Anda di halaman 1dari 37

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka


2.1.1 Hasil Belajar
2.1.1.1 Pengertian Belajar
Dalam aktivitas kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas
dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas sendiri,
maupun didalam suatu kelompok tertentu.
Pandangan

seseorang

guru

terhadap

pengertian

belajar

akan

mempengaruhi tindakannya dalam membimbing siswa untuk belajar. Berbicara


pengertian belajar telah banyak konsep yang dirumuskan oleh para ahli yang
berhubungan denga teori belajar.
Teori belajar Vygotsky lebih menekankan kepada interaksi antara aspek
internal dan eksternal dalam pembelajaran.
Teori Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai
sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky
menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan,
perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan
masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan.
Vygotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif

menyusun

pengetahuan mereka. Akan tetapi menurut Vygotsky, fungsi-fungsi mental


memiliki koneksi-koneksi sosial. Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak

14

15

mengembangkan konsep-konsep lebih sistematis, logis, dan rasional sebagai


1.

akibat dari percakapan dengan seorang penolong yang ahli.


Konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
Zona Perkembangan Proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian
tugas yang terlalu sulit dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan
bantuan dan bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih. Menurut teori
Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual
development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak
dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak
dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan
teman sebaya. Batas bawah dari ZPD adalah tingkat keahlian yang dimiliki anak
yang bekerja secara mandiri. Batas atas adalah tingkat tanggung jawab tambahan
yang dapat diterima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur. Maksud dari
ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan

perkembangan anak.
2.
Konsep Scaffolding
Scaffolding ialah perubahan tingkat dukungan. Scaffolding adalah istilah
terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk mendeskripsikan
perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang lebih terampil
mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak.Dialog adalah alat yang
penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi tidak
sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog, konsep-konsep tersebut dapat
3.

dipertemukan dengan bimbingan yang sistematis, logis dan rasional.


Bahasa dan Pemikiran
Menurut Vygotsky, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk
komunikasi sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas.

16

Lebih jauh Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini menggunakan bahasa unuk
merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Vygotsky
mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan
kemudian menyatu. Anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi
dengan orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan ke dalam pikiran-pikiran
mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal dan
menggunakan bahasa untuk jangka waktu yang lama sebelum mereka membuat
transisi dari kemampuan bicara ekternal menjadi internal.
Teori belajar behaviorisme (tingkah laku) menyatakan bahwa belajar
adalah proses perubahan tingkah laku. Seseorang telah dianggap telah belajar
sesuatu bila ia mampu menunjukkan tingkah laku. Menurut teori ini, yang
terpenting adalah masukan/input yang berupa masukan dan keluaran/output yang
berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon itu
dianggap tak penting diperhatikan sebab tidak bisa di amati. Selanjutnya, teori
belajar kognitivisme menyatakan bahwa belajar adalah perubahan persepsi dan
pemahaman (Uno, dkk., 2008: 56 & 59). Witherington (dalam Usman dan
Setiawati, 2001: 5) menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses perubahan di
dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi
berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian.
Selanjutnya, Gagne (dalam Slameto, 2010: 13) memberikan dua definisi belajar,
yakni: (1) belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam
pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku; dan (2) belajar adalah
penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.

17

Burton, dalam sebuah buku Guidance of Learning Aktivities, dalam


Aunurrahman (2009:35) merumuskan pengertian belajar sebagai perubahan
tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan
individu dan individu dengan lingkungannya.
Menurut Abdillah ( Aunurrahman, 2009 :35) mengemukakan bahwa
Belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan
tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Sunaryo (Kokom Komalasari, 2013 :2) Belajar
merupakan suatu kegiatan dimana seseorang membuat atau menghasilkan suatu
perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
Menurut Nana Sudjana klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom
dibagi menajdi tiga ranah, yaitu 1) Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar
intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni (a) pengetahuan atau ingatan, (b)
pemahaman, (c) aplikasi, (d) analisis, (e) sintesis, dan (f) evaluasi. 2) Ranah
afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni (a) penerimaan,
(b) jawaban atau reaksi, (c) penilaian, (d) organisasi, dan (e) internalisasi. 3)
Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yakni (a) gerakan refleks, (b)
keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d) keharmonisan atau
ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan

18

interpreatif. (Nana Sudjana, 22: 2010). Suyono menyatakan bahwa taksonomi


Bloom memusatkan perhatian terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Pengertian kognitif semakna dengan pengetahuan, mengetahui, berpikir atau
intelek. Afektif semakna dengan perasaan, emosi, dan prilaku, terkait dengan
perilaku menyikapi, bersikap atau merasa, dan merasakan. Sedangkan
psikomotorik semakna dengan aturan dan keterampilan fisik, terampil dan
melakukan. (Suyono, 167: 2011).
Bloom dan kawan-kawan (Suyono, 167:2011) mengembangkan ranah
kognitif menjadi enam kelompok, yaitu: knowledge, comprehension, application,
analysis, syintesis dan evaluation, sedangkan untuk ranah afektif ada lima jenis
kategori sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)

Menerima/receive
Melaporkan/report
Menilai/value
Mengorganisasikan

5)

conceptualise values)
Internalisasi dan menentukan ciri-ciri nilai (internalise or characterise

atau

menyusun

konsep

nilai-nilai

(organize

or

values).
Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka penulis dapat disimpulkan bahwa
belajar

tidak hanya mencakup pengetahuan tetapi juga keterampilan hidup

bermasyarakat dan sosial, serta merupakan perubahan, perkembangan, kemajuan


baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga tercapainya hasil
belajar yang ditandai dengan perubahan tingkah laku.
Menurut Siregar (2010:5) setidaknya belajar memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :

19

a. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku


tersebut bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor),
maupun nilai dan sikap (afektif).
b. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja, melainkan menetap atau
dapat disimpan.
c. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja, melainkan harus dengan usaha,
perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
d. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik atau
kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obatobatan.
Dari beberapa ciri-ciri belajar yang telah disebutkan bahwa belajar
memiliki ciri yaitu adanya perubahan tingkah laku yang yang terjadi akibat
pengalaman yang telah dilaluinya.
Menurut Aunurrahman (2009:199)

ada

beberapa

faktor

yang

mempengaruhi belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini adalah
beberapa faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Berikut ini adalah beberapa faktor internal yang mempengaruhi proses
belajar siswa.
1. Ciri khas/karakteristik siswa
Masalah-masalah belajar yang berkenaan dengan minat, kecakapan, dan
pengalaman-pengalaman. Bilamana siswa memiliki minat yang tinggi
untuk belajar maka ia akan berupaya mempersiapkan hal-hal yang
berkaitan dengan apa yang akan dipelajari secara lebih baik. Misalnya
dapat

dilihat

dari

kesediaan

siswa

untuk

mencatat

pelajaran,

mempersiapkan buku, alat-alat tulis dan hal-hal yang diperlukan. Namun


apabila siswa kurang memiliki minat belajar, maka siswa tersebut
cenderung mengabaikan kesiapan untuk belajar.

20

2. Sikap terhadap belajar


Dalam kegiatan belajar, sikap siswa dalam proses belajar, terutama sekali
ketika memulai kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk
diperhatikan karena aktivitas belajar siswa selanjutnya banyak ditentukan
oleh sikap siswa ketika akan memulai kegiatan belajar. Bilamana ketika
akan memulai kegiatan belajar siswa memiliki sikap menerima atau ada
kesediaan emosional untuk belajar, maka ia akan cenderung untuk
berusaha terlibat dalam kegiatan belajar dengan baik. Namun apabila sikap
menolak maka siswa cenderung kurang memperhatikan atau mengikuti
kegiatan belajar.
3. Motivasi belajar
Motivasi di dalam kegiatan belajar merupakan kekuatan yang dapat
menjadi tenaga pendorong bagi siswa untuk mendayagunakan potensi
yang ada pada dirinya untuk mewujudkan tujuan belajar. Siswa memiliki
motivasi belajar akan Nampak melalui kesungguhan untuk terlibat di
dalam proses belajar, antara lain nampak melalui keaktifan bertanya,
mengemukakan pendapat, menyimpulkan pelajaran, mencatat dan
sebagainya.
4. Konsentrasi belajar
Konsentrasi belajar merupakan salah satu aspek psikologi yang seringkali
tidak begitu mudah untuk diketahui oleh orang lain selain individu yang
sedang belajar. Untuk membantu siswa agar dapat berkonsentrasi dalam
belajar tentu memerlukan waktu yang cukup lama, disamping menuntut
ketelatenan guru. Akan tetapi dengan bimbingan, perhatian serta bekal
kecakapan yang dimiliki guru, maka secara bertahap hal ini akan dapat
dilakukan.

21

5. Mengolah bahan ajar


Mengolah bahan belajar dapat diartikan sebagai proses berpikir seseorang
untuk mengolah informasi-informasi yang diterima sehingga menjadi
bermakna. Bilamana siswa dalam belajar, siswa mengalami kesulitan
dalam mengolah pesan, maka berarti ada kendala pembelajaran siswa yang
membutuhkan bantuan guru. Bantuan guru tersebut hendaknya dapat
mendorong siswa agar memiliki merupakan suatu proses yang berlangsung
secara dinamis.
6. Menggali hasil belajar
Kesulitan di dalam proses menggali kembali pesan-pesan lama merupakan
kendala di dalam proses pembelajaran karena siswa akan mengalami
kesulitan untuk mengolah pesan-pesan lama yang diterimanya. Oleh sebab
itu bagi guru dan siswa sangat penting memperhatikan proses penerimaan
pesan dengan sebaik-baiknya terutama melalui pemusatan perhatian secara
optimal. Contohnya untuk dapat mengaktifkan siswa melalui tugas,
latihan-latihan

menggunakan

cara

tertentu

agar

siswa

mampu

mengembangkan kemampuannya di dalam mengolah pesan-pesan


pembelajaran.
7. Rasa percaya diri
Rasa percaya diri umumnya timbul karena terlibat di dalam suatu aktivitas
tertentu di mana pikirannya mengarah untuk mencapai suatu hasil yang di
inginkan. Dari dimensi perkembangan, rasa percaya diri dapat tumbuh
dengan sehat bilamana ada pengakuan dari lingkungan. Dalam berbagai
tulisan sering dikemukakan, bilamana orang tua maupun guru berupaya
mendidik anak dengan pujian dan penghargaan maka anak akan tumbuh
dengan percaya diri.

