Anda di halaman 1dari 3

Youth Adventure & Youth Leader Forum 2016 Gerakan Mari Berbagi

Sebuah goresan perjalanan yang membekas dalam perjalanan hidup ini. Dimulai dari
keraguanku untuk ikut, ketika H-3 salah satu teman kami Nur Wulan Nugrahani tidak bisa
ikut karna ada urusan akademik yang amat mendadak, ditambah lagi ditengah hiruk pikuk
skripsweetku yang belum rampung dan ke-tidak-enak-an meninggalkan sejenak partner
skripsweetku Anis Ulfa Widya dan Mba Latifah Hajar gomen :(setelah H-1meeting point
akhirnya kubulatkan hati untuk ikut dan menanggung segala resiko yang akan kutemui. 25
Agustus 2016 aku meninggalkan semarang menuju jogjakarta tempat meeting point ,,di
jogjakarta aku disambut oleh Anisa Anggraeni yang berbaik hati menjadi petunjuk jalan
selama di jogja dan Isran Kamal yang berbaik hati memberikan singgahan sementara
,terharuu padahal kita baru mengenal beberapa hari di national camp :(..26 Agustus 2016
kami para peserta YA & YLF 2016 singgah di dusun serut, Kabupaten Bantul disana aku
bertemu dengan seorang ibu jumiati yang baik hati memberikan kami tempat singgah dengan
suami yang begitu antusias menceritakan pengalamannya ketika ada di zaman penjajahan
jepang. Dusun Serut merupakan tempat yang menarik karna masyarakatnya mengolah
sampah anorganik menjadi Bank Sampah dan kerajinan tangan salah satunya bunga dari
sampah plastik. Selain itu mereka juga menghasilkan nutrien untuk pertumbuhan tanaman
dari bahan organik. Hari H Youth Adventure pun dimulai, dag dig dug menunggu namaku
disebutkan. Aku pun sekelompok dengan Dessy Dwi Risky Ayuningtyas Rifqi Maulana Idris
dan Putri Maulidiyah perasaan campur aduk ketika ketiga nama temanku itu disebutkan
sekelompok denganku. kuhadapi perasaanku dengan tenang seolah tak memiliki pikiran apaapa. Dua kota yang kami tuju ialah Kebumen dan Brebes. Kami ber 4 diturunkan didaerah
giwangan dan memulai perjalanan dengan berjalan kaki,sesekali melihat kebelakang,siapa tau
ada tumpangan menuju Kebumen untuk melakukan journey of receiving. Gerimis gerimis
manja mulai turun perlahan, seketika itu aku melihat sebuah mobil merah yg ada di pom
bensin,,beruntungnya kami sang bapak dan ibu sri memberikan kami tumpangan menuju
lampu merah berikutnya. di lampu merah berikutnya,setelah berusaha mencari
tumpangan,akhirnya kami mendapati tumpangan pick up, di atas pick up kami beratapkan
mantel,kami diguyur hujan sehingga menambah ke romantisan suasana perjuangan kami.
Sebelum kami turun,alangkah baiknya bapak heri dan bapak edi memberikan kami nasi
padang dan teh hangat. Padahal kami bertemu saja sebelumnya belum pernah. Esensi dari
berbagi itu mulai kami rasakan. Kami beristirahat di sebuah mesjid hingga pukul 20.30.
Setelah itu kami kembali melakukan perjalanan menuju kebumen. Pick up demi Pick up kami
tumpangi untuk menuju kota tujuan. Diantara Pick up itu tas teman dessy yang berisikan duit
perjalanan kami beserta barang pribadinya ; HP, Dompet, dan Al Qur'an tertinggal di pick up
milih bapak dimas. Alangkah beruntungnya kami bapak dimas bersedia mentransfer uang
perjalanan kami yang ada di dompet dessy dan mengembalikan barang dessy untuk diantar ke
rumahku. Diantara lampu merah itu kami mendapati tumpangan mobil pribadi dari bapak
didik yang saat itu sedang menuju perjalanan ke cilacap,,kami pun sempat diajaki minum
susu hangat dan kopi sembari melepas kelelahan. Kami pun diantar sampai ke Kebumen dan
diturunkan di masjid untuk beristirahat malam hingga esok harinya. Suara kumandang Adzan
terdengar dari masjid yang kami jadikan tempat tidur, selepas shubuh kami bersih bersih dan
siap untuk journey of receiving. Kami pun singgah di restoran Sari Bahari kota Kebumen
untuk mendapatkan pekerjaan cuci piring atau bersih bersih Restoran untuk dibayar dengan
makanan. Tanpa disangka sangka kami diberikan makan cuma cuma oleh pihak pemilik
restoran sambil kami bercerita tentang apa yang kami lakukan. Tepat hari itu tanggal 29
Agustus 2016 yang bertepatan dengan ulang tahunku , ketiga teman seperjuanganku
memberikan aku kue ulang tahun berupa gorengan yg dihias dengan daun. Momen haru biru

