Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MANAJEMEN KEUANGAN

RISK AND RETURN

Oleh:
MARIA MAGDALENA NI MADE MEILANY SUBADI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

RISIKO DAN PENGEMBALIAN


Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih
luas, risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau
berlawanan dari yang diinginkan. Dalam industri keuangan pada umumnya, terdapat suatu jargon
high risk bring about high return, artinya jika ingin memperoleh hasil yang lebih besar, akan
dihadapkan pada risiko yang lebih besar pula.
Risk and return adalah kondisi yang dialami oleh perusahaan, institusi, dan individu
dalam keputusan investasi yaitu, baik kerugian maupun keuntungan dalam suatu periode
akuntansi. Hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian adalah:
1. Bersifat linear atau searah.
2. Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi pula risiko.
3. Semakin besar asset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi maka semakin besar
pula risiko yang timbul dari investasi tersebut.
4. Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal.
Jika Anda berinvestasi dalam saham spekulatif (atau saham apapun), Anda mengambil
risiko dengan harapan memperoleh suatu pengembalian yang besar. Dalam peninjauan resiko
pada aset finansial, dalam hal ini bond, stock, atau bentuk aset finansial lain, bisa di analisa
menjadi 2, yaitu :
a) Stand-Alone basis: merupakan suatu basis yang ada ketika seorang investor menanamkan
modal (capital) ke satu asset, dinamakan Stand-Alone karena resiko hanya berasal dari
satu aset.
b) Portofolio Basis: merupakan suatu basis yang ada ketika seorang investor menanamkan
modal (capital) ke banyak aset. Pada Portofolio, relatif risk yang ada bisa ditekan, tanpa
mengurangi expected rate of returnnya.
Tidak ada investasi yang akan dilakukan, kecuali tingkat pengemblian yang diharapkan
cukup tinggi untuk mengompensasi investor atas risiko investasi yang dihadapinya. Secara
alamiah, risiko investasi mungkin tidak menghasilkan tingkat pengembalian yang diharapkan.
Jika aktiva selalu memberikan tingkat pengembalian yang diharapkan, maka aktiva tersebut tidak
akan berisiko.
Risiko investasi dihubungkan dengan probabilitas laba aktual yang lebih kecil dari pada
tingkat pengembalian yang diharapkan. Jika peluang tingkat pengembaliannya rendah atau
negatif, maka investasi tersebut semakin berisiko.

A.

RISIKO YANG BERDIRI SENDIRI

Risiko yang berdiri sendiri didefinisikan sebagai distribusi probabilitas yakni suatu peristiwa
didefinisikan sebagai peluang terjadinya suatu peristiwa. Sebelumnya telah dikemukakan bahwa
semakin rapat distribusi probabilitas tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return)
dimasa depan, semakin kecil resiko investasi.
Distribusi Probabilitas Untuk Mengukur Risiko
Probabilitas dapat didefinisikan sebagai peluang akan terjadinya suatu peristiwa.
Sedangkan distribusi probabilitas adalah daftar kemungkinan setiap kejadian dan hasil yang
ditentukan oleh probabilitas. Pengembalian saham akan datang melalui dividen plus modal, yang
dapat diartikan semakin tinggi probabilitas perusahaan tersebut akan gagal mencapai kinerja
seperti yang diinginkan, maka ekspektasi pengembaliannya harus semakin tinggi untuk dapat
membuat anda berinvestasi dalam saham tersebut.
Koefisien Variasi
Koefisien variasi (CV) menunjukkan risiko per unit pengembalian dan menghasilkan dasar
yang lebih berarti untuk perbandingan, apabila pengembalian yang diharapkan atas dua alternatif
tidak sama. Jika sebuah pilihan harus diambil diantara dua investasi yang mempunyai standar
deviasi yang lebih rendah, maka ukuran rasio yang lebih tepat adalah koefisien variasi (CV).
Formulasinya:

Koefisien variasi = CV = ER
Di mana :

ER

= standar deviasi
= expected return

Suatu investasi yang mempunyai koefisien variasi (CV) tingkat pengembalian yang diharapkan
(expected return) lebih rendah, maka investasi tersebut lebih kecil risikonya, meskipun standar
deviasinya lebih tinggi.
B.

