Anda di halaman 1dari 9

Contoh Analisis Fakta, Konsep, Generalisasi, dan Teori Dalam Pend.

IPS
1. FAKTA
Tema : Perilaku Tidak Disiplin di Jalan
Judul : Sumber Kemacetan Jakarta Versi Kapolda Metro
Sumber Kemacetan Jakarta Versi Kapolda Metro
M Budi Santosa Okezone. Rabu, 8 Desember 2010 19:09 WIB
JAKARTA - Jakarta identik dengan Jakarta. Selain volume kendaraan yang memang sangat
banyak, sejumlah faktor juga menjadi biang kemacetan itu. Apa saja itu?
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Sutarman pun mengungkapkan secara terperinci beberapa hal yang
menjadi penyebab kemacetan itu.
"Yang pertama tidak optimalnya transortasi massal bus Transjakarta. Kenapa? Karena busway
tidak menyentuh daerah pemukiman. Warga Depok, Bekasi, Bogor, dan lainnya masih harus
menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan bus Transjakarta," kata Sutarman saat melakukan
kunjungan ke redaksi MNC Group di MNC Tower, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu
(8/12/2010).
Lantas apa lagi? Kedua, soal perparkiran. "Kita akan lakukan penertiban soal perparkiran ini.
Misalnya di Glodok sekarangs sudah mulai mencair. Atau kita carikan lahan parkir untuk daerah
bisnis. Jalan yang memiliki tiga lanjur juga dilarang untuk parkir," tandasnya.
Masalah ketiga adalah pedagang kaki lima. Keempat, pengguna motor. "Kalau kita lihat
jumlahnya kan banyak sekali. Kadang kalau hujan mereka suka berteduh di bawah flyover.
Solusinya ya kita coba kasih mereka jas hujan," ujarnya.
Lantas kelima yang cukup kompleks adalah masalah banjir di ibukota. "Kalau ini memang rumit
ya. Kalau jalanan tergenang air, mau tidak mau kan mesti nungguin airnya surut," tandasnya.
Meski demikian, lanjut Kapolda, kepolisian akan terus bekerja sama dengan Pemprov DKI untuk
mencarikan solusi dalam mengatasi kemacaten itu, termasuk usulan kepada Pemprov agar
memperbaiki infrastruktur yang ada. (mbs)
http://news.okezone.com/read/2010/12/08/338/401404/sumber-kemacetan-jakarta-versi-kapoldametro
2. KONSEP
Transportasi
Kepadatan Penduduk
Kemacetan lalu lintas di jalan
Peraturan lalu lintas

3. GENERALISASI
Kepadatan penduduk menyebabkan jumlah transportasi bertambah
Semakin bertambah jumlah penduduk semakin besar pula kebutuhan transportasi
Kemacetan disebabkan oleh banyaknya jumlah pengguna kendaraan dan pelanggaran aturan
lalu lintas oleh pengemudi