22

8. Kebiasaan belajar
Kebiasaan belajar adalah perilaku belajar seseorang yang telah tertanam
dalam waktu yang relative lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas
belajar yang dilakukannya. Ada beberapa bentuk perilaku yang
menunjukan kebiasaan tidak baik dalam belajar yang sering kita jumpai
a.
b.
c.
d.
e.
f.

pada sejumlah siswa, seperti :


Belajar tidak teratur
Daya tahan belajar rendah (belajar tergesa-gesa)
Belajar bilamana menjelang ujian
Tidak memiliki catatan pelajaran yang lengkap
Tidak terbiasa membuat ringkasan
Tidak memiliki motivasi untuk memperkaya materi pelajaran
Jenis-jenis kebiasaan belajar di atas merupakan bentuk-bentuk yang tidak

perilaku belajar yang tidak baik karena mempengaruhi aktivitas belajar siswa dan
pada gilirannya dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar yang diperoleh.
Penulis dapat simpulkan bahwa belajar tidak hanya mencakup
pengetahuan tetapi juga keterampilan hidup bermasyarakat dan sosial, serta
merupakan perubahan, perkembangan, kemajuan baik dalam aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik. Keberhasilan belajar merupakan seluruh aktivitas yang
dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran, maka setiap guru harus
berupaya secara optimal memahami berbagai faktor yang mempengaruhi belajar
sehingga tercapainya hasil belajar yang ditandai dengan perubahan tingkah laku
siswa, dengan demikian guru dapat mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi di
dalam proses belajar dan pembelajaran.
2.1.1.2 Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan oleh guru
agar siswa atau peserta didik belajar. (Nana & Erliana, 2012 :59)

23

Sedangkan menurut Kokom Komalasari (2013 :3) Pembelajaran


merupakan suatu system atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang
direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar
subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif
dan efisien.
Atas dasar penjelasan di atas, penulis dapat kemukakan bahwa
pembelajaran merupakan kegiatan guru menciptakan situasi agar siswa dapat
belajar dengan mendesain pembelajaran yang efektif dan efisien, serta upaya
mengembangkan potensi, kecakapan dan kepribadian siswa agar tercapainya
tujuan pembelajaran.
Pembelajaran dapat dipandang dari dua sudut, pertama pembelajaran
dipandang sebagai suatu sistem, pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen
yang terorganisasi antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi
dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian
kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran (remedial dan
pengayaan).
Kedua, pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran
merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa
belajar. Peroses tersebut meliputi :
1. Persiapan, dimulai dari merencanakan program pengajaran tahunan,
semester, dan penyusunan persiapan mengajar berikut penyiapan perangkat
kelengkapannya, antara lain berupa alat peraga dan alat-alat evaluasi.
Persiapan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan guru untuk membaca
buku-buku atau media cetak lainnya. Yang akan disajikan kepada para

24

siswa dan mengecek jumlah dan keberfungsian alat peraga yang akan
digunakan.
2. Malaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mengacu pada persiapan
pembelajaran yang telah dibuatnya. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran
ini, struktur dan situasi pembelajaran yang akan diwujudkan guru akan
banyak dipengaruhi oleh pendekatan atau strategi dan metode-metode
pembelajaran yang telah dipilih dan dirancang penerapannya, serta filosofi
kerja dan komitmen guru, persepsi, dan sikapnya terhadap siswa.
3. Menindaklanjuti pembelajaran yang telah dikelolanya. Kegiatan pasca
pembelajaran ini berbentuk enrichment (pengayaan), dapat pula pemberian
layanan remedaial teching bagi siswa yang berkesuliatan belajar.
Darsono (2000:25) berpendapat bahwa ciri-ciri pembelajaran adalah
sebagai berikut :
a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis
b. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam
belajar
c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian
dan menantang siswa
d. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan
menarik
e. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan
menyenangkan bagi siswa
f. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara
fisik maupun psikologi
g. Pembelajaran menekan keaktifan siswa
h. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan sengaja
2.1.1.3 Pengertian Hasil Belajar

25

Hasil

belajar

merupakan

tujuan

akhir

dilaksanakannya

kegiatan

pembelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar


yang dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif yang
kemudian disebut dengan proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah
perolehan suatu hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa di kelas terkumpul dalam
himpunan hasil belajar kelas. Semua hasil belajar tersebut merupakan hasil dari
suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar
di akhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil
belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar (Dimyati dan
Mudjiono, 2009: 3).
Setiap proses belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik akan
menghasilkan hasil belajar. Di dalam proses pembelajaran, guru sebagai pengajar
sekaligus pendidik memegang peranan dan tanggung jawab yang besar dalam
rangka membantu meningkatkan keberhasilan peserta didik.
Hasil belajar berasal dari dua kata yaitu hasil dan belajar. Pengertian
hasil (produk) menunjukan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu
aktifitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional,
sedangkan pengertian dari belajar adalah proses individu yang berinteraksi
dengan lingkungannya untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:3), Hasil belajar adalah hasil yang
dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberi tes hasil belajar pada
setiap akhir pelajaran.

26

Menurut Uno Hamzah (2007:213), Hasil belajar adalah perubahan


perilaku yang relative menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi
seseorang terhadap lingkungannya.
Menurut Sudjana (2004:22),

Hasil

belajar

adalah

kemampuan-

kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.


Menurut Kingsley dalam Sudjana (2013:45) membagi tiga macam hasil
belajar, yakni : (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian,
(c) sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan
yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah.
Sedangkan menurut Suprijono (2013:5) hasil belajar adalah pola-pola
perbuatan,

nilai-nilai,

pengertian-pengertian,

sikap-sikap,

apresiasi

dan

keterampilan. Merujuk pemikiran Gange, hasil belajar berupa :


1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam
bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon secara
spesifik.
2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep
lambing.
3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri.
4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek tersebut. Sikap
berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
berasal dari kata hasil dan belajar tersebut diatas, penulis dapat kemukakan
bahwa hasil belajar merupakan suatu interaksi tindak belajar mengajar yang
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Perubahan itu merupakan

