalami kesulitan sejak pemutusan
hubungan dengan Belanda dan negara-negara Barat dan dialkukannya nasionalisasi
perusahaan-perusahaan Belanda. Selama lebih dari 10 tahun , hanya terdapat 12 kantor
11

akuntan. Dengan terbukanya kembali investasi asing pada tahun 1967 dan untuk persiapan
pembukaan kembali pasar modal, IAI diminta Pemerintah untuk menguatkan profesi dengan
mengeluarkan Prinsip Akuntasi Indonesia (PAI), Norma Pemerikasaan Akuntani (NPA), dan
Kode Etik Akuntan. Standar dan Kode Etik ini kemudian diperbaharui dari tahun ketahun.
Namun kedatangan investasi asing ini diikuti pula dengan kedatangan akuntan asing.
Kehadiran akuntan asing ini menimbulkan ketegangan yang panjang selama bertahun-tahun,
antara Pemerintah sebgai pemberi izin dan profesi akuntan.
Pada tahun 1979, profesi akuntan mendapat kepercayaan dari Pemerintah untuk
berperan dalam peningkatan pendapatan pajak. Melalui SK Menteri Keuangan tahun 1979
mengatur laporan keuangan wajib pajak yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan opini
Wajar Tanpa Pengecualian harus diterima oleh kantor pajak sebagai dasar perhitungan pajak,
kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. Ketika itu, sistem perpajakan masih menganut Official
Assesment System dimana perhitungan pajak dilakukan oleh Kantor Pajak. Kepercayaan
tersebut tidak dilaksanakan dengan baik oleh profesi. Banyak terjadi manipulasi laporan
keungan yang berdampak pada banyak akuntan publik yang dikenakan hukuman dan sampai
dicabut izinnya. Kepercayaan ini akhirnya ditarik kembali oleh Departemen Keuangan, dan
bahkan dibentuk

Tim Pembina Akuntan Publik sebagai bentuk kekurangpercayaan

Pemerintah terhadap kemampuan IAI untuk mengawasi anggotanya.


Pada tahun 1990an, profesi akuntan semakin diakui perannya yang terlihat dari
dimasukkannya persyaratan pembuatan Laporan Keuangan berdasarkan standar akuntansi
yang disusun oleh IAI dan kewajiban untuk diaudit untuk perusahaan-perusahaan tertentu
sebagaimana dinyatakan dalam berbagai Undang-Undang. Puncaknya terjadi pada akhir
tahun 1990an. Untuk menghadapi liberalisasi pasar jasa akuntan, IAI diberdayakan dengan
diberi kewenangan untuk pengujian dan pemberian sertifikasi akuntan (yang kemudian
dikenal dengan USAP), pendidikan lanjuta (PPL) dan pembinaan terhadap anggota. USAP
hanya dapat diakui oleh Akuntan dan lulusan USAP berhak untuk menggunakan gelar
Bersertifikat Akuntan Publik (BAP).
Mengikuti tren yang terjadi di Amerika Serikat, pada tahun 2001 Departemen
Keuangan mulai merintis pembuatan RUU Akuntan Publik yang pada dasarnya memberikan
pengaturan yang lebih ketat terhadap akuntan publik, termasuk ancaman hukumannya. RUU
ini mengalami penolakan dari profesi. Dengan penolakan ini, Departemen Keuangan
memperhitungkan bahwa proses pengesahan RUU ini membutuhkan waktu yang lama
12