RISIKO DALAM KONTEKS PORTOFOLIO


Aktiva keuangan disimpan sebagai bagian dari portofolio. Bahkan, investasi individu

(setidak-tidaknya yang menyimpan sekuritas sebagai bagian dari total kekayaannya) umunya
menyimpan dalam bentuk portofolio, tidak hanya saham dari suatu perusahaan. Menurut sudut

pandang investor, adanya fakta bahwa suatu saham tertentu akan naik atau turun bukanlah hal
yang sangat penting, yang penting adalah tingkat pengembalian dari portofolionya, dan
portofolio tersebut. Kumpulan dari portofolio yang layak mewakili semua portofolio yan dapat
dihasilkan dari kumpulan aset yang diberikan. Portofolio yang efisien adalah portofolio yang
menawarkan banyak pengembalian dari sejumlah risiko yang diberikan atau paling tidak risiko
dari sejumlah pengembalian. Portofolio yang optimal untuk investor adalah portofolio yang
dianggap yang memiliki kemungkinan tertinggi pada kurva indeferen yang bersinggungan
dengan kumpulan portofolio yang efisien.
Logikanya, risiko dan tingkat pengembalian dari masing-masing sekuritas harus
dianalisis dari segi bagaimana sekuritas tersebut mempengaruhi

dan tingkat pengembalian

portofolio di mana sekuritas dimiliki.


1.

Pengembalian Portofolio

Tingkat pengembalian portofolio yang diharapkan (expected return on a portfolio), Rp


sederhananya adalah rata-rata tertimbang dari tingkat pengembalian yang diharapkan dari
masing-masing aktiva di dalam portofolio, dengan bobotnya adalah pecahan dari total portofolio
yang diinvestasikan di setiap aktiva:
Formulasinya:
Rp =W1.R1 + W2.R2 + ....+ Wn.Rn
Dimana :
Rp
= pengembalian yang diharapakan atas saham portofolio
Wi
= bobot, dan Wi harus berjumlah 1,00
Ri
= tingkat pengembalian yang diharapkan atas saham individual
2.

Risiko Portofolio

Ekspektasi tingkat pengembalian dari suatu portofolio sebenarnya hanyalah rata-rata tertimbang
dari ekspektasi tingkat pengambalian individual aktiva di dalam portofolio. Akan tetapi, tidak
seperti pengambalian, tingkat dari suatu portofolio,

, biasanya bukanlah merupakan rata-

rata tertimbang dari deviasi standar masing-masing aktiva di dalam portofolio; risiko portofolio
akan lebih kecil dari rata-rata tertimbang aktiva-aktivanya. Bahkan kenyataannya, secara teori
dimungkinkan untuk menggabungkan saham-saham yang secara individual cukup be jika dilihat
dari deviasi standarnya dan membuat sebuah portofolio yang sepenuhnya tanpa , dengan

=0

3. Risiko Diversifikasi versus Risiko Pasar


Diversifiable risk disebabkan oleh peristiwa-pristiwa acak seperti tuntutan hukum, pemogokan,
program pemasaran yang berhasil dan gagal, menang atau kalah dalam kontrak besar dan
peristiwa-peristiwa lainnya yang khusus bagi suatu perusahaan tertentu. Karena bersifat acak
pengaruh berbagai peristiwa ini pada suatu portofolio dapat dihilangkan dengan melakukan
diversifikasi. Peristiwa merugikan yang terjadi pada satu perusahaan akan dihilangkan oleh
peristiwa menguntungkan di perusahaan lain.
Pasar (market risk) dilain pihak tumbuh dari faktor-faktor yang secara sistematis akan
mempengaruhi sebagian besar perusahaan; perang, inflasi, resesi, dan tingkat suku bunga yang
tinggi. Karena kebanyakan saham akan dipengaruhi secara negatif oleh faktor-faktor ini, pasar
tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi.
Investor menginginkan premi karena menanggung, jadi semakin tinggi tingkat sebuah sekuritas
semakin tinggi ekspektasi tingkat pengembalian yang harus diberikan untung merangsang
investor membeli (memiliki) sekuritas tersebut. Dengan hal itu tiap investor ingin mengetahui
tingkat dari setiap saham, tingkat dari setiap saham dapat diukur melaui model penetapan aktiva
modal (capital asset pricing model-CAPM), sebuah alat penting yang digunakan untuk
menganalisis hubungan antara dan tingkat pengembalian. Kesimpulan utama dari CAPM adalah
tingkat dari suatu saham secara relevan adalah kontribusi yang diberikannya kepada tingkat dari
portofolio yang terdiversifikai dengan baik.
Saham-saham yang berbeda akan mempengaruhi portofolio dengan cara yang berbeda
pula, sehingga sekuritas yang berbeda akan memiliki derajat relevan yang berbeda. Seluruh
kecuali yang behubungan dengan pergerakan pasar secara luas dapat dan mungkin dihilangkan
melalui diversifikasi. yang masih tersisa setelah mendiversifikasikan pasarnya, atau yang
inheren di dalam pasar, dan dapat diukur melalui seberapa besar sebuah saham tertentu
cenderung akan bergerak naik atau turun mengikuti pasar.
C.