27

perolehan dari hasil belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah
perubahan sikap, angka atau nilai yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses
pembelajaran yang ditunjukan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap
selesai memberikan materi pelajaran pada suatu pokok bahasan.
Sedangkan belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa
dipisahkan. Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan oleh seseorang
sebagai subyek dalam belajar. Sedangkan mengajar merujuk pada apa yang
seharusnya dilakukan seorang guru sebagai pengajar. Dua konsep belajar
mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru terpadu dalam satu kegiatan.
Diantara keduanya itu terjadi interaksi dengan guru. Oleh karena itu hasil belajar
yang dimaksud disini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang
siswa setelah ia menerima perlakuan dari pengajar (guru).
Keberhasilan belajar siswa di samping ditentukan oleh faktor-faktor
internal juga turut dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Faktor eksternal
adalah segala faktor yang ada di luar diri siswa yang memberikan pengaruh
terhadap aktivitas dan hasil belajar yang dicapai siswa. Faktor-faktor ekstern yang
mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain adalah :
1. Faktor guru
Dalam proses pembelajaran, kehadiran guru masih menempati posisi
penting, meskipun di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang telah merambah
luas kedunia pendidikan. Bilamana dalam proses pembelajaran, guru mampu
mengaktualisasikan tugas-tugas dengan baik, mampu memfasilitasi kegiatan
belajar siswa, mampu memotivasi, membimbing dan memberi kesempatan secara
luas untuk memperoleh pengalaman, maka siswa akan mendapat dukungan kuat
untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.
2. Lingkungan sosial

28

Lingkungan sosial dapat memberikan pengaruh positif dan negative


terhadap siswa.
3. Kurikulum sekolah
Dalam rangkaian proses pembelajaran di sekolah, kurikulum merupakan
panduan yang dijadikan guru sebagai kerangka acuan untuk mengembangkan
proses pembelajaran. Seluruh aktivitas pembelajaran, mulai dari penyusunan
rencana pembelajaran, pemilihan materi pembelajaran, menentukan pendekatan
dan strategi/metode, memilih dan menentukan media pembelajaran, menentukan
teknik evaluasi, semuanya harus berpedoman pada kurikulum.
4. Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana pembelajaran merupakan faktor yang turut
memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa, keadaan gedung sekolah dan
ruang kelas yang tertata dengan baik, ruang perpustakaan sekolah yang teratur,
tersedianya fasilitas kelas dan laboraturium, tersediannya buku-buku dan
komponen-komponen lainnya. Dari dimensi guru ketersediaan prasarana dan
sarana pembelajaran akan memberikan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran. Disamping itu juga akan menolong terwujudnya proses
pembelajaran

efektif,

karena

guru

dapat

menggunakan

alat-alat

bantu

pembelajaran dalam memperjelas meteri pelajaran serta kelancaran kegiatan


lainnya.
2.1.1.4 Tujuan dari hasil evaluasi belajar
Secara umum evaluasi bertujuan untuk melihat sejauh mana suatu program
atau suatu kegiatan tertentu dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut
Sudjana (2011:111) evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau
harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Karena itu menurut Reece dan

29

Walker dalam Aunurrahman (2009:209) terdapat beberapa alasan mengapa


evaluasi harus dilakukan, yaitu:
1. Memperkuat kegiatan belajar.
2. Menguji pemahaman dan kemampuan siswa.
3. Memastikan pengetahuan prasyarat yang sesuai.
4. Mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran.
5. Memotivasi siswa.
6. Memberi umpan balik kepada siswa.
7. Member umpan balik kepada guru.
8. Memelihara standar mutu.
9. Mencapai kemajuan proses dan hasil belajar.
10. Memperbaiki kinerja pembelajaran selanjutnya.
11. Menilai kualitas belajar.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa evaluasi
pembelajaran pada dasarnya memberikan pertimbangan nilai berdasarkan criteria
yang telah ditetapkan sebelumnya.
Beberapa tujuan atau fungsi dari evaluasi hasil belajar adalah sebagai
berikut:
1. Diagnostik: menentukan letak kesulitan-kesulitan siswa dalam belajar,
bisa terjadi pada keseluruhan bidang yang dipelajari oleh siswa atau pada
bidang-bidang tertentu saja.
2. Seleksi: menentukan mana calon siswa yang dapat diterima di sekolah
tertentu dan mana yang tidak dapat diterima. Seleksi dilakukan guna untuk
menjaring siswa yang memenuhi syarat.
3. Kenaikan kelas: menentukan naik atau tidaknya siswa setelah mengikuti
suatu program pembelajaran tertentu.
4. Penempatan: menempatkan siswa sesuai dengan kemampuan potensi
mereka. Instrument yang digunakan, antara lain readiness test, aptitude
test, pre-tes, dan teknik-teknik observasi.
2.1.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

30

Untuk mencapai hasil belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka


perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar. antara lain;
faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari
luar siswa (faktor ekstern).
1) Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu sendriri,
adapun

yang

dapat

digolongkan

ke

dalam

faktor

intern

yaitu

kecerdasan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi.


Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat
ditentukan oleh tinggi randahnya intelegensi yang normal selalu menunjukan
kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan teman sebaya.
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai
kecakapan pembawaan.
Kartono (1995:2) menyatakan bahwa bakat adalah potensi kemampuan
kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi
kecakapan yang nyata. Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan bakat
diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak
bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.
Dari pendapat di atas jelas bahwa tumbuhnya keahlian itu dipengaruhi oleh
bakat yang dimiliki dari setiap peserta didik. Bakat dapat mempengaruhi tinggi
dan rendahnya hasil belajar dalam bidang tertentu.
Minat adalah ketertarikan seseorang terhadap sesuatu/ kegiatan untuk lebih
mengenal dan ikut serta didalamnya sehingga suatu kepuasan sesuai dengan
harapannya.

