Anda di halaman 1dari 9

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN
JL. Dr. SoeparnoPurwokerto 53122
Telp (0281) 621233,621234 (Hunting) Fax (0281) 629161
PERATURAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Nomor :
Tentang
PEDOMAN PELAYANAN VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING (VCT)
RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN UNSOED

Menimbang :
a. Bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Gigi dan

Mulut pendidikan unsoed maka diperlukan pelayanan vct untuk


mengontrol status HIV/AIDS pasien secara dini dengan pelayanan
konseling dan testing HIV/AIDSyang komprehensif sehingga akibat
negatif yang timbul dapatdicegah sejak awal;
b. bahwa agar pelaksanaan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela
sebagaimana
dimaksud
huruf
a
dapat
berjalan
dan
dipertanggungjawabkan maka perlu adanya suatu Pedoman Pelayanan;
a. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir
a dan b tersebut maka perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur
Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Unsoed.
Mengingat

: 1. Undang-UndangR.I :
a. Nomor 44 Tahun 2009 TentangRumahSakit;
b. Nomor 29 Tahun 2004 TentangPraktikKedokteran;
c. Nomor 36 Tahun 2009 TentangKesehatan.
2. PeraturanPemerintahNomor32Tahun 1996 TentangTenagaKesehatan;
3. Keputusan/Peraturan Menteri Kesehatan RI :
a. Nomor 1173/Menkes/X/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan
Mulut;
b. Nomor 147/Menkes/Per/I/2010 TentangPerizinanRumahSakit;
c. Nomor 340/Menkes/Per/III/2010 TentangKlasifikasiRumahSakit;
d. Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Konseling
dan Tes HIV;
e. Nomor 21 Tahun 2013 Tentang penanggulangan HIV dan AIDS;
f. Nomor 241/MenKes/SK/IV/2006 Mengenai Standar Pelayanan
Laboratorium Kesehatan Pemeriksaan HIV dan Infeksi
Oportunistik.

4. KeputusanRektorUniversitasJenderalSoedirmanNomor:
Kept.1002/UN23/OT.02/2015 Tentang Pengelola Rumah Sakit Gigi
dan Mulut Pendidikan (RSGMP) Universitas Jenderal Soedirman.
MEMUTUSKAN
Menetapkan
Kesatu

Kedua
Ketiga

Keempat

:
: PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JENDERAL
SOEDIRMANTENTANG
PEDOMAN PELAYANANINSTALASI
KLINIK VCT RSGMP UNSOED.
: PedomanPelayananInstalasi Klinik VCT Rumah Sakit Gigi Dan Mulut
Pendidikan Unsoed sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan
ini.
: Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan PelayananInstalasi Klinik
VCT di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Pendidikan Unsoed dilaksanakan
oleh Wakil Direktur Bidang pelayanan Medik Rumah Sakit Gigi dan
Mulut Pendidikan Unsoed.
: Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Purwokerto
Pada Tanggal ......... 2016
Direktur,

drg. Arwita Mulyawati.,M.HKes


NIP.19531205 198203 2 001

Konseptor :
1. Wakil Direktur I
:
Drg. Rinawati Satrio., M. Si
2. Koordinator Bidang Penunjang Medik dan Penunjang Klinik :
Drg. Irfan Dwiandhono., Sp. KG
3. Penanggungjawab Instalasi Klinik VCT
:
Kismono, AMK
Tembusan :
1. Rektor Universitas Jenderal Soedirman

Lampiran
KeputusanDirekturRSGMP Unsoed
Nomor
:
....../SK/DIR/RSGMP/..../2016
Tanggal : ....... 2016
PEDOMAN PELAYANAN KONSELING DAN TESTING HIV/AIDS
(VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING)RUMAH SAKIT GIGI DAN
MULUT PENDIDIKAN UNSOED
I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
1. Tujuan Umum adalah menurunkan angka kesakitan HIV/AIDS melalui

peningkatkan mutu pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS


danperlindungan bagi petugas layanan VCT dan klien di Rumah sakit Gigi
dan Mulut Pendidikan Unsoed.
2. Tujuan Khusus:
a. Sebagai pedoman penatalaksanaan pelayanan konseling dan testing
HIV/AIDS.
b. Menjaga mutu layanan melalui penyediaan sumber daya dan manajemen
yangsesuai.
c. Memberi perlindungan dan konfidensialitas dalam pelayanan konseling
dantesting HIV/AIDS.
C. Sasaran

