Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN AKHIR

Fisika Energi
Thermoelectric Converter
Nama

: Mutiara Efendi

NPM

:140310110016

Partner

: Febi Luthfiani

NPM

: 140310110040

Jadwal praktikum

: Selasa, 12 dan 19 November 2013

Instruktur

: Pak Nendi

LABOLATORIUM FISIKA ENERGI


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013

LEMBAR PENGESAHAN
Thermoelectric Converter
Nama

Mutiara Efendi

NPM

140310110016

Partner

Febi Luthfiani

NPM

140310110040

Hari / Tgl. Praktikum

Selasa, 12 dan 19 Oktober 2013

Waktu

13.00-15.30 WIB

Instruktur

Pak Nendi

Laporan
Pendahulua
n

Speaken

Laporan
Akhir

Jatinangor, Selasa 12 November 2013


Instruktur

Pak Nendi

BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Konversi energy telah banyak digunakan sejak dulu, baik dari energy
potensial air, energy panas matahari, hingga energy dari reaksi fisi nuklir.
Salah satu cara yang cukup menarik adalah dengan menggunakan
Thermoelectric converter. Sesuai namanya alat ini akan menggunakan suhu
sebagai sumber energy utama dan mengkonversinya kedalam energy listrik.
Maka dari itu diperlukan pendalaman lebih mengenai cara ini termasuk
mempelajari Efek Seebeck, dan Peltier yang akan menjadi dasarnya.
Latar belakang dari percobaan ini adalah adanya berbagai macam
energi,

diantaranya

energi

surya,

angin,

gelombang

dan

lain-lain.

Sebagaimana telah diketahui pengembangan energi yang bersumber pada


fosil(minyak bumi) sangat terbatas. Salah satu alternatif yang ditawarkan
adalah dengan mengunakan teknologi thermoelectri converter.Salah satu
keunggulan teknologi ini adalah kondisinya yang amat cocok dengan iklim
yang berada di Indonesia.
2

Identifikasi Masalah
Pada percobaan ini akan dicoba untuk membuktikan kebenaran dari
kedua hukum termodinamika yaitu hukum termodinamika ke-1 dan ke-2.
Selain itu kita juga akan membuktikan bahwa termodinamika merupakan
sesuatu yang reversible atau dapat dibalikkan. Sehingga kita dapat
menerapkan itu semua dalam kehidupan sehari-hari, karena pemanfaatan dari
proses reversible tersebut sangat luas.

Tujuan Percobaan

Mempelajari dan memahami efek Seebeck

Mempelajari dan memahami efek Peltier

Mempelajari dan memahami transfer energi

Memahami hukum termodinamika I dan termodinamika II

Alur Penelitian
Pada percobaan termoelectrik converter ini akan digunakan sebuat
thermoelectric converter yang terdiri dari 2 lengan metal dari bahan
semikonduktor yang mana jika dialiri listrik maka akan terjadi konversi energi
dari listrik menjadi panas(efek Peltier) dan bila kedua lengan di beri air panas
pada lengan yang satu dan air dingin pada lengan yang satunya maka akan
menghasilkan arus listrik (efek Seebeck). Dan berlaku sebaliknya (efek
seeback) saat lengan metal itu dipanaskan akan terjadi aliran listrik T E
(efek seeback) E T (efek peltier). Kemudian kita catat suhu dari masingmasing air pada saat kipas peraga berputar dan waktu lamanya kipas peraga
tersebut berputar.

Sistimatika Penulisan
Laporan percobaan ini terdiri dari empat bab, yaitu :
BAB I : Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang, identifikasi masalah, tujuan percobaan, sistematika
penulisan, alur penelitian, dan tempat serta waktu melaksanakan percobaan.
BAB II : Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi tentang teori-teori yang mendukung percobaan.
BAB III : Metodologi Percobaan
Berisi tentang alat-alat percobaan dan prosedur atau langkah-langkah melakukan

percobaan.
BAB IV : Tugas
Berisi tentang pertanyaan-pertanyaan mengenai percobaan
Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan yang berjudul Termoelectric Converter dilaksanakan pada
hari/tgl : Selasa, 12 dan 19 November 2013
waktu : 13.00 15.30 WIB

tempat

: Laboratorium Fisika Energi Jurusan Fisika Fakultas Matematika

dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip kerja dari Termoelektrik adalah dengan berdasarkan Efek Seebeck
yaitu jika 2 buah logam yang berbeda disambungkan salah satu ujunganya,
kemudian diberikan suhu yang berbeda pada sambungan, maka terjadi
perbedaan tegangan pada ujung yang satu dengan ujung yang lain.

