Anda di halaman 1dari 4

Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Nasional

Rendy Restu Tama


Prodi Teknik Listrik,
Jurusan Teknik Elektro, POLINEMA
ABSTRAK

Paradigma diartikan sebagai asumsi dasar atau asumsi teoritis yang umum
sehingga paradigma dinilai sebagai sumber nilai, hukum dan metodologi. Sesuai
dengan kedudukannya, paaradigma memiliki fungsi yang strategis dalam membangun
kerangka berpikir dan penerapannya sehingga setiap ilmu pengetahuan memiliki sifat,
siri dan karakter yang khas berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya. Pembangunan
nasional dilaksanakan dalam rangka mencapai masyarakat adil yang berkemakmuran
dan makmur yang berkeadilan. Dalam pembukaan UUD 1945 disebutan bahwa tujuan
negara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia,memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kepada kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan social. Tujuan pertama merupakan manifestasi dari negara hokum
formal, sedangkan tujuan kedua dan ketiga merupakan manifestasi dari pengertian
negara hukum material, yang secara keseluruhan sebagai manifestasi tujuan khusus.
Sementara tujuan yang terakhir adalah perwujudan dari kesadaran suatu bangsa yang
hidup di tengah-tengah pergaulan masyarakat internasional. Sebagai konsekuensi
pemikiran diatas, maka pembangunan nasional harus meliputi aspek jiwa seperti akal,
kehendak ;raga (jasmani);pribadi;social; dan ketuhanan yang terkristalisasi dalam
nilai-nilai pancasila. Dengan demikina pancasila dapat dijadikan tolak ukur atau
paradigma pembangunan nasional diberbagai bidang.
Kata Kunci : Pembangunan, Pancasila
Untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan, seseorang pasti akan melakukan hal yang
paling mendasar untuk mewujudkan cita-citanya. Membuat rancangan serta rincian yang
mendetail tentang apapun yang diperlukan untuk memenuhi itu semua. Sama halnya dengan
sebuah suatu negara yang memiliki cita-cita. Di negara berkembang tentunya masih banyak
cita-cita yang belum bisa diraih. Seperti negara Indonesia. Dalam mewujudkan cita-cita yang
termaktub dalam pembukaan UUD 1945, Indonesia melakukan beberapa hal yang bisa
membangun negara dan juga bangsanya. Pembangunan yang dilakukan sebuah negara
Indonesia tidak hanya melalui sebuah rancangan saja, namun juga telah melewati sebuah
pemikiran yang serius untuk tercapainya negara sesuai dengan pancasila sebagai dasar
negara. Pembangunan yang tidak semena-mena ini membutuhkan berbagai macam usaha
yang serius. Pembangunan tidak hanya berupa materi saja, namun juga sebuah moral dan

spiritual bangsa. Dalam pembahasan selanjutnya akan dijelaskan mengenai pembangunan


nasional dan dalam bidang bidang tertentu yang menyeluruh.
Pembahasan
Dalam kehidupan sehari-hari, paradigm berkembang menjadi terminology yang
mengandung pengertian sebagai : sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar, sumber asas,
tolok ukur, parameter, serta arah dan tujuan dari suatu perkembangan,perubahan, dan proses
tertentu termasuk dalam pembangunan, gerakan, reformasi maupun proses pendidikan.
Dengan demikian paradigm menempati posisi dan fungsi yang strategis dalam setiap proses
kegiatan. Perencanaan, pelaksanaan dan hasil-hasilnya dapat diukur dengan paradigma
tertentu yang diyakini kebenarannya.
Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam sila pancasila dikembangkan atas dasar
ontomologis manusia, baik sebagai makhluk individu atau social. Nilai-nilai Pancasila harus
dikembalikan kepada kondisi objektif masyarakat Indonesia. Maka dari itu,pancasila harus
menjadi paradigm perilaku manusia Indonesia, termasuk dalam pembanguan nasionalnya.
Berdasarkan pemikiran diatas,maka pembangunan nasional sebagai sarana untuk
mewujudkan tujuan nasional harus dikembalikan pada hakitkat manusia yang monopluralis
yang memiliki cirri-ciri yaitu : (1) terdiri dari jiwa dan raga, (2)sebagai makhluk individual
dan social,serta (3) sebagai pribadi dan makhluk Allah.
Prinsi-prinsip yang kurang sesuai dengan nilai-nilai panasila telah membawa
implikasi yang luas dan mendasar bagi kehidupan manusia Indonesia. Pembangunan bidang
hokum yang didasari pada nilai-nilai moral baru sebatas pada tataran filosofis dan konseptual.
Hokum nasional yang dikembangkan secara realistis jarang dapat terwujud karena setiap
upaya penegakan hokum dipengaruhi oleh keputusan politik.

Dengan demikian, dapat

dikatakan bahwa pembangunan dibidang politik telah mengalami kegagalan.


