Anda di halaman 1dari 11

Makalah Bintang

A. Bintang
Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya.Di mana bintang sendiri
terbagi menjadi bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak
menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain.
Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan
bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata).Bintang
merupakan benda langit yang jaraknya sangat jauh dari bumi. Penemuan jarak bintang baru
dapat dilihat pada abad ke-19, cara yang digunakan adalah cara paralaks trigonometri. Kita
tahu bahwa bumi bergerak mengitari matahari dalam waktu sekali keliling dalam waktu satu
tahun. Akibat gerak edar bumi, bintang yang dekat akan terlihat seolah-olah menempuh
lintasan berbentuk elips yang sebenarnya merupakan mencerminan gerak bumi.Dan matahari
adalah sebuah bintang dilihat dengan teropong bintang hanya terlihat sebagai titik cahaya saja
yang tidak ada bedanya dengan kalau kita melihat dengan mata telanjng (tanpa alat).
Penggunaan teropong atau teleskop dapat membantu pengamatan bintang lebih teliti
diantaranya:
1. Bintang yang lemah cahayanya dapat dilihat dan dimati dengan teleskop bergaris
dengan 60 cm kita dapat melihat bintang yang 100.000 kali lebih lemah dari pada bintang
terlemah yang dilihat oleh mata telanjang (tanpa alat)
2. Bintang yang jarak sudutnya sangat kecil dapat dilihat secara terpisah.

B. Tata Nama Bintang


Ada beberapa macam cara yang digunakan oleh beberapa macam cara ahli astronom
dalam memberikan nama bintang, dintaranya adalah:
a. Pemberian nama berdasarkan nama yang telah diberikan atau digunakan orang sejak zaman
kuno. Misal: Bintang Antares, Bintang Sirius, Bintang Betelgeuse, dan Bintang Aideboran.
b. Pemberian nama berdasarkan/menurut rasi konstelasi tempat bintang itu berada.Misal:
Centauri adalah bintang terterang dirasi centaurus, sedangkan bintang Centauri adalah
bintang kedua dirasi centaurus, demikian seterusnya. Untuk mengatakan urutan terangnya
bintang pada suatu rasi digunakan abjad yunani Y dan seterusnya. Bintang antares
juga disebut bintang scorpii artinya bintang terang dirasi scorpio.

c. Dalam astronomi modern, nama bintang dinyatakan menurut nomornya dalam catalog.
Missal bintang HD 226868 adalah bintang yang tercantum dalam katalog.Henry Draper
dengan nomor 226868, N31 adalah bintang yang terdapat dalam katalog Nissier dengan
nomor 31, dan bintang NGC 6205 adlah bintang yang tercantum dalam New General
Catalogue dengan nomor 6205. Bintang terdekat dengan dengan bumi setelah matahari
adalah centauri, jaraknya terhadap bumi sekitar 4,5 tahun cahaya.

C. Peta Bintang
Bila kita menengadah kelangit tampak seolah olah bumi kita dinaungi atap setengah
bola yang disebut bola langit. Bintang bintang dan benda langit lainnya seolah olah
menempel pada bola langit itu. Orang yunani kuno membagi bola langit dalam daerah daerah
yang disebut rasi atau konstelasi nama nama rasi dihubungkan dengan nama nama tokoh
dan makhluk dalam mitologi.Misal:rasi Centaurus diambil dari nama makhluk hidup
setengah kuda setengah manusia, Orion atu si pemburu, Scorpio atu kalajengking, Gemini
atau sinak kembar, Hercules atau si orang kuat, dalam dongeng yunani kuno (putra zeus atau
alemene). Andromeda yaitu putri Cepheus raja ethopia dalam dongeng yunani.international
Astronomical Union pada tahun 1928 meresmikan 88 buah rasi dan menentukan batas setiap
rasi. Dengan mempelajari peta bintang, dan nama rasi rasi bintang , kita dapat mencari letak
bintang itu di bola langit dan mempelajarinya sifat sifat atau ciri - ciri dan perubahan bintang
tadi. Seperti telah diuraikan bahwa bintang adalah anggota dari suatu galaksi, seperti matahari
adalah anggota bintang di galaksi bima sakti.