Pedoman ini digunakan sebagai panduan dalam melakukan pelayanan VCT di


Rumah sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Unsoed.
.
D. Pengertian-Pengertian
1. Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu gejala
berkurangnyakemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya
virus HIV ke dalamtubuh seseorang.
2. Anti Retroviral Therapy (ART) adalah sejenis obat untuk menghambat
kecepatanreplikasi virus dalam tubuh orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Obat
diberikan kepadaODHA yang memerlukan berdasarkan beberapa kriteria
klinis, juga dalam rangkaPrevention of Mother To Child Transmission
(PMTCT).
3. Human Immuno-deficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan
AIDS.
4. Integrasi adalah pendekatan pelayanan yang membuat petugas
kesehatanmenangani klien secara utuh, menilai kedatangan klien berkunjung
ke fasilitaskesehatan atas dasar kebutuhan klien, dan disalurkan kepada
layanan yangdibutuhkannya ke fasilitas rujukan jika diperlukan.
5. Klien adalah seseorang yang mencari atau mendapatkan pelayanan
konselingdan atau tesing HIV/AIDS.
6. Konselor adalah pemberi pelayanan konseling yang telah dilatih
keterampilankonseling HIV dan dinyatakan mampu.
7. Konseling pasangan adalah konseling yang dilakukan terhadap pasangan
seksualatau calon pasangan seksual dari klien.

8. Konseling

9.

10.

11.
12.

13.

14.

15.

16.

pasca tes adalah diskusi antara konselor dengan klien,


bertujuanmenyampaikan hasil tes HIV klien, membantu klien beradaptasi
dengan hasil tesMateri diskusi adalah menyampaikan hasil secara jelas,
menilai pemahamanmental emosional klien, membuat rencana menyertakan
orang lain yangbermakna dalam kehidupan klien, menjawab respon
emosional yang tiba-tibamencuat, menyusun rencana tentang kehidupan yang
mesti dijalani denganmenurunkan perilaku berisiko dan perawatan, membuat
perencanaan dukungan.
Konseling pra tes adalah diskusi antara klien dan konselor, bertujuan
menyiapkanklien untuk tesing HIV/AIDS. Isi diskusi adalah klarifikasi
pengetahuan kliententang HIV/AIDS, menyampaikan prosedur tes dan
pengelolaan diri setelahmenerima hasil tes, menyiapkan klien menghadapi
hari depan, membantu klienmemutuskan akan tes atau tidak, mempersiapkan
informed consent, dankonseling seks yang aman.
Konseling pra tes kelompok adalah diskusi antara konselor dengan
beberapaklien, biasanya tak lebih dari lima orang, bertujuan untuk
menyiapkan merekauntuk tesing HIV/AIDS. Sebelum melakukannya,
ditanyakan kepada para klientersebut apakah mereka setuju untuk berproses
bersama.
Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah orang yang tubuhnya
telahterinfeksi virus HIV/AIDS.
Perawatan dan dukungan adalah layanan komprehensif yang disediakan
untukODHA dan keluarganya. Termasuk di dalamnya konseling lanjutan,
perawatan,diagnosis, terapi, dan pencegahan infeksi oportunistik, dukungan
sosioekonomidan perawatan di rumah.
Periode Jendela adalah suatu periode atau masa sejak orang terinfeksi
HIVsampai badan orang tersebut membentuk antibodi melawan HIV yang
cukupuntuk dapat dideteksi dengan pemeriksaan rutin tes HIV.
Informed Consent (Persetujuan Tindakan Medis) adalah persetujuan
yangdiberikan oleh orang dewasa yang secara kognisi dapat mengambil
keputusandengan sadar untuk melaksanakan prosedur (tes HIV, operasi,
tindakan mediklainnya) bagi dirinya atau atas spesimen yang berasal dari
dirinya. Juga termasukpersetujuan memberikan informasi tentang dirinya
untuk suatu keperluanpenelitian.
Sistem Rujukan adalah pengaturan dari institusi pemberi layanan
yangmemungkinkan petugasnya mengirimkan klien, sampel darah atau
informasi,memberi petunjuk kepada institusi lain atas dasar kebutuhan klien
untukmendapatkan layanan yang lebih memadai. Pengiriman ini senantiasa
dilakukandengan surat pengantar, bergantung pada jenis layanan yang
dibutuhkan.Pengaturannya didasarkan atas peraturan yang berlaku, atau
persetujuan parapemberi layanan, dan disertai umpan balik dari proses atau
hasil layanan.
Konseling dan Testing (Counselling and Testing ) adalah konseling dan
testingHIV/AIDS sukarela, suatu prosedur diskusi pembelajaran antara
konselor danklien untuk memahami HIV/AIDS berserta risiko dan
konsekuensi terhadap diri,pasangan dan keluarga serta orang disekitarnya.
Tujuan utamanya adalahperubahan perilaku ke arah perilaku lebih sehat dan
lebih aman.

