Anda di halaman 1dari 59

Ruang Operasi Rumah Sakit merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam

penyelenggaraan pelayanan medik di sarana pelayanan kesehatan. Ruang Operasi


adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai daerah pelayanan kritis
yang mengutamakan aspek hirarki zonasi sterilitas. Oleh karena itu kegagalan dalam
pembedahan jangan sampai disebabkan oleh faktor perencanaan dan perancangan fisik
bangunan dan utilitasnya yang tidak memenuhi persyaratan teknis.
Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit telah menerangkan mengenai
teknis fasilitas ruang operasi persyaratan dan standar rumah sakit yang memenuhi
standar pelayanan, keamanan, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Dengan adanya
undang-undang ini diharapkan kegagalan yang disebabkan faktor fisik bangunan dan
utilitasnya dapat dicegah.
Pembangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus bertujuan memperhatikan kaidahkaidah pelayanan kesehatan, sehingga bangunan ruang operasi yang akan dibuat
memenuhi standar kemanan, keselamatan, kemudahan dan kenyamanan bagi pasien
dan pengguna bangunan lainnya serta tidak berakibat buruk bagi keduanya.
Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh,
dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan
kelayanan (;serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan
mempertimbangkan fungsi bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, lokasi, keawetan,
dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.
Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai
akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur, baik
beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa dan
angin. Dalam perencanaan struktur bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit terhadap
pengaruh gempa, semua unsur struktur bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, baik
bagian dari sub struktur maupun struktur bangunan, harus diperhitungkan memikul
pengaruh gempa rancangan sesuai dengan zona gempanya.
Ruangan yang harus ada dalam ruang operasi adalah sebagai berikut:
Ruang Pendaftaran
Ruang Tunggu Pengantar
Ruang Transfer (Transfer Room)
Ruang Tunggu Pasien (Holding Room)
Ruang Persiapan Pasien
Ruang Induksi
Ruang Penyiapan Peralatan

Ruang Operasi
Ruang Pemulihan
Ruang Resusitasi Bayi/ Neonatus
Ruang Loker
Ruang Dokter
Scrub Station
Ruang Utilitas Kotor (Spoel Hoek, Disposal)
Ruang Penyimpanan Peralatan Kebersihan (Janitor)
Ruang Linen
Ruang Penyimpanan Peralatan
RENCANA DESAIN FISIK RUANG OPERASI
I. PERSYARATAN UMUM
Sebagai bagian penting dari Rumah Sakit, beberapa komponen yang digunakan pada
ruang operasi memerlukan beberapa persyaratan khusus, antara lain :
a. Komponen penutup lantai.
a. Lantai tidak boleh licin, tahan terhadap goresan/ gesekan peralatan dan tahan
terhadap api.
b. Lantai mudah dibersihkan, tidak menyerap, tahan terhadap bahan kimia dan anti
bakteri.
c. Penutup lantai harus dari bahan anti statik, yaitu vinil anti statik. Tidak menghantarkan
listrik. Tahanan listrik dari bahan penutup lantai ini bisa berubah dengan bertambahnya
umur pemakaian dan akibat pembersihan, oleh karena itu tingkat Stahanan listrik lantai
ruang operasi harus diukur tiap bulan, dan harus memenuhi persyaratan yang berlaku.
d. Permukaan dari semua lantai tidak boleh porous, tetapi cukup keras untuk
pembersihan dengan penggelontoran (flooding), dan pem-vakuman basah.
e. Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.
f. Hubungan/ pertemuan antara lantai dengan dinding harus menggunakan bahan yang
tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai (Hospital plint).
g. Tinggi plint, maksimum 15 cm.

b. Komponen dinding.
Komponen dinding memiliki persyaratan sebagai berikut :
a. Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, tahan bahan kimia, tidak berjamur
dan anti bakteri.
b. Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori-pori)
sehingga dinding tidak menyimpan debu.
c. Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.
d. Hubungan/ pertemuan antara dinding dengan dinding harus tidak siku, tetapi
melengkung untuk memudahkan pembersihan dan juga untuk melancarkan arus aliran
udara.
e. Bahan dinding harus keras, tahan api, kedap air, tahan karat, tidak punya sambungan
(utuh), dan mudah dibersihkan.
f. Apabila dinding punya sambungan, seperti panel dengan bahan melamin (merupakan
bahan anti bakteri dan tahan gores) atau insulated panel system maka sambungan
antaranya harus di-seal dengan silicon anti bakteri sehingga memberikan diding tanpa
sambungan (;seamless), mudah dibersihkan dan dipelihara.
g. Alternatif lain bahan dinding yaitu dinding sandwich galvanis, 2 (dua) sisinya dicat
dengan cat anti bakteri dan tahan terhadap bahan kimia, dengan sambungan antaranya
harus di-seal dengan silicon anti bakteri sehingga memberikan diding tanpa sambungan
(;seamless).
c. Komponen langit-langit.
Komponen langit-langit memiliki persyaratan sebagai berikut :
a. Harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak
mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, tidak berjamur serta anti
bakteri.
b. memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak
menyimpan debu.
c. berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.
d. Selain lampu operasi yang menggantung, langit-langit juga bisa dipergunakan untuk
tempat pemasangan pendan bedah, dan bermacam gantungan seperti diffuser air
conditioning dan lampu fluorescent.
e. Kebutuhan peralatan yang dipasang dilangit-langit, sangat beragam. Bagaimanapun
peralatan yang digantung tidak boleh sistem geser, kerena menyebabkan jatuhnya debu
pengangkut mikro-organisme setiap kali digerakkan.

d. Pintu Ruang operasi.


a. Pintu masuk ruang operasi atau pintu yang menghubungkan ruang induksi dan ruang
operasi.
a. disarankan pintu geser (sliding door) dengan rel diatas, yang dapat dibuka tutup
secara otomatis.
b. Pintu harus dibuat sedemikian rupa sehingga pintu dibuka dan ditutup dengan
menggunakan sakelar injakan kaki atau siku tangan atau menggunakan sensor, namun
dalam keadaan listrik penggerak pintu rusak, pintu dapat dibuka secara manual.
c. Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara
pembedahan-pembedahan.
d. Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass : double glass
fixed windows).
e. Lebar pintu 1200 1500 mm, dari bahan panil dan dicat jenis cat anti bakteri & jamur
dengan warna terang.
f. Apabila menggunakan pintu swing, maka pintu harus membuka ke arah dalam dan
alat penutup pintu otomatis (;automatic door closer) harus dibersihkan setiap selesai
pembedahan.
b. Pintu yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang scrub-up.
a. sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang operasi.
b. Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara
pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan alat penutup pintu (door
closer). Disarankan menggunakan door seal and interlock system.
c. Lebar pintu 1100 mm, dari bahan panil (;insulated panel system) dan dicat jenis cat
anti bakteri/ jamur dengan warna terang.
d. Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (;observation glass : double glass
fixed windows).
c. Pintu/jendela yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang spoel Hoek
(disposal). (catatan ; jika menggunakan selasar kotor maka disposal material / barang
bekas pakai langsung dibawa keruang CSSD atau untuk peralatan bisa dibawa keruang
sterilisasi di area operasi dan linen ke CSSD)
a. sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang operasi. b)
Pintu/jendela tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara
pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan engsel yang dapat
menutup sendiri (auto hinge) atau alat penutup pintu (door closer).

b. Lebar pintu/jendela 1100 mm, dari bahan panil (;insulated panel system) dan dicat
jenis duco dengan cat anti bakteri/ jamur dengan warna terang.dan dicat jenis duco
dengan warna terang.
c. Pintu/jendela dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass : double
glass fixed windows).
d. Pintu yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang penyiapan peralatan/
instrumen (jika ada).
a. sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang operasi.
b. Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara
pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan alat penutup pintu (door
closer).
c. Lebar pintu 1100 mm, dari bahan panil dan dicat jenis duco dengan cat anti bakteri/
jamur dengan warna terang.
d. Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass :double glass fixed
windows).
II. ZONASI RUANG OPERASI
Sistem zonasi pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit bertujuan untuk
meminimalisir risiko penyebaran infeksi oleh micro-organisme dari rumah sakit (area
kotor) sampai pada kompleks ruang operasi. Aspek esensial dari sistem zonasi ini dan
layout/denah bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit adalah mengatur arah dari tim
bedah, tim anestesi, pasien dan setiap pengunjung serta aliran bahan steril dan kotor.
Dengan menerapkan sistem zonasi ini dapat meminimalkan risiko infeksi pada paska
bedah. Kontaminasi mikrobiologi dapat disebabkan oleh :
1. mikroorganisme (pada kulit) dari pasien atau infeksi yang mana pasien mempunyai
kelainan dari apa yang akan dibedah.
2. petugas ruang operasi, terkontaminasi pada sarung tangan dan pakaian.
3. kontaminasi dari instrumen, kontaminasi cairan.
4. Jalur yang salah dari aliran barang bersih dan kotor
Udara dapat langsung (melalui partikel debu pathogenic) dan tidak langsung (melalui
kontaminasi pakaian, sarung tangan dan instrumen) dapat menyebabkan kontaminasi.
Oleh karena itu, sistem pengkondisian udara mempunyai peranan yang sangat penting
untuk mencegah kondisi potensial dari kotaminasi yang terakhir. Adanya sistem zonasi
tersebut menyebabkan penggunaan sistem air conditioning pada setiap zona berbedabeda.

Keterangan :
1. Zona 1, Tingkat Resiko Rendah (Normal)
Zona ini terdiri dari area resepsionis (ruang administrasi dan pendaftaran), ruang tunggu
keluarga pasien, janitor dan ruang utilitas kotor.
2. Zona 2, Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)
Zona ini terdiri dari ruang istirahat dokter dan perawat, ruang plester, pantri petugas.
Ruang Tunggu Pasien (;holding)/ ruang transfer dan ruang loker (ruang ganti pakaian
dokter dan perawat) merupakan area transisi antara zona 1 dengan zone 2.
3. Zona 3, Tingkat Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)
Zona ini meliputi kompleks ruang operasi, yang terdiri dari ruang persiapan
(preparation), peralatan/instrument steril, ruang induksi, area scrub up, ruang pemulihan
(recovery), ruang resusitasi neonates, ruang linen, ruang pelaporan bedah, ruang
penyimpanan perlengkapan bedah, ruang penyimpanan peralatan anastesi, implant
orthopedi dan emergensi serta koridor-koridor di dalam kompleks ruang operasi.
Merupakan area dengan kebersihan ruangan kelas 100.000 (ISO 8 ISO 146441cleanroom standards, Tahun 1999)
4. Zona 4, Tingkat Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan Pre Filter, Medium Filter, Hepa
Filter)
Zona ini adalah ruang operasi, dengan tekanan udara positif. Merupakan area dengan
kebersihan ruangan kelas 10.000 (ISO 7 ISO 14644-1 cleanroom standards, Tahun
1999)
5. Area Nuklei Steril
Area ini terletak dibawah area aliran udara kebawah (;laminair air flow) dimana bedah
dilakukan (meja operasi). Merupakan area dengan kebersihan ruangan kelas 1.000
sampai dengan 10.000 (ISO 6 s/d 7 ISO 14644-1 cleanroom standards, Tahun 1999).

III. DENAH RUANG OPERASI


1. Ruang Operasi Minor
Ruang operasi untuk bedah minor atau tindakan endoskopi dengan pembiusan lokal,
regional atau total dilakukan pada ruangan steril. Kegiatan induksi/anastesi dan
penyiapan alat untuk bedah minor dapat dilakukan di ruang operasi dan bak cuci tangan
(scrub-up) ditempatkan berdekatan dengan bagian luar ruangan ruang operasi ini. Area
yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pembedahan minor, 36 m 2, dengan ukuran
ruangan panjang x lebar x tinggi adalah 6m x 6m x 3 m.
Peralatan utama pada ruang operasi minor ini adalah :
a) Meja Operasi.
b) Lampu operasi tunggal.
c) Mesin Anestesi dengan saluran gas medik dan listrik menggunakan pendan anestesi
atau cara lain.
d) Peralatan monitor bedah, dengan diletakkan pada pendan bedah atau cara lain.
e) Film Viewer.
f) Jam dinding.
g) Instrument Trolley untuk peralatan bedah.
h) Tempat sampah klinis.
i) Tempat linen kotor.
j) lemari obat/ peralatan dan lain-lain.

2. Ruang operasi Umum (General Surgery Room).

Kamar operasi umum menyediakan lingkungan yang steril untuk melakukan tindakan
bedah dengan pembiusan lokal, regional atau total. Kamar operasi umum dapat dipakai
untuk pembedahan umum dan spesialistik termasuk untuk ENT, Urology, Ginekolog,
Opthtamologi, bedah plastik dan setiap tindakan yang tidak membutuhkan peralatan
yang mengambil tempat banyak. Area yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan
pembedahan umum minimal 42 m2, dengan ukuran panjang x lebar x tinggi adalah
7mx6mx3m.
Peralatan kesehatan utama minimal yang berada di kamar ini antara lain :
a) 1 (satu) meja operasi (operation table),
b) 1 (satu) set lampu operasi (Operation Lamp), terdiri dari lampu utama dan lampu
satelit.
c) 2 (dua) set Peralatan Pendant (digantung), masing-masing untuk pendan anestesi
dan pendan bedah.
d) 1 (satu) mesin anestesi,
e) Film Viewer.
f) Jam dinding.
g) Instrument Trolley untuk peralatan bedah.
h) Tempat sampah klinis.
i) Tempat linen kotor.
j) dan lain-lain.

