Anda di halaman 1dari 48

MAKALAH ILMU KEDOKTERAN GIGI KLINIK 1

SKENARIO 2

Kelompok PBL 5:
Billy Gunawan (1506739394)
Fibiandini Yustiana (1406574850)
Fira Farida (1506668870)
Hasti Raissa (1506734185)
Isnaini Aisyah Naser (1506668776)
Layli Pinaringaning Gusti (1506668611)
Naomi Nadya (1506726050)
Preticia (1506723465)
Qurrota Ainun M.A (1506669002)
Rigita Ayu D.P (1506668990)
Trihanna Kezya (1506668731)
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik
dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai kelainan pada gigi
atau disebut dengan anomali pada gigi sulung maupun permanen.
Makalah ini dibuat dengan berbagai diskusi dan beberapa bantuan dari banyak pihak
untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini.
Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Depok, 10 September 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................................i
Daftar Isi....................................................................................................................................ii
ISI...............................................................................................................................................1
1. Kelainan Gigi Geligi (Anomali gigi)..............................................................................1
1.1.

Gangguan

pada

email..............................................................................................1
1.1.1. Hypoplasia enamel.........................................................................................1
1.1.2. Enamel displasia............................................................................................2
1.2.

Gangguan

pada

dentin............................................................................................6
1.2.1. Dentinogenesis Imperfekta............................................................................6
1.2.2. Displasia Dentin.............................................................................................8
1.3.

Kelainan jaringan keras diklasifikasikan saat perkembangan dan


pertumbuhan saat masih dalam kandung.............................................................9
1.3.1. Anomali Gigi Bedasarkan Jumlah Gigi.........................................................9
1.3.2. Anomali Gigi Bedasarkan Ukuran Gigi.......................................................11
1.3.3. Anomali Gigi Bedasarkan Bentuk Gigi.......................................................12
1.3.4. Anomali Gigi Bedasarkan Posisi Gigi.........................................................15

1.4.

Klasifikasi

dan

Identifikasi

Lesi

Non

Karies.......................................................17
1.4.1. Berdasarkan Gambaran Klinis dan Etilologi...............................................17
1.4.2. Klasifikasi Keparahan Lesi Non Karies.......................................................24
1.5.

Kegunaan

Intraoral

Radiograph

untuk

Deteksi

Karies....................................26
1.6.

Material

Preventif

Dan

Restorasi.........................................................................28
1.6.1. Bahan Tumpatan Sementara.......................................................................28
1.6.2. Material Tumpatan Plastis...........................................................................33
Daftar Pustaka..........................................................................................................................45

ISI
1. Kelainan Gigi Geligi (Anomali gigi)
Kelainan gigi geligi atau anomali gigi yaitu gigi yang bentuknya menyimpang dari
bentuk aslinya.

Definisi lainnya yaitu anomali merupakan

malformasi / defek yang

menyebabkan gangguan pada proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan.


Faktor-faktor yang menyebabkan anomali gigi :
1

Gangguan metabolisme

Faktor herediter

Gangguan pada waktu pertumbuhan, perkembangan gigi

Anomali gigi sering terjadi:


Bentuk abnormal atau terjadi perubahan bentuk

Gigi kembar (bersatu)/ fused anterior teeth

Kelebihan gigi atau supernumerary (extra) tooth

Anodontia yaitu tidak ada benih gigi di dalam rahang

Gigi permanen lebih banyak daripada gigi susu

Gigi geligi atas lebih banyak daripada gigi geligi bawah

1.1.

Gangguan pada email

1.1.1. Hypoplasia enamel


Gangguan pada ameloblast ketika pembentukan enamel matrik atau suatu gangguan
pada enamel yang ditandai dengan tidak lengkap atau tidak sempurnanya pembentukan
enamel. Pembentukan enamel yang tidak sempurna sebabnya defisiensi makanan atau nutrisi,
pengobatan tetracycline, measles disease, mengkonsumsi terlalu banyak mengandung
fluorida pada waktu perkembangan atau pembentukan gigi.

Gambaran klinis dari enamel hypolasia yaitu terdapatnya groove, pit dan fisur yang
kecil pada permukaan enamel, dan pada keadaan yang lebih parah dijumpai adanya guratan
guratan pit yang dalam,tersusun secara horizontal pada permukaan gigi.

Tatalaksana Hipoplasia Enamel


Gigi yang terkena hypoplasia enamel dapat mengakibatkan gigi menjadi rapuh dan
sensitif terhadap rangsangan termal dan asam. Apabila ada keluhan sensitifitas gigi, maka
dokter gigi dapat menggunakan aplikasi SnF2 8%-10% agar daya tahan enamel meningkat
dengan terjadinya remineralisasi enamel pada enamel yang porus. Restorasi kemudian
diberikan untuk mengurangi sensitifitas gigi serta untuk menaikkan dimensi vertikal dari
oklusi. Mahkota metal porselen adalah pilihan yang baik untuk restorasi permanen karena
kekuatan dan estetis pada gigi sudah baik.
1.1.2. Enamel displasia
Merupakan perkembangan enamel yang abnormal atau suatu gangguan pada sel
dalam pembentuk enamel (ameloblast) saat pembentukan awal enamel. Sebab enamel
displasia yaitu gangguan local seperti trauma, infeksi periapikal, dan gangguan sistemik :
minuman, infeksi, kekurangan nutrisi. Enamel dysplasia terdiri dari :

Amelogenesis imperfecta

Pembentukan enamel pada gigi susu dan tetap yang tidak sempurna saat perkembangan
gigi. Penyebabnya karena kelainan ini terjadi secara herediter yang mempengaruhi
pembentukan enamel baik dari gigi geligi sulung maupun permanen. Gambaran klinis dari
amelogenesis imperfecta yaitu mahkota kasar, gigi berwarna kuning sampai coklat yang
cenderung rusak karena kekurangan mineral dan rentan terhadap karies dan sangat sensitif
terhadap perubahan suhu.

Terdapat 3 tipe dasar Amelogenesis Imperfecta, yaitu:


Tipe I Hipoplastik
Merupakan kelainan yang terjadi karena adanya
gangguan pada pembentukan matriks enamel
(defect in amount of enamel) menyebabkan
mahkota

gigi-gigi nampak pucat, coklat

kekuningan, berlubang-lubang atau beralur.

Tipe II Hipomaturasi
Merupakan kelainan yang terjadi karena adanya
gangguan pada perkembangan dan pematangan
enamel (defect in the final growth and
maturation of enamel crystallite). Pada tipe ini,
mahkota-mahkota gigi berkontak di interproksimal, tetapi
tampak berkapur, kasar, beralur, dan ada perubahan warna dan email mudah patah.
Tipe III Hipokalsifikasi
Merupakan kelainan yang terjadi karena adanya
gangguan pada mineralisasi deposit matriks enamel
(defect in the initial crystallite formation
followed by defective growth).
Tatalaksana Amelogenesis Imperfecta
Sebagai dokter gigi tindakan pencegahan untuk kasus amelogenesis imperfect agar
tidak berdampak lebih parah adalah memberikan edukasi kepada pasien agar lebih
memperhatikan kebersihan gigi (DHE), serta mengontrol plak dan memberikan aplikasi
fluoride agar tidak terkena karies. Pilihan perawatan untuk amelogenesis imperfecta
tergantung keparahan kasus dan kebutuhan pasien itu sendiri. Misalnya, pada gigi anterior
dapat dilakukan restorasi komposit, porcelain crown, dan veneer porcelain. Sedangkan
pada gigi posterior dapat dilakukan metal crown dan stainless steel crown.
2

Fluorosis

Merupakan suatu gejala akibat mengkonsumsi senyawa fluoride dengan konsentrasi yang
tinggi dalam air minum, melebihi konsentrasi yang dianjurkan untuk mengendalikan karies
gigi. Secara klinis terlihat semua gigi permanen warnanya berubah dari putih ke kuningan
coklat yang berbintik-bintik yang disebut mottled enamel. Apabila parah, enamel gigi dapat
mengalami perubahan morfologi sehingga terdapat pits/lubang di enamel (pitted enamel).
Penyebab dari fluorosis yaitu asupan fluoride yang berasal dari makanan, supleman fluoride,
pasta gigi berfluoride, dan sumber fluoride lainnya seperti saat konsumsi fluoride dalam air
minum melebihi 1 ppm yang melebihi kadar fluorde optimum dan menghasilkan perubahan
6

gigi.