D. Cahaya Bintang
Ada bintang yang tak tampak terang ada pula yang tidak terlihat kurang terang. Energi
bintang tiba di bumipada permukaan seluas 1 cm dalam selang waktu 1 detik disebut fluks
energi bintang itu. Sebuah bintang tampak terang bila fluks energinya besar. Namun kuat
cahaya bintang bila fluks energinya besar, namun kuat cahaya bintang yang tampak oleh kita
tidak merupakan ukuran terang sebenarnya bintang itu. Bisa saja suatu bintang sebenarnya
memancarkan enegi yang relatiftidak banyak, tetapi tampak terang berhubung letaknya yang
dekat atau sebaliknya sebuah bintang menghamburkan energi secara dahsyat. Namun dari
bumi tampak lemah berhubung letaknya jauh. Energi yang dipancarkan bintang per detik
disebut luminositas bintang. Bila fluks merupakan pengukur kuat cahaya yang tampak dari
bumi, maka luminositas merupakan pengukur kuat cahaya sebenarnya bintang itu.

Matahari adalah bintang merupakan salah satu penghubung antara manusia dan
bintang bintang. Cahaya yang kasat mata ( tampak oleh mata) sebenarnya hanya merupakan
sebagian kecil gelombang elektromagnetik.
Ada beberapa yang dapat kita pelajari dengan mengamati radiasi elektromagnetik ini
yaitu:
1. Arah radiasi dari pengamatannya ini kita dapat mengamati letak dan gerak benda yang
dipancarkan.
2. Kuantitas radiasi yang kita ukur dalam hal ini adalah kuat kuat atau kecerahan radiasi kita.
3. Kualitas radiasi dalam hal ini kita mempelajari warna, spectrum, maupun sifat polarisasi.
Jadi bintang dan benda langit lainnya memencarkan seluruh kekuatan gelombang
elektromagnetiknya. Tetapi tak semuanya dapat kita tangkap dibumi karena atmosfer bumi
hanya meneruskan sebagian gelombang itu, sedangkan sebagian lainnya diserap oleh
atmosfer.

E. Terang dan Warna Bintang


Kita tak akan pernah dapat terbang secara langsung menuju bintang bintang walau
Astronot sekalipun, demikian juga jika di lihat dari teropong yang paling besar sekalipun,
bintang bintang hanya akan terlihat sebagai titik saja , Untuk itu Astronom memiliki tugas
yang berat dalam menerangkan bintang bintang yang penuh dengan liku liku .
a. Magnitudo Bintang
Secara tradisi kecerahan bintang dinyatakan dalam satuan magnitudo. Kecerahan
bintang yang kita amati, baik menggunakan mata bugil maupun teleskop, dinyatakan oleh
magnitudo tampak (m) atau magnitudo semu. Secara tradisi magnitudo semu bintang yang
dapat dilihat oleh mata bugil dibagi dari 1 hingga 6, di mana satu ialah bintang paling cerah,
dan 6 sebagai bintang paling redup, dengan demikian maka makin terang suatu bintang ,
makin kecil magnitudonya sehingga beberapa bintang yang di ketahui tidak berubah-ubah
cahayanya di ukur magnitudonya dengan cermat dapat di gunakan sebagai standar
magnitudo.Untuk lebih jelasnya kita lihat di bawah ini merupakan magnitudo beberapa benda
langit, di mana untuk planet Venus dan Jupiter di berikan pada saat terangnya maksimum.
Dalam magnitudo juga terdapat kecerahan yang diukur secara mutlak, yang menyatakan
kecerahan bintang sebenarnya. Kecerahan ini dikenal sebagai magnitudo mutlak (M), dan
terentang antara +26.0 sampai -26.5. Magnitudo adalah besaran lain dalam menyatakan fluks