sehingga mereka pada tahun 2002 mengeluarkan SK Menteri Keuangan yang isinya
mengadopsi sebagian dari RUU. Hal yang signifikan dan berpengaruh terhadap kantor
akuntan dari aturan baru ini adalah mengenai kewajiban untuk rotasi. Sementara itu, banyak
perkembangan lain dalam organisasi IAI. Pada tahun 1977 didirikan Seksi Akuntan Publik,
yang dikenal dengan sebutan IAI-SAP ini merupakan aspirasi dari akuntan publik. Seorang
aktivis senior IAI menyatakan : Di Sleuruh dunia, akuntan publik diurus akuntan publik,
akuntan publik yang memimpin organisasi profesi(Tuanakotta, 2007).
Pada tahun 1994 IAI-SAP berubah menjadi Kompartemen Akuntan Publik dengan pemberian
otonomi dalam melakukan disiplin profesi. Pendirian Kompartemen Akuntan Publik ini
diikuti oleh pendirian Kompartemen Akuntan Manajemen, Kompartemen Akuntan Pendidik,
dan terakhir Kompartemen Akuntan Sektor Publik. Selanjutnya pada tahun 2008,
Kompartemen Akuntan Publik dan Kompartemen Akuntan Manajemen menjadi organisasi
dengan badan hukum yang terpisah dari IAI dengan nama Insitut Akuntan Publik Indonesia
(IAPI) dan Institut Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI). IAPI dan IAMI sebagai asosiasi
menjadi anggota dari IAI. Sementara itu, pada tahun 2014, IAI membentuk Kompartemen
Akuntan Pajak.
Selain itu, juga terjadi perkembangan dalam profesi akuntan. Pada tahun 1980,
lulusan perguruan tinggi swasta berkesempatan untuk menjadi akuntan dengan mengikuti
Ujian Nasional Akuntan (UNA). Pada tahun 1998 sistem UNA dihapuskan dan Program
Pendidikan Profesi Akuntan (PPAk) yang harus diikuti baik oleh lulusan perguruan tinggi
negeri maupun swasta untuk memperoleh sebutan akuntan. Pada akhir periode 2000an,
dengan desakan dari Lembaga Donor Internasional untk meningkatkan kualitas corporate
governance di Indonesia, Departemen Keuangan kembali memproses RUU Akuntan Publik.
Pada tahun 2011, UU nomor 5 tahun 2011 tantang Akuntan Publik disahkan. UU membuka
kesempatan yang lebih luas untuk menjadi akuntan publik. Tidak terbatas hanya akuntan.
Dengan demikian proses untuk mengikuti ujian sertifikasi menjadi lebih pendek. IAPI
ditetapkan oleh Kementerian Keuangan sebagai Asosiasi Profesi Akuntan Publik. IAPI
menanamkan ijian sertifikasi sebagai CPA of Indonesia Exam dan pemegang sertifikat
disebut Certified Public Accountant of Indonesia (CPA).
Pada tahun 2014an, Kementerian Keuangan mengeluarkan aturan baru mengenai
Akuntan Registrasi Negara melalui Peraturan Menteri Keuangan No 25/PMK.01/2014.
Akuntan Registrasi Negara merupakan sebutan dari akuntan yang dikenal sebelumnya sesuai
13

dengan UU No 34 tahun 1954. Perbedaannya adalah jika sebelumnya untuk memperoleh


sebutan akuntan harus mengikuti Program Pendidikan Profesi Akuntan, dengan aturan yang
sekarang, untuk menjadi Akuntan Registrasi Negara dapat melalui ujian sertifikasi akuntan
profesional. Seorang akuntan registrasi negara dapat mendirikan Kantor Jasa Akuntansi.
Kantor Jasa Akuntansi dapat memberikan jasa akuntansi seperti jasa pembukuan, jasa
kompilasi laporan keuangan, jasa manajemen akuntansi manajemen, konsultasi manajemen,
jasa perpajakan, jasa prosedur yang disepakati atas informasi keuangan, dan jasa sistem
teknologi informasi. Kantor Jasa Akuntansi dilarang memberikan jasa asurans.

14

DAFTAR PUSTAKA
Ronald F. Duska, B.S. Duska, J. Ragatz (2011). Accounting Ethics. Blackwell Publishing,
2nd edition. Chapter 4
Kartikahadi, Hans (2010), Pelangi di Cakrawala Profesi Akuntan, Sebuah Memoar, PT Buana
Ilmu Populer
Lee, Tom, 1995, The professionalization of accountancy. A history of protecting the public
interest in a self-interested way, Accounting, Auditing & Accountability Journal, 8,4,
48-69
Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 25/PMK.01/2014 Tentang Akuntan Register Negara
Tuanakotta, Theodorus M. (2007), Setengah Abad Profesi Akuntan, Penerbit Salemba Empat
Undang-Undang No. 34 Tahun 1954 tentang Pemakaian Gelar Akuntan
Undang-Undang No.5 Tahun 2011 tentang Akunta Publik
Walker, Stephen P., 2004, The Genesiss of Profesional Organization in English Accountancy,
Accounting, Organization and Society, 29, 127-156
Wilmoth, Hugh, 1986, Organising the profession: a Theoretical and Historical Examination
of the Development of the Major Accountancy Bodies in the UK, Accounting,
Organization and Society, 11, 6, 558-680

15