II.

KONSELING DAN TESTING HIV/AIDS SUKARELA (VCT)


A. Definisi Konseling dalam VCT

Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan dukungan


psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV,
mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan ARV
dan memastikan pemecahaman berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS.
B. Prinsip Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT)
1. Sukarela dalam melaksanakan testing HIV.

Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien, tanpa


paksaan,
dan tanpa tekanan. Keputusan untuk dilakukan testing terletak ditangan
klien.
2. Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas.
Semua informasi yang disampaikan klien dijaga kerahasiaannya
olehkonselor dan petugas kesehatan di Rumah sakit Gigi dan Mulut
Pendidikan Unsoed.
3. Mempertahankan hubungan relasi konselor-klien yang efektif.
Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan
mengikutipertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi perilaku
berisiko.
4. Testing merupakan salah satu komponen dari VCT.
Penerimaan hasil testing senantiasadiikuti oleh konseling pasca testing
oleh konselor yang sama atau konselor lainnyayang disetujui oleh klien.
C. Sasaran Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT)

Pasien yang berobat di Rumah sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Unsoed yang
membutuhkan pemahaman diri akan status HIV agar dapatmencegah dirinya
dari penularan infeksi penyakit yang lain dan penularan kepadaorang lain.
III.

SUMBER DAYA MANUSIA


A. Petugas pelayanan VCT terdiri dari:
1. Penanggungjawab Instalasi klinik VCT.
2. Petugas administrasi.
3. Konselor VCT terlatih.
4. Petugas manajemen kasus.
5. Petugas laboratorium
6. dokter
yang
bertanggungjawab
secara
medis
dalam
penyelenggaraanlayanan VCT.
7. Petugas administrasi untuk data entry yang sudah mengenal ruang
lingkuppelayanan VCT.
Semua petugas layanan VCT bertanggung jawab atas konfidensialitas klien.
klien akanmenandatangani dokumen konfidensialitas terlebih dahulu yang
memuat perlindungan dan kerahasiaan klien. Pendokumentasian data harus
dipersiapkansecara tepat dan cepat agar memudahkan dalam pelayanan dan
rujukan.
B. Jam Kerja Layanan

Jam kerja layanan konseling dan testing Rumah sakit Gigi dan Mulut
Pendidikan Unsoed adalah hari senin jumat, pukul 08.00 16.00 WIB,
tanggal merah/hari libur pelayanan vct tidak dilaksanakan.
IV.

PENATALAKSANAAN PELAYANAN VCT


A. Struktur Organisasi
Struktur organisasi pelayanan ini terdiri dari:
1. Penanggungjawab Instalasi klinik VCT
Penanggungjawab Instalasi VCT bertanggung jawabterhadap Wakil
Direktur Bidang pelayanan Medik Rumah Sakit Gigi dan Mulut
Pendidikan Unsoed.
Tugas Penanggungjawab Instalasi klinik VCT:
a. Menyusun perencanaan kebutuhan operasional.
b. Mengawasi pelaksanaan kegiatan.
c. Mengevaluasi kegiatan.
d. Bertanggung jawab untuk memastikan bahwa layanan Secara
keseluruhanberkualitas.
e. Mengkoordinir pertemuan berkala dengan seluruh staf konseling dan
testing,minimal satu bulan sekali.
f. Melakukan jejaring kerja dengan rumah sakit, lembaga-lembaga
yang bergerakdalam bidang VCT untuk memfasilitasi pengobatan,
perawatan, dan dukungan.
g. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan Kementerian
KesehatanRI serta pihak terkait lainnya.
h. Melakukan monitoring internal dan penilaian berkala kinerja seluruh
petugaslayanan VCT, termasuk konselor VCT.
i. Mengembangkan standar prosedur operasional pelayanan VCT.
j. Memantapkan sistem atau mekanisme monitoring dan evaluasi
layanan yangtepat.
k. Menyusun dan melaporkan laporan bulanan dan laporan tahunan
kepada DinasKesehatan setempat.
l. Memastikan logistik terkait dengan KIE dan bahan lain yang
dibutuhkan untukpelayanan Konseling dan Testing.
m. Memantapkan pengembangan diri melalui pelatihan peningkatan
ketrampilandan pengetahuan HIV/AIDS.
2. Administrasi