4. TEORI
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan, sedangkan
disiplin adalah tata tertib (di sekolah, kemiliteran, dsb); ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan
(tata tertib dsb); bidang studi yang memiliki objek, sistem, dan metode tertentu; .menurut KBBI
Jadi perilaku tidak disiplin adalah reaksi individu yang melanggar terhadap suatu tata tertib, dan
peraturan yang berlaku baik dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kemacetan lalu lintas terjadi bila ditinjau dari tingkat pelayanan jalan yaitu pada kondisi
lalulintas mulai tidak stabil, kecepatan operasi menurun relative cepat akibat hambatan yang
timbul dan kebebasan bergerak relatif kecil. Pada kondisi ini nisbah volume-kapasitas lebih besar
atau sama dengan 0,80 V C > 0,80, jika tingkat pelayanan sudah mencapai E aliran lalu lintas
menjadi tidak stabil sehingga terjadilah tundaan berat yang disebut dengan kemacetan lalu lintas
(menurut Nahdalina,1998:105).
Kemacetan mulai terjadi jika arus lalu lintas mendekati besaran kapasitas jalan. Kemacetan
semakin meningkat apabila arus begitu besarnya sehingga kendaraan sangat berdekatan satu
sama lain. Kemacetan total terjadi apabila kendaraan harus berhenti atau bergerak sangat lambat
(menurut Tamin,2000:99).
Lalu lintas tergantung kepada kapasitas jalan, banyaknya lalu lintas yang ingin bergerak tetapi
kalau kapasitas jalan tidak bisa menampung maka lalu lintas yang ada akan terhambat dan akan
mengalir sesuai dengan kapasitas jaringan jalan maksimum (menurut Sinulingga,1999:70).
Definisi jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk
bangunan pelengkap, dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada
permukaan tanah, diatas permukaan tanah,dibawah permukaan tanah dan atau air, serta diatas
permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel (UU No. 38 tahun 2004
tentang Jalan).
Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalulintas umum, jalan khusus adalah jalan
yang dibangun oleh instansi,badan usaha, perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk
kepentingan sendiri.
Segmen jalan kota adalah jalan yang mempunyai perkembangan secara permanen dan menerus
sepanjang seluruh atau hampir seluruh jalan, minimum pada satu sisi jalan, apakah berupa
perkembangan lahan atau bukan. Jalan di atau pusat perkotaan dengan penduduk lebih dari
100.000 selalu digolongkan dalam kelompok ini, jalan didaerah perkotaan dengan penduduk
kurang dari 100.000 juga dikelompokkan dalam golongan ini jika mempunyai perkembangan
samping jalan yang permanen dan menerus (menurut MKJI,1997:5-3).
Arus lalu lintas adalah jumlah kendaraan bermotor yang melalui titik pada jalan persatuan waktu,
dinyatakan dalam kend/jam (Qkend), smp/jam (Qsmp) atau
LHRT (Lalulintas Harian Rata rata Tahunan ) (MKJI, 1997:1-7).
Pengertian transportasi menurut Morlok (1981) adalah memindahkan atau mengangkut dari suatu
tempat ke tempat lain. Menurut Bowersox (1981), definisi transportasi adalah perpindahan

barang atau penumpang dari suatu lokasi ke lokasi lain, dengan produk yang digerakkan atau
dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan atau diinginkan. Steenbrink mendefinisikan sebagai
perpindahan orang atau barang menggunakan kendaraan atau lainnya, tempat-tempat yang
dipisahkan secara geografis.
Sementara menurut Papacostas (1987), transportasi didefinisikan sebagai suatu system yang
terdiri dari fasilitas tertentu beserta arus dan sistem kontrol yang memungkinkan orang atau
barang dapat berpindah dari suatu tempat ketempat lain secara efisien dalam setiap waktu untuk
mendukung aktifitas manusia.
Sumber :
Setijadji Aries. 2006. Tesis Studi Kemacetan Lalu Lintas Jalan Kaligawe Kota Semarang.
UNDIP Semarang
Sumadi. 2006. Tesis Kemacetan Lalulintas Pada Ruas Jalan Veteran Kota Brebes. UNDIP
Semarang

keterkaitan antara fakta, konsep, dan generalisasi dalam


pembelajaran IPS SD
October 30, 2012 by phierquinn
1. FAKTA

Secara harfiah kata fakta berarti sesuatu yang telah diketahui atau telah benar-benar terjadi. Bisa
juga diartikan bahwa ini adalah sesuatu yang dipercaya atau apa yang benar merupakan
kenyataan, realitas yang real, benar, dan juga merupakan kenyataan yang nyata.
Didalam sains, fakta memiliki makna tersendiri. Fakta merupakan hasil observasi yang
dibuktikan secara empiris karena itu sifat fakta bukan hasil perolehan secara acak, memiliki
relevansi dan berkaitan dengan teori. Fakta dapat menyebabkan lahirnya teori baru. Fakta juga
dapat merupakan alas an untuk menolak teori yang ada dan bahkan fakta dapat mendorong untuk
memperpanjang rumusan teori yang telah ada.
Menurut Banks fakta merupakan pernyataan positif dan rumusannya sederhana. Fakta juga
adalah data factual, contohnya berikut ini.
1. Jakarta adalah ibu kota Negara Republik Indonesia.
2. Jarak antara kota A ke kota B adalah 150 Km.
3. Bumi berputar mengelilingi matahari.