3. Ruang Operasi Besar (Mayor).


Kamar Besar menyediakan lingkungan yang steril untuk melakukan tindakan bedah
dengan pembiusan lokal, regional atau total. Ruang operasi besar dapat digunakan

untuk tindakan pembedahan yang membutuhkan peralatan besar dan memerlukan


tempat banyak, termasuk diantaranya untuk bedah Neuro, bedah orthopedi dan bedah
jantung. Kebutuhan area ruang operasi besar minimal 50 m 2, dengan ukuran panjang x
lebar x tinggi adalah 7.2m x 7m x 3m.

4. Ruang Induksi
Pasien bedah menunggu di ruangan ini, apabila belum siap. Pembiusan lokal, regional
dan total dapat dilakukan diruangan ini. Ruangan harus tenang, dan ruangan ini
terbebas dari bahaya listrik. Area ruang induksi (preoperatif) yang dibutuhkan sekurangkurangnya 15 m2.

5. Ruang Penyiapan Peralatan (Preparation Room).


Ruangan ini digunakan untuk menyimpan dan menyiapkan bahan-bahan bersih dan
steril yang dipakai serta peralatan/instrumen untuk pembedahan pasien, penyimpanan
dan penyiapan obat terjamin keamanannya, termasuk cairan suntik.

IV. PERSYARATAN KESELAMATAN


Pelayanan pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, termasuk daerah pelayanan
kritis, sesuai SNI 03 7011 2004, Keselamatan pada bangunan fasilitas kesehatan.
1. Sistem proteksi petir.
a. Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit yang berdasarkan letak, sifat geografis,
bentuk, ketinggian dan penggunaannya berisiko terkena sambaran petir, harus
dilengkapi dengan instalasi proteksi petir.
b. Sistem proteksi petir yang dirancang dan dipasang harus dapat mengurangi secara
nyata risiko kerusakan yang disebabkan sambaran petir terhadap bangunan Ruang
Operasi Rumah Sakit dan peralatan yang diproteksinya, serta melindungi manusia di
dalamnya.
2. Sistem proteksi kebakaran
a. Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran
dengan sistem proteksi pasif dan proteksi aktif.
b. Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi, risiko kebakaran,
geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/ atau jumlah dan kondisi penghuni
dalam bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit..
c. Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi, klasifikasi, luas, ketinggian,
volume bangunan, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan Ruang
Operasi Rumah Sakit..
d. Bilamana terjadi kebakaran di ruang operasi, peralatan yang terbakar harus segera
disingkirkan dari sekitar sumber oksigen dan mesin anestesi atau outlet pipa yang
dimasukkan ke ruang operasi untuk mencegah terjadinya ledakan.
e. Api harus dipadamkan di ruang operasi, jika dimungkinkan, dan pasien harus segera
dipindahkan dari tempat berbahaya. Peralatan pemadam kebakaran harus dipasang

diseluruh rumah sakit . Semua petugas harus memahami ketentuan tentang cara-cara
proteksi kebakaran. Mereka harus mengetahui persis tata letak kotak alarm kebakaran
dan mampu menggunakan alat pemadam kebakaran tersebut.
3. Sistem Kelistrikan
a. Sumber daya listrik.
Sumber daya listrik pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, termasuk katagori
sistem kelistrikan esensial 3 , di mana sumber daya listrik normal dilengkapi dengan
sumber daya listrik siaga dan darurat untuk menggantikannya, bila terjadi gangguan
pada sumber daya listrik normal.
b. Jaringan.
a. Kabel listrik dari peralatan yang dipasang di langit-langit tetapi yang bisa digerakkan,
harus dilindungi terhadap belokan yang berulang-ulang sepanjang track, untuk
mencegah terjadinya retakan-retakan dan kerusakan-kerusakan pada kabel.
b. Kolom yang bisa diperpanjang dengan ditarik, menghindari bahaya-bahaya tersebut.
c. Sambungan listrik pada outlet-outlet harus diperoleh dari sirkit-sirkit yang terpisah. Ini
menghindari akibat dari terputusnya arus karena bekerjanya pengaman lebur atau suatu
sirkit yang gagal yang menyebabkan terputusnya semua arus listrik pada saat kritis.
c. Terminal.
a. Kotak kontak (stop kontak)
i. Setiap kotak kontak daya harus menyediakan sedikitnya satu kutub pembumian
terpisah yang mampu menjaga resistans yang rendah dengan kontak tusuk
pasangannya.
ii. Karena gas-gas yang mudah terbakar dan uap-uap lebih berat dari udara dan akan
menyelimuti permukaan lantai bila dibuka, Kotak kontak listrik harus dipasang 5 ft ( 1,5
m) di atas permukaan lantai, dan harus dari jenis tahan ledakan.
b. Sakelar.
Sakelar yang dipasang dalam sirkit pencahayaan harus memenuhi SNI 04 0225
2000, Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000), atau pedoman dan standar
teknis yang berlaku.
d. Pembumian.
Kabel yang menyentuh lantai, dapat membahayakan petugas. Sistem harus memastikan
bahwa tidak ada bagian peralatan yang dibumikan melalui tahanan yang lebih tinggi dari
pada bagian lain peralatan yang disebut dengan sistem penyamaan potensial

pembumian (Equal potential grounding system). Sistem ini memastikan bahwa hubung
singkat ke bumi tidak melalui pasien.
e. Peringatan.
Semua petugas harus menyadari bahwa kesalahan dalam pemakaian listrik membawa
akibat bahaya sengatan listrik, padamnya tenaga listrik, dan bahaya kebakaran.
Kesalahan dalam instalasi listrik bisa menyebabkan arus hubung singkat, tersengatnya
pasien, atau petugas. Bahaya ini dapat dicegah dengan :
a. Memakai peralatan listrik yang dibuat khusus untuk kamar operasi. Peralatan harus
mempunyai kabel yang cukup panjang dan harus mempunyai kapasitas yang cukup
untuk menghindari beban lebih.
b. Peralatan jinjing (portabel), harus segera diuji dan dilengkapi dengan sistem
pembumian yang benar sebelum digunakan.
c. Segera menghentikan pemakaian dan melaporkan apabila ada peralatan listrik yang
tidak benar.
4. Sistem Gas Medis dan Vakum Medis
a. Vakum, udara tekan medik, oksigen, dan nitrous oksida disalurkan dengan pemipaan
ke ruang operasi. Outlet-outletnya bisa dipasang di dinding, pada langit-langit, atau
digantung di langit-langit.
b. Bilamana terjadi gangguan pada suatu jalur, untuk keamanan ruang-ruang lain,
sebuah lampu indikator pada panel akan menyala dan alarm bel berbunyi, pasokan
oksigen dan nitrous oksida dapat ditutup alirannya dari panel-panel yang berada di
koridor-koridor, Bel dapat dimatikan, tetapi lampu indikator yang memonitor
gangguan/kerusakan yang terjadi tetap menyala sampai gangguan/kerusakan teratasi.
c. Selama terjadi gangguan, dokter anestesi dapat memindahkan sambungan gas
medisnya yang semula secara sentral ke silinder-silinder gas cadangan pada mesin
anestesi.
V. PERSYARATAN KESEHATAN
1. Sistem ventilasi.
a. Ventilasi di ruang operasi harus pasti merupakan ventilasi tersaring dan terkontrol.
Pertukaran udara dan sirkulasi memberikan udara segar dan mencegah pengumpulan
gas-gas anestesi dalam ruangan.
b. Dua puluh lima kali pertukaran udara per jam di ruang bedah yang disarankan.
c. Filter microbial dalam saluran udara pada ruang bedah tidak menghilangkan limbah
gas-gas anestesi. Filter penyaring udara, praktis hanya menghilangkan partikel-partikel
debu.

d. Jika udara pada ruang bedah disirkulasikan, kebutuhan sistem scavenger untuk gas
(penghisapan gas) adalah mutlak, terutama untuk menghindari pengumpulan gas
anestesi yang merupakan risiko berbahaya untuk kesehatan anggota tim bedah.
e. Ruang bedah menggunakan aliran udara laminair.
g. Tekanan dalam setiap ruang operasi harus lebih besar dari yang berada di koridorkoridor, ruang sub steril dan ruang pencucian tangan (;scrub-up) (tekanan positif).
h. Tekanan positif diperoleh dengan memasok udara dari diffuser yang terdapat pada
langit-langit ke dalam ruangan. Udara dikeluarkan melalui return grille yang berada pada
+ 20 cm diatas permukaan lantai.
i. Organisme-organisme mikro dalam udara bisa masuk ke dalam ruangan, kecuali
tekanan positip dalam ruangan dipertahankan.
2. Sistem pencahayaan.
a. Pencahayaan Umum.
a. Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus mempunyai pencahayaan alami
dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan
fungsinya.
b. Ruang fasilitas/akomodasi petugas dan ruang pemulihan sebaiknya dibuat untuk
memungkinkan penetrasi cahaya siang langsung/tidak langsung.
c. Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang
dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit
dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi, dan penempatannya tidak
menimbulkan efek silau atau pantulan.
d. Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang
pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dengan fungsi tertentu, serta dapat
bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk
evakuasi yang aman.
e. Semua sistem pecahayaan buatan, kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan
darurat, harus dilengkapi dengan pengendali manual, dan/atau otomatis, serta
ditempatkan pada tempat yang mudah dibaca dan dicapai, oleh pengguna ruang.
f. Pencahayaan umum disediakan dengan lampu yang dipasang di langit-langit.
g. Disarankan pencahayaan ruangan menggunakan lampu fluorecent, dengan
pemasangan sistem lampu recessed karena tidak mengumpulkan debu.
h. Pencahayaan harus didistribusikan rata dalam ruangan.

i. Dokter anestesi harus mendapat cukup pencahayaan, sekurang-kurangnya


200footcandle (= 2.000 Lux), untuk melihat wajah pasiennya dengan jelas.
j. Untuk mengurangi kelelahan mata (fatique), perbandingan intensitas pencahayaan
ruangan umum dan di ruang operasi, jangan sampai melebihi satu dibanding lima,
disarankan satu berbanding tiga.
k. Perbedaan intensitas pencahayaan ini harus dipertahankan di koridor, tempat
pembersihan dan di ruangannya sendiri, sehingga dokter bedah menjadi terbiasa
dengan pencahayaan tersebut sebelum masuk ke dalam daerah steril. Warna-warni
cahaya harus konsisten.
b. Pencahayaan tempat operasi/bedah
a. Pencahayaan tempat operasi/bedah tergantung dari kualitas pencahayaan dari
sumber sinar lampu operasi/bedah yang menggantung (overhead) dan refleksi dari tirai.
b. Cahaya atau penyinaran haruslah sedemikian sehingga kondisi patologis bisa
dikenal.
c. Lampu operasi/bedah yang menggantung (overhead), haruslah :
i. Membangkitkan cahaya yang intensif dengan rentang dari 10.000 Lux hingga 20.000
Lux yang disinarkan ke luka pemotongan tanpa permukaan pemotongan menjadi silau.
ii. Harus memberikan kontras terhadap kedalaman dan hubungan struktur anatomis.
d. Lampu sebaiknya dilengkapi dengan kontrol intensitas. Dokter bedah akan meminta
cahaya agar lebih terang jika diperlukan. Lampu cadangan harus tersedia.
e. Pilihlah cahaya yang mendekati biru/putih (daylight). Kualitas cahaya dari tissue yang
normal diperoleh dengan energi spektral dari 1800 hingga 6500 Kelvin (K). Disarankan
menggunakan warna cahaya yang mendekati warna terang (putih) dari langit tidak
berawan di siang hari, dengan temperatur kurang lebih 5000 K. e) Kedudukan lampu
operasi/bedah harus bisa diatur menurut suatu posisi atau sudut.
f. Pergerakan ke bawah dibatasi sampai 1,5 m di atas lantai kalau dipergunakan bahan
anestesi mudah terbakar.
g. Jika hanya dipergunakan bahan tidak mudah terbakar, lampu bisa diturunkan seperti
yang dikehendaki.
h. Umumnya lampu operasi/bedah digantung pada langit-langit dan armatur/fixturenya
bisa digerakkan/digeser-geser.
i. Beberapa jenis lampu operasi/bedah mempunyai lampu ganda atau track ganda
dengan sumber pada tiap track .