pancaran, yang terhubungkan melalui persamaan, dimana m adalah magnitudo semu dan E
adalah fluks pancaran.
b. Warna Bintang
Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman dari
Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau
luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal
sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelas-kelas berikut :
0 Maha maha raksasa
I Maharaksasa
II Raksasa-raksasa terang
III Raksasa
IV Sub-raksasa
V deret utama (katai)
VI sub-katai
VII katai putih
Kita melihat warna bintang brbda beda , matahari berwarna putih kekuningkuningan. Sirius berwarna biru, Betelgense berwarna merah . Perbedaan warna ini
menunjukan suhu bintang . energi radiasi sebagai fungsi panjang gelombang berbeda-beda
bergantung suhu benda. Pada suhu yang rendah, energi paling besar di pancarkan pada
panjang gelombang yang panjang Sedangkan suhu yang tinggi ,sebagian besar energi di
pancarkan pada daerah panjang gelombang pendek hingga warna benda terlihat lebih biru.

F. Spektrum Bintang
a. Spektrum atau uraian cahaya
Pada tahun 1989 Kirchoff mengemukakan 3 hukum yang merupakan dasar
spektoroskopi ( ilmu yang menelaah spectrum cahaya ) yakni :
1. Bila sutau gasa yang mampat di pijarkan maka gas itu memancarkan spectrum kontinu,
artinya radiasi pada semua panjang gelombang di pancarkan.
2. Bila suatu gas yang renggang di pijarkan maka hanya warna-warna tertentu atau panjang
gelombnag tertentu saja yang di pancarkan .
3. Bila berkas cahaya putih dengan spectrum kontinudi lewatkan melalui gas yang dingin dan
renggang , gas tersebut akan menyerap cahaya tadi pada warna-warna atau panjang

gelombang tertentu.
b. Klasifikasi Spektrum Bintang
Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan
dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisikimianya. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie
Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard. Untuk
mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine Girl Kiss
Me". Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam
10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf.
Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang
tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Jadi, bintang A0 bertipe lebih
awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.
Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman dari
Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau
luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal
sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelas-kelas berikut :
0 Maha maha raksasa
I Maharaksasa
II Raksasa-raksasa terang
III Raksasa
IV Sub-raksasa
V deret utama (katai)
VI sub-katai
VII katai putih
Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua sistem pengklasifikasian di atas.
Matahari kita misalnya, adalah sebuah bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu
dan berukuran sedang.

G. Evaluasi Bintang
Kelahiran suatu bintang terjadi di bagian dalam suatu awan gas dan debu yang
menebar luas di antariksa . Awan gas dan debu semacam itu banyak sekali terdapat di langit
dan para astronom menyebutnya dengan sebutan Nebula. Pembentukan sebuah benda di
mulai ketika sebagian debu dan gas di bagian bagian dalam nebula mulai berkumpul dan

bergabung . kemudian secara perlaha-lahan gabungan gas dan debu itu mengerut dan
memadat, serta di bagian dalamnya menjadi panas . Maka jadilah sebuah benda yang brsinar
dan akan terus bersinar sampai hidrogennya habis terbakar. Demikian yang terjadi dengan
matahari , bila nanti di bagian luas justru mengembang dan nmendingin karena mendingin
itulah warnanya akan berubah menjadi merah dan di sebut dengan raksasa merah yang akan
mengkrut lagi sampai menjadi kecil dan berwarna merah cebol putih. Selanjutnya akan
menjadi sebuah bold yang gelap dan dingin sehingga kita tidak dapat mlihatnya lagi.
Begitulah kira-kira akhir hidup sebagian bintang bintang termasuk dengan matahari.