Tatalaksana Fluorosis
Pada kasus fluorosis, langkah awal apabila baru terjadi diskolorasi adalah perbaikan
warna dengan bleaching serta dilakukan penumpatan apabila diperlukan. Seluruh usaha
penanggulangan juga harus disesuaikan dengan keparahan keadaannya, dan sering juga
disertai perbaikan warna terlebih dahulu. Pada semua tindakan pengulasan gigi dengan
bahan-bahan kimia, proteksi gigi tidak boleh dilupakan, yang sebaiknya dilakukan dengan
rubber dam. Hal ini karena umumnya bahan-bahan tersebut sangat kaustis dan dapat
mengiritasi jaringan lunak.
3

High fever
Terjadinya Pitted atau berbintik-bintik enamel pada gigi permanen akibat sakit demam

saat kecil dan akibat penyakit campak yang mempengaruhi pembentukan gigi.

Focal byp oinaturation

Terdapat bintik-bintik putih setempat pada gigi pada bagian tengah mahkota gigi pada
permukaan facial, lingual/ palatal sebagai akibat trauma.
1.2.

Kelainan Jaringan Keras (Dentin)

1.2.1. Dentinogenesis Imperfekta


Dentinogenesis imperfekta adalah kelainan
turunan yang mengenai perkembangan dentin.
Telah diklasifikasikan 3 tipe menurut keterlibatan
sistemik, gambaran klinis, temuan histologis,
yaitu Tipe Shields I, Tipe Shields II (dentin
opalesen turunan) dan Tipe Shields III (tipe
Brandywine)

Tipe I adalah manifestasi dari osteogenesis imperfekta yaitu keadaan sistemik yang
mencakup kerapuhan tulang, sklera biru, kelemahan sendi dan kurangnya pendegaran.
Hal itu disebabkan oleh suatu kelainan pada pembentukan kolagen.

Tipe II menunjukkan gambaran dentin yang sama sepertitipe I, tetapi tidak ada
komponen osteogenik.

Tipe III orang-orang mempunyai gigi-gigi yang berwarna opak seperti tipe I dan II,
tetapi gigi tersebut tampak seperti kerang.

Dentinogenesis imperfekta dapat mengenai gigi-gigi sulung dan tetap, tetapi kurang
parah pada gigi tetap secara klinis gigi-gigi tampak normal jika pertama erupsi, tetapi tidak
lama sesudahnya berubah warna menjadi abu-abu coklat atau opak; permukaan oklusal dan
insisalnya gompal, hilang dan mengakibatkan celah-celah serta atrisi mencolok.
Secara radiografis tampak mahkota berbentuk bulatan, penyempitan servikal yang
hebat, akar-akar menguncup pendek dan penyumbatan progresip saluran akar Gigi-gigi yang
terlibat lebih mudah terkena fraktur akar.

Tatalaksana Dentinogenesis imperfekta


Tujuan utama perawatan Dentinogenesis imperfecta adalah untuk memperbaiki
penampilan, mengembalikan fungsi pengunyahan, mencegah terjadi abrasi, mempertahankan
kesehatan mulut, dan mengembalikan fungsi estetik gigi pasien. Kelainan gigi yang terjadi
pada dentinogenesis imperfecta dapat mengenai semua permukaan gigi, dari gigi anterior
sampai posterior. Rencana perawatan yang tepat sangat menentukan keberhasilan perawatan.
Terdapat bermacam-macam restorasi yang dapat digunakan dalam perawatan ini, seperti
9

resin komposit untuk gigi anterior, mahkota stainless steel untuk gigi posterior, mahkota
celluloid strip untuk gigi sulung dan gigi tetap muda anterior, veneer, dan overdenture untuk
gigi dengan atrisi yang luas.
1.2.2. Displasia Dentin
Displasia dentin adalah kelainan pada dentin yang melibatkan sirkum pulpa dentin
dan morfologi akar, sehingga akar terlihat pendek yang disebabkan herediter yang diturunkan
secara autosomal dominan. Ditandai oleh perubahan-perubahan dalam bentuk dentin yaitu
kelainan pada dentin yang melibatkan sirkum pulpa dentin dan morfologi akar, sehingga akar
terlihat pendek.

Ketidaknormalan tersebut diklasifikasikan dalam dua tipe yaitu


Tipe 1 ( displasia dentin radikuler )
Pada tipe ini gigi-gigi sulung dan tetap
secara klinis tampak normal tetapi radiograf
menunjukan

kelainan

perkembangan

akar

dengan hampir tidak ada pembentukan akar


sama sekali dan ada batu pulpa besar serta
penyumbatan pulpa total dari gigi-gigi sulung
sebelum erupsi gigi, ditandai dengan gigi-gigi
yang goyang dan radiolusensi periapikal multipel yang tak diketahui sebabnya.

10

Tipe II ( displasia dentin coronal )


Pada tipe ini saluran pulpa gigi-gigi sulung sering kali tersumbat karena mengalami
dentinogenesia imperfekta. Sebaliknya pada gigi tetap secara klinis tampak normal, kecuali
saluran-saluran pulpa yang lebih sempit dan berbentuk bunga widuri yang sering kali
ditempati oleh dentikel-dentikel. Akar gigi kemungkinan pendek, tumpul, menguncup, dan
dapat mempunyai garis radiolusens horizontal.

1.3.

Kelainan jaringan keras diklasifikasikan saat perkembangan dan pertumbuhan

saat masih dalam kandungan


1.3.1.
Anomali Gigi berdasarkan Jumlah Gigi
Terbagi menjadi 3, yaitu
- Missing Teeth / Anodonsia merupakan suatu keadaan dimana tidak dijumpai
benih gigi baik gigi primer maupun gigi tetap, biasanya terjadi pada gigi Molar 3,
Incisivus 2 Maksila, atau Premolar 2. Anodonsia disebabkan oleh deformasi
congenital (sex-linked genetic trait), yang melibatkan perkembangan abnormal
dari ectoderm. Biasanya anodonsia terjadi pada penderita penyakit sistemik,
seperti: Down Syndrome dan ectodermal dysplasia. Berdasarkan beberapa
penelitian gigi yang memiliki probabilitas mengalami anodonsia adalah Molar 3,
Premolar, dan Incisivus 2 Maksila. Sementara gigi yang paling stabil keadaanya
dalam rongga mulut adalah gigi Caninus. Anodonsia terdiri dari 2 tipe, yaitu:
o Anodonsia Total : keadaan dimana tidak dijumpai sama sekali benih gigi
pada rongga mulut, baik itu maksila maupun mandibula.

.
o Anodonsia Parsial / Hipodonsia: keadaan tidak dijumpai benih gigi namun
hanya beberapa saja, tidak secara menyeluruh. Gigi yang paling sering
11

mengalami anodonsia parsial ini secara berurutan adalah Molar 3,


Incisivus 2 Maksila, dan Premolar 2 Mandibula.

Tatalaksana Anodonsia dan Hipodontia


Pada keadaan anodonsia, bisa dibuatkan full protesa bila anak sudah dapat diajak
untuk bekerja sama. Full protesa dapat dibuat semasa gigi sulung dan diganti/ disesuaikan
setelah masa gigi tetap.
Pada hipodonsia gigi insisivus dua atas tetap dipasang removable protesa dan dapat
diganti dengan bridge protesa bila apeks gigi insisivus satu atas sebelahnya sudah tertutup
sempurna (tertutup sempurna biasanya 3-6 tahun setelah erupsi). Sedangkan gigi premolar
yang hipodonsia dilakukan penutupan ruangan secara ortodonti atau dibuat removable
protesa yang diganti dengan fixed protesa dikemudian hari.
-

Additional Teeth/ Hiperdonsia / Supernumerary Teeth merupakan suatu keadaan


dimana dijumpai tumbuhnya gigi dalam jumlah berlebih pada rongga mulut.
Hiperdonsia disebakan oleh deformasi congenital, sama seperti anodonsia dan
diikuti oleh syndrome spesifik, seperti: Cleidocranial dysplasia dan Gardener
Syndroma. Hiperdonsia dapat terjadi baik pada gigi sulung dan tetap. Peluang
terjadinya hiperdonsia pada RA:RB adalah 8:1, dimana pada pria 2 kali lebih
mungkin dari wanita. Berdasarkan penelitian 90% hiperdonsia terjadi pada
maksila dengan gigi yang paling sering mengalami hiperdonsia adalah gigi
Incisivus dan Molar 3 Maksila.
o Hiperdonsia Incisivus : pada daerah ini disebut dengan mesiodens yaitu
supernumerary teeth yang tumbuh diantara gigi Incisivus satu (midline
maksila), berbentuk cone-shaped dan akar pendek. Kemungkinan terjadi
mesiodens pada anak-anak adalah 0,5%.

12

o Hiperdonsia Molar 3 Maksila : gigi yang tumbuh setelah molar 3 disebut


dengan distomolar/ paramolar / fourth molar. Kelainan ini jarang
mengalami erupsi, sehingga hanya bisa dilihat melalui pemeriksaan
radiografis.