j. Lampu operasi direncanakan untuk dipergunakan guna memperoleh intensitas cahaya


yang cukup dan bayangan yang sekecil mungkin pada luka pembedahan.
k. Armatur/fixture disesuaikan sedemikian hingga dokter bedah bisa mengarahkan sinar
dengan perantaraan pegangan-pegangan yang steril pada armatur/fixture tersebut.
3. Sistem Sanitasi
Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, setiap bangunan Ruang Operasi Rumah
Sakit harus dilengkapi dengan sistem air bersih, sistem pembuangan air kotor dan/atau
air limbah, kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan.
a. Sistem air bersih.
a. Sistem air bersih harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbang kan
sumber air bersih dan sistem distribusinya.
b. Sumber air bersih dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air
lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan peraturan perundangundangan.
c. Perencanaan sistem distribusi air bersih dalam bangunan rehabilitasi medik harus
memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan.
b. Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah.
a. Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah harus direncanakan dan dipasang
dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya.
b. Pertimbangan jenis air kotor dan/atau air limbah diwujudkan dalam bentuk pemilihan
sistem pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan.
c. Pertimbangan tingkat bahaya air kotor dan/atau air limbah diwujudkan dalam bentuk
sistem pengolahan dan pembuangannya.
c. Sistem pembuangan kotoran dan sampah.
a. Sistem pembuangan kotoran dan sampah harus direncanakan dan dipasang dengan
mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya.
b. Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat
penampungan kotoran dan sampah pada bangunan rehabilitasi medik, yang
diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan, jumlah penghuni, dan volume kotoran dan
sampah.
c. Pertimbangan jenis kotoran dan sampah diwujudkan dalam bentuk penempatan
pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni,
masyarakat dan lingkungannya. 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
perencanaan, pemasangan, dan pengolahan fasilitas pembuangan kotoran dan sampah

pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti pedoman dan standar teknis
yang berlaku.
d. Sistem penyaluran air hujan.
a. Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan
mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan
ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota.
b. Setiap bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dan pekarangannya harus dilengkapi
dengan sistem penyaluran air hujan.
c. Kecuali untuk daerah tertentu, air hujan harus diserapkan ke dalam tanah pekarangan
dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase
lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
d. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima,
maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh
instansi yang berwenang.
e. Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan
dan penyumbatan pada saluran.
V. PERSYARATAN KENYAMANAN.
1. Sistem pengkondisian udara.
a. Untuk mendapatkan kenyamanan kondisi udara ruang di dalam bangunan Ruang
Operasi Rumah Sakit, pengelola bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus
mempertimbang kan temperatur dan kelembaban udara.
b. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan
dapat dilakukan dengan pengkondisian udara dengan mempertimbangkan :
i. fungsi ruang, jumlah pengguna, letak, volume ruang, jenis peralatan, dan penggunaan
bahan bangunan.
ii. kemudahan pemeliharaan dan perawatan, dan
iii. prinsip-prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan.
c. Sistem ini mengontrol kelembaban yang dapat menyebabkan terjadinya ledakan.
Kelembaban relatip yang harus dipertahankan adalah 45% sampai dengan 60%,
dengan tekanan udara positif pada ruang operasi.
d. Uap air memberikan suatu medium yang relatip konduktif, yang menyebabkan
muatan listrik statik bisa mengalir ke tanah secapat pembangkitannya. Loncatan bunga
api dapat terjadi pada kelembaban relatip yang rendah. e. Temperatur ruangan
dipertahankan sekitar 190C sampai 240C.

e. Sekalipun sudah dilengkapi dengan kontrol kelembaban dan temperatur, unit


pengkondisian udara bisa menjadi sumber micro-organisme yang datang melalui filterfilternya. Filter-filter ini harus diganti pada jangka waktu yang tertentu.
f. Saluran udara (ducting) harus dibersihkan secara teratur.
g. Ruang operasi dilengkapi dengan sistem aliran laminar ke bawah dengan hembusan
udara dari plenum ( 8 sampai 9 m2). Pada kondisi kerja dengan lampu operasi
dinyalakan dan adanya tim bedah, suplai udara dan profil hembusan udara dipilih
sedemikian rupa sehingga aliran udara tidak lewat melalui setiap sumber kontaminasi
sebelum mengalir kedalam area bedah atau diatas meja instrumen.
h. Jika pada area penyiapan instrumen/ peralatan steril tidak dilakukan di bawah aliran
udara aliran udara ke bawah dari langit-langit, preparasi steril dengan sistem aliran
laminar kebawah harus dibuat sendiri dalam area preparasi steril atau tempat dimana
preparasi steril dilakukan (contoh di koridor kompleks bedah).
i. Sebaiknya dipastikan bahwa tidak ada emisi debu dari bagian bawah langit-langit pada
area preparasi dan ruang operasi ke dalam ruangan. Langit-langit dengan bagian bawah
yang rapat sebaiknya digunakan atau ruangan di bagian bawah langit-langit sebaiknya
dapat menahan tekanan khususnya di area preparasi dan ruang operasi.
j. Penting untuk memilih perletakan lubang ducting udara masuk dan keluar dari sistem
ventilasi guna mencegah terkontaminasinya udara buang terisap kembali jika angin
meniup dalam arah tertentu.
k. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan
pemeliharaan kenyamanan kondisi udara pada bangunan rehabilitasi medik mengikuti
SNI 03 6572 2001, atau edisi terakhir, Tata cara perancangan sistem ventilasi dan
pengkondisian udara pada bangunan gedung , atau pedoman dan standar teknis lain
yang berlaku.
2. Kebisingan
a. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan Ruang
Operasi Rumah Sakit, pengelola bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus
mempertimbang kan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/ atau sumber bising
lainnya baik yang berada pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit maupu di luar
bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit
b. Indeks kebisingan maksimum pada ruang operasi adalah 45 dBA dengan waktu
pemaparan 8 jam.
c. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan terhadap
kebisingan pada bangunan instalasi bedah mengikuti pedoman dan standar teknis yang
berlaku.
3. Getaran.

a. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap getaran pada bangunan Ruang


Operasi Rumah Sakit, pengelola bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus
mempertimbang kan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/ atau sumber getar
lainnya baik yang berada pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit maupun di luar
bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit.
b. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan terhadap
getaran pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti pedoman dan standar
teknis yang berlaku.
VI. PERSYARATAN KEMUDAHAN
1. Kemudahan hubungan horizontal.
a. Setiap bangunan rumah sakit harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan
horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk
terselenggaranya fungsi bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit tersebut.
b. Jumlah, ukuran, dan jenis pintu, dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan
besaran ruang, fungsi ruang, dan jumlah pengguna ruang.
c. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi
ruang dan aspek keselamatan.
d. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan
fungsi koridor, fungsi ruang dan jumlah pengguna.
e. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan pintu dan koridor mengikuti
pedoman dan standar teknis yang berlaku.
2. Kemudahan hubungan vertikal.
a. Setiap bangunan rumah sakit bertingkat harus menyediakan sarana hubungan
vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit
tersebut berupa tersedianya tangga, ram, lif, tangga berjalan/ eskalator, dan/atau lantai
berjalan/travelator.
b. Jumlah, ukuran dan konstruksi sarana hubungan vertikal harus berdasarkan fungsi
bangunan rumah sakit, luas bangunan, dan jumlah pengguna ruang, serta keselamatan
pengguna bangunan rumah sakit.
c. Setiap bangunan rumah sakit yang menggunakan lif, harus menyediakan lif
kebakaran.
d. Lif kebakaran dapat berupa lif khusus kebakaran atau lif penumpang biasa atau lif
barang yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam keadaan darurat dapat
digunakan secara khusus oleh petugas kebakaran.

e. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan lif, mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
3. Sarana evakuasi.
a. Setiap bangunan rumah sakit, harus menyediakan sarana evakuasi yang meliputi
sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu eksit, dan jalur evakuasi yang dapat
dijamin kemudahan pengguna bangunan rumah sakit untuk melakukan evakuasi dari
dalam bangunan rumah sakit secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan
darurat.
b. Penyediaan sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu eksit, dan jalur evakuasi
disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung, jumlah dan kondisi
pengguna bangunan rumah sakit, serta jarak pencapaian ke tempat yang aman.
c. Sarana pintu eksit dan jalur evakuasi harus dilengkapi dengan tanda arah yang
mudah dibaca dan jelas.
d. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan sarana evakuasi mengikuti
pedoman dan standar teknis yang berlaku.
4. Aksesibilitas.
a. Setiap bangunan rumah sakit harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk
menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia masuk ke
dan ke luar dari bangunan rumah sakit serta beraktivitas dalam bangunan rumah sakit
secara mudah, aman nyaman dan mandiri.
b. Fasilitas dan aksesibilitas sebagaimana dimaksud meliputi toilet, telepon umum, jalur
pemandu, rambu dan marka, pintu, ram, tangga, dan lif bagi penyandang cacat dan
lanjut usia.
c. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi, luas dan ketinggian
bangunan rumah sakit.
d. Ketentuan tentang ukuran, konstruksi, jumlah fasilitas dan aksesibilitas bagi
penyandang cacat mengikuti ketentuan dalam pedoman dan standar teknis yang
berlaku.
REFERENSI
1. Undang-Undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang-Undang RI No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 36 Tahun 2005, tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung.
4. Joanna R. Fuller, Surgical Technology, Principles and Practice, Saunders.

5. American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers,


Handbook, Applications, 1974 Edition, ASHRAE.
6. American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers, HVAC
Design Manual for Hospitals and Clinics, 2003 edition, ASHRAE.
7. G.D. Kunders, Hospitals, Facilities Planning and Management, Tata McGraw-Hill
Publishing Company Limited, 2004.

Pengertian Kamar Operasi


Kamar operasi adalah suatu unit khusus di rumah sakit, tempat untuk
melakukan tindakan pembedahan, baik elektif maupun akut, yang
membutuhkan keadaan suci hama (steril).
Secara umum lingkungan kamar operasi terdiri dari 3 area.
1. Area bebas terbatas (unrestricted area)
Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian
khusus kamar operasi.
2. Area semi ketat (semi restricted area)
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi
yang terdiri atas topi, masker, baju dan celana operasi.
3. Area ketat/terbatas (restricted area).
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi
lengkap dan melaksanakan prosedur aseptic.
1. Job Description Kamar Operasi
Peran perawat perioperatif tampak meluas, mulai dari praoperatif,
intraoperatif, sampai ke perawatan pasien pascaanestesi. Peran perawat
di kamar operasi berdasarkan fungsi dan tugasnya terbagi 3 yaitu :
1. Perawat administratif
2. Perawat pada pembedahan
3. Perawat pada anestesi
Pada parktiknya, peran perawat perioperatif dipengaruhi oleh beberapa
faktor :
1. Lama pengalaman

Lamanya pengalaman bertugas dikamar operasi, terutama pada kamar


pembedahan khusus, seperti sebagai perawat instrumen di kamar bedah
saraf, onkologi, ginekologi, dan lain lain akan memberikan dampak yang
besar terhadap peran perawat dalam menentukan hasil pembedahan.
2. Kekuatan dan ketahanan fisik
Beberapa jenis pembedahan, seperti bedah saraf, toraks, kardiovaskular,
atau spina memerlukan waktu operasi yang panjang. Pada kondisi
tersebut, perawat instrumen harus berdiri dalam waktu lama dan
dibutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Oleh karena itu, agar mengikuti
jalannya pembedahan secara optimal, dibutuhkan kekuatan dan ketahanan
fisik yang baik.
3. Keterampilan
Keterampilan terdiri atas keterampilan psikomotor, manual, dan
interpersonal yang kuat. Agar dapat mengikuti setiap jenis pembedahan
yang berbeda-beda, perawat instrumen diharapkan mampu untuk
mengintegrasikan antara keterampilan yang dimiliki dengan keinginan dari
operator bedah pada setiap tindakan yang dilakukan dokter bedah dan
asisten bedah. Hal ini akan memberikan tantangan tersendiri pada perawat
untuk mengembangkan keterampilan psikomotor mereka agar bisa
mengikuti jalannya pembedahan.
4. Sikap professional
Pada kondisi pembedahan dengan tingkat kerumitan yang tinggi, timbul
kemungkinan perawat melakukan kesalahan saat menjalankan perannya.
Perawat harus bersikap professional, dan mau menerima teguran.
Kesalahan yang dilakukan oleh salah satu peran akan berdampak pada
keseluruhan proses dan hasilpempedahan.
5. Pengetahuan
Yaitu pengetahuan tentang prosedur tetap yang digunakan institusi.
Perawat menyesuaikan peran yang akan dijalankan dengan kebijakan
dimana perawat tersebut bekerja. Pengetahuan yang optimal tentang
prosedur tetap yang berlaku akan memberikan arah pada peran yang
dilaksanakan.
1. Peran Perawat Pre Operasi
Sebelum tindakan operasi dimulai, peran perawat melakukan pengkajian
pre operasi

awal, merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan


kebutuhan
pasien, melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara,
memastikan
kelengkapan pemeriksaan praoperasi, mengkaji kebutuhan klien dalam
rangka
perawatan post operasi.
1. a)
Pengkajian
Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan
dikumpulkan, pemeriksaan fisik dilakukan, tanda-tanda vital di catat dan
data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang.
Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti analisa darah,
endoskopi, rontgen, endoskopi, biopsi jaringan, dan pemeriksaan feses
dan urine. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya
pemeriksaan fisik diagnostik.
Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi
organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan, fungsi hepar dan
ginjal, fungsi endokrin, dan fungsi imunologi.
Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos
operasi, penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien.
Demikian pula dengan kondisi obesitas, klien obesitas akan mendapat
masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan
meningkatkan resiko infeksi luka, juga terhadap kesulitan teknik dan
mekanik selama dan setelah pembedahan.
1. b)
Informed Consent
Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah
memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat
dengan sukarela dari klien, sebelumnya diberikan penjelasan yang
gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko.
1. c)
Pendidikan Pasien Pre operasi
Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan
pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam
meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan.
Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan
keputusan, tambahan pengetahuan, keterampilan,dan perubahan perilaku.

Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan


masalah waktu, jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum
pembedahan memungkinkan klien lupa, demikian juga bila terlalu dekat
dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena
adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi.
1. d)
Informasi Lain
Pasien mungkin perlu diberikan penjelasan kapan keluarga atau orang
terdekat dapat menemani setelah operasi. Pasien dianjurkan
berdoa.Pasien diberi penjelasan kemungkinan akan dipasang alat post
operasinya seperti ventilator, selang drainase atau alat lain agar pasien
siap menerima keadaan post operasi.
1. Peran Perawat Administratif
perawat administratif berperan dalam pengaturan manajemen penunjang
pelaksanaan pembedahan. Biasanya terdiri dari perencanaan dan
pengaturan staf, kolaborasi penjadwalan pasien bedah, perencanaan
manajemen material, dan manajemen kinerja.
Peran perawat administratif :
1. Perencanaan dan Pengaturan Staf
Pengaturan dan penjadwalan staf adalah tanggungbjawab manajemen
tang dipercayakan dan diberikan kepada perawat administratif. Dalam
upaya memenuhi standar ini, staf yang melakukan tanggung jawab
administratif ini harus memahami cara untuk mengembangkan standar
pengaturan dan penjadwalan staf.
Menurut Gruendemann (2006), ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam merencanakan pengaturan staf, yaitu :
1)

Mengidentifikasi jenis pekerjaan yang akan dilakukan

2)

Mengidentifikasi jumlah staf yang diperlukan

3)
Mengidentifikasi tipe pekerja yang diperlukan untuk pekerjaan
tersebut
4)
Mengembangkan pola pengaturan untuk penjadwalan staf.
Penjadwalan staf meliputi pengembangan kebijakan penjadwalan dan
pengembangan jadwal kerja untuk staf.
1. Identifikasi Jenis Pekerjaan

Dikamar operasi staf pekerjaan dibagi menjadi staf perawatan langsung


dan staf perawatan tak langsung.
Staf perawatan langsung terdiri dari perawat scrub, perawat sirkulasi
(unloop), perawat anestesi, dan perawat asisten operasi.
Staf perawatan tidak langsung tidak memberikan asuhan langsung kepada
pasien. Semua personel tambahan yang diperlukan untuk mendukung
ruang operasi, seperti sekretaris, teknisi instrumen, personel pelayanan
lingkungan, personel transport, personel keuangan, dan perawat
administratif dipertimbangkan juga sebagai pemberi perawatan tidak
langsung.
Perencanaan jumlah staf perawatan langsung atau tidak langsung
disesuaikan berdasarkan kebutuhan dari jumlah ruang operasi yang
tersedia setiap jam per hari dan disesuaikan dengan kebujakan pada
setiap institusi.
1. Penjadwalan staf
Kebijakan penjadwalan menjadi kerangka kerja untuk mengembangkan
jadwal kerja staf yang dilakukan secara adil dan konsisten, dalam
kaitannya dengan pedoman penjadwalan yang jelas. Kebijakan harus
mencakup tanggung jawab staf untuk bekerja pada akhir minggu, merotasi
shift, memenuhi panggilan, bekerja pada hari libur, dan bekerja tengah
malam.
Kebijakan juga harus meliputi penetapan waktu libur dan mengidentifikasi
rasio staf perawatan langsung seperti perawat scrub, perawat asisten
operasi, dan perawat anestesi per shift.
1. Penjadwalan Pasien Bedah
Dilakukan oleh perawat administratif berkolaborasi dengan dokter bedah
pada setiap kamar bedah yang tersedia. Peran perawat supervisor atau
administratif dalam mengatur jadwal pasien bedah bertujuan untuk
menjaga kondisi para perawat perioperatif di kamar bedah.
Kolaborasi dilakukan dengan memperhitungkan jenis dan lamanya
pembedahan.
1. Manajemen Material dan Inventaris
Perawat administratif yang melakukan perencanaan dan control terhadap
inventaris dan material biasanya adalah Kepala Perawat di ruang operasi
yang dibantu oleh staf nonoperatif.

Barang inventaris yang berada digudang kamar operasi seperti kereta


lemari, tempat pemnyimpanan kereta, tempet penyimpanan barang-barang
khusus dikamar operasi, dan cabinet masing-masing kamar operasi.
Persediaan tersebut dapat berupa peralatan medis dan bedah, barang
steril dan non steril, obat-obatan, baki untuk instrumen, atau barang lain
yang digunakan dikamar operasi. Inventaris biasanya selalu mengacu pada
barang medis dan bedah yang sebagian besar bersifat habis pakai.
Fungsi kontrol terhadap material dilakukan dengan tuuan untuk
memberikan rasa percaya antarstaf. Persediaan harus memadai jika
sewaktu-waktu diperlukan.
1. Pengaturan kinerja
Pengaturan kinerja dengan cara yang sistematis agar staf dapat mencapai
tujuan penyelesaian tugas secara optimal.
Perencanaan kegiatan sistematis direncanakan secara individual terhadap
seluruh staf, misalnya pengaturan staf baru dengan metode orientasi
dasar, bimbingan kompetensi kamar operasi, dan pengenalan alat canggih.
Implementasi kegiatan dapat berupa umpan balik terhadap hasil yang
terlaksana. Penilaian kinerja staf akan mencermati hasil disesuaikan
dengan kebijakan institusi.
1. Peran Perawat Instrumen
Perawat scrub atau di Indonesia dikenal sebagai perawat instrumen
memiliki tanggung jawab terhadap manajemen instrumen operasi pada
setiap jenis pembedahan. Secara spesifik peran dan tanngung jawab dari
perawat instrumen adalah sebgai berikut :
1)
Perawat instrumen menjaga kelengkapan alat instrumen steril yang
sesuai dengan jenis operasi.
2)
Perawat instrumen harus selalu mengawasi teknik aseptik dan
memberikan instrumen kepada ahli bedah sesuai kebutuhan dan
menerimanya kembali
3)
Perawat instrumen harus terbiasa dengan anatomi dasar dan teknikteknik bedah yang sedang dikerjakan.
4)
Perawat instrumen harus secara terus menerus mengawasi prosedur
untuk mengantisipasi segala kejadian

5)
Melakukan manajemen sirkulasi dan suplai alat instrumen operasi.
Mengatur alat-alat yang akan dan telah digunakan. Pada kondisi ini
perawat instrumen harus benar-benar mengetahui dan mengenal alat-alat
yang akan dan telah digunakan beserta nama ilmiah dan mana biasanya,
dan mengetahui penggunaan instrumen pada prosedur spesifik.
6)
Perawat instrumen harus mempertahankan integritas lapangan steril
selama pembedahan.
7)
Dalam menangani instrumen, Perawat instrumen harus mengawasi
semua aturan keamanan yang terkait. Benda-benda tajam, terutama
skapel, harus diletakkan dimeja belakang untuk menghindari kecelakaan.
8)
Perawat instrumen harus memelihara peralatan dan menghindari
kesalahan pemakaian.
9)
Perawat instrumen harus bertanggung jawab untuk
mengkomunikasikan kepada tim bedah mengenai setiap pelanggaran
teknik aseptik atau kontaminasi yang terjadi selama pembedahan.
10) Menghitung kasa, jarum, dan instrumen. Perhitungan dilakukan
sebelum pembedahan dimulai dan sebelum ahli bedah menutup luka
operasi.
1. Peran Perawat Sirkulasi
Perawat sirkulasi atau dikenal juga dengan sebutan perawat unloop
bertanggung jawab menjamin terpenuhinya perlengkapan yang dibutuhkan
oleh perawat instrumen dan mengobservasi pasien tanpa menimbulkan
kontaminasi terhadap area steril.
Perawat sirkulasi adalah petugas penghubung antara area steril dan
bagian ruang operasi lainnya. Secara umum, peran dan tangggung jawab
perawat sirkulasi adalah sebagai berikut :
1)
Menjemput pasien dari bagian penerimaan, mengidentifikasi pasien,
dan memeriksa formulir persetujuan.
2)
Mempersiapkan tempat operasi sesuai prosedur dan jenis
pembedahan yang akan dilaksanakan. Tim bedah harus diberitahu jika
terdapat kelainan kulit yang mungkin dapat menjadi kontaindikasi
pembedahan.

3)
Memeriksa kebersihan dan kerapian kamar operasi sebelum
pembedahan. Perawat sirkulasi juga harus memperhatikan bahwa
peralatan telah siap dan dapat digunakan. Semua peralatan harus dicoba
sebelum prosedur pembedahan, apabila prosedur ini tidak dilaksanakan
maka dapat mengakibatkan penundaan atau kesulitan dalam pembedahan.
4)
Membantu memindahkan pasien ke meja operasi, mengatur posisi
pasien, mengatur lampu operasi, memasang semua elektroda, monitor,
atau alat-alat lain yang mungkin diperlukan.
5)
Membantu tim bedah mengenakan busana (baju dan sarung tangan
steril)
6)
Tetap ditempet selema prosedur pembedahan untuk mengawasi atau
membantu setiap kesulitan yang mungkin memerlukan bahan dari luar area
steril
7)
Berperan sebagai tangan kanan perawat instrumen untuk
mengambil, membawa, dan menyesuaikan segala sesuatu yang diperlukan
oleh perawat instrumen. Selain itu juga untuk mengontrol keperluan spons,
instrumen dan jarum.
8)
Membuka bungkusan sehingga perawat instrumen dapat mengambil
suplai steril.
9)
Mempersiapkan catatan barang yang digunakan serta penyulit yang
terjadi selama pembedahan.
10) Bersama dengan perawat instrumen menghitung jarum, kasa, dan
kompres yang digunakan selama pembedahan.
11) Apabila tidak terdapat perawat anestesi, maka perawat sirkulasi
membantu ahli anestesi dalam melakukan induksi anestesi.
12) Mengatur pengiriman specimen biopsy ke labolatorium
13) Menyediakan suplai alat instrumen dan alat tambahan.
14) Mengeluarkan semua benda yang sudah dipakai dari ruang operasi
pada akhir prosedur, memastikan bahwa semua tumpahan dibersihkan,
dan mempersiapkan ruang operasi untuk prosedur berikutnya.

1. Peran Perawat Anestesi


Perawat anestesi adalah perawat dengan pendidikan perawat khusus
anestesi. Peran utama sebagai perawat anestesi pada tahap praoperatif
adalah memastikan identitas pasien yang akan dibius dan melakukan
medikasi praanestesi. Kemudian pada tahap intraoperatif bertanggung
jawab terhadap manajemen pasien, instrumen dan obat bius membantu
dokter anestesi dalm proses pembiusan sampai pasien sadar penuh
setelah operasi.
Pada pelaksanaannnya saat ini, perawat anestesi berperan pada hampir
seluruh pembiusan umum. Perawat anestesi dapat melakukan tindakan
prainduksi, pembiusan umum, dan sampai pasien sadar penuh diruang
pemulihan.
Peran dan tanggung jawab perawat anestesi secara spesifik antara lain :
1)
Menerima pasien dan memastikan bahwa semua pemeriksaan telah
dilaksanakan sesuai peraturan institusi
2)
Melakukan pendekatan holistik dan menjelaskan perihal tindakan
prainduksi
3)

Manajemen sirkulasi dan suplai alat serta obat anestesi

4)

Pengaturan alat-alat pembiusan yang telah digunakan.