H. Rasi Bintang
2.1 PENGERTIAN RASI BINTANG.
Banyak pengertian dari rasi bintang. Akan tetapi dari beberapa tersebut dapat
diketahui bahwa pengertian rasi bintang adalah sebagai berikut.
Suatu rasi bintang atau konstelasi adalah sekelompok bintang yang tampak berhubungan
membentuk suatu konfigurasi khusus. Dalam ruang tiga dimensi, kebanyakan bintang yang
kita amati tidak memiliki hubungan satu dengan lainnya, tetapi dapat terlihat seperti
berkelompok pada bola langit malam (Ikka.2009).
2.2 MACAM-MACAM RASI BINTANG
Di jagad raya ini sebenarnya terdapat banyak sekali rasi bintang. (Ikka,2009)
menyatakan bahwa, Himpunan Astronomi Internasional telah membagi langit menjadi 88
rasi bintang resmi dengan batas-batas yang jelas, 56 buah di antaranya terdapat di belahan
langit selatan dan 32 rasi bintang terdapat di belahan langit utara.
2.3 MANFAAT RASI BINTANG
Allah SWT memberi kelebihan kepada manusia berupa akal dan pikiran. Kalau
manusia mau dan bisa menggunakan pikiran tersebut, betapa mereka menyadari bahwa
banyak sekali anugerah-Nya yang memudahkan dalam kehidupan. Seperti bintang di langit
yang biasa disebut rasi bintang. Wulan (2009) beberapa manfaatnya antara lain:
Manusia dapat menentukan waktu dengan berpatokan pada matahari atau bulan,
membantu manusia untuk menentukan arah mata angin. petunjuk fenomena alam (kejadiankejadian alam) di bumi, untuk memprediksikan cuaca, penerbangan dan pelayaran. Misalnya,
harus dilaksanakan dalam cuaca yang mendukung. Selain itu, sebagai penentu masa panen,

dan untuk pelayaran sebagai petujuk arah, manusia jadi mengetahui pergerakan, penyebaran,
dan karakteristik benda-benda langit, para pelaut hingga kini juga masih menggunakan
bintang sebagai pemandu arah dan juga untuk menentukan posisi kapalnya.

2.4 PENYALAHGUNAAN RASI BINTANG


Kalangan awam umumnya dan kalangan remaja khususnya, cenderung menggunakan
rasi bintang untuk mengetahui ramalan hidupnya. Mereka begitu percaya dengan para
peramal yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Padahal mereka punya Tuhan, yaitu
Alloh SWT. Dialah yang menentukan garis hidup manusia, bukan peramal. Akan tetapi,
sebagian besar dari mereka tidak menyadarinya. Sungguh, betapa rendahnya pikiran mereka.

I. SEJARAH PENGAMATAN
Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang
digunakan dalam praktik-praktik keagamaan, dalam navigasi, dan bercocok tanam. Kalender
Gregorian, yang digunakan hampir di semua bagian dunia, adalah kalender matahari,
mendasarkan diri pada posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, Matahari.
Astronom-astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali bintang-bintang
baru di langit (kemudian dinamakan novae) menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal. Pada
1584 Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah mataharimatahari lain, dan mungkin saja memiliki planet-planet seperti Bumi di dalam orbitnya, ide
yang telah diusulkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Democritus dan
Epicurus. Pada abad berikutnya, ide bahwa bintang adalah matahari yang jauh mencapai
konsensus di antara para astronom. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak
memberikan tarikan gravitasi pada tata surya, Isaac Newton mengusulkan bahwa bintangbintang terdistribusi secara merata di seluruh langit, sebuah ide yang berasal dari teolog
Richard Bentley.
Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan luminositas pada
bintang Algol pada 1667. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama gerak diri dari
sepasang bintang tetap dekat, memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sejak
pengukuran yang dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Pengukuran langsung jarak bintang
61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks.
William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba menentukan distribusi
bintang di langit. Selama 1780an ia melakukan pencacahan di sekitar 600 daerah langit

berbeda. Ia kemudian menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu
arah langit, yakni pusat galaksi Bima Sakti. Putranya John Herschel mengulangi pekerjaan
yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan hasil yang sama. Selain itu
William Herschel juga menemukan bahwa beberapa pasangan bintang bukanlah bintangbintang yang secara kebetulan berada dalam satu arah garis pandang, melainkan mereka
memang secara fisik berpasangan membentuk sistem bintang ganda.

