Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum

Dasar-Dasar Ekologi
DEKOMPOSISI

OLEH:
NAMA

: NUR LIRIYANTI INDRA

NIM

: G11116358

KELOMPOK : III
KELAS

: EKOLOGI A

ASISTEN

: ARI NUR MUHAMMAD QADRI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sumber daya alam hayati didefinisikan sebagai unsur-unsur
di alam yang terdiri dari sumber-sumber alam nabati dan hewani
yang bersama dengan unsur non hayati disekitarnya secara
keseluruhan membentuk suatu ekosistem (UU No. 5 tahun 1990).
Di alam terdapat banyak sumber daya alam hayati, misalnya
vegetasi pohon, yang senantiasa mengalami pertumbuhan.
Pertumbuhan

pohon

menurut

Fakuara

(1990),

adalah

bertambahnya massa sel (nutrien dan air) yang tidak dapat


kembali lagi (tidak susut). Tingkat pertumbuhan tersebut dapat
dipengaruhi oleh faktor biotik (mikroorganisme, tumbuhan, dan
hewan) dan abiotik (misalnya iklim dan tanah) yang dikenal
sebagai faktor luar pertumbuhan. Selain itu, pertumbuhan juga
dipengaruhi oleh faktor dari dalam seperti struktur tumbuhan
(sel, jaringan, organ, dan organisme) dan fungsi dari tumbuhan
tersebut.
Selain faktor-faktor tersebut di atas, suplai hara menjadi
sangat penting sebagai faktor yang dapat membangun suatu
pohon. Dalam menjabarkan konsep suplai hara, dikenal istilah
biogeokimia. Sebagai gambaran, ekosistem hutan merupakan
sebuah sistem terbuka yang memungkinkan adanya proses
keluar masuk elemen-elemen kimiawi pada sistem tersebut
sehingga memberntuk mata rantai yang luas dan global. Proses
peredaran elemen-elemen kimiawi ini terjadi secara terusmenerus dalam ekosistem dan menciptakan suatu sistem siklus

internal. Sistem siklus internal inilah yang kemudian disebut


sebagai siklus biogeokimia.
Dalam siklus biogeokimia, salah satu proses yang sangat
berperan adalah proses dekomposisi. Proses dekomposisi sangat
berperan dalam perngolahan serasah yang dihasilkan di alam.
Dekomposisi serasah adalah perubahan fisik maupun kimiawi
yang sederhana oleh mikroorganisme tanah (yaitu bakteri, fungi,
dan hewan tanah lainnya) atau sering disebut juga mineralisasi
yaitu proses penghancuran bahan organik yang bersal dari
hewan

dan

tanaman

menjadi

senyawa-senyawa

organik

sederhana (Sutedjo et al. 1991). Dapat disimpulkan bahwa


adanya

proses

dekomposisi

menyebabkan

elemen-elemen

kimiawi dalam suatu sistem dapat beredar membentuk siklus


internal yang selanjutnya disebut sebagai siklus biogeokimia.
Dalam

proses

alamiahnya,

serasah

tersebut

akan

mengalami proses dekomposisi yang pada umumnya terjadi


dalam waktu yang cukup lama. Proses dekomposisi dalam
keadaan alamiahnya yang berlangsung cukup lama dapat kita
percepat melalui beberapa tindakan khusus tanpa merusak
ekologi yang ada.
Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukanlah percobaan ini
untuk mengamati bagaimana proses dekomposisi yang terjadi di
alam dengan mmbuat model sederhana proses dekomposisi. Hal
utama yang diamati pada percobaan ini adalah laju dekomposisi
serasah pada model sederhana yang telah dibuat.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Adapun tuujuan percobaan ini yaitu untuk mengetahui
proses dan tingkat dekomposisi daun dari beberapa vegetasi
pohon.

Percobaan diharapkan dapat berguna dalam memberikan


pemahaman tentang proses dekomposisi serta faktor-faktor yang
mempengaruhi laju dekomposisi bahan tanaman.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Dekomposisi
Dekomposisi serasah adalah perubahan fisik maupun kimiawi
yang sederhana oleh mikroorganisme tanah (bakteri, fungi dan
hewan tanah lainnya) atau sering disebut juga mineralisasi yaitu
proses penghancuran bahan organik yang berasal dari hewan
dan tanaman menjadi senyawa-senyawa organik sederhana
(Sutedjo et al. 1991).

Dekomposisi merupakan proses yang

sangat komplek yang melibatkan beberapa faktor (Dezzeo et al.