5)
Memeriksa semua peralatan anestesi (mesin anestesi, monitor dan
lainnya) sebelum memulai proses operasi.
6)
Mempersiapkan jalur intravena dan arteri, menyiapkan pasokan obat
anestesi, spuit, dan jarum yang akan digunakan; dan secara umum
bertugas sebagai tangan kanan ahli anestesi, terutama selama induksi dan
ektubasi.
7)
Membantu perawat sirkulasi memindahkan pasien serta
menempatkan tim bedah setelah pasien ditutup duk dan sesudah operasi
berjalan.
8)
Berada di sisi pasien selama pembedahan, mengobservasi, dan
mencatat status tanda-tanda vital, obat-obatan, oksigenasi, cairan, tranfusi

darah, status sirkulasi, dan merespon tanda komplikasi dari operator


bedah.
9)
Memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan ahli anestesi untuk
melakukan suatu prosedur (misalnya anestesi local, umum, atau regional)
10) Member informasi dan bantuan pada ahli anestesi setiap terjadi
perubahan status tanda-tand vital pasien atau penyulit yang mungkin
mengganggu perkembangan kondisi pasien.
11) Menerima dan mengirim pasien baru untuk masuk ke kamar prainduksi
dan menerima pasien di ruang pemulihan .
1. Peran Perawat Ruang Pemulihan
Perawat ruang pemulihan adalah perawat anestesi yang menjaga kondisi
pasien sampai sadar penuh agar bisa dikirim kembali ke ruang rawat inap.
Tanggung jawab perawat ruang pemulihan sangat banyak karena kondisi
pasien dapat memburuk dengan cepat pada fase ini. Perawat yang bekerja
diruangan ini harus siap dan mampu mengatasi setiap keadaan darurat.
Walaupun pasien di ruang pemulihan merupakan tanggung jawab ahli
anestesi, tetapi ahli anestesi mengandalkan keahlian perawat untuk
memantau dan merawat pasien sampai bbenar-benar sadar dan mampu
dipindahkan keruang rawat inap.
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari.2009.Asuhan Keperawatan
Perioperatif Konsep, Proses, dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.
PERAN DAN FUNGSI PERAWAT GAWAT DARURAT
PERAN DAN FUNGSI PERAWAT GAWAT DARURAT
A. Peran Perawat
Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat terdiri dari :
1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan
kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan
keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang
sederhana sampai dengan kompleks.
2. Sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya
dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga

berperan dalam mempertahankan & melindungi hak-hak pasien meliputi :


Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
Hak atas informasi tentang penyakitnya
Hak atas privacy
Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Sebagai educator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat
pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan
sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan
kesehatan.
4. Sebagai koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta
mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga
pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan
kebutuhan klien.
5. Sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang
terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan.
6. Sebagai konsultan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan
perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai
dengan metode pemberian pelayanan keperawatan
7. Sebagai pembaharu
Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang
sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawatan
B. Fungsi Perawat
1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri & tidak tergantung pada orang lain, dimana
perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan
keputusan sendiri dalam melakukan tindakan untuk memenuhi KDM.
2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan
atau instruksi dari perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang
diberikan. Biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat
umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling
ketergantungan diantara tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat
terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam
pemebrian pelayanan. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat
saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.

Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan


bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko sosial dan spiritual yang
komprehensif, ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik
sehat maupun sakit yang mencakup seluruh daur kehidupan manusia.
Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan
intelektual, keterampilan teknikal dan keterampilan interpersonal serta
menggunakan proses keperawatan dalam membantu klien untuk mencapai
tingkat kesehatan optimal.
Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan
perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif
dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat kiat tertentu dalam
upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada klien. Kiat kiat itu
adalah :
1. Caring , menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur unsur
karatif yaitu : nilai nilai humanistic altruistik, menanamkan semangat
dan harapan, menumbuhkan kepekaan terhadap diri dan orang lain,
mengembangkan ikap saling tolong menolong, mendorong dan menerima
pengalaman ataupun perasaan baik atau buruk, mampu memecahkan
masalah dan mandiri dalam pengambilan keputusan, prinsip belajar
mengajar, mendorong melindungi dan memperbaiki kondisi baik fisik,
mental , sosiokultural dan spiritual, memenuhi kebutuhan dasr manusia,
dan tanggap dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi.
2. Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau
berdiskusi dengan kliennya.
3. Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat
untuk meningkatkan rasa nyaman klien.
4. Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan
kliennya.
5. Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis
merupakan komunikasi simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994)
6. Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan
keperawatannya
7. Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki
hasrat dan kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.
8. Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan
keterampilannya.
9. Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan
terhadap orang lain dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak
berhak mengetahuinya.
10. Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya
11. Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami
perasaan duka , senang, frustasi dan rasa puas klien.
13. Accepting artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri

sebelum menerima orang lain


Sebagai suatu profesi , keperawatan memiliki unsur unsur penting yang
bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan yaitu respon
manusia sebagai fokus telaahan, kebutuhan dasar manusia sebagai
lingkup garapan keperawatan dan kurang perawatan diri merupakan basis
intervensi keperawatan baik akibat tuntutan akan kemandirian atau
kurangnya kemampuan.
Keperawatan juga merupakan serangkaian kegiatan yang bersifat
terapeutik atau kegiatan praktik keperawatan yang memiliki efek
penyembuhan terhadap kesehatan (Susan, 1994 : 80).
Aspek Legal Penanganan Penderita Gawat Darurat Gawat Darurat
o Kewajiban
o KODEKI
o KUHP
o KUHAP
o KUHPerdata
o UU Kesehatan
o Permenkes
o Hak
o Surat edar
o Sanksi
o Pidana,perdata,adm
Perawat
o Etika keperawatan
o PP 32/1996 2:2
o Tenaga keperawatan : perawat & bidan
o Munas VI PPNI No. 09/Munas/PPNI/2000
o Kode Etik Keperawatan Indonesia:
o hubungan perawat dan klien
o hubungan perawat dan masyarakat
o Lafal sumpah/janji perawat :
o sarjana keperawatan,
o Ahli madya keperawatan,
o bidan
o Kode Etik Bidan ??
o Perawat lain ??
Isu Etika dan Hukum dalam Kegawatdaruratan Medik
o Diagnosis keadaan gawat darurat
o Standar Operating Procedure
o Kualifikasi tenaga medis
o Hak otonomi pasien : informed consent (dewasa, anak)
o Kewajiban untuk mencegah cedera atau bahaya pada pasien
o Kewajiban untuk memberikan kebaikan pada pasien (rasa sakit,

menyelamatkan)
o Kewajiban untuk merahasiakan (etika >< hukum)
Isu Etika dan Hukum dalam Kegawatdaruratan Medik (lanjutan)
o Prinsip keadilan dan fairness
o Kelalaian
o Malpraktek :
salah diagnosis
tulisan yang buruk
Kesalahan terapi : salah obat, salah dosis
o Diagnosis kematian
o Surat Keterangan Kematian
o Penyidikan medikolegal :
Forensik klinik : kejahatan susila, child abuse, aborsi,
Kerahasiaan
Pencegahan
o Standar Operating Procedure
o Pencatatan :
Mencatat segala tindakan
Mencatat segala instruksi
Mencatat serah terima
Peran Perawat Dalam Pelayanan Ke gawat Daruratan .
Misi UGD : Secara pasti memberikan perawatan yang berkualitas terhadap
pasien dengan cara penggunaan sistem yang efektif serta menyeluruh dan
terkoordinasi dalam :
a. Perawatan pasien gawat darurat.
b. Pencegahan cedera.
c. Kesiagaan menghadapi bencana.
Menanggulangi pasien dengan cara aman dan terpercaya :
a. Evaluasi pasien secara cepat dan tepat.
b. Resusitasi dan stabilisasi sesuai prioritas.
c. Menentukan apakah kebutuhan penderita melebihi kemampuan fasilitas.
d. Mengatur sebaik mungkin rujukan antar RS (apa, siapa, kapan,
bagaimana).
e. Menjamin penanggulangan maksimum sudah diberikan sesuai
kebutuhan pasien.
Petugas medis harus mengetahui :
a. Konsep dan prinsip penilaian awal serta penilaian setelah resusitasi.
b. Menentukan prioritas pengelolaan penderita.
c. Memulai tindakan dalam periode emas.
d. Pengelolaan ABCDE.

2. Unit Pelayanan Intensif :


Filosofi : Intensive Medical Care (IMC) mendapatkan legitimasi bukan
karena kompleksitas peralatan dan pemantauan pasien, tapi karena pasien
sakit kritis selalu berakhir pada suatu final common pathway dari
kegagalan sistem organ, sehingga dibutuhkan bantuan terhadap organ vital
baik tersendiri mauun terkombinasi.
Aplikasi tidak terkoordinasi dari multi disipliner tidak hanya merugikan
pasien, tetapi personil perawat dan tenaga profesi medis lainnya juga akan
merasa sangat sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit yang tidak
mempunyai arah dan filosofi yang tegas.
3. Komponen Pembiayaan (sub sistem pembiayaan).
Sumber bisa berasal dari pemerintah atau masyarakat :
a. Pemerintah pusat / daerah.
b. Jasa marga, askes, jasa raharja, astek.
c. DUKM.
d. Perusahaan berisiko terjadinya kecelakaan.
sixxmee.blogspot.com/2011/11/peran-dan-fungsi-perawat-gawatdarurat.html

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT


Published 19 September 2008 By
Definisi Peran Perawat
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran
dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan
bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari
seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21).
Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas
perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya
yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan
tugas dan tanggung keperawatan secara professional sesuai dengan kode
etik professional. Dimana setiap peran yang dinyatakan sebagai ciri
terpisah demi untuk kejelasan.
Care Giver :
Pada peran ini perawat diharapkan mampu

1. Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu,


keluarga , kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis
masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat
sederhana sampai pada masalah yang kompleks.
2. Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan
klien, perawat harus memperhatikan klien berdasrkan
kebutuhan significan dari klien.
Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi
diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik sampai pada masalah
psikologis.
Elemen Peran
Menurut pendapat Doheny (1982) ada beberapa elemen peran perawat
professional antara lain : care giver, client advocate, conselor, educator,
collaborator, coordinator change agent, consultant dan interpersonal
proses.
Client Advocate (Pembela Klien)
Tugas perawat :
1. Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi
pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang
diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform concern)
atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya.
2. Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus
dilakukan karena klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit
akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan.
Perawat adalah anggota tim kesehatan yang paling lama
kontak dengan klien, sehingga diharapkan perawat harus
mampu membela hak-hak klien.
Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan
termasuk didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien,
memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien
(Disparty, 1998 :140).
Hak-Hak Klien antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.

Hak
Hak
Hak
Hak
Hak

atas pelayanan yang sebaik-baiknya


atas informasi tentang penyakitnya
atas privacy
untuk menentukan nasibnya sendiri
untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.

Hak-Hak Tenaga Kesehatan antara lain :


1. Hak atas informasi yang benar
2. Hak untuk bekerja sesuai standart
3. Hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien
4. Hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok
5. Hak atas rahasia pribadi
6. Hak atas balas jasa
Conselor
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi
tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan
interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan
seseorang. Didalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.
Peran perawat :
1. Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap
keadaan sehat sakitnya.
2. Perubahan pola interaksi merupakan Dasar dalam
merencanakan metode untuk meningkatkan kemampuan
adaptasinya.
3. Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada
individu atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman
kesehatan dengan pengalaman yang lalu.
4. Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan
Educator :
Mengajar adalah merujuk kepada aktifitas dimana seseorang guru
membantu murid untuk belajar. Belajar adalah sebuah proses interaktif
antara guru dengan satu atau banyak pelajar dimana pembelajaran obyek
khusus atau keinginan untuk merubah perilaku adalah tujuannya.
(Redman, 1998 : 8 ). Inti dari perubahan perilaku selalu didapat dari
pengetahuan baru atau ketrampilan secara teknis
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Defenisi
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran
dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan
bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari
seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21).
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix
yang berarti merawat atau memelihara. Harlley Cit

ANA (2000) menjelaskan pengertian dasar seorang perawat yaitu


seseorang yang berperan dalam merawat atau memelihara, membantu
dan melindungi seseorang karena sakit, injury dan proses penuaan dan
perawat Profesional adalah Perawat yang bertanggungjawab dan
berwewenang memberikan pelayanan Keparawatan secara mandiri dan
atau berkolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain sesuai dengan
kewenanganya.(Depkes RI,2002).
Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas
perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya
yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan
tugas dan tanggung keperawatan secara professional sesuai dengan kode
etik professional.
Fungsi itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan
perannya. Fungsi dapat berubah disesuaikan dengan keadaan yang ada.
Fungsi Perawat dalam melakukan pengkajian pada Individu sehat
maupun sakit dimana segala aktifitas yang di lakukan berguna untuk
pemulihan Kesehatan berdasarkan pengetahuan yang di miliki, aktifitas
ini di lakukan dengan berbagai cara untuk mengembalikan kemandirian
Pasien secepat mungkin dalam bentuk Proses Keperawatan yang terdiri
dari tahap Pengkajian, Identifikasi masalah (Diagnosa Keperawatan),
Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi.
2.2
Peran Perawat
Merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap
seseorang sesuai dengan kedudukan dan system, dimana dapat
dipengaruhi oleh keadaan social baik dari profesi perawat maupun dari luar
profesi keperawatan yang bersifat konstan.
1. Pemberi Asuhan Keperawatan
Sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat membantu klien
mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses penyembuhan.
Perawat memfokuskan asuhan pada kebutuhan kesehatan klien secara
holistic, meliputi upaya untuk mengembalikan kesehatan emosi, spiritual
dan sosial. Pemberi asuhan memberikan bantuan kepada klien dan
keluarga klien dengan menggunakan energy dan waktu yang minimal.
Selain itu, dalam perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat
memberikan perawatan dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar
manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan
dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan
diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan
yang tepat dan sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian
dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan
keperawatannya dilakukan dari yang sederhana sampai yang kompleks.
2. Pembuat Keputusan Klinis

