Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PEMBAHASAN
SPINA BIFIDA
A. DEFENISI
Spina bifida atau myelodisplasia berarti terbelahnya arcus vertebrae dan bisa
melibatkan jaringan saraf di bawahnya atau tidak sehingga mengakibatkan
perkembangan abnormal pada tulang belakang yang juga merupakan suatu kelainan
bawaan berupa defek pada arkus pascaerior tulang belakang akibat kegagalan penutupan
elemen saraf dari kanalis spinalis pada perkembangan awal dari embrio. (Chairuddin
Rasjad, 1998).
Ada berbagai jenis spina bifida, yaitu :
1. Spina bifida okulta
Spina bifida okulta menunjukkan suatu cacat yang lengkung-lengkung
vertebranya dibungkus oleh kulit yang biasanya tidak mengenai jaringan saraf
yang ada di bawahnya. Cacat ini terjadi di daerah lumbosakral ( L4 S1 )
dan biasanya ditandai dengan plak rambut yang yang menutupi daerah yang
cacat. Kecacatan ini disebabkan karena tidak menyatunya lengkung-lengkung
vertebra (defek terjadi hanya pada kolumna vertebralis) dan terjadi pada sekitar
10% kelahiran.
2. Spina bifida kistika
Spina bifida kistika adalah suatu defek neural tube berat dimana jaringan
saraf dan atau meningens menonjol melewati sebuah cacat lengkung vertebra dan
kulit sehingga membentuk sebuah kantong mirip kista. Kebanyakan terletak di
daerah lumbosakral dan mengakibatkan gangguan neurologis, tetapi biasanya
tidak disertai dengan keterbelakangan mental.
3. Spina bifida dengan meningokel
Pada beberapa kasus hanya meningens saja yang berisi cairan saja yang
menonjol melalui daerah cacat. Meningokel merupakan bentuk spina bifida
dimana cairan yang ada di kantong terlihat dari luar (daerah belakang), tetapi
kantong tersebut tidak berisi spinal cord atau saraf.
4. Spina bifida dengan meningomielokel
Spina bifida dengan meningomielokel merupakan bentuk spina bifida
dimana jaringan saraf ikut di dalam kantong tersebut. Bayi yang terkena akan
mengalami paralisa di bagian bawah.

5. Spina bifida dengan mielokisis atau rakiskisis


Spina bifida dengan mielokisis atau rakiskisis merupakan bentuk spina bifida
berat dimana lipatan-lipatan saraf gagal naik di sepanjang daerah torakal
bawah dan lumbosakral dan tetap sebagai masa jaringan saraf yang pipih.
Kelainan-kelainan di atas biasanya timbul di daerah cervical dan atau
lumbar dan dapat menyebabkan gangguan neurologis pada ekstremitas bawah dan
gangguan kandung kemih.
B. ETIOLOGI
1.
Resiko melahirkan anak dengan spina bifida berhubungan erat dengan
kekurangan asam folat, terutama yang terjadi pada awal kehamilan.
2.
Penonjolan dari korda spinalis dan meningens menyebabkan kerusakan pada
korda spinalis dan akar saraf, sehingga terjadi penurunan atau gangguan fungsi pada
bagian tubuh yang dipersarafi oleh saraf tersebut atau di bagian bawahnya.
3.
Gejalanya tergantung kepada letak anatomis dari spina bifida. Kebanyakan
terjadi di punggung bagian bawah, yaitu daerah lumbal atau sakral, karena penutupan
vertebra di bagian ini terjadi paling akhir.
4.
Faktor genetik dan lingkungan (nutrisi atau terpapar bahan berbahaya) dapat
menyebabkan resiko melahirkan anak dengan spina bifida.
Pada 95 % kasus spina bifida tidak ditemukan riwayat keluarga dengan defek neural
tube. Resiko akan melahirkan anak dengan spina bifida 8 kali lebih besar bila
sebelumnya pernah melahirkan anak spina bifida.
Kelainan yang umumnya menyertai penderita spina bifida antara lain :
1. Hidrosefalus
2. Siringomielia
3. Dislokasi pinggul.

C. MANIFESTASI KLINIK
Gejalanya bervariasi, tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis
dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala;
sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda
spinalis maupun akar saraf yang terkena. Gejalanya berupa:
1. Penonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir
jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki


Penurunan sensasi.
Inkontinensia urin (beser) maupun inkontinensia tinja
Korda spinalis yang terkena rentan terhadap infeksi (meningitis).
Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang).
Lekukan pada daerah sakrum.
Abnormalitas pada lower spine selalu bersamaan dengan abnormalitas upper spine

(arnold chiari malformation) yang menyebabkan masalah koordinasi


9. Deformitas pada spine, hip, foot dan leg sering oleh karena imbalans kekuatan otot
dan fungsi
10. Masalah bladder dan bowel berupa ketidakmampuan untuk merelakskan secara
volunter otot (sphincter) sehingga menahan urine pada bladder dan feses pada rectum.
11. Hidrosefalus mengenai 90% penderita spina bifida. Inteligen dapat normal bila
hirosefalus di terapi dengan cepat.
12. Anak-anak dengan meningomyelocele banyak yang mengalami tethered spinal cord.
Spinal cord melekat pada jaringan sekitarnya dan tidak dapat bergerak naik atau turun
secara normal. Keadaan ini menyebabkan deformitas kaki, dislokasi hip atau
skoliosis. Masalah ini akan bertambah buruk seiring pertumbuhan anak dan tethered
cord akan terus teregang.
13. Obesitas oleh karena inaktivitas
14. Fraktur patologis pada 25% penderita spina bifida, disebabkan karena kelemahan atau
penyakit pada tulang.
15. Defisiensi growth hormon menyebabkan short statue
16. Learning disorder
17. Masalah psikologis, sosial dan seksual
18. Alergi karet alami (latex)

Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan dapat dilakukan pada ibu hamil dan bayi yang baru dilahirkan, pada ibu
hamil, dapat dilakukan pemeriksaan :
1. Pada trimester pertama, wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut triple
screen yang terdiri dari pemeriksaan AFP, ultrasound dan cairan amnion.
2. Pada evaluasi anak dengan spina bifida, dilakukan analisis melalui riwayat medik,
riwayat medik keluarga dan riwayat kehamilan dan saat melahirkan. Tes ini
merupakan tes penyaringan untuk spina bifida, sindroma Down dan kelainan bawaan
lainnya. Pemeriksaan fisik dipusatkan pada defisit neurologi, deformitas

muskuloskeletal dan evaluasi psikologis. Pada anak yang lebih besar dilakukan
asesmen tumbuh kembang, sosial dan gangguan belajar.
3. Pemeriksaan x-ray digunakan untuk mendeteksi kelainan tulang belakang, skoliosis,
deformitas hip, fraktur pathologis dan abnormalitas tulang lainnya.
4. USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis maupun
vertebra dan lokasi fraktur patologis.
5. CT scan kepala untuk mengevaluasi hidrosepalus dan MRI tulang belakang untuk
memberikan informasi pada kelainan spinal cord dan akar saraf.
6. 85% wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida atau defek neural tube, akan
memiliki kadar serum alfa fetoprotein (MSAP atau AFP) yang tinggi. Tes ini memiliki
angka positif palsu yang tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan
pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya
dapat menemukan adanya spina bifida. Kadang dilakukan amniosentesis (analisa
cairan ketuban).
Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan berikut:
1. Rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan.
2. USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pda korda spinalis maupun
vertebra
3. CT scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan lokasi dan
luasnya kelainan

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada penderita spina bifida memerlukan koordinasi tim yang terdiri
dari spesialis anak, saraf, bedah saraf, rehabilitasi medik, ortopedi, endokrin, urologi dan
tim terapi fisik, ortotik, okupasi, psikologis perawat, ahli gizi sosial worker dan lain-lain.
1.

Urologi
Dalam bidang urologi, terapi pada disfungsi bladder dimulai saat periode neonatal
sampai sepanjang hidup. Tujuan utamanya adalah mengontrol inkotinensia; mencegah

2.

dan mengontrol infeksi; dan mempertahankan fungsi ginjal.


Orthopedi
Tujuan terapi ortopedi adalah memelihara stabilitas spine dengan koreksi yang terbaik
dan mencapai anatomi alignment yang baik pada sendi ekstremitas bawah. Dislokasi hip
dan pelvic obliquity sering bersama-sama dengan skoliosis paralitik. Terapi skoliosis
dapat dengan pemberian ortesa body jacket atau Milwaukee brace. Fusi spinal dan fiksasi

internal juga dapat dilakukan untuk memperbaiki deformitas tulang belakang. Imbalans
gaya mekanik antara hip fleksi dan adduksi dengan kelemahan abduktor dan fungsi
ekstensor menghasilkan fetal coxa valga dan acetabulum yang displastik, dangkal dan
parsial. Hip abduction splint atau Pavlik harness digunakan 2 tahun pertama untuk
counter gaya mekaniknya.
3.
4.

Rehabilitasi Medik
Sistem Muskuloskeletal
Latihan luas gerak sendi pasif pada semua sendi sejak bayi baru lahir
dilakukan seterusnya untuk mencegah deformitas muskuloskeletal. Latihan
penguatan dilakukan pada otot yang lemah, otot partial inervation atau setelah
prosedur tendon transfer.
Perkembangan Motorik
Stimulasi motorik sedini mungkin dilakukan dengan memperhatikan tingkat

5.

dari defisit neurologis.


Ambulasi
Alat bantu untuk berdiri dapat dimulai diberikan pada umur 12 18 bulan.
Spinal brace diberikan pada kasus-kasus dengan skoliosis. Reciprocal gait orthosis
(RGO) atau Isocentric Reciprocal gait orthosis (IRGO) sangat efektif digunakan bila
hip dapat fleksi dengan aktif. HKAFO digunakan untuk mengkompensasi instabilitas
hip disertai gangguan aligment lutut. KAFO untuk mengoreksi fleksi lutut agar mampu
ke posisi berdiri tegak. Penggunaan kursi roda dapat dimulai saat tahun kedua terutama
pada anak yang tidak dapat diharapkan melakukan ambulasi.

6.

Bowel Training
Diet tinggi serat dan cairan yang cukup membantu feses lebih lunak dan
berbentuk sehingga mudah dikeluarkan. Pengeluaran feses dilakukan 30 menit setelah
makan dengan menggunakan reflek gastrokolik. Crede manuver dilakukan saat anak
duduk di toilet untuk menambah kekuatan mengeluarkan dan mengosongkan feses
Stimulasi digital atau supositoria rektal digunakan untuk merangsang kontraksi rektal
sigmoid. Fekal softener digunakan bila stimulasi digital tidak berhasil.

7.

Pembedahan
Pembedahan dilakukan secepatnya pada spina bifida yang tidak tertutup kulit,
sebaiknya dalam minggu pertama setelah lahir. Kadang-kadang sebagai akibat eksisi
meningokel terjadi hidrosefalus sementara atau menetap, karena permukaan absorpsi
CSS yang berkurang. Kegagalan tabung neural untuk menutup pada hari ke-28