31

Slameto (1995:57) mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan


yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan
yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.
Minat sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan belajar. bahkan
pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari, karena dengan adanya
minat dapat menambah rasa semangat belajar siswa. Minat belajar yang telah
dimiliki siswa merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi hasil
belajarnya.
Motivasi dalam belajar merupakan factor yang penting, karena hal ini
merupakan keadaan yang mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
proses belajar yang disertai dengan motivasi belajar yang tinggi akan memperoleh
hasil yang lebih memuaskan bila dibandingkan dengan yang belajar tanpa
motivasi.
Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala
kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran
tertentu, sehingga siswa akan timbul inisiatif untuk menekuni pelajaran.
2) Faktor Ekstern
Factor ekstern adalah factor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar
yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan
keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Factor ekstern yang dapat
mempengaruhi belajar adalah:
a) Keadaan keluarga
Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama, adanya rasa
aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar.
Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk nelajar aktif,karena rasa
aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah
motivasi untuk belajar.

32

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam


keluarga seorang anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan,
sedangkan tugas utama dalam keluarga ialah sebagai peletak dasar bagi
pendidikan akhlak dan pandangan hidupkeagamaan. Oleh jarena itu hendaknya
orang tua menyadari bahwa pendidikan itu dimulai dari keluarga, sedangkan
pendidikan sekolah sebagai pendidikan lanjutan. Dengan pendidikan di sekolah
inilah diharapkan antara orang tua dan guru dapat bekerjasama dalam
mengingkatkan kemampuan yang ada dalam diri siswa sehingga tercapainya hasil
belajar yang baik.
b) Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat
penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan
sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan
sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alatalat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan
mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
Kepala sekolah pun yang menjadi pemimpin pada suatu sekolah
mempunyai peranan penting untuk menciptakan sekolah yang efektif sehingga
terciptanya suasana belajar yang kondusif, seperti adanya ruang belajar yang
bersih, sarana prasarana yang memadai, lingkungan sekolah yang menyenangkan.
c) Lingkungan Masyarakat
Disamping orang tua, sekolah, lingkungan masyarakat juga merupakan
salah satu factor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa
dalam proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat
besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi siswa, sebab dalam kehidupan
sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu

33

berada. Lingkungan masyarakat dapat membentuk keperibadian anak, karena


dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya
dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang
siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka
kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga
ia akan turut belajar sebagaimana temannya.
2.1.2 Kompetensi Guru
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dan dosen dalam
menjalankan tugas keprofesionalan (UU Guru dan Dosen, 2006:17).
Menurut Charles E. Jonson (1974) kompetensi merupakan perilaku
rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang
diharapkan.
Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pasal 39 ayat 2, dinyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga
professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta
melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik
pada perguruan tinggi. Guru mempunyai tugas pokok: (a) menyelenggarakan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, (b) membina
perkembangan peserta didik secara utuh sebagai makhluk tuhan, individu, dan
anggota masyarakat, (c) melaksanakan tugas professional lain dan administrative
rutin yang mendukung pelaksanaan dua tugas di atas.
Uraian tugas guru dalam fungsinya sebagai pendidik mencakup berbagai
kegiatan dalam upaya mendorong peserta didik mencapai kedewasaan fisik

34

(physical maturity), kedewasaan mental dan intelektual (mental and intellectual


maturity), dan kedewasaan moral keagamaan (moral and religious maturity).
Hikmat (2009:286) mengemukakan bahwa guru harus memiliki
kompetensi dasar yang mencakup: (1) kompetensi professional (materi bidang
studi), (2) kompetensi pedagogik (pemahaman karakteristik peserta didik dan
melakukan pembelajaran yang mendidik), (3) kompetensi kepribadian (akhlaqul
dan berjiwa guru), (4) kompetensi sosial (keterampilan berhubungan dengan
orang lain).
2.1.2.1 Kompetensi Profesional
Kompetensi professional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru
dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai
tugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran, untuk itu guru dituntut mempu menyampaikan bahan pelajaran.
Guru harus selalu meng-update, dan menguasai materi pelajaran yang disajikan.
Persiapan diri tentang materi diusahakan dengan jalan mencari informasi melalui
berbagai sumber seperti membaca buku-buku terbaru, mengakses dari internet,
selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan terakhir tentang materi yang
disajikan. Beberapa kemampuan yang berhubungan dengan kompetensi
professional, di antaranya :
1) Kemempuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan
tujuan pendidikan yang harus dicapai, baik tujuan nasional, tujuan
institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan pembelajaran.
2) Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang
tahapan perkembangan siswa, pemahaman tentang teori-teori belajar, dan lain
sebagainya

35

3) Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi


yang diajarkannya.
4) Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi
pembelajaran.
5) Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media, dan sumber
belajar.
6) Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran.
7) Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran
8) Kemampuan dalam melaksanakan unsur-unsur penunjang, misalnya paham
akan administrasi sekolah, bimbingan, dan penyuluhan.
9) Kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk
meningkatkan kinerja.
Schein (dalam Pidarta, 1972:265) mengemukakan beberapa indikator
profesionalisme guru sebagai berikut:
1) bekerja sepenuhnya dalam jam-jam kerja (full time).
2) pilihan pekerjaan itu didasarkan kepada motivasi yang kuat.
3) memiliki seperangkat pengetahuan, ilmu, dan keterampilan khusus yang
diperoleh lewat pendidikan dan pelatihan yang lama.
4) membuat keputusan sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan, atau
menangani klien.
5) pekerjaan berorientasi kepada pelayanan bukan untuk kepentingan
pribadi.
6) pelayanan itu didasarkan kepada objektif klien.
7) memiliki otonomi untuk bertindak dalam menyelesaikan persoalan klien.
8) menjadi anggota organisasi profesi, sesudah memenuhi persyaratan atau
kriteria tertentu.
9) memiliki kekuatan dan status yang tinggi sebagai expert dalam
spesialisasinya.
10) keahlian itu tidak boleh diadvertensikan untuk mencari klien.
Kompetensi atau kemampuan professional yaitu kemampuan yang dimiliki
guru berkenaan dengan aspek:

36

a. Dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas


sebagai pemateri, dan kegiatan dalam proses pembelajaran peserta didik harus
disambut oleh siswa sebagai suatu seni yang diperoleh melalui latihan
pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus.
b. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, keaktifan siswa harus selalu di
ciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan strategi yang
tepat.guru menciptakan suasana belajar yang dapat mendorong siswa untuk
bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan
konsep yang benar.
c. Di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus memperhatikan
prinsip-prinsip apresiasi, perhatian, kerja kelompok, korelasi, dan prinsipprinsip lainnya.
d. Dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik, guru harus dapat melaksanakan
sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Jenis tes yang digunakan untuk
mengukur hasil belajar harus dan tepat. Diharapkan pula guru dapat
menyusun butir secara benar, agar tes yang digunakan dapat memotivasi
siswa belajar.

2.1.2.2 Kompetensi Pedagogik


Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru
berkenaan dengan karakteristik siswa dilihat dari berbagai aspek seperti moral,
emosional, dan intelektual.

37

Guru harus mampu mengoptimalkan potensi peserta didik untuk


mengaktualisasikan kemampuannya di kelas, dan harus mampu melakukan
kegiatan penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek-aspek yang
diamati, yaitu:
1. Penguasaan terhadap karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,
sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
2. Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik.
3. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.
4. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.
5. Memfasilitasi
pengembangan
potensi
peserta
didik

untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.


6. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
7. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
2.1.2.3 Kompetensi Kepribadian
Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal.
Karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus
di-gugu dan di-tiru). Sebagai seorang model, guru harus mempunyai kompetensi
yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal competencies),
di antaranya :
1. Kemampuan untuk menghormati dan menghargai antar-umat beragama
2. Bertindak sesuai dengan norma agama, hokum, sosial, dan kebudayaan
nasional Indonesia.
3. Mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru, misalnya sopan
santun dan tata karma.
4. Bersifat demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.
5. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan
bagi peserta didik dan masyarakat.
6. Menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif dan berwibawa.

38

7. Menampilkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi
guru dan rasa percaya diri.
8. Menjungjung tinggi kode etik profesi guru.
2.1.2.4 Kompetensi Sosial
Guru dimata masyarakat dan siswa merupakan panutan yang perlu di
contoh dan merupakan suritauladan dalam kehidupan sehari-hari. guru perlu
memiliki kemampuan social dengan masyarakat, dalam rangka pelaksanaan
proses pembelajaran yang efektif.
Kompetensi sosial terdiri dari bersikap inklusif, bertindak objektif,
serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi
fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi; berkomunikasi
secara

efektif, empatik,

dan santun dengan

sesama

pendidik,

tenaga

kependidikan, orang tua, dan masyarakat, beradaptasi di tempat bertugas di


seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya;
berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan
tulisan atau bentuk lain.
Kemampuan social meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi,
bekerja sama, bergaul, simpatik dan mempunyai jiwa yang menyenangkan.
Kompetensi berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat
dan sebagai makhluk social, meliputi:
1. Kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan taman sejawat
untuk meningkatkan kemampuan professional.
2. Kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga
kemasyarakatan.
3. Kemampuan untuk menjalin kerja sama, baik secara individual maupun
secara kelompok.

39

2.1.3

Sarana Prasarana
Prasarana pendidikan merupakan semua komponen yang secara tidak

langsung menunjang jalannya proses belajar mengajar disekolah. Sebagai contoh :


jalan menuju sekolah, halaman sekolah, tata tertib sekolah dan sebagainya.
Menurut Tholib Kasan prasarana secara etimologi berarti alat tidak langsung
untuk mencapai tujuan. Prasarana pendidikan misalnya lokasi/tempat, bangunan
sekolah, lapangan olah raga dan sebagainya.
Adapun menurut E. Mulyasa prasarana pendidikan adalah fasilitas yang
secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran,
seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi jika
dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperti taman
sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sekaligus lapangan olah raga,
komponen tersebut merupakan sarana pendidikan.
Sedangkan sarana pendidikan adalah proses pendidikan di sekolah. Contoh
: gedung sekolah, ruangan, meja, kursi, alat peraga dan lain-lain.
Menurut Tholib Kasan sarana pendidikan adalah alat langsung untuk
mencapai tujuan pendidikan, misalnya : ruang, buku, perpustakaan, laboraturium,
dan sebagainya.
Menurut E. Mulyasa sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan
yang secara tidak langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan,
khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi, serta
alat-alat dan media pengajaran.
Adapun yang dimaksud dengan sarana pendidikan di dalam system
penyelenggaraan pendidikan adalah himpunan sarana yang diperlukan

40

untuk menjalankan proses pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah


ditentukan. Himpunan sarana ini dikelompokan dalam :
1.
2.
3.
4.

Sarana tenaga pengajar


Sarana fisik
Sarana administrasi, dan
Waktu

Perumusan sstandar sarana dan prasarana adalah standar nasional


pendidikan yang berkaitan dengan criteria minimum tentang ruang belajar, tempat
berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboraturium, bengkel kerja tempat
bermain, tempat berrekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain, yang
diperlukan unuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi
dan informasi.
Standar sarana dan prasarana mencakup : 1) Pengadaan satuan pendidikan,
2) perlengkapan prasarana yang terdiri dari lahan, bagunan gedung, ruang-ruang,
dan instalasi daya dan jasa yang wajib dimiliki oleh setiap satuan pendidikan, dan
3) kelengkapan prasarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media
pendidikan, buku, dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan
komunikasi, serta perlengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap satuan
pendidikan.
Sarana pendidikan menurut Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik Tenaga Kependidikan dalam Setyowati (2010) dibedakan menjadi 3
macam bila ditinjau dari hubungannya dengan proses belajar mengajar, yaitu :
a. Alat pengajaran adalah alat yang digunakan secara langsung dalam proses
belajar mengajar, misalnya buku, alat peraga, alat tulis, dan alat praktik.