Untuk keperluan pembangkitan lisrik tersebut umumnya bahan yang


digunakan adalah bahan semikonduktor. Semikonduktor adalah bahan yang
mampu menghantarkan arus listrik namun tidak sempurna. Semikonduktor
yang digunakan adalah semikonduktor tipe n dan tipe p. Bahan
semikonduktor yang digunakan adalah bahan semikonduktor ekstrinsik.
Terdapat tiga sifat bahan termoelektrik yang penting, yaitu :

Koefisien Seebeck (s)

Konduktifitas panas (k)

Resistivitas ()

Termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh ilmuwan Jerman,


Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah
rangkaian. Di antara kedua logam tersebut lalu diletakkan jarum kompas.
Ketika sisi logam tersebut dipanaskan, jarum kompas ternyata bergerak.
Belakangan diketahui, hal ini terjadi karena aliran listrik yang terjadi pada
logam

menimbulkan

medan

magnet.

Medan

magnet

inilah

yang

menggerakkan jarum kompas. Fenomena tersebut kemudian dikenal dengan


efek Seebeck.

Penemuan Seebeck ini memberikan inspirasi pada Jean Charles Peltier untuk
melihat kebalikan dari fenomena tersebut. Dia mengalirkan listrik pada dua
buah logam yang direkatkan dalam sebuah rangkaian. Ketika arus listrik
dialirkan, terjadi penyerapan panas pada sambungan kedua logam tersebut dan
pelepasan panas pada sambungan yang lainnya. Pelepasan dan penyerapan
panas ini saling berbalik begitu arah arus dibalik. Penemuan yang terjadi pada
tahun 1934 ini kemudian dikenal dengan efek Peltier. Efek Seebeck dan
Peltier inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan teknologi
termoelektrik.
Sejak awal tahun 1990, tuntutan dunia tentang teknologi yang ramah
lingkungan sangat

besar. Ini

memberikan imbas

kepada

teknologi

termoelektrik sebagai sumber energi alternatif. Banyak aplikasi lain


penggunaan energi termoelektrik selain pada RTG yang digunakan oleh
Voyager 1.
Salah satunya adalah penerapan teknologi termoelektrik pada pembangkitan
listrik dari sumber panas. Sampai saat ini pembangkitan listrik dari sumber
panas harus melalui beberapa tahap proses. Bahan bakar fosil akan
menghasilkan putaran turbin apabila dibakar dengan tekanan yang sangat
tinggi. Hasil putaran turbin tersebut akan dipakai untuk memproduksi tenaga
listrik. Efisiensi energi pembangkit ini masih rendah akibat beberapa kali
proses konversi. Panas yang dihasilkan banyak yang dilepas atau terbuang
percuma. Dapat digunakan suatu metode yang dikenal sebagai cogeneration di
mana panas yang dihasilkan selama proses dapat digunakan untuk tujuan
alternatif. Dengan menggunakan termoelekrik, panas yang dihasilkan selama
proses diubah menjadi listrik, sehingga panas yang dihasilkan tidak terbuang
secara percuma dan energi yang dihasilkan oleh pembangkit menjadi lebih
besar, serta efisiensi energi menjadi lebih tinggi.

Kesulitan terbesar dalam pengembangan energi ini adalah mencari material


termoelektrik yang memiliki efisiensi konversi energi yang tinggi. Parameter
material termoelektrik dilihat dari besar figure of merit suatu material.
Idealnya, material termoelektrik memiliki konduktivitas listrik tinggi dan
konduktivitas panas yang rendah. Namun kenyataannya sangat sulit
mendapatkan material seperti ini, karena umumnya jika konduktivitas listrik
suatu material tinggi, konduktivitas panasnya pun akan tinggi.
Efek Seebeck
Efek Seebeck terjadi ketika dua logam berbeda dan temperature yang berbeda
dapat menghasilkan arus listrik yang menyebabkan berputarnya kipas pada
thermoelectric converter. Efek konversi dari perbedaan temperatur langsung
(T E)