semakin menjadi jadi ketika kami saling bercerita dan memberikan semangat. Tangis yg
terjadi lepas seakan melepaskan semua beban yang selama ini tersimpan oleh waktu. Dengan
suasana haru kami melanjutkan perjalanan menuju kota brebes. Cuaca yang begitu
menyengat membuat kami kelelahan dan kepanasan, nada suara kami pun sempat meninggi
,tapi semua bisa diatasi dengan tetap kalem dan mengatur ritme satu sama lain. Kami pun
memutuskan untuk naik bis berpindah dari kebumen menuju purwokerto. Di Purwokerto
kami kembali bertemu dengan seorang bapak yang amat baik menawarkan kami tempat
tinggal dirumahnya dan mengapresiasi kegiatan yang kami lakukan,bahkan ingin ikut jikalau
belum menikah. Bapak itu bernama bapak anton dia pun menyarankan untuk naik truk
pengangkut pasir karna tidak perlu singgah singgah dan bisa langsung sampai tujuan. Lampu
merah pun menjadi berkah bagi kami, meski bukan truk pasir melainkan pick up, pick up itu
membawa kami ke kota Brebes. Setelah kami menceritakan kegiatan kami,mas kholid supir
pick up itu mentraktir kami makan opor ayam dan jeruk hangat. Air mataku rasanya ingin
keluar sederas derasnya, bagaimana mungkin seorang yang notabenenya masih kesulitan dan
baru bertemu orang asing seperti kami,rela berbagi tanpa ada keraguan. Setelah say pamit
dengan mas kholid kami menuju tempat yang tidak jauh dari tempat makan itu yaitu balai
desa dukuh turi untuk menginap. Keesokan harinya tibalah journey of giving,kami memulai
dengan membersihkan balai desa, sharing sharing project sosial didaerah kami masingmasing dengan perangkat desa dan memberikan santunan kepada anak-anak yatim yang
dalam hal ini bekerja sama dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Muhadi Setia
Budi Brebes. Setelah kami melakukan Journey of Giving ,kami bersiap menuju cibubur
tempat kami melaporkan apa saja yang telah kami dapatkan dan kami berikan didalam youth
leaders forum. Seperti biasa lampu merah menjadi berkah bagi kami karna kami mendapati
tumpangan dari satu kota ke kota lain. Satu detik pun menjadi berharga bagi kami,maka dari
itu kami tidak ingin menyianyiakan waktu. Malam pun tiba,kami pun mencoba meminta izin
untuk istirahat di Koramil Losarang, luar biasa ketulusan hati bapak bapak angkatan darat
yang memberikan kami tempat tinggal dan sarana bersih bersih diri. Paginya setelah
mendapat saran dari koramil kami menuju Polsek Losarang untuk meminta bantuan dicarikan
tumpangan menuju cibubur, Polisi yang selama ini aku anggap hanya sebagai tukang tilang
minta duit, ternyata tidak semua seperti itu, dengan tulus si bapak polisi mencarikan kami
tumpangan sampai ke Karawang. aku pun belajar untuk lebih menghargai jasa dan upaya
polisi kedepannya. Di karawang kami kembali mendapati rasa syukur karna diberikan
tumpangan mobil pribadi menuju cibubur. bahkan kami dibekali dengan air dan snack oleh
seorang bapak. selama perjalanan Jogjakarta-Kebumen-Brebes-Cibubur aku pun belajar
banyak dari dessy seorang penghapal Al Qur'an ,begitu kacaunya muroja'ah (hafalan Al
Qur'an) yang ada pada diriku. Sehingga kedepannya aku pun harus kembali merapikan
muroja'ah ku ,kembali mengkaji tafsir Al Qur'an lebih baik lagi...
CIBUBUR HERE WE ARE...Malam itu kami memulai youth leaders forum dengan sharing
pengalaman dari belasan kelompok lain. suasana haru biru terjadi ketika mendengar
pengalaman dari kelompok lain belajar banyak hal. Keesokan harinya kami mulai agenda
Youth Leaders Forum dari berbagai Inspiring Leader ; Mba Inayah Wulandari Wahid, Mas M.
Alfatih Timur, Mba Yenny Zanuba Wahid, Ibu Yunianti Chuzaifah, Bapak Richard Cronin,
dan masih banyak lagi Inspiring leader lainnya. Selain mendengarkan materi dan refleksi
yang luar biasa dari inspiring leader,kami pun juga berlatih untuk berpikir kritis dari berbagai
sudut pandang pro dan kontra. 48 Pemuka Pemuda Indonesia yang berasal dari berbagai
penjuru wilayah Indonesia datang dengan berbagai kesenian daerah yang mereka miliki.
Diwaktu yang singkat kami berlatih untuk puncak malam apresiasi seni. Alhasil WE DID
IT ,kami tampil dengan berbagai kesenian daerah ; tari saman, tari bali, tari lampung, dan

medley nusantara yang menutup apresiasi seni kami dengan maksimal. Tanggal 4 September
2016 ditengah suasana sepi, kami menulis surat untuk diri kami masing-masing, Bersyukur ,
dan membuat sebuah komitmen untuk diri kami, keluarga, dan gerakan mari berbagi. Malam
itu begitu tenang, bintang bintang bersinar dengan indahnya membuat aku berat untuk
meninggalkan PP PON Cibubur ini dan berpisah dengan 47 Pemuka Pemuda lainnya :(. inilah
kehidupan,kita harus terus berjalan agar roda ini dapat berputar dengan baik. banyak refleksi
diri yang aku dapatkan selama perjalanan youth adventure dan berbagai kisah inspiring dari
inspiring leaders. Semoga kita semua dapat tetap berkontribusi dengan project sosial kita
dimanapun kita berada, karna berbagi merupakan intuisi hati yang tidak mati.
Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2016
Gerakan Mari Berbagi
I Share Therefore I AM