41

b. Alat peraga adalah alat pembantu yang digunakan dan pengajaran, dapat
berupa perbuatan-perbuatan atau benda-benda yang mudah memberi
pengertian kepada anak didik berturut-turut dari yang abstrak sampai
dengan yang konkret.
c. Media pengajaran adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai
perantara dalam proses belajara mengajar, untuk lebih mempertinggi
efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan. Ada 3 jenis
media , yaitu media audio, media visual, dan media audiovisual.
Adapun prasarana pendidikan di sekolah dapat diklasifikasikan menjadi
dua macam. Yaitu prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk
proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik,
keterampilan, dan ruang laboraturium. Prasarana sekolah yang keberadaannya
tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi secara langsung sangat
menunjang terjadinya proses belajar mengajar, misalnya ruang kantor, kantin
sekolah, tanah dan jalan menuju sekolah, dan tempat parker kendaraan. Proses
administrasi meliputi lima hal, yaitu 1) penentuan kebutuhan, 2) pengadaan, 3)
pemakaian, 4) pengurusan dan pencatatan, 5) pertanggung jawaban. Mengacu
pada Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana
untuk SMA/MA adalah sebagai berikut :
a. Satuan Pendidikan
1. Satu SMA/MA memiliki sarana dan prasarana yang dapat melayani
minimum 3 rombongan belajar dan maksimum 27 rombongan belajar.

42

2. Satu SMA/MA dengan tiga rombongan belajar melayani maksimum 6000


jiwa. Untuk pelayanan penduduk lebih dari 6000 jiwa dapat dilakukan
penambahan rombongan belajar di sekolah yang telah ada atau
pembangunan SMA/MA baru.
3. Minimum satu SMA/MA disediakan untuk satu kecamatan.
b. Lahan
1. Memenuhi ketentuan rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik.
2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak
peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lahan juga memenuhi
ketentuan luas minimum.
3. Luas lahan adalah luas lahan yang dapat digunakan secara efektif untuk
membangun prasarana sekolah berupa bangunan gedung dan tempat
bermain/berolahraga.
4. Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan
keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam
keadaan darurat.
5. Kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, tidak berada dalam garis
sempadan sungai dan jalur kereta api.

43

6. Lahan terhindar dari gangguan-gangguan: (a) Pencemaran air; (b)


Kebisingan; dan (c) Pencemaran Udara.
7. Lahan sesuai dengan peruntukan lokasi dan mendapat izin pemanfaatan
tanah dari Pemerintah Daerah setempat.
8. Lahan memiliki status hak atas tanah, dan/atau memiliki izin pemanfaatan
dari pemegang hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku untuk jangka waktu minimum 20 tahun.
c. Bangunan
1. Memenuhi ketentuan rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik.
2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak
peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lantai bangunan juga
memenuhi ketentuan luas minimum.
3. Memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri atas (a) koefisien dasar
bangunan maksimum 30 %, (b) koefisien lantai bangunan dan ketinggian
maksimum bangunan gedung yangditetapkan dalam Peraturan Daerah, dan
(c) jarak bebas bangunan gedung yang meliputi garis sempadan bangunan
gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau
jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas
persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang ditetapkan dalam
Peraturan Daerah.

44

4. Memenuhi persyaratan keselamatan: yang terdiri atas (a) Memiliki struktur


yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebananmaksimum
dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta
untuk daerah tertentu kemampuan untuk menahan gempa dankekuatan
alam lainnya, (b) Dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif
untuk mencegah danmenanggulangi bahaya kebakaran dan petir.
5. Memenuhi persyaratan kesehatan yang terdiri atas (a) Mempunyai fasilitas
secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan yang memadai, (b)
Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan gedung untuk
memenuhikebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah,
kotoran dan tempat sampah, serta penyaluran air hujan, dan (c) Bahan
bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung dantidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
6. Menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, nyaman, dan aman
termasuk bagi penyandang cacat.
7. Memenuhi persyaratan kenyamanan yang terdiri atas (a) Bangunan gedung
mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu kegiatan
pembelajaran, (b) Setiap ruangan memiliki temperatur dan kelembaban
yang tidak melebihi kondisi di luar ruangan, dan (c) setiap ruangan
dilengkapi dengan lampu penerangan.

45

8. Bangunan gedung bertingkat memenuhi persyaratan yang terdiri atas


maksimum terdiri atas tiga lantai dan dilengkapi tangga yang
mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan
pengguna.
9. Dilengkapi sistem keamanan yang terdiri atas (a) peringatan bahaya bagi
pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi jika terjadi bencana
kebakaran dan/atau bencana lain, (b) Akses evakuasi yang dapat dicapai
dengan mudah dan dilengkapi penunjuk arah yang jelas.
10. Dilengkapi intstalasi listrik dengan daya minimum 1300 watt.
11. Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan, dan
diawasi secara profesional.
12. Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP
No. 19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU.
13. Bangunan gedung sekolah baru dapat bertahan minimum 20 tahun.
14. Pemeliharaan bangunan gedung sekolah yang terdiri atas (a) pemeliharaan
ringan, meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian daun jendela/pintu,
penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi air dan listrik, dilakukan
minimum sekali dalam 5 tahun, (b) pemeliharaan berat, meliputi
penggantian rangka atap, rangka plafon, rangka kayu, kusen, dan semua
penutup atap, dilakukan minimumsekali dalam 20 tahun.