menjadi energi listrik


P
+

+P

A
N
A
S

+
+
+
+
-

++
+
+
- - -

D
+
I
N
G

Motor Kipas

I
N
-

Ketika panas memasuki sel thermoelectric maka panas tersebut akan


N
meningkatkan level energi beberapa electron dalam sel. Pada keadaan tersebut
electron akan meninggalkan sebuah tempat kosong yang kita sebut hole energi
electron yang lebih rendah dapat berpindah dari suatu hole ke hole yang lain,
dalam kasus ini hole juga berpindah ke dalam semikonduktor tipe P dan
electron akan berpindah ke semikonduktor tipe N. hal ini terjadi di dekat
ujung dingin dari sel. Kemudian dimasukkan kembali ke dalam hole sambil
melepaskan kelebihan energinya akibat panas. Selama terdapat perbedaan
suhu maka proses ini akan terus berlanjut.

Jika semua energi listrik diubah menjadi energi kalor maka besarnya energi
listrik dapat ditentukan dengan persamaan
W=Vxlxt
Karena menurut hukum ohm V = I x R, maka persamaan di atas menjadi:
W = l2 x R x t
Hukum ohm dapat juga di tulis I = V / R, sehingga besarnya energi listrik
menjadi:
W=

dengan:

V2
R

xt

W = energi listrik (J)

V = beda potensial (V)


I = kuat arus listrik (A)
t = waktu (s)
R = hambatan ()

Daya Listrik
Daya listrik adalah jumlah energi listrik yang digunakan tiap detik. Besar daya
listrik dirumuskan sebagai berikut:
P=

Karena W = V x I x t , maka :

W
t

P=Vxl
Karena V = I x R, maka:
P = I2 x R
V = I x R dapat diubah bentuk menjadi I = V / R, sehingga besarnya daya
menjadi
V2
P=
R
Dengan

P = daya listrik (W)


W = energi listrik (J)
t = waktu (s)
R = hambatan ()
V = beda potensial (V)
I = kuat arus listrik (A)

Tegangan yang dihasilkan :


V

T2

S T
B

SA T

dT

T1

SA dan SB adalah koefisien seebeck dari semikonduktor A dan B sebagai fungsi dari
suhu.
Koefisien seebeck adalah persamaan non linier sebagai fungsi suhu,
bergantung pada temperature absolute konduktor material dan struktur
molekul, jika koefisien seebeck konstan untuk setiap jarak pengukuran suhu
maka berlaku persamaan berikut:
V S B S A T2 T1

Jika perbedaan temperature T antara 2 ujung material kecil maka koefisien


S

seebeck didefinisikan sebagai

V
T

bisa juga di tuliskan dalam

hubungan medan listrik E dengan gradient temperature T dengan persamaan


S

E
T

maka:
S AB S B S A

VB VA

T
T

Dengan menggunakan teori zat padat kondisi diatas dapat dianalisa untuk
menunjukkan bahwa emf dapat diberikan dengan integral temperatur.

dimana,

= emf yang dihasilkan dalam volt


T1,T2 = temperatur ssambungan dalam oK
QA,QB = konstanta perpindahan panas dari dua logam

Persamaan tersebut, yang menggambarkan efek seebeck, menunjukkan bahwa


emf yang dihasilkan sebanding dengan perubahan temperatur, dan perbedaan
konstanta perpindahan panas. Sehingga jika logamnya sama maka emf
samadengan nol, dan jika temperatur sama emf juga nol.
Dalam praktek, akan ditemukan dua konstanta Q Adan QB yang hampir tidak
tergantung dari temperatur dan hubungannya hampir linier.

dimana,

= konstanta dalam volt/oK

T1,T2 = temperatur ssambungan dalam oK


Efek Peltier
Pada tahun 1834, fisikawan Jean Charles Athanase Peltier, menemukan
fenomena kebalikan efek Seebeck. Jika arus listrik searah dialirkan pada suatu
rangkaian tertutup yang terdiri dari sambungan dua logam yang berbeda,
maka terjadi penyerapan kalor (dingin) pada sambungan yang satu dan
pelepasan kalor (panas) pada sambungan yang lainnya. Peristiwa inilah yang
dikenal dengan efek peltier. Efek konversi dari energi listrik langsung menjadi
perbedaan temperature (ET)
P
P