1998).
Proses dekomposisi berjalan secara bertahap, dimana laju
dekomposisi paling cepat terjadi pada minggu pertama. Hal ini
dikarenakan pada serasah yang masih baru masih banyak

persediaan unsur-unsur yang merupakan makanan bagi mikroba


tanah atau bagi organisme pengurai, sehingga serasah cepat
hancur (Dita, 2007).
2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Dekomposisi
Menurut

Aldha

(2013),

proses

dekomposisi

serasah

dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan fisik,


kualitas dan kuantitas substrat yang tersedia untuk dekomposer,
serta karakteristik komunitas mikroba dan kapasitas enzimatis.
2.2.1 Kondisi lingkungan fisik
a. Temperatur
Secara langsung, temperatur mempengaruhi proses
dekomposisi dengan meningkatkan aktivitas mikroba dan
secara tidak langsung dengan mengubah kelembaban
tanah serta kuantitas dan kualitas masukan bahan organik
ke dalam tanah. Peningkatan temperatur menyebabkan
peningkatan

proses

mineralisasi

karbon

temperatur

yang

respirasi
organik
tinggi

mikroba-mempercepat

menjadi
secara

CO2.
terus

Keadaan
menerus

menyebabkan proses dekomposisi berlangsung dengan


lebih cepat.
Temperatur tinggi juga menimnbulkan pengaruh tak
langsung dalam proses dekomposisi, seperti mengurangi
kelembaban tanah dengan meningkatkan evaporasi dan
transpirasi.

Selain

itu,

pelepasan

nutrisi

oleh

proses

dekomposisi pada temperatur tinggi dapat meningkatkan


kualitas dan kuantitas sampah (serasah) yang diasilkan
oleh tanaman.
b. Kelembaban
Dekomposer mengalami kondisi paling produktif dalam
kondisi lembab yang hangat (pasokan oksigen yang cukup
tersedia).

Tingkat

dekomposisi

umumnya

mengalami

penururan pada kelembaban tanah yang kurang dari 3050% dari massa kering dikarenakan penurunan ketebalan
dari lapisan lembab pada permukaan tanah.
c. Sifat tanah
Proses dekomposisi terjadi lebih cepat pada kondisi
netral

daripada

kondisi

asam.

Peningkatan

secara

menyeluruh di tingkat dekomposisi pada pH yang lebih


tinggi

mungkin

interaksi

antar

mencerminkan
faktor,

adanya

termasuk

kompleksitas

perubahan

dalam

komposisi spesies tumbuhan dan terkait dengan perubahan


dalam

kuantitas

penyebab

dan

perubahan

kualitas

sampah.

keasaman

dan

Terlepas

komposisi

dari
jenis

tanaman yang terkait, pH rendah cenderung dikaitkan


dengan tingkat dekomposisi yang rendah.
d. Gangguan pada tanah
Gangguan pada tanah berpengaruh pada peningkatan
dekomposisi dengan mempromosikan proses aerasi serta
mengekspos permukaan baru untuk proses penyerangan
oleh mikroba. Mekanisme dimana proses gangguan ini
merangsang terjadinya dekomposisi pada dasarnya sama
pada semua skala; mulai dari pergerakan cacing di dalam
tanah sampai proses pengolahan tanah pada bidang
pertanian.

Peristiwa

proses

ini

pada

hakikatnya

mengganggu agregat tanah sehingga bahan organik yang


terkandung di dalamnya menjadi lebih terbuka terhadap
oksigen dan kolonisasi oleh mikroba. Dampak gangguan
pada tanah ini yang paling menonjol terlihat pada keadaan
tanah basah yang hangat dimana proses aerasi yang telah
meningkat
dekomposisi.

ini

besar

pengaruhnya

terhadap

proses

2.2.2 Kualitas dan kuantitas substrat


2.2.3 Karakteristik

komunitas

mikroba

dan

kapasitas

enzimatis
Aktivitas

enzim

dalam

tanah

bergantung

pada

komposisi komunitas mikroba dan sifat dari matriks tanah.


Komposisi dari komunitas mikroba berperan sangat penting
karena komposisi tersebut sangat berpengaruh terhadap
jenis dan tingkat produksi enzim. Enzim pemecah substrat
umum seperti protein dan selulosa dihasilkan oleh begitu
banyak jenis

mikroba

(dimana

jenis

enzim-enzim ini

memang secara universal sering djumpai di dalam tanah).