1.3.2.
Anomali Gigi berdasarkan Ukuran Gigi
Etiologi: faktor lingkungan yang menyebabkan pecahnya benih gigi saat masih dalam
kandungan, faktor tersebut diantaranya adalah radiasi/ penyinaran, trauma, infeksi,
gangguan nutrisi dan hormonal.
a. Makrodonsia : keadaan dimana ukuran gigi terlalu besar, terjadi pada gigi
Incisivus dan Caninus

b. Mikrodonsia : lawan dari makrodonsia dimana ukuran gigi terlalu kecil, dan
biasanya juga diikuti oleh dwarfed root.

13

1.3.3.

Anomali Gigi berdasarkan Bentuk Gigi


a. Fusion : pertumbuhan dari 2 elemen dentin dan enamel menjadi 1 elemen
selama pembentukan. Hal ini dikarenakan adanya tekanan saat pembentukan
akar. Fusion lebih banyak terjadi pada gigi sulung.

Fusion/ Synodontia merupakan hasil dari kombinasi benih gigi


bersebelahan (dapat terjadi pada gigi sulung dan permanen). DD (Diagnosis
banding atau differential diagnosis merupakan sejumlah diagnosis yang
ditetapkan karena adanya kemungkinan tertentu guna pertimbangan medis
untuk ditetapkan diagnosis lebih lanjut) yaitu Gemination dan macrodontia.

b. Geminasi : terjadi karena suatu benih membekah, biasanya mempunyai 1 akar


dengan saluran akar 2.

14

Gemination/ Twinning

enamel atau dentin dapat terjadi

hypocalcified (lebih sering terjadi pada gigi sulung). DD (Diagnosis banding


atau differential diagnosis merupakan sejumlah diagnosis yang ditetapkan
karena adanya kemungkinan tertentu guna pertimbangan medis untuk
ditetapkan diagnosis lebih lanjut ) : Fusion

c. Concrescence : terjadinya superficial fusion melalui cementum, gigi berfusi


setelah erupsi. (jika fusion terjadi sebelum erupsi).

True Concrescence cementum dua akar atau lebih bergabung (dapat


terjadi pada gigi sulung dan permanen). DD (Diagnosis banding atau
differential diagnosis merupakan sejumlah diagnosis yang ditetapkan karena
adanya kemungkinan tertentu guna pertimbangan medis untuk ditetapkan
diagnosis lebih lanjut) : Fusion dentin menyatu

15

d. Dens in Dente (Invaginated Odontome) : anomaly pertumbuhan gigi yang


mengakibatkan elemen berbentuk sangat jelek. Secara klinis terlihat sebagai
tonjolan di daerah cingulum gigi Incisivus. Anomaly ini disebabkan oleh
terselubungnya organ enamel diantara mahkota.

e. Extra Cusp: crowded condition prior to eruption may result in fusion of a


supernumerary tooth, which may be appear similar to an extra cusp.

f. Congenital Syphilis: ketika Ibu menderita Syphilis maka pada si janin akan
berdampak pada terganggunya perkembangan dan pertumbuhan gigi berupa:
i. Hutchinsons Incisor: kondisi mahkota kecil , screwdriver or basedshaped, dan kadang berbentuk V terbalik (notched)

16

ii. Moons/ Mulberry Molar : permukaan oklusal pada gigi molar


memiliki banyak tubercle.

1.3.4.
Anomali Gigi berdasarkan Posisi Gigi
Keterlambatan erupsi yang disebabkan oleh:
- Faktor Local:
o Loss of space
o Abnormal crypt position
o Overcrowding
o Additional teeth
o Retention deciduous predecessor
o Dentinogenesis and eruption cyst
- Faktor Sistemik:
o Penyakit metabolisme: kretin, ricket
o Developmental disturbance: cleidocranial dysplasia
o Hereditary condition: gingival fibromatosis and cherubism
Kelainan kelainan tersebut diantaranya adalah:
a. Impaksi : suatu keadaan gigi yang tidak dapat mengalami erupsi karena
kurangnya gaya eruptif pada saat perkembangan dan pertumbuhan. Gigi yang
biasanya mengalami impaksi adalah gigi M3.

b. Transposisi : tumbuhnya gigi pada tempat yang tidak seharusnya, dalam hal
ini saling bertukar posisi. Tranposisi terjadi karena karena tooth bud yang
17

berkembang tidak sesuai dengan tempatnya. Gigi yang paling sering terlibat
adalah gigi Caninus Maksila.

c. Rotasi : berputarnya gigi sejauh 180o , termasuk dalam anomaly normal. Gigi
yang sering mengalami rotasi adalah Premolar 2 maksila, kadang Incisivus
maksila atau Premolar mandibula.

d. Ankylosis : terjadi karena infeksi/ trauma ligament periodontal sehingga akar


gigi yang belum erupsi berfusi dengan tulang alveolar. Ketika gigi tersebut
erupsi, ia tidak dapat beroklusi dengan gigi antagonisnya. Ankyloses terjadi
pada gigi sulung yang tidak memiliki benih gigi permanen, contoh: dm 2
mandibula.

1.4.
Klasifikasi dan Identifikasi Lesi Non Karies
1.4.1.Berdasarkan Gambaran Klinis dan Etilogi
18

Abrasi
Abrasi adalah suatu keadaan reduksi gigi non-fisiologis yang diakibatkan karena

masuknya material luar ke dalam rongga mulut dan berkontak dengan permukaan gigi.
Konsep klasik Abrasi adalah suatu proses demineralisasi atau kehilangan struktur gigi karena
pathologis/ restorasi, atau yang bebas dari plak bakteri yang terjadi secara perlahan, bertahap
dan progresif karena kebiasaan yang berbahaya. Beberapa material luar tersebut adalah :

Makanan yang mengandung material kasar, berpasir, keras dan sebagainya yang

terjadi pada saat mastikasi


Teknik menggunakan Sikat gigi, dental floss yang salah dan penggunaan pasta gigi

yang abrasif pada saat membersihkan gigi


Kebiasaan buruk, misalnya menggigit pulpen, menahan pipa rokok dengan gigi
Penggunaan tusuk gigi yang terlalu bertenaga pada gigi yang saling bersebelahan.
Ataupun berbagai alat yang menggunakan kemampuan gigi yang untuk dapat
berfungsi. Misalnya : membuka tutup botol, membuka jepit rambut dengan gigi.
Gambaran mikroskopis dari lesi abrasi yaitu permukaan yang mengalami abrasi

menunjukan adanya goresan, beberapa pit, dan tanda-tanda lainnya. Biasanya goresan
tersebut tersusun parallel karena material abrasive tersebut hanya datang melalui satu arah
saat melewati permukaan gigi. Panjang, kedalaman, dan lebar dari goresan tersebut
tergantung daripada material abrasive tersebut.
Gambaran Klinis secara umum biasanya terdapat di bagian servikal gigi bagian bukal,
lesi cenderung melebar daripada dalam. Gigi yang sering terkena adalah gigi P dan C. Pada
daerah servikal gigi, lesi cenderung melebar daripada dalam. Terkadang juga terdapat pada
bagian oklusal hingga dentin terekspos. Akibat cara menyikat gigi yang salah, membentuk
groove berbentuk V antara mahkota dan gingival ke daerah servikal gigi. Daerah yang
biasanya paling parah terjadi adalah pada CEJ di permukaan labial dan bukal (secara berurut)
premolar, caninus, dan insisive rahang atas. Dan pemakaian dental floss yang salah dapat
terlihat pada permukaan proksimal di bagian servikal gigi dekat gingival.
Pada gambaran radiografis terlihat permukaan gigi yang terkena abrasi tampak
radiolusen terutama di bagian servikal gigi permukaan interproksimal. Pada gigi yang
mengalami abrasi karena penggunaan dental floss yang salah, groove radiolucent lebih
banyak terlihat di bagian mesial daripada distal, karena lebih mudah menambah tekanan ke
arah depan daripada kearah belakang.

