Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum

Dasar-Dasar Ekologi
SUKSESI

OLEH:
NAMA

: NUR LIRIYANTI INDRA

NIM

: G11116358

KELOMPOK : III
KELAS

: EKOLOGI A

ASISTEN

: ARI NUR MUHAMMAD QADRI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ekosistem di bumi ini pada dasarnya terjadi secara alami.
Seluruh komponen organisme dalam ekosistem alami terbentuk
dengan seimbang dimana aliran energi dan siklus materi terjadi
dengan baik. Organisme yang hidup pada ekosistem alami akan
terus mengalami pertumbuhan yang tidak dapat dikendalikan.
Pertumbuhan tersebut akan berhenti ketika ekosistem telah
mencapai keseimbangannya. Sebagai contoh hutan hujan tropis
atau hutan-hutan perawan lainnya.
Namun seiring berjalannya kehidupan di dunia, ekosistem
alami mulai mengalami penurunan luas wilayah. Sebagian
wilayah ekosistem alami diubah menjadi pabrik, hunian, dan
bahkan digantikan dengan ekosistem baru yang dibuat oleh
manusia. Ekosistem yang dibuat oleh manusia inilah yang
dinamakan ekosistem buatan. Pertanian (lahan tani) adalah
ekosistem buatan manusia.
Ekosistem yang dibuat oleh manusia tentu mengalami
perubahan dari ekosistem alaminya. Perubahan tersebut meliputi
komposisi

organisme

dalam

ekosistem,

jumlah

dan

jenis

organisme, luas cakupan ekosistem, dan sebagainya. Perubahan


yang terjadi dirancang sesuai dengan kebutuhan manusia
sehingga antara ekosistem buatan yang satu dengan ekosistem
buatan yang lain boleh jadi berbeda.
Proses-proses perubahan yang dilakukan oleh manusia
untuk membentuk ekosistem buatan sebenarnya merupakan
suatu

tindakan

pengrusakan

terhadap

ekosistem

alami.

Ekosistem alami yang berada pada keadaan seimbang menjadi


rusak dan tidak seimbang lagi. Akibatnya, organisme yang
tersisa

pada

mengembalikan

ekosistem

buatan

keseimbangan

manusia

seperti

akan

semula.

berusaha
Organisme-

organisme tersebutlah yang menjadi pionir dalam pembentukan


keseimbangan bagi ekosistem. Dapat kita lihat misalya pada
sebidang kebun jagung yang setelah panen ditinggalkan dan
tidak ditanami lagi. Di situ akan bermunculan berbagai jenis
tumbuhan gulma yang membentuk komunitas. Apabila lahan itu
dibiarkan cukup lama, dalam komunitas yang terbentuk dari
waktu

ke

waktu

akan

terjadi

pergantian

komposisi

jenis

(Resosoedarmo, 1990 dalam Lepiyanto, 2011).


Dalam Lepiyanto (2011), pada masa awal dapat saja
komunitas yang terbentuk tersusun oleh tumbuhan terna seperti
badotan, rumput pahit, rumput teki, dan sebagainya. Tetapi
beberapa tahun kemudian di tempat yang sama, yang terlihat
adalah komunitas yang sebagian besar tersusun oleh tumbuhan
perdu

dan

pohon

seperti

kirinyu,

senduduk,

laban,

dan

sebagainya, atau dapat pula hanya terdiri atas alang-alang. Bila


tidak terjadi gangguan apa pun selama proses tersebut berjalan
akan terlihat bahwa perubahan itu berlangsung ke satu arah
(Irwan,

1992).

Proses

perubahan

dalam

komunitas

yang

berlangsung menuju ke satu arah secara teratur disebut suksesi.


Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik
dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan
sebuah

komunitas

atau

ekosistem

yang

disebut

klimaks.

Dikatakan bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah


mencapai homeostatis. Ini dapat diartikan bahwa komunitas
sudah dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai
akibat dari tanggap (respon) yang terkoordinasi dari komponen-

komponennya terhadap setiap kondisi atau rangsangan yang


cenderung mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas.
Jadi bila suatu komunitas telah mencapai klimaks, perubahan
yang searah tidak terjadi lagi ( Resosoedarmo,1990).
Berdasarkan uraian di atas, percobaan ini dilakukan untuk
mengetahui pergeseran komunitas yang terjadi pada ekosistem
yang dirusak. Pengamatan terhadap pergeseran komunitas ini
dilakukan

hingga

komunitas

tersebut

mencapai

keseimbangannya (klimaks).
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pergeseran
vegetasi pada suatu daerah suksesi serta laju penutupan jenis
vegetasi sampai mencapai maksimal.
Percobaan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan
dasar tentang aspek-aspek suksesi serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Suksesi
Menurut Sutomo (2009) suksesi ekologi adalah suatu proses
perubahan
selama

komponen-komponen

selang

waktu

tertentu.