n+ d

+n

g+
+
P

+
+
-

a a n+
+ n m +
+n
e

+
a

s+

+a

+
+
-

- - -

Potensial listrik mengakibatkan perpindahan electron dan hole pada


semikonduktor tipe P dan tipe N, perpindahan electron pada diode tipe N
mengakibatkan transfer energi internal dari ujung semikonduktor dan ujung
tersebut menjadi lebih dingin. Pendinginan berbanding lurus dengan arus
listrik yang diberikan pada rangkaian.
Ketika arus dinaikkan pada suatu rangkaian maka panas akan muncul pada T 2
dan penyerapan pada T1. Panas peltier yang diserap pada T1 per unit waktu
dituliskan sebagai Q.

Q AB I

A I

Dimana adalah koefisien peltier.


Koefisien peltier menggambarkan banyaknya panas yang dihasilkan per unit
masukan yang di lewatkan pada material
S .T

Dimana : T = temperature absolute


S = koefisien seebeck
Hukum-hukum Dasar Termodinamika
1. Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika
Hukum ini menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan setimbang
dengan sistem ketiga, maka ketiganya dalam saling setimbang satu dengan
lainnya.
2. Hukum Termodinamika I
Hukum pertama termodinamika adalah suatu pernyataan mengenai
hukum universal dari kekekalan energi dan mengidentifikasikan perpindahan
panas sebagai suatu bentuk perpindahan energi. Pernyataan paling umum dari
hukum pertama termodinamika ini berbunyi:
Kenaikan energi dalam dari suatu sistem termodinamika sebanding dengan
jumlah energi panas yang ditambahkan ke dalam sistem dikurangi dengan
kerja yang dilakukan oleh sistem terhadap lingkungannya. (berhubungan
dengan kekekalan energi)

U = Q W

Keterangan :
U = perubahan energi dalam (joule)
Q = kalor (joule)
W = usaha (joule)
3. Hukum Termodinamika II
Hukum kedua termodinamika dalam konsep entropi mengatakan:
"Sebuah proses alami yang bermula di dalam satu keadaan kesetimbangan dan
berakhir di dalam satu keadaan kesetimbangan lain akan bergerak di dalam
arah yang menyebabkan entropi dari sistem dan lingkungannya semakin
besar".
4. Hukum Termodinamika III
Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum
ini menyatakan bahwa:
Pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut, semua proses akan
berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini juga
menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna pada
temperatur nol absolut bernilai nol.

BAB III
METODA PERCOBAAN

Alat dan Bahan Percobaan


Bejana, 3 buah untuk menempatkan air panas, air dingin, dan campuran air

panas dan air dingin.


DC power supply dengan kemampuan 5 volt dan 3 ampere.
Kawat (kabel) penghubung.
TD-8556 steam Generator
SF-9584 Ac/DC low volted power supply or Sf-9582 AC/DC Power Supply.
SE-9750 and SE 9751 Banana plug Patch Cords.
Digital termometer (such as PASCO Model SB 9631 or Model SE-9086).

Prosedur Percobaan
A. Efek Seebeck
1. Menyiapkan 3 buah gelas
2. Gelas satu diisi dengan air panas dan yang satu lagi dengan air dingin
3. Menempatkan tombol pada posisi diatas
4. Menyiapkan satu buah ampermeter dan satu buah voltmeter
5. Menyiapkan dua buah termometer
6. Menyusun alat-alat seperti pada gambar 2. Mengatur tombol dalam posisi
naik. Salah satu kaki dari unit ditempatkan dalam satu gelas yang berisi
air dingin dan satu gelas lagi dalam gelas berisi air panas. (air mendidih
dan air es akan memberikan hasil yang lebih baik). Melengkapi masingmasing dengan termometer
7. Mengamati suhu masing-masing gelas yang berisi air setiap selang waktu
yang sama (menanyakan kepada asisten) serta mengukur tegangan dan
arusnya
8. Mencampurkan air panas dan air dingin kedalam gelas yang lebih besar
lalu memasukkan kedua kaki alumunium kedalam gelas tersebut.
Mengamati

apa

yang

terjadi.

Sebagai

demontasi

lebih

lanjut,

menempatkan satu kaki dalam air yang telah dicampur (atau dalam air es)
dan kaki yang lainnya dalam wadah yang berisi es kering untuk
mendemonstrasikan bahwa ada energi yang tersedia dalam air yang
dicampur.
9. Mengganti air dalam kedua gelas dengan air panas.