19

Atrisi
Atrisi didefinisikan sebagai gesekan fisiologis pada permukaan gigi atau restorasi
disebabkan oleh kontak gigi (tooth to tooth contact) selama proses mengunyah atau karena
adanya kelainan fungsi/ parafunction. Atrisi merupakan keausan struktur gigi yang
diakibatkan oleh bergesekan/berkontaknya gigi geligi satu sama lain (saat gigi beroklusi)
20

tanpa kehadiran makanan. Menurut Every merupakan keausan gigi yang diakibatkan material
endogen seperti partikel prisma enamel yang tersangkut di antara 2 gigi yang saling
berlawanan. Dapat disebabkan oleh bruxism dan faktor usia.
Tingkat atrisi bergantung pada makanan, faktor saliva, mineralisasi gigi, usia
(semakin tua akan lebih cepat terkena atrisi), emotional tension. Penyebaran atrisi
dipengaruhi oleh tipe oklusi, geometri sistem stomatognatik (sistem yang menggabungkan
sistem-sistem yang berada dalam rongga mulut, seperti mastikasi, bicara, oklusi, artikulasi
dan sebagainya) serta karakeristik pengunyahan dari masing-masing individu. Paling sering
kita menemukan atrisi dipermukaan oklusal, insisal, dan lingual gigi anterior rahang atas dan
bukal gigi rahang bawah.
Atrisi dapat juga terjadi karena kelainan fungsi/parafunction, salah satunya adalah
bruxism. Bruxism adalah kebiasaan mengertakan dan menggesekan gigi antara rahang atas
dan bawah. Hal ini terjadi pada saat tidur dan tidak disadari.
Gambaran mikroskopis pada atrisi yaitu terdapat goresan-goresan parallel dengan satu
arah pada permukaan yang datar dan ada batas pada setiap seginya. Pada gambaran
radiografis biasanya terjadi penebalan di lamina dura dan bagian mahkota gigi mengalami
keausan atau bahkan hilang.
Gambaran klinis pada lesi atrisi, yaitu biasanya terlihat pada permukaan kunyah
seperti insisal, oklusal, dan proksimal. Menyebabkan permukaan melengkung sampai rata,
mahkotanya memendek dan permukaan enamel oklusal/ insisal menghilang. Menyebabkan
tepi enamel menjadi tajam. Pada gigi anterior, ujung insisal tampak melebar. Pada gigi
posterior, bagian yang mengalami atrisi terutama adalah cusp. Pada gigi rahang atas, yang
paling mudah terkena atrisi adalah cusp lingual, sementara pada gigi rahang bawah adalah
cusp bukal. Jika sudah terkena dentin, warna menjadi kekuning-kuningan serta terbuka.Pada
atrisi patologis (bruxism, maloklusi, bentuk gigi, dll), keausan batas (facet) meluas lebih
cepat dibandingkan atris karena fisiologis.

21

Gambaran radiografik terlihat perubahan dari outline normal gigi, dari bentuk lekukan
menjadi flat. Mahkota menjadi mengecil, lamina dura menebal.

Erosi
Erosi digambarkan sebagai kehilangan struktur gigi patologis yang

progesif

disebabkan karena adanya kontak berulang kali dalam jangka waktu yang lama terhadap
larutan asam atau larutan kimia tanpa melibatkan bakteri. (terjadi demineralisasi gigi karena
bahan kimia). Lokasi erosi, pola daerah yang tererosi dan penampakan lesi dapat ditentukan
dari sumber/asal dekaslifikasi tersebut. Misalnya pada erosi yang disebabkan karena muntah
maka daerah yang biasanya terserang adalah permukaan lingual gigi maksila (terutama gigi
anterior), sedangkan pada erosi yang disebabkan karena konsumsi makan-makanan akan
menyerang permukaan labial/bukal.
Sumber asam yang dapat menyebabkan lesi erosi dapat berasal dari:

22

Faktor ekstrinsik, yaitu

konsumsi makanan asam, buah asam atau minuman

berkarbonasi dalam jumlah besar seperti cola dan wine. Misalnya : lemon, jus buah,
2

anggur, semua jenis soft drink, cuka. Dan konsumsi obat yang bersifat asam.
Faktor instrinsik, yaitu muntah kronis atau refluks asam dari kelainan gastrointestinal
(sekresi dari lambung yang disebut perymolisis). Terdapat efek buffering dari saliva
sehingga menjadi hiposalivasi karena kelebihan asam. Kelenjar saliva yang menjadi
hipofungsi mungkin dapat terjadi karena bulimia , diabetes, penggunaan obat-obatan,
dll

Gambaran klinis :
1

Umumnya berupa lesi halus, terdapat depresi mengkilap di permukaan enamel yang

terletak di dekat gingival.


Erosi dapat menyebabkan kehilangan enamel dalam jumlah yang besar sehingga dapat

3
4
5

menimbulkan noda berwarna pink di seluruh enamel yang tersisa.


Tidak ada lagi enamel ridges yang tajam karena smuanya sudah membulat
Permukaan enamel bisa menjadi konkaf hingga dentin terkena.
Pada gambaran radiografis lesi erosi, terlihat radiolusen pada bagian yang mengalami
erosi

Lokasi dan pola erosi biasanya ditentukan berdasarkan sumber asam. Apabila pasien
sering muntah, biasanya erosi terjadi pada bagian lingual/palatal. Apabila pasien sering
konsumsi makanan/minuman asam, erosi terjadi pada bagian labial/buccal.

Gambaran radiografik: Area erosi terlihat seperti kerusakan yang radiolusen pada
mahkota. Margin mungkin masih bisa terlihat tapi bisa juga terhambur.

23

Tatalaksana Abrasi, Atrisi dan Erosi


Perawatan untuk gigi abrasi, atrisi dan erosi kurang lebih sama yaitu tergantung pada
keparahannya. Tidak semua keadaan tersebut membutuhkan perawatan. Bila jaringan gigi
yang hilang masih sangat sedikit namun terasa keluhan seperti ngilu atau sensitif, dokter gigi
akan memberikan perawatan fluor yang dapat digunakan sendiri oleh pasien di rumah, bisa
dalam bentuk gel atau obat kumur. Atau bisa berupa fluor yang dioleskan langsung pada gigi
oleh dokter gigi. Bila jaringan keras gigi sudah banyak yang hilang dapat dilakukan
penambalan dengan bahan tambal sewarna gigi seperti resin komposit. Dokter gigi juga
memberikan semacam pernis yang mengandung fluor untuk menutupi bagian tersebut,
sehingga rasa ngilu akan berkurang dan hilang. Pemilihan pasta gigi yang tepat juga dapat
memberi dampak yang signifikan terhadap berkurangnya rasa ngilu. Dari penelitian diketahui
bahwa pasta gigi yang mengandung potassium sulfat dapat menutup tubuli dentin sehingga
rangsang dari luar dapat dihambat. Jika keausan menjadi sangat luas sehingga banyak
jaringan gigi yang hilang, maka pulpa mungkin akan terbuka sehingga harus dilakukan
perawatan saluran akar. Perawatan ini juga termasuk diet meliputi anjuran pada pasien agar
menghentikan kebiasaan mengkonsumsi buah asam, makanan dan minuman berpH rendah.

Abfaksi
Abfraksi merupakan hilangnya permukaan gigi di daerah servikal gigi disebabkan

oleh ketegangan dan tekanan sekunder pada saat pergerakan gigi dengan beban oklusal
berlebihan. Ketegangan terkonsentrasi pada titik tumpu servikal (fulkrum) pada daerah yang
mengarah ke sudut yang bisa menembus kristal enamel dan ikatan kimia di daerah servikal.
Daerah gigi tersebut membelok pada servikal margin dan dapat menyebabkan kerusakan
progresif terhadap jaringan gigi yang rapuh. Apabila cusp tetap berada dibawah tekanan saat
24

awal maupun akhir siklus mastikasi, maka kemungkinan akan terjadi fleksur atau kompresi
yang akan menyebabkan dislokasi dentin atau enamel pada titik rotasi. Definisi lain abfraksi
adalah kelainan jaringan keras gigi yang dikarenakan adanya tenaga (compression dan
tension) yang berlebihan pada permukaan oklusal sehingga menyebabkan adanya
mikrofraktur pada permukaan bukal dan lingual.
Secara klinis, dapat dilihat adanya kehilangan jaringan keras gigi berupa V pada 1/3
servikal gigi. Abfraksi dapat mempengaruhi hanya satu gigi dan gambaran klinisnya
berbentuk wedge shape biasanya dalam dan dengan batas yang jelas. Jenis lesi memiliki
insiden yang lebih besar pada gigi depan karena diameter mahkota terkecil mereka di
servikal. Abfraksi adalah contoh dari lesi non-karies yang mempengaruhi daerah servikal dan
tidak terjadi secara eksklusif karena adanya perubahan asam dan tindakan mekanik agen
abrasif. Fenomena ini mungkin diperburuk oleh abrasi yang disebabkan oleh kegiatan
menyikat gigi dengan keras. Ketika enamel sudah rusak dapat lebih mudah untuk terkikis
oleh erosi atau abrasi.

Abfraksi berbeda dari abrasi dalam beberapa hal yaitu abfraksi disebabkan karena
gertakan gigi, abrasi disebabkan karena gesekan dengan material eksogen, dan abfraksi dapat
meluas di bawah garis gingiva, abrasi berhubungan dengan resesi gingiva
Lesi non karies di atas dapat diperbaiki dengan terapi di bawah ini:

25

a) Occlusal equilibration, yaitu dengan melakukan grinding pada permukaan mengunyah


dan menggigit pada gigi untuk mencapai suatu keseimbangan, hal tersebut
menyebabkan tekanan pada gigi menurun namun membuat struktur gigi rentan
sehingga menjadi lemah dan memiliki kemungkinan untuk terkontaminasi
b) Occlusal restoration, yaitu dengan melakukan restorasi pada bagian struktur gigi yang
rusak
c) Mengurangi kebiasaan buruk seperti menggigit pulpen, sering menahan pipa rokok
d) Mengurangi konsumsi makanan asam dan minuman bersoda
e) Memperbaiki kesalahan dalam membersihkan gigi
f) Menggunakan bite plane pada penderita bruxism

1.4.2.