gestasi, atau kerusakan pada strukturnya setelah penutupan dapat dideteksi in utero
dengan pemeriksaan ultrasonogrfi. Pada 90% kasus, kadar alfa-fetoprotein dalam
serum ibu dan cairan amnion ditemukan meningkat; penemuan ini sering digunakan
sebagai prosedur skrining. Keterlibatan baik kranial maupun spinal dapat terjadi;
terminology spina bifida digunakan pada keterlibatan spinal, apabila malformasi SSP
disertai rachischisis maka terjadi kegagalan lamina vertebrata.
Posisi tengkurap mempengaruhi aspek lain dari perawatan bayi. Misalnya,
posisi bayi ini, bayi lebih sulit dibersihkan, area-area ancaman merupakan ancaman
yang pasti, dan pemberian makanan menjadi masalah.
Bayi biasanya diletakkan di dalam incubator atau pemanas sehingga
temperaturnya dapat dipertahankan tanpa pakaian atau penutup yang dapat
mengiritasi lesi yang rapuh. Apabila digunakan penghangat overhead, balutan di atas
defek perlu sering dilembabkan karena efek pengering dari panas yang dipancarkan.
Sebelum pembedahan, kantung dipertahankan tetap lembap dengan meletakkan
balutan steril, lembab, dan tidak lengket di atas defek tersebut. Larutan pelembab
yang dilakukan adalah salin normal steril. Balutan diganti dengan sering (setiap 2
sampai 4 jam). Dan sakus tersebut diamati dengan cermat terhadap kebocoran, abrasi,
iritasi, atau tanda-tanda infeksi. Sakus tersebut harus dibersihkan dengan sangat hatihati jika kotor atau terkontaminasi. Kadang-kadang sakus pecah selama pemindahan
dan lubang pada sakus meningkatkan resiko infeksi pada system saram pusat.
Latihan rentang gerak ringan kadang-kadang dilakukan untuk mencegah
kontraktur, dan meregangkan kontraktur dilakukan, bila diindikasikan. Akan tetapi
latihan ini dibatasi hanya pada kaki, pergelangan kaki dan sendi lutut. Bila sendi
panggul tidak stabil, peregangan terhadap fleksor pinggul yang kaku atau otot-otot
adductor, mempererat kecenderungan subluksasi.
Penurunan harga diri menjadi ciri khas pada anak dan remaja yang menderita
keadaan ini. Remaja merasa khawatir akan kemampuan seksualnya, penguasaan
social, hubungan kelompok remaja sebaya, dan kematangan serta daya tariknya.
Beratnya ketidakmampuan tersebut lebih berhubungan dengan persepsi diri terhadap
kemampuannya dari pada ketidakmampuan yang sebenarnya ada pada remaja itu.
D. KOMPLIKASI

Komplikasi yang lain dari spina bifida yang berkaitan dengan kelahiran antara
lain adalah:
1. Paralisis cerebri
2. Retardasi mental
3. Atrofi optic
4. Epilepsi
5. Osteo porosis
6. Fraktur (akibat penurunan massa otot)
7. Ulserasi, cidera, dikubitus yang tidak sakit.
Infeksi urinarius sangat lazim pada pasien inkontinen. Meningitis dengan organisme
campuran lazim ditemukan bila kulit terinfeksi atau terdapat sinus. Pada beberapa
kasus, filum terminale medulla spinalis tertambat atau terbelah oleh spur tulang
(diastematomielia), yang dapat menimbulkan kelemahan tungkai progresif pada
pertumbuhan. Sendi charcot dapat terjadi dengan disorganisasi pergelangan kaki, lutut
atau coxae yang tak nyeri. Hidrosefalus karena malformasi Arnold-chiari sering
ditemukan.

E. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Anammesa
1. Identitas pasien meliputi : nama, jenis kelamin, umur, alamat, nama ayah, nama
ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu.
2. Keluhan utama
Terjadi abnormalitas keadaan medula spinalis pada bayi yang baru dilahirkan.
-

Riwayat penyakit sekarang


Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat keluarga

Saat hamil ibu jarang atau tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung
asam folat misalnya sayuran, buah-buahan (jeruk,alpukat), susu, daging, dan hati.
Ada anggota keluarga yang terkena spina bifida.
Pemeriksaan Fisik
B1 (Breathing) : normal
B2 (Blood)

: takikardi/bradikardi, letargi, fatigue

B3 (Brain) :

- Peningkatan lingkar kepala


- Adanya myelomeningocele sejak lahir
- Pusing

B4 (Bladder) : Inkontinensia urin

2.

B5 (Bowel)

: Inkontinensia feses

B6 (Bone)

: Kontraktur/ dislokasi sendi, hipoplasi ekstremitas bagian bawah

Diagnosa
1. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan spinal malformation dan luka operasi
2. Berduka berhubungan dengan kelahiran anak dengan spinal malformation
3. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kebutuhan
positioning, defisit stimulasi dan perpisahan
4. Risiko tinggi trauma berhubungan dengan lesi spinal
5. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan intra kranial (TIK)
6. Risiko tinggi kerusakan integritas kulit dan eleminasi urin berhubungan dengan
3

paralisis, penetesan urin yang kontinu dan feses.


Intervensi
1. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan spinal malformation dan luka operasi
Tujuan :
1. Anak bebas dari infeksi
2. Anak menunjukan respon neurologik yang normal
Kriteria hasil :Suhu dan TTV normal, Luka operasi, insisi bersih.

Intervensi

Rasional

1. Monitor tanda-tanda vital. Observasi tanda

1. Untuk melihat tanda-tanda terjadinya

infeksi : perubahan suhu, warna kulit, malas

resiko infeksi

minum , irritability, perubahan warna pada


myelomeingocele.

2. Untuk melihat dan mencegah terjadinya


TIK dan hidrosepalus

2. Ukur lingkar kepala setiap 1 minggu sekali,


observasi fontanel dari cembung dan palpasi
sutura kranial
3. Ubah posisi kepala setiap 3 jam untuk
mencegah dekubitus
4. Observasi tanda-tanda infeksi dan obstruksi
jika terpasang shunt, lakukan perawatan luka

3. Untuk mencegah terjadinya luka infeksi


pada kepala (dekubitus)
4. Menghindari terjadinya luka infeksi dan
trauma terhadap pemasangan shunt

pada shunt dan upayakan agar shunt tidak


tertekan

2. Berduka b.d kelahiran anak dengan spinal malformation


Tujuan :Orangtua dapat menerima anaknya sebagai bagian dari keluarga
Kriteria hasil :
1.
Orangtua mendemonstrasikan menerima anaknya dengan menggendong,
memberi minum, dan ada kontak mata dengan anaknya
2.
Orangtua membuat keputusan tentang pengobatan
3.
Orangtua dapat beradaptasi dengan perawatan dan pengobatan anaknya

Intervensi

1. Dorong orangtua
mengekspresikan perasaannya dan
perhatiannya terhadap bayinya,
diskusikan perasaan yang
berhubungan dengan pengobatan
anaknya
2. Bantu orangtua mengidentifikasi
aspek normal dari bayinya
terhadap pengobatan
3. Berikan support orangtua untuk

Rasional

1. Untuk meminimalkan rasa bersalah dan


saling menyalahkan
2. Memberikan stimulasi terhadap
orangtua untuk mendapatkan keadaan
bayinya yang lebih baik
3. Memberikan arahan/suport terhadap
orangtua untuk lebih mengetahui
keadaan selanjutnya yang lebih baik
terhadap bayi

membuat keputusan tentang


pengobatan pada anaknya

3. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kebutuhan


positioning, defisit stimulasi dan perpisahan.
Tujuan :Anak mendapat stimulasi perkembangan
Kriteria hasil :
1.