spesies

suatu

Menyusul

komunitas

adanya

sebuah

gangguan, suatu ekosistem biasanya akan berkembang dari


mulai tingkat organisasi sederhana (misalnya beberapa spesies
dominan) hingga ke komunitas yang lebih kompleks (banyak
spesies

yang

interdependen)

selama

beberapa

generasi

(Sutomo, 2009 dalam Lepiyanto, 2011)


Suksesi terjadi apabila suatu daerah mengalami kerusakan
yang menyebabkan ekosistem menjadi tidak seimbang. Pada

dasarnya,

organisme

melakukan

di

ekosistem

pertumbuhan

dan

alami

akan

senantiasa

perkembangbiakan

untuk

mencapai keseimbangan di alam. Apabila ekosistem mengalami


kerusakan, maka organisme-organisme pionir akan berupaya
menyembuhkan kerusakan yang terjadi. Organisme-organisme
ini mengubah habitat yang membuatnya sesuai bagi spesies lain
menjadi mantap. Masa pendewasaan perkembangan suatu
daerah seringkali mencapai suatu keadaan relatif stabil yang
diberikan sebagai tahapan klimaks. Selama masa perkembangan
ini,

penghunian

suatu

daerah

baru,

pertama-tama

oleh

tumbuhan melandasi jalan bagi hewan-hewan untuk tinggal di


dalamnya disebut suksesi. Suksesi adalah suatu cara umum
perubahan progresif dalam komposisi spesies suatu komunitas
yang sedang berkembang. Hal ini secara bertahap disebabkan
oleh reaksi biotik dan berlangsung melalui sederetan tahapan
dari tahapan pelopor menuju tahapan klimaks (Michael, 1996).
Dalam Susanto (2002), selama suksesi berlangsung hingga
tercapai keseimbangan dinamis dengan lingkungannya, terjadi
pergantian-pergantian masyarakat tumbuhan hingga terbentuk
masyarakat yang disebut klimaks (Soerianegara dan Indrawan,
1982). Selanjutnya dikatakan bahwa dalam masyarakat yag telah
stabil selalu terjadi perubahan-perubahan, mislanya karena
pohon-pohon yang tua dan mati, maka timbullah anakan pohon
atau pohon-pohon yang selama itu tertekan.
Adanya

perubahan

di

dalam

masyarakat

tumbuhan

terutama disebabkan oleh aktivitas masing-masing masyarakat


tumbuhan di dalam lingkungannya sendiri. Dijelaskan lebih lanjut
bahwa di dalam hutan, pohon-pohon akan meningkat dalam
bentuk

dan

akibatnya

ukurannya,

kelembaban

sehingga
akan

bersifat

bertambah

menaungi

tinggi.

dan

Tumbuhan

mengambil hara dari dalam tanah dalam bentuk yang berbeda.


Akumulasi humus, perubahan pH tanah dan kandungan air
semuanya akan berubah, akibatnya habitat akan berubah pula.
Perubahan ini akan menciptakan keadaan habitat yang baik
untuk pertumbuhan jenis yang lain dari yang sudah ada
sebelumnya. Dengan demikian, jenis yang berbeda dalam kondisi
selanjutnya akan menguasai (Clarke, 1954 dalam Susanto,
2002).
2.2. Jenis-jenis Suksesi
Proses terjadinya suksesi terbagi menjadi dua macam, yaitu
suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer bermula
dari suatu habitat yang tidak bervegetasi sebelumya, sedangkan
suksesi sekunder bermula dari suatu habitat yang tadinya sudah
ditumbuhi vegetasi yang kemudian terjadi kerusakan yang
disebabkan

oleh

adanya

gangguan

seperti

bencana

alam

(kebakaran, banjir, gunung meletus) atau kerusakan oleh adanya


perladangan, vegetasinya rusak dan musnah digantikan oleh
jenis tumbuhan baru yang sesuai dengan keadaan tempat
terbuka (Manan, 1978 dalam Susanto, 2002).
Menurut Listia, dkk (2014) terdapat dua jenis suksesi yang
terjadi di alam. Kedua jenis suksesi tersebut, yaitu:
2.2.1

Suksesi primer

Suksesi primer adalah suksesi yang terjadi pada lahan atau


wilayah yang mula-mula tidak bervegetasi atau lahan yang
pernah bervegetasi, tetapi mengalami gangguan berat hingga
komunitas asal hilang secara total atau tidak ada lagi kehidupan.
Gangguan berat tersebut antara lain letusan gununng berapi,
gempa bumi, tanah longsor, endapan lumpur di muara sungai,
endapan pasir di pantai, dan meluapnya lumpur panas. Substrat
atau habitat baru yang terbentuk akibat gangguan berat tersebut

kemudian berangsur-angsur mengalami perkembangan kea rah


terbentuknya komunitas baru yang lebih kompleks hingga
mencapai

komunitas

klimaks

yang

memiliki

keseimbangan

lingkungan yang dinamis.