Klasifikasi Keparahan Lesi Non Karies


Sejumlah indeks telah diusulkan untuk menilai beratnya lesi non karies, yaitu dengan

merekam karakteristik permukaan gigi dengan skor numerik. Klasifikasi yang paling populer
Tooth Wear Index oleh Smith dan Knight.21. Indeks ini dapat digunakan untuk
membandingkan keparahan antara individu dan juga memantau perkembangan manjamen
untuk pasien yang bersangkutan. Perlu dicatat bahwa Tooth Wear Indeks oleh Smith dan
Knight telah menerima kritik karena tidak berhubungan dengan etiologi dari masing masing
lesi non karies.

Pada tahun 2010, Bartlett menggambarkan indeks berdasarkan BPE untuk merekam
tingkat keparahan lesi non karies untuk pasien dalam perawatan primer. Indeks ini dikenal
sebagai BEWE (Basic Erosif Wear Pemeriksaan). Tujuan indek ini adalah untuk membangun
26

indeks yang dapat untuk merekam pemakaian gigi. BEWE mencatat keparahan lesi pada
skala dari 0 sampai 3 untuk setiap bagian gigi, seperti 0 (tidak ada kerusakan), 1 (initial loss
surface texture), 2 (less tha 50% loss of surfce) dan 3 (greater than 50% loss of surface).
Baru-baru ini, Vailati dan Belser memperkenalkan suatu klasifikasi yang disebut
dengan Anterior Clinical Erosive Classification (ACE) berdasarkan pengamatan klinis untuk
gigi anterior atas. Sistem klasifikasi ini telah diusulkan untuk tidak hanya menilai keparahan
hilangnya jaringan keras tetapi juga untuk memberikan panduan ke dokter meneganai
manajemen yang tepat untuk mengembalikan fungsi gigi yang terkena. mengobati tentang
cara tepat. Klasifikasi ini menetapkan enam tingkat keausan menurut tingkat paparan dentin
di derah kontak palatal, tepi insisal, panjang mahkota klinis yang tersisa, sisa enamel pada
permukaan labial dan vitalitas pulpa. Penedekatakan manajemennya seperti terapi dengan
restorasi sandwich yang mengacu pada penerapan berbasis bahan resin untuk mengobati
keausan permukaan palatal, diikuti oleh aplikasi dari labial / veneer keramik pada permukaan
fasial.

1.5.

Kegunaan Intraoral Radiograph untuk Deteksi Karies

Untuk mendeteksi karies gigi karena melibatkan demineralisasi dari enamel dan
dentin

Lesi yang terlihat dalam radiograf akan tampak radiolusent (sisi lebih gelap)
karena sisi demineralisasi tidak menyerap banyak foton x-ray

Radiography tidak dapat digunakan untuk menentukan fase karies aktif maupun
inaktif, karena:
o lesi yang inaktif akan tetap terlihat sebagai scar karena remineralisasi
terjadi di permukaan yang terkena saliva

*Radiography baru dapat mendeteksi bahwa suatu lesi aktif atau inaktif berdasarkan
pengambilan radiography pada jangka waktu tertentu
27

Proyeksi Bitewing yang paling berguna dalam pendeteksian karies gigi, karena
o Penggunaan film holder mengurangi kesalahan intepretasi seperti:

Contact points yang saling tumpeng tindih (overlapping)

Proyeksi Periapikal berguna untuk mendeteksi perubahan pada tulang periapical

Proyeksi Parallel untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat terutama pada struktur
gigi baik anterior maupun posterior

Pendeteksian Lesi Karies dalam Radiograph

Sisi Proksimal
o Bentuk mula seperti segitiga
o Lesi pada umumnya ditemukan di daerah contact point dan batas tepi gusi (free
gingival margin)

28

Sisi Oklusal
o Lesi karies pada anak-anak dan dewasa paling sering muncul pada sisi oklusal gigi
posterior
o Cenderung timbul awal pada dinding Pit and Fissure, menyebar melalui enamel
rods dan ke arah DEJ
o Tahapan awal klinis terlihat diskolorasi putih kapur, kuning, kecoklatan, atau
hitam

Sisi Buccal & Lingual


o Lesi karies sering muncul pada pits dan fissure gigi
o Biasa berbentuk bulat, semakin besar semakin menjadi elliptic atau semilunar
o Tepi dari lesi biasanya tajam dan jelas
o Sulit dilihat dari radiograph tanpa membandingkan dengan area sekitar

Permukaan Akar
o Lesi permukaan akar mencakup sementum dan dentin

29

o Berkatian dengan resesi gingiva

1.6. Material Preventif Dan Restorasi


1.6.1.1.

Bahan Tumpatan Sementara


Material tumpatan sementara diberikan ketika perawatan berjalan tidak selesai dalam

1 kali kunjungan atau pengerjaan. Tumpatan sementara adalah tumpatan yang dipakai untuk
penggunaan jangka pendek, biasanya beberapa hari sampai minggu, sering digunakan antar
waktu selama perawatan.
1.6.1.1.

Fungsi Tumpatan Sementara

Pertolongan pertama menghilangkan rasa sakit

Bahan sementara sebelum meletakkan material restorasi tetap

Mengembalikan oklusi gigi, mencegah over erupsi, bergesernya gigi atau ginggival
overgrowth

Mencegah rusaknya sisa jaringan gigi.

Mengembalikan kontak proksimal, mencegah terselipnya makanan diantara gigi.

Mengembalikan fungsi estetik

Mencegah karies dengan menumpatkan material yang melepaskan fluoride

1.6.1.2.

Syarat Tumpatan Sementara

30

Mudah dan cepat dimanipulasi,

ditumpat, dan dibentuk pada gigi

Memiliki kerapatan yang baik

Setting time nya cepat

Tidak dapat ditembus oleh bakteri


dan cairan dalam mulut

Memiliki efek sedative (penenang)


pada pulpa yg terinflamasi

Memiliki beberapa pilihan warna


(disesuaikan dgn warna gigi)
memuaskan dalam segi estetika

Memiliki rasa dan bau yang disukai


pasien

1.6.1.3.

Non toksik dan non iritasi pulpa


Secara klinis untuk dokter gigi / perawat

Mudah dibuka kembali saat akan akan direstorasi definitif,

Tidak menganggu proses pengerasan material restorasi definitif,

Dapat bertahan lama (sampai 4 minggu),

Murah dan biokompatibel (banerjee dan watson, 2014), selain itu

Harus menjadi keras dalam beberapa menit setelah diaplikasikan ke dalam kavitas,
begitu menjadi keras,

1.6.1.4.

Harus dapat menahan tekanan pengunyahan


Dua Macam Berdasarkan Sediaan Tumpatan Sementara
Berupa campuran serbuk dan cairan: misalnya Zink Oxide-Eugenol Cement (ZOE

cement), Intermediate Restorative Material (IRM), Temporary Endo Restorative


Material (TERM) dan Glass Ionomer Cement (GIC)
Berupa bahan jadi: Cavit dan Dentorit.

1.6.1.5.

Berdasarkan Komposisinya, Bahan Tumpatan Sementara Dibagi Menjadi


Tumpatan sementara berbasis seng oksida eugenol, contoh seng oksida eugenol
(serbuk: Zn O, cairan: eugenol)

Tumpatan sementara berbasis resin dengan aktivasi sinar, contohnya bioplic


(biodinamica), UltraTemp (Ultradent)

Tumpatan sementara berbasis glass ionomer kaca contoh Ketac Fill (3M),
31

Tumpatan sementara berbasis kalsium sulfat polivinil contohnya Cavit (Espe/Primer,

USA)

Tumpatan sementara dengan bahan dasar seng oksida eugenol (ZOE) memiliki

pH 7 dan cocok secara biologis terhadap pulpa. Menutup kavitas dengan baik untuk
menghambat masuknya cairan mulut karena memiliki koefisien ekspansi linear yang dua kali
lebih besar daripada Cavit, maka iritasi yang disebabkan oleh kebocoran mikro dapat
dikurangi. Tumpatan sementara berbasis resin merupakan bahan resin aktivasi sinar untuk
tambalan sementara. Bahan ini mengerut saat polimerisasi yang diikuti dengan ekspansi
akibat sifat yang menyerap air. Bahan ini lebih kuat dan lebih tahan aus daripada Cavit.
Bahan ini dimasukkan, lalu dimampatkan dengan instrumen plastis dan dilakukan
penyinaran.

