Anda di halaman 1dari 4

ARTIKEL PRAKTIKUM

MATA KULIAH TEKNOLOGI PANGAN FUNGSIONAL

MATERI
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

disusun oleh:
Syayyidah Faizatul Isnaini/141710101069
Kelompok 9/Kelas C

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
NOVEMBER, 2016

PRAKTIKUM PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN


1. Pengertian Antioksidan
Antioksidan atau reduktor berfungsi untuk mencegah terjadinya oksidasi
atau menetralkan senyawa yang telah teroksidasi dengan cara menyumbangkan
hidrogen dan atau elektron (Silalahi, 2006). Antioksidan merupakan sistem
pertahanan sel terhadap radikal bebas, terdapat kriteria antioksidan yang efektif:
1) Antioksidan harus memiliki daya tarik-menarik yang besar terhadap jaringan.
Dengan kata lain, antioksidan harus dapat menyingkirkan radikal bebas
sebelum merusak sel.
2) Antioksidan haruslah nontoksik. Hanya karena berfungsi sebagai antioksidan
saat berada di dalam tabung percobaan, bukan berarti suatu zat dapat
bekerja dengan baik di dalam tubuh.
3) Antioksidan harus dapat mencapai lokasi yang membutuhkan perlindungan
(Perricone, 2007).
Produksi antioksidan didalam tubuh manusia terjadi secara alami untuk
mengimbangi produksi radikal bebas. Radikal bebas merupakan suatu molekul
yang memiliki elektron tidak berpasangan dalam orbital terluarnya sehingga
sangat reaktif. Radikal ini cenderung mengadakan reaksi berantai yang apabila
terjadi di dalam tubuh akan dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan yang
berlanjut dan terus menerus.
Umumnya antioksidan yang ada dalam buah- buahan adalah vitamin C,
vitamin E, karotenoid, flavonoid, dan komponen thiol (SH). Selain itu, kontribusi
aktifitas antioksidan komponen fenol lebih besar dibanding vitamin C dan
karotenoid (Ide, 2009). Turunan polifenol sebagai antioksidan dapat
menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang
dimiliki radikal bebas, dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari
pembentukan radikal bebas.
Aktivitas antioksidan merupakan kemampuan suatu senyawa atau ekstrak
untuk menghambat reaksi oksidasi yang dapat dinyatakan dengan persen
penghambatan. Parameter yang dipakai untuk menunjukan aktivitas antioksidan
adalah harga konsentrasi efisien atau efficient concentration (EC50) atau
Inhibition Concentration (IC50) yaitu konsentrasi larutan sampel yang dibutuhkan
untuk menghambat 50% radikal bebas DPPH. (Brand-Williams, 1995).
2. Pengujian Aktivitas Antioksidan menggunakan Metode DPPH
Bermacam-macam metode yang digunakan untuk mengukur aktivitas
antioksidan dari produk makanan dapat memberikan hasil yang beragam
tergantung pada spesifitas dari radikal bebas yang digunakan sebagai reaktan.
DPPH merupakan suatu metode yang cepat, sederhana, dan murah untuk
mengukur kapasitas antioksidan dalam
makanan. DPPH (1,1-Difenil-2picrylhydrazyl) secara luas digunakan untuk menguji kemampuan senyawa
radikal bebas pemulung atau hidrogen donor, dan untuk mengevaluasi aktivitas
antioksidan makanan.

Prinsipnya pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan mereaksikan


sampel dengan radikal bebas DPPH, adanya aktivitas antioksidan dari sampel
mengakibatkan perubahan warna pada larutan DPPH dalam metanol yang
semula berwarna violet pekat menjadi kuning pucat (Permana, 2003). Tingginya
aktivitas antioksidan pada sampel akan ditunjukkan oleh banyaknya DPPH yang
direduksi yang terlihat dengan semakin pudarnya warna ungu. Warna yang
terbentuk dibaca dengan spektrofotometer pada 517 nm. Trolox digunakan
sebagai standar yang merupakan analog vitamin E yang larut dalam air. Aktivitas
antioksidan dinyatakan dalam satuan TEAC (Trolox Equivalent Antioxidant
Capacity).

Gambar 1. Reaksi antara Antioksidan dan DPPH


Selain itu, secara umum metode DPPH ini terjadi ketika ada interaksi
antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen
yang menetralkan karakter radikal bebas dari DPPH. Sehingga apabila semua
elektron radikal bebas DPPH menjadi berpasangan maka warna larutan berubah
dari ungu tua menjadi kuning terang (Gurav et al, 2007).
Chen et al (2006) mengembangkan metode DPPH dengan modifikasi.
sebanyak 3 ml DPPH (100 MM) dimasukkan dalam tabung reaksi, setelah itu
ditambah etanol dan sampel ekstrak dimana total keseluruhan volume etanol dan
sampel adalah 1 ml. Campuran reaksi dalam tabung reaksi divortex dan
didiamkan selama 15 menit. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 517
nm. Pengujian kontrol dilakukan dengan cara yang sama dengan menggantikan
sampel ekstrak dengan etanol pada volume yang sama. Aktivitas scavenging
terhadap radikal DPPH dinyatakan sebagai % penghambatan terhadap radikal
DPPH. Persen penghambatan dihitung sesuai rumus:
O As)/Ao] x 100
Keterangan : Ao = absorbans tanpa penambahan sampel ekstrak (kontrol)
As = sbsorbans dengan penambahan sampel ekstrak

DAFTAR PUSTAKA
Brand-Williams, W., Cuvelier, M., and Berset, C. 1995. Use of a Free Radical
Method to Evaluate Antioxidant Activity. Lebensmittel-Wissens-chaft-undTechnologie. 28:25-30.
Chen, S.J., Fan, H.C., and Sytwu, H.K.. 2006. Immunomodulation of Potent
Antioxidant Agents: Preclinical Study to Clinical Application in Multiple
Sclerosis. Experimental Autoimmune Encephalomyelitis-Models, Disease
Biology and Experimental Therapy, Thaiwan : 139-161.
Gurav, S., Deshkar, V., Gulkari, N., Duragkar, P. 2007. Free Radical Scavengeng
Activity of Polygala Chinensis Linn. Pharmacologyline, Vol 2. 245-253.
Permana, D., Lajis, H., Abas, F., Ghafar, O. 2003. Antioksidative Constituents Of
Hedotis Diffusa Wild. Natural Product Science Vol 9 No 1, 7-9.
Perricone, N. 2007. The Perricone Prescription. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
Silalahi. 2006. Antioksidan dalam Diet dan Karsinogenesis. Cermin Dunia
Kedokteran. 153: 42-47.