Adakalanya guru perlu mencari upaya untuk lebih menjelaskan pengertian fakta ini secara
sederhana, misalnya dengan memberikan pertanyaan kepada siswa:
1. Coba kamu hitung berapa jumlah murid kelas yang hadir hari ini!

2. Siapakah nama kepala sekolah kita!


3. Ada berapa ruangan belajar yang dimiliki sekolah ini.
4. Dan seterusnya.

Jawaban-jawaban siswa itu merupakan fakta. Misalnya berikut ini:


1. Siswa yang hadir sekarang ini ada 31 orang.
2. Kepala sekolah kita namanya Ibu Nani.
3. Sekolah kita memiliki 6 ruangan belajar.

Anak-anak menyadari bahwa fakta itu amat banyak, tak terhitung jumlahnya. Ada fakta berupa
data-data, misalnya keadaan penduduk disebuah desa, ada fakta yang tampak sebagaimana
keadaannya, misalnya kondisi jalan, kondisi bangunan, dan sebagainya. Ada juga fakta sebagai
hasil pengamatan secara lebih khusus, misalnya tentang pendapatan rata-rata penduduk sebuah
kampong, mata pencaharian pertama penduduk desa A, dan seterusnya.
Namun demikian, perlu disadari bahwa fakta bukan tujuan akhir dari pengajaran IPS.
Pengetahuan yang hanya bertumpu kepada fakta akan sangat terbatas sebab:
1. Kemampuan kita untuk mengingat sangat terbatas.
2. Fakta itu bisa berubah pada suatu waktu, misalnya tentang perubahan iklim
suatu kota, perubahan bentuk pemerintahan, dan sebagainya.
3. Fakta hanya berkenaan dengan situasi khusus.

Fakta itulah yang akan memberikan raw material kepada konsep sebagai pilar-pilar kegiatan
intelektual. Didalam kegiatan belajar-mengajar fakta harus dipetakkan dalam hubungan
fungsional dengan konsep dan generalisasi dengan cara yang sistematis. Dengan pandangan yang
seperti itu maka siswa akan mampu melihat hubungan diantara fenomena intelektual dan
menggunakannya kedalam upaya meraih pengetahuan yang bermakna. Sehingga dapat dikatakan
bahwa fakta merupakan pondasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Tugas guru, antara lain adalah membantu siswa membangun dan mengembangkan konsep dan
generalisasi, oleh sebab itu kegiatan belajar-mengajar, guru dan siswa harus menggunakan
serangkaian fakta ini sebagai dasar pembentukan konsep dan generalisasi. Oleh karena aktivitas
pengajaran itu berlangsung dalam rambu-rambu kurikulum maka pijakan utama dalam proses
kegiatan belajar-mengajar yaitu kurikulum, dalam hal ini kurikulum SD 2006.
2. KONSEP
Konsep adalah suatu istilah, pengungkapan abstrak yang digunakan untuk tujuan
mengklasifikasikan atau mengkategorikan suatu kelompok dari suatu benda, gagasan atau