2.2.2
Suksesi sekunder
Suksesi sekunder adalah suksesi yang terjadi padalahan
atau wilayah yang pada awalnya telah bervegetasi sempurna,
kemudian

mengalami

kerusakan

tetapi

tidak

sampai

menghilangkan komunitas asal secara total. Pada suksesi primer,


vegetasi dan bakal kehisupan lainnya berasal dari luar habitat
asli. Sementara pada suksesi sekunder, vegetasi dan bakal
kehidupan lainnya berasal dari habitatnya sendiri dan sebagian
lainnya berasal dari luar.
2.3. Faktor-faktor

yang

Mempengaruhi

Kecepatan

Suksesi
Laju

pertumbuhan

populasi

dan

komposisi

spesies

berlangsung dengan cepat pada fase awal suksesi, kemudian


menurun

pada

perkembangan

berikutnya.

Kondisi

yang

membatasi laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies


pada tahap berikutnya adalah faktor lingkungan yang kurang
cocok untuk mendukung kelangsungan hdup permudaan jenisjenis tertentu (Marsono dan Sastrosumarto, 1981 dalam Akhiarni,
2008).
Dalam Listia, dkk (2014) disebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya proses suksesi, yaitu:
1. Luas habitat asal yang mengalami kerusakan;
2. Jenis-jenis tumbuhan di sekitar ekosistem yang terganggu;
3. Kecepatan pemencaran biji atau benih dalam ekosistem
tersebut;

4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membawa biji,


spora,

dan

benih

lain

serta

curah

hujan

yang

sangat

berpengaruh dalam proses perkecambahan;


5. Jenis substrat baru yang terbentuk.
Proses suksesi juga dapat dipengaruhi oleh pengaruh level
genangan (frekuensi dan tingginya) dan kedalaman lapisan tanah
olah terhadap perubahan komunitas spesies tertentu, misalnya
gulma. Menurut Pons (1985), De Oliveira-Filho et al (1989), dan
Crawley (1989) faktor genangan dan kedalam lapisan tanah olah
memiliki pengaruh yang besar terhadap komposisi komunitas.
Tanah secara tidak langsung akan mempengaruhi sejumlah
faktor, antara

lain cahaya

dan temperature.

Cahaya

dan

temperatur memiliki peran penting dalam proses germinasi


(perkecambahan), pemunculan kecambah, dan pertumbuhan
semai.

Sementara

interaksi

antara

faktor

genangan

dan

kedalaman lapisan tanah ola akan menentukan viabilitas biji


gulma, jumlah jenis, melimpahnya gulma, dan pola distribusinya
(Purnomo, 2011).

BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Percobaan dilakukan pada tanggal 21 September 2016
bertempat di Teaching Farm Universitas Hasanuddin Makassar.
3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan adalah meteran, alat
hitung, alat tulis menulis, korek api, parang, dan cangkul.
Sedangkan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah
patok, tali, dan pasir.
3.3. Perlakuan
Lahan yang dibagi menjadi empat plot diberikan perlakuan
berbeda-beda, yaitu P0 tanpa pengrusakan tanah, P1 dilakukan
pengrusakan tanah, P2 dilakukan penutupan dengan pasir, dan
P3 dilakukan pembakaran lahan.
3.4. Metode Pelaksanaan

Adapun metode pelaksanaan pada percobaan ini adalah:


1. Menyiapkan alat dan bahan percobaan;
2. Membagi lahan menjadi empat plot;
3. Mengamati komunitas vegetasi pada setiap plot dengan
mencatat jumlah jenis populasi daun sempit dan daun lebar;
4. Memberikan perlakuan pada setiap plot sesuai dengan
metode;
5. Melakukan pengamatan kembali setelah 7 hari dan selanjutnya
setiap 2 pekan sekali;
6. Menghitung parameter pengamatan untuk menentukan tingkat
perkembangan ekosistem yang meliputi:
a) Dominasi jenis;
b) Dominasi relatif (%);
c) Kepadatan jenis;
d) Kepadatan relatif;
e) Frekuensi jenis;
f) Frekuensi relati.