10. Menambahkan es sedikit demi sedikit kedalam salah satu gelas,


melakukan seperti nomor 7, mengamati suhu, tegangan dan arusnya.
B. Efek Peltier
1. Memperhatikan gambar 5.
2. Menghubungkan power supply DC yang mempunyai kemampuan 5 Volt
dan 3 Ampere ke terminal yang berwarna merah dan hitam pada
converter. (Arus listrik yang dialirkan melalui pompa panas termoelektrik
pada converter menyebabkan perbedaan temperatur).
3. Mengatur posisi tombol ke posisi turun (E->T). (Untuk percobaan ini,
tidak perlu mencelupkan kaki alumunium kedalam air).
4. Menyalakan power supply. Dalam beberapa waktu akan terjadi perbedaan
temperatur pada kedua kaki alumunium pada converter.
Catatan : jangan membiarkan power supply menyala lebih dari 2 menit,
dan jangan melebihi 8 Volt.
5. Sebagai latihan optional, memulai dengan converter pada suhu ruangan.
Mengukur temperatur kedua kaki. Lalu, sementara arus digunakan untuk
converter, menggunakan termometer digital untuk memonitor kenaikan
temperatur pada kaki panas dan penurunan temperatur pada kaki
dingin. Mencatat perbedaan-perbedaan suhu kedua kaki untuk
beberapa harga arus dan tegangan yang diberikan (tegangan jangan
melebihi 5 Volt, arus listrik jangan melebihi 3 ampere).

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
Tabel Data
1) Percobaan pertama (air dingin dan air panas)
waktu
(s)
0
120
240
360
480

tp(oC)
76
72
67
63
58

td (oC)
4
4
5
6
8

V
(mV)
355.5
354.8
354.5
354.2
353.9

2) Percobaan kedua (air campuran : air panas + air dingin)

waktu
(s)
0
120
240
360
480

tcamp(o
C)
37
37
37
37
36

V
(mV)
353.9
353.8
353.4
353.3
353.1

3) Percobaan ketiga (air campuran dan air dingin)


waktu
(s)
0
120
240
360
480

tcamp(o
C)
47
46
45
43
41

td (oC)
5
5
5.5
7
9

V
(mV)
353
353.1
352.9
352.5
352.5

4) Percobaan keempat (air campuran dan air panas)


waktu
(s)
0
120
240
360
480

tcamp(o
C)
36
39
34
34
34

tp (oC)
79
70
65
61
57

V
(mV)
352.7
352.8
352.6
352.6
352.4

tp (oC)
21
28
27.5
27
26

V
(mV)
391.4
388.4
389.5
389.4
389.3

5) Percobaan kelima efek peltier


waktu
(s)
0
120
240
360
480

tcamp(o
C)
29
30
29
29
28

Pembahsan
a) Percobaan pertama (air dingin dan air panas)

S AB S B S A

VB VA

T
T

Dengan menggunkana rumus:


Bisa

diperoleh

nilai

koofisien

seebeck.

Salah satu contoh perhitungannya sebagai berikut:


SA-SB = V / T2-T1 = 0,3555/ 72 = 0,004938
waktu
(s)

tp(oC)

td (oC)

76

120

72

240

67

360

63

480

58

V
(Volt)
0.355
5
0.354
8
0.354
5
0.354
2
0.353
9

T2-T1

SA-SB
0.0049
38
0.0052
18
0.0057
18
0.0062
14
0.0070
78

72
68
62
57
50

b) Percobaan kedua (air campuran : air panas + air dingin)


S AB S B S A

VB VA

T
T

Dengan menggunkana rumus:


Bisa

diperoleh

nilai

koofisien

Salah satu contoh perhitungannya sebagai berikut:


SA-SB = V / T = 0,3539 / 37 = 0,009565
waktu
(s)

tcamp(o
C)

37

V
(volt)
0.353
9

SA-SB
0.0095
65

seebeck.