peristiwa. Misalnya, kita mengatakan binatang klasifikasi dari jenis-jenis makhluk yang
disebutkan diatas. Jika kita menyebutkan kata keluarga maka kedalam konsep keluarga itu
termasukbapak, ibu, anak-anak, saudara, dan sebagainya.
Untuk lebih menjelaskan pengertian tentang konsep, berikut ini dikemukakan beberapa sifatnya.
1. Konsep itu bersifat abstrak. Ia merupakan gambaran mental tentang benda,
peristiwa, atau kegiatan. Misalnya, kita mendengat kata kelompok, kita bisa
membayangkan apa kelompok itu.
2. Konsep itu merupakan kumpulan dari benda-benda yang memiliki
karakteristik atau kualitas secara umum.
3. Konsep itu bersifat personal, pemahaman orang tentang konsep kelompok
misalnya mungkin berbeda dengan pemahaman orang lain.
4. Konsep dipelajari melalui pengalaman dengan belajar.
5. Konsep bukan persoalan arti kata, seperti didalam kamus. Kamus memiliki
makna lain yang lebih luas.

Dalam konsep terdapat makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotative berkenaan
dengan arti kata, seperti pada kamus, misalnya arti kata Revolusi adalah perubahan cepat dalam
hal prosedur, kebiasaan, lembaga, dan seterusnya. Revolusi juga mempunyai makna konotatif
antara lain sebagai berikut:
1. Makna revolusi merangkum makna denotative.
2.

Revolusi tidak sama dengan pemberontakan, melainkan kejadian yang


penting yang telah direncanakan dan diatur secara sungguh-sungguh.

3. Konsep revolusi ini mencakup kepemimpinan, baik oleh kelompok maupun


perseorangan.
4. Revolusi juga berarti menentang segala sesuatu, apakah itu orang atau
lembaga, lebih jauh bukan hanya menentang tetapi juga melawan dengan
kekuatan.

Inilah arti revolusi dalam pengertian konsep. Siswa harus memahami makna konsep ini. Dalam
perkembangan lebih lanjut para siswa akan memiliki pemahaman yang benar tentang arti konsep
dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Negara berkembang, pertumbuhan ekonomi republik,
kabinet, dan seterusnya.
Jika mereka tidak memperoleh arti yang benar tentang makna yang terkandung didalam konsepkonsep tersebut, mereka akan memberi arti secara menggelikan. Contoh lain, misalnya konsep
Perang Dingin, apakah itu perang didaerah kutub utara? (Womarck : 32).

Pengajaran konsep disekolah sesungguhnya dalam rangka memahami makna konotatif, karena
itu pengajaran konsep harus:
1. Diberikan dalam sesuatu konteks bukan diterangkan tanpa ada kaitan
dengan sesuatu, seperti kita menjelaskan arti dari suatu istilah atau kata.
2. Siswa harus diberi kesempatan untuk sampai kepada pengertiannya sendiri
tentang sesuatu konsep, tentunya dengan bimbingan guru misalnya, guru
menyuru mereka mendeskripsikan sendiri.
3. Siswa harus membacanya sendiri, mendengarkan penjelasan, dan segera
menuliskan makna konsep segera setelah diperkenalkan.