Enzim-enzim yang terlibat di dalam proses-proses yang
hanya terjadi dalam lingkungan tertentu, seperti proses
denitrifikasi (atau produksi metana) dan oksidasi, tampak
lebih sensitif terhadap komposisi komunitas mikroba ini.
Aktivitas enzim tanah juga dipengaruhi oleh tingkat laju
penonaktifan enzim di dalam tanah, baik oleh degradasi
oleh protease tanah atau dengan cara mengikat mineral
tanah. Peristiwa pengikatan enzim ke permukaan eksternal
dari akar atau mikroba mengakibatkan perpanjangan
aktivitas enzim di dalam tanah; sedangkan pengikatan
terhadap partikel mineral dapat mengubah konfigurasi
enzim atau memblokir lahan aktif dari enzim tersebut
sehingga mengurangi aktivitasnya.
Sebagian

besar

mikroba

tanah

(termasuk

jamur

ericoid dan ektomikoriza) menghasilkan enzim (protease


dan peptidase) yang memecah protein menjadi asam
amino. Produk-produk penguraian ini dapat dengan segera

diserap

oleh

mikroba

dan

digunakan

baik

untuk

memproduksi protein mikroba ataupun memberikan energi


respirasi. Dikarenakan protease merupakan subjek yang
sering diserang oleh protease lain, umur hidup enzim ini di
dalam tanah relatif pendek, dan aktivitas protease ini
cenderung merupakan cerminan dari aktivitas mikroba.
Namun

lain

halnya

dengan

fosfatase

(enzim

yang

membelah fosfat dari senyawa fosfat organik) yang dapat


hidup lebih lama, sehingga aktivitas enzim ini di tanah
berkorelasi lebih kuat terhadap ketersediaan fosfat organik
di dalam tanah daripada dengan aktivitas mikroba.
Selulosa merupakan penyusun senyawa kimia yang
paling banyak ditemukan dari sampah tanaman yang ini
terdiri dari rantai unit glukosa, sering memiliki panjang
ribuan unit, namun tidak ada glukosa ini yang tersedia
sampai

diaktivasikannya

oleh

eksoenzim.

Proses

pemecahan selulosa memerlukan tiga sistem enzim yang


terpisah,

yaitu endoselulase sebagai

internal

untuk

mengganggu

selulosa; eksoselulase kemudian

pemutus

ikatan

struktur
bertindak

kristal
sebagai

pembelah unit disakarida dari ujung-ujung rantai yang


membentuk

selobiosa;

yang

kemudian

diserap

oleh

mikroba dan dipecah secara intraseluler menjadi glukosa


oleh selobiase.

Beberapa

mikroba

tanah,

termasuk

sebagian besar fungi, dapat menghasilkan seluruh paket


enzim selulase. Organisme lain, seperti beberapa bakteri,
hanya menghasilkan beberapa enzim selulase dan harus
berfungsi sebagai bagian dari konsorsium mikroba untuk
mendapatkan energi dari pemecahan selulosa.

Penguraian komponen lignin membutuhkan proses


yang

perlahan-lahan

dikarenakan

hanya

beberapa

organisme mikroba (terutama fungi) yang memproduksi


enzim yang diperlukan pada proses ini; dan mikroba inipun
hanya menghasilkan enzim apabila substrat yang lebih labil
lainnya sudah tidak tersedia. Lignin terbentuk secara nonenzimatik oleh reaksi kondensasi dengan fenol serta radikal
bebas yang menciptakan struktur tidak beraturan yang
tidak sesuai dengan spesifikasi untuk teruraikan oleh
enzim-enzim pada umumnya. Untuk alasan ini, enzim
pendegradasi lignin menggunakan radikal bebas, yang
memiliki

spesifisitas

substrat

yang

rendah.

Oksigen

diperlukan untuk menghasilkan radikal bebas ini, sehingga


proses penguraian lignin tidak dapat terjadi pada keadaan
tanah

anaerobik.

Dekomposer

umumnya

berinvestasi

energi dalam memproduksi enzim pendegradasi lignin ini.

2.3. Pentingnya Proses Dekomposisi


Di alam, secara mutlak akan terjadi proses pertumbuhan
dan

kematian

organisme.