Membuat keputusan klinis adalah inti pada praktik keperawatan. Untuk


memberikan perawatan yang efektif, perawat menggunakan keahliannya
berfikir kritis melalui proses keperawatan. Sebelum mengambil tindakan
keperawatan, baik dalam pengkajian kondisi klien, pemberian perawatan,
dan mengevaluasi hasil, perawat menyusun rencana tindakan dengan
menetapkan pendekatan terbaik bagi klien. Perawat membuat keputusan
sendiri atau berkolaborasi dengan klien dan keluarga. Dalam setiap situasi
seperti ini, perawat bekerja sama, dan berkonsultasi dengan pembe ri
perawatan kesehatan professional lainnya (Keeling dan Ramos,1995).
3. Pelindung dan Advokat Klien
Sebagai pelindung, perawat membantu mempertahankan lingkungan yang
aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan serta melindungi klien dari kemungkinan efek yang tidak
diinginkan dari suatu tindakan diagnostic atau pengobatan. Contoh dari
peran perawat sebagai pelindung adalah memastikan bahwa klien tidak
memiliki alergi terhadap obat dan memberikan imunisasi melawat penyakit
di komunitas. Sedangkan peran perawat sebagai advokat, perawat
melindungi hak klien sebagai manusia dan secara hukum, serta membantu
klien dalam menyatakan hak-haknya bila dibutuhkan. Contohnya, perawat
memberikan informasi tambahan bagi klien yang sedang berusaha untuk
memutuskan tindakan yang terbaik baginya. Selain itu, perawat juga
melindungi hak-hak klien melalui cara-cara yang umum dengan menolak
aturan atau tindakan yang mungkin membahayakan kesehatan klien atau
menentang hak-hak klien. Peran ini juga dilakukan perawat dalam
membantu klien dan keluarga dalam menginterpetasikan berbagai
informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam
pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan
kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hakhak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan
nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
4. Manager Kasus
Dalam perannya sebagai manager kasus, perawat mengkoordinasi
aktivitas anggota tim kesehatan lainnya, misalnya ahli gizi dan ahli terapi
fisik, ketika mengatur kelompok yang memberikan perawatan pada klien.
Berkembangnya model praktik memberikan perawat kesempatan untuk
membuat pilihan jalur karier yang ingin ditempuhnya. Dengan berbagai
tempat kerja, perawat dapat memilih antara peran sebagai manajer asuhan
keperawatan atau sebagai perawat asosiat yang melaksanakan keputusan
manajer (Manthey, 1990). Sebagai manajer, perawat mengkoordinasikan
dan mendelegasikan tanggung jawab asuhan dan mengawasi tenaga
kesehatan lainnya.

5. Rehabilitator
Rehabilitasi adalah proses dimana individu kembali ke
tingkat fungsi maksimal setelah sakit, kecelakaan, atau
kejadian yang menimbulkan ketidakberdayaan lainnya.
Seringkali klien mengalami gangguan fisik dan emosi yang
mengubah kehidupan mereka. Disini, perawat berperan
sebagai rehabilitator dengan membantu klien beradaptasi
semaksimal mungkin dengan keadaan tersebut.
6. Pemberi Kenyamanan
Perawat klien sebagai seorang manusia, karena asuhan keperawatan
harus ditujukan pada manusia secara utuh bukan sekedar fisiknya saja,
maka memberikan kenyamanan dan dukungan emosi seringkali
memberikan kekuatan bagi klien sebagai individu yang memiliki perasaan
dan kebutuhan yang unik. Dalam memberi kenyamanan, sebaiknya
perawat membantu klien untuk mencapai tujuan yang terapeutik bukan
memenuhi ketergantungan emosi dan fisiknya.
7. Komunikator
Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga, antar
sesame perawat dan profesi kesehatan lainnya, sumber informasi dan
komunitas. Dalam memberikan perawatan yang efektif dan membuat
keputusan dengan klien dan keluarga tidak mungkin dilakukan tanpa
komunikasi yang jelas. Kualitas komunikasi merupakan factor yang
menentukan dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga dan
komunitas.
8. Penyuluh
Sebagai penyuluh, perawat menjelaskan kepada klien konsep dan datadata tentang kesehatan, mendemonstrasikan prosedur seperti aktivitas
perawatan diri, menilai apakah klien memahami hal-hal yang dijelaskan
dan mengevaluasi kemajuan dalam pembelajaran. Perawat menggunakan
metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan klien
serta melibatkan sumber-sumber yang lain misalnya keluarga dalam
pengajaran yang direncanakannya.
9. Kolaborator
Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja
melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapi,
ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi
atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan
selanjutnya.

10.
Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam
meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala
penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi
perubahab perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan
kesehatan.
11.
Konsultan
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau
tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas
permintaan klien tehadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan
yang diberikan.
12.
Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan
perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai
dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
2.3
Fungsi Perawat
Definisi fungsi itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai
dengan perannya. Fungsi dapat berubah disesuaikan dengan keadaan
yang ada. dalam menjalankan perannya, perawat akan melaksanakan
berbagai fungsi diantaranya:
1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana
perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan
keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam rangka memenuhi
kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis
(pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan
elektrolit, pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktivitas
dan lain-lain), pemenuhan kebutuhan dan kenyamanan, pemenuhan
kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan harga diri dan
aktualisasi diri.
2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan
atau instruksi dari perawat lain. Sehingga sebagai tindakan pelimpahan
tugas yang diberikan. Hal ini biasanya silakukan oleh perawat spesialis
kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling
ketergantungan di antara satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi

apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerja sama tim dalam pemberian


pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita
yang mempunyai penyakit kompleks. Keadaan ini tidak dapat diatasi
dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya,
seperti dokter dalam memberikan tindakan pengobatan bekerjasama
dengan perawat dalam pemantauan reaksi onat yang telah diberikan.
Peranan perawat sangat menunjukkan sikap kepemimpinan dan
bertanggung jawab untuk memelihara dan mengelola asuhan keperawatan
serta mengembangkan diri dalam meningkatkan mutu dan jangkauan
pelayanan keperawatan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keperawatan profesional mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut
yaitu : Melaksanakan pelayanan keperawatan profesional dalam suatu
sistem pelayanana kesehatan sesuai dengan kebijakan umum pemerintah
khususnya pelayanan atau asuhan keperawatan kepada individu, keluarga,
kelompok dan komunitas.
Dengan demikian peran dan fungsi perawat itu sangat penting untuk
pelayanan kesehatan, demi meningkatkan dan melaksanakan kualitas
kesehatan yang lebih baik.
3.2
Saran
Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca
agar dapat mengetahui dan memahami peran dan fungsi perawat.
Potter-Perry.Fundamental of Nursing. 6 Th edition.Elsever
Mosby . USA.2005
Ali, Zaidin .Dasar dasar Keperawatan Profesional. Jakarta, Widya Medika
.2001
Gaffar junaidi L.O.Pengantar
Keperawatan Profesional.Jakarta.EGC.1999
Murwani Anita , Skep . Pengantar Konsep Dasar Keperawatan . Yogyakarta
.
Fitramaya . 2003

Aziz Alimul H, Skep . Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah.


Salemba
medika. Jakarta. 2003
Nursalam. Pendekatan Proses Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta
SV
Sagung Seto. 2001
FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB TENAGA KEPERAWATAN
FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB TENAGA KEPERAWATAN
A. Pendahuluan
Sejalan dengan perubahan sosial budaya masyarakat dan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan dan perkembangan informasi yang demikian cepat dan
diikuti oleh tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik
mengharuskan sarana pelayanan kesehatan untuk mengembangkan diri
secara terus menerus seiring dengan perkembangan yang ada pada
masyarakat tersebut.
Didalam upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit disusun berupa
kegiatan komprehensif dan integratif yang menyangkut struktur, proses dan
output / outcome secara objektif, sistematik dan berlanjut. Memantau dan
menilai mutu serta kewajaran pelayanan tehadap pasien, menggunakan
peluang untuk meningkatkan pelayanan pasien dan memecahkan masalah
yang terungkapkan, sehingga pelayanan yang diberikan di rumah sakit
berdaya guna dan berhasil guna
Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integral dari layanan kesehatan, berbentuk layanan biopsiko-sosio-spiritual yang komprehensif, yang ditujukan kepada individu,
keluarga dan masyarakat baik yang sakit maupun sehat yang mencakup
seluruh proses kehidupan manusia. Layanan keperawatan berupa bantuan
yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan
pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan
melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri
Karena hanya profesi perawat dan bidan merawat pasien 24 jam, mereka
menjadi kunci untuk kualitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu fungsi,
tugas, tanggung jawab serta akuntabilitas perawat dan bidan harus
diperjelas. demikian juga pengetahuan dan ketrampilannya terus menerus
harus ditingkatkan, supaya asuhan kepada pasien bisa diberikan secara
profesional dan holistik
Praktek Keperawatan adalah kombinasi ilmu kesehatan dan seni tentang

asuhan (care) dan merupakan perpaduan secara humanistis pengetahuan


ilmiah, falsafah keperawatan, praktek klinik, komunikasi, dan ilmu sosial
Inti praktek keperawatan ialah pemberian asuhan keperawatan yang
bertujuan mengatasi fenomena keperawatan. Sebagai suatu praktek
professional, pendekatan yang digunakan untuk mengatasi masalah atau
fenomena tersebut adalah dengan pendekatan proses keperawatan yang
merupakan metode yang sistematis dalam memberikan asuhan
keperawatan yang terdiri dari lima langkah yaitu pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
Hal yang patut kita sadari bahwa pelayanann Keperawatan dapat
memberikan kontribusi besar dalam peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan
B. Fungsi dan peran perawat
1. Defenisi Fungsi perawat
Fungsi adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran
dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan
bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari
seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995).
Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas
perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya
yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan
tugas dan tanggung keperawatan secara professional sesuai dengan kode
etik professional. Dimana setiap peran yang dinyatakan sebagai ciri
terpisah demi untuk kejelasan.
Pada Fungsi ini perawat diharapkan mampu :
a. Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga ,
kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai
dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang
kompleks.
b. Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat
harus memperhatikan klien berdasrkan kebutuhan significan dari klien.
Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi
diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik sampai pada masalah
psikologis.
Menurut pendapat Doheny (1982) ada beberapa elemen fungsi perawat
professional antara lain : care giver, client advocate, conselor, educator,
collaborator, coordinator change agent, consultant dan interpersonal
proses.
Beberapa Fungsi dan perawat, yaitu :
Client Advocate (Pembela Klien)
Tugas perawat :
a. Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam

memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan


(inform concern) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya.
b. Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena
klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan
banyak petugas kesehatan. Perawat adalah anggota tim kesehatan yang
paling lama kontak dengan klien, sehingga diharapkan perawat harus
mampu membela hak-hak klien
Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan
termasuk didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien,
memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien
Conselor
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi
tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan
interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan
seseorang. Didalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.
Peran perawat :
a. Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat
sakitnya.
b. Perubahan pola interaksi merupakan Dasar dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.
c. Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu atau
keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan
pengalaman yang lalu.
d. Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan
Educator
Mengajar adalah merujuk kepada aktifitas dimana seseorang guru
membantu murid untuk belajar. Belajar adalah sebuah proses interaktif
antara guru dengan satu atau banyak pelajar dimana pembelajaran obyek
khusus atau keinginan untuk merubah perilaku adalah tujuannya.
(Redman, 1998 : 8 ). Inti dari perubahan perilaku selalu didapat dari
pengetahuan baru atau ketrampilan secara teknis.
C. Tanggung Jawab Perawat
1. Pengertian
Tanggung jawab perawat berarti keadaan yang dapat dipercaya dan
terpercaya. Sebutan ini menunjukan bahwa perawat professional
menampilkan kinerja secara hati-hati, teliti dan kegiatan perawat dilaporkan
secara jujur. Klien merasa yakin bahwa perawat bertanggung jawab dan
memiliki kemampuan,pengetahuan dan keahlian yang relevan dengan
disiplin ilmunya. Kepercayaan tumbuh dalam diri klien, karena kecemasan
akan muncul bila klien merasa tidak yakin bahwa perawat yang
merawatnya kurang terampil, pendidikannya tidak memadai dan kurang
berpengalaman. Klien tidak yakin bahwa perawat memiliki integritas dalam
sikap, keterampilan, pengetahuan (integrity) dan kompetensi. (Kozier
Barbara, 1995)