KONSEP BETA
Kecenderungan sebuah saham bergerak naik dan turun mengikuti pasar akan tercermin

dalam koefisien betanya (beta coefficient), b. Beta adalah elemen kunci dari CAPM. Sebuah
saham dengan rata-rata dinyatakan sebagai saham yang cenderung bergerak naik dan turun
sesuai dengan pasar umum yang diukur dengan suatu indeks tertentu. Saham dari koefisien beta,

b, adalah ukuran/nilai dari market risk. Pengukuran Beta menunjukkan sejauh mana
pengembalian saham bergerak relatif terhadap pasar. Beta dari sebuah saham yang lebih tinggi
lebih stabil daripada saham rata-rata, sedangkan Beta dari sebuah saham yang rendam kurang
stabil daripada saham rata-rata. Saham rata-rata memiliki b = 1.0. Beta pada portofolio adalah
rata-rata tertimbang dari beta pada sekuritas individu dalam portofolio
Teorinya, sebuah saham bisa saja memiliki beta negatif. Dalam keadaan ini,
pengembalian saham akan cenderung meningkat ketika pengembalian dari saham-saham lain
turun. Namun, ingatlah bahwa sebuah saham dalam suatu tahun tertentu dapat bergerak
berlawanan dengan pasar secara keseluruhan, meskipun beta dari saham tersebut memiliki nilai
positif. Jika sebuah saham memiliki beta positif, kita akan memiliki ekspektasi bahwa tingkat
pengembaliannya akan anaik ketika bursa saham secara keseluruhan mengalami peningkatan.
Meskipun begitu, faktor-faktor yang spesifik dari setiap perusahaan dapat menyebabkan tingkat
pengembalian saham yang diterima menurun, walaupun pengembalian pasar memiliki nilai
positif.
D.

HUBUNGAN RISK AND RETURN


Semakin besar probabilitas berarti pengembalian aktual akan jauh di bawah

pengembalian yang diharapkan dan semakin besar stand-alone risk yang terkait dengan aset. The
average investors adalah orang yang menolak risiko, yang berarti bahwa investor tersebut harus
dikompensasi utuk melakukan aset yang berisiko. Oleh karena itu, aset yang berisiko lebih tinggi
memiliki return yang dibutuhkan daripada aset yang kurang berisiko. Aset yang berisiko terdiri
dari (1) diversiable risk, yang mana risiko dapat dihilangkan melalui diversifikasi, kemudian (2)
market risk, yang mana risiko tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi.
Risiko yang berhubungan dengan aset individu adalah kontribusi risiko portofolio yang
terdiversifikasi dengan baik yang merupakan aset market risk (risiko pasar). Karena market risk
tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi, para investor harus dikompensasi untuk menahan
risiko tersebut.
Menurut Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld bahwa pada kenyataanya, seorang
investor yang netral terhadap risiko cenderung mengambil posisi agresif maksimum. Ia akan
membeli sebanyak mungkin aset yang menjanjikan hasil tinggi dan menjual sebanyak mungkin
aset yang hasilnya lebih rendah. Perilaku inilah yang menciptakan kondisi suku bunga. Adapun
karakteristik tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :

1. Takut pada risiko (Risk Avoider)


Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati terhadap keputusan yang
diambilnya bahkan ia cenderung begitu tinggi melakukan tindakan yang sifatnya mengindari
risiko yang akan timbul jika keputusan diaplikasikan. Karakter pebisnis yang melakukan
tindakan seperti ini disebut dengan safety player.
2. Hati-hati pada risiko (Risk Indifference)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati atau begitu menghitung terhadap
segala dampak yang akan terjadi jika keputusan diaplikasikan. Bagi kalangan bisnis, mereka
menyebut orang dengan karakter seperti ini secara ekstrem disebut sebagai tipe peragu.
3. Suka pada risiko (Risk Seeker atau Risk Lover)
Karakteristik ini adalah tipe yang begitu suka pada risiko. Mereka terbiasa dengan spekulasi dan
itu pula yang membuat penganut karakteristik ini selalu saja ingin menjadi pemimpin dan
cenderung tidak ingin menjadi pekerja. Mental risk seeker adalah mental yang dimiliki oleh
pebisnis besar dan juga pemimpin besar. Karakter ini yang paling mendominasi jika dilihat dari
kedekatannya pada risiko.
E.