Bayi / anak berespon terhadap stimulasi yang diberikan

2.

Bayi / anak tidak menangis berlebihan

3.

Orangtua dapat melakukan stimulasi perkembangan yang tepat untuk bayi / anaknya

Intervensi

1. Ajarkan orangtua cara merawat

Rasional

1. Agar orangtua dapat mandiri dan

bayinya dengan memberikan

menerima segala sesuatu yang sudah

terapi pemijatan bayi


2. Posisikan bayi prone atau miring

terjadi
2. Untuk mencegah terjadinya luka infeksi

kesalahasatu sisi
3. Lakukan stimulasi

dan tekanan terhadap luka


3. Untuk mencegah terjadinya luka memar

taktil/pemijatan saat melakukan

dan infeksi yang melebar disekitar luka

perawatan kulit
1. Risiko tinggi trauma berhubungan dengan lesi spinal
Tujuan :Pasien tidak mengalami trauma pada sisi bedah/lesi spinal
Kriteria Hasil:
1.

Kantung meningeal tetap utuh

2.

Sisi pembedahan sembuh tanpa trauma

Intervensi

Rasional

1. Rawat bayi dengan cermat


2. Tempatkan bayi pada posisi

1. Untuk mencegah kerusakan pada

telungkup atau miring


3. Gunakan alat pelindung di
sekitar kantung ( mis : slimut
plastik bedah)
4. Modifikasi aktifitas
keperawatan rutin (mis :
memberi makan, member

kantung meningeal atau sisi


pembedahan
2. Untuk meminimalkan tegangan pada
kantong meningeal atau sisi
pembedahan
3. Untuk memberi lapisan pelindung
agar tidak terjadi iritasi serta infeksi
4. Mencegah terjadinya trauma

kenyamanan)

5. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan intra kranial (TIK)


Tujuan : pasien tidak mengalami peningkatan tekanan intrakranial
Kriteria Hasil : anak tidak menunjukan bukti-bukti peningkatan TIK

Intervensi

Rasional

1. Observasi dengan cermat adanya

1. Untuk mencegah keterlambatan

tanda-tanda peningkatan TIK


2. Lakukan pengkajian Neurologis

tindakan
2. Sebagai pedoman untuk

dasar pada praoperasi


3. Hindari sedasi
4. Ajari keluarga tentang tandatanda peningkatan TIK dan
kapan harus memberitahu

pengkajian pascaoperasi dan


evaluasi fungsi firau
3. Karena tingat kesadaran adalah
pirau penting dari peningkatan
TIK
4. Praktisi kesehatan untuk
mencegah keterlambatan tindakan

6.

Risiko tinggi kerusakan integritas kulit dan eleminasi urin berhubungan dengan

paralisis, penetesan urin yang kontinu dan feses.


Tujuan :pasien tidak mengalami iritasi kulit dan gangguan eleminasi urin
Kriteria hasil :kulit tetap bersih dan kering tanpa bukti-bukti iritasi dan gangguan
eleminasi.
Intervensi

1. Jaga agar area perineal tetap

Rasional

1. Untuk mengrangi tekanan pada

bersih dan kering dan

lutut dan pergelangan kaki

tempatkan anak pada

selama posisi telengkup


2. Untuk meningkatkan sirkulasi.
3. Untuk memberikan kelancaran

permukaan pengurang
tekanan.
2. Masase kulit dengan perlahan
selama pembersihan dan
pemberian lotion.
3. Berikan terapi stimulant pada
bayi

eleminasi

CEREBRAL PALSY
A. DEFENISI
Cerebral palsy merupakan brain injury yaitu suatu kondisi yang mempengaruhi
pengendalian sistem motorik sebagai akibat lesi dalam otak, atau suatu penyakit
neuromuskuler yang disebabkan oleh gangguan perkembangan atau kerusakan sebagaian
dari otak yag berhubungan dengan pengendalian fungsi motorik. (Somantri, 2007).
Serebral palsi sering diklasifikasikan sesuai dengan kategori fungsional yang
teramati untuk menggambarkan ketidaknormalan neuromuskular. Terdapat 4 kategori
dalam pengklasifikasian CP yaitu sebagai berikut:
1. CP spastik
Cerebral palsy spastik adalah bentuk yang paling sering (80% dari kasus CP).
Cp spastik dikarakteristikkan dengan hipertonik dan buruknya kendali postur,
keseimbangan, dan koordinasi. Keterampilan motorik kasar dan halus terganggu. CP
spastik diklasifikasikan jumlah ekstremitas yang terkena, yaitu:
a. Monoplegia
b. Dipelgia

: hanya meliputi satu ekstremitas


: meliputi tungkai dan paling sering terjadi pada bayi prematur

dan yang mengalami hemoragi intraventrikular atau leukomalasia iskemik.


Tidak adanya koordinasi ekstremitas atas pada lengan derajat ringan dapat
juga terlihat.
c. Triplegia
: mengenao 3 ektremitas yang sering adalah mengenai 2 lengan
dan 1 kaki.
d. Quadriplegia : meliputi semua ekstremitas, dengan derajat yang sama
e. Hemiplegia : biasanya lebih sering mengenai lengan daripada tungkai
2. CP Diskinetik/Atetoid

Bentuk CP ini mempunyai arakteristi gerakan menulis yang tidak terkontrol


dan perlahan. Gerakan abnormal ini mengenai tangan, kaki, lengan, atau tungkai, otot
muka dan lidah, menyebabkan anak tampak menyeringai dan selalu mengeluarkan air
liur. Gerakan sering meningkat selama periode stress dan hiang pada saat tidur.
Penderita juga mengalami masalah koordinasi gerakan otot bicara (disartria).
a. Atetosis