Tugas Petugas Administrasi:


a. Bertanggung jawab terhadap Penanggungjawab Instalasi Klinik
VCT.
b. Bertanggungjawab terhadap pengurusan perijinan klinik VCT dan
registrasikonselor VCT.
c. Melakukan surat menyurat dan administrasi terkait.
d. Melakukan tata laksana dokumen, pengarsipan, melakukan
pengumpulan,pengolahan, dan analisis data.
e. Membuat pencatatan dan pelaporan
3. Koordinator Pelayanan Medis
Koordinator
pelayanan
medis
adalah
dokter
yang
bertanggungjawabsecara teknis medis dalam penyelenggaraan layanan
VCT. Koordinator pelayananmedis bertanggungjawab langsung kepada
penanggungjawab Instalasi Klinik VCT .Tugas penanggungjawab
pelayanan medis:
a. Melakukan koordinasi pelaksanaan pelayanan medis.

b. Melakukan pemeriksaan medis, pengobatan, perawatan maupun

tindak lanjutterhadap klien.


c. Melakukan rujukan (pemeriksaan penunjang, laboratorium, dokter

ahli, dankonseling lanjutan).


d. Melakukan konsultasi kepada dokter ahli.
e. Membuat laporan kasus
4. Koordinator Pelayanan Non Medis

Secara administrasi bertanggung jawab terhadap Penanggungjawab


Instalasi Klinik VCT. Tugas koordinator pelayanan non medis:
a. Mengusulkan perencanaan kegiatan dan kebutuhan operasional.
b. Melakukan koordinasi dengan konselor dan petugas managemen
kasus.
c. Membantu melakukan jejaring kerja dengan rumah sakit, lembagalembagayang bergerak dalam bidang VCT untuk memfasilitasi
pengobatan, perawatan,dan dukungan.
d. Melakukan monitoring internal dan penilaian berkala kinerja
konselor VCT danmanajer kasus.
e. Mengembangkan dan melaksanakan standar prosedur operasional
pelayananVCT.
f. Mengajukan draft laporan bulanan dan laporan tahunan kepada
kepala unitVCT.
g. Menyiapkan logistik terkait dengan KIE dan alat peraga yang
dibutuhkan untukpelayanan VCT.
h. Memantapkan pengembangan diri melalui pelatihan peningkatan
ketrampilandan pengetahuan HIV/AIDS.
5. Konselor VCT
Tugas Konselor VCT:
a. Mengisi kelengkapan pengisian formulir klien, pendokumentasian
danpencatatan konseling klien dan menyimpannya agar terjaga
kerahasiaannya.
b. Pembaruan data dan pengetahuan HIV/AIDS.
c. Membuat jejaring eksternal dengan layanan pencegahan dan
dukungan dimasyarakat dan jejaring internal dengan berbagai bagian
rumah sakit yangterkait.

d. Memberikan informasi HIV/AIDS yang relevan dan akurat, sehingga

klienmerasa berdaya untuk membuat pilihan untuk melaksanakan


testing atau tidak.Bila klien setuju melakukan testing, konselor perlu
mendapat jaminan bahwaklien betul menyetujuinya melalui
penandatangan informed consent tertulis.
e. Menjaga bahwa informasi yang disampaikan klien kepadanya adalah
bersifatpribadi dan rahasia. Selama konseling pasca testing konselor
harusmemberikan informasi lebih lanjut seperti, dukungan
psikososial dan rujukan.Informasi ini diberikan baik kepada klien
dengan HIV positif maupun negatif.
f. Pelayanan khusus diberikan kepada kelompok perempuan dan
mereka yangdipinggirkan, sebab mereka sangat rawan terhadap
tindakan kekerasan dandiskriminasi.
6. Petugas penanganan kasus (Petugas manajemen kasus)
Tugas penanganan kasus:
a. Bertanggung jawab untuk penggalian kebutuhan klien, terkait
dengankebutuhan psikologis, sosial, dan mengkoordinasi pelayanan
komprehensif.

b. Berpartisipasi dalam penanganan kegiatan advokasi yang sesuai.