MODEL YANG DIGUNAKAN DALAM RISIKO DAN TINGKAT

PENGEMBALIAN
APT ( Arbitrage Pricing Theory)
APT merupakan teori yang dikembangkan oleh Stephen A. Ross pada tahun 1976 dimana beliau
menyatakan bahwa harga suatu aktiva bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Rumusnya:
Ri = i + i Rm + ei
Keterangan:
Ri = Return saham i
i = Alpha saham i
i = beta saham i
Rm = Return pasar
ei = random error
Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Diketahui para investor menuntut secara resmi dalam menghadapi resiko, yaitu semakin
tinggi resiko sekuritas, semakin tinggi pengembaliannya yang diharapkan untuk menarik investor
agar membeli saham. Akan tetapi, jika investor lebih memperhatikan resiko portofolio dari pada
resiko sekuritas individu dalam portovolio, bagaimana resiko saham individu harus diukur?
Salah satu jawabanya yang diberikan oleh CAPM, yakni suatu alat penting yang digunakan
untuk menganalisis hubungan antara resikodan tingkat pengembalian

Capital Asset Pricing Model merupakan model yang didasarkan atas proporsi bahwa
tingkat pengembalian atas saham yang diperlukan sama dengan tingkat pengembalian bebas
resiko, ditambahi premi resiko yang hanya mencerminkan resiko yang yang ada setelah
diversifikasi. Kesimpulan CAPM adalah resiko yang relavan dari saham individu merupakan
kontribusi terhadap resiko portofolio yang didiversifikasi dengan baik. Resiko yang tetap ada
setelah didiversifikasi merupakan resiko pasar atau resiko melekat pada pasar. Hal itu dapat
diukur oleh suatu tingkatan ketika saham tertentu dalam pasar cenderung bergerak ke atas dan ke
bawah
CAPM menjelaskan hubungan antara return dengan beta (). Beta menunjukkan
hubungan (gerakan) antara saham dan pasarnya (saham secara keseluruhan). Besarnya risiko
perusahaan ditentukan oleh beta.
>1 menunjukkan harga saham perusahaan lebih mudah berubah dibandingkan indeks
pasar. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi saham menjadi lebih berisiko, artinya jika saat terjadi
perubahan pasar 1% maka pada saham X akan mengalami perubahan lebih besar dari 1%.
<1 menunjukkan tidak terjadinya kondisi yang mudah berubah berdasarkan kondisi
pasar.
=1 menunjukkan bahwa kondisinya sama dengan indeks pasar.
Rumus CAPM yaitu:
Ri= Rf +i (Rm-Rf), atau
Ri= Rf +(Rm-Rf)i , atau
Ri= (1-i )Rf + i .R
Keterangan:
Ri = Return saham i
Rf = Return investasi bebas risiko (Risk Free)
i = Beta saham i (indikator risiko sistematis)
Rm = Return pasar (return market)
The Security Market Line (SML) adalah bagian integral dari CAPM dan menjelaskan
hubungan risk atau return pada aset individu. Tingkat yang dibutuhkan dari pengembalian saham
apa pun (J) adalah sama dengan risk-free rate (tingkat bebas risiko) ditambah dengan market risk
premium (premi risiko pasar) dikalikan dengan saham koefisien beta.
Saham pada koefisien beta, adalah ukuran/nilai dari saham market risk. Pengukuran
Beta yang berubah-ubah pada pengembalian sekuritas berhubungan dengan pengembalian pada
market (pasar) yang merupakan portofolio dari semua aset berisiko. Koefisien beta diukur oleh

kemiringan characteristic line (garis karakteristik) saham, yang didapatkan dari pengembalian
regressing historical pada saham dibandingkan dengan pengembalian historical pada market.
Meskipun CAPM menyediakan batasan yang sesuai tentang risk dan return, hal tesebut
tidak dapat terbukti secara empiris dan parameternya sangat sulit untuk diestimasi. Jadi, tingkat
pengembalian yang dibutuhkan untuk saham yang diestimasi oleh CAPM mungkin tidak persis
sama dengan tingkat pengembalian yang dibutuhkan sebenarnya. Kekurangan pada CAPM
memberikan alasan teori untuk mencari risk atau return model ekuilibrium yang lain, dan
Arbitrage Pricing Theory (APT) adalah salah satu model penting yang terbaru. The FamaFrench three-factor model memiliki faktor pertama untuk market return (pengembalian pasar),
faktor kedua untuk size effect (efek ukuran), dan faktor ketiga untuk efek book-to-market.
Behavioral finance (perilaku keuangan) mengasumsikan bahwa investor tidak selalu berperilaku
rasional.