Membentuk konsep merupakan intelektual, dan itu tidak mudah. Namun demikian, perlu disadari
bahwa sesungguhnya anak telah belajar konsep sejak belum masuk sekolah dengan tingkat
perkembangan dan kemampuan berfikirnya. Di sekolah mereka belajar konsep yang semakin
abstrak sifatnya atau simbolis.
Telah dijelaskan diatas bahwa membentuk konsep pada diri anak tidaklah mudah hal itu
disebabkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kemampuan memilih kelompok
yang diobservasi berdasarkan satu atau lebih karakteristik umum, agar dapat mengabstraksikan,
dan membuat generalisasi. Dengan singkat dapat disimpulkan bahwa konseptualisasi adalah
proses mengkategorikan, mengklasifikasikan dan memberi nama pada sekelompok objek.
3. GENERALISASI
Schuneke (1988:16) mengemukakan bahwa generalisasi merupakan abstraksi dan sangat terikat
konsep. Cara paling mudah untuk memahami generalisasi dalam hubungannya dengan konsep
adalah dengan cara menelusuri proses terbentuknya generalisasi. Untuk itu dibutuhkan
sedikitnya 2 konsep, bisa dari satu disiplin ilmu social atau dari disiplin ilmu yang berbeda.
Misalnya dari bidang keilmuan sosiologi saja atau paduan dari sosiologi dan sejarah, atau
disiplin ilmu social lainnya. Misalnya, anggot ABRI mempunyai cara tersendiri dalam
membangun hubungan interpersonalnya, khususnya dalam hubungan hierarkis menurut jenjang
kepangkatan. Kelompok lain misalnya, pegawai negeri, karyawan, kehidupan disekolah, dan
lain-lain, juga memiliki cata tersendiri yang mengatur hubungan interpersonalnya tersebut.
Generalisasinya, yaitu setiap grup memiliki sistem norma yang membimbing perilaku
anggotanya. Contoh diatas menunjukkan terbentuknya generalisasi dari dua konsep dalam
sosiologi, yaitu konsep grup (kelompok) dan konsep norma. Secara sederhana dapat disimpulkan
bahwa generalisasi menunjukkan adanya hubungan diantara konsep dan berisi pernyataan yang
bersifat umum, tidak terikat pada situasi khusus. Generalisasi dibentuk untuk membantu kita agar
dapat memahami/mengerti tentang dunia dimana kita hidup. Secara singkat telah kita
kemukakan pengertian fakta, konsep, dan generalisasi.
Perbandingan generalisasi dengan konsep, menurut Rochiati (2006:6)

Generalisasi

Konsep

Generalisasi adalah prinsip-prinsip atau


rules (aturan) yang dinyatakan dalam
kalimat sempurna.

Konsep bukan merupakan prinsip dan


dinyatakan tidak di dalam kalimat yang
sempurna.

Generalisasi memiliki dalil.

Konsep tidak memiliki dalil.

Generalisasi adalah objektif dan


impersonal.

Konsep subjektif dan personal.

Generalisasi memiliki aplikasi universal.

Konsep terbatas pada orang tertentu.

Pengertian generalisasi dalam sejarah berbeda dengan generalisasi dalam disiplin ilmu sosial
lainnya. Generalisasi dalam sejarah merupakan contradiction in terminis karena sifatnya yang
unik yang menunjukkan bahwa peristiwa sejarah itu tidak terulang lagi. Namun di dalam sejarah
ada juga kemungkinan perulangan, dalam arti bahwa yang berulang itu adalah hal-hal yang
berkaitan dengan pola perilaku manusia yang berorientasi nilai, sistem sosial, kebutuhan
ekonomi, kecenderungan psikologis, dan selanjutnya, menurut Rochiati dalam Jarotimec
(1986:29)
Rochiati dalam Jarotimec (1986:29)mengungkapkan adanya empat jenis generalisasi yang
diperlukan dalam kajian sejarah dalam IPS, yaitu:
1. Generalisasi deskriptif.

Contoh: Pada umumnya pusat-pusat kerajaan terletak di tepi sungai.


1. Generalisasi sebab akibat.

Contoh: Di dalam revolusi, apabila golongan ekstrem berhasil merebut kekuasaan maka akan
berlangsung pementahan teror.
1. Generalisasi acuan nilai.

Contoh: Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.


1. Generalisasi prinsip universal.

Contoh: Kapasitas sebuah bangsa untuk memodelisasikan diri tergantung pada potensi sumber
daya alamnya, kualitas manusianya dan orientasi nilai para pelaku sejarahnya.
Generalisasi sejarah dalam konteks IPS bukan untuk dihafalkan melainkan untuk dipahami dan
diaplikasikan kepada situasi baru yang dihadapi. Untuk meningkatkan kemampuan uitu
diperkenalkan gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan kemampuan
berpikir siswa sehingga mereka dapat menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan sejarah.
Tugas guru mengembangkan pengertian konsep dan generalisasi ini dan bersamaan dengan itu
juga mengembangkan kemampuannya untuk mengenal konsep-konsep esensial dan konsepkonsep lainnya dan juga untuk mengembangkan kemampuan merumuskan generalisasi sesuai

dengan kemampuan berpikir siswa. Tugas guru di kelas untuk mengembangkannya dalam
kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan serta
kemampuannya. Guru-guru dituntut kreativitasnya dalam mencari dan mengolah sumber belajar
agar kegiatan belajar mengajar yang dikelolanya berjalan lancar.
1. HUBUNGAN ANTARA FAKTA, KONSEP, DAN GENERALISASI