Cavit memiliki kekuatan relatif rendah dan mudah aus. Bahan ini melekat

pada dentin, dan mudah diaplikasikan. Kelebihan tumpatan sementara Cavit G


(Espe/Primer,USA) merupakan bahan yang mengandung kalsium sulfat polyvinil khlorida
asetat. Bahan ini bersifat sangat ekspansif pada waktu mengeras, karena penggunannya yang
mudah dan mempunyai kerapatan yang baik dengan dinding kavitas, digunakan untuk waktu
antar kunjungan yang singkat, kekuatan komprehensifnya rendah dan mudah larut oleh
saliva.

Terdapat tiga jenis dengan tingkat kekuatan permukaan yang berbeda.

Cavit sangat keras, maka cocok digunakan untuk tumpatan sementara di bagian
oklusal dan sebagai mahkota sementara.

Cavit W kekuatannya lebih rendah dan adhesinya lebih kuat, maka cocok digunakan
khususnya setelah perawatan endodontik

Cavit G ideal untuk preparasi inlei karena dapat langsung diganti tanpa menggunakan
bur. Cavit G adalah suatu komponen hidrofilik yang dapat mengeras dalam suasana
lembab. Pemuaian yang terjadi hanya sedikit maka bahan ini memilliki tepi yang
tertutup rapat Karena itu Cavit G tidak digunakan pada gigi vital karena dapat
mengeringkan dentin dan menyebabkan sensitivitas pada gigi

1.6.1.6.

Klasifikasi Material Tumpatan Sementara


Interim restoration

32

Restorasi yang digunakan ketika gigi telah dipreparasi dan pertemuan yang kedua

baru akan diletakkan restorasi tetapnya. Digunakan ketika preparasi untuk restorasi akhir
telah selesai dibuat, sehingga syarat dari interim restoration adalah

Dapat dengan mudah dimasukkan dan dikeluarkan tanpa terjadi kerusakan pada batas
atau bagian dalam dari preparasi

Melindungi preparasi kavitas dari kerusakan selama periode interim

Berdasarkan syarat untuk mudah dimasukkan dan dikeluarkan maka bahan yang
digunakan adalah :

a. Berbagai jenis dari restorasi sementara berbahan akrilik untuk preparasi inlays, crown,
dan onlays
b. Material yang lebih lunak digunakan untuk preparasi amalgam dan foil
preparation,yaitu.

Gutta-percha, (gum rubber) digunakan pada preparasi kecil kelas 1,2,3 atau 5
bukan pada daerah dengan tekanan oklusi yang berat.

Zinc oxide dan eugenol (ZnOE), digunakan pada preparasi kecil kelas 1,2,3
atau 5 dan digunakan untuk jangka pendek. Dapat diperkuat dengan
menggunakan cotton fiber.

Keuntungan dari zinc oxide eugenol adalah

a. Bisa bersifat sedative bagi gigi


b. Bisa menjadi seal yang bagus
Kerugian dari zinc oxide adalah
a. tidak tahan terhadap tekanan oklusi yang besar

Aluminum shell ( hanya digunakan apabila cuspnya berkurang atau tidak ada
gigi antagonis), biasanya digunakan pada gigi posterior karena bahan ini tidak
sewarna dengan gigi, pada gigi dengan preparasi sebesar tiga perempat crown,
full crown, preparasi onlay, atau preparasi amalgam dimana cuspnya harus
direstorasi atau giginya berada di area oklusi. Dapat digunakan selama satu
atau dua minggu

Provisional restoration

33

Restorasi yang digunakan sebagai alat bantu diagnosa ketika dimana jenis

restorasi akhir ditentukan oleh respon pasien terhadap restorasi sementara yang
menirukan/mensimulasi bentuk atau desain dari restorasi akhir yang diharapkan, biasanya
restorasi sementara ini dibuat dari bahan dengan yang lebih murah seperti akrilik, dan harus
mudah dimodifikasi

Yang digunakan pada provisional restoration adalah akrilik yang telah dibuat

sesuai dengan pesanan dan seringnya melibatkan sejumlah restorasi. Provisional restoration
biasanya digunakan sebagai alat bantu diagnosis ketika mengubah oklusi ( mengurangi atau
menambah dimensi vertikal) untuk menentukan penerimaan pasien, ukuran dan bentuk gigi.

Keuntungan provisional restoration :

a. Dibutuhkan sedikit dana untuk mengetes respon pasien sebelum casting yang mahal
dibuat
b. Restorasi sementara yang digunakan dapat diubah-ubah apabila modifikasi atau
koreksi perlu untuk dilakukan
c. Restorasi sementara mensimulasi bentuk dari restorasi akhir
d. Dapat digunakan untuk restorasi posterior atau pun anterior
e. Memiliki kegunaan jangka menengah sampai panjang ( satu sampai tiga tahun
sebelum dibuat kembali)
f. Gigi dipersiapkan sesuai bentuk kavitas yang diinginkan

Intermediate restoration

Digunakan ketika waktu untuk merawat pasien tidak banyak dan kenyamanan

pasien serta perlindungan terhadap gigi adalah yang utama. Restorasi seperti ini digunakan
ketika gigi telah rusak atau pecah karena karies atau trauma. Dapat digunakan dalam jangka
waktu menengah dan tidak diperlukan preparasi yang tetap, hanya daerah yang terinfeksi
dihilangkan kemudian obatnya diletakkan

Indikasi dari intermediate restoration adalah:

1. Apabila terjadi karies rampan atau


kesehatan gingiva yang memprihatinkan
(kontrol penyakit)
2. Dimana prognosis pulpa dan
periodontal dipertanyakan (ditunggu
hingga hasil yang jelas keluar)
3. Sebagai program perawatan ketika

perawatan, ketika sikap pasien


bermasalah ( tidak peduli terhadap
keadaan giginya dan hanya
menginginkan gigi tiruan)
4. Untuk kenyamanan pasien (sampai
restorasi yang permanen dapat dibuat)
dimana waktu yang menjadi faktor

pasien tidak mampu membiayai


34

utama, yaitu ketika pasien datang


berobat dalam keadaan darurat
5. Ketika sifat estetis menjadi kritikal

restorasi sementara dan crown


dibutuhkan)
6. Sebagai pembangun dari gigi yang

(yaitu, fraktur pada gigi anterior dimana

rusak yang aka menggunakan crown

komposit resin digunakan sebagai

nantinya, dengan menggunakan pin


amalagam dan pin komposit.

7.
1.6.2. Material Tumpatan Plastis
8.

Bahan restorasi merupakan salah satu bahan yang banyak dipakai

dibidang kedokteran gigi. Bahan restorasi berfungsi untuk memperbaiki dan


merestorasi struktur gigi yang rusak. Tujuan restorasi gigi tidak hanya membuang
penyakit dan mencegah timbulnya kembali karies, tetapi juga mengembalikan
fungsinya. Bahan-bahan restorasi gigi yang ideal pada saat ini masih belum ada
meskipun berkembang pesat.
9.
Restorasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu restorasi plastis dan rigid.
Restorasi plastis adalah teknik restorasi dimana preparasi dan pengisian tumpatan
dikerjakan pada satu kali kunjungan, tidak membutuhkan fasilitasi laboratorium
sehingga lebih murah. Berikut merupakan syarat untuk bahan restorasi plastis yang
baik yaitu
10.

Harus mudah digunakan & tahan

Kekuatan tensil cukup

Tidak larut dalam saliva dalam


rongga mulut serta tidak korosi di

dalam rongga mulut


Tidak toksik dan iritatif baik pada

pulpa maupun pada gingival


Mudah dipotong dan dipoles

lama

Derajat keausan sama dengan email


Mampu melindungi jaringan gigi

sekitar dari karies sekunder


Koefisien muai termal

dengan enamel / dentin


Daya penyerapan airnya rendah
Bersifat adhesive terhadap jaringan

gigi
Radiopaque

sama

Perbaikan restorasi plastis yang overcontoured harus di-recontoured sebisa

mungkin. Restorasi amalgam yang korosi dan resin komposit yang overcontoured
35

harus dikontur dan dipoles supaya pasien dapat menggunakan dental floss atau sikat
gigi pada daerah interproximal untuk meningkatkan kualitas jaringan gingival.
1.6.2.1.

Resin Komposit

Resin komposit merupakan kombinasi setidaknya dari dua material

(kimia) yang berbeda. Resin komposit adalah ceramic filled polymers yang dapat
mengeras dengan polimerisasi resin. Biasanya polimerisasi ini dibantu dengan cahaya
UV atau cahaya tampak.