: gerakan menggeliat perlahan yang meliputi wajah dan

ekstremitas
b. Diskinetik
c. Distonia

: mulut (mengiler)
: (gangguan tonus otot) distorsi kedutan ritmik yang meliputi

badan dan ekstremitas proksimal


d. Korea
: gerakan wajah dan ekstremitas tidak beraturan yang cepat
e. Balismus
: gerakan menjatuhkan ekstremitas.
3. CP Ataksia
Penderita yang terkena sering menunjukkan koordinasi yang buruk, berjalan
yang tidak stabil dengan gaya berjalan kakai terbuka lebar, meletakkan kedua kaki
dengan posisi yang saling berjauhan, kesulitan dalam melakukan gerakan cepat dan
tepat, misalnya menulis atau mengancingkan baju. Mereka juga sering megalami
tremor, dimulai dengan gerakan volunter misalnya mengambil buku, menyebabkan
gerakan seperti menggigil pada bagian tubh yang baru digunakan dan tampak
memburuk sama dengan saat penderita akan menuju objek yang dikehendaki.
4. CP Campuran
Penderita mengalami lebih dari satu bentuk CP yag ada. Bentuk CP yang
sering dijumpai adalah spastik dengan gerakan atetoid tetapi kombinasi lain juga
mungkin dijumpai.
B. ETIOLOGI
Sekitar 24% kasus paralisis serebral tidak dapat diketahui penyebabnya. Penyebab
cerebral palsy secara umum dapat terjadi pada tahap prenatal (75%), perinatal (15%) dan
post natal (15%). Berikut adalah penjelasan dari masing-masing penyebabnya, yaitu:
a. Tahap Prenatal
Pada dasarnya, kerusakan pada otak saat prenatal terjadi saat bayi masih dalam
kandungan. Kerusakan yang dapat terjadi dapat disebabkan oleh:
1. Ibu menderita infeksi atau penyakit saat kehamilan, sehingga menyerang otak bayi
yang sedang dikandungnya. Infeksi ini merupakan salah satu hal yang dapat
menyebabkan kelainan pada janin. Misalnya infeksi sypilis, rubella, typhus
abdominalis dan penyakit inklusi sitomegalik.

2. Pelaku ibu, ibu yang mengkonsumsi obat-obatan, merokok, munum-minuman


keras, ibu yang mengalami depresi dan tekanan darah tinggi, hal tersebut dapat
merusak janin baik fisik maupun mental.
3. Masalah gizi, ibu yang menderita kekurangan gizi akan berpengaruh pada
pembentukan dan perkembangan otak janinnya (dapat menyebaban kerusakan
jaringan di otak).
4. Kelainan kandungan yang menyebabkan peredaran darah bayi terganggu yang
biasa disebut dengan anoksia. Contohnya yaitu tali pusat tertekan sehingga merusak
pembentukan saraf-saraf dalam otak dan anemia.
5. Bayi dalam kandungan terkena radiasi, dimana radiasi langsung dapat
mempengaruhi sistem saraf pusat sehingga struktur dan fungsi terganggu. Contohnya
adalah radiasi sinar-X.
6. Rh bayi tidak sama dengan ibunya, dimana Rh (Rhesus) ibu dengan bayi harus
sama agar proses metabolisme berfungsi normal. Jika berbeda, maka mengakibatkan
adanya penolakan yang menyebabkan kelainan metabolisme ibu dan bayi.
7. Ibu mengalami trauma (kecelakaan atau benturan) yang dapat mengakibatkan
terganggunya pembentukan sistem saraf pusat. Selain itu, keracunan pada ibu juga
berpotensi terkena gangguan ini.
b.

Tahap Prenatal
Pada

masa

bayi

dilahirkan

ada

beberapa

resiko

yang

dapat

menimbulkan cerebral palsy, antara lain:


1.

Hipoksis iskemik ensefalopati


Saat lahir, bayi dalam keadaan tidak sadar, bahkan tidak menangis dan justru

mengalami kejang hingga kekurangan oksigen ke otak, akibatnya jaringan otak rusak.
2.

Perdarahan otak
Perdarahan dibagian otak dapat mengakibatkan penyumbatan sehingga anak

menderita hidrocepaus ataupun microcepalus. Perdarahan yang terjadi dapat menekan


jaringan otak sehingga dapat terjadi kelumpuhan.
3.

Terkena infeksi jalan lahir


Jalan lahir yang kotr dan banyak kuman akan menyebabkan ketidaknormalan

bayi akibat gangguan proses persalinan misal ibu mempunyi infeksi TORCH.
4.

Ikterus atau bayi kuning


Merupakan keadaan bayi mengalami kuning yang berbahaya misalnya karena

kelahiran inkompatibilitas golongan darah yaitu ibu bergolongan darah O sedangkan

anaknya bergolongan darah A atau B, hal tersebut akan menyebabkan bayi mengalami
hiperbilirubenimia yang dapat merusak sel otak secara permanen.
5.

Meningitis purulenta
Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat

pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa cerebral palsy.


6.

Prematuritas
Pada cerebral palsy spastik diplegi biasanya terjadi pada kasus kelahiran

prematur, berat badan lahir rendah dan anoksia berat pada saat kelahiran. Bayi lahir
sebelum waktunya (premature), dimana secara organis tubuhnya belum matang
sehingga fisiologisnya mengalami kelainan dan rentannya bayi dalam terkena infeksi
atau penyakit yang dapat merusak sistem persarafan pusat bayi.
7.

Kelahiran dipaksa dengan menggunakan tang (forcep)


Tekanan yang cukup kuat pada kepala bayi dapat mengakibatkan rusaknya

jaringan saraf otak.


8.

Anestesi yang melebihi ketentuan


Anestesi yang melebihi ketentuan yang diberikan pada saat ibu dioperasi dapat

mempengaruhi sistem persarafan otak bayi sehingga otak mengalami kelainan


struktur ataupun fungsinya.
c.

Tahap Postnatal
Kerusakan pada otak saat postnatal terjadi pada masa mulai bayi dilahirkan
sampai anak berusia 5 tahun. Usia 5 tahun dijadikan patokan karena perkembangan
otak dianggap telah selesai. Kerusakannya dapat terjadi disebabkan oleh:
1. Kecelakaan yang dapat secara langsung merusak otak bayi. misalnya pukulan atau
benturan pada kepala yang cukup keras
2. Infeksi penyakit yang menyerang otak, misalnya terinfeksi penyakit meningitis,
encephalitis, influenza yang akut
3. Penyakit typoid atau diphteri yang memungkinkan dapat mengakibatkan
kekurangan oksigen (anoksia)
4.