Dari gambaran diatas jelas bahwa suatu peristiwa merupakan dasar darimana kegiatan belajar
mengajar IPS dimulai. Guru dan siswa harus aktif menjemput peristiwa ini dan mengolahnya
menjadi content, isi bahan pengajaran. Dalam proses pengolahan menjadi bahan pengajaran
itulah berfungsinya fakta, konsep, dan generalisasi itulah guru dapat mengorganisasikan bahan
pengajaran IPS. Jadi skenario dari alur pengembangan peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi,
sesungguhnya sudah ditangan guru, dan dijadikan sebagai bahan dalam perencanaan kegiatan
belajar mengajar dikelas. Contohnya sebagai berikut:
1. Topik: Benua Afrika, Eropa, dan Amerika.

Peristiwa yang dikemukakan misalnya tentang pertandingan sepak bola liga Champions atau
Piala UFFA. Dengan peristiwa itu kita bisa menanyakan kepada siswa dimana pertandingan itu
dilaksanakan dan untuk kejuaran apa.
Fakta-fakta yang dikemukakan, antara lain sebagai berikut:
1. Peta Benua Afrika, Eropa, dan Amerika.
2. Letak beberapa negara di masing-masing benua.
3. Pembagian regional tiap benua, yaitu Afrika Utara, Afrika Tengah, Afrika
Selatan, Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Utara, Amerika Tengah, dan
Amerika Selatan.
4. Gambar-gambar tentang kondisi negara, penduduk, mata pencaharian, dan
lain-lain.
5. Penampakan alam yang penting, yaitu gunung, sungai, gurun, danau, dan
lain-lain.

Konsep-konsep yang dikemukakan seperti ini:


1. Benua, interaksi spasial, persepsi lingkungan regional, kondisi geografis,
lautan, daratan, sungai, danau, dan lain-lain.

Generalisasinya diantaranya sebagai berikut:

1. Berbagai hubungan antara negara terjadi karena adanya hubungan dagang,


pelayanan, dan gagasan-gagasan.
2. Kondisi alamiah tertentu cenderung membuat kelompok tertentu cenderung
membuat kelompok tertentu terisolasi sampai adanya pengembangan
tekhnologi yang dapat memecahkan barrier itu.
http://phierda.wordpress.com/2012/10/30/keterkaitan-antara-fakta-konsep-dangeneralisasi-dalam-pembelajaran-ips-sd-2/
1. migrasi adalah perpindahan penduduk dr satu tempat (negara dsb) ke tempat
(negara dsb) lain untuk menetap
2. KAPITALISME
Adalah merupakan akibat lanjutan dari teori Liberalisme, yaitu paham dan sebutan untuk orangorang sukses dalam menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya dengan cara mengeksploitasi
sumber daya alam dan sumber daya manusia yang kalah/lemah untuk kepentingan pribadi,
keluarga dan atau kelompoknya saja (kelompok inilah yang kelak menjadi lawan dari orang-orang
yang yang berpaham komunisme).
3. FEODALISME
Adalah akibat lanjutan dari teori Kapitalisme, yaitu paham yang menganggap kekuasaan absolut berada
di tangan Raja Diraja yang berkoalisi dengan kroni-kroni Kapitalisnya dan yang menjadi pejabat dan
punggawannya tersebut berkembang dan berlaku sampai abad XVI Masehi di Eropa termasuk Belanda
dan masih tersisa sampai hari ini di beberapa negara lainnya.
4.

Beri Nilai