46

15. Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin


penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
d. Kelengkapan Sarana Prasarana
Sebuah SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. Ruang kelas.
2. Ruang perpustakaan.
3.

Ruang laboratorium biologi.

4. Ruang laboratorium fisika


5. Ruang laboratorium kimia.
6. Ruang laboratorium komputer.
7. Ruang laboratorium bahasa.
8.

Ruang pimpinan

9. Ruang guru
10. Ruang tata usaha.
11. Tempat beribadah.
12. Ruang konseling.
13. Ruang UKS.

47

14. Ruang organisasi kesiswaan.


15. Jamban.
16. Gudang.
17. Ruang sirkulasi.
18. Tempat bermain/berolahraga.
2.2 Kerangka pemikiran
Dari beberapa teori tentang kompetensi guru dan sarana prasarana, yang
dikemukakan di atas, maka disusun kerangka berpikir yang akan dijadikan
landasan untuk mengemukakan hipotesis penelitian.
Seperti yang telah dipaparkan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh factor
intern dan ekstern. Factor ekstern meliputi keadaan keluarga, keadaan sekolah,
dan lingkungan masyarakat.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat
penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan
sekolah yang baik dapat mendorong belajar lebih giat.
Guru yang memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar
diharapkan mampu menciptakan interaksi belajar mengajar yang mendorong
kemampuan siswa mewujudkan perilaku belajar secara efektif. Guru dituntut pula
menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif dengan bentuk kegiatan
belajar yang menghasilkan pribadi yang mandiri, efektif, dan produktif.
Guru harus memiliki komponen standar kompetensi guru, seperti
diisyaratkan oleh Depdiknas tersebut (sebelum lahirnya UU No. 14/2005, namun
masih tetap relevan sebagai bahan pembanding) meliputi: (1) pengelolaan
pembelajaran, diantaranya: a) guru memiliki kemampuan menyusun rencana

48

pembelajaran,

b)

guru

memiliki

kemampuan

melaksanakan

interaksi

pembelajaran, c) guru memiliki kemampuan menilai prestasi belajar, d) guru


memiliki kemampuan melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi, e) guru memiliki
kemampuan

bimbingan

belajar.

(2)

komponen

pengembangan

potensi,

diantaranya: a) guru memiliki kemampuan mengembangkan diri, b) guru memiliki


kemampuan mengembangkan keprofesian. (3) komponen penguasaan akademik,
diantaranya:

a)

guru

memiliki

keampuan

dalam

memahami

wawasan

kependidikan, b) guru memiliki keampuan dalam menguasai bahan kajian


akademik.
Proses belajar mengajar yang efektif dan efisien serta didukung oleh guru
yang berkompeten akan menciptaka suasana belajar yang menyenangkan. Guru
mempunyai semangat tinggi untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan
siswa pun termotivasi untuk meraih hasil belajar yang tinggi.
Peranan kepala sekolah sebagai suvervisor adalah sebagai coordinator
kegiatan, konsultan, pemimpin kelompok, dan evaluator (Soebagio Atmodiwiro
dan Soenarto Totosiswanto, 1994: 125).
Agar kegiatan-kegiatan sekolah dapat dilaksanakan secara optimal, perlu
didukung oleh sarana prasarana yang memadai. Oleh karena kepala sekolah
sebagai pemimpin harus dapat menetapkan kebijakan program secara tertulis
mengenai pengelolaan sarana prasarana. Program pengelolaan sarana prasarana
mengacu pada standar sarana prasarana dalam hal:
a. Merencanakan, memenuhi dan mendayagunakan sarana prasarana
pendidikan
b. Mengevaluasi dan melakukan pemeliharaan sarana prasarana agar tetap
berfungsi mendukung proses pendidikan

49

c. Melengkapi

fasilitas

pembelajaran pada

setiap

tingkat

kelas

di

sekolah/madrasah
d. Menyusun skala prioritas pengembangan fasilitas pendidikan sesuai
dengan tujuan pendidikan dan kurikulum masing-masing tingkat
e. Pemeliharaan semua fasilitas fisik dan peralatan dengan memperhatikan
kesehatan dan keamanan lingkungan.
Seluruh program pengelolaan sarana prasarana pendidikan disosialisasikan
kepada pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Pengelolaan sarana
prasarana

sekolah

direncanakan

secara

sistematis

agar

selaras

dengan

pertumbuhan kegiatan akademik dengan mengacu kepada standar sarana


prasarana, dan dituangkan dalam rencana pokok (master plan).
Untuk itu, kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan
sebagai berikut :

Kompetensi Guru
Variabel
(X1)

Hasil Belajar
Variabel
(Y)
Sarana dan
Prasarana
Variabel
(X2)

Gambar 2.2 Kerangka berpikir penelitian


Keterangan :
X1
= Kompetensi Gurur (variabel X1)
X2
= Sarana Prasarana (varaiabel X2)
Y
= Hasil Belajar (variabel Y)
= Hubungan antar variabel

50

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka penelitian ini mengambil


judul Pengaruh Kompetensi Guru dan Sarana Prasarana (Survey pada siswa di
SMP Negeri 1 Kertasemaya Kab. Indramayu).
2.3 Hipotesis Penelitian
Berlandaskan landasan teoritis yang telah dikemukakan sebelumnya,
maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh positif antara Kompetensi Guru terhadap Hasil Belajar.
2. Terdapat pengaruh positif antara Sarana Prasarana terhadap Hasil Belajar.
3. Terdapat pengaruh positif antara Kompetensi Guru dan Sarana Prasarana
terhadap Hasil Belajar.