120

37

240

37

360

37

480

36

0.353
8
0.353
4
0.353
3
0.353
1

0.0095
62
0.0095
51
0.0095
49
0.0098
08

c) Percobaan ketiga (air campuran dan air dingin)


S AB S B S A

VB VA

T
T

Dengan menggunkana rumus:


Bisa

diperoleh

nilai

koofisien

Salah satu contoh perhitungannya sebagai berikut:


SA-SB = V / T2-T1 = 0,353 / 42 = 0,008405
waktu
(s)

tcamp(o
C)

td (oC)

47

120

46

240

45

5.5

360

43

480

41

V
(volt)
0.353
0.353
1
0.352
9
0.352
5
0.352
5

T2-T1

SA-SB
0.0084
05
0.0086
12
0.0089
34
0.0097
92
0.0110
16

42
41
39.5
36
32

d) Percobaan keempat (air campuran dan air panas)


S AB S B S A

Dengan menggunkana rumus:

VB VA

T
T

seebeck.

Bisa

diperoleh

nilai

koofisien

seebeck.

Salah satu contoh perhitungannya sebagai berikut:


SA-SB = V / T2-T1 = 0,3527/43 = 0,008202
waktu
(s)

tcamp(oC)

tp (oC)

36

79

120

39

70

240

34

65

360

34

61

480

34

57

V
(volt)
0.352
7
0.352
8
0.352
6
0.352
6
0.352
4

T2-T1
43
31
31
27
23

SA-SB
0.0082
02
0.0113
81
0.0113
74
0.0130
59
0.0153
22

e) Percobaan kelima efek peltier


S .T

Dengan menggunkana rumus:


Dimana : T = temperature absolute 25oC
S = koefisien seebeck

Bisa diperoleh nilai koofisien peltier.


Salah satu contoh perhitungannya sebagai berikut:
S .T

= 0,048925 * 25 = 1,223125
waktu
(s)
0

tcamp(o
C)
29

tp (oC)
21

V
(volt)
0.391

T2-T1
8

SA-SB
0.0489

1.2231

120

30

28

240

29

27.5

360

29

27

480

28

26

4
0.388
4
0.389
5
0.389
4
0.389
3

2
1.5
2
2

25

25

0.1942
0.2596
67

4.855
6.4916
67

0.1947
0.1946
5

4.8675
4.8662
5

Percobaan 1

Grafik tegangan terhadap perubahan suhu


0.36
0.36
0.36
Axis Title

0.35

f(x) = 0x + 0.35
R = 0.92

Linear (Grafik
tegangan terhadap
perubahan suhu)

0.35
0.35
0.35
45 50 55 60 65 70 75
Axis Title

Percobaan 2

Grafik tegangan
terhadap perubahan
suhu

Grafik suhu terhadap tegangan


0.35
0.35
0.35
0.35
Axis Title 0.35

f(x) = 0x + 0.34
R = 0.43

0.35

Grafik suhu terhadap


tegangan
Linear (Grafik suhu
terhadap tegangan)

0.35
0.35
35.5 36 36.5 37 37.5
Axis Title

Percobaan 3

Grafik tegangan terhadap perubahan suhu


0.35
0.35
0.35

f(x) = 0x + 0.35
R = 0.84

Axis Title 0.35

Linear (Grafik
tegangan terhadap
perubahan suhu)

0.35
0.35
30 32 34 36 38 40 42 44
Axis Title

Percobaan 4

Grafik tegangan
terhadap perubahan
suhu

Grafik tegangan terhadap perubahan suhu


f(x) = 0x + 0.35
R = 0.4
Axis Title

Grafik tegangan
terhadap perubahan
suhu
Linear (Grafik
tegangan terhadap
perubahan suhu)

20 25 30 35 40 45
Axis Title

Percobaan 5

Grafik tegangan terhadap perubahan suhu


f(x) = 0x + 0.35
R = 0.4
Axis Title

Linear (Grafik
tegangan terhadap
perubahan suhu)
20 25 30 35 40 45
Axis Title

ANALISA:

Grafik tegangan
terhadap perubahan
suhu

Percobaan ini dilakukan untuk memperoleh koofisien seebeck dan koofisien


peltier. Untuk memperoleh koofisien seebeck dilakukan 4 variasi air yang digunakan.
Untuk yang pertama digunakan air panas dan air dingin untuk kaki yang berbeda.
Dari sini kemudian diamati proses yang terjadi yaitu dengan menhitung tegangan
yang dihasilkan dari proses tersebut. Dari hasil yang diperoleh semakin lama waktu
yang digunakan, maka tegangan yang dihasilkan semakin kecil, karena energy panas
yang ada semakin berkurang. Tapi efek seebeck yang dihasilkan semakin besar.
Untuk percobaan kedua, digunakan air yang sama untuk kedua kakinya, yaitu
campuran air panas dan air dingin. Karena waktu yang digunakan semakin lama,
maka tegangan yang dihasilkan semakin kecil, karena temperaturnya semakin
berkurang, dan juga efek seebeck yang dihasilkan semakin besar. Tapi disini
perubahan yang terjadi pada efek seebeck tidak terlalu besar, berbeda dengan
percobaan 1. Hal ini terjadi karena air yang digunakan pada kedua kaki sama,
sehingga transfer energy yang terjadi kecil.
Untuk percobaan ketiga, air yang digunakan pada kedua kaki berbeda.
Dimana pada salah satu kaki diberi air campuran panas dan dingin, dan pada kaki
lainnya diberi air dingin. Proses yang terjadi sama seperti sebelumnya, dengen
bertambahnya waktu maka suhu dan tegangan semakin turun, tapi efek seebeck yang
semakin besar. Begitu juga dengan percobaan ke 4. Dimana pada salah satu kakinya
diberi air campuran, dan pada kaki lainnya di beri air panas. Hal yang terjadi sama
dengan percobaan sebelumnya.
Untuk percobaan kelima dilakukan untuk memperoleh nilai koofisien perltier.
Pada percobaan kelima ini tidak menggunakan air. Tapi lansung menghubungkan
thermometer ke kedua kaki semikonduktornya. Yaitu kaki kiri dan kaki kanan nya.
Kemudian dicatat nilai tegangan yang dihasilkan oleh multimeter. Dari hasil yang
diperoleh, koofisien nya tidak stabil atau naik turun, katena temperature yang
dihasilkan juga tidak stabil, sehingga tegangan yang dihasilkan tidak stabil. Dan

memperngaruhi hasil koofisien peltier yang seharusnya memberikan hasil yang


kontiniu.
Untuk grafik yang dihasilkan, yaitu grafik tegangan terhdap suhu. Beberapa
grafik memberikan hasil yang bagus dan hamper linier. Tapi sebagian grafik lainnya
memberikan hasil kurang bagus, karena beberapa data yang diperoleh tidak stabil.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat diberikan beberapa kesimpulan:
-

Efek seebeck dapat dilihat dengan perbandingan temperature dengan jarak


yang cukup besar. Semakin besar perbedaan jarak temperaturnya maka
semakin mudah untuk melihat efek seebacknya. Begitu juga sebaliknya.

Pada efek seeback, dengan memberikan air yang dengan temperature


berbeda kita bisa menghasilkan tegangan, karena terjadinya transfer
energy dan konversi energy dari panas menjadi gerak.

Efek Peltier adalah kebalikan dari efek seebeck,dimana dengan


memberikan tegangan tertentu kita bisa menhasilkan temperatur yang
berbeda kedua kaki semikonduktor. Disini untuk mengetahui temperatur
yang dihasilkan tidak lagi menggunakan air ada kaki semikonduktor.

Efek Seebeck dan efek Peltier dapat diamati dengan meliahat T dan V
dengan hubungan berbanding Lurus

Dalam proses efek seebeck dan efek peltier didasari oleh proses transfer
energy, hukum I termidinamika, dan hokum II termodinamika

Saran
Sebelum melakukan percobaan ini sebaiknya memahami proses transfer
energy, hukum I termidinamika, dan hokum II termodinamika

DAFTAR PUSTAKA
-

Rhiio Rap. 2011. Efek Seebeck.


Science Engineering. 2012. Hukum Termodinamika 0,1,2, dan3.
http://yudhipri.wordpress.com/2010/07/05/termoelektrik-energipanas-menjadi-listrik/

Diakses pada Minggu, 10 November 2013 pukul 09:15 WIB


http://id.wikipedia.org/wiki/Pembangkit_listrik_
Diakses pada Minggu, 10 November 2013 pukul 09:23 WIB
http://ahabe.wordpress.com/pl/
Diakses pada Minggu, 10 November 2013 pukul 09:30 WIB
http://fisikablogscience.blogspot.com/2009/12/energi.html
Diakses pada Minggu, 10 November 2013 pukul 09:50 WIB