Dalam jangka panjang, warna restorasi resin komposit dapat bertahan


cukup baik. Biokompabilitas resin komposit kurang baik jika dibandingkan dengan
bahan restorasi semen glass ionomer, karena resin komposit merupakan bahan yang
iritan terhadap pulpa jika pulpa tidak dilindungi oleh bahan pelapik. Agar pulpa
terhindar dari kerusakan, dinding dentin harus dilapisi oleh semen pelapik yang
sesuai, sedangkan teknik etsa untuk memperoleh bonding mekanis hanya dilakukan di

email perifer.
Komposisi Resin Komposit

1. Organic phase
a. Sebagian besar resin komposit mengandung oligomer aromatic Bis GMA
dimethacrylate
b. Beberapa mengandung urethane dimethacrylate
c. Bis GMA memiliki viskositas yang tinggi dan menyebabkan polymerization
shrinkage dan water sorption
2. Inorganic phase
a. Filler particles: aluminium, barium, strontium, zinc, zirconium atau quartz
dengan ukuran 0,1 10 mikrometer
b. Alternatif filler: silica dengan ukuran 0,04 0,2
3. Interfacial phase coupling agent
a. Untuk membentuk ikatan antara filler dengan matriks
b. Berperan sebagai stress absorber memungkinkan perpindahan stress yang
terdapat di dalam resin antara partikel partikel filler melalui matriks yang
lebih rendah
4. Miscellaneous phase
a. Akselerator, inhibitor, initiator

Resin komposit digunakan untuk

11. Restorasi kelas I, II, III, IV, V dan VI


12. Fondasi atau core buildups
13. Sealant dan restorasi komposit konservatif (restorasi resin preventif)
36

14. Prosedur estetis tambahan Partial veneers, Full veneers, Modifikasi kontur gigi ,
Penutupan/perapatan diastema
15. Semen (untuk restorasi tidak langsung)
16. Restorasi sementara
17. Periodontal splinting

Sifat Resin Komposit

1. Ikatan pada enamel

Ikatan resin komposit ke email dan dentin terjadi terutama secara micromechanical
adhesion. Untuk membentuk dan menjaga kekuatan yang optimal, permukaan email
harus di etsa dengan 35 50 % asam fosfat selama 15 detik. Pengetsaan
menyebabkan terbukanya permukaan enamel membentuk microporosite sampai ke
dalaman 30 m. Viskositas resin yang rendah kemudian meyebabkan resin dapat
berpenetrasi ke dalam microporosite dan membentuk ikatan resin. Walaupun ikatan
resin ke enamel sangat baik dan kuat, ada beberapa faktor penting yang dapat
mengurangi efisiensinya :

2.

Teknik yang kurang tepat


Permukaan enamel yang terkontaminasi setelah pengetsaan
Pembentukan microcracks pada email selama preparasi kavitas
Fraktur pada tepi enamel

Ikatan resin komposit ke dentin kurang baik dibandingkan ke enamel karena perbedan

Ikatan pada dentin

komposisi dan struktur. Dentin mengandung air dan zat organik lebih banyak
disbanding enamel. Air dapat dapat menghidrolisis ikatan resin. Enamel biasanya
memiliki struktur yang homogen sedangkan dentin semiliki struktur yang heterogen

dengan unsur-unsur yang tidak tersebar rata di peritubular dan intertubular dentin.
Indikasi Penggunaan Resin Komposit
1. Lesi proksimal pada gigi anterior

37

2. Lesi proksimal yang mencapai sudut incisal


pada gigi anterior

3. Lesi pada bagian cervical sisi labial pada gigi


anterior

4. Membentuk ulang gigi anterior dan menutupi


diastema

5. Memodifikasi gigi anterior

6. Menyamarkan warna gigi

7. Memperbaiki gigi yang mengalami trauma

8. Lesi oklusal dan interproximal gigi


posterior

38

Manipulasi Resin Komposit


Cavity preparation

Pertama-tama, semua jaringan karies harus dibuang. Preparasi yang sempurna

harus mencakup email yang rapuh akibat dekalsifikasi. Preparasi harus memudahkan
penempatan bahan restorasi dan penyelesaiannya.

Sistem resin amat rentan terhadap keadaan lembab, oleh karena itu harus
diusahakan agar lapangan kerja benar-benar kering.
Persyaratan utama:
a. Bentuk kavitas internal sebaiknya bulat untuk mencegah masuknya stress point
b. Bevel margin enamel untuk memperkuat ikatan antara resin komposit dengan enamel
c. Jika estetik sangat dibutuhkan, perluas bevel untuk memperoleh transisi yang halus
antara resin komposit dan struktur gigi
d. Jangan menempatkan bevel di margin oklusal untuk mencegah masuknya thin section
of restoration ke dalam oklusal
e. Jangan menempatkan bevel di margin gingival dari permukaan proximal
f. Akses ke lesi proximal dari gigi anterior harus dari lingual untuk menjaga struktur
fasial gigi dan menjaga estetik
Finishing the restoration
Jefferies mengklasifikasikan alat yang digunakan dalam penyelesaian restorasi:
a. Instrumen potong: tungsten carbid burs
b. Abrasive instrument: bonded, coated, dan loose abrasives
c. Alat polishing
Pengecekan kontak oklusal juga diperlukan dalam tahap akhir suatu restorasi

Kelebihan Resin Komposit

Adhesi dengan enamel baik

Estetik yang bagus

Variasi tersedia untuk indikasi yang


berbeda
39

Wear factor dapat diterima

Tidak terlalu mahal

yang ideal pada bagian coronal

Kekurangan Resin Komposit

Teknik penumpatan membutuhkan

Sulit untuk menghasilkan restorasi

Ikatan dengan dentin dipertanyakan

Sifat resin yang hidrofilik sehingga


selalu menyerap air

Longevity dipertanyakan

skill yang tinggi


1.6.2.2.

Amalgam

Dental amalgam merupakan bahan yang paling banyak digunakan oleh dokter

gigi, khususnya untuk tumpatan gigi posterior.Amalgam terdiri atas campuran mercury (Hg)
dental amalgam alloy yang dibentuk melalui pengadukan/triturasi antara alloy dengan jumlah
yang hampir sama menurut berat mercury.

Komponen utama amalgam terdiri dari liquid yaitu logam merkuri dan

bubuk/powder yaitu logam paduan yang kandungan utamanya terdiri dari perak, timah, dan
tembaga. Selain itu juga terkandung logam-logam lain dengan persentase yang lebih kecil.
Kedua komponen tersebut direaksikan membentuk tambalan amalgam yang akan mengeras,
dengan warna logam yang kontras dengan warna gigi. Amalgam terdiri dari

Alloy

Silver

Presentasi Berat (%)

65 (maksimum)

Tin

29

Copper

Zinc

Mercury

Palladiu

0,5

Penggunaan/aplikasi Amalgam
40

1. Untuk pembetulan/ penambalan gigi posterior


2. Untuk penambalan bagian lingual gigi anterior dengan kavitas kecil
3. Untuk core/inti dalam pembuatan full crown

Sifat Amalgam

1. Korosi, destruksi elektrokimia dari

yang berkontak dengan medium

logam karena adanya reaksi dengan

saliva
6. Compressive strength tinggi
7. Rigidity
8. Fatiue strength
9. Dimensional change
10. Flow
nya
tunggu sehingga

lingkungan. Korosi bisa nyebapin


perubahan warna pada gigi
2. Tarnish merupakan indikasi awal
terjadinya korosi
3. Crevice corrosion
4. Corrosion fatigue
5. Galvanic corrosion terjadi kalau
ada 2 atau lebih logam berbeda

mengalir dan mengisi ruang yang


kosong
11. Creep nya tinggi sehingga bisa
menyebabkan kerusakan marginal

41

12.
13. Indikasi Amalgam
1. Untuk gigi posterior
2. Karies pit dan fisur gigi posterior, karies proksimal gigi posterior, karies permukaan
halus (sisi bukal / lingual)
3. Pasien dengan insidensi karies tinggi
14. Manipulasi Amalgam
15. Triturasi amalgam
16. Pencampuran antara amalgam alloy dan liquid merkuri disebut dengan triturasi.
Liquid merkuri tersebut mula-mula akan membasahi permukaan partikel-partikel dan
menginisisasi terjadinya reaksi. Selama proses ini, merkuri berdifusi ke dalam
partikel-partikel perak (Ag) dan timah (Sn) yang terkandung dalam amalgam alloy.
Hasil dari proses ini bermacam-macam, diataranya Ag2Hg3 ( fasa 1), Sn7-8Hg (fasa
2) yang bertindak sebagai matriks.
1.

(Phillips Science of Dental Materials, 2003)

17.
18. Kondensasi
19.Kondensasi adalah peletakkan amalgam secara inkremental ke dalam kavitas
dengan penekanan tiap inkremen ke inkremen sebelumnya. Tujuan kondensasi adalah
untuk memadatkan amalgam (meminimalisir rongga antara inkremen) serta
mengeluarkan kelebihan merkuri. Kondensasi lebih baik dilakukan dengan instrumen

yang permukaannya rata dan ukuran kecil (sehingga tekanannya besar), yaitu
amalgam carrier atau amalgam pistol
20.