J. TERBENTUKNYA BINTANG
Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah medium antarbintang
yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandingkan
dengan sebuah vacuum chamber yang ada di Bumi). Awan ini kebanyakan terdiri dari
hidrogen dengan sekitar 2328% helium dan beberapa persen elemen berat. Komposisi
elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada
saat awal alam semesta.
Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang.
Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang
dapat memiliki massa ribuan kali matahari. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh
gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Sekali sebuah wilayah
mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan
tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.
Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri,
melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang
besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh
pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi
bintang.
Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang
padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini dapat memiliki massa hingga 50
kali Matahari. Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi
gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meningkat. Ketika awan
protobintang ini mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di
intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet.
Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun.
Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen

di inti 'terbakar' menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti
bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses
pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama.

Menjelang kematiannya, sebuah bintang bisa meledak. Ledakan bintang ini disebut
nova. Istilah ini berarti baru karena seolah-olah telah lahir sebuah bintang baru. Kalau
bintang yang meledak berukuran besar, maka ledakannya juga sangat besar, sampai-sampai
menghancurkan bintang-bintang lain. Ledakan bintang besar ini disebut sebagai supernova.
Setelah meledak, materi bintang yang tersisa akan mengerut dan memadat dengan
kepadatan yang luar biasa dan gravitasinya begitu kuat sampai-sampai cahaya pun tak bisa
lepas. Materi bekas bintang inilah yang disebut black hole (lubang hitam).

K. Suhu
Suhu permukaan bintang deret utama ditentukan oleh laju penghasilan energi di
intinya yang umumnya diperkirakan dari indeks warna bintang. Biasanya suhu ini dinyatakan
dengan suhu efektif, yang merupakan suhu jika sebuah bintang dianggap sebagai benda hitam
ideal yang memancarkan energi dengan luminositas yang sama di seluruh permukaannya.
Jadi suhu efektif hanyalah sebuah gambaran, karena suhu pada sebuah bintang semakin tinggi
jika semakin dekat dengan intinya. Suhu di daerah inti sebuah bintang mencapai hingga
beberapa juta derajat celsius.
Suhu sebuah bintang menentukan laju ionisasi berbagai unsur di dalamnya, juga
menentukan sifat garis serapan spektrumnya. Suhu permukaan, magnitudo absolut dan sifat
serapan spektrografi bintang digunakan sebagai dasar untuk pengklasifikasian.
Bintang masif dalam deret utama dapat bersuhu hingga 50.000 C. Sedang bintang
yang lebih kecil, seperti matahari, memiliki suhu permukaan beberapa ribu derajat celcius.
Raksasa merah memiliki suhu permukaan yang relatif rendah sekitar 3.300 C, namun
bintang ini memiliki luminositas yang tinggi karena permukaan luarnya yang luas.

L. Umur

Sebagian besar bintang berumur antara 110 miliar tahun. Beberapa bintang mungkin
bahkan berumur mendekati 13,8 miliar tahunumur teramati alam semesta. Bintang tertua
yang ditemukan hingga saat ini, HE 1523-0901, diperkirakan berumur 13,2 miliar tahun.
Semakin tinggi massa sebuah bintang maka semakin pendek pula umurnya. Hal ini terutama
disebabkan karena bintang dengan massa yang tinggi akan memiliki tekanan yang tinggi pula
pada intinya yang menyebabkannya membakar hidrogen dengan lebih cepat. Bintang-bintang
paling masif bertahan rata-rata hanya beberapa juta tahun, sementara bintang dengan massa
minimum (katai merah) membakar bahan bakarnya dengan perlahan dan bertahan hingga
puluhan sampai ratusan miliar tahun.