Tanggung jawab perawat menurut Associate Nurse America (ANA) adalah


Penerapan ketentuan hukum (eksekusi) terhadap tugas-tugas yang
berhubungan dengan peran tertentu dari perawat, agar tetap kompeten
dalam Pengetahuan, Sikap dan bekerja sesuai kode etik (ANA, 1985).
Menurut pengertian tersebut, agar memiliki tanggung jawab maka perawat
diberikan ketentuan hukum dengan maksud agar pelayanan perawatannya
tetap sesuai standar. Misalnya hukum mengatur apabila perawat
melakukan kegiatan kriminalitas, memalsukan ijazah, melakukan pungutan
liar dsb. Tanggung jawab perawat ditunjukan dengan cara siap menerima
hukuman (punishment) secara hukum kalau perawat terbukti bersalah atau
melanggar hukum.
2. Jenis tanggung jawab perawat
Tanggung jawab (Responsibility) perawat dapat diidentifikasi sebagai
berikut :
a. Responsibility to God (tanggung jawab utama terhadap Tuhannya)
Dalam sudut pandang etika Normatif, tanggung jawab perawat yang paling
utama adalah tanggung jawab di hadapan Tuhannya. Sesungguhnya
penglihatan, pendengaran dan hati akan dimintai pertanggung jawabannya
di hadapan Tuhan. Dalam sudut pandang Etik pertanggung jawaban
perawat terhadap Tuhannya terutama yang menyangkut hal-hal berikut ini ;
1) Apakah perawat berangkat menuju tugasnya dengan niat ikhlas karena
Allah ?
2) Apakah perawat mendoakan klien selama dirawat dan memohon
kepada Allah untuk kesembuhannya ?
3) Apakah perawat mengajarkan kepada klien hikmah dari sakit ?
4) Apakah perawat menjelaskan mafaat doa untuk kesembuhannya ?
5) Apakah perawat memfasilitasi klien untuk beribadah selama di RS?
6) Apakah perawat melakukan kolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan
spiritual klien?
7) Apakah perawat mengantarkan klien dalam sakaratul maut menuju
Khusnul khotimah?
b. Responsibility to Client and Society (tanggung jawab terhadap klien dan
masyarakat)
Tanggung jawab merupakan aspek penting dalam etika perawat. Tanggung
jawab adalah kesediaan seseorang untuk menyiapkan diri dalam
menghadapi resiko terburuk sekalipun, memberikan kompensasi atau
informasi terhadap apa-apa yang sudah dilakukannya dalam
melaksanakan tugas
Tanggung jawab seringkali bersipat retrospektif, artinya selalu berorientasi
pada perilaku perawat di masa lalu atau sesuatu yang sudah dilakukan.
Tanggung jawab perawat terhadap klien berfokus pada apa-apa yang
sudah dilakukan perawat terhadap kliennya
Perawat dituntut untuk bertanggung jawab dalam setiap tindakannya
khususnya selama melaksanakan tugas di rumah sakit, puskesmas, panti,

klinik atau masyarakat. Meskipun tidak dalam rangka tugas atau tidak
sedang melaksanakan dinas, perawat dituntut untuk bertanggung jawab
dalam tugas-tugas yang melekat dalam diri perawat. Perawat memiliki
peran dan fungsi yang sudah disepakati. Perawat sudah berjanji dengan
sumpah perawat bahwa ia akan senantiasa melaksanakan tugas-tugasnya.
Tanggung jawab perawat erat kaitanya dengan tugas-tugas perawat. Tugas
perawat secara umum adalah memenuhi kebutuhan dasar. Peran penting
perawat adalah memberikan pelayanan perawatan (care) atau memberikan
perawatan (caring). Tugas perawat bukan untuk mengobati (cure). Dalam
pelaksanaan tugas di lapangan adakalanya perawat melakukan tugas dari
profesi lain seperti dokter, farmasi, ahli gizi, atau fisioterapi. Untuk tugastugas yang bukan tugas perwat seperti pemberian obat maka tanggung
jawab tersebut seringkali dikaitkan dengan siapa yang memberikan tugas
tersebut atau dengan siapa ia berkolaborasi. Dalam kasus kesalahan
pemberian obat maka perawat harus turut bertanggung-jawab, meskipun
tanggung jawab utama ada pada pemberi tugas atau atasan perawat,
dalam istilah etika dikenal dengan Respondeath Superior. Istilah tersebut
merujuk pada tanggung jawab atasan terhadap perilaku salah yang dibuat
bawahannya sebagai akibat dari kesalahan dalam pendelegasian.
Sebelum melakukan pendelegasian seorang pimpinan atau ketua tim yang
ditunjuk misalnya dokter harus melihat pendidikan, skill, loyalitas,
pengalaman dan kompetensi perawat agar tidak melakukan kesalahan dan
bisa bertanggung jawab bila salah melaksanakan pendelegasian.
Etika perawat melandasi perawat dalam melaksanakan tugas-tugas
tersebut. Dalam pandangan etika keperawatan perawat memilki tanggung
jawab (responsibility) terhadap-tugastugasnya terutama keharusan
memandang manusia sebagai mahluk yang utuh dan unik. Utuh artinya
memiliki kebutuhan dasar yang kompleks dan saling berkaitan antara
kebutuhan satu dengan lainnya, unik artinya setiap individu bersipat khas
dan tidak bisa disamakan dengan individu lainnya sehingga memerlukan
pendekatan khusus kasus per kasus, karena klien memiliki riwayat
kelahiran, riwayat masa anak, pendidikan, hobby, pola asuh, lingkungan,
pengalaman traumatik, dan cita-cita yang berbeda. Kemampuan perawat
memahami riwayat hidup klien yang berbeda-beda dikenal dengan Ability
to know Life span History dan kemampuan perawat dalammemandang
individu dalam rentang yang panjang dan berlainan dikenal dengan
Holistic.
c. Responsibility to Colleague and Supervisor (tanggung jawab terhadap
rekan sejawat dan atasan)
Ada beberapa hal yang berkaitan dengan tanggung jawab perawat
terhadap rekan sejawat atau atasan. Diantaranya adalah sebagai berikut
1. Membuat pencatatan yang lengkap (pendokumentasian) tentang kapan
melakukan tindakan keperawatan, berapa kali, dimana dengan cara apa
dan siapa yang melakukan. Misalnya perawat A melakuan pemasangan

infus pada lengan kanan vena brchialis, dan pemberian cairan RL


sebanyak 5 labu, infus dicabut malam senin tanggal 30 juni 2007 jam
21.00. keadaan umum klien Compos Mentis, T=120/80 mmHg, N=80x/m,
R=28x/m S=37C.kemudian dibubuhi tanda tangan dan nama jelas perawat.
2. Mengajarkan pengetahuan perawat terhadap perawat lain yang belum
mampu atau belum mahir melakukannya. Misalnya perawat belum mahir
memasang EKG diajar oleh perawat yang sudah mahir. Untuk melindungi
masyarakat dari kesalahan, perawat baru dilatih oleh perawat senior yang
sudah mahir, meskipun secara akademik sudah dinyatakan kompeten
tetapi kondisi lingkungan dan lapangan seringkali menuntut adaptasi
khusus.
3. Memberikan teguran bila rekan sejawat melakukan kesalahan atau
menyalahi standar.Perawat bertanggung jawab bila perawat lain merokok
di ruangan, memalsukan obat, mengambil barang klien yang bukan
haknya, memalsukan tanda tangan, memungut uang di luar prosedur
resmi, melakukan tindakan keperawatan di luar standar, misalnya
memasang NGT tanpa menjaga sterilitas.
4. Memberikan kesaksian di pengadilan tentang suatu kasus yang dialami
klien. Bila terjadi gugatan akibat kasus-kasus malpraktek seperti aborsi,
infeski nosokomial, kesalahan diagnostik, kesalahan pemberian obat, klien
terjatuh, overhidrasi, keracunan obat, over dosis dsb. Perawat
berkewajiban untuk menjadi saksi dengan menyertakan bukti-bukti yang
memadai.
Referensi :
Caroline Bunker Rosdahal, 1999, Text Book of Basic Nursing, Lippincot,
Philadelphia, Newyork, Baltimore
Depkes RI, Standar Asuhan Keperawatan, Jakarta, 1997
Emma Tippins dan Cliff Evans. 2007. Foundation of emergency care,
diambil dari URL : http//www.Blog Keperawatan.com 26 Mei 2008 (di
akses tanggal 26 Desember 2010)
Philip Woodrow, 2008 Intensive Care Nursing, A framework Practice,
Ebook. diambil dari URL : http//www.Blog Keperawatan.com (di akses
tanggal 26 Desember 2010)
Sitorus Ratna, Model Praktik Keperawatan Profesional di RS, EGC,
Jakarta, 2006
Peran perawat di kamar operasi berdasarkan fungsi dan tugasnya terbagi 3
yaitu :
Perawat administratif

Perawat pada pembedahan


Perawat pada anestesi
Pada parktiknya, peran perawat perioperatif dipengaruhi oleh beberapa
faktor :
Lama pengalaman
Lamanya pengalaman bertugas dikamar operasi, terutama
pada kamar pembedahan khusus, seperti sebagai perawat
instrumen di kamar bedah saraf, onkologi, ginekologi, dan
lain lain akan memberikan dampak yang besar terhadap
peran perawat dalam menentukan hasil pembedahan.
Kekuatan dan ketahanan fisik
Beberapa jenis pembedahan, seperti bedah saraf, toraks,
kardiovaskular, atau spina memerlukan waktu operasi yang
panjang. Pada kondisi tersebut, perawat instrumen harus
berdiri dalam waktu lama dan dibutuhkan tingkat
konsentrasi yang tinggi. Oleh karena itu, agar mengikuti
jalannya pembedahan secara optimal, dibutuhkan kekuatan
dan ketahanan fisik yang baik.
Keterampilan
Keterampilan terdiri atas keterampilan psikomotor, manual,
dan interpersonal yang kuat. Agar dapat mengikuti setiap
jenis pembedahan yang berbeda-beda, perawat instrumen
diharapkan mampu untuk mengintegrasikan antara
keterampilan yang dimiliki dengan keinginan dari operator
bedah pada setiap tindakan yang dilakukan dokter bedah
dan asisten bedah. Hal ini akan memberikan tantangan
tersendiri pada perawat untuk mengembangkan
keterampilan psikomotor mereka agar bisa mengikuti
jalannya pembedahan.
Sikap professional
Pada kondisi pembedahan dengan tingkat kerumitan yang
tinggi, timbul kemungkinan perawat melakukan kesalahan
saat menjalankan perannya. Perawat harus bersikap
professional, dan mau menerima teguran. Kesalahan yang
dilakukan oleh salah satu peran akan berdampak pada
keseluruhan proses dan hasilpempedahan.
Pengetahuan
Yaitu pengetahuan tentang prosedur tetap yang digunakan
institusi. Perawat menyesuaikan peran yang akan dijalankan
dengan kebijakan dimana perawat tersebut bekerja.
Pengetahuan yang optimal tentang prosedur tetap yang

berlaku akan memberikan arah pada peran yang


dilaksanakan.

Definisi Perawat
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari
kata Nutrix yang berarti merawat atau memelihara.
Perawat adalah seseorang yang berperan dalam merawat
atau memelihara, membantu dan melindungi seseorang
karena sakit, injury dan peruses penuaan (Harlley, 1997).
Perawat Profesional adalah perawat yang bertanggung
jawab dan berwewenang memberikan pelayanan
keperawatan secara mandiri dan atau berkolaborasi dengan
tenaga kesehatan lain sesuai dengan kewenagannya
(Depkes RI, 2002 dalam Aisiyah 2004).
Menurut UU RI NO 23 tahun 1992 tentang Kesehatan,
mendefinisikan Perawat adalah mereka yang memiliki
kemampuan dan kewenangan melakukan tindakkan
keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya, yang
diperoleh melalui pendidikan keperawatan
(www.pustakaindonesia.or.id).
Sedangkan menurut international Council of Nurses (1965),
perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan
program pendidikan keperawatan, berwenang di Negara
bersangkutan untuk memberikan pelayanan dan
bertanggung jawab dalam peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit serta pelayanan terhadap pasien.
Peran Perawat
Merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan dalam
system, di mana dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik
dari profesi perawat maupun dariluar profesi keperawatan
yang bersipat konstan. Peran perawat menurut konsorsium
ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari :
Pemberi Asuhan Keperawatan
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat
dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan
kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui
pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan
proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis
keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan
tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar
manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat

perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini


dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
Advokat Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan
keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari
pemberi pelayanan atau informasi lain khusunya dalam
pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepada pasien, juga dapat berperan
mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang
meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk
menntukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti
rugi akibat kelalaian.
Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam
meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala
penyakit bhkan tindakan yang diberikankan, sehingga terjadi
perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan
kesehatan.
Koordinator
peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan
serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim
kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat
terarah serta sesuai dengan kebutuan klien.
Kolaborator
Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja
melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis,
ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi
atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan
selanjutnya.
Konsultan
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap
masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk
diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien
terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan
yang diberikan.
Peneliti / Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan
mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang
sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian
pelayanan keperawatan.