c. Mengadakan kunjungan ke rumah klien sesuai dengan kebutuhan.
d. Menyiapkan klien dan keluarga dengan informasi HIV/AIDS dan

dukungandengan tepat dan sesuai.


e. Melakukan rujukan ke sarana pelayanan kesehatan yang dibutuhkan

oleh klien.
Berpartisipasi dalam supervisi dan monitoring rutin terjadwal
untukkonselor/petugas manajemen kasus.
g. Membantu penanganan perawatan di rumah dan memberikan
informasipendidikan kepada klien (Khusus untuk petugas medis atau
yangberlatarpendidikan keperawatan).
7. Petugas Laboratorium
Tugas petugas Laboratorium:
a. Mengambil darah klien sesuai SOP.
b. Melakukan pemeriksaan laboratorium sesuai prosedur dan
standarlaboratorium yang telah ditetapkan.
c. Menerapkan kewaspadaan baku dan transmisi.
d. Melakukan pencegahan pasca pajanan okupasional.
e. Mengikuti perkembangan kemajuan teknologi pemeriksaan
laboratorium
f. Mencatat hasil testing HIV dan sesuaikan dengan nomor identifikasi
klien.
g. Menjaga kerahasiaan hasil testing HIV.
h. Melakukan pencatatan, menjaga kerahasiaan, dan merujuk ke
laboratoriumrujukan.
f.

B. Tahapan Pelayanan VCT


1. Konseling Pra Testing
2. Informed Concent

3.

4.

5.
6.

V.

Semua klien sebelum menjalani testing HIV harus memberikan


persetujuan tertulisnya.
Testing HIV dalam VCT
Prinsip Testing HIV adalah sukarela dan terjaga kerahasiaanya. Testing
dimaksud untuk menegakkan diagnosis. Terdapat serangkaian testing
yang berbeda-beda karena perbedaan prinsip metoda yang digunakan.
Testing yang digunakan adalah testing serologis untuk mendeteksi
antibodi HIV dalam serum atau plasma.
Konseling Pasca Testing
Konselor mempersiapkan klien untuk menerima hasil testing,
memberikan hasil testing, dan menyediakan informasi selanjutnya.
Konselor mengajak klien mendiskusikan strategi untuk menurunkan
penularan HIV.
Pelayanan Dukungan Berkelanjutan
Rujukan
Rujukan
merupakan
alat
penting
guna
memastikan
terpenuhinyapelayanan berkelanjutan yang dibutuhkan klien untuk
mengatasi keluhan fisik,psikologik dan sosial. Konsep pelayanan
berkelanjutan menekankan perlunya
pemenuhan kebutuhan pada setiap tahap penyakit infeksi, yang
seharusnya dapatdiakses disetiap tingkat dari pelayanan VCT guna
memenuhi kebutuhan
perawatan kesehatan berkelanjutan.

PEMBIAYAAN

Tarif pelayanan disesuaikan dengan pola tarif berdasarkan unit cost yang
proporsional dari setiap komponen pelayanan di Rumah sakit Gigi dan Mulut
Pendidikan Unsoed.
Komponen biaya meliputi biaya:
A. Administrasi
B. Konseling
C. Testing HIV
D. Jasa sarana dan Jasa pelayanan
VI.

MONITORINGDAN EVALUASI
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan cara sistematis danberkala pada
program pelayanan VCT. Monitoring dan Evaluasi dilakukan secara internal
maupun eksternal.
Tujuan monitoring dan evaluasi adalah:Untuk menyusun perencanaan dan
tindaklanjut, Untuk perbaiki pelaksanaan pelayanan VCT, Untuk mengetahui
kemajuan dan hambatan pelayanan VCT. Aspek yang dimonitor dan dievaluasi:
A. Kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu,
B. Sumber daya manusia
C. Sarana, prasana, dan peralatan
D. Standar minimal pelayanan VCT
E. Prosedur Pelayanan VCT
F. Hambatan pelayanan VCT
G. Uraian Rincian Layanan dengan menilai ketersediaan petugas diberbagai
tingkat
layanan, kepatuhan terhadap protokol, ketersediaan materi pengajaran
mengenai
kesehatan dan kondom, ketersediaan dan penggunaan catatan
terformat,ketersediaan alat testing dan layanan medik, kepatuhan petugas
pada peran dan
tanggung jawab dan aspek umum dari operasionalisasi layanan.
H. Kepuasan dan evaluasi klien secara langsung atau melalui kotak saran.