M. DISTRIBUSI
Selain berdiri sendiri, bintang bisa juga berada dalam sistem multibintang. Sistem
multibintang dapat terdiri dari dua atau lebih bintang yang terikat secara gravitasi dan saling
mengorbit satu sama lain. Jenis sistem multibintang yang paling sederhana dan sering ditemui
adalah bintang biner. Selain itu telah ditemukan juga sistem multibintang yang memiliki tiga
atau lebih bintang. Sistem multibintang yang demikian seringkali secara hierarkis tersusun
dari beberapa bintang biner untuk mempertahankan stabilitas orbit bintang-bintangnya.
Terdapat juga kelompok yang lebih besar yang disebut gugus bintang. Gugus bintang berkisar
dari himpunan bintang yang tidak begitu padat dengan hanya beberapa bintang, hingga gugus
bola yang luar biasa besar dengan ratusan ribu bintang.
Telah lama dianggap bahwa sebagian besar bintang berada dalam sistem multibintang
yang terikat secara gravitasi. Hal ini khususnya benar untuk bintang-bintang masif kelas O
dan B, yang dipercaya 80% populasinya berada dalam sistem multibintang. Namun semakin
kecil bintang maka semakin banyak pula populasi jenisnya yang berada dalam sistem bintang
tunggal. Hanya 25% katai merah yang diketahui berada dalam sistem multibintang dan
karena 85% dari keseluruhan bintang adalah katai merah, maka mungkin sekali sebagian
besar bintang dalam Bima Sakti adalah tunggal sejak terbentuk.
Bintang-bintang tidak menyebar secara merata di alam semesta, tapi biasanya
berkelompok membentuk galaksi bersamaan dengan debu dan gas antarbintang. Sebuah
galaksi biasa mengandung ratusan miliar bintang, dan terdapat lebih dari 100 miliar (1011)
galaksi dalam alam semesta teramati. Berdasarkan sebuah cacah bintang pada tahun 2010
diperkirakan terdapat 300 triyar (3 1023) bintang dalam alam semesta teramati. Walau sering

dipercaya bahwa bintang hanya terdapat dalam galaksi, telah ditemukan bintang-bintang yang
berada di luar galaksi (bintang antargalaksi).
Bintang terdekat dengan bumi selain matahari adalah Proxima Centauri yang berjarak
sekitar 4,2 tahun cahaya atau kira-kira 39,9 triliun kilometer. Jika jarak ini ditempuh dengan
kecepatan orbit pesawat ulang-alik (8 km/shampir 30.000 km/jam), maka akan dibutuhkan
waktu kira-kira 150.000 tahun untuk sampai. Jarak seperti ini adalah jarak antar bintang yang
umum dalam piringan galaksi, termasuk di lingkungan sekitar tata surya. Bintang-bintang
dapat sangat berdekatan di pusat galaksi dan dalam gugus bola atau terpisah sangat jauh
dalam halo galaksi. Karena jarak antar bintang yang relatif sangat jauh dalam galaksi selain
pada daerah pusat galaksi, tabrakan antar bintang diperkirakan jarang terjadi. Pada daerah
yang lebih padat seperti inti gugus bola atau pusat galaksi, tabrakan antar bintang dapat
sering terjadi. Tabrakan seperti ini dapat menghasilkan apa yang dikenal dengan bintang
pengelana biru (blue straggler). Bintang-bintang abnormal ini memiliki suhu permukaan
yang lebih tinggi dari bintang-bintang deret utama lainnya dalam sebuah gugus bintang
dengan luminositas yang sama. Istilah pengelana merujuk pada lokasinya yang berada di luar
garis evolusi normal bintang lain pada diagram Hertzsprung-Russel gugus bintangya.