Hampir semua pakar ekonomi Indonesia memiliki kesadaran akan pentingnya
moralitas kemanusiaan dan ketuhanan sebagai landasan pembangunan ekonomi. Namun
dalam praktiknya, mereka tidak mampu meyakinkan permerintah tentang konsep dan konsep
yang sesuai dengan kondisi Indonesia. bahkan tidak sedikit pakar ekonomi Indonesia yang
mengikuti pendapat pakar barat tentang pembangunan ekonomi Indonesia.

Pandangan tentang merkantilisme melahirkan system ekonomi kapitalis pada akhir


abad 18. Sedangkan pada abad 19 di Eropa lahir pemikiran baru sebagai reaksi dari system
ekonomi kapitalis yang dikenla dengan system ekonomi sosialis yang juga memperjuangkan
nasib kaum proletar yang ditindas oleh kaum kapitalis.
Salah satu tujuan dibentuknya pemerintah Negara Indonesia adalah untuk melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Untuk itu, pemerintah
berkewajiban

membangun sistem pertahanan dan keamanan yang mampu mewujudkan

tujuan dan cita-cita tersebut. Atas dasar pemikiran tersebut, pemerintah menyusun dan
memperkenalkan sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (hankamrata). Sistem ini
pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dimana pemerintah dan rakyat memiliki
hak dan kewajiban yang sama dalam usaha bela negara. Disamping itu, Pancasila
menganjurkan agar bangsa Indonesia dapat hidup berdampingan secara damai.
Pembangunan sosial budaya harus dilaksanakan atas dasar kepentingan nasional yaitu
terwujudnya kehidupan masyarakat yang demokratis, tentram, aman, dan damai. Pemikiran
tersebut bukan berarti bangsa Indonesia harus steril dari pengaruh budaya asing. Artinya,
pengaruh budaya asing harus diterima apabila diperlukan dalam membangun masyarakat
Indonesia yang modern. Namun, perlu diingat bahwa masyarakat modern bukan berarti
masyarakat yang berbudaya Barat (westernisasi), melainkan masyarakat yang tetap berpijak
pada akar budayanya.
Pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks)
merupakan salah satu persyaratan menuju terwujudnya kehidupan masyarakat bangsa yang
maju dan modern. Namun demikian, pengembangan ipteks bukan semata-mata untuk
mengejar kemajuan material, melainkan harus memperhatikan aspek spiritual. Artinya,
pengembangan ipteks diarahkan untuk mencapai kebahagian lahr dan batin.
Amandemen terhadap UUD 1945 merupakan sebuah implikasi dari gerakan
reformasiyang menginginkan adanya sistem kehidupan sosial yang lebih baik. Oleh karena
itu berbagai amandemen yang di lakukan oleh MPR merupakan upaya penyempurnaan UUD
1945 agar kehidupan ketatanegaraan Indonesia menjadi lebih baik sesuai dengan nilai-nilai
dasar yang termuat dalam pancasila. Kehidupan sosial politik yang demokratis pada akhir
masa Orde Baru semakin jauh dari kenyataan. Para elite politik kurang peduli terhadap
kepentingan rakyat dan pendidikan politik, serta lebih mengutamakan kepentingan pribadi
atau kelompoknya. Kondisi seperti ini membawa akibat yang sangat menyakitkan bagi

rakyat, terutama lapissan masyarakat menengah ke bawah. Terjadilah krisis multidimensional


di Indonesia. Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai dasar yang di yakini kebenarannya dan
dapat diterima oleh bangsa Indonesia dapat di pergunakan sebagai tolok ukur atau paradigma
dalam setiap aktivitasnya. Artinya setiap perbuatan ( ucapan dan tindakan ) bangsa dapat
dibenarkan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai pancasila. Sejalan dengan pemikiran
ini, maka pembangunan dan gerakan reformasi harus menggunakan pancasila sebagai
paradigmanya. Oleh karena itu setiap rakyat Indonesia tidak perlu merasa kecewa apabila
cita-citanya untuk melaksanakan pembangunan tidak tercapai.

Kesimpulan
Dalam kehidupan sehari-hari, paradigma berkembang menjadi terminology yang
mengandung pengertian sebagai : sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar, sumber asas,
tolok ukur, parameter, serta arah dan tujuan dari suatu perkembangan,perubahan, dan proses
tertentu termasuk dalam pembangunan, gerakan, reformasi maupun proses pendidikan.
Dengan demikian paradigm menempati posisi dan fungsi yang strategis dalam setiap proses
kegiatan. Perencanaan, pelaksanaan dan hasil-hasilnya dapat diukur dengan paradigma
tertentu yang diyakini kebenarannya. Dan atas dasar argumen di atas semua masyarakat dapat
berpartisipasi secara rasional, proporsional dan realistis dalam membangun tatanan sosial
budaya. Akhirnya dalam rangka mewujudkan tatanan kehidupan yang demokratis, aman,
tentram, damai, adil, dan makmur menuntut partisipasi dari seluruh komponen bangsa yang
dilaksanakan atas nilai-nilai kebenaran

Sumber Pustaka
Sugito AT dkk.2010.Pendidikan Pancasila.Semarang;Pusat Pengembangan MKU- MKDK
UNNES.