Dalam

hidupnya,

organisme

fotosintetik dapat memproduksi bahan organik mencapai 10 17


gram (sekitar 100 miliar ton) setiap tahun. Jumlah ini hamper
sama dengan yang dioksidasi kembali menjadi CO 2 dan H2O
selama interval waktu yang sama, sebagai hasil dari aktivitas
respirasi organisme hidup. Tapi keseimbangan itu tidak pasti
(Ambo, 2016).
Menurut Ambo (2016), hampir seluruh era geologi, fraksi
bahan organik dihasilkan ternyata didekomposisi tidak sempurna
pada sedimen anaerobik (anoxic) atau terkubur menjadi fosil

tanpa respirasi (dekomposisi). Kelebihan produksi bahan organik


dapat menyebabkan berkurangnya CO2 dan meningkatkan O2 di
udara pada era geologi. Setiap peristiwa dimana O 2 lebih tinggi
dan CO2 lebih rendah memungkinkan evolusi dan kelangsungan
hidup organisme berlanjut.
Lebih lanjut oleh Ambo (2016), selama 60 miliar tahun yang
lalu keseimbangan biotik telah bergeser, berbarengan dengan
variasi aktivitas vulkanik, pelapukan batuan, sedimentasi, dan
input radiasi menyebabkan oksilasi ratio CO2/O2 di atmosfir.
Selama

pertengahan

abad

lalu,

aktivitas

agroindustri

meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfir. Pada tahun 1977,


pimpinan negara bertemu di Tokyo, Jepang karena hal tersebut
berpotensi

menyebabkan

perubahan

iklim,

yang

menjadi

persoalan serius dunia. Jika proses dekomposisi berjalan dengan


baik, maka siklus biogeokimia akan berlangsung dengan baik
pula sehingga hasil produksi organisme fotosintetik yang berlebih
dapat terdaur menjadi bahan yang tidak merugikan ekosistem,
seperti siklus-siklus tertentu pada pendauran gas-gas.
Selain berperan dalam siklus pendauran hasil produksi
berlebih dari organisme fotosintetik, proses dekomposisi memiliki
peranan yang sangat penting dalam penguraian serasah di alam.
Penguraian

serasah

menjadi

penting

guna

membersihkan

lingkungan dari sampah dan juga sebagai pemasok hara bagi


organisme fotosintetik. Jika dekomposisi ini tidak terjadi, dunia
akan penuh dengan sampah dan semua hara akan tetap berada
pada

tubuh

organisme

mati

kehidupan baru (Ambo, 2016).

sehingga

tidak

menghasilkan

BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Percobaan dimulai sejak tanggal di 7 September 2016
sampai 7 nopember 2016 berlokasi di Teaching Farm Universitas
Hasanuddin Makassar.
3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan adalah linggis, sekop,
cutter, oven, timbangan, dan alat tulis menulis. Sedangkan
bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tiga jenis daun
vegetasi pohon yaitu daun pohon bungur, daun pohon kupukupu, dan daun pohon kihujan, tanah, polybag ukuran 30x40 cm,
kantong plastik gula, dan label. Ketiga jenis daun dari vegetasi
pohon tersebut yang digunakan adalah daun segar dan daun
kering.
3.3. Perlakuan
Perlakuan yang dilakukan pada objek percobaan adalah
proses dekomposisi daun dari ketiga jenis tanaman (A, B, dan C).
Masing-masing terdiri dari daun segar yang dicacah (1) dan daun
kering yang dicacah (2) sehingga terdapat 6 perlakuan. Setiap
perlakuan diambil masing-masing seberat 10g lalu dimasukkan
ke dalam kantong plastik gula untuk kemudian disimpan dalam
polybag yang telah diisi tanah.

3.4. Metode Pelaksanaan


Adapun metode pelaksanaan pada percobaan ini adalah:
1. Menyiapkan alat dan bahan percobaan;
2. Mengamati sifat fisik daun kering dan segar dari tiga vegetasi
pohon yang berbeda, yaitu daun pohon kihujan, daun pohon
bungur, dan daun pohon kupu-kupu;
3. Mencacah daun dari tiga jenis vegetasi pohon yang berbeda;
4. Menimbang
daun-daun
yang
telah
dicacah
dan
mengemasnya ke dalam kantong plastik gula;
5. Mengisi polybag dengan tanah sebanyak bagian dari
polybag;
6. Memasukkan daun yang telah dikemas ke dalam polybag:
setiap polybag diisi dengan dua kemasan daun sejenis (segar
dengan segar, dan kering dengan kering);
7. Menutup polybag dengan tanah hingga kemasan daun tidak
telihat atau hingga polybag penuh;
8. Mengamati sifat fisik daun yang telah diberi perlakuan
setelah satu bulan, mengeringkan daun dalam oven dan
menimbang kembali daun, lalu menimbun daun kembali ke
posisi semula;
9. Mengamati sifat fisik daun yang telah diberi perlakuan
setelah dua bulan, mengeringkan daun dalam oven dan
menimbang kembali daun, lalu menimbun daun kembali ke
posisi semula;
10. Komponen yang diamati adalah laju dekomposisi.