Keracunan karbonmonoksida

5.

Tercekik

6.

Tumor otak

7.

Penyebab lainnya adalah pada trauma kapitis, meningitis, ensepalitis dan luka

parut pada otak pasca bedah dan bayi dengan berat badan lahir rendah.

C. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala yang dapat dilihat dari anak yang mengalami cerebral palsi
yaitu sebagai berikut:
1. Keterlambatan dalam mencapai tahap perkembangan motorik;
2. Penampilan motorik yang tidak normal dan kehilangan kendali motorik selektif
misalnya menggunakan tangan dominan lebih awal, berguling secara abnormal dan
asimetris, cardan lain-lain.
3. Perubahan tonus otot (misalnya peningkatan atau penurunan resistensi terhadap
gerakan pasif, anak merasa kaku ketika memegang atau berpakaian, kesulitan
menggunakan popok);
4. Postur yang tidak normal (misalnya tangan seperti gunting);
5. Ketidaknormalan refleks (misalnya reflek primitif persisten, seperti hertonik atau
hiperrefleksia);
6. Kecerdasan di bawah normal;
7. Keterbelakangan mental;
8. Kejang/epilepsi (terutama pada tipe spastik);
9. Gangguan menghisap atau makan;
10. Pernafasan yang tidak teratur;
11.Gangguan perkembangan kemampuan motorik (misalnya, menggapai sesuatu,
duduk, berguling, merangkak, berjalan);
12.Gangguan berbicara (disartria);
13.Gangguan penglihatan;
14.Gangguan pendengaran.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan klinis untuk mengidentifikasi ketidaknormalan tonus, seringnya
terjadi hipotonik yang diikuti dengan hipertonik, ketidaknormalan postur dan
keterlambatan perkembangan motorik.
2. Ultrasonografi kranial untuk mendeteksi hemoragi dan iskemik hipoksik.
3. CT scan untuk mendeteksi lesi-lesi susunan saraf pusat
4. Tomografi emisi positron dan tomografi terkomputerisasi emisi foton tunggal
untuk melihat metabolisme dan perfusi otak.
5. MRI untuk mendeteksi lesi-lesi kecil.
6.Pemeriksaan mata dan pendengaran segera dilakukan setelah diagnosis CP
ditegakkan.
7.

Pungsi lumbal harus dilakukan untuk menyingkirkan suatu proses degeneratif.

Pada CP likuor serebrospinalis normal.

8. Pemeriksaan Elektro Ensefalografi dilakukan pada penderita kejang atau pada


golongan hemiparesis baik yang berkejang maupun yang tidak.
9. Foto kepala (X-ray) dan CT Scan.
10. Penilaian psikologik perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pendidikan yang
diperlukan.
11. Pemeriksaan metabolik untuk menyingkirkan penyebab lain retardasi mental.
Penatalaksanaan
Pengobatan
a. Redukasi dan rehabilitasi.
Dengan adanya kecacatan yang bersifat multifaset, seseorang penderita CP
perlu mendapatkan terapi yang sesuai dengan kecacatannya. Evaluasi terhadap
tujuan perlu dibuat oleh masing-masing terapist. Tujuan yang akan dicapai perlu
juga disampaikan kepada orang tua/famili penderita, sebab dengan demikian ia
dapat merelakan anaknya mendapat perawatan yang cocok serta ikut pula
melakukan perawatan tadi di lingkungan hidupnya sendiri. Fisioterapi bertujuan
untuk mengembangkan berbagai gerakan yang diperlukan untuk memperoleh
keterampilan secara independen untuk aktivitas sehari-hari. Fisioterapi ini harus
segera dimulai secara intensif. Untuk mencegah kontraktur perlu diperhatikan
posisi penderita sewaktu istirahat atau tidur. Bagi penderita yang berat dianjurkan
untuk sementara tinggal di suatu pusat latihan. Fisioterapi dilakukan sepanjang
hidup penderita. Selain fisioterapi, penderita CP perlu dididik sesuai dengan
tingkat inteligensinya, di Sekolah Luar Biasa dan bila mungkin di sekolah biasa
bersama-sama dengan anak yang normal. Di Sekolah Luar Biasa dapat dilakukan
speech therapy dan occupational therapy yang disesuaikan dengan keadaan
penderita. Mereka sebaiknya diperlakukan sebagai anak biasa yang pulang ke
rumah dengan kendaraan bersanrm-sama sehingga tidak merasa diasingkan, hidup
dalam suasana normal. Orang tua janganlah melindungi anak secara berlebihan
dan untuk itu pekerja sosial dapat membantu di rumah dengan melihat seperlunya.
b. Psiko terapi untuk anak dan keluarganya.
Oleh karena gangguan tingkah laku dan adaptasi sosial sering menyertai CP,
maka psiko terapi perlu diberikan, baik terhadap penderita maupun terhadap
keluarganya.
c. Koreksi operasi.