Fungsi Perawat
Dalam menjalan kan perannya, perawat akan melaksanakan
berbagai fungsi diantaranya:
Fungsi Independent
Merupan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang
lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya
dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam
melakukan tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan
dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis
(pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan
cairan dan elektrolit, pemenuhan kebutuhan nutrisi,
pemenuhan kebutuhan aktifitas dan lain-lain), pemenuhan
kebutuhan keamanan dan kenyamanan, pemenuhan cinta
mencintai, pemenuhan kebutuhan harga diri dan aktualisasi
diri.
Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatan
atas pesan atau instruksidari perawat lain. Sehingga
sebagian tindakan pelimpahan tugas yang di berikan. Hal ini
biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat
umum atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling
ketergantungan di antara tim satu dengan yang lainnya.
Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan
membutuhkan kerja sama tim dalam pemberian pelayanan
seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada
penderita yang mempunyapenyakit kompleks. Keadaan ini
tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga
dari dokter ataupun yang lainnya.
Tugas Perawat
Tugas perawat dalam menjalankan peran nya sebagai
pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilaksanakan sesuai
dengan tahapan dalam proses keperawatan. Tugas perawat
ini disepakati dalam lokakarya tahun 1983 yang berdasarkan
fungsi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
adalah:
Mengumpulkan Data
Menganalisis dan mengintrepetasi data
Mengembangkan rencana tindakan keperawatan
Menggunakan dan menerapkan konsep-konsep dan prinsipprinsip ilmu perilaku, sosial budaya, ilmu biomedik dalam

melaksanakan asuhan keperawatan dalam rangka


memenuhi KDM.
Menentukan kriteria yang dapat diukur dalam menilai
rencana keperawatan
Menilai tingkat pencapaian tujuan.
Mengidentifikasi perubahan-perubahan yang diperlukan
Mengevaluasi data permasalahan keperawatan.
Mencatat data dalam proses keperawatan
Menggunakan catatan klien untuk memonitor kualitas
asuhan keperawatan
mengidentifikasi masalah-masalah penelitian dalam bidang
keperawatan
membuat usulan rencana penelitian keperawatan
menerapkan hasil penelitian dalam praktek keperawatan.
Mengidentifikasi kebutuhan pendidikan kesehatan
Membuat rencana penyuluhan kesehatan
Melaksanakan penyuluhan kesehatan
Mengevaluasi penyuluhan kesehatan
Berperan serta dalam pelayanan kesehatan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
Menciptakan komunikasi yang efektis baik dengan tim
keperawatan maupun tim kesehatan lain
LATAR BELAKANG
Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini
sangat perlu untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan
memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial
reversibel, memberikan asuhan pada pasien yang memerlukan pbservasi
ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan diruang
perawatan umum memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien dengan
potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru mengurangi
kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan
penyakit kritis (Adam & Osbone, 1997)
ICU ( Intensive Care Unit )
adalah suatu tempat atau unit tersendiri di dalam Rumah Sakit yang
memiliki staf khusus, peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi
pasien gawat karena penyakit, trauma atau komplikasi penyakit lain.
Staf khusus
adalah dokter dan perawat yang terlatih, berpengalaman dalam Intensive
Care(Perawatan dan terapi Intensif) dan yang mampu memberikan
pelayanan 24 jam.

Peralatan khusus ICU


adalah alatalat pemantauan, alat untuk menopang fungsi vital, alat untuk
prosedur diagnostic dan alat Emergency lainnya
Tujuan Pengelolaan di ICU :
Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya kematian
atau cacat
Mencegah terjadinya penyulit
Menerima rujukan dari level yang lebih rendah & melakukan
rujukan ke level yang lebih tinggi
Macam macam ICU :
Menurut fungsi ICU dibagi menjadi beberapa unsur yaitu :
ICU khusus
Dimana dirawat pasien payah dan akut dari satu jenis penyakit
Contoh :
ICCU (Intensive Coronary Care Unit)
yaitu pasien dirawat dengan gangguan pembuluh darah
Coroner.
Respiratory Unit
Pasien dirawat yang mengalami gangguan pernafasan
Renal Unit
dimana pasien yag dirawat dg.gg. ginjal.
ICU Umum
Dimana dirawat pasien yang sakit payah akut di semua bagian RS menurut
umur ICU anak & neonatus dipisahkan dengan ICU dewasa
KLASIFIKASI
ICU Primer

PELAYANAN ICU :

ICU Sekunder
ICU Tersier
ICU Primer
Mampu memberikan pengelolaan resusitasi segera,
tunjangan,kardio respirasi jangka pendek
Memantau dan mencegah penyulit pasien dan bedah yang
berisiko

Ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler


sederhana selama beberapa jam
Ruangan dekat dengan kamar bedah
Kebijakan / criteria pasien masuk, keluar dan rujukan
Kepala : dokter spesialis anestesi
Dokter jaga 24 jam, mampu RJP
Konsultan dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat
Jumlah perawat cukup dan sebagian besar terlatih
Pemeriksaan Laborat : Hb, Hct, Elektrolit,GD, Trombosit
Kemudahan Rontgen dan Fisioterapi
ICU Sekunder
Memberikan pelayanan ICU umum yang mampu mendukung
kedokteran umum, bedah, trauma, bedah syaraf, vaskuler
dsb.
Tunjangan ventilasi mekanik lebih lama.
Ruangan khusus dekat kamar bedah
Kebijakan dan kriteria pasien masuk, keluar dan rujukan
Kepala intensivis, bila tidak ada SpAn.
Dokter jaga 24 jam mampu RJP ( A,B,C,D,E,F )
Ratio pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien dengan
ventilator,RT dan 2 : 1 untuk pasien lainnya.
50% perawat bersertifikat ICU dan pengalaman kerja
minimal 3 tahun di ICU
Mampu melakukan pemantauan invasife
Lab, Ro, fisioterapi selama 24 jam
ICU Tersier
Memberikan pelayanan ICU tertinggi termasuk dukungan
hidup multi sistem ( ventilasi mekanik , kardiovaskuler, renal
) dalam jangka waktu tak terbatas
Ruangan khusus
Kebijakan/ indikasi masuk, keluar dan rujukan
Kepala : intensivis
Dokter jaga 24 jam, mampu RJP (A,B,C D,E,F )
Ratio pasien : perawat = 1:1 untuk pasien dengan ventilator,
RT dan 2 : 1 untuk pasien lainnya.
75% perawat bersertifikat ICU atau minimal pengalaman
kerja di ICU 3 tahun
Mampu melakukan pemantauan / terapi non invasive
maupun invasive.
Laborat, Ro, Fisioterapi selama 24 jam

Mempunyai pendidikan medik dan perawat


Memiliki prosedur pelaporan resmi dan pengkajian Memiliki
staf administrasi, rekam medik dan tenaga lain
SYARAT-SYARAT R. ICU
Letaknya di sentral RS dan dekat dengan kamar bedah serta
kamar pulih sadar ( Recovery Room)
Suhu ruangan diusahakan 22-25 C, nyaman , energi tidak
banyak keluar.
Ruangan tertutup & tidak terkontaminasi dari luar
Merupakan ruangan aseptic & ruangan antiseptic dengan
dibatasi kaca- kaca.
Kapasitas tempat tidur dilengkapi alat-alat khusus
Tempat tidur harus yang beroda dan dapat diubah dengan
segala posisi.
Petugas maupun pengunjung memakai pakaian khusus bila
memasuki ruangan isolasi.
Tempat dokter & perawat harus sedemikian rupa sehingga
mudah untuk mengobservasi pasien
KETENAGAAN :
Tenaga medis
Tenaga perawat yang terlatih
Tenaga Laboratorium
Tenaga non perawat : pembantu perawat , cleaning servis
Teknisi
Sarana & prasarana yang harus ada di ICU

Lokasi : satu komplek dengan kamar bedah & Recovery


Room
RS dengan jumlah pasien lebih 100 orang sedangkan untuk
R.ICU antara 1-2 % dari jumlah pasien secara keseluruhan.
Bangunan : terisolasi dilengkapi dengan : pasienmonitor,
alat komunikasi, ventilator, AC, pipaair, exhousefan untuk
mengeluarkan udara, lantai mudah dibersihkan, keras dan
rata, tempat cuci tangan yang dapat dibuka dengan siku &
tangan, v pengering setelah cuci tangan
R.Dokter & R. Perawat
R.Tempat buang kotoran
R. tempat penyimpanan barang & obat
R. tunggu keluarga pasien
R. pencucian alat Dapur
Pengering setelah cuci tangan R.Dokter & R. Perawat
R.Tempat buang kotoran

R. tempat penyimpanan barang & obat


Sumber air Sumber listrik cadangan/ generator, emergency
lamp Sumber O2 sentral Suction sentral Almari alat tenun &
obat, instrument dan alat kesehatanAlmari pendingin
(kulkas)Laborat kecil
Alat alat penunjang a.l.: Ventilator, Nabulaizer, Jacksion
Reese, Monitor ECG, tensimeter mobile, Resusitato,
Defibrilator, Termometer electric dan manual,Infus pump,
Syring pump,O2 transport, CVP, Standart infuse, Trolly
Emergency,Papan resusitasi,Matras anti decubitus, ICU kid,
Alat SPO2, Suction continous pump dll.
INDIKASI MASUK ICU
PRIORITAS 1
Penyakit atau gangguan akut pada organ vital yang memerlukan terapi
intensif dan agresif.
Gangguan
Gangguan
Gangguan
Gangguan
PRIORITAS 2

atau
atau
atau
atau

gagal
gagal
gagal
gagal

nafas akut
sirkulasi
susunan syaraf
ginjal

Pementauan atau observasi intensif secara ekslusif atas


keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan ancaman
gangguan pada sistem organ vital
Misal :
Observasi
post open
Observasi
Observasi
PRIORITAS 3

intensif pasca bedah operasi : post trepanasi,


heart, post laparatomy dengan komplikasi,dll.
intensif pasca henti jantung dalam keadaan stabil
pada pasca bedah dengan penyakit jantung.

Pasien dalam keadaan sakit kritis dan tidak stabil yang mempunyai
harapan kecil untuk penyembuhan (prognosa jelek). Pasien kelompok ini
mugkin memerlukan terapi intensif untuk mengatasi penyakit akutnya,
tetapi tidak dilakukan tindakan invasife Intubasi atau Resusitasi Kardio
Pulmoner

NB : Px. prioritas 1 harus didahulukan dari pada prioritas 2 dan 3


INDIKASI KELUAR ICU
Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup
stabil.
Terapi dan perawatan intensif tidak memberi hasil pada
pasien.
Dan pada saat itu pasien tidak menggunakan
ventilator.Pasien mengalami mati batang otak.
Pasien mengalami stadium akhir (ARDS stadium akhir)
Pasien/keluarga menolak dirawat lebih lanjut di ICU
(pl.paksa)
Pasien/keluarga memerlukan terapi yang lebih gawat mau
masuk ICU dan tempat penuh.
Prioritas pasien keluar dari ICU
1. Prioritas I dipindah apabila pasien tidak membutuhkan
perawatan intensif lagi, terapi mengalami kegagalan,
prognosa jangka pendek buruk sedikit kemungkinan bila
perawatan intensif dilanjutkan misalnya : pasien yang
mengalami tiga atau lebih gagal sistem organ yang tidak
berespon terhadap pengelolaan agresif.
2. Prioritas II pasien dipindah apabila hasil pemantuan intensif
menunjukkan bahwa perawatanintensif tidak dibuthkan dan
pemantauan intensif selanjutnya tidak diperlukan lagi
3. Prioritas III tidak ada lagi kebutuhan untuk terapi intensive
jika diketahui kemungkinan untuk pulih kembali sangat kecil
dan keuntungan terapi hanya sedikit manfaatnya misal :
pasien dengan penyakit lanjut penyakit paru kronis, liver
terminal, metastase carsinoma
TUGAS PERAWAT ICU a.l :
1. Identifikasi masalah
2. Observasi 24 jam
Kardio vaskuler : peredaran darah, nadi, EKG, perfusi
periver, CVP
Respirasi : menghitung pernafasan , setting ventilator,
menginterprestasikan hasil BGA, keluhan dan pemeriksaan
fisik dan foto thorax.
Ginjal : jumlah urine tiap jam, jumlah urine selama 24 jam
Pencernaan : pemeriksaan fisik, cairan lambung, intake oral,
muntah , diare

Tanda infeksi : peningkatan suhu tubuh/penurunan


(hipotermi), pemeriksaan kultuur, berapa lama antibiotic
diberikan
Nutrisi klien : enteral, parenteral
Mencatat hasil lab yang abnormal.
Posisi ETT dikontrol setiap saat dan pengawasan secara
kontinyu seluruh proses perawatan
Menghitung intake / output (balance cairan)
Selain hal itu peran perawat juga :
Caring Role
Therapeutic Role
Dalam penanganan pasien gawat diperlukan 3 kesiapan
Siap Mental
Siap pengetahuan dan ketrampilan
Siap alat dan obat
Urutan prioritas penanganan kegawatan didasarkan pada
6B yaitu :
B-1 Breath Sistem pernafasan
B-2 Bleed Sistem peredaran darah
B-3 Brain Sistem syaraf pusat
B-4 Blader Sistem urogenital
B-5 Bowel -Sistem pencernaan
B-6 Bone Sistem tulang dan persendian
PASIEN KRITIS :
Fisiologis tidak stabil dan memerlukan monitoring serta terapi intensif.
Ruang Lingkup Keperawatan Intensive :
Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit akut yang
mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kematian
dalam beberapa menit sampai beberapa hari
Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh
sekalipun melakukan pelaksanaan spesifik pemenuhan
kebutuhan dasar
Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan
terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh :
Penyakit
Kondisi pasien yang memburuk karena pengobatan atau
terapi
Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang
tergantung pada fungsi alat / mesin dan orang lain
Standar minimum pelayanan ICU :

Resusitasi jantung paru.


Pengelolaan jalan nafas
Terapi oksigen
Pemantauan EKG, pulse Oksimetri kontinyu
Pemberian nutrisi enteral dan parental
Pemeriksaan Laboratorium dengan cepat
Pelaksanaan terapi tertitrasi
Memberi tunjangan fungsi Vital selama transportasi
Melakukan fisioterapi.