Syarat kondensasi amalgam :


1. Harus dipakai kekuatan yang maksimal sampai daerah kerja memungkinkan
2. Dilakukan sama rata dan sama kuat
3. Pasien tidak boleh merasa kesakitan
4. Keluarkan kelebihan merkuri saat kondensasi
5. Tekanan ideal adalah 4-5 kg(8-10 pound)
6. Pada waktu menumpat kelas 2 G.V Black harus dipakai matrix bond

21. Carving, Burnishing, dan Polishing Amalgam


22.

Carving (pengukiran) adalah memberikan bentuk pada tumpatan amalgam

yang dapat dilakukan 5 menit setelah triturasi


23.

Burnishing pada bagian marginal harus dimasukkan menggunakan instrument

burnisher yang bulat dan tidak boleh menimbulkan panas


24.

Polishing dapat dilakukan dengan pendinginan air untuk mencegah panas yang

timbul. Poleshing berguna untuk mencegah tarnish, korosi sehingga makanan tidak
mudah melekat. Poleshing dilakukan setelah 1x24 jam penumpatan.
25.

Carving + burnishing dilakukan selama 5-7 menit.

26. Kelebihan Amalgam

Amalgam adalah bahan tambal yang paling kuat dibandingkan dengan bahan tambal
lain dalam melawan tekanan kunyah, sehingga amalgam dapat bertahan dalam jangka
waktu yang sangat lama di dalam mulut (pada beberapa penelitian dilaporkan
amalgam bertahan hingga lebih dari 15 tahun dengan kondisi yang baik) asalkan
tahap-tahap penambalan sesuai dengan prosedur.

Ketahanan terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada
umumnya lama kelamaan akan mengalami aus karena faktor-faktor dalam mulut yang

saling berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut.

Penambalan dengan amalgam relatif lebih simpel dan mudah dan tidak terlalu
technique sensitive bila dibandingkan dengan resin komposit, di mana sedikit
kesalahan dalam salah satu tahapannya akan sangat mempengaruhi ketahanan dan
kekuatan bahan tambal resin komposit. Biayanya relatif lebih rendah

Mudah diinsersi

Tidak terlalu sensitif

Mampu mempertahankan bentuk anatomis

Memiliki resistensi terhadap fraktur

Dapat digunakan pada daerah yang menerima tekanan

Relatif tahan lama

Highly successful restorative materials

Lebih murah dibandingkan dengan noble metal (cost effective)

27. Kerugian Amalgam

Terletak pada warnanya dan tidak adanya adhesi terhadap jaringan gigi. Walaupun
sifat fisik dan kimia bahan tumpatan amalgam sebagian besar telah memenuhi
persyaratan ADA specification no. l, perlekatannya dengan jaringan dentin gigi secara
makromekanik seperti retention and resistence form, dan undercut tidak dapat
melekat secara kimia.

Prinsip retention and resistance form (dove tail, box form dan retention groove) pada
lesi karies daerah interproksimal, selain mengangkat jaringan karies juga mengangkat
jaringan yang sehat untuk memperoleh retensi pada kavitas. Pada kavitas kelas II
dengan isthmus dan garis sudut bagian dalam yang lebar, akan melemahkan kekuatan
terhadap beban kunyah. Akibatnya, pasien banyak yang mengeluh karena seringkali
adanya fraktur pada tumpatan kelas II, baik pada tumpatan MO (Mesial Oklusal), DO
(Distal -, Oklusal), maupun MOD (Mesial - Oklusal - Distal).

Primer banyak menimbulkan kegagalan. Penyebab paling umum dari kegagalan


tersebut adalah kegagalan amalgam itu sendiri dan kegagalan pada desain kavitas.
Desain kavitas yang hampir sempurna tidak mungkin didapat dalam restorasi
amalgam pada gigi molar primer karena beberapa karakteristik anatomis tertentu,
antara lain :
o Daerah kontak yang melebar membuat kotak sempit sulit untuk dicapai.
o Email yang tipis menunjukkan bahwa fraktur pada bagian mahkota lebih
sering terjadi.
o Gigi primer mungkin mengalami pemakaian di bawah stress oklusal. Hal ini
akan mempengaruhi restorasi.

Dalam jangka waktu lama ada beberapa kasus di mana tepi-tepi tambalan yang
berbatasan langsung dengan gigi dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi
sehingga tampak membayang kehitaman.

Pada beberapa kasus ada sejumlah pasien yang ternyata alergi dengan logam yang
terkandung dalam bahan tambal amalgam. Selain itu, beberapa waktu setelah
penambalan pasien terkadang sering mengeluhkan adanya rasa sensitif terhadap
rangsang panas atau dingin. Namun umumnya keluhan tersebut tidak berlangsung
lama dan berangsur hilang setelah pasien dapat beradaptasi.

Hingga kini issue tentang toksisitas amalgam yang dikaitkan dengan merkuri yang
dikandungnya masih hangat dibicarakan. Pada negara-negara tertentu ada yang sudah
memberlakukan larangan bagi penggunaan amalgam sebagai bahan tambal.

Warna yang tidak sewarna dengan struktur gigi

Brittle, dapat mengalami korosi atau galvanic action

Mengalami breakdown di marginal karena kekuatan di pinggir kecil

Tidak membantu menguatkan sisa jaringan gigi

Dapat terjadi karies sekunder

Perubahan dimensional akibat sifat kontraksi dan ekspansi

Bulk fracture

Excessive tarnish

28. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tambalan Amalgam

Restorasi logam campur amalgam modern dapat bertahan sekitar 12-15 tahun.

Kerusakan tambalan seringkali disebabkan oleh dokter gigi, perawat gigi, atau pasien,
dan bukan karena bahan tambalannya.

Preparasi kavitas harus dirancang dengan benar, dan amalgam harus diaduk dengan
benar sehingga tidak ada bagian tambalan yang berada di bawah tekanan tarik yang
besar.

Pemilihan jenis amalgam harus didasarkan pada kinerja klinisnya dan bila informasi
tentang ini tidak ada, maka pada sifat fisiknya.

29. Efek Samping Merkuri dari Amalgam


30.

Kandungan mercury yang terdapat dalam amalgam ternyata bisa memberikan


efek samping bagi pasien yang menggunakannya, antara lain : alergi dan toksik.

31.

Alergi adalah respon dari adanya kehadiran antigen yang ditandai dengan
muncul rasa gatal, rashes (lesi pada kulit), bersin-bersin, sulit bernapas, bengkakbengkak, dan gejala-gejala lain. Sedangkan toksik, bagi operator dan asistennya risiko
terkena mercury sangat tinggi melalui pernapasan. Maksimum level terekspose yang
aman adalah 50g mercury per kubik dalam udara tiap hari. Hal ini dapat dikurangi
dengan membuat ventilasi yang cukup. Jika mercury berkontak pada kulit harus
segera dicuci dengan air dan sabun. Selain itu operator juga harus memakai kacamata
kerja, gloves, dan dispossible masker.

32.
33.
34.

35.Daftar Pustaka
1

http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/40826/5af863c790de3f596a8394b416d2370

5 (diunduh pada Sabtu, 3 September 2016 pukul 13.07 WIB)


Swapan Kumar Purkait. Essential of Oral Pathology 3ed. Jaypee Brothers Medical

Publisher, 2011
http://www.infogigi.com/1053/dentinogenesis-imperfekta-dan-displasia-dentin.html

(diunduh pada Selasa, 6 September 2016 pukul 17.32 WIB)


Whaites E. Essential of Dental Radiography and Radiology. 4th Ed. Longman Singapore

Publisher. 2007.
Woefel J.B, Scheid R.C. Dental Anatomy and its Relevance to Dentistry. 6th Ed. Lippicont

William & Wilkins. 2002.


Capehart K. Treating tetracycline staining in the adult dentition: a case report. Gen Dent.

2008;56:286-289.
Chu FC, Sham AS, Luk HW, et al. Threshold contrast ratio and masking ability of

porcelain veneers with high-density alumina cores. Int J Prosthodont. 2004;17:24-28.


Indiarti, Ike Siti. Penatalaksanaan gigi hipoplasia email. Universitas Indonesia.

2000;7:132-136.
9 Mounts GJ, Hume WR. Preservation and Restoration of Tooth Structure. Mosby, 2006.
10 Stuart C. White and Michael J. Pharoah. Oral Radiology Principles and Interpretation. 6th
Ed. Mosby Elsevier : St.Louis. 2009. P. 295-307
11 Essentials of Oral Pathology dan Woelfel
12 White, S.C. dan Pharoah, M.J. Principles and Interpretation. 7th ed. Mosby St. Louis.
2014.
13 Mount, G. and Hume, W. (2005). Preservation and Restoration of Tooth Structures. 2nd
ed. London: Knowledge books and software.
14 Anusavice, K.J., 2004. Phillips science of Dental Materials. Ed.Ke-11. Elsevier Science,
St Louis.
15 Atlas of operative dentistry. William W. Howard dan Richard C. Moller. CV Mosby
company. London 198
36.
37.
38.