Bertujuan untuk mengurangi spasme otot, menyamakan kekuatan otot yang


antagonis, menstabilkan sendi-sendi dan mengoreksi deformitas. Tindakan operasi
lebih sering dilakukan pada tipe spastik dari pada tipe lainnya. Juga lebih sering
dilakukan pada anggota gerak bawah dibanding dengan anggota gerak atas.
Prosedur operasi yang dilakukan disesuaikan dengan jenis operasinya, apakah
operasi itu dilakukan pada saraf motorik, tendon, otot atau pada tulang.
d. Obat-obatan.
Pemberian obat-obatan pada CP bertujuan untuk memperbaiki gangguan
tingkah laku, neuro-motorik dan untuk mengontrol serangan kejang. Pada
penderita CP yang kejang. pemberian obat anti kejang memeerkan hasil yang baik
dalam mengontrol kejang, tetapi pada CP tipe spastik dan atetosis obat ini kurang
berhasil. Demikian pula obat muskulorelaksan kurang berhasil menurunkan tonus
otot pada CP tipe spastik dan atetosis. Pada penderita dengan kejang diberikan
maintenance anti kejang yang disesuaikan dengan karakteristik kejangnya,
misalnya luminal, dilantin dan sebagainya. Pada keadaan tonus otot yang
berlebihan, obat golongan benzodiazepine, misalnya: valium, librium atau
mogadon dapat dicoba. Pada keadaan choreoathetosis diberikan artane. Tofranil
(imipramine) diberikan pada keadaan depresi. Pada penderita yang hiperaktif
dapat diberikan dextroamphetamine 5-10 mg pada pagi hari dan 2,5-5 mg pada
waktu tengah hari.
D. PATOFISIOLOGI
Paralisis serebral (cerebral palsy, CP) adalah istilah tidak spesifik yang
digunakan untuk memberi ciri khas pada ketidaknormalan tonus otot, postur, dan
koordinasi yang diakibatkan oleh suatu lesi tidak progresif atau cedera yang
mempengaruhi otak yang tidak matur (Betz & Sowden, 2009). Cerebral palsi dapat
diakibatkan dari ketidaknormalan otak prenatal. Ketidaknormalan dapat muncul dari
berbagai penyebab, malformasi anatomi otak, atrofi, oklusi vascular, maupun kehilangan
neuron. Faktor resiko yang menjadi predisposisi meliputi kelahiran kembar, infeksi ibu
dan kondisi trombofilik janin dan ibu.
Penyebab dari CP kongenital sering tidak diketahui, diperkirakan terjadi pada
masa kehamilan atau seteah kehamilan dimana terjadi kerusakan motorik pada otak yang
sedang berkembang. Fator penyebab dari CP dapat terjadi pada tahap prenatal, perinatal,
maupun ada saat post natal. Misalnya pada fase perinatal, bayi mengalami asfiksia yang

berkombinasi dengan iskemi yang bisa menyebabkan nekrosis kerniktrus secara klinis
memberikan gambaran kuning pada seluruh tubuh dan akan menempati ganglia basalis,
hipokampus, sel-sel nukleus batang otak yang bisa menyebabkan cerebral palsy tipe
atetoid yaitu gangguan pendengaran dan mental retardasi.
E. KOMPLIKASI
Anak yang menderita serebral palsi yang biasanya mengalami komplikasi seperti:
1. Kontraktur, yaitu sendi tidak dapat digerakkan atau ditekuk karena otot
memendek;
2. Skoliosis, yaitu tulang belakang melengkung ke samping disebabkan karena
kelumpuhan hemiplegia;
3. Dekubitus, yaitu adanya suatu luka yang menjadi borok akibat mengalami
kelumpuhan menyeluruh, sehingga ia harus selalu berbaring di tempat tidur;
4. Deformitas (perubahan bentuk) akibat adanya kontraktur;
5. Gangguan mental. Anak CP tidak semua tergangu kecerdasannya, mereka ada
yang memiliki kadar kecerdasan pada taraf rata-rata, bahkan ada yang berada di
atas rata-rata;
6. Gangguan komunikasi;
7. Ketidakmampuan belajar;
8. Komplikasi mental dapat terjadi apabila yang bersangkutan diperlakukan secara
tidak wajar.
F. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1. Data Umum
Mencakup identitas pasien dan penanggung jawab pasien seperti nomor
registrasi, nama pasien, nama pasien, usia, nama ibu dan ayah serta riwayat kesehatan
keluarga.
2. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehataan yang berhubungan dengan factor prenatal, natal dan post
natal serta keadaan sekitar kelahiran.
3. Keluhan dan manifestasi klinik
Observasi adanya manivestasi cerebral palsy, khususnya yang berhubungan
dengan pencapaian perkembangan :
-

Perlambatan perkembangan motorik kasar. Manifestasi umum, keterlambatan


pada semua pencapaian motorik, namun meningkat sejalan dengan
pertumbuhan.

Tampilan motorik abnormal. Penggunaan tangan unilateral yang terlaalu dini,


merangkak asimetris abnormal, berdiri atau berjinjit, gerakan involunter atau
tidak terkoordinasi, buruk menghisap, kesulitan makan, sariawan lidah yang

menetap.
Perubahan tonus otot. Peningkatan atau penurunan tahanan pada gerakan pasif,
postur opistotonik (lengkung punggung berlebihan), merasa kaku saat
memegang atau berpakaian, kesulitan dalam menggunakan popok, kaku atau
tidak menekuk pada pinggul dan sendi lutut bila ditarik ke posisi duduk (tanda

awal).
Posture abnormal. Mempertahankan agar pinggul lebih tinggi dari tubuh pada
posisi telungkup, menyilangkan atau mengekstensikan kaki dengan telapak
kaki plantar fleksi pada posisi telentang, lengan abduksi pada bahu, siku fleksi,

tangan mengepal.
Abnormalitas refleks. Refleks infantile primitive menetap (reflek leher tonik
ada pada usia berapa pun, tidak menetap diatas usia 6 bulan), Refleks Moro,
plantar, dan menggenggam menetaap atau hiperaktif, Hiperefleksia, klonus
pergelangan kaki dan reflek meregang muncul pada banyak kelompok otot

pada gerakan pasif cepat.


Kelainan penyerta (bisa ada, bisa juga tidak).Pembelajaran dan penalaran
subnormal (retardasi mental pada kira-kira dua pertiga individu). Kerusakan
perilaku dan hubungan interpersonal. Gejala lain yang juga bisa ditemukan
pada cerebral palsy adalah:
1) Kecerdasan di bawah normal
2) Keterbelakangan mental
3) Gangguan menghisap atau makan
4) Pernafasan yang tidak teratur
5)Gangguan perkembangan kemampuan motorik (misalnya menggapai
sesuatu, duduk, berguling, merangkak, berjalan)
6) Gangguan berbicara (disartria)
7) Gangguan penglihatan
8) Gangguan pendengaran
9) Kontraktur persendian
10) Gerakan terbatas

4. Pemeriksaan Fisik
a.

Muskuluskeletal: spastisitas, ataksia

b. Neurosensory:

c.

gangguan menangkap suara tinggi

gangguan bicara

anak berliur

bibir dan lidah terjadi gerakan dengan sendirinya

Nutrisi: intake yang kurang

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan
proses menelan.
b. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan neuromuskular pada
sistem pendengaran.
c. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot.
d. Resiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi motorik.

3. Intervensi dan Implementasi


Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

Keperawatan
Gangguan nutrisi

Tujuan:

kurang dari

Pemenuhan nutrisi

kebutuhan tubuh

pasien adekuat

berhubungan dengan

Kriteria hasil :

gangguan proses

Intervensi

Hasil
1.

1. Ajarkan pola

1. 1. Memberikan intake yang

makan yang teratur

adekuat dan menghindari


terjadinya

2.

1. 1. Adanya kemajuan

menelan

Rasional

2. Anjurkan untuk

komplikasi/memperberat

berpartisipasi dalam

penyakit lebih lanjut.

peningkatan berat

program

badan.

latihan/kegiatan

2. 2. Dengan adanya kegiatan

2. 2. Berat badan pasien

maka klien akan merasa lapar

normal/ideal sesuai usia


3.

3. Jaga kebersihan

dan akhirnya muncul

pasien

mulut pasien

keinginan klien untuk


memenuhi nutrisinya.

4.

4. Kolaborasi dengan
ahli gizi dalam

3. 3. Kebersihan mulut anak akan

pemberian nutrisi

memudahkan dan
meningkatkan nafsu pasien
untuk makan/pemenuhan
nutrisi.
4.

Gangguan
komunikasi

Tujuan

4. Meningkatkan gizi anak


1. 1.Menentukan derajat

disfungsi pada sistem

kerusakan serebral yang terjadi

berhubungan dengan mampumelakukan

pendegaran yang

dan kesulitan pasien dalam

gangguan

dialami.

beberapa atau seluruh tahap

neuromuskular

verbal Pasien

1. 1. Kaji derajat

proses
pada komunikasi dalam

sistem pendengaran

proses komunikasi.

kekurangan yang ada.


Kriteria hasil
1. 1. Adanya pemahaman
tentang masalah

2. 2. Perhatikan kesalahan2. 2.Pasien mungkin kehilangan


dalam komunikasi dan

kemampuan untuk memantau

berikan umpan balik.

ucapan yang keluar dan tidak

komunikasi

menyadari bahwa komunikasi

2.
2. 2. Menggunakan

yang diucapkannya tidak jelas.


3. 3.Berikan metode

3. Umpan balik membantu

sumber-sumber dalam

komunikasi alternatif,

pasien merealisasikan kenapa

komunikasi dengan

seperti menlis di

pemberi asuhan tidak

tepat

papan tulis, gambar.

mengerti/bersepon dan

3. 3. Mampu

memberikan kesempatan untuk

mengggunakan metode
komunikasi untuk

mengklarifikasikan isi/makna
4. 4. Berikan petunjuk

menegspresikan

visual (gerakan

kebutuhan

tangan, gambar-

yang terkandung dalam


ucapannya.

gambar, daftar

3. 4.Memberikan metode

kebutuhan,

komunikasi yang dapat

demonstrasi).

dipahami oleh pasien.

5.
4. 5. Kolaborasi dengan

4. 5. Pengkajian secara individual

ahli terapi wicara

untuk mengetahui kemampuan


bicara dan sensori, motorik,
dan kognitif berfungsi ntuk
mengidentifikasi kekurangan
dan kebutuhan terapi.

Gangguan mobilitas

Tujuan

1.

1.Kaji kemampuan

1.

fisik berhubungan

Pasien mampu

secara

derajat kekuatan atau

dengan kelemahan

melakukan aktivitas

fungsional/luasnya

kelemahan dan dapat

otot

Kriteria hasil

kerusakan.

memberikan informasi tentang

1. 1.Mampu
mempertahankan posisi
2.

pemuliahan.
2. Berikan aktifitas

optimal dan fungsi yang ringan yang dapat


dibuktikan dengan tidak

1.Untuk mengidentifikasi

2.
2.

2.Anak dapat meningkatkan


kemampuan yang dimiliki

dikerjakan pasien.

anaknya walaupun terbatas.

adanya kontraktur.
2. 2. Meningkatkan
kekuatan dan fungsi 3.

3.
3.Libatkan anak dalam

bagian tubuh yang

mengatur jadwal harian

terganggu.

dan memilih aktifitas

3. 3. Mampumenggunakan

yang diinginkan.

4.

teknik untuk melakukan


4. 4. Bantu pasien dalam

3. Membantu pemenuhan
kebutuhan
4.Membantu memberikan
dorongan untuk latihan aktif

aktivitas.

pergerakan dan latihan

sehingga terjadi peningkatan

denganmenggunakan

fungsi dari ektremitas.

eksremitas yang tidak


sakit.
5.
5.

5.Membantu pasien dalam

5. Kolaborasi dengan

menemukan kebutuhan dan

ahli fisioterapi.

meningkatkan keseimbangan,
koordinasi, dan kekuatan otot.

Resiko cedera

Tujuan

1. 1. Identifikasi faktor

1. 1.Mampu mengetahui factor

berhubungan dengan

Pasien terhindar dari

yang mempengaruhi

dalam menjaga keamanan

penurunan fungsi

resiko cidera

kebutuhan keamanan.

klien

motorik

Kriteria hasil
1. 1. Pasien dan keluarga
menyatakan pemahaman2. 2. Identifikasi faktor 2. 2.Mengetahui lingkungan
faktor yang

lingkungan yang

mana yang akan memberikan

menyebabkan cidera.

memungkinkan

keamanan terhadap pasien

2.

terjadinya cedera

2. 2. Pasien menunjukkan
perubahan perilaku,

3. 3. Keluarga pasien mampu


3. 3. Berikan materi

pola hidup untuk


menurunkan

pendidikan kepada

faktor

berhubungan dengan

melindungi diri dari


cidera.

4. 4. Keluarga pasien mengetahui

tindakan pencegahan

pengetahuan akan bahaya

terhadap cedera

lingkungan yang ada.

4.
4. 4.Berikan informasi
kepada keluarga
terhadap bahaya
lingkungan dan
karakteristiknya.

1. Pemenuhan nutrisi pasien adekuat

pencegahan cedera dari pasien

keluarga yang

resiko dan untuk

4. Evaluasi Keperawatan

mengetahui tindakan

2. Pasien mampu melakukan aktivitas


3. Pasien mampu melakukan proses komunikasi dalam kekurangan yang ada
4. Pasien terhindar dari resiko cidera